Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

CHOLANGITIS

A. ANATOMI FISIOLOGI

Kandung empedu adalah sebuah kantung berbentuk seperti buah pir, yang
terletak pada permukaan inferior dari hati pada garis yang memisahkan lobus kanan
dan kiri, yang disebut dengan fossa kandung empedu. Ukuran kandung empedu
pada orang dewasa adalah 7 cm hingga 10 cm dengan kapasitas lebih kurang 30
mL. Kandung empedu menempel pada hati oleh jaringan ikat longgar, yang
mengandung vena dan saluran limfatik yang menghubungkan kandung empedu
dengan hati. Kandung empedu dibagi menjadi empat area anatomi: fundus, korpus,
infundibulum, dan kolum.
Fungsi kandung empedu yaitu sebagai berikut:
1. Menyimpan dan mengkonsentrasikan cairan empedu yang berasal dari hati di
antara dua periode makan.
2. Berkontraksi dan mengalirkan garam empedu yang merupakan turunan
kolesterol, dengan stimulasi oleh kolesistokinin, ke duodenum sehingga membantu
proses pencernaan lemak.

B. Definisi
Kolangitis adalah infeksi bakteri dari saluran empedu yang terseumbat baik
secara parsiil atau total, sumbatan biasanya disebabkan dari dalam lumen saluran
empedu misalnya batu koledokus atau dari luar lumen misalnya karsinoma caput
pankreas yang menekan duktus koledokus, atau dari dinding saluran empedu misalnya
kolangio-karsinoma atau struktur saluran empedu (Nurman, 1999)
Kolangitis adalah suatu infeksi bakteri akut pada sistem saluran empedu.
Charcot ditahun 1877 menjelaskan tentang keadaan klinis dari kolangitis, sebagai trias,
yaitu demam, ikterus dan nyeri abdomen kuadran kanan atas, yang dikenal dengan
’’Charcot triad’’. Charcot mendalilkan bahwa ’’empedu stagnan’’ karena obstruksi
saluran empedu menyebabkan perkembangan kolangitis
Dari beberapa pendapat diatas Makmun Wicaksono menyimpulkan bahwa
cholangitis adalah infeksi akut oleh bacteri pada saluran empedu yang diakibatkan
kolonisasi atau perkembangan bacteri dalam saluran empedu,haltersebut dikarenakan
ada stagnasi aliran garam empedu dari kantung empedu akibat adanya sumbatan
seperti kolelithiasis, striktur saluran empedu, sirosis hati dan lain lain.

C. Klasifikasi
Klasifikasi kolangitis menurut Tokyo Guidelines (Wada et al, 2007):
Kriteria Mild (Grade I) Moderate (Grade Severe (Grade III)
II)
Disfungsi Organ Tidak Tidak Ya
Respon terhadap
Ya Tidak Tidak
terapi
Mild (Grade I) didefinisikan sebagai kolangitis yang dapat berespon terhadap terapi
Moderate (Grade II) didefinisikan sebagai kolangitis yang tidak dapat berespon
dengan pengobatan dan tidak menimbulkan disfungsi organ
Severe (Grade III) didefinisikan kolangitis yang tidak dapat berespon dengan
pengobatan dan menimbulkan disfungsi organ seperti:
Kardiovaskuler: hipotensi
Saraf: penurunan kesadaran
Pernapasan: PaO2 < 300
Renal: Serum kreatinin > 2.0 mg/dl
Liver: PT-INR > 1.5
Hematology: Platelet count < 1000.000/ul

D. Etiologi
Penyebab tersering obstruksi biliaris adalah koledokolitiasis, obstruksi struktur
saluran empedu, dan obstruksi anastomose biliaris. Bakteri memiliki akses ke saluran
bilier melalui duodenum atau melalui darah dari vena porta. Infeksi akan naik menuju
duktus hepatikus menimbulkan infeksi. Peningkatan tekanan bilier akan mendorong
infeksi menuju kanalikuli bilier vena hepatica dan saluran limfatik perihepatik yang akan
menimbulkan bakteremia (Brunicardi et al, 2007).
Penyebab kedua kolangitis adalah obstruksi maligna dari saluran empedu oleh
karsinoma pankreas, metastasis dari tumor peri pankreas, metastasis porta hepatis.
Selain itu pemakaian jangka panjang stent biliaris sering kali disertai obstruksi stent
oleh cairan biliaris yang kental dan debris biliaris yang menyebabkan kolangitis
(Cameron, 1997).

