Anda di halaman 1dari 25

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena tugas makalah ini
dapat selesai pada waktunya. Tak lupa ucapan terimakasih kepada semua pihak
yang telah membantu dalam pembuatan dan penyelesaian tugas makalah ini.
Sebagai salah satu makalah yang membahas tentang alat ungkap masalah,
diharapkan bisa menjadi bahan pembelajaran untuk ditelaah lebih lanjut dan
dipelajari bersama.
Asesmen psikologi teknik nontes merupakan salah satu mata kuliah dalam
perkuliahan. Mahasiswa yang membaca makalah ini semoga bisa lebih bertambah
ilmunya, mengingat bahwa pendidikan di Indonesia masa kini punya banyak pro-
hggggkontra.
Berdasarkan sumber yang telah dihimpun, penulis mengambil topik
makalah yang juga sebagai judul dari tugas ini. Sebagaimana upaya peningkatan
kualitas pendidikan yang terus berubah dari masa ke masa dan tidak pernah
selesai serta perbedaan individual manusia, demikian pula makalah ini nantinya
memerlukan revisi guna lebih baik lagi. Oleh sebab itu, saran-saran perbaikan dan
masukan lainnya harap disampaikan kepada penulis. Akhir kata, semoga makalah
ini dapat memenuhi fungsinya.

Samarinda, 6 Agustus 2018

Penyusun,
Kelompok 1

II
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ....................................................................................... I

KATA PENGANTAR ..................................................................................... II

DAFTAR ISI .................................................................................................... III

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................ 1

1.1 Latar Belakang .................................................................................... 1


1.2 Rumusan Masalah ............................................................................... 1
1.3 Tujuan Makalah .................................................................................. 2

BAB II PEMBAHASAN ................................................................................. 3

2.1 Pengertian Dinamika Kelompok ......................................................... 3


2.2 Komponen Sistematika Dinamika Kelompok .................................... 4
2.3 Jenis-jenis Kelompok .......................................................................... 5
2.4 Perbedaan-perbedaan Dalam Kelompok ............................................. 8
2.5 Ciri-ciri Dinamika Kelompok ............................................................. 9
2.6 Prinsip Dinamika Kelompok............................................................... 10
2.7 Komunikasi Kelompok ....................................................................... 12
2.8 Kepemimpinan .................................................................................... 15
2.9 Sinergi Dalam Kelompok ................................................................... 17

BAB III PENUTUP ......................................................................................... 22

3.1 Kesimpulan ......................................................................................... 22


3.2 Saran ................................................................................................... 22

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 23

III
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manusia adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial manusia
membutuhkan interaksi dengan sesamanya. Dalam proses interaksi yang
dilakukan antar individu, akan terciptalah kelompok atau komunitas tertentu.
Ada kebiasaan bahwa orang berkumpul dalam suatu kelompok karena
mempunyai tujuan dan kepentingan yang sama. Melalui kelompok, individu
mencapai tujuannya dan berhubungan dengan yang lainnya dengan cara yang
inovatif dan produktif (McClure, 1990). Orang tidak hidup seorang diri dan
berkembang dengan sendirinya tanpa terlibat dalam kelompok. Dalam
Natawijaya (2012) dalam literatur konseling kelompok ada tiga hal yang
hampir selalu dibicarakan, yaitu dinamika kelompok, proses kelompok, dan
dorongan terapeutik. Dinamika kelompok biasanya mengacu kepada sikap
dan interaksi antar sesama anggota kelompok dan antara anggota kelompok
dengan pemimpin kelompok.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari dinamika kelompok?
2. Apa saja komponen sistemik dinamika kelompok?
3. Apa jenis-jenis dalam kelompok?
4. Bagaimana perbedaan-perbedaan dalam kelompok?
5. Bagaimana ciri-ciri dan prinsip dinamika kelompok, komunikasi,
kepemimpinan, dan sinergi dalam kelompok?

1
1.3 Tujuan
1. Mengetahui pengertian dari dinamika kelompok.
2. Mengetahui apa saja komponen sistemik dinamika kelompok.
3. Mengetahui apa jenis-jenis dalam kelompok.
4. Mengetahui perbedaan-perbedaan dalam kelompok.
5. Dapat menjelaskan ciri-ciri dan prinsip dinamika kelompok, komunikasi,
kepemimpinan, dan sinergi dalam kelompok.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Dinamika Kelompok


Kelompok adalah sesuatu yang alami, karna manusia sebagai mahluk
sosial akan berinteraksi satu dengan yang lain sehingga membentuk
kelompom tertentu. Shaw (1981) menyatakan bahwa tidak ada satupun
definisi yag tepat untuk mendeskripsikan pengertian tentang kelompok.
a. Tujuan, kelompok dapat diartikan sebagai sejumlah orang yang berkumpul
bersama untuk mencapai suatu tujuan.
b. Ketergantungan, kelompok dapat diartikan sebagai kumpulan orang- orang
yang bergantung dengan beberapa hal.setiap individu bukanlah kelompok
sebelum ada sebuah peristiwa yang mempengaruhi mereka satu sama lain.
c. Interaksi antar individu, kelompok dapat diartikan sebagai sejumlah
individu yang berinteraksi satu sama lain, sehingga kelompok tidak ada
sebelum ada interaksi.
d. Persepsi keanggotaaan, kelompok dapat diartikan sebagai suatu kesatuan
sosial yang terdiri dari dua orang atau lebih yang menganggap diri mereka
berada dalam suatu kelompok. Para anggota kelompok masuk kedalam
kelompok karna memiliki persepsi sendiri tentang kelompok itu.
e. Hubungan terstruktur, kelompok diartikan sebagai sekumpulan individu
yang interaksi tersusun oleh serangkaian peran dan norma-norma.sehingga
para ahli tersebut beranggapan bahwa sesuatu itu dapat dikatakan sebagai
kelompok (soekanto,1990) apabila:
• Setiap anggota harus sadar bahwa dia merupakan bagian dari kelompok.
• Ada hubungan timba balik antara anggota yang satu dengan yang lain.
• Minimal harus terdapat sesuatu faktor yang merupakan milik bersama,
sehingga mempererat hubungan antar anggota.
• Mempunyai struktur sebagai perilaku.
• Mimiliki sistem dan berproses.

