Anda di halaman 1dari 8

1.

Risiko keuangan adalah segala macam risiko yang berkaitan dengan keuangan, biasanya
diperbandingkan dengan risiko non keuangan, seperti risiko operasional. Jenis risiko keuangan
misalnya adalah risiko nilai tukar, risiko suku bunga, dan risiko likuiditas
Contoh ; AMR merupakan induk dari maskapai penerbangan terbesar ketiga di AS, American
Airlines. Maskapai berusia 80 tahun itu akhirnya mendaftarkan kebangkrutan akibat terus
melonjaknya harga bahan bakar dan pesawat-pesawatnya yang sudah tua. Maskapai itu
memiliki rata-rata penerbangan berusia 15 tahun, sehingga membuat American Airlines
sebagai maskapai tertua dan paling tidak efisien dibandingkan rivalnya
Biaya tenaga kerja juga mencatat beban finansial terbesar bagi perusahaan tersebut. Pada
laporan keuangan tahun 2010, American Airlines memperkirakan biaya tenaga kerja yang
sekitar US$ 600 juta per tahun lebih besar ketimbang rivalnya. Menurut Pension Benefit
Guaranty Corp. rencana pensiun maskapai tersebut mencakup 130.000 pekerja dan
pensiunan dengan dana sekitar US$ 10 miliar.
a. Risiko pasar (Bahasa Inggris: market risk) adalah suatu risiko yang timbul karena
menurunnya nilai suatu investasi karena pergerakan pada faktor-faktor pasar. Empat
faktor standar risiko pasar adalah risiko modal, risiko suku bunga, risiko mata uang,
dan risiko komoditas.
Contoh ; suatu perusahaan mempunyai portofolio sekuritas saham yang dibeli dengan
harga Rp 1 miliar.Misalkan harga saham jatuh,
sehingga nilai pasar saham tersebut turun menjadi Rp 800 juta.Perusahaan tersebut
mengalami kerugian karena nilai portofolio sahamnya turun sebesar Rp 200 juta.Kerugian
tersebut disebabkan karena harga saham bergerak kearah yang kurang menguntungkan
(dalam hal ini turun).
 Risiko Suku Bunga (Interest Rate Risk)
Adalah potensi kerugian yang timbul akibat pergerakan suku bunga di pasar yang
berlawanan dengan posisi, atau transaksi bank yang mengandung risiko suku bunga.
Contoh ; Pada saat suku bunga mengalami kenaikan dan harga saham di pasar
mengalami penurunan, maka investor cenderung memindahkan dananya dari saham
ke deposito.
Pada saat kondisi pasar saham sedang menghangat, maka akan terjadi kebalikan dari
hal diatas, dengan alasan keuntungan bermain saham lebih tinggi.
Investor adalah mereka yang memiliki karakteristik penghindar risiko dan menyukai
keuntungan yang berkelanjutan
 Risiko Nilai Tukar (Foreign Exchange Risk )
Adalah potensi kerugian akibat terjadi fluktuasi nilai tukar. Risiko nilai tukar biasanya
timbul akibat bank memiliki posisi terbuka valuta acing, dan terjadi perubahan nilai
tukar yang menyebabkan nilai yang dinyatakan dalam valuta domestik menjadi turun.
Contoh ; Perubahan nilai tukar bias menyebabkan perubahan arus kas.Dampak
perubahan nilai tukar terhadap ekspektasi arus kas sangat beragam, tergantung dari
aktivitas perusahaan. Bagi perusahaan yang menggunakan bahan baku impor dan
pembayaran dalam US$, sedangkan penjualan produk hanya di dalam negeri dalam
pembayaran Rupiah, melemahnya Rupiah terhadap US$ berdampak sangat buruk.
Ini sudah terbukti selama krisis sejak pertengahan tahun 1997. Karena beban
pembayaran bahan baku impor meningkat, sedangkan nilai jual tidak meningkat
seperti naiknya biaya bahan baku tersebut.
Sebaliknya, menguatnya Rupiah terhadap US$ menguntungkan pengguna bahan
baku impor. Perusahaan dapat menghemat Rupiah untuk membayar bahan baku
sementara penjualan konstan, atau bahkan meningkat. Akibatnya, ekspektasi
keuntungan membaik dan ekspektasi arus kas juga membaik.