E. Patofisiologi
Adanya hambatan dari aliran cairan empedu akan menimbulkan stasis cairan
empedu dan apabila berlangsung lama maka akan terjadi kolonisasi bakteri dan
pertumbuhan kuman yang berlebihan. Bakteri ini berasal dari flora duodenum yang
masuk melalui sfingter Oddi, dapat juga dari penyebaran limfogen dari kandung
empedu yang meradang akut (Nurman, 1999).Mikroorganisme yang menyebabkan
infeksi pada kolangitis akut yang sering dijumpai adalah bakteri gram (-) enterik E. Coli,
Klebsiella, Streptococcus faecalis dan bakteri anaerob. Bakteri seperti
Proteus,Pseudomonas dan Enterobacter enterococci juga tidak jarang ditemukan
(Malet, 1996).Kolangitis terjadi akibat kombinasi dari adanya hambatan dari aliran
cairan empedu yang berlangsung lama dan terjadi kolonisasi dan proliferasi bakteri.
Adanya tekanan yang tinggi dari saluran empedu yang tersumbat, bakteri akan
kembali (refluks) ke dalam saluran limfe dan aliran darah dan dapat mengakibatkan
sepsis (Nurman, 1999). Selain itu, beberapa dari efek serius kolangitis
dapatdisebabkan oleh endotoksemia yangdihasilkan oleh produk pemecahan
bakterigram negatif. Endotoksin diserap di usus lebih mudah bila terdapat obstruksi
bilier, karena ketiadaan garam empedu yangbiasanya mengeluarkan endotoksin
sehingga mencegah penyerapannya. Selanjutnya kegagalan garam empedu mencapai
intestin dapat menyebabkan perubahan flora usus. Selain itu fungsi sel-sel Kupfer yang
jelek dapat menghambat kemampuan hati untuk mengekstraksi endotoksin dari darah
portal. Bila mana kolangitis tidak diobati, dapattimbul bakteremia sistemik yang dapat
menimbulkan abses hati (Malet, 1996).
PATH WAY
F. Manifestasi Klinis
Adanya manifestasi klinis pada 54% kasus berupa Trias Charcot yaitu demam,
ikterus dan nyeri abdomen kuadran kanan atas. Nyeri ini bersifat kolik, menjalar ke
belakang atau ke skapula kanan, kadang-kadang nyeri bersifat konstan (Nurman,
1999).
Selain itu, juga terdapat tanda dan gejala lain seperti mual dan muntah yang
dapat mengakibatkan penurunan nafsu makan sehingga asupan nutrisi berkurang
yang dapat mengakibatkan kelelahan serta menurunnya berat badan pada penderita
kolangitis. Pasien dengan kolangitis supuratif selain menunjukkan manifestasi klinis
berupa trias charcot tapi juga menunjukkan adanya penurunan kesadaran dan
hipotensi (Cameron, 1997).
G. Pemeriksaan Diagnostik
1. Anamnesa
Pada saat anamnesa biasanya klien mengeluh nyeri abdomen kanan atas, perut
terasa mual dan kadang pasien juga muntah. Selain itu, pada saat anamnesa
ditemukan riwayat penyakit terdahulu seperti batu kandung empedu dan saluran
empedu, pasca cholecystectomy, riwayat cholangitis sebelumnya (Brunicardi et al,
2007),
2. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik ditemukan triad charcot yaitu berupa demam, ikterus, dan
nyeri abdomen kanan atas. Gejala lain yaitu kekakuan, pruritus, tija yang acholis
atau hypocholis, dan malaise, hepatomegali ringan, hipotensi, sepsis. Pada
pemeriksaan abdomen selain adanyeri biasanya ditemukan hepatomegali, asites
dengan shifting dulness, dan jika sudah parah bisa menimbulkan peritonitis.
3. Pemeriksaan Laboratorium
Sebagian besar penderita mengalami hiperbilirubinemia sedang. Peningkatan
bilirubin yang tertinggi terjadi pada obstruksi maligna. Tes fungsi hati termasuk alkali
fosfatase (GGT) dan transaminase serum (SGOT/SGPT) juga sedikit meningkat
yang menggambarkan proses kolestatik (Cameron, 1997). Pada beberapa pasien
bahkan dapat meningkat secara menyolok menyerupai hepatitis virus akut.
4. Foto Polos Abdomen
Pada pemeriksaan ini diharapkan dapat melihat batu opak dikandung empedu atau
di duktus koledokus. Kadang-kadang pemeriksaan ini dipakai untuk skrening,
melihat keadaan secara keseluruhan dalam rongga abdomen (Soetikno, 2007).
5. Ultrasonografi (USG)
Pada pemeriksaan USG sangat mudah melihat pelebaran duktus biliaris intra/ekstra
hepatal sehingga dengan mudah dapat mendiagnosis apakah ada ikterus onstruksi
atau ikterus non obstruksi. Apabila terjadi sumbatan daerah duktus biliaris yang
paling sering adalah bagian distal maka akan terlihat duktus biliaris komunis
melebar dengan cepat yang kemudian diikuti pelebaran bagian proximal.Untuk
membedakan obstruksi letak tinggi atau letak rendah dengan mudah
dapatdibedakan karena pada obstruksi letak tinggi atau intrahepatal tidak tampak
pelebarandari duktus biliaris komunis. Apabila terlihat pelebaran duktus biliaris intra
dan ekstrahepatal maka ini dapat dikategorikan obstruksi letak rendah (distal)
(Soetikno, 2007).
6. Magnetic Resonance Cholangiopancreatography (MRCP) adalah pemeriksaan
duktus billiaris dan duktus pankreatikus dengan memakai pesawat MRI, dengan
memakai heavily T2W acquisition untuk memaksimalkan signal dari cairan yang
menetap pada duktus biliaris dan duktus pankreatikus (Soetikno, 2007).
7. ERCP
Endoskopik merupakan selang kecil yang mudah digerakkan yang menggunakan
lensa atau kaca untuk melihat bagaian dari traktus gastro intestinal. Endoscope
Retrograde Cholangiopancreotography (ERCP) dapat lebih akurat menentukan
penyebab dan letak sumbatan serta keuntungannya juga dapat mengobati penyebab
obstruksi dengan mengeluarkan batu dan melebarkan peyempitan.

