Anda di halaman 1dari 3

KONTRA

MENIKAH DINI BUKAN USAHA EFEKTIF

Menurut Ibnu Syubromah bahwa agama melarang pernikahan dini


(pernikahan sebelum usia baligh). Menurutnya, nilai esensial pernikahan adalah
memenuhi kebutuhan biologis, dan melanggengkan keturunan. Sementara dua hal
ini tidak terdapat pada anak yang belum baligh. Ia lebih menekankan pada tujuan
pokok pernikahan. Ibnu Syubromah mencoba melepaskan diri dari kungkungan
teks. Memahami masalah ini dari aspek historis, sosiologis, dan kultural yang ada.
Sehingga dalam menyikapi pernikahan Nabi Saw dengan Aisyah (yang saat itu
berusia usia 6 tahun), Ibnu Syubromah menganggap sebagai ketentuan khusus
bagi Nabi Saw yang tidak bisa ditiru umatnya.

Pernikahan Rasulullah Muhammad saw adalah semata-mata karena


kepentingan kedua yakni persahabatan yang telah terbangun lama yang di
dasarkan atas prinsip agama. Abu Bakar ra adalah orang pertama yang masuk
Islam dari golongan laki-laki dewasa, bahkan ialah satu-satunya yang menemani
Rasulullah saw ketika melakukan perjalanan hijrah menuju Madinah. Dan tingkat
kecintaan Abu Bakar kepada Rasulullah mengalahkan segala-galanya, sehingga ia
dijuluki al-bakr yakni orang yang selalu membenarkan apa yang datang dari
Rasulullah saw, termasuk ketika banyak orang tidak percaya ketika Rasulullah
saw menceritakan tentang perjalanan isra` dan mi’raj-nya yang hanya dilakukan
dalam satu malam saja.

Pemikiran dan praktek di atas saat ini di dunia telah memiliki perubahan
akibat mulai terbukanya pikiran warga dunia tentang hak-hak mereka sebagai
manusia. Konstruksi berpikir tentang kesetaraan gender, human rigths, di
kedepankan sebagai bukti modernitas. Artinya, jika semua orang berpendidikan
dan memiliki pemahaman ke depan maka tidak akan ada lagi yang mau untuk
melakukan praktek nikah di bawah umur. Orang tua pasti berkeinginan agar
anaknya dapat menjadi orang yang sukses dunia dan akhiratnya. Oleh karenanya
melalui penjelasan di atas, sudah sangat mendesesak rasanya saat ini untuk
melakukan telaah ulang di dalam Islam mengenai pernikahan dini melalui
kontekstualisasi nash (teks) dengan modernitas.

Pernikahan Rasulullah saw (jika benar) dengan Aisyah ra sebaiknya hanya


dijadikan sebagai lembaran-lembaran sejarah yang pernah terjadi. Ia adalah hadits
yang dapat diterima keberadaannya tapi tidak dijadikan sebagai legitimasi hukum
pembenaraan nikah di bawah umur di masyarakat (maqbul-ghair ma’mul). Karena
jika dilihat dari unsur primer (al-kulliyat al-khamsah) di dalam maqashid al-
syari’ah, menjaga keturunan (hifzh al-nasl) adalah hal penting di dalam agama.
Karena secara alamiah, pernikahan dibentuk oleh unsur-unsur alami dari
kehidupan manusia itu sendiri yang meliputi kebutuhan dan fungsi biologis,
melahirkan keturunan, kebutuhan akan kasih sayang dan persaudaraan,
memelihara anak-anak tersebut menjadi anggota-anggota masyarakat yang
sempurna (volwaardig). Selain dari pada itu, pernikahan di bawah umur secara
tidak langsung menghambat bahkan menutup berkembangnya pola pikir unntuk
menjadi manusia yang mumpuni (hifz al-‘aql), hal tersebut karena mereka telah
dipaksa untuk segera dewasa (biasanya pola pikir yang terbangun dengan kasus
seperti ini hanyalah dapur, kasur dan sumur) dan menghilangkan sifat-sifat
naluriah sebagai seorang anak dan kemudian menciptakan bangunan keluarga
baru yang hampir tidak jauh berbeda dengan keadaannya terdahulua. Dengan
demikian, jika pernikahan dilakukan oleh anak-anak di bawah umur, maka apakah
fungsi bilogis untuk melakukan usaha melanjutkan keturunan dapat terlaksana ?
tentu tidak. Untuk itu, secara tidak langsung Islam sendiri pada dasarnya telah
melarang praktek pernikahan dini jika kita mau mengkajinya kembali secara
mendalam. Dan pernikahan Nabi adalah sifat khushushiyah yang tidak bisa diikuti
begitu saja oleh orang lain.