3
f. Motivasi, kelompok dapat diartikan sebagai sekelompok individu yang
mencoba untuk memuaskan beberapa kebutuhan pribadi melalui
kebersamaan mereka, orang–orang menjadi anggota kelompok untuk
mendapatkan penghargaan atau untuk memuaskan.
g. Pengaruh yang Menguntungkan, kelompok aiartikan sebagai sekelompok
orang yang mempengaruhi satu sama lain. Sekelompok orang bukanlah
suatu kelompok,sebelum mereka mempengaruhi satu sama lain dan
karakter dasar.
2.2 Komponen Sistematika Dinamika Kelompok
Prayitno (1995:135) menjelaskan bahwa dalam konseling kelompok
terdapat tiga komponen yang berperan, yaitu pemimpin kelompok, peserta
atau anggota kelompok dan dinamika kelompok.
a. Pemimpin kelompok
Pemimpin kelompok adalah komponen yang penting dalam
konseling kelompok Dalam hal ini pemimpin bukan saja mengarahkan
prilaku anggota sesuai dengan kebutuhan melainkan juga harus tanggap
terhadap segala perubahan yang berkembang dalam kelompok tersebut.
Dalam hal ini menyangkut adanya peranan pemimpin konseling kelompok,
serta fungsi pemimpin kelompok. Seperti yang diungkapkan oleh Prayitno
(1995:144), menjelaskan pemimpin kelompok adalah orang yang mampu
menciptakan suasana sehingga anggota kelompok dapat belajar bagaimana
mengatasi masalah mereka sendiri.
Dalam kegiatan konseling kelompok, pemimpin kelompok
memiliki peranan. Prayitno (1995:144), menjelaskan peranan pemimpin
kelompok adalah memberikan bantuan, pengarahan ataupun campur
tangan langsung terhadap kegiatan konseling kelompok, memusatkan
perhatian pada suasana perasaan yang berkembang dalam kelompok,
memberikan tanggapan (umpan balik) tentang berbagai hal yang terjadi
dalam kelompok, baik yang bersifat isi maupun proses kegiatan kempok,
dan sifat kerahasian dari kegiatan kelompok itu dengan segenap isi dan

4
kejadian-kejadian yang timbul di dalamnya menjadi tanggung jawab
pemimpin kelompok.
b. Anggota kelompok
Keanggotaan merupakan salah satu unsure pokok dalam kehidupan
kelompok. Tanpa anggota tidaklah mungkin ada kelompok. Tidak semua
kumpulan orang atau individu dapat dijadikan anggota konseling
kelompok. Untuk terselenggaranya konseling kelompok seorang konselor
perlu membentuk kumpulan individu menjadi sebuah kelompok yang
memiliki persyaratan sebagaimana seharusnya. Besarnya kelompok
(jumlah anggota kelompok), dan homogenitas atau heterogenitas anggota
kelompok dapat mempengaruhi kinerja kelompok. Sebaiknya jumlah
anggota kelompok tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil.
c. Dinamika kelompok
Dalam kegiatan konseling kelompok dinamika konseling kelompok
sengaja ditumbuh kembangkan, karena dinamika kelompok adalah
interaksi interpersonal yang ditandai dengan semangat, kerja sama antar
anggota kelompok, saling berbagi pengetahuan, pengalaman dan mencapai
tujuan kelompok. Interaksi yang interpersonal inilah yang nantinya akan
mewujudkan rasa kebersamaan di antara anggota kelompok, menyatukan
kelompok untuk dapat lebih menerima satu sama lain, lebih saling
mendukung dan cenderung untuk membentuk interaksi yang berarti dan
bermakna di dalam kelompok. Cartwright dan Zander (Wibowo,
2005:125) mendeskripsikan dinamika kelompok sebagai suatu bidang
terapan yang dimaksudkan untuk peningkatan pengetahuan tentang
sifat/ciri kelompok, hukum perkembangan, interelasi dengan anggota,
dengan kelompok lain, dan dengan anggota yang lebih besar.
2.3 Jenis-jenis Kelompok
a. Kelompok Primer dan Sekunder
Kelompok primer memiliki anggota yang jumlahnya kecil yang
memiliki kriteria dimana antar anggotanya memiliki perasaan
kebersamaan, loyalitas, keakraban, dan mempunyai tanggapan yang sama

