Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

VESIKOLITIASIS

A. Konsep Dasar Teori


1. Definisi
Vesikolitiasis adalah penyumbatan saluran kemih khususnya pada
vesika urinaria atau kandung kemih oleh batu penyakit ini juga disebut
batu kandung kemih.( Smeltzer and Bare, 2005).
Vesikolitiasis adalah batu yang terjebak di vesika urinaria yang
menyebabkan gelombang nyeri yang luar biasa sakitnya yang
menyebar ke paha, abdomen dan daerah genetalia. Medikasi yang
diketahui menyebabkan pada banyak klien mencakup penggunaan
antasid, diamox, vitamin D, laksatif dan aspirin dosis tinggi yang
berlebihan.
Batu vesika urinaria terutama mengandung kalsium atau
magnesium dalam kombinasinya dengan fosfat, oksalat, dan zat-zat
lainnya. (Brunner and Suddarth, 2007)
Batu kandung kemih adalah batu yang tidak normal di dalam
saluran kemih yang mengandung komponen kristal dan matriks
organik tepatnya pada vesika urinari atau kandung kemih. Batu
kandung kemih sebagian besar mengandung batu kalsium oksalat atau
fosfat ( Prof. Dr. Arjatm T. Ph.D. Sp. And dan dr. Hendra Utama,
SPFK, 2006 ).

2. Etiologi
a. Obstruksi kelenjar prostat yang membesar
b. Striktur uretra (penyempitan lumen dari uretra)
c. Neurogenik bladder (lumpuh kandung kemih karena lesi pada
neuron yang menginervasi bladder)
d. Benda asing , misalnya kateter
e. Divertikula,urin dapat tertampung pada suatu kantung di dinding
vesika urinaria
f. Shistomiasis, terutama oleh Shistoma haemotobium, lesi
mengarah keganasan

Hal-hal yang disebutkan di atas dapat menimbulkan retensi urin,


infeksi, maupun radang.

Menurut Smeltzer (2005) bahwa, batu kandung kemih disebabkan


infeksi, statis urin dan periode imobilitas (drainage renal yang lambat
dan perubahan metabolisme kalsium). Faktor- faktor yang
mempengaruhi menurut batu kandung kemih (Vesikolitiasis) adalah :

a. Hiperkalsiuria
Suatu peningkatan kadar kalsium dalam urin, disebabkan karena
hiperkalsiuria idiopatik (meliputi hiperkalsiuria disebabkan
masukan tinggi natrium, kalsium dan protein),
hiperparatiroidisme primer, sarkoidosis, dan kelebihan vitamin D
atau kelebihan kalsium.
b. Hipositraturia
Suatu penurunan ekskresi inhibitor pembentukan kristal dalam air
kemih, khususnya sitrat, disebabkan idiopatik, asidosis tubulus
ginjal tipe I (lengkap atau tidak lengkap), minum Asetazolamid,
dan diare dan masukan protein tinggi.
c. Hiperurikosuria
Peningkatan kadar asam urat dalam air kemih yang dapat memacu
pembentukan batu kalsium karena masukan diet purin yang
berlebih.
d. Penurunan jumlah air kemih
Dikarenakan masukan cairan yang sedikit.
e. Jenis cairan yang diminum
Minuman yang banyak mengandung soda seperti soft drink, jus
apel dan jus anggur.
f. Hiperoksalouria
Kenaikan ekskresi oksalat diatas normal (45 mg/hari), kejadian
ini disebabkan oleh diet rendah kalsium, peningkatan absorbsi
kalsium intestinal, dan penyakit usus kecil atau akibat reseksi
pembedahan yang mengganggu absorbsi garam empedu.
g. Ginjal Spongiosa Medula
Disebabkan karena volume air kemih sedikit, batu kalsium
idiopatik (tidak dijumpai predisposisi metabolik).
h. Batu Asan Urat
Batu asam urat banyak disebabkan karena pH air kemih rendah,
dan hiperurikosuria (primer dan sekunder).
i. Batu Struvit
Batu struvit disebabkan karena adanya infeksi saluran kemih
dengan organisme yang memproduksi urease.