Berbeda bagi eksportir. Melemahnya Rupiah terhadap US$ justru menguntungkan
perusahaan. Dengan penjualan yang sama dalam US$, pendapatan dalam Rupiah

1|Page
meningkat. Akibatnya, ekspektasi keuntunan meningkat dan ekspektasi arus kas juga
meningkat. Dan juga sebaliknya.
 Risiko Ekuitas atau Sahara (Equity Risk )
Adalah potensi kerugian akibat fluktuasi harga saham di pasar. Risiko ekuitas dapat
terjadi karena adanya perubahan harga saham atas portofolio saham yang dimiliki
bank (misalnya anak perusahaan bank yang bergerak di bidang sekuritas).
Contoh ; Secara teoritis, investor memiliki pilihan untuk berinvestasi baik dalam aset
bebas risiko atau aset berisiko. Obligasi pemerintah dalam mata uang domestik
dianggap sebagai aset bebas risiko. Pemerintah dianggap bebas risiko karena
mereka seharusnya memiliki kemampuan untuk membayar hutang mereka dalam
segala situasi; Dalam skenario terburuk, mereka hanya bisa mencetak uang dalam
mata uangnya dan melunasi hutangnya, bahkan dengan mengorbankan inflasi tinggi.
Tentu ini tidak berlaku untuk instrumen utang pemerintah dalam mata uang selain
mata uang domestik.

Catatan:
Alasan bahwa pemerintah Yunani hampir gagal membayar hutangnya pada tahun
2015 dan tahun-tahun sebelumnya adalah, menurut peraturan UE, negara-negara
kawasan euro (negara-negara yang menggunakan EUR sebagai mata uang domestik
mereka) melepaskan hak mereka untuk mencetak uang secara mandiri. Bank Sentral
Eropa adalah satu-satunya otoritas yang berhak mencetak euro. Inilah sebabnya
mengapa obligasi pemerintah Yunani dan juga obligasi pemerintah zona euro lainnya
tidak bebas risiko. (Lihat, Asal Krisis Utang Yunani )

 Risiko komoditas
Adalah potensi kerugian akibat fluktuasi harga komoditas. Risiko dapat terjadi
pads posisi komoditas termasuk posisi derivatives komoditas.
Untuk bank di Indonesia, karena sesuai regulasi tidak dapat melakukan transaksi atau
melakukan investasi terkait dengan saham dan komoditas, maka risiko pasar yang
diperhitungkan hanya atas dasar perubahan faktor pasar suku bunga dan nilai tukar.
Contoh ; Pada perbankan adalah “dimana kerugian yang diderita oleh investment
bank yang melakukan trading atau commodity derivative product sebagai akibat dari
terjadinya volatility atas harga dari suatu commodity tertentu.
Perbankan adalah lembaga mediasi yang bertugas menjembatani pihak-pihak yang
membutuhkan bantuan dengan tujuan mngefektifikan dan mengefisienkan berbagai
urusan. Dalam konteks ini perbankan bias saja terserat dalam ruang risiko pada saat
pihak-pihak tersbut tidak dapat melaksanakan tugasnya secara efektif.
Jual beli di bursa komoditi sebagai bersifat fluktuatif, naik dan turun terjadi dalam
waktu yang cepat. Kondisi ini sering dijadikan keuntungan oleh pihak spekulan yaitu
dengan cara membeli pada saat harga rendah dan menjual pada saat harga tinggi,
dimana jarak ini dilihat sebagai capital gain yaitu keuntungan yang diperoleh dari
selisih harga beli dan harga jual. Kasus di lapangan sering sekali para spekulan
melakukan aksi ambil untung dengan informasi yang tidak lengkap.Kondisi informasi
yang tidak lengkap menciptakan pasar yang tidak efisien
b. Risiko likuiditas adalah risiko yang muncul akibat kesulitan menyediakan uang tunai
dalam jangka waktu tertentu. Misalnya : jika suatu pihak tidak dapat membayar
kewajibannya yang jatuh tempo secara tunai. Meskipun pihak tersebut memiliki aset yang
cukup bernilai untuk melunasi kewajibannya, tetapi ketika aset tersebut tidak bisa
dikonversikan segera menjadi uang tunai, maka Aset tersebut dikatakan tidak likuid.