5
terhadap nilai-nilai yang dianut anggotanya. Anggota dalam kelompoj
primer saling berhubungan secara langsung, intim, akrab, bersifat lebih
personal, ikatannya bersifat emosional karena anggotanya berhubungan
dengan fisik langsung( (tatap muka), seperti dalam keluarga atau kolega.
Kelompok sekunder memiliki pola hubungan antar anggota
kelompok yang kurang erat dikarenakan anggota dalam kelompok
sekunder berhububungan lebih pada secara impersonal (tidak bersifat
pribadi) dengan peran yang jelas dan interaksinya selalu berorientasi pada
tujuan, meskipun kedua-duanya memiliki tujuan yang sama
(Sudjarwo,2011).
b. Kelompok Formal dan Informal
Kelompok formal memiliki pola interaksi berdasarkan pada
pertimbangan objektif rasional. Kelompok ini bersifat struktural dengan
kewenangan dan tanggung jawab yang mengikuti hirarki organisasi karena
dibentuk untuk melaksanakan tugas fungsi organisasi sesuai dengan
kewenangan masing-masing.
Kelompok informal terbentuk dari proses interaksi, daya tarik, dan
kebutuhan-kebutuhan seseorang. Anggota kelompoknya tidak diangkat,
melaikan ditentukan oleh daya tarik bersama antara individu dan
kelompok. Menurut Munandar (2001) kelompok informal terdiri atas
kelompok kepentingan dan persahabatan.
c. Kelompok Terbuka dan Tertutup
Kelompok terbuka mempunyai rasa tanggap terhadap perubahan
dan pembaruan. Kelompok terbuka bebas menerima dan melepas
anggotanya, maka ide-ide baru yang dibawa oleh anggota baru tersebut
umumnya dapat diterima organisasi. Kelompok ini banyak berfikir tentang
masa sekarang dan masa depan yang dekat dikarenakan kelompok ini
menerima ide baru untuk pengembangan dan perubahan maka perencaaan
jangka pendek lebih efektif.
Kelompok tertutup berusaha tetap menjaga kestabilan, sehingga
kecil kemungkinan dapat menerima perubahan dan pembaruan. Kelompok

6
tertutup sedikit sekali menerima dan melepaskan anggota secara bebas,
cenderung tidak bersedia menerima ide-ide dari anggota baru, cenderung
memikirkan perencanaan jangka panjang karena perubahan ide-ide baru
relative tidak dapat diterima oleh kelompok ini.
d. Berdasarkan Produktivitas
Johnson (2012) membagi kelompok yang bergantung pada lima
unsur dasar berupa rasa saling ketergantunagn yang positif, pertanggung-
jawaban individu, interaksi yang memajukan kelompok, penggunaan
keterampilan kelompok yang sesuai, dan proses dalam kelompok. Johnson
membagi kelompok berdasarkan tingkat produktivitas y9ang dikategorikan
sebagai berikut:
 Kelompok Pseudo, dimana para anggota telah memutuskan untuk bekerja
sama tetapi tidak seorangpun tertarik untuk menjalankannya karena
anggota lebih produktif jika bekerja sendiri. Contohnya persaingan antar
anggota untuk mendapatkan bonus dalam sebuah tim penjualan.
 Kelompok Tradisional, dimana para anggota setuju untuk bekerja sama,
tetapi ketika mereka melihat hanya sedikit kruntungan jika
menjalankannya maka mereka menjalankan pekerjaannya sendiri-sendiri
walaupun berinteraksi. Contohnya kelompok belajar yang dibentuk oleh
guru, dimana di dalamnya terdapat beberapa murid yang aktif
menyelesaikan tugas kelompok, dan terdapat juga murid yang tidak
melakukan apapun.
 Kelompok Efektif, dimana para anggota bekerja sama untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan, yakin bahwa mereka dapat mencapai tujuan
mereka, jika anggota lainnya juga mencapai tujuan mereka. Sehingga
para anggota kelompok berkomitemen pada tujuan umum untuk
memaksimalkan kesuksesan diri sendiri dan juga anggota lain.
 Kelompok Prestasi Tinggi, merupakan sebuah kelompok efektif dimana
telah tercipta komitmen untuk saling percaya, saling menghargai, dan
saling peduli diantara para anggota dalam rangka mencapai kesuksesan
kelompok.

7
2.4 Perbedaan-Perbedaan Dalam Kelompok
a. Kelompok Primer dan Sekunder
 Dilihat dari pola hubungan antar anggota, kelompok primer sangat erat
hubungan antar anggotanya sedangkan kelompok sekunder kurang erat
hubungan antar anggota didalamnya.
 Kelompok primer emosional dan pembentukannya dikarenakan bersifat
fisik langsung (tatap muka), sedangkan kelompok sekunder saling
berhubungan lebih secara impersonal (tidak bersifat pribadi) dengan
peran dan interaksinya selalu berorientasi pada tujuan.
b. Kelompok Formal dan Informal
 Kelompok formal umumnya tampak dalam bagan organisasi, sedangkan
kelompok informal tidak tampak meskipun kelompok ini ada dan sangat
penting dalam kehidupan organisasi karena berpotensi dalam
mempengaruhi kinerja.
 Kelompok formal bersifat struktural dan hirarki, sedangkan kelompok
informal tidak.
 Kelompok formal dibentuk untuk melaksanakan tugas fungsi organisasi
sesuai dengan wewenang masing-masing, sedangkan kelompok informal
diibentuk karena daya tarik bersama antara individu dan kelompok.
c. Kelompok Terbuka dan Tertutup
 Kelompok terbuka bebas menerima dan melepaskan anggotanya,
sedangkan kelompok tertutup sedikit sekali menerima dan melepaskan
anggota secara bebas.
 Kelompok terbuka menerima ide baru yang dibawa oleh anggota
barunya,sedangka kelompok tertutup cenderung tidak bersedia menerima
ide baru dari anggota barunya.
 Kelompok terbuka banyak berfikir tentang masa sekarang dengan
perencanaan jangka pendek, sedangkan kelompok tertutup relative
memikirkan perencanaan jangka panjang.