Gambar. 4 Menunjukkan endoscope Cholangiopancreotography


(ERCP) dimana menunjukkan duktus biliaris yang berdilatasi
pada bagian tengah dan distal (dengan gambaran feeling defect)

H. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan berdasarkan derajat kolangitis (Erina et al, 2011):
a. Kolangitis grade I
Pemberian terapi medikamentosa direspon dengan baik oleh pasien. Setelah itu,
dapat dipertimbangkan untuk melakukan drainase bilier dengan menggunakan
endoskopi, perkuatneus, ataupun drainase terbuka.
b. Kolangitis grade II
Pada pasien ini tidak berespon baik dengan medikamentosa. Selain itu, muncul
tanda-tanda gagal organ. Pada pasien ini, dilakukan drainase bilier awal dengan
menggunakan endoskopi atau perkutaneus drainase. Terapi definitif dengan
menghilangkan sumber sumbatan dilakukan setelah kondisi klien stabil.
c. Kolangitis grade III
Pada pasien ini memerlukan terapi suportif seperti ventilator, obat-obatan inotropik,,
terapi medikamentosa. Drainase bilier dilakukan secepatnya segera setelah kondisi
pasien stabil.

Penalaksnaan Konservatif
Penatalaksanaan awal kolangitis adalah terapi konservatif dimana
keseimbangan cairan dan elektrolit harus harus dikoreksi dan penggunaan antibiotik.
Antibiotik yang dipakai pada kasus ringan sampai berat adalah cephalosporin
(misalnya cefazolin, cefixitin). Pada kasus berat digunakan aminoglikosida ditambah
dengan clindamycin atau metronidazole. Saluran empedu yang mengalami obstruksi
harus didrainase sesegera munkin pada pasien dengan kondisi stabil.

Dekompresi Biliaris
Sebagian besar pasien (sekitar 70%) dengan kolangitis akut akan berespon
terhadap terapi antibiotik saja. Pada kasus tersebut demam menghilang dan tes fungsi
hati kembali ke normal dalam 24 sampai 48 jam. Jika pasien tidak menunjukkan
perbaikan dalam 12 sampai 24 jam pertama, dekompresi biliaris darurat harus
dipertimbangkan. Pada sebagian besar kasus, dekompresi biliaris dilakukan segera
secara non operatif baik dengan jalur endoskopik maupun perkutan. Yaitu: (Sabiston,
1968 dan Cameron, 1997).

