Anda di halaman 1dari 2

MINGGU ADVEN IV – 18 DESEMBER 2016

EVANGELIUM: ROMA 1, 1-7


“INGATLAH SIAPA DIRIMU”

Pendahuluan
Paulus adalah seorang rasul yang mengkhususkan diri untuk menyebarkan Injil ke seluruh
dunia. Paulus menulis surat Roma dari Korintus pada tahun 58 M menjelang dia akan
berangkat melaksanakan Misi Pekabaran Injilnya ke Wilayah Timur. Paulus berencana untuk
singgah di Roma kota tempat kelahirannya (Kis. 22:28). Sebelum dia datang Paulus menyurati
Jemaat Roma mengenai pengajar palsu dan penyesat yang menimbulkan perpecahan Jemaat
(Roma 16:17). Dia juga mengingatkan mereka untuk lebih bijaksana dalam mengenali hal yang
baik dan buruk (Roma 16:18-19).

Penjelasan Nas
Perikop ini merupakan Salam Pembuka di dalam mengawali Surat Roma. Inilah karakteristik
surat-surat yang ditulis oleh Paulus.
Ayat 1
Paulus memberikan identitas dirinya sendiri sebagai hamba Yesus Kristus (Yun: δοῦλος
Χριστοῦ Ἰησοῦ). Sebenarnya kata δοῦλος sendiri lebih tepatnya mengacu kepada “Budak” yang
dibeli dan dimiliki sepenuhnya oleh pemiliknya/tuannya (κυρίος). Sang majikan memiliki orang
itu sepenuhnya karena dia telah lunas dibayar. Paulus menganggap bahwa dirinya adalah milik
Yesus Kristus sebagaimana Yesus telah mengasihi dia dan memberikan diriNya sendiri bagi
dia. Sebab itulah Paulus yakin bahwa ia bukan lagi miliknya sendiri, melainkan milik tuannya
yang adalah Kristus itu sendiri. Paulus tidak melihatnya sebagai sebuah beban, melainkan
sebuah keuntungan dan kehormatan bahkan sebuah tanggung jawab dari Kasih yang besar.
Sebab dia dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan untuk memberitakan Injil Allah. Paulus tidak
lagi memikirkan apa yag kukehendaki, melainkan apa yang Dia kehendaki
Ayat 2-4
Di sinilah Injil Allah mulai didefinisikan. Injil Allah bukanlah sesuatu yang baru, yang berasal dari
pikiran Paulus, tetapi sudah lama dijanjikan. Injil itu telah dijanjikanNya sebelumnya (Yes. 53).
Tuhan Yesus sendiri adalah isi Injil Allah. (band. Yoh 1:1). Yesus sungguh manusia, justru
manusia dari keturunan Raja Daud, dan Yesus sungguh Allah, seperti apa yang dinyatakan
oleh kebangkitanNya. Dua peristiwa ini, kelahiranNya dan kebangkitanNya juga disebut di
dalam II Timotius 2:8, di mana Injil Kristus dibicarakan. Pada kebangkitanNya, Tuhan Yesus
“dinobatkan" menjadi Raja dan Anak Allah yang berkuasa, (bdk Maz. 2 dan Kis 13:33). Di
dalam pasal 1:3-4 Paulus menggambarkan secara ringkas sebuah "Kristologi": Yesus sungguh
manusia yang layak menjadi Mesias, dan Yesus sungguh Allah, seperti dibuktikan dengan
kebangkitanNya. KebangkitanNya diperoleh menurut Roh kekudusan. KebangkitanNya adalah
suatu bukti dari kekudusanNya, karena kebangkitanNya sesuai dengan kekudusan Roh Allah.
Ayat 5-6
Paulus menjelaskan bahwa dengan perantaraan Injil, Paulus memperoleh kasih
karunia/anugerah yang menyelamatkan, dan juga menerima jabatan rasul dengan bertujuan
untuk menuntun semua bangsa, supaya mereka percaya dan taat kepadaNya. Tujuan jabatan
rasul yang dipercayakan kepada Paulus adalah Sebuah Penginjilan yang memanggil umatNya
bagi seluruh dunia dan bukan hanya bagi bangsa/suku tertentu melainkan Universal. (lih.
Penekanan Paulus ay. 6a) Kasih karunia dan jabatan rasul yang diterima oleh Paulus
mempunyai tujuan kemuliaan Allah, dan bukan hanya sekedar keselamatan manusia saja.
Ayat 7
Paulus mengirim salam karunia Allah untuk mereka yang mengingat identitas mereka. Paulus
Berharap agar orang-orang percaya di Roma yang adalah orang-orang yang dikasihi Allah
(dengan pengampunan), yang dipanggil dan dijadikan orang-orang kudus (karena kasih Allah),
disertai kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Tuhan kita Yesus Kristus. Kasih
karunia dan damai sejahtera adalah identitas pekerjaan keselamatan Allah di dunia ini. Dan
identitas itu diwujudkan dalam kehidupan sesehari.
Pengaplikasian/Penerapan
 Ingatlah siapa dirimu! Paulus mengenali dirinya sendiri sebagai hamba Yesus Kristus.
Pertanyaan buat kita adalah apakah saudara mengingat siapa saudara? Apakah saudara
menjadi budak Kristus, atau menjadi budak yang lain? Menjadi budak, hamba, adalah
perasaan terikat dan patuh terhadap sesuatu yang punya kuasa atas kita. Zaman sekarang
banyak orang yang menjadi budak terhadap keinginan duniawi, nafsu, obat terlarang, atau
uang. Sementara Paulus bahagia menjadi budak dari Kristus. Dalam pasal 6:15-23 Paulus
menjelaskan arti budak Kristus adalah menjadi hamba dari kebenaran dan bukan hamba
dosa. Menjadi hamba Allah akan membawa kita kepada kebebasan dan bukan keterikatan.
(lih. 1 Kor 6, 20; 1 Kor 7, 23)
 Ingatlah tugasmu! Paulus mengatakan bahwa dia dipanggil menjadi rasul dan dikuduskan
untuk memberitakan Injil Allah. Motivasi Paulus dalam mengabarkan Injil datang dari rasa
syukur dan tanggungjawabnya terhadap karunia Allah terhadapnya. Karena Paulus adalah
budak, dia merasa tugasnya adalah untuk menyebarkan Injil, secara khusus kepada bangsa
non-Yahudi. Di sinilah kelebihan menjadi hamba Allah, bahwa kita menjadi hamba karena
pilihan kita sendiri dan bukan karena paksaan. Kalau saudara adalah hamba Allah maka
anda akan melakukan apa yang Allah inginkan dalam hidup anda. Kalau saudara menjadi
budak atas dunia ini maka saudara akan mengerjakan apa yang diperintahkan dunia. Kita
juga bisa melihat bahwa Paulus memiliki kebanggaan dan juga rasa cinta dalam
melaksanakan pekerjaannya sebagai seorang hamba Allah. Seseorang hanya mungkin
melaksanakan pekerjaannya dengan baik ketika dia tahu bahwa pimpinannya
menghargainya, dan pekerjaan yang dilakukannya memiliki sebuah tujuan akhir yang baik.
 Ingat berkat Allah selalu besertamu. Bagi orang yang dipanggil Allah untuk menjadi
hambanya, kasih karunia Allah tidak pernah lepas dari mereka. Bagi mereka yang menjadi
hamba Allah dan melaksanakan tugasnya dengan baik, mereka akan selalu mendapat
penyertaan Allah. Bahkan bukan hanya saja menerima tetapi mampu juga memberi berkat
bagi orang lain. Inilah identitas kita: Menjadi Saluran Berkat Bagi Semua Orang. Menjadi
berkat tidak hanya dalam bentuk materi, tenaga atau bantuan informasi, tetapi juga melalui
doa-doa kita yang dipanjatkan pada Tuhan agar pihak lain yang berkomunikasi dengan kita
memperoleh berkat melalui doa kita.