8
 Kelompok terbuka cenderung menunjukkan
ketidakseimbangan/ketidakstabilan, sedangkan kelompok tertutup
cenderung menjaga keseimbangan/ketidakstabilan.
d. Berdasarkan Produktivitas
Kelompok Kelompok Kelompok Kelompok
Pseudo Tradisional Efektif Prestasi Tinggi
Anggota setuju Anggota setuju Anggota setuju Anggota setuju
bekerjasama bekerjasama, bekerjasama dan bekerjasama,
namun tak tertarik namun jika mencapai memiliki
menjalankannya melihat hanya tujuannya komitmen saling
karena lebih suka sedikit bersama-sama percaya, saling
bekerja sendiri keuntungan menghargai, dan
mereka memilih saling peduli
bekerja sendiri dalam mencapai
tetapi tetap saling kesuksesan.
berinteraksi
2.5 Ciri-Ciri Dinamika Kelompok
Hemphill (Sahertain, 1987) mengidentifikasi ciri-ciri kelompok meliputi:
a. Besar atau banyaknya anggota dalam kelompok itu.
b. Viscidity, yaitu tingkatan dimana kelompok itu berfungsi sebagai suatu
kesatuan.
c. Homogeneity, yaitu tingkatan dimana para anggota memiliki kesamaan
dalam umur, jenis kelamin, dan latar belakang.
d. Flexibility, yaitu tingkatan dimana kelompok memiliki hukum-hukum,
aturan-aturan, dan prosedur-prosedur.
e. Stability, yaitu frekuensi dimana kelompok mengalami perubahan-
perubahan pokok dalam organisasi.
f. Permeability, yaitu tingkatan dimana kelompok menolak penerimaan
anggota-anggota baru.
g. Polarization, yaitu tingkatan dimana kelompok bekerja ke arah tercapainya
tujuan.

9
h. Autonomy, yaitu tingkatan dimana kelompok bekerja bebas di bawah
pengawasan orang lain atau kelompok yang lebih besar.
i. Intimacy, yaitu tingkatan dimana anggota-anggota kelompok berkenalan
satu dengan yang lainnya.
j. Control, yaitu tingkatan dimana kelompok membatasi kebebasan tingkah
laku para anggotanya.
Pendapat lain dikemukakan Shaw (1981) dalam buku Group Dynamics
yang menjabarkan ciri-ciri kelompok yang meliputi:
a. Adanya persepsi tiap anggota yang didasarkan asumsi bahwa tiap orang
sadar akan hubungan dengan orang lain.
b. Adanya tujuan yang hendak dicapai.
c. Adanya motivasi dimana anggota kelompok menginginkan kepuasan
terhadap kebutuhannya dari kelompok yang dimasukinya.
d. Adanya interdependensi, yaitu saling tergantung antar anggota.
e. Adanya interaksi yang meupakan suatu bentuk actual dari interdependensi
dimana tiap anggota saling berkomunikasi.
f. Adanya organisasi.
2.6 Prinsip Dinamika Kelompok
a. Partisipatif
Partisipasi didefinisikan sebagai keterlibatan mental atau pikiran
dan emosi atau perasaan seseorang dalam situasi kelompok yang
mendorong untuk memberikan sumbangan kepada kelompok dalam usaha
mencapai tujuan. Keith Davis mengemukakan jenis-jenis partisipasi
sebagai berikut:
 Pikiran (psychological participation)
 Tenaga (physical participation)
 Pikiran dan tenaga
 Keahlian
 Barang
 Uang

10
b. Hormat menghormati
Hormat menghormati ialah adanya rasa saling menghargai atas
pendapat, masukan, dan saran dari anggota kelompok yang lain sehingga
muncul perasaan diterima dalam kelompok.
c. Percaya dan mempercayai
Percaya dan mempercayai adalah sikap yang mendasar bagi
lahirnya sikap saling percaya yang terbangun antar anggota dan
merubakan dasar bagi munculnya keinginan untuk membentukk jaringan
sosial yang akhirnya dimapankan dalam wujud saling percaya meliputi
kejujuran, kewajaran, sikap egaliter, toleransi, dan kemurahan hati.
d. Keterbukaan
Keterbukaan ialah suatu kemampuan seseorang untuk
mengungkapkan informasi diri kepada orang lain untuk mencapai
hubungan yang akrab. Informasi yang diungkapkan itu berupa:
 Sikap atau opini
 Selera dan minat
 Pekerjaan atau pendidikan
 Fisik
 Keuangan
 Kepribadian
Brook and Emmert (1997) dalam Rakhmat (2009: 136-137)
menjelaskan karakteristik orang terbuka yang cenderung memiliki sikap
sebagai berikut:
 Menilai pesan secara objektif dengan menggunakan data dan logika.
 Mencari informasi dari beberapa sumber.
 Lebih bersifat professional dan bersedia mengubah kepercayaannya.
 Mencari pengertian pesan yang tidak sesuai dengan rangkaian
kepercayaan.