a. Penanggulangan sfingterotomi endoskopik


Apabila setelah tindakan di atas keadaan umum tidak membaik atau malah semakin
buruk, dapat dilakukan sfingterotomi endoskopik, untuk pengaliran empedu dan
nanah serta membersihkan duktus koledokus dari batu. Kadang dipasang pipa
nasobilier. Apabila batu duktus koledokus besar, yaitu berdiameter lebih dari 2 cm,
sfingterotomi endoskopik mungkin tidak dapat mengeluarkan batu ini. Pada
penderita ini mungkin dianjurkan litotripsi terlebih dahulu (De Jong, 1997 dan Burkitt,
1996).
b. Lisis batu
Disolusi batu dengan sediaan garam empedu kolelitolitik mungkin berhasil pada
batu kolesterol. Terapi berhasil pada separuh penderita dengan pengobatan selama
satu sampai dua tahun. Lisis kontak melalui kateter perkutan kedalam kandung
empedu dengan metil eter berhasil setelah beberapa jam. Terapi ini merupakan
terapi invasif walaupun kerap disertai dengan penyulit (De Jong, 1997).
ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy) adalah penghancuran batu saluran
empedu dengan menggunakan berbagai jenis lithotripter yang dilengkapi dengan
pencitraan flouroskopi sebelum prosedur, diperlukan sfingterotomi endoskopik dan
pemasangan kateter nasobiliaris untuk memasukkan material kontras. Terapi
dilanjutkan sampai terjadi penghancuran yang adekuat atau telah diberikan
pelepasan jumlah gelombang kejut yang maksimum (Cameron, 1997; De Jong,
1997; Josh, 2006).
c. PTBD ( Percutaneous Transhepatik Biliar Drainage)
Pengaliran bilier transhepatik biasanya bersifat darurat dan sementara sebagai
salah satu alternatif untuk mengatasi sepsis pada kolangitis berat, atau mengurangi
ikterus berat pada obstruksi saluran empedu distal karena keganasan. Pada pasien
dengan pipa T pada saluran empedu dapat juga dimasukkan koledokoskop dari luar
untuk membantu mengambil batu intrahepatik (De Jong, 1997; Brunicardi, 2000).

Penatalaksanaan Definitif
a. Kolesistektomi Terbuka
Merupakan operasi yang membutuhkan anestesi umum kemudian dilakukan irisan
pada bagian anterior dinding abdomen dengan panjang 12-20cm
Teknik operasi kolesistektomi terbuka
Dilakukan dengan insisi subtotal kanan (Kocher) sebagai salah satu insisi yang
serbs guna dalam diseksi lambung empedu dan saluran empedu.
b. Kolangiografi operatif
Dilakukan secara rutin untuk mendapatkan peta anatomik di daerah yang sering
mengalami anomalidan untuk menyingkirkan batu empedu yang tidak dicurigai.
Kolangiografi dilakukan mengan menggunakan kanlua kangiografi seperti Berci
Lehman dn Colangiocath. Insisi dibuat di saluran sistikus Insisi harus cukup besar
untuk memasukkan kanula Kanula dipertahankan ditempatnya dengan hemoclip.
Kemudian material kontras dimasukkan yaitu hypaque 25%. Sistem operasi
kolangiografi adalah fluorokolangiopatidengan penguatan citra serta monitor televisi.
Ini memungkinkan pengisian saluran empedu secara lambat dan pemaparan
multiple saluran sistem saat diisi.
c. Laparoskopi Kolesistektomi
Merupakan cara invasif untuk mengangkat batu empedu dengan menggunakan
teknik laparoskopi. Kontraindikasinya adalah sepsis abdomen, gangguan
pendarahan kehamilan.
d. Eksplorasi koledokus: eksplorasi laparoskopi duktus empedu
Umumnya sebelum tindakan operatif batu duktus empedu dideteksi dengan
kolangiografi intraoperatif mengalirkan saline melalui kateter kolangiografi setelah
sfingter oddi direlaksasikan dengan glukagoN. Jika irigasi tidak berhasil, dapat
dilakuakan pemasangan kateter balon melalui duktus sisikus dan turun ke duktus
empedu.

I. KOMPLIKASI
Beberapa komplikasi dari penyakit kolangitis terutama yang derajat tinggi
(kolangitis supuratif) adalah sebagai berikut:
1. Abses hati piogenik
Abses hati piogenik merupakan 75% dari semua abses hati. Abses ini pada anak
dan dewasa muda terjadi akibat komplikasi apendisitis, dan pada orang tua
sebagai komplikasi penyakit saluran empedu seperti kolangitis. Infeksi pada
saluran empedu intrahepatik menyebabkan kolangitis yang menimbulkan
kolangiolitis dengan akibat abses multiple (De Jong, 1997).
2. Bakteremia, sepsis bakteri gram negatif
Bakteremia adalah terdapatnya bakteri di dalam aliran darah (25-40%).
Komplikasi bakteremia pada kolangitis dapat terjadi oleh karena etiologi utama
penyebab terjadinya kolangitis adalah infeksi bakteri. Demam merupakan
keluhan utama sekitar 10-15%
3. Peritonitis sistem bilier
Kebocoran empedu dalam ruang peritoneal menyebabkan iritasi dan peritonitis.
Jika empedu terkena infeksi, maka akan menyebabkan peritonitis dan sepsis
yang mempunyai resiko tinggi yang sangat fatal.
4. Kerusakan duktus empedu
Duktus empedu dapat dengan mudah rusak pada tindakan kolesistektomi atau
pada eksplorasi duktus empedu yang tidak sesuai dengan anatominya.
Kesalahan yang sangat fatal adalah tidak mengetahui cara melakukan transeksi
atau ligasi pada duktus.

