Anda di halaman 1dari 7

Kasus 3 RISIKO AUDIT DAN PROSEDUR ANALITIS

Pertanyaan Diskusi

1. Mengapa bukti dokumen dalam suatu perikatan audit diperlukan dan apa yang
harus disertakan ?

Bukti dokumen dalam perikatan audit yang berupa surat perikatan audit sangat
diperlukan untuk menghindari kesalahpahaman antara auditor dengan klien selama proses
audit. Selain itu sebagai bukti bahwa telah terjadi adanya perikatan audit dan dengan
adanya surat perikatan maka perikatan tersebut memiliki kekuatan hukum sehingga
apabila terjadi wan prestasi baik dari pihak KAP maupun klien dapat dituntut secara
hukum. Dalam surat perikatan tersebut menjelaskan beberapa hal, isi pokok surat
perikatan berdasarkan SA 210 par 10 par A22-A25 yaitu:
a. Tujuan dan ruang lingkup audit atas laporan keuangan.
b. Tanggung jawab auditor
c. Tanggung jawab manajemen
d. Identifikasi kerangka pelaporan keuangan yang diterapkan dalam penyusunan LK
e. Pengacuan ke bentuk dan isi laporan yang akan dikeluarkan oleh auditor dan
suatu pernyataan bahwa dalam kondisi tertent terdapat kemungkinan laporan yang
dikeluarkan berbeda bentuk dan isinya dengan yang diharapkan.
f. Penjelasan runag lingkup audit, termasuk penyebutan undang-undang, peraturan,
pernyataan dari badan profesional yang harus dianut oleh auditor.
g. Bentuk komunikasi lain yang akan digunakan oleh auditor untuk menyampaikan
hasil perikatan.
h. Fakta bahwa karena sifat pengujian dan keterbatasan bawaan lain suatu audit, dan
dengan keterbatasan bawaan pengendalian intern, terdapat risiko yang tidak dapat
dihindari tentang kemungkinan beberapa salah saji material tidak dapat terdeteksi.
i. Pengaturan yang berkenaan dengan perencanaan dan pelaksanaan audit, termasuk
komposisi tim audit
j. Persetujuan manajemen untuk menyediakan draft LK dan informasi lain yang
menyertainya secara tepat waktu
k. Persetujuan manajemen untuk memberi informasi kepada auditor tentang fakta-
fakta yang diketahui manajemen
l. Basis penetuan fee dan pengaturan penagihannya
m. Persetujuan perikatan dan penandatanganan
Dokumen yang harus disertakan dalam surat perikatan audit adalah Client Representation
Later. SA 210 par A13-A14, SA 580, bersifat wajib dipenuhi. Dari kedelapan butir
umum yang biasanya terkandung dalam surat perikatan dapat dikatakan bahwa hampir
semuanya sudah tercantum dalam surat perikatan yang dibuat oleh KAP AS&R. hal ini
menunjukkan bahwa KAP AS&R telah mematuhi standar yang mengatur tentang
pembuatan surat perikatan. Selain isi pokok tersebut terdapat beberapa tambahan isis
surat perikatan yang diatur dalam SA 320.
Berdasarkan lampiran 3.a tanggung jawab spesifik apa yang diterima oleh KAP?
Dan tanggung jawab apa yang harus dilakukan oleh perusahaan klien?
Berdasarkan lampiran 3.a tanggung jawab KAP adalah mengaudit laporan keuangan
untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2010, dengan tujuan memberikan opini
mengenai kewajaran dan kesesuaian dengan prinsip-prinsip akuntansi berterima umum
atas seluruh material yang disajikan, posisis keuangan, operasi perusahaan , dan arus kas.
Manajemen bertanggung jawab atas laporan keuangan yang telah dibuat. Selain itu ada
beberapa tanggung jawab manajemen yang tertera dalam surat perikatan audit KAP
AS&R diantaranya:
1) Menciptakan dan memelihara pengendalian internal yang efektif atas laporan
keuangan,
2) Mengidentifikasi dan memastikan bahwa perusahaan patuh pada hukum dan
peraturan sesuai dengan aktivitasnya,
3) Menyediakan semua catatan keuangan dan informasi yang berkaitan,
4) Menyediakan representation later.