11
e. Tidak mengancam
Tidak mengancam yaitu seluruh anggota kelmpok diberi
kesempatan untuk mengemukakan isi hati dan buah pikiarannya tanpa rasa
takut dan terancam baik oleh anggota kelompok lain maupun oleh
pemimpin kelompok tersebut.
2.7 Komunikasi Kelompok
Komunikasi kelompok dapat diartikan sebagai salah satu pesan yang
disampaikan oleh seorang anggota kelompok kepada satu atau lebih anggota
lain dengan tujuan mempengaruhi perilaku orang yang menerima pesan
(Johnson, 1996). Komunikasi yang efektif ada diantara anggota kelompok
ketika penerima peasan menafsirkan pesan yang sama dengan pesan yang
dimaksud oleh pengirim pesan (Johnson, 2006). Komunikasi dapat
menembus semua aspek dalam memahami anggota kelompok yang lain.
Selain itu, komunikasi adalah proses kebersamaan dimana anggotanya
menerima, mengirim, mengartikan dan menyimpulkan semuanya pada saat
yang bersamaan. Usaha untuk menggambarkan kerumitan komunikasi
kelompok akan dijelaskan, proses komunikasi dalam suatu kelompok kecil
ditentukan oleh:
 Ide, perasaan, dan maksud dari pengirim pesan dan caranya berperilaku
dalam menyampaikan pesan kepada penerima.
 Pengirim membuat sandi sebuah pesan dengan menerjemahkan ide,
perasaan dan maksud ke dalam pesan yang layak disampaikan
 Pengirim mengirimkan pesan kepada penerima
 Pesan dikirimkan melalui perantara
 Pengirim merasakan respon dari penerima yang dapat dilihat, sehingga
mendapat feedback
 Penerima mengartikan sandi pesan dengan menafsirkan artinya
 Penerima merespon secara mendalam terhadap penafsiran pesan
 Suara adalah semua unsur yang mempengaruhi proses komunikasi

12
a. Komunikasi dalam Pemecahan Masalah Kelompok
Apa yang menyebabkan timbulny masalah dalam pertukaran
informasi adalah adanya gangguan yang biasanya ada dalam pemecahan
masalah kelompo. Penggabungan informasi, ide, pengalaman dan pendapat
dari anggota adalah bagian mendasar dari pemecahan masalah kelompok.
Seberapa berhasilnya anggota kelompok menggabbungkan sumber-sumber
mereka ke tingkat yang lebih luas, tergantung pada tiga hal:
 Ketetampilan penyampaian dan penerimaan
 Norma-norma kelompok dan prosedur komunikasi
 Pola komunikasi antar anggota kelompok
b. Jaringan Komunikasi
Jika suatu kelompok ingin berfungsi secara efektif, anggotanya
harus dapat berkomunikasi dengan mudah dan efisien. Komunikasi dalam
kelompok perlu diatur supaya ide, pengetahuan dan informasi lain dapat
berjalan secara bebas antar kelompok. Sejumlah penelitian telah dilakukan
tentang susunan fisik jaringan komunikasi, yaitu siapa dapat berkomunkasi
dengan siapa dan apakah komunikasi dilakukan secara langsung atau
melalui anggota lain. Secara lebih spesifik, jaringan komunikasi adalah
gambaran langkah-langkah yang dapat diterima antar anggota kelompok
atau organisasi. Jaringan komunikasi telah diketahui mempengaruhi
munculnya kepemimpinan, perkembangan organisasi, semangat anggota
kelompok dan keefektifan pemecahan masalah (Leavitt, 1951; Shaw,
1964).
c. Pola Komunikasi dalam Susunan Kekuasaan
Suatu susunan kekuasaan dapat ditemui dalam setiap organisasi
dan dalam banyak kelompok. Meskipun susunan kekuasaan dibuat untuk
memudahkan keefektifan kelompok, kekuasaan tersebut seringkali
merusak komunikasi, menyalurkan partisipasi dan kepemimpinan dan
persamaan kekuatan.
Dalam suatu susunan kekuasaan, prosedur komunikasi mungkin
satu arah, satu arah dengan feedback atau dua arah. Komunikasi satu arah

13
ciri-cirinya adalah seorang ketua kelompok memberi perintah kepada
panitia yang kemudian melanjutkan perintah tersebut kepada anggota
kelompok. Para penerima pesan bersifat pasif dan keefektifan komunikasi
ditentukan oleh bagaimana pesan tersebut disampaikan.
Komunikasi satu arah dengan feedback, ketua menyampaikan
pesan dan anggota kelompok memberikan feedback untuk mengetahui
seberapa baik mereka memahami pesan tersebut. Prosedur ini cenderung
lebih cepat daripada komunikasi dua arah dan tidak menghalangi ketua
tetapi juga kurang efektif dan lebih menghalangi anggota kelompok.
Komunikasi dua arah adalah proses timbal balik dimana setiap
anggota dapat meyampaikan pesan dan menjelaskan pesan anggota lain.
Meskipun komunikasi dua arah menghabiskan lebih banyak waktu, tetapi
cenderung tidak menghalangi anggota kelompok dan lebih efektif untuk
seluruh kelompok dalam waktu yang lama.
d. Pengaruh Kerja Sama dan Persaingan Terhadap Komunikasi
Ketika anggota kelompok bekerja dengan cara bekerja sama,
komunikasi cenderung lebih sering, terbuka, lengkap, tepat dan jujur
(Deutsch, 1973; Johnson &Johnson, 1974).Orang yang bekerjasama
cenderung merasakan maksud dan tindakan anggota lain yang lebih tepat.
Ketika anggota kelompok saling bersaing, komunikasi cenderung kurang
dan dapat menjadi meyesatkan (Deutsch, 1973; Johnson & Johnson, 1989).
Persaingan cenderung bersikap curiga, saling bermusuhan, sehingga
meningkatkan sikap saling memanfaatkan dan menolak permintaan
anggota lain. Hal penting dalam persaingan adalah sikap defensif.
Komunikasi yang bersifat defensif adalah tindakan yang muncul ketika
seseorang merasa terancam atau antisipasi terhadap suatu ancaman.
e. Pengaruh Fisik dalam Komunikasi
Penagruh fisik dapat mendorong atau menghalangi keefektifan
kelompok dalam komunikasi. Lingkungan sekitar dalam kelompok dapat
menjadi sumber ketegangan. (Baum, Singer & Baum, 1982; Halpern,
1995). Keefektifan komunikasi kelompok dapat meningkat jika