2|Page
Hal ini bisa terjadi jika pihak pengutang tidak dapat menjual hartanya karena tidak adanya
pihak lain di pasar yang berminat membelinya. Hal ini berbeda dengan penurunan drastis
harga aktiva, karena pada kasus penurunan harga, pasar berpendapat bahwa aktiva
tersebut tak bernilai. Tidak adanya pihak yang berminat menukar (membeli) aktiva
kemungkinan hanya disebabkan karena kesulitan mempertemukan kedua belah pihak.
Karenanya, risiko likuiditas biasanya lebih besar kemungkinan terjadi pada pasar yang
baru tumbuh atau bervolume kecil.
Risiko likuiditas merupakan suatu risiko keuangan karena adanya ketidakpastian likuiditas.
Suatu lembaga dapat berkurang likuiditasnya jika peringkat kreditnya turun, mengalami
pengeluaran kas yang tak terduga, atau peristiwa lain yang menyebabkan pihak lain
menghindari transaksi atau memberikan pinjaman ke lembaga tersebut. Suatu
perusahaan juga dapat terpapar terhadap risiko likuiditas jika pasar yang diikutinya
mengalami penurunan likuiditas.
Contoh ; Pada saat perekonomian sedang mengalami gejolak ekonomi (seperti fluktuasi
nilai tukar) yang menyebabkan para penabung menarik dananya dari bank yang sakit
maupun pada bank yang sehat, sehingga menimbulkan bank run. Untuk mengatasi
masalah ini, biasanya pemerintah melakukan penjaminan terhadap dana yang disimpan
oleh para penabung, karena penjaminan tersebut akan menyebabkan para penabung
merasa aman dan mempercayai sistem perbankan. Pemerintah juga dapat bertindak
sebagai the lender of the last resort, dengan memberikan bantuan likuiditas kepada bank
yang mengalami masalah likuiditas.
c. Risiko kredit (bahasa Inggris: Credit risk) adalah suatu risiko kerugian yang disebabkan
oleh ketidak mampuan (gagal bayar) dari debitur atas kewajiban pembayaran utangnya
baik utang pokok maupun bunganya ataupun keduanya
Contoh ; Bank A memberikan kredit perumahan kepada debitur perorangan. Saat
memberikan kredit tersebut, bank memiliki risiko bahwa sebagian – atau seluruh – debitur
perorangan tersebut akan gagal membayar bunga ataupun pokok kredit yang diterimanya.
Risiko kredit timbul dari adanya kemungkinan bahwa kredit yang diberikan oleh bank, atau
obligasi yang dibeli, tidak dapat dibayarkan kembali. Risiko kredit juga timbul dari tidak
dipenuhinya berbagai bentuk kewajiban pihak lain kepada bank, seperti kegagalan
memenuhi kewajiban pembayaran dalam kontrak derivatif.
Untuk sebagian bank, risiko kredit merupakan risiko terbesar yang dihadapi. Pada
umumnya, marjin yang diperhitungkan untuk mengantisipasi risiko kredit hanyalah
merupakan bagian kecil dari total kredit yang diberikan bank dan oleh karenanya kerugian
pada kredit dapat menghancurkan modal bank dalam waktu singkat.
2. Risiko operasional oleh Basel II didefinisikan sebagai suatu risiko kerugian yang disebabkan
karena tak berjalannya atau gagalnya proses internal, manusia dan sistem, serta oleh peristiwa
eksternal. Walaupun risiko ini dapat diterapkan pada semua jenis organisasi bisnis, keterkaitan
utamanya adalah pada bidang perbankan yang regulatornya bertanggung jawab untuk
menciptakan pengamanan sebagai perlindungan terhadap kegagalan sistemik sistem perbankan
dan ekonomi.
Definisi Basel II mencakup pula risiko hukum, tetapi mengecualikan risiko strategi, yaitu risiko
kerugian karena buruknya keputusan strategis bisnis. Definisi ini juga mengecualikan risiko
reputasi walaupun disadari bahwa suatu kerugian operasional yang cukup besar tetapi tidak fatal
juga dapat memengaruhi reputasi dan dapat membawa dampak lanjutan pada keruntuhan bisnis
dan kegagalan organisasi.