2. Pada kasus PT Maju Makmur, informasi apa yang harus tersedia bagi auditor agar
dapat menaksir harga pokok penjulan ?

Harga pokok penjualan dapat diestimasikan menggunakan dua metode yaitu


menggunakan presentase penjualan atau presentase laba kotor. Akun-akun yang terlibat
dalam perhitungan HPP adalah persediaan awal perusahaan, pembelian bersih yang
terdiri dari pembelian ditambah dengan biaya angkut pembelian dikurangi dengan retur
dan diskon pembelian, akun terakhir yang mempengaruhi HPP adalah persediaan akhir.
Dikarenakan PT Maju Makmur bukan lagi perusahaan manufaktur, maka yang dimaksud
persediaan disini yaitu persediaan barang jadi atau barang dagang. Untuk akun pembelian
memang tidak nampak dikarenakan perusahaan menggunakan sistem perpetual. Selain
akun-akun yang terkait dengan komponen HPP, seorang auditor juga perlu mengetahui
estimasi HPP yang digunakan oleh perusahaan.

3. Akun-akun apa saja yang memiliki tingkat risiko inheren yang tinggi ?

Membicarakan akun-akun transaksi-transaksi yang memilki tingkat risiko koheren yang


tinggi pada PT Maju Makmur dapat dilihat dari beberapa sisi. Pertama, dari sisi jenis
bisnis perusahaan. PT Maju Makmur merupaakan perusahaan yang bergerak dlaam
perdagangan dan pendistribusian barang-barang elektronik, maka akun yang memiliki
tingkat risiko tinggi adalah akun persediaan karena kegiatan utamanya berkaitan dengan
persediaan barang yang akan diperdagangkan. Berbicara mengenai persediaan brang
dagang makan akan menyangkut penjualan kas, piutang, dan beban-beban penjualan.
Akun-akun tersebut harus dikaitkan dengan lima asersi manajemen guna mengecek
apakah akun-akun tersebut sudah dikaitkan dengan lima asersi manajemen sebagaimana
mestinya. Kedua, dari sisi keberlangsungan bisnis. Dari sisi ini, akun yang memiliki
risiko tinggi adalah akun-akun dalam kelompok asset. Hal ini terkait dengan rencana
PT Maju Makmur untuk menjadi perusahaan go public. Investor pastinya melihat
berapakah asset yang dimiliki oleh perusahaan. Masih berhubungan dengan asset, asset
tetap juga perlu menjadi perhatian karena adanya masalah dengan auditor terdahulu
mengenai asset tetap perusahaan yang berupa toko di Sidoarjo. Auditor perlu
memerhatikan penilaian terhadap asset tetap perusahaan. Akun penyusutan dan beban
penyusutan juga dapat dijadikan akun yang mendapat perhatian lebih. Berikutnya, sisi
yang perlu diperhatikan yaitu sisi kebijakan manajemen. Kebijakan manajemen dengan
memberikan bonus merupakan hal yang dapat dijadikan perhatian. Akun yang menjadi
perhatiannya yaitu akun beban gaji, beban estimasi bonus, dan komisi penjulan.
4. Bagaimana seorang auditor dapat mengetahui bahwa bukti telah cukup diperoleh ?

Berdasarkan SA 500 par 6, A2, A3, A4 yang membahas tentang Bukti Audit, bukti audit
kompeten yang cukup harus diperoleh melalui inspeksi, observasi, konfirmasi,
penghitungan kembali, pelaksanaan ulang, dan prosedur analitis sebagai dasar
memadai untuk menyatakan pendapat atas laporan keuangan auditan. Keyakinan
memadai diperoleh ketika auditor telah memperoleh bukti audit yang cukup dan
tepat dalamrangka menurunkan risiko audit sampai ke tingkat yang dapat
diterima. Kecukupan berkaitan dengan kuantitas bukti audit. Semakin tinggi risiko
salah saji, semakin banyak bukti yang dibutuhkan. Selain itu bukti audit juga harus
dapat merepresentasikan populasi yang ada. Ukuran keabsahan (validity) bukti tersebut
untuk tujuan audit tergantung pada pertimbangan auditor independen; dalam hal ini bukti
audit (audit evidence) berbeda dengan bukti hukum (legal evidence) yang diatur secara
tegas oleh peraturan yang ketat. Bukti audit sangat bervariasi pengaruhnya terhadap
kesimpulan yang ditarik oleh auditor independen dalam rangka memberikan pendapat
atas laporan keuangan auditan. Relevansi, objektivitas, ketepatan waktu, dan keberadaan
bukti audit lain yang menguatkan kesimpulan, seluruhnya berpengaruh terhadao
kompetensi bukti. Selain itu, menurut saya, kecukupan bukti-bukti audit itu dapat
dikaitkan dengan tingkat materialitas dan tingkat risiko yang ditentukan oleh auditor.
Saya menambahkan bahwa bukti-bukti audit dirasa telah cukup apabila bukti-bukti
tersebut sudah memenuhi asersi-asersi manajemen.

