Anda di halaman 1dari 3

Senyawa ion logam yang berkoordinasi dengan ligan disebut dengan senyawa kompleks.

ligam zat netral atau anionik tetapi kation, seperti kation tropilium juga dikenal. Ligan netral,

seperti amoniak, NH3, atau karbon monoksida, CO, dalam keadaan bebas pun merupakan

molekul yang stabil, sementara ligan anionik, distabilkan hanya jika dikoordinasikan ke atom

logam pusat. Ligan repsentatif di daftarkan di tabel menurut unsur yang mengikatnya. Logam

umum atau yang dengan rumus kimia rumit diungkapkan dengan singkatannya.

Pada dasarnya stoikiometri kompleks ammin – Tembaga (II) menggunakan prinsip proses

ekstraksi pelarut, dimana dalam prinsip ini berlaku hukum distribusi yang menyatakan apabila

suatu system yang terdiri dari dua lapisan campuran (solvent) yang tidak saling bercampur satu

sama lain, ditambahkan senyawa ketiga (zat terlarut), maka senyawa itu akan terdistribusi

(terpartisi) kedalam dua lapisan tersebut, dengan syarat Nerst bila zat terlarut nya tidak

menghasilkan perubahan pada kedua pelarut (solvent) atau zat yang terlarut yang terbagi

(terpartisi) dalam dua pelarut tidak mengalami asosiasi, disosiasi atau reaksi dengan pelarut.

Prinsip tersebut digunakan pada percobaan kali ini dimana stokiometri kompleks ammin-

tembaga (II) menggunakan cara ekstraksi pelarut dalam menentukan rumus kompleksnya

tersebut.

Tembaga dalam senyawanya memiliki bilangan oksidasi +1 dan +2. bilangan oksidasi +2

pada tembaga dominan. Kebanyakan garam tembaga (II) adalah biru, warna ini agak sama

dengan larutan heksaaquo tembaga (II) [Cu(OH2)6]2-. Sama halnya dengan tembaga (II) klorida.

Warna hijau ini disebabkan oleh adanya ion kompleks seperti pada planar tetrachlorocuprate (II)

ion, [CuCl4]2-. Ketika dielusi, warna larutan akan berubah menjadi biru. Transformasi warna

terjadi dimana kompleks direaksikan dengan molekul air, warna terakhir yang terjadi adalah

heksaaquo tembaga (II) ion. Raksinya:


[CuCl4]2-(aq) + 6 H2O(l) [Cu(OH2)6]2+ (aq) + 4Cl(aq)

(Rayner, 2004)

Tembaga; sifat khas adalah tembaga termaksud logam transisi, tembaga dapat

membentuk ion kompleks, tembaga mempunyai bilangan oksidasi +1 dan +2 dalam senyawa, ion

tembaga (I) tidak stabil dalam air; mengalami reaksi disporposionasi. Pemekatan dilakukan

dengan cara flotasi. Konsentrasi mengandung 25 -30% tembaga sebagai Cu2S dengan FeS

sebagai pengotor. Pemurnian dilakukan secara elektrolisis pada suhu 50 – 60oC dari larutan

CuSO4 yang diasamkan (Ahmad, 2001).

Mineral yang paling umum adalah chalcopyrite CuFeS2. Tembaga diekstraksi dengan

permanganan dan peleburan oksidatif, atau dengan pencucian dengan bantuan mikroba, yang

diikuti oleh elektrodeposisi dari larutan sulfat. Tembaga digunakan dalam aliasi seperti kuningan

dan bercampur sempurna dengan emas. Ia sangat lambat teroksidasi superficial dalam uap udara,

kadang – kadang menghasilkan lapisan hijau hidrokso karbonat dan hidrokso sulfat (dari SO2

dalam atmosfer) (Wilkson, 1989).

Senyawa yang unsure logam transisinya mempunyai bilangan oksidasi tinggi cenderung

agak kovalen, sedangkan yang bilangan oksidasinya lebih rendah cenderung lebih ionic.

Contohnya oksida –oksida: Mn2O7 adalah senyawa kovalen berwujud cair pada suhu kamar

(mengkristal hanya pada suhu 6oC), tetapi Mn3O4 adalah senyawa ionic, mengandung baik Mn

(II) maupun Mn(III), yang meleleh pada suhu 1564oC. oksida kovalen cenderung berupa

anhidrida asam, sedangkan oksida ionic cenderung basa, sama seperti pada unsure golongan

utama (Oxtoby, 2003).

Dimanapun tidak ada perbedaan mendasar tentang senyawa logam transisi yang

dibandingkan dengan senyawa yang terdapat dalam kelompok unsure. Dalam suatu teori valensi
menerapkan kelomok unsure dapat berhasil menerapkan unsure transisi. Secara umum, metode

MO aplikasi senyawa logam transisi memberikan kesalahan dan manfaat yang banyak, yang lain

seperti level approxi adalah cukup baik, hanya yang lain ada penyebabnya (Cotton, et all., 1995).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan konsentrasi tertinggi logam Cu terdapat

pada badan karang jenis bercabang di Pulau Sertung yaitu 0,084 ppm, sedangkan di air logam Cu

tidak terdeteksi di setiap stasiun penelitian. Dari hasil analisis diketahui bahwa beberapa stasiun

di ketiga pulau tersebut memiliki kandungan konsentrasi logam Cu pada badan karang yang telah

melebihi ambang batas yang telah ditetapkan oleh Menteri Lingkungan Hidup, yaitu < 0,01 ppm

(Rahman, 2005).