Contoh ; Perusahaan Kodak yang bergerak didunia tekonologi tentu akan banyak mengalami
perubahan dan kemajuan zaman, namun perusahaan ini tidak mampu untuk memproduksi produk
maupun itu menciptakan produk baru ataupun memperbarui produk lama mereka sesuai dengan
kebutuhan dan keinginan para konsumen dan masyarakat luas, sehingga perusahaan harus
menghadapi masalah bahwa produk mereka tertinggal serta kalah bersaing dengan produk lain
dan menimbulkan kerugian pada perusahaan
Risiko operasional dibagi menjadi:

3|Page
a. Risiko SDM Berdasarkan pendapat para ahli resiko Sumberdaya manusia adalah
masalah yang ditimbulkan oleh tenaga kerja sehingga berdampak negative terhadap
perusahaan
Kemungkinan kejadian risiko yang berkaitan dengan kondisi SDM terdiri dari:
kemungkinan rendahnya tingkat kesehatan, kemungkinan tingkat kematian, dan pengaruh
usia.
Contoh ; Pegawai perusahaan juga kedap terhadap risiko, seperti risiko sakit, risiko
kecelakaan, risiko meninggal dunia, ketidaksetiaan pada perusahaan (dishonesty).
Disamping itu dalam era persaingan usaha yang keras seperti yang terjadi pada dewasa
ini, pembajakan (headhunter) terhadap tenaga kerja yang dianggap memiliki kualifikasi
tinggi, juga sering terjadi
b. Risiko Produktivitas adalah risiko produk kesalahan dalam aktivitas berkaitan dengan
penyimpangan hasil atau tingkat produktivitas yang diharapkan karena adanya
penyimpangan dari variable yang mempengaruhi prodiktivitas kerja.
Contoh ; Jika budaya kerja di kantormu buruk, tentu semangat kerja dan produktivitas bisa
jadi menurun. Oleh karena itu kamu patut mewaspadai jika kantormu memiliki beberapa
ciri berikut: Karyawan yang saling menyalahkan
Tak hanya karyawan yang saling menjelekkan satu sama lain, karyawan yang sering saling
menyalahkan akan membuat suasana bekerja menjadi tidak nyaman. Sesama karyawan,
apalagi jika berada di satu divisi, harus bekerja selayaknya tim yang memiliki tujuan yang
sama, yakni memajukan perusahaan. Jika justru saling menyalahkan, budaya tersebut
bisa merusak dinamika pekerjaan.
c. Risiko teknologi berupa potensi penyimpangan hasil karena teknologi yang digunakan
tidak sesuai lagi dengan kondisi. Misalnya transaksi terhambat karena teknologi
perusahaan dengan teknologi klien tidak compatible. Atau karena terjadinya perubahan
kualitas dan spesifikasi bahan baku menyebabkan teknologi pengolahan saat ini tidak
sesuai.
Contoh ; Contoh Kasus Permasalahan Internet Banking
Meskipun dunia perbankan memperoleh manfaat dari penggunaan internet banking,
terdapat pula resiko-resiko yang melekat pada layanan internet banking, seperti resiko
strategik, resiko reputasi, resiko operasional termasuk resiko keamanan dan resiko hukum,
resiko kredit, resiko pasar dan resiko likuiditas.
Serangan terhadap kegiatan perbankan online (online banking), adalah cybercrime.
Modus yang pernah muncul di Indonesia dikenal dengan istilah typosite. Modus ini
memanfaatkan nasabah yang salah mengetikkan alamat bank online yang ingin
diaksesnya. Pelakunya sudah menyiapkan situs palsu yang mirip dengan situs asli bank
online (forgery). Jika ada nasabah yang salah ketik dan kesasar di situs bank palsu
tersebut, pelaku akan merekam user id dan password nasabah tersebut untuk digunakan
mengakses ke situs yang sebenarnya (illegal access) dengan maksud untuk merugikan
nasabah
d. Risiko inovasi adalah potensi penyimpangan hasil karena terjadinya pembaharuan,
modernisasi, atau transformasi dalam proses produksi. Penyimpangan positif ( perbaikan
kinerja) terjadi apabila inovasi tersebut membantu proses operasi. Sebaliknya, inovasi
beberapa aspek dapat menyebabkan terjadinya penyimpangan negative apabila
perusahaan tidak segera melakukkan penyesuaian
Contoh ; Sebuah perusahaan arloji memproduksi jenis jam berbahan dan berukuran
standar dengan penjualan yang selalu begitu gitu saja perusahaan arloji tersebut ingin
berinovasi dengan memproduksi arloji berbahan dasar karet dengan ukuran yang relatif
besar juga warna yang cerah. Perushaan tersebut memperkirakan jika arloji, seperti itu
memiliki daya tarik sendiri di pasaran. Tapi, ternyata arloji berbahan rantai dengan ukuran
sedang dan warna yang sederhana lebih diminati dan laku keras di pasaran

4|Page
e. Risiko sistem merupakan potensi penyimpangan hasil karena adanya cacat atau
ketidaksesuaian sistem dalam operasi perusahaan.