Kandungan batu kemih kebayakan terdiri dari :

1) 75 % kalsium.
2) 15 % batu tripe/batu struvit (Magnesium Amonium Fosfat).
3) 6 % batu asam urat.
4) 1-2 % sistin (cystine).

3. Manifestasi Klinis / Tanda Gejala


Batu yang terjebak di kandung kemih biasanya menyebabkan
iritasi dan berhubungan dengan infeksi traktus urinarius dan
hematuria, jika terjadi obstruksi pada leher kandung kemih
menyebabkan retensi urin atau bisa menyebabkan sepsis, kondisi ini
lebih serius yang dapat mengancam kehidupan pasien, dapat pula kita
lihat tanda seperti mual muntah, gelisah, nyeri dan perut kembung
(Smeltzer, 2005).
a. Dapat tanpa keluhan
b. Sakit berhubungan dengan kencing (terutama diakhir kencing)
c. Lokasi sakit terdapat di pangkal penis atau suprapubis kemudian
dijalarkan ke ujung penis (pada laki-laki) dan klitoris (pada
wanita).
d. Terdapat hematuri pada akhir kencing
e. Disuria (sakit ketika kencing) dan frequensi (sering kebelet
kencing walaupun VU belum penuh).
f. Aliran urin berhenti mendadak bila batu menutup orificium uretra
interna.

Jika sudah terjadi komplikasi seperti seperti hidronefrosis maka


gejalanya tergantung pada penyebab penyumbatan, lokasi, dan
lamanya penyumbatan. Jika penyumbatan timbul dengan cepat
(Hidronefrosis akut) biasanya akan menyebabkan koliks ginjal (nyeri
yang luar biasa di daerah antara rusuk dan tulang punggung) pada sisi
ginjal yang terkena. Jika penyumbatan berkembang secara perlahan
(Hidronefrosis kronis), biasanya tidak menimbulkan gejala atau nyeri
tumpul di daerah antara tulang rusuk dan tulang punggung.

4. Patofisiologi
Batu dalam perkemihan berasal dari obstruksi saluran kemih, baik
parsial maupun total. Obstruksi total dapat berakibat menjadi
hidronefrosis. Batu saluran kemih merupakan kristalisasi dari mineral
dari matriks seputar, seperti pus, darah, tumor dan urat. Komposisi
mineral dari batu bervariasi, kira-kira 3/2bagian dari batu adalah
kalsium fosfat, asam,urine dan custine. Peningkatan konsentrasi
larutan urine akibat intake cairan yang rendah dan juga peningkatan
bahan organic akibat ISK atau urine statis, menjadikan sarang untuk
pembentukan batu, ditambah adanya infeksi, meningkatkan lapisan
urine yang berakibat presipitasi kalsium fosfat dan magnesium
ammonium fosfat.

Teori menurut Nursalam( 2006) antara lain :


a. Teori matriks
Terbentuknya batu saluran kemih memerlukan adnay
substansia organic sebagai inti, terutama dari mukopolisakarida
dan mukoprotein yang akan memepermudah kristalisasi dan
agregasi substansu pembentukan batu.
b. Teori supersaturasi
Terjadinya kejenuhan substansi pembentuk dalam urine
seperti sistin, asam urat, kalsium oksalat akan mempermudah
terbentuknya batu.
c. Teori berkurangnya factor penghambat
Berkurangnya factor penghambat seperti peptid, fosfat,
pirofosfat, polifosfat, sitrat, magnesium, asam mukopolisakarida
akan mempermudah terbentuknya batu saluran kencing.

5. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjangnya dilakukan di laboratorium yang meliputi
pemeriksaan:
a. Urinalisa
1) Warna kuning, coklat atau gelap.
2) pH lebih dari 7,6 biasanya ditemukan kuman area splitting,
organisme dapat berbentuk batu magnesium amonium
phosphat, pH yang rendah menyebabkan pengendapan batu
asam urat.
3) Sedimen : sel darah meningkat (90 %), ditemukan pada
penderita dengan batu, bila terjadi infeksi maka sel darah putih
akan meningkat.
4) Biakan Urin : Untuk mengetahui adanya bakteri yang
berkontribusi dalam proses pembentukan batu saluran kemih.
5) Ekskresi kalsium, fosfat, asam urat dalam 24 jam untuk
melihat apakah terjadi hiperekskresi.
b. Darah
1) Hb akan terjadi anemia pada gangguan fungsi ginjal kronis.
2) Lekosit terjadi karena infeksi.
3) Ureum kreatinin untuk melihat fungsi ginjal.
4) Kalsium, fosfat dan asam urat.
c. Radiologis
1) Foto BNO/IVP untuk melihat posisi batu, besar batu, apakah
terjadi bendungan atau tidak.
2) Pada gangguan fungsi ginjal maka IVP tidak dapat dilakukan,
pada keadaan ini dapat dilakukan retrogad pielografi atau
dilanjutkan dengan antegrad pielografi tidak memberikan
informasi yang memadai.
3) PV (Pem Postvoid) : mengetahui pengosongan kandung kemih
4) Sistokopi : Untuk menegakkan diagnosis batu kandung
kencing.
d. Foto KUB
Menunjukkan ukuran ginjal ureter dan ureter, menunjukan adanya
batu.
e. Endoskopi ginjal
Menentukan pelvis ginjal, mengeluarkan batu yang kecil.
f. EKG
Menunjukan ketidak seimbangan cairan, asam basa dan elektrolit.
g. Foto Rontgen
Menunjukan adanya di dalam kandung kemih yang abnormal.
h. IVP ( intra venous pylografi )
Menunjukan perlambatan pengosongan kandung
kemih,membedakan derajat obstruksi kandung kemih divertikuli
kandung kemih dan penebalan abnormal otot kandung kemih.
i. Vesikolitektomi ( sectio alta )
Mengangkat batu vesika urinari atau kandung kemih.
j. Litotripsi bergelombang kejut ekstra korporeal.
Prosedur menghancurkan batu ginjal dengan gelombang kejut.
k. Pielogram retrograd
l. USG (Ultra Sono Grafi)
Untuk mengetahui sejauh mana terjadi kerusakan pada jaringan
ginjal.
Menunjukan abnormalitas pelvis saluran ureter dan kandung
kemih. Diagnosis ditegakan dengan studi ginjal, ureter, kandung
kemih, urografi intravena atau pielografi retrograde. Uji kimia
darah dengan urine dalam 24 jam untuk mengukur kalsium, asam
urat, kreatinin, natrium, dan volume total merupakan upaya dari
diagnostik. Riwayat diet dan medikasi serta adanya riwayat batu
ginjal, ureter, dan kandung kemih dalam keluarga di dapatkan
untuk mengidentifikasi faktor yang mencetuskan terbentuknya batu
kandung kemih pada klien.