5. Perdarahan
Arteri hepatik dan arteri sistikus serta vaskularisasi hepar lainnya dapat
mengalami trauma dan perdarahan pada saat melakukan operasi. Perdarahan
yang terjadi kadang susah untuk dikontrol.
6. Kolangitis asendens dan infeksi lain
Kolangitis asendens adalah komplikasi yang terjadinya lambat pada
pembedahan sistem bilier yang merupakan anastomosis yang dibentuk antara
duktus empedu dan usus besar bagian asendens. Refluks pada bagian intestinal
dapat berlanjut menjadi infeksi aktif sehingga terjadi stagnan empedu pada
sistem duktus yang menyebabkan drainase tidak adekuat.
Komplikasi lain yang harus diperhatikan pada pembedahan sistem bilier adalah
abses subp\frenikus. Hal ini harus dijaga pada pasien yang mengalami demam
beberapa hari setelah operasi. Komplikasi yang berhubungan dengan pemakaian
kateter pada pasien yang diterapi dengan perkutaneus atau drainase endoskopik
adalah perdarahan (intra-abdomen atau perkutaneus) dan sepsis.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN SECARA UMUM

A. Pengkajian
a. Identitas
Cholangitis cukup jarang terjadi, biasanya terjadi bersamaan dengan penyakit
lain yang menimbulkan obstruksi billier dan bactibilia misal setelah prosedur
ERCP, 1-3% pasien mengalami cholangitis.
b. Keluhan utama pada penderita kolangitis, klien mengeluh demam, ikterus dan
nyeri abdomen kuadran kanan atas. Nyeri ini bersifat kolik, menjalar ke belakang
atau ke skapula kanan, kadang-kadang nyeri bersifat konstan.
c. Riwayat penyakit
 Riwayat penyakit dahulu
Riwayat medis pasien mungkin dapat membantu, contohnya riwayat
dari keadaan berikut dapat meningkatkan resiko cholangitis
 Batu kandung empedu atau batu saluran empedu
 Pasca cholecystectomy
 Manipula endoskopik atau ERCP cholangiogram
 Riwayat cholangitis sebelumnya
 Riwayat HIV/AIDS: choalngitis yang berhubungan dengan aids memliki ciri
edema bilier ekstrahepatik ulserasi dan obstruksi bilier
 Riwayat penyakit sekarang
Banyak pasien yang datang dengan ascending cholangitis tidak memiliki
gejala klasik tersebut. Sebagian besar pasien mengeluh nyeri abdomen
kuadran lateral atas. Gejala lain yang dapat terjadi meliputi: jaundice, demam,
menggigil dan kekakuan.
 Riwayat penyakit keluarga
Perlu dikaji apabila klien mempunyai penyakit keturunan seperti diabetes
mellitus, hipertensi, anemia.
d. Pemeriksaan fisik
Sistem pernafasan
Inspeksi : pergerakan dinging dada simetris, pernafasan dangkal, klien tampak
gelisah
Palpasi : vocal vremitus teraba merata
Perkusi : sonor
Auskultasi : tidak terdapat suara tambahan (ronchi, wheezing)
Sistem kardiovaskuler
Terdapat takikardi dan diaphoresis
Sistem neurologi
Tidak terdapat gangguan pada system neurologi
Sistem pencernaan
Inspeksi : tampak ada distensi abdomen diperut kanan atas klien mengeluh mual
muntah
Auskultasi : peristaltic usus 5-12x / menit flatulensi
Perkusi : adanya pembengkakan di abdomen atas/ kuadran kanan atas, nyeri
tekan epigastrium
Sistem eliminasi
Warna urine lebih pekat dan warna feses seperti tanah liat
Sistem integument
Terdapat ikterik/jaundice dengan kulit berkeringat dan gatal
Sistem musculoskeletal
Terdapat kelemahan otot karena gangguan produksi ATP
B. Diagnosa Keperawatan
1. Risiko infeksi berhubungan dengan supresi respon inflamasi dan statis cairan
empedu