Contoh ; Resiko ini biasa dijumpai disimari ulm pada saat pengurusan krs biasanya simari
ulm tidak dapat diakses karena banyak mahasiswa yang mengakses dan terjadi server
down maka untuk pengurus krs akan sedikit terhambat akibat system yang down tersebut
f. Risiko proses adalah risiko mengenai potensi penyimpangan dari hasil yang diharapkan
dari proses karena ada penyimpangan atau kesalahan dalam kombinasi sumber daya
(SDM, keahlian, metode, peralatan, teknologi dan material) dan karena perubahan
lingkungan.
Contoh ; Kegagalan pengendalian: BaringsTahun 1995 Baring Brothers and Co. Ltd.
(Barings), London, jatuh setelah mengalami kerugian sebesar GBP 827 juta akibat
kegagalan proses dan prosedur pengendalian internalnya.
Seorang trader di Singapura yang bekerja di Singapore Futures Exchange mampu
menyembunyikan kerugian posisi trading yang terus membesar selama lebih dari dua
tahun hingga akhirnya tidak dapat ditutup-tutupi lagi. Karena kurangnya pengendalian,
trader tersebut dapat berperan sebagai manajer pelaksana dan pencatat settlement,
sehingga dapat memberikan otorisasi untuk transaksi yang dilakukannya sendiri.
Walaupun kejadian ini seringkali dikatakan sebagai akibat dari rouge trader, namun harus
diakui bahwa keadaan tersebut sebenarnya merupakan kasus kegagalan pengendalian
internal.
3. Risiko strategis adalah risiko yang dapat mempengaruhi eksposur korporat dan eksposur
strategis(terutama eksposur keuangan) sebagai akibat keputusan strategis yang tidak sesuai
dengan lingkungan eksternal dan internal usaha.
Contoh ;Sebuah bank (bank Midland) berencana memperluas bisnisnya, dengan masuk ke bisnis
kredit perumahan (yang belum pernah dimiliknya), dengan cara membeli (akuisisi) bank lain (Bank
Crocker). Keputusan ini bersifat strategis (sehingga terkait risiko strategis), karena keputusan ini
bersifat jangka panjang, pada bisnis yang baru (belum berpengalaman), serta terkait pada
permasalahan akuisisi yang kompleks, misalnya masalah perbedaan budaya bisnis di kedua bank
tersebut.
Dapat disimpulkan mengenai penyebab risiko strategik adalah karena keputusan bisnis yang
berlawanan atau ketidaktepatan implementasi dari keputusan tersebut dalam hal strategi bank dan
realisasi vs target. Ruang lingkup risiko strategik sangat luas dan dapat mencakup keseluruhan
risiko yang lain dalam perbankan. Karena setiap risiko yang ada perlu dikelola dengan baik, oleh
karena itu membutuhkan kemampuan untuk menetapkan strategi yang tepat bagi masing-masing
risiko yang dihadapi. Hal yang paling perlu diperhatikan dalam mengelola risiko strategik adalah
dengan membuat rencana kerja baik rencana kerja secara umum maupun secara khusus yang
dikerjakan dengan baik dan dievaluasi secara periodik.
Oleh karena itu secara umum tidak dapat ditemukan perbedaan antara manajemen risiko strategik
di bank syariah dengan di bank konvensional. Perbedaan akan ditemukan saat mulai masuk ke
ruang lingkup teknis penetapan strategi bank dimana pada bank konvensional dibatasi oleh koridor
peraturan pemerintah sedangkan pada bank syariah dibatasi selain oleh peraturan pemerintah
juga oleh peraturan syariah.
Risiko strategis dibagi menjadi:
a. Risiko Bisnis adalah potensi penyimpangan hasil korporat (nilai perusahaan dan
kekayaan pemegang saham) dan hasil keuangan karena perusahaan memasuki suatu
bisnis tertentu dan lingkungan industri yang khas dan menggunakan teknologi tertentu.