6. Penatalaksanaan
Menurut Soeparman ( 2008) pengobatan dapat dilakukan dengan :
a. Mengatasi Simtom
Ajarkan dengan tirah baring dan cari penyebab utama dari
vesikolitiasis, berikan spasme analgetik atau inhibitor sintesis
prostaglandin, bila terjadi koliks ginjal dan tidak di kontra
indikasikan pasang kateter.
b. Pengambilan Batu
1) Batu dapat keluar sendiri
Batu tidak diharapkan keluar dengan spontan jika
ukurannya melebihi 6 mm.
2) Vesikolithotomi
Suatu tindakan pembedahan untuk mengeluarkan
batu dari buli-buli dengan membuka buli-buli dari arterior.
Ruang Lingkup : Semua penderita yang datang
dengan keluhan nyeri pada akhir miksi, hematuria dan
miksi yang tiba-tiba berhenti serta dalam pemeriksaan
penunjang (foto polos abdomen, pyelografi intravena dan
ultrasonografi) diketahui penyebabnya adalah batu buli-
buli. Dalam kaitan penegakan diagnosis dan pengobatan,
diperlukan beberapa disiplin ilmu yang terkait antara lain;
Patologi Klinik dan Radiologi
Indikasi Operasi : Batu buli-buli yang berukuran
lebih dari 2,5 cm pada orang dewasa dan semua ukuran
pada anak-anak.
Pemeriksaan penunjang : Darah lengkap, tes faal
ginjal, sediment urin, kultur urin dan tes kepekaan
antibiotika, kadar kalsium, fosfat, dan asam urat dalam
serum serta ekskresi kalsium, fosfat dan asam urat dalam
urin 24 jam, foto polos abdomen, pyelografi intravena,
USG.
Komplikasi Operasi : Komplikasi adalah
perdarahan, infeksi luka operasi, fistel.
Perawatan Pasca Bedah : Pelepasan catheter
minimal 6 hari Setelah hari operasi,pelepasan redon drain
bila dalam 2 hari berturut-turut produksi < 20cc/24 jam
Pelepasan benang jahitan keseluruhan 7 hari pasca
operasi.
3) Pengangkatan Batu
a) Lithotripsi gelombang kejut ekstrakorporeal
Prosedur non invasif yang digunakan untuk
menghancurkan batu. Litotriptor adalah alat yang
digunakan untuk memecahkan batu tersebut, tetapi
alat ini hanya dapat memecahkan batu dalam batas
ukuran 3 cm ke bawah. Bila batu di atas ukuran ini
dapat ditangani dengan gelombang kejut atau
sistolitotomi melalui sayatan prannenstiel. Setelah
batu itu pecah menjadi bagian yang terkecil seperti
pasir, sisa batu tersebut dikeluarkan secara spontan.
b) Metode endourologi pengangkatan batu
Bidang endourologi mengabungkan ketrampilan
ahli radiologi mengangkat batu renal tanpa
pembedahan mayor. Batu diangkat dengan forseps
atau jarring, tergantung dari ukurannya. Selain itu alat
ultrasound dapat dimasukkan ke selang nefrostomi
disertai gelombang ultrasonik untuk menghancurkan
batu.
c) Ureteroskopi
Ureteroskopi mencakup visualisasi dan akses
ureter dengan memasukkan alat ureteroskop melalui
sistoskop. Batu dapat dihancurkan dengan
menggunakan laser, litotrips elektrohidraulik, atau
ultrasound kemudian diangkat.
4) Pencegahan (batu kalsium kronik-kalsium oksalat)
a) Menurunkan konsentrasi reaktan (kalsium dan
oksalat)
b) Meningkatkan konsentrasi inhibitor pembentuk batu
yaitu sitrat (kalium sitrat 20 mEq tiap malam hari,
minum jeruk nipis atau lemon malam hari), dan bila
batu tunggal dengan meningkatkan masukan cairan
dan pemeriksaan berkala pembentukan batu baru.
c) Pengaturan diet dengan meningkatkan masukan
cairan, hindari masukan soft drinks, kurangi masukan
protein (sebesar 1 g/Kg BB /hari), membatasi
masukan natrium, diet rendah natrium (80-100
meq/hari), dan masukan kalsium.
d) Pemberian obat
Untuk mencegah presipitasi batu baru kalsium
oksalat, disesuaikan kelainan metabolik yang ada.