14
anggotanya memperhatikan diaman mereka bertemu, suara-suara di tempat
pertemuan, saat dimana mereka bertemu, lamanya pertemuan dan lubang
udara, suhu dan penerangan dalam ruangan. Semua faktor ini dapat
meningkatkan keefektifan komunikasi antar anggotanya jika ditangani
dengan baik.
2.8 Kepemimpinan
Seorang pemimpin adalah seorang yang bisa memengaruhi orang lain
untuk lebih efektif dalam bekerja guna mencapai tujuan yang saling
menguntungkan dan menjaga hubungan kerja yang efektif antar anggotanya.
Kepemimpinan adalah proses di mana pemimpin menggunakannya
pengaruhnya. Menjadi seorang pemipin dan menggunakan kepemimpinannya
membutuhkan keahlian. Kemampuan untuk membantu kelompok mencapai
tujuan dan menjaga hubungan kerja sama yang efektif antar anggota inilah
yang di sebut kemampuan kepemimpinan.

a. Teori Kepemimpinan Berdasarkan Pembawaan


Pemimpin yang berpartisipasi aktif dalam mengkoordinir proyek
bersama dan membawa mereka kepada penyelesaian, terkarakter oleh
kecerdasan, kesiapan terhadap kebutuhan dan motif orang lain,
pengetahuan terhadap situasi, dan kebiasaan seperti tanggung jawab,
inisiatif, ketekunan, dan kepercayaan diri.
b. Gaya gaya Kepemimpinan
Gaya biasanya di bandingkan dengan hakekat dari pernyataan dan
tindakan. Gaya dimana tindakan di lakukan dapat membawa banyak pesan
seperti halnya hakekat dari tindakan itu sendiri gaya memengaruhi
legitimasi dan kredibilitas suatu tindakan. Tiga gaya kepemimpinan utama
telah teridentifikasi otoraktis demokratis dan liberalis.
 Pemimpin otokratis, memberi perintah dan menentukan semua kebijakan
tanpa mengikutsertakan anggota lain dalam membuat keputusan.
 Pemimpin demokratis, menyusun kebijaksanaan melalaui diskusi dan
keputusan kelompok, mendorong dan membantu anggota untuk

15
berinteraksi, meminta kerja sama untuk orang lain, dan
mempertimbangkan perasaan dan kebutuhan anggota.
 Pemimpin riberalis, sama sekali tidak berpartisipasi dalam pengambilan
keputusan.
c. Teori Kepemimpinan berdasarkan Pengaruh
Melihat kepemimpinan sebagai pengaruh hubungan timbal balik
antara pemimpin dan sekelompok bawahan tidak menjadikan
kepemimpinan berdasarkan pada adanya dominasi. Pemimpin tidak
memengaruhi melalui kekerasan dan paksaan. Pengaruh seorang
pemimpin di tujukan untuk membujuk kelompok agar bekerja sama dalam
membuat dan mencapai tujuan. Kepemimpinan adalah seni untuk
meyakinkan anggota kelompok untuk bekerja sama dengan seminimal
mungkin perpecahan dan sebanyak mungkin kerja sama. Pemimpin perlu
membujuk dan menginspirasi anggota untuk mengikuti pandangan
pemimpin tentang apa yang harus di kerjakan untuk mencapai tujuan
kelompok.
d. Peran Pendekatan Kepemimpinan Berdasarkan Kedudukan/Struktur
Kelompok
Seseorang menjadi pemimpin ketika dia di letakkan dalam posisi
yang memegang kekuasaan. Dalam kelompok , kepemimpinan bermula
dari struktur peran yang umum yang menjelaskan susunan kekuasaan
dalam kelompok. Kekuasaan adalah kedudukan yang sah untuk membuat
bawahan mengerti tugas mereka saat melaksanakan tugas, seseorang yang
mempunyai kekuasaan bisa memengaruhi bawahannya.
e. Teori Kepemimpinan Berdasarkan Situasi
Teori ini menyatakan bahwa teori kepemimpinan di berikan oleh
anggota kelompok dengan beragam perilaku mereka untuk memberikan
tindakan yang di perlukan oleh kelompok pada saat itu .
f. Kepemimpinan Organisasional
Perkembangan membutuhkan kepemimpinan, bukan pengaturan,
ada beberapa individu mengatur, yang lain memimpin. Pemimpin