Yang dimaksud sebagai hasil perusahaan disini adalah nilai perusahaan itu sendiri dan
kekayaan pemegang saham (investor). Pengukuran risiko usaha dapat dilakukan
diantaranya dengan mengukur rasio perubahan laba dengan perubahan penjualan
(leverage operasi)

5|Page
Contoh ; Kondisi Bank yang terkena masalah, akan selalu menimbulkan goncangan pada
Bank lainnya, karena masyarakat akan selalu mewaspadai isu tentang industri jasa
keuangan, bagaimanapun sebagian besar uang masyarakat tersimpan disana. Jika
sebelumnya Citibank yang mendapatkan sorotan akibat kasus MD dan kaitan denganDebt
collector.Sanksi yang dikenakan pada Citibank, antara lain: 1) Melarang Citibank untuk
menambah nasabah baru layanan prioritas Citigold. 2) Melarang penerbitan kartu kredit
baru selama dua tahun. 3) Melarang penggunaan jasa penagihan pihak ketiga selama dua
tahun.Jika kita berpikir positif, kita harus menganggap bahwa sanksi tersebut merupakan
kesempatan Bank yang bersangkutan untuk membenahi masalah internalnya, meneliti
kembali apakah aturan tentang manajemen risiko, serta apakah built in control telah
dilakukan dengan benar, atau apakah masih ada celah yang bisa dimanfaatkan oleh
seseorang yang beritikad tidak baik. Sanksi tersebut juga akan membuat Bank lain lebih
berhati-hati, meneliti kembali sistem prosedur nya, apakah kebijakan Manajemen Risiko di
Bank masing-masing telah dilaksanakan secara hati-hati.Persaingan bisnis antar Bank
yang makin ketat membuat aturan dikendurkan oleh sebagian bankir dengan alasan
menjaga loyalitas
b. Risiko Leverage operasi
Konsep financial dan operating leverage adalah bermanfaat untuk analisis, perencanaan
dan pengendalian keuangan. Perlu ditegaskan kembali bahwa leverage dalam pengertian
bisnis mengacu pada penggunaan aset dan sumber dana (source of funds) oleh
perusahaan di mana dalam penggunaan aset atau dana tersebut perusahaan harus
mengeluarkan biaya tetap atau beban tetap.
Perusahaan menggunakan financial dan operating leverage dengan tujuan agar
keuntungan yang diperoleh lebih besar daripada biaya aset dan sumber dananya, dengan
demikian akan meningkatkan keuntungan pemegang saham.
Sebaliknya leverage juga meningkatkan variabilitas (risiko) keuntungan, karena jika
perusahaan ternyata mendapatkan keuntungan yang lebih rendah dari biaya tetapnya
maka penggunaan leverage akan menurunkan keuntungan pemegang saham. Konsep
leverage tersebut sangat penting terutama untuk menunjukkan kepada analis keuangan
dalam melihat trade-off antara risiko dan tingkat keuntungan dari berbagai tipe keputusan
finansial.
Contoh ; Pertimbangkan perusahaan farmasi yang memproduksi obat dan harus
mengeluarkan biaya tetap sebesar $ 10 juta untuk peralatan khusus. Setelah membeli
peralatan, perusahaan hanya menghasilkan $ 10 dari biaya variabel untuk menghasilkan
satu paket obat. Perusahaan menjual 1 juta paket obat pada tahun tertentu dengan harga
$ 25 per paket. Manajemen perusahaan menghitung tingkat leverage operasi sebagai
berikut: volume penjualan * (harga variabel biaya) / (volume penjualan * (harga - biaya
variabel) - biaya tetap) = 3. Jika volume penjualan tumbuh sebesar 10%, keuntungan
meningkat sebesar 10% * 3 = 30%. Kebalikannya adalah benar ketika volume penjualan
turun sebesar 10%: perusahaan kehilangan 30% keuntungannya dengan penurunan
volume penjualan sebesar 10%.
c. Risiko transaksi strategis adalah potensi penyimpangan hasil korporat maupun strategis
sebagai akibat perusahaan melakukan transaksi strategis. Transaksi yang dikategorikan
sebagai transaksi strategis adalah transaksi yang berkaitan dengan restrukturisasi
perusahaan.
Restrukturisasi dapat dilakukan terhadap :
 portofolio perusahaan (portofolio asset dan portofolio usaha);
 struktur modal (meliputi transaksi yang mengakibatkan perubahan jumlah modal, jenis
modal, sumber modal dan komposisi modal); dan
 struktur manajemen dan organisasi.