Ungkapan di atas memiliki hubungan (manasabah) dengan hadits lain


yang menyebutkan bahwa pernikahan Nabi Muhammad saw dengan Aisyah ra
semata-mata karena petunjuk Allah swt yang didatangkan melalui wasilah
malaikat Jibril as :“Dari Aisyah berkata; Jibril as datang menemui Rasulullah
saw untuk menjelaskan mengenai aku melalui sepotong sutra, seraya berkata;
inilah istrimu di dunia dan akhirat.” [HR. Ibn Hibban]

Dengan demikian maka dapat ditarik konklusibahwa pernikahan yang


dilakukan oleh Nabi Muhammad saw bukanlah atas kehendaknya, akan tetapi
semata-mata karena perintah Allah swt. Dan karena sifatnya adalah perintah,
maka sebagai seorang utusan-Nya harus melaksanakan perintah tersebut,
meskipun belakangan akan terasa asing di hadapan masyarakat. Untuk itu,
penekanan kekhususan Nabi Muhammad saw di atas harus dikedepankan agar
tidak begitu saja menjadi legitimasi baru dalam melakukan praktek nikah di
bawah umur
Kerugian dan akibat buruk yang biasa terjadi pada pasangan yang menikah muda:

 Para wanita muda yang tidak bisa mengatasi urusan rumah tangga dan
pekerjaannya akan lebih mudah mengalami depresi sehingga banyak yang
berakhir dengan pernikahan tidak bahagia, depresi bahkan bunuh diri.
 Menikah muda membuat wanita memiliki waktu yang tidak banyak untuk
mengenal dirinya sendiri dan orang lain, sehingga kemungkinan bersama
'pria yang salah' akan semakin besar. Pengalaman di usia 20-an tahun akan
membentuk wanita untuk lebih dewasa dan lebih tahu mana yang paling
baik untuk dirinya.
 Kehidupan berkeluarga membuat seseorang harus bekerja keras
mengumpulkan uang. Wanita muda harus mengorbankan masa mudanya
untuk bekerja keras sementara teman-temannya mungkin masih sibuk
bersenang-senang.
 Memiliki anak di usia muda membuat wanita harus mengorbankan
karirnya untuk mengurus anak. Seringkali hal ini membuat wanita merasa
menyesal dan tidak puas.
 Beberapa wanita juga merasa bahwa sedari muda mereka telah
mengorbankan banyak hal untuk keluarga, dan tidak berhenti hingga
mereka beranjak tua. Waktu berlalu dan gairah asmara menjadi pudar
sehingga suami cenderung selingkuh dan akhirnya wanita lagi yang harus
mengorbankan kebahagiaan mereka demi anak-anaknya.
 Kehilangan masa remaja; ketika teman sebaya anda menikmati liburan dan pergi
kumpul ke berbagai daerah mungkin anda harus gigit jari ketika suami atau istri anda
tidak menginginkan atau anda telah memiliki bayi yang tidak mungkin di ajak pergi
jauh.
 Dari sisi kesehatan; terutama untuk wanita sangat berisiko, hamil di saat usia masih
muda sangat berbahaya untuk persalinan dan kesehatan rahim.
 Pendidikan; tentunya jika anda menikah di usia dini akan mengorbankan
pendidikan, dimana di usia anda mungkin belum sepenuhnya lulus SMA yang
menyebabkan berdampak pada rendahnya tingkat pengetahuan dan akses
informasi pada anak
 Kemiskinan; dua orang anak yang menikah dini cenderung belum memiliki
penghasilan yang cukup atau bahkan belum bekerja hal ini yang menyebabkan
pernikahan dini rentan dengan kemiskinan
 Kekerasan dalam rumah tangga; dominasi pasangan akibat kondisi psikis yang
masih labil menyebabkan emosi sehingga berdampak pada Kekerasan Dalam
Rumah Tangga.
 Kesehatan psikologi anak; ibu yang mengandung di usia dini akan mengalami
trauma berkepanjangan kurang sosialisasi dan juga mengslami krisis percaya diri
 Anak yang dilahirkan; saat anak yang masih bertumbuh mengalami proses
kehamilan terjadi persaingan nutrisi dengan janin yang dikandungnya sehingga
berat badan ibu hamil seringkali sulit naik dapat disertai dengan anemi karena
defisiensi nutrisi serta berisiko melahirkan bayi dengan berat lahir rendah.
Didapatkan bahwa sekitar 10< bayi yang lahir dari ibu berusia remaja di bawah 14
tahun adalah prematur. Anak berisiko mengalami perlakuan salah dan atau
penelantaran. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak yang dilahirkan dari
pernikahan usia dini berisiko mengalami keterlambatan perkembangan, kesulitan
belajar, gangguan perilaku, dan cenderung menjadi orangtua pula di usia dini
 Kesehatan Reproduksi ; kehamilan pada usia kurang dari 14 tahun meningkatkan
risiko komplikasi medis, baik pada ibu maupun pada anak. Kehamilan di usia yang
sangat muda ini ternyata berkorelasi dengan angka kematian dan kesakitan ibu.
Disebutkan bahwa anak perempuan berusia 10-14 tahun berisiko lima kali lipat
meninggal saat hamil maupun bersalin dibandingkan kelompok usia 20-24 tahun,
sementara risiko ini meningkat dua kali lipat pada kelompok usia 15-19 tahun. Hal
ini disebabkan organ reproduksi anak belum berkembang dengan baik dan panggul
juga belum siap untuk melahirkan.