Firman Tuhan pada minggu Adven IV ini menjadi bekal yang baik dalam menyongsong
peringatan lahirnya Tuhan kita Yesus Kristus. Kita diminta untuk terus merendahkan diri kita
dan bersikap sebagai hamba dan sekaligus melihat diri kita dan menerima mandat sebagai
utusan Kristus di dunia ini. Kita bersikap demikian karena janji yang diberikan-Nya melalui nabi-
nabi telah menjadi nyata dengan peristiwa di Betlehem, Putra Daud telah menjadi manusia,
sehingga kita pasti menerima janji-janji yang diberikan-Nya. Untuk menggapai itu, melalui
ketaatan dan kesetiaan, kita akan dikuduskan-Nya secara terus menerus untuk bisa tetap
menjadi milik-Nya. Kita dipanggil sebagai bagian dari bangsa-bangsa yang mengikut Dia.
Mengikut dan menjadi saksi bagi-Nya, membuat Kristus hadir bagi semua dan kita benar-benar
milik-Nya dan hidup (mati) kita adalah bagi Dia. Dengan demikian panggilan dan pemilihan
Allah kepada diri kita tidak menjadi sia-sia. Amin

Referensi:
William J. Barclay, Pemahaman Alkitab Setiap Hari: Roma, BPK-GM, 2007
Dave Hagelberg, Tafsiran Roma dari Bahasa Yunani, Penerbit Kalam Hidup, 2012
John MacArthur, Sklave Christi: Die unterschlagene Wahrheit über deine Identität in Christus,
Betanien Verlag, 2011