5. Bagaimana kualitas bukti yang dikumpulkan melalui prosedur tes substantive?


Bagaimana tingkat kompetensi bukti yang diperoleh melalui prosedur analitis
dibandingkan dengan yang lain? SA 500

Kualitas bukti yang diuji melalui prosedur tes subsantif akan lebih bisa dapat dipercaya
karena pengujian ini tidak hanya dari satu pihak, sehingga nilai obyektifitasnya tinggi.
Apabila dibandingkan antara tes subtantif dengan prosedur analitis maka tes substantive
memiliki tingkat komoetensi yang lebih tinggi. Prosedur analitis dilakukan dengan cara
membandingkan rasio keuangan saja, sedangkan tes subtantif adalah pengujian dari
beberapa pihak. Dalam SA seksi 326 dijelaskan dalam paragraph 21 bahwa bukti yang
didapat dari beberpaa pihak yang independen di luar perusahaan memiliki kompetensi
yang dapat diandalkan. Jadi dapat dikatakan memiliki kompetensi yang diperoleh dari tes
sustantif dapat diandalkan daripada prosedur analitis. Prosedur analitis dilakukan dengan
cara membandingkan rasio keuangan saja, sedangkan tes subtantif adalah pengujian dari
beberapa pihak.

6. Seberapa dalamkah tingkat pengetahuan yang seharusnya dimiliki oleh seorang


auditor mengenai industry klien, dan jalan apa yang ditempuh oleh auditor untuk
mendapatkan informasi tersebut? Kode Etik Akuntan Publik Seksi 130, SA 620
tentang penggunaan pekerjaan pakar auditor

Seorang auditor harus memiliki pengetahuan yang luas terhadap bisnis klien karena itu
menjadi salah satu langkah dalam melakukan prosedur audit. Untuk mendapatkan
informasi tentang bisnis klien, seorang auditor dapat melakukan komunikasi. Komunikasi
dapat dilakukan dengan auditor terdahulu, dengan pihak klien tersendiri. Selain itu juga
melakukan prosedur analitis terhadap klien. Apabila terdapat artikel tentang bisnis klien
juga dapat digunakan sebagai salah sat sumber informasi. Dalam PSA no 67 disebutkan
beberapa langkah yang dapat disimpulkan, yaitu melalui pengalaman auditor sebelumnya
tentang entitas dan industrinya melalui diskusi dengan berbagai pihak yang terkait
dengan industry klien, melalui publikasi-publikasi yang berkaitan dengan industry,
perundangan dan peraturan yang signifikan berdampak terhadap entitas, kunjungan
ketempat atau fasilitas pabrik entitas, dan dokumen yang dihasilkan oleh entitas.

7. Apakah permasalahan potensial yang dapat muncul bagi KAP yang mendapatkan
perikatan audit kliennya melalui kompetisi fee audit?

Fee audit yang akan diterima oleh klien akan berpengaruh terhadap pekerjaan audit yang
akan dia lakukan. Apabila KAP memperoleh klien dengan cara kompetisi fee maka fee
yang akan dia dapatkan adalah rendah sehingga ruang lingkup pengujiannya juga kan
semakin terbatas karena proses audit juga memerlukan biaya yang tidak sedikit. Dengan
keadaan tersebut diatas maka kualitas audit yang dilakukan pun akan rendah. Akhirnya
semuanya akan bermuara kepada opini audit yang dihasilkan. Dilihat dari sudut pandang
etika profesi maka besar kecilnya fee audit maka kana dapat menimbulkan ancaman
kepentingan pribadi terhadap obyektivitas, kompetisi, serta sikap kecermatan dan kehati-
hatian profesional. Independensi auditor juga akan mengalami gangguan terkait dengan
kompetisis fee yang ada.