Secara praktis transaksi strategis dapat berupa merger, akuisisi, investasi baru, divestasi,
likuidasi dan yang lainnya.

6|Page
lagi bekerjasama seperti sebelumnya (bila broker berasal dari luar negeri). Bahkan, trader
akan dikejar hutang dan akan ditindaklanjuti kepada pihak yang berwajib apabila pihak
broker berada dalam negeri. Tentu, hal ini dapat berakibat fatal dan mencemarkan nama
baik.
Contoh ; Bank B menerima simpanan dari nasabahnya dan memberikan kredit perorangan
kepada mereka. Bank C bergerak dalam bisnis mortgage dan menyediakan kredit
perumahan kepada nasabahnya.
Manajemen senior Bank B memutuskan untuk memperluas bisnis bank tersebut, dengan
cara memasuki bisnis mortagge melalui tindakan akuisisi terhadap Bank C. Keputusan ini
membawa risiko strategis karena Bank B mengambil keputusan strategis jangka panjang
dan masuk ke dalam sebuah bisnis dimana Bank B sebelumnya tidak memiliki
pengalaman mengenai mortgage.
4. Risiko Eksternalitas adalah potensi penyimpangan hasil pada eksposur korporat dan strategis
dan dapat berdampak pada potensi penutupan usaha karena pengaruh dari faktor eksternal.
Contoh ; Contoh eksternalitas negatif terjadi di Padang Lawas, Sumatera Utara pada September
2011. Warga setempat mengaku limbah dari pabrik sawit di daerah itu membuat sungai tercemar
dan ikan hasil tangkapan menjadi berkurang. Setelah dituntut, pengelola pabrik memberikan
kompensasi ganti rugi kepada warga. Kompensasi ini, bagi pengelola pabrik, adalah tambahan
biaya produksi dan seharusnya ikut tercermin di harga sawit yang ia produksi. Jika ia secara
konsisten memberikan kompensasi (mengeluarkan biaya sosial), maka biaya membuat sawit
menjadi lebih mahal dan harganya juga naik. Karena harga naik, kuantitas sawit yang dibeli
berkurang. Namun demikian, inilah yang secara sosial seharusnya terjadi.
Faktor eksternal meliputi reputasi, lingkungan, sosial dan hukum.
a. Risiko Reputasi adalah potensi hilangnya atau hancurnya reputasi perusahaan karena
penerimaan lingkungan eksternal yang rendah, bahkan dapat terjadi penolakan.
Contoh ; Pembuat smartphone Blackberry, Research in Motion (RIM) yang menjadi
contoh perusahaan yang inovatif, namun kehilangan momentum di akhirnya pada tahun
depan. Lima tahun silam, RIM satu-satunya smartphone yang daiterima di mana saja
dan masuk di hampir semua pasar korporat. Namun itu menjadi srina ketika gagal
mengadaptasi teknologi untuk pengguna. Saat Appel meluncurkan iPhone pada Juni
2007, maka RIM menjadi sejarah.
RIM pernah menguasai pasar smartphone dengan produk BlackBerry yang banyak
digunakan kalangan bisnis. Namun lambatnya menghadapi serangan Apple dan pasukan
handphone berbasis Android dari Google yang diadopsi pabarikan HTC-China,
Samsung-Korsel, dan Motorola-AS, membuatnya berada di tepi jurang.
Dari perusahaan retail, Pacific Sunwear tak lagi memiliki modal untuk berkompetisi, dan
akan menghiolang tahun 2013. Salah satu risiko perusahaan adalah menurunnya
permodalan dan tidak memnuhi sayarat finansial.
Pacific Sunwear memiliki reputasi sebagai toko yang menawarkan aneka asesoris
"California-style", terutama kaca mata, sepatu, dan baju renang. Perusahaan yang
berawal dari toko surfing di Pantai Newport tahun 1980, mengalami penurunan harga
saham yang membuatnya terancam bangkrut. Lima tahun lalu, harga saham masih
berkisar 23 dolar AS, kini anjlok menjadi 1,50 dolar AS atau Rp 13.500 per saham.
Berikutnya adalah perusahaan retail Talbots yang akan diambil alih Sycamore Partners
dengan harga saham 2,75 dolar AS per lembar atau total 190 juta dolar AS. Sycamore
telahj menurunkan penawarannya dari 3,05 dolar AS per lembar pada Desember 2011.
