Anda di halaman 1dari 7

1.

SAK ETAP mendefinisikan persediaan sebagai suatu aset yang digunakan untuk dijual dalam
kegiatan usaha normal, aset dalam proses produksi untuk kemudian dijual, atau aset dalam
bentuk bahan atau perlengkapan untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian
jasa.
Pada penyusunan laporan keuangan, entitas juga harus menilai persediaan pada nilai mana
yang lebih rendah antara biaya perolehan dengan harga jual dikurangi biaya untuk
menyelesaikan dan menjual. Hal ini dimaksudkan untuk menilai kewajaran saldo persediaan,
sehingga nilai persediaan yang tercantum dalam laporan keuangan merupakan nilai manfaat
ekonomis yang dalam waktu ke depan dapat masuk ke entitas.
2. persediaan pada perusahaan dagang:
a. persediaannya berupa barang jadi
b. persediaannya hanya berupa satu jenis yakni barang dagang
c. pembelian barang dari supplier hanya berupa barang dagang
persediaan pada peeusahaan manufaktur atau industri:
a. persediaan berupa 3 jenis yakni: Bahan Baku, Persediaan dalam proses produksi,
Persediaan bahan pembantu, persediaan barang jadi
b. perhitungan persediaan berada pada tiap tiap departemen
3. Dalam akuntansi, Sistem pencatatan persediaan:
• Sistem periodik
Persediaan dihitung dengan melakukan inventarisasi pada akhir periode. Hasil
perhitungan dipakai untuk menghitung HPP, dan kemudian disusun laporan keuangan.
Sistem ini praktis digunakan untuk perusahaan yang memiliki jenis persediaan yang tidak
terlalu banyak.
• Sistem perpetual
Sistem ini menyajikan keterangan mengenai persediaan dan HPP secara terus-menerus
tanpa inventarisasi. Hal ini dilakukan karena setiap transaksi yang berhubungan dengan
persediaan selalu dicatat sedemikian rupa sehingga rekening persediaan senantiasa
menyajikan saldo persediaan secara fisik.
Sedangkan menurut ketentuan perpajakan, dianjurkan untuk menggunakan sistem perpetual,
menurut UU PPh Nomor 36 Tahun 2008 pasal 10 ayat (6).
4. Sistem periodik
a. invetarisasi setiap akhir periode
b. wajib dilakukan stock opname, untuk pengujian keakuratan nilai persediaan
c. cocok untuk perusahaan dengan jenis persediaan yang sedikit
sistem perpetual
a. tanpa invetarisasi, keterangan menganai persediaan di catat setiap kali transaksi
b. stock opname hanya sebagai pelengkap untuk pengawasan persediaan
c. cocok untuk perusahaan dengan jenis persediaan yang banyak
5. Sistem penilaian persediaan menurut akuntansi dan pajak beserta peraturan-peraturannya:
Menurut ketentuan perpajakan UU PPh Nomor 36 Tahun 2008 Pasal 10 ayat (6), sistem
akuntansi penilaian persediaan yang boleh dilakukan adalah:
a. Metode rata-rata (average)
b. Metode FIFO
6. Perbedaan sistem penilaian persediaan:
• FIFO (First In First Out), barang yang masuk terlebih dahulu dianggap yang pertama kali
dijual/keluar sehingga persediaan akhir akan berasal dari pembelian yang
termuda/terakhir.
• LIFO (Last In First Out), barang yang terakhir masuk dianggap yang pertama kali keluar,
sehingga persediaan akhir terdiri dari pembelian yang paling awal.
• Rata-rata (Average), pengeluaran barang secara acak dan harga pokok barang yang sudah
digunakan maupun yang masih ada ditentukan dengan cara dicari rata-ratanya.
7. Inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus
(kontinu) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor,
misalnya, konsumsi masyarakat yang meningkat. Dampak inflasi untuk metode FIFO yaitu
nilai persedian akhirnya menjadi lebih tinggi dan HPP menjadi lebih tinggi. Sedangkan
menggunakan metode LIFO dampaknya nilai persediaan akhir tetap, nilai pasar naik
sehingga perusahaan mendapatkan keuntungan. Untuk metode AVERAGE,harga perolehan
persediaan menjadi lebih tinggi.
8. PT Ninoy
a. PT Ninoy menggunakan metode LIFO

tgl Pembelian Penjualan Saldo


persediaan

01.01.11 300 Unit


@Rp2.000
= Rp 600.000

02.04.11 200 unit @Rp 300 unit @ Rp


2.250 2.000
= Rp 450.000 200 unit @ Rp
2.250
=Rp 1.050.000

25.05.11 400 unit: 100 unit @ Rp


200 unit @ Rp 2.000
2.250 =Rp 200.000
= Rp 450.000
200 unit @Rp
2.000
= Rp 400.000