B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN


1. Pengkajian
a. Anamnesa
1) Identitas Klien
Meliputi nama klien, tempat tanggal lahir, jenis kelamin,
agama/suku, warga negara, bahasa yang digunakan,
pendidikan, pekerjaan, alamat rumah.
2) Data Medik
Dikirim oleh siapa dan diagnosa medik saat masuk maupun
saat pengkajian.
3) Keluhan Utama
Frekuensi berkemih yang meningkat, urine yang masih
menetes setelah berkemih, merasa tidak puas setelah
berkemih, sering berkemih pada malam hari, penurunan
kekuatan, dan ukuran pancaran urine, mengedan saat
berkemih, tidak dapat berkemih sama sekali, nyeri saat
berkemih, hematuria, nyeri pinggang, peningkatan suhu
tubuh disertai menggigil, penurunan fungsi seksual, keluhan
gastrointestinal seperti nafsu makan menurun, mual,muntah
dan konstipasi.
b. Pemeriksaan Fisik
1) Status Kesehatan Umum
Meliputi kedaan penyakit, tingkat kesadaran,suara bicara dan
tanda-tanda vital.
2) Kepala
Apakah klien terdapat nyeri kepala, bagaimana bentuknya,
apakah terdapat masa bekas terauma pada kepala, bagaimana
keadaan rambut klien.
3) Muka
Bagaimana bentuk muka, apakah terdapat edema, apakah
terdapat paralysis otot muka dan otot rahang.
4) Mata
Apakah kedua mata memiliki bentuk yang berbeda, bentuk
alis mata, kelopak mata, kongjungtiva, sclera, bola mata
apakah ada kelainan, apakah daya penglihatan klien masih
baik.
5) Telinga
Bentuk kedua telinga simetris atau tidak, apakah terdapat
sekret, serumen dan benda asing, membran timpani utuh atau
tidak, apakah klien masih dapat mendengar dengan baik.
6) Hidung
Apakah terjadi deformitas pada hidung klien, apakah settum
terjadi diviasi, apakah terdapat secret, perdarahan pada
hidung, apakah daya penciuman masih baik.
7) Mulut dan Faring
Mulut dan Faring, apakah tampak kering dan pucat, gigi
masih utuh, mukosa mulut apakah terdapat ulkus, karies,
karang gigi, otot lidah apakah masih baik, pada tonsil dan
palatum masih utuh atau tidak.
8) Leher
Bentuk leher simetis atau tidak, apakah terdapat kaku kuduk,
kelenjar limfe terjadi pembesaran atau tidak.
9) Dada
Apakah ada kelainan paru-paru dan jantung.
10) Abdomen
Bentuk abdomen apakah membuncit, datar, atau penonjolan
setempat, peristaltic usus meningkat atau menurun, hepar dan
ginjal apakah teraba, apakah terdapat nyeri pada abdomen.
11) Inguinal /Genetalia/ anus
Apakah terdapat hernia, pembesaran kelejar limfe, bagaimana
bentuk penis dan scrotum, apakah terpasang keteter atau
tidak, pada anus apakah terdapat hemoroid, pendarahan
pistula maupun tumor, pada klien vesikollitiasis biasanya
dilakukan pemeriksaan rectal toucer untuk mengetahuan
pembesaran prostat dan konsistensinya.
12) Ekstermintas
Apakah pada ekstermitas bawah dan atas terdapat
keterbatasan gerak, nyeri sendi atau edema, bagaimana
kekuatan otot dan refleknya.

Pemeriksaan fisik pasien dengan BSK dapat bervariasi mulai


tanpa kelainan fisik sampai tanda-tanda sakit berat tergantung
pada letak batu dan penyulit yang ditimbulkan.

Pemeriksaan fisik umum : hipertensi, febris, anemia,


syok. Pemeriksan fisik khusus urologi

1) Sudut kosto vertebra : nyeri tekan , nyeri ketok, pembesaran


ginjal
2) Supra simfisis : nyeri tekan, teraba batu, buli-buli
penuh
3) Genitalia eksterna : teraba batu di uretra
4) Colok dubur : teraba batu pada buli-buli (palpasi
bimanual)

2. Diagnosa Keperawatan
a. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan efek
anestesi
b. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan depresi pernafasan
akibat efek anestesi .
c. Gangguan rasa nyaman: nyeri berhubungan dengan penekanan
saraf tepi akibat insisi .
d. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual dan
muntah .
e. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan
dengan perdarahan akibat insisi .
f. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan insisi luka akibat
operasi .
g. Resiko tinggi gangguan integritas kulit berhubungan dengan
drainase luka.

3. Intervensi
a. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan efek
anestesi.
Tujuan : Tidak terjadi gangguan pernafasan
Kriteria Hasil : Tidak tersedak, Sekret tidak menumpuk di jalan
nafas dan tidak ditemukan tanda cyanosis

Intervensi :

1) Kaji pola nafas klien.

2) Kaji perubahan tanda vital secara drastis.


3) Kaji adanya syanosis.

4) Bersihkan sekret dijalan nafas.

5) Ciptakan lingkungan yang nyaman.

b. Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan depresi pernafasan akibat efek
anestesi .

Tujuan : pola nafas menjadi normal (vesikuler).

Kriteria Hasil : pola nafas efektif, bebas dari sianosis atau tanda-tanda hipoksia.