8. Apa hubungan antara risiko kontrol dengan resiko deteksi ? SA 200 par A32-A44
Hubungan yang ditunjukkan oleh risiko deteksi dengan risiko kontrol adalah berbanding terbalik,
dimana semakin besar risiko kontrol maka risiko deteksi akan semakin rendah.
Apa hubungan antara level risiko deteksi dengan jumlah tes subtantif? SA 330 par
21, A53
Penentuan tingkat resiko ini akan berhubungan dengan jumlah tes substantif yang harus
dilakukan oleh auditor. Apabila risiko deteksi yang telah ditetapkan oleh auditor adalah tinggi
maka tingkat pengujian substantifnya harus diperluas atau tinggi untuk mendapatkan keyakinan
yang memadai. Begitu pula sebaliknya apabila risiko deteksi rendah maka pengujian substantif
juga dapat diperlonggar atau rendah. Jadi untuk hal ini, antara tingkat risiko deteksi dan jumlah
pengujian substantive berbanding lurus. Karena hal ini akan memengaruhi jumlah bukkti audit
yang harus dikumpulkan. Untuk memeroleh keyakinan 95% maka pengujian yang dilakukan akan
lebih detail daripada keyakinan 90%. Hal ini menunjukkan bahwa memang risiko deteksi
berbanding lurus dengan jumlah pengujian substantive dan bukti audit yang harus diperoleh.

9. Bagaimana KAP menaksir risiko kecurangan? Bagaimana penaksiran ini


berhubungan dengan elemen lain dari penilaian risiko audit?
Untuk melakukan penaksiran risiko kecurangan atas laporan keuangan, awalnya seorang auditor
harus memahami proses bisnis perusahaan yang diaudit serta menentukan risiko audit dan tingkat
materialitas. Setelah tahapan itu dilalui, maka berikutnya auditor akan melakukan penaksiran
terhadap kemungkinan salah saji material dalam laporan keuangan sebagai akibat kecurangan dan
harus memertimbangkan taksiran resiko ini dalam mendesain prosedur audit. Dalam melakukan
penaksiran ini, auditor harus mempertimbangkan faktor risiko kecurangan yang berkaitan
dengan baik (a) salah saji yang timbul sebagai akibat kecurangan dalam pelaporan keuangan
maupun (b) salah saji yang timbul dari perlakuan tidak semestinya terhadap aktiva untuk setiap
golongan. Sebagai bagian dari penaksiran risiko, auditor juga harus meminta keterangan kepada
manajemen (a) untuk memperoleh pemahaman dari manajemen tentang risiko kecurangan
dalam entitas dan (b) untuk menentukan apakah manajemen memiliki pengetahuan tentang
kecurangan yang telah dilakukan terhadap atau terjadi dalam entitas. Penaksiran yang dilakukan
oleh auditor ini juga akan memengaruhi elemen lain dari penilaian risiko. Ketika auditor
menaksir begitu banyak kecurangan yang terjadi, maka tentunya tingkat risiko juga tinggi.
Hubungan antara risiko kecurangan dengan elemen lain dari penilaian risiko audit adalah saling
melengkapi dimana keduanya akan mempengaruhi penilaian risiko.
10. Apakah KAP AS&R layak menerima PT Maju Makmur sebagai klien?
Menurut saya KAP AS&R layak menerima PT Maju Makmur sebagai kliennya. Soal
pendaftaran ke Bapepam-LK, saat ini PT Maju Makmur masih belum menjadi perusahaan go
public sehingga tidak ada masalah jika KAP AS&R menerima perusahaan sebagai kliennya.
Namun untuk kedepannya ketika PT Maju Makmur telah menjadi perusahaan yang go publik
maka KAP pun juga harus menyesuaikan dengan mendaftarkan ke Bapepam. Terkait dengan hal
ini, yang dapat menjadi pertimbanganya itu apakah KAP telah siap menjadi KAP yang terdaftar
ke Bapepam-LK. Tentunya persyaratan-persyaratan untuk mendaftar ke Bapepam-LK harus
dipersiapkan oleh KAP. Jika kesiapan dirasa kurang, KAP bisa saja menolak menerima
perikatan, Karena perusahaan yang go public harus melaporkan laporan keuangan yang telah
diaudit KAP yang telah terdaftar di Bapepam-LK.