20.08.11 150 unit @ Rp 100 unit @ Rp


2.500 2.000
= Rp 375.000 150 unit @ Rp
2.500
=Rp 575.000

21.10.11 125 unit @ Rp 100 unit @ Rp


3.500 2.000
= Rp 437.500 150 unit @ Rp
2.500
125 unit @ Rp
3.500
= Rp 1.012.500

02.11.11 200 unit @ Rp 100 unit @ Rp


2.600 2.000
= Rp 520.000 150 unit @ Rp
2.500
125 unit @ Rp
3.500
200 unit @ Rp
2.600
= Rp 1.532.500

HPP persediaan akhir PT Ninoy:


100 unit @ Rp 2.000 = Rp 200.000
150 unit @ Rp 2.500 = Rp 375.000
125 unit @ Rp 3.500 = Rp 437.500
200 unit @ Rp 2.600 = Rp 520.000+
total = Rp 1.532.500
Sistem pencatatan persediaan PT Ninoy menggunakan sistem perpetual.

Tgl Keterangan Debit Kredit

01.01.11 Persediaan Barang 600.000 600.000


Dagang
Ikhtisar Laba/
Rugi
02.04.11 Persediaan Barang 450.000 450.000
Dagang
Kas/ Bank/
Hutang Dagang
25.05.11 Kas/ Bank/ Piutang 1.400.000 1.400.000
dagang 850.000 850.000
Penjualan
HPP
Persediaan Barang
Dagang
20.08.11 Persediaan Barang 375.000 375.000
Dagang
Kas/ Bank/
Hutang Dagang
21.10.11 Persediaan Barang 437.500 437.500
Dagang
Kas/ Bank/
Hutang Dagang
02.11.11 Persediaan Barang 520.000 520.000
Dagang
Kas/ Bank/
Hutang Dagang
b. Menurut ketentuan perpajakan, penilaian persediaan tidak diperbolehkan menggunakan
metode LIFO.
jika PT Ninoy tetap ingin menggunakan sistem perpetual, saya menyarankan untuk
menggunakan metode average atau metode FIFO yang sesuai dengan ketentuan
perpajakan.
10. nilai persediaan akhir tahun 2011

tgl Pembelian Penjualan Saldo


persediaan
01.01.11 1000 Unit
@Rp4.000
= Rp 4.000.000

12.02.11 1500 unit @Rp 1000 unit @ Rp


5.000 4.000
= Rp 7.500.000 1500 unit @ Rp
5.000
=Rp 11.500.000

21.03.11 2200 unit: 300 unit @ Rp


1000 unit @ 5.000
Rp 4.000 =Rp 1.500.000
= Rp 4.000.000
1200 unit @Rp
5.000
= Rp 6.000.000

11.06.11 450 unit @ Rp 300 unit @ Rp


5.500 5.000
= Rp 2.475.000 450 unit @ Rp
5.500
= Rp 3.975.000

09.08.11 2300 unit @ 300 unit @ Rp


Rp 4.500 5.000
=Rp 10.350.000 450 unit @ Rp
5.500
2300 unit @ Rp
4.500
=Rp 14.325.000
21.09.11 500 unit: 250 unit @ Rp
300 unit @ Rp 5.500
5.000 2300 unit @ Rp
=Rp 1.500.000 4.500
200 unit @ Rp =Rp 11.725.000
5.500
= Rp 1.100.000

Maka nilai persediaan akhir tahun 2009 adalah:


250 unit @ Rp 5.500 = Rp 1.375.000
2300 unit @ Rp 4.500 = Rp 10.350.000+
total = Rp 11.725.000