Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN TETAP

PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II


“Senyawa Kompleks Aluminium”

Disusun Oleh:
Kelompok IV (Empat)
Anggota : Lita Nuraini (06101181419008)
: Dela Arista (06101181419015)
: Nindy Prastika (06101181419002)
: Clara Dyni (06101181419012)
: Intan (06101181419059)
: Kiki Sundari (06101181419063)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2017
I. Percobaan Ke : I (Satu)
II. Tanggal Percobaan : 1 Februari 2017
III. Judul Percobaan : Senyawa Kompleks Aluminium
IV. Tujuan Percobaan : Mengenal beberapa karakteristik reaksi
pembentukan senayawa kompleks
V. Dasar Teori
Aluminium (dalam bentuk bauksit) adalah suatu mineral yang berasal dari
magma asam yang mengalami proses pelapukan dan pengendapan secara residual.
Proses pengendapan residual sendiri merupakan suatu proses pengkonsentrasian
mineral bahan galian di tempat. Pengertian aluminium secara umum adalah logam
yang ringan, tidak mengalami korosi, sangat kuat, terutama jika di buat aliasi.
Aluminium disimbolkan dengan Al, Aluminium terdapat pada golongan
logam III A, unsur kimia dengan nomor atom 13 dan massa atom 26, 9815. secara
umum logam-logam golongan III A cendrung kurang reaktif dan kurang bersifat
logam dibandingkan dengan golongan I A dan II A. Bisa dibandingkan dengan
beberapa sifat amfoter atau amfiprotik dan pembentukan senyawa kovalen.
Golongan III A juga bisa disebut logam pasca transisi karena terdapat setelah
jajaran unsur-unsur transisi. Diantara logam-logam III A, aluminium adalah salah
satu logam terpenting yang terdapat di kerak bumi. Bijih aluminium yang
digunakan untuk produksi aluminium adalah bauksit. Bijih ini mengandung hidrat
aluminium oksida, Al2O3.H2O dan Al2O3.3H2O serta oksida besi, silikon,
titanium, sedikit tanah liat dan silikat. Kadar aluminium oksida (alumina) dapat
mencapai 35-60%. Ciri-ciri aluminium:
a. Aluminium merupakan logam yang berwarna perak-putih.
b. Aluminum dapat dibentuk sesuai dengan keinginan karena memiliki
sifat plastisitas yang cukup tinggi.
c. Merupakan unsur metalik yang paling berlimpah dalam kerak bumi
setelah setelah silisium dan oksigen.
Aluminium murni adalah logam yang lunak, tahan lama, ringan, dan dapat
ditempa dengan penampilan luar bervariasi antara keperakan hingga abu-abu,
tergantung kekasaran permukaannya. Kekuatan tensil aluminium murni adalah 90
MPa, sedangkan aluminium paduan memiliki kekuatan tensil berkisar 200-600
MPa. Aluminium memiliki berat sekitar satu pertiga baja, mudah ditekuk,
diperlakukan dengan mesin, dicor, ditarik (drawing), dan diekstrusiv.
Aluminium adalah putih keperakan dan logam yang sangat populer yang
memiliki banyak kegunaan dan sifat yang berguna. Tidak ada logam lain memiliki
sebagai banyak kegunaan seperti aluminium. Aluminium memiliki sifat daur
ulang, logam ini cukup untuk memenuhi semua kebutuhan sehari-hari kita.
Aluminium digunakan di rumah, di konstruksi, dalam beberapa bagian mobil dan
juga di sebagian besar moda transportasi. Hal ini cukup mengejutkan untuk
melihat bahwa ada begitu banyak menggunakan logam.
Aluminium paduan dengan tembaga kurang tahan terhadap korosi akibat
reaksi galvanik dengan paduan tembaga. Aluminium juga merupakan konduktor
panas dan elektrik yang baik. Jika dibandingkan dengan massanya, aluminium
memiliki keunggulan dibandingkan dengan tembaga, yang saat ini merupakan
logam konduktor panas dan listrik yang cukup baik, namun cukup berat. Oleh
karena sifat-sifat ini, aluminium digunakan untuk membuat kendaraan yang
ringan dan hemat energi dan untuk pembuatan kabel, kerangka kapal terbang,
mobil dan berbagai produk peralatan rumah tangga. Senyawanya dapat digunakan
sebagai obat, penjernih air, fotografi serta sebagai ramuan cat, bahan pewarna,
ampelas dan permata sintesis. Demikian pula aluminium banyak digunakan dalam
bangunan modern dari bingkai jendela sampai kerangka ruang
perkantoran.Aluminum merupakan unsur metal yang paling berlimpah-limpah di
dalam kerak bumi.
Dalam kerak bumi, aluminium merupakan unsur (8,3% berat) logam ketiga
paling berlimpah dari semua elemen (setelah oksigen dan silikon). Karena afinitas
yang kuat untuk oksigen, hampir tidak pernah ditemukan di unsur negara;.
melainkan ditemukan dalam oksida atau silikat feldspars , kelompok yang paling
umum dari mineral dalam kerak bumi, merupakan aluminosilikat. Logam
aluminium asli dapat ditemukan sebagai fase kecil dalam oksigen rendah fugacity
lingkungan, seperti gunung berapi interior tertentu. aluminium asli telah
dilaporkan dalam merembes dingin di timur laut lereng benua dari Laut Cina
Selatan dan Chen et al. (2011) telah mengusulkan teori asal-nya sebagai yang
dihasilkan oleh pengurangan dari tetrahydroxoaluminate (OH) 4 Al - untuk logam
aluminium oleh bakteri
Aluminium (III) hidroksida merupakan senyawa berwarna putih dan sukar
melarut dalam medium air. Sebagai senyawa kompleks, aluminium (III) dapat
dijumpai dalam stereokimia yang berbeda-beda, paling umum mempunyai
bilangan koordinasi 4 dan 6, yaitu dalam konfigurasi tetrahedral dan octahedral.
Aluminium juga dapat membentuk adduct dengan bilangan koordinasi 5 dalam
stereokimia trigonal bipiramidal. Dengan bilangan koordinasi 4, 5, dan 6 ini,
aluminium (III) dapat berupa spesies anion, netral, maupun kation. Kemampuan
aluminium (III) membentuk senyawa kompleks ini disebabkan oleh karena
muatan kation yang tinggi (+3) sehingga mampu mengakomodasi donasi
pasangan electron dari ligan. Hal ini diasosiasikan dengan relative besarnya energi
solvasi (khususnya hidrasi dalam larutan air) yang berarti molekul air terikat
(secara ikatan koordinasi) cukup kuat pada kation hingga tidak mungkin dapat
diabaikan sebagai senyawa kompleks. Hal ini berbeda dengan kation dari logam-
logam golongan 1 (Alkali) dan 2 (Alkali tanah) yang mempunyai energy hidrasi
sangat lemah sehingga dalam larutannya kurang tepat bila molekul air
dipertimbangkan sebagai ligan. Sifat hidroksida aluminium, seperti halnya zink,
yang terkenal khas yaitu sifat amfoterik, artinya hidroksida ini dapat dipandang
berubah menjadi bersifat asam apabila berada dalam lingkungan basa kuat.
Kenyataannya memang hidroksida aluminium larut dalam natrium hidroksida
membentuk spesies yang dikenal sebagai ion aluminat.

VI. Alat dan Bahan


 Alat 6. Pengaduk
1. Gelas Beker 7. Pipet
2. pH Meter 8. Pemanas
3. Corong 9. Gelas Ukur
4. Labu Takar  Bahan
5. Tabung Reaksi 1. Kristal Hidrat Al2(SO4)3
2. Tawas Potas Alum dan 5. Larutan Pekat Na2CO3- 1 M
EDTA 6. Larutan Encer NH3
3. Larutan 0,1 M Al2(SO4)3 7. Pita Mg
4. Larutan Encer NaOH 0,1 M

VII. Prosedur Percobaan


1. Siapkan larutan aluminium sulfat hidrat 1,0 M dalam air, kemudian
gunakan larutan ini untuk percobaan-percobaan berikut. Spesies
aluminium apa yang terdapat dalam padatan aluminium sulfat hidrat
ini (1), dan spesies aluminium apa yang terdapat dalam larutan air (2)?
2. Taksir harga pH larutan aluminium sulfat ini dengan pH-meter dan
jelaskan hasilnya (3).
3. Ke dalam 2-3 mL larutan ini tambahkan 1-2 mL larutan pekat natrium
karbonat (>1,0M), amati dan jelaskan perubahan (persamaan reaksi)
yang terjadi (4).
4. Ke dalam 2-3 mL larutan ini tambahkan sepotong pita magnesium
yang bersih atau magnesium turnings, hangatkam bila perlu agar
terjadi reaksi, dan jelaskan hasilnya (5).
5. Ke dalam 2-3 mL larutan ini tambahkan larutan natrium hidroksida
tetes demi tetes hingga berlebihan, amati setiap perubahan yang
terjadi, dan jelaskan persamaan reaksinya (6).
6. Ke dalam 2-3 mL larutan ini tambahkan larutan encer ammonia tetes
demi tetes hingga berlebihan dan jelaskan ada tidaknya perbedaan
hasil pengamatan ini dengan percobaan 4 di atas (7).
7. Ke dalam 2-3 mL larutan ini tambahkan serbuk EDTA (agak
berlebihan), hangatkan untuk melarutkan EDTA. Kemudian
tambahkan larutan encer ammonia dan jelaskan hasilnya (8).
Larutan aluminium sulfat hidrat 1,0 M dalam air

Taksir harga pH aluminium Jelaskan hasil tiap percobaan


yang dilakukan

2-3 ml larutan aluminium


sulfat hidrat + 1-2 ml larutan
pekat Na2CO3

2-3 ml larutan aluminium


sulfat hidrat + sepotong pita
magnesium

2-3 ml larutan aluminium


sulfat hidrat + NaOH tetes
demi tetes

2-3 ml larutan aluminium


sulfat hidrat + larutan encer
NH3

2-3 ml larutan aluminium


sulfat hidrat + serbuk EDTA
(berlebih) panaskan dan +
larutan encer NH3
VIII. Hasil Pengamatan
No Cara Kerja Hasil Pengamatan
1. pH larutan aluminium sulfat pH = 2,22 Larutan bersifat asam
(Al2(SO4)3)
2. 1 ml Al2(SO4)3 ditambahkan 1 ml Al2(SO4)3 (tidak berwarna) + 2
dengan 1 ml Na2CO3 > 1,0 M ml Na2CO3 > 1,0 M (tidak berwarna)
→ larutan putih keruh, terbentuk
endapam dan menghasilkan
gelembung gas
3. 1 ml Al2(SO4)3 ditambahkan pita 1 ml Al2(SO4)3 (tidak berwarna) +
magnesium, lalu dipanaskan pita Mg (abu-abu) → Pita Mg tidak
larut Pita Mg larut (terjadi
pembebasan gas)
4. 1 ml Al2(SO4)3 ditambahkan NaOH 1 ml Al2(SO4)3 (tidak berwarna) +
0,1 M tetes demi tetes hingga NaOH 0,1 M (tidak berwarna) →
berlebih Membentuk dua fase larutan, larutan
keruh + endapan putih
5. 1 ml Al2(SO4)3 ditambahkan NH3 1 ml Al2(SO4)3 (tidak berwarna) +
tetes demi tetes hingga berlebih NH3 (tidak berwarna) → Larutan
berwarna putih
6. 1 ml Al2(SO4) ditambahkan serbuk 1 ml Al2(SO4)3 (tidak berwarna) +
EDTA agak berlebih lalu EDTA (putih) → EDTA tidak larut
dipanaskan, tambahkan larutan NH3 dalam Al2(SO4)3 EDTA larut +
NH3 (tidak berwarna) → terjadi
perubahan warna kuning dan
terbentuk endapan putih
IX. Persamaan Reaksi
 Larutan aluminium sulfat dengan natrium karbonat
[Al(H2O)6]3+(aq) + H2O(l) ↔ [Al(H2O)5(OH)]2+(aq) + H3O+(aq)
[Al(H2O)5(OH)]2+(aq) + H2O(l) ↔ [Al(H2O)4(OH)2]+(aq) + H3O+(aq)
[Al(H2O)4(OH)2]+(aq) + H2O(l) ↔ [Al(H2O)3(OH)3]↓(s) + H3O+(aq)
2H3O+(aq) + CO32-(aq) → 3H2O(l) + CO2↑(g)

 Larutan aluminium sulfat dengan pita Mg


[Al(H2O)6]3+(aq) + H2O(l) ↔ [Al(H2O)5(OH)]2+(aq) + H3O+(aq)
Mg(s) + 2H3O+(aq) → Mg2+(aq) + 2H2O(l) + H2↑(g)
[Al(H2O)5(OH)]2+(aq) + H2O(l) ↔ [Al(H2O)4(OH)2]+(aq) + H3O+(aq)
[Al(H2O)4(OH)2]+(aq) + H2O(l) ↔ [Al(H2O)3(OH)3]↓(s) + H3O+(aq)

 Larutan aluminium sulfat dengan natrium hidroksida


Al2(SO4)3(aq) + 6NaOH(aq) → 2Al(OH)3↓(s) + 6Na+(aq) + 3SO42-(aq)
Al(OH)3(s) + OH- → [Al(OH)4]-(aq)

 Larutan aluminium sulfat dengan ammonia


[Al(OH)4]-(aq) + NH4+(aq) → Al(OH)3↓(s) + NH3↑(g) + H2O(l)
Al3+(aq) + 3NH3(aq) + 3H2O(l) → Al(OH)3↓(s) + 3NH4+(s)

 Larutan aluminium sulfat dengan serbuk EDTA


Al2(SO4)3(aq) + 2EDTA(s) → 2[Al(EDTA)]-(aq) + 3SO42-(aq)
X. Pembahasan
Percobaan kali ini merupakan percobaan mengenai senyawa kompleks
aluminium yang bertujuan agar dapat mengenal beberapa karakteristik reaksi
pembentukan senyawa kompleks. Percobaan kali ini menggunakan aluminium
sulfat hidrat, natrium karbonat, pita magnesium, serbuk EDTA, dan yang terakhir
yaitu ammonia.
Pada percobaan pertama yaitu mengukur pH dari larutan aluminium sulfat
dengan menggunakan pH meter. Terbaca bahwa pH larutan yang didapat sekitar
2,22 yang mengindikasi sifat asam dari larutan tersebut. Hal ini menunjukkan
bahwa larutan aluminium sulfat terbentuk dari asam kuat dan basa lemah,
sehingga sifat asam lebih dominan daripada sifat basa nya. Selanjutnya percobaan
kedua yaitu penambahan Na2CO3- sebanyak 1 mL pada 1 mL aluminium sulfat
menghasilkan larutan putih keruh yang bergelembung menghasilkan gas CO2
karena natrium karbonat menetralkan asam yang dibebaskan pada hidrolisis
aluminium.
Pada percobaan yang ketiga, larutan aluminium sulfat ditambahkan dengan
pita magnesium dan dilanjutkan dengan proses pemanasan. Sebelum dipanaskan
pita magnesium yang berwarna abu-abu tidak larut di dalam larutan ammonium
sulfat karena pita magnesium akan sukar larut ketika tidak terdapat panas
disekelilingnya. Setelah dilakukan pemanasan, pita magnesium berubah warna
menjadi berwarna hitam dan lama kelamaan akan habis larut dalam larutan
aluminium sulfat. Dalam hal ini pita magnesium bereaksi saat terjadi proses
pembakaran pita magnesium.
Pada percobaan yang keempat, larutan aluminium sulfat ditambahkan
dengan larutan NaOH tetes demi tetes hingga berlebih. Setelah direaksikan,
larutan tersebut membentuk dua fase larutan, larutan berwarna putih dengan
endapan berwarna putih tetapi, endapan yang terbentuk melayang pada larutan,
hal tersebut bukanlah endapan tetapi penggumpalan (koloid) yang terjadi karena
terbentuknya senyawa kompleks Al(OH)3 ketika bereaksi dengan basa kuat.
Endapan tersebut akan melarut dalam reagensia berlebihan dimana ion-ion
tetrahidroksaaluminat terbentuk.
Pada percobaan yang kelima, larutan aluminium sulfat direaksikan dengan
larutan ammonia tetes demi tetes hingga berlebih dan dihasilkan larutan yang
berwarna putih. Larutan berwarna putih ini didapatkan karena larutan ammonia
menyerang ligan H2O yang lebih kuat darinya oleh karena itu penambahan larutan
NH3 dilakukan berlebih agar NH3 menjadi ligan.
Pada percobaan yang keenam, larutan aluminium sulfat, ditambahkan
dengan serbuk EDTA. Serbuk EDTA tidak larut dalam larutan ammonium sulfat
lalu, dilakukanlah pemanasan yang menyebabkan serbuk EDTA tadi larut dalam
larutan dan terbentuk larutan berwarna putih. Kemudian dilakukan penambahan
NH3 encer, setelah ditambahkan tidak terdapat perubahan pada larutan tersebut.
Hal ini disebabkan karena EDTA dapat berperan sebagai ligan yang efektif, kuat
dan stabil. Ligan EDTA lebih kuat dari ligan NH3 dan H2O sehingga sulit untuk
diserang. Hal inilah yang menyebabkan tidak terjadi perubahan ketika
ditambahkan NH3. Dari percobaan yang dilakukan dapat dilihat bahwa warna
larutan yang dihasilkan sama yaitu larutan berwarna putih dan mempunyai tingkat
energi yang sama pula. Hal inilah yang menyebabkan larutan aluminium sulfat
tidak dapat digunakan sebagai ligan.

XI. Kesimpulan
1. Aluminium dapat membentuk senyawa kompleks.
2. Larutan aluminium sulfat yang digunakan memiliki pH 2,22 yang bersifat
asam. Hal ini dikarenakan aluminium sulfat terbentuk dari asam kuat dan basa
lemah, sehingga sifat asam lebih dominan daripada sifat basanya.
3. Pita magnesium akan larut jika terdapat panas dikelilingnya.
4. Larutan aluminium sulfat yang bereaksi NaOH yang akan menyebabkan
terjadi penggumpalan (koloid).
5. Larutan aluminium sulfat yang bereaksi dengan ammonia encer menyebabkan
terbentuknya endapan putih yang disebabkan karena larutan ammonia
menyerang ligan H2O.
6. Ligan EDTA dapat berperan sebagai ligan yang efektif, kuat dan stabil
7. Ligan EDTA lebih kuat dari ligan NH3 dan H2O sehingga sulit untuk diserang.
XII. Daftar Pustaka
Aziz, A. (2013). Laporan Praktikum Kimia anorganik 2 Aluminium. (online).
http://dakwahkamp.blogspot.co.id/2013/06/laporan-praktikum-
anorganik-ii-aluminium.html?m=1. (diakses tanggal 5 Januari 2017)
Ariningsih, Ismi. 2012. Laporan Kimia Anorganik Senyawa Kompleks Aluminium
(Online), (http://ismiariningsih.blogspot.com/2012/10/laporan-kimia-
anorganik-senyawa.html, diakses tanggal 5 Januari 2017).
Cotton dan Wilkinson. 1989. Kimia Anorganik Dasar. Jakarta: Universitas
Indonesia.
LAMPIRAN GAMBAR