Akibat berdarah-darah terkena resesi dan ditambah kegagalan menjangkau konsumen
dengan produk yang unik, harga saham lima tahun lalu hampir 26 dolar AS per saham,
kini anjlok menjadi 2,50 dolar AS [er lembar (Rp 23.000).

7|Page
b. Risiko Lingkungan adalah potensi penyimpangan hasil, bahkan potensi penutupan
perusahaan karena ketidakmampuan perusahaan dalam mengelola polusi dan
dampaknya yang ditimbulkan oleh perusahaan.
Contoh ; Contoh ada ratusan perusahaan dikota Cimahi yang ditutup akibat Program
Citarum Harum memberi batas waktu 3 bulan bagi perusahaan melakukan perbaikan
pengelolaan limbah agar tak terus mencemari badan sungai hingga ke Sungai Citarum.
Data DLH Kota Cimahi, dari jumlah perusahaan yang telah teregistrasi sebanyak 318 unit,
yang sudah terawasi baru 156 perusahaan. Perusahaan yang dikenai sanksi telah
melanggar Undang-undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan
Lingkungan Hidup.
Sanksi terhadap 130 perusahaan terbagi dalam sengketa lingkungan sebanyak 35
perusahaan, sanksi pengawasan sebanyak 69 perusahaan dan closing sanksi sebanyak
26 perusahaan.
Khusus 35 perusahaan yang terkena sanksi sengketa lingkungan hidup, telah dilimpahkan
ke Kementrian Lingkungan Hidup, dengan status 13 perusahaan sepakat membayar ganti
rugi kerusakan lingkungan, 8 perusahaan tidak menyepakati ganti rugi kerugian kerusakan
lingkungan, 12 perusahaan diberikan peningkatan status administratif, 1 perusahaan
sedang proses mediasi dan 1 perusahaan sudah pailit.
Ratusan pabrik tersebut terbukti telah menyumbang pencemaran Sungai Cimahi,
Cisangkan, Cibabat, Cibaligo dan Cibeureum. Kelima sungai tersebut bermuara di Daerah
Aliran Sungai (DAS) Citarum.
c. Risiko Sosial adalah potensi penyimpangan hasil karena tidak akrabnya perusahaan
dengan lingkungan tempat perusahaan berada.
Contoh ; Yahoo adalah “pusat gravitasi” di masa awal merebaknya bisnis internet di tahun
1990-an. Berkat Yahoo kita mengenal email, chat room, dan mesin pencari. Perusahaan
yang didirikan Jerry Yang dan David Filo ini adalah salah satu katalis terbesar meledaknya
dot com di akhir tahun 1990-an, yang dampaknya kita rasakan hingga saat ini.
Kini, masa keemasan Yahoo sudah berakhir.
Dijual US$4,83 miliar (sekitar Rp63 triliun) kepada Verizon, jauh meninggalkan valuasinya
di masa keemasan senilai lebih dari US$100 miliar (sekitar lebih dari Rp1.300 miliar). Sang
pelopor akan berganti nama menjadi Altaba, sebuah merk perusahaan holding milik
Alibaba—Yahoo memiliki lima belas persen saham di sana.
Kabar kematian Yahoo pada bulan ini sebenarnya hanya menegaskan tanda-tanda
sekarat yang sudah lama tampak. Yahoo semestinya menjadi Googleyang kita kenal
sekarang. Namun, mengapa yang kita lihat justru sebaliknya? Mengapa perusahaan
sebesar Yahoo gagal?
 Dibutakan oleh uang
 Krisis identitas
 Kegagalan di era smartphone
 Hilangnya kultur hacker
 Menurlarkan kekalahan
Risiko Hukum adalah kemungkinan penyimpangan hasil karena perusahaan tidak
mematuhi peraturan dan norma yang berlaku.
Contoh; Credit Lyonnais (1991)Ketidakcukupan pengawasan dan deregulasi internal
dalam kaitan dengan berbagai penyelewengan : mis-manajemen pinjaman, pencucian
uang, penyelewengan kekuasaan berupa konspirasi antara politisi, bankir, dan pemilik
baru yang menyebabkan kerugian sebesar USD 24,220. Dalam kasus ini terjadi kesalahan
regulasi yaitu risiko hukum karena kurang baiknya regulasi yang ditetapkan oleh pihak
manajemen sehingga memungkinkan terjadinya penyelewengan.

8|Page