Intervensi :

1) Pertahankan jalan nafas dengan memiringkan kepala, hiperekstensi rahang,


aliran udara faringeal oral.

2) Observasi frekuensi dan kedalaman pernafasan.

3) Posisikan klien dengan nyaman.

4) Observasi pengembalian fungsi otot pernafasan.

5) Lakukan pengisapan lendir jika diperlukan.

6) Berikan 0ksigen jika diperlukan.

c. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan penekanan saraf tepi


akibat insisi .

Tujuan : klien merasa nyaman.

Kriteria Hasil : klien tidak gelisah, skala nyeri 1-2, tanda vital normal.

Intervensi :

1) Kaji tanda vital klien.

2) Catat lokasi dan lamanya intensitas nyeri.


3) Ajarkan teknik relaksasi dan distraksi.

4) Ciptakan lingkungan yang nyaman.

5) Kolaborasi pemberian analgesik (Narkotik), anti spasmodik dan


kortikosteroid.

d. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual dan muntah.

Tujuan : Kebutuhan nutrisi terpenuhi.

Kriteria Hasil : Klien habis satu porsi dari rumah sakit, tidak mengeluh lemas,
membran mukosa lembab dan tanda vital normal.

Intervensi :

1) Kaji tanda vital klien.

2) Kaji kebutuhan nutrisi klien.

3) Timbang berat badan klien setiap hari.

4) Kaji turgor klien.

5) Awasi input dan output klien.

6) Cacat insiden muntah dan catat karakteristik dan frekuensi muntah.

7) Berikan makan sedikit tetapi sering.

8) Ciptakan lingkungan yang nyaman bagi klien.

e. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan


perdarahan akibat insisi.

Tujuan : Membaiknya keseimbangan cairan dan elektrolit.

Kriteria Hasil :

1) Monitor tanda vital.


2) Monitor urin meliputi warna hemates sesuai indikasi.

3) Pertahankan pencatatan komulatif jumlah dan tipe pemasukan cairan.

4) Monitor status mental klien.

5) Monitor berat badan tiap hari.

6) Awasi pemeriksaan laboratorium (Hb, Ht, dan natrium urin).

7) Kolaborasi pemberian diuretik.

f. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan insisi luka operasi

Tujuan : Tidak terjadi infeksi.

Kriteria Hasil: Limfosit dalam batas normal, tanda vital normal dan tidak
ditemukan tanda infeksi.

Intervensi :

1) Kaji lokasi dan luas luka.

2) Pantau jika terdapat tanda infeksi (rubor, dolor, kolor, tumor dan perubahan
fungsi).

3) Pantau tanda vital klien.

4) Kolaborasi pemberian antibiotik.

5) Ganti balut dengan prinsip steril.

g. Resiko tinggi gangguan integritas kulit berhubungan dengan drainase luka.

Tujuan : Tidak terjadi gangguan integritas kulit .

Kriteria Hasil: tidak ditemukan tanda infeksi, tidak ada luka tambahan

Intervensi :
1) Kaji drainase luka.

2) Monitor adanya tanda infeksi (rubor, dolor, kolor, tumor dan perubahan
fungsi).

3) Kaji adanya luka tambahan pada klien.

4) Ganti balut dengan prinsip steril.

5) Kolaborasi pemberian antibiotik.

6) Himbau agar klien membatasi mobilitasnya.

DAFTAR PUSTAKA

Brunner and Suddarth’s . 2007. Buku Ajar Keperawatan Medical Bedah. (Edisi
kedelapan). Jakarta : EGC.

Nurafif, Amin Huda.2013.Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa


Medis Dan Nanda Nic-Noc Jilid 2.Yogyakarta : Mediaction Publishing

Nursalam. 2006. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem


perkemihan. Salemba Medika: Jakarta.

Price, Sylvia. (2006). Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit,


Edisi 6. Jakarta : EGC

Smeltzer, Suzanne. C. 2005. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah. EGC:


Jakarta.

http://cresilda19.blogspot.com/ di akses pada tanggal 10 April 2015

http://meladianmaulidah.blogspot.com di akses pada tanggal 10 April 2015