16
membawa kita ke tempat yang belum pernah kita ketahui. Pengatur
cenderung untuk menangani status quo. Memimpin suatu organisasi
melibatkan lima langkah :
 Melawan ststus quo dari model manajemen tradisional yang individual
dan penuh persaingan
 Memberi satu pandangan jelas yang saling menguntungkan tentang apa
dan bagaimana suatu organisasi itu.
 Memberi wewenang kepada anggota melalui kelompok.
 Memimpin dengam teladan
 Membesarkan hati anggota untuk yakin teguh dan terus berusaha
2.9 Sinergi Dalam Kelompok
Upaya serius pemimpin sangat dibutuhkan untuk membangun kelompok
kerja yang berperilaku sebagai tim solid. Sebab setiap organisasi yang
berkinerja unggul memerlukan kelompok kerja yang berperilaku sebagai tim.
Kelompok kerja tersebut adalah sekumpulan yang kompeten yang saling
melengkapi, saling percaya, saling menghargai, saling belajar, saling
mendorong, dan saling membantu dalam semangat kebersamaan. Samboyan
kelompok kerja ini adalah TEAM yang merupakan singkatan dari Together
Everyone Achieve More.
a. Jenis-jenis Tim
Tim bisa melakukan berbagai hal misalnya membuat produk,
memberikan jasa, menegosiasikan perjanjian, mengkoordinaskan proyek,
memberikan nasehat dan membuat berbagai keputusan. Sehingga tim
dapat terdiri atas beberapa jenis sesuai dengan karakteristik pekerjaan yang
ditugaskan klasifikasi tersebut seperti kualifikasi pemimpin, kualitas
anggota, hingga spesifikasi tujuan dari tim tesebut. Berkaitan dengan hal
ini, Robbins (2001) mengklasifikasi tiper jenis tim dalam sebuah
organisasi sebagai berikut:
 Tim Pemecahan Masalah
Sama seperti Namanya, tim ini dibentuk dengan tujuan untuk
memecahkan masalah. Tim ini terdiri dari 5 sampai 12 orang yang

17
biasanya dibayar perjasa dan berasal dari dapartemen yang sama (jika
dalam sebuah perusahaan). Pembahasan tim seputar peningkatan
efetivitas, efesiensi, produktivitas, hingga kualitas dari organisasi.
 Tim Kerja Pengelolaan Diri
Tujuan pembentukan tim ini untuk menutupi kelemahan pada jenis
tim problem solving, dimana saran yang sudah direkomendasikan
belum tentu akan diterapkan pada organisasi. Tim ini terdiri dari 10-15
anggota karyawan yang melakukan perkerja yang sangat berhubungan
atau saling bergantung dan memiliki tanggung jawab yang banyak dari
para pengawas mereka sebelumnya.
 Tim Lintas Fungsional
Tim ini terdiri atas para karyawan yang berasal dari tingkat hierarki
yang kurang lebih sama tetapi dari berbagai bidang pekerjaan berbeda
yang berkumpul untuk menyelesaikan sebuah tugas. Tim lintas
fungsional merupakan cara efektif yang memungkinkan orang-orang
dari berbagai area yang berbeda dalam sebuah organisasi atau antar
organisasi, untuk bertukar informasi, mengembangkan ide-ide baru dan
menyelesaikan banyak masalah dan mengoordinasi berbagai proyek
yang rumit.
 Tim Virtual
Tim ini menggunakan teknologi computer (internet) untuk
menyatukan para anggota yang terpisah secara sifik untuk mencapai
tujuan Bersama. Mereka tidak bisa meniru tindakan memberi dan
menerima yang umum terjadi dari diskusi secara berhardap-hadapan.
Teruma ketika meraka para anggota belum bertemun secara pribadi, tim
vitual cenderung lebih berorientasi pada tugas dan lebih sedikit bertukar
informasi sosio-emosional. Sehingga tidak mengejutkan jika para
anggota tim virtual melaporkan kepuasan yang lebih sedikit dengan
proses interaksi kelompok bila dibandingkan dengan anggota tim yang
bertemu secara tatap muka.

18
Utomo (2009) mengidentifikasi tiga jenis tim yang biasa
ditemukan di tempat kerja yaitu: tim yang merekomendasikan sesuatu, tim
yang membuat atau melaksanakan, dan tim yang menjamin segala sesuatu
berlangsung dengan baik.
b. Membangun Tim Dinamis
Team building adalah suatu upaya yang dibuat secara sadar untuk
mengembangkan kerja kelompok dalam suatu organisasi. Membangun
kerjasama tim (team building) yang dilakukan secara benar dan
berkesinambungan akan memberikan hasil perubahan yang sering kali
jauh lebih baik dari dugaan semula. Team bulding akan disarankan
manfaatnya bagi pimpinan dan anggota tim, sehingga menyebabkan
efektifnya kepemimpinan, rasa memiliki dari setiap anggota tim,
komunikasi yang lebih luas antara anggota tim, setiap anggota tim dapat
berkontruksi sesuai dengan keahliannya, dan komitmen yang tinggi untuk
mencapai tujuan Bersama.
c. Tim Berkerja Unggul
Tim yang dinamis berpotensi menghasilkan tim yang mempunyai
kinerja unggul. Menurut Utomo (2009) tim yang berkinerja unggul
memiliki beberapa karakteristik tertentu. Karakteristik itu adalah: tim
memiliki ke bersamaan tujuan, tanggung jawab bersama, kepemimpinan
yang memberdayakan, responsive, inovatif dan kreatif, komunikasi,
berfokus pada tugas dan pemecahan masalah.
Kelompok ataupun tim yang berfungsi baik harus bisa
menyeimbangkan dan aktivitas utama yang penting yaitu aktivitas tugas
dan aktivitas pemeliharaan atau hubungan. Aktivitas tugas berkaitan
dengan beberapa hal yang dilakukan anggot yang langsung berkontribusi
pada kinerja kelompok.
b. Pembinaan Kinerja Tim
Pengembangan kerjasama tim memerlukan usaha pembinaan
secara terus-menerus agar memperoleh hasil yang optimal. Utomo (2009)
menyatakan bahwa pembinaan tim oleh pemimpin bermanfaat untuk:

19
mentransformasi rasa memiliki tujuan Bersama menjadi tujuan kinerja
yang speksifik: membangun kerjasama di antara anggota tim dengan
menumbuhkan rasa saling percaya, menghormati, mendorong, dan
menghargai kontribusi angggota lain: mengembangkan keahlian yang pas
untuk menghasilkan kinerja unggul: meningkatkan kreativitas anggota
dalam berkinerja: serta dapat memperjelas nilai-nilai inti sebagai pedoman
untuk mengarahkan perilaku anggota.
c. Kebersamaan dan Kebanggan Tim
Proses membangun tim yang dinamis akan berjalan dengan baik
apabila para anggota tim mampu membangun rasa kebersamaan dan bisa
menumbuhkan kebanggaan tim secara efektif. Untuk membangun rasa
kebersamaan di dalam suatu tim, maka setiap anggota kelompok harus
mampu menerima keragaman anggota tim. Tim akan efektif jika dibangun
berdasarkan kebersamaan, tidak memandang pangkat, suku, dan golongan,
menunjukan rasa saling percaya, saling menghargai dan dilandasi oleh
keterbukaan.
Tim dinamis senantiasa juga akan memperhatikan prestasinya
secara maksimal, sehingga kenerja tim perlu dipertahankan. Hal ini berarti
bahwa perlu adanya suatu usaha untuk memotivasi tim secara efektif agar
mampu membangun kebanggan tim.
d. Prosedur Tim Building
Ketika kepemimpinan memutuskan untuk menggunakan tim dalam
organisasi maka perlu diadakan pengorganisasian ulangan untuk
menyampaikan hasil serta mangatur tim agar bekerja maksimal dan
membantu mengembangkan aturan-aturan dasar untuk keefektifan tim.
Setidaknya menurut (Jhonson, 2012) terdapat tiga masalah yang perlu
diperhatikan ketika membentuk tim.
 Menjaga agar tim tetap dalam ukuran kecil, yaitu beranggotakan antara
dua sampai dua puluh lima orang. Sebab samakin besar ukuran
kelompok, maka semakin kecil kontruksi usaha para individu pada

20
keterlibatan dalam tugas dan kurangnya rasa tanggung jawab untuk
mencapai kesuksesan tim.
 Memilih anggota tim berdasakan pada keterampilan dan keahlian untuk
mengembangkan keterampilan dan keahlian yang baru, bukan berdasar
pada posisi dan kepribadian. Sebab tim tidak akan berhasil jika tidak
mempunyai keterampilan dan keahlian yang dibutuhkan untuk mencapai
tujuan.
 Membawa serta berbagai sumber yang dibutuhkan untuk menfungsikan
tim, seperti ruang, materi, informasi, Batasan waktu, serta dukungan
personel. Perencanaan dan persiapan yang seksama dibutuhkan untuk
membentuk dan memberikan perlengkapan suatu tim untuk mencapai
sukses.
Selanjutnya setelah tim dibentuk, maka pemimpin harus menyusun
dan memelihara tim agar komitmen tim dapat terbentuk dan tanggung
jawab individu/anggota dapat meningkat.

21
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kelompok adalah sesuatu yang alami, karna manusia sebagai
mahluk sosial akan berinteraksi satu dengan yang lain sehingga
membentuk kelompom tertentu. Terdapat banyak dari definisi kelompok
banyak ahli dari disiplin ilmu yang membahas tentang kelompok. Shaw
(1981) menyatakan bahwa tidak ada satupun definisi yag tepat untuk
mendeskripsikan pengertian tentang kelompok.
Prayitno (1995:135) menjelaskan bahwa dalam konseling
kelompok terdapat tiga komponen yang berperan, yaitu pemimpin
kelompok, peserta atau anggota kelompok dan dinamika kelompok.
3.2 Saran
Seperti makalah pada umumnya sudah pasti tidak lepas dari
namanya kritik dan kesalahan dalam pembuatannya dan penulisannya.Ini
semua dikarenakan keterbatasan kemampuan penyusun dalam menyusun
masalah ini. Namun penyusun akan berusaha untuk belajar dan
memperbaiki kesalahan dalam pembuatan makalah.Penyusun siap
menerima kritik dan saran yang di berikan.

22
DAFTAR PUSTAKA

Zulkarnain, Wildan. 2013. Dinamika Kelompok: Latihan Kepemimpinan


Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Prayitno. 1995. Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok (dasar dan profil).
Jakarta: Ghalia Indonesia.

Walgito, Bimo. 2010. Psikologi Kelompok. Yogyakarta: Andi Offset.

Ahmadi, Abu. 2009. Psikologi Sosial. Jakarta: Rineka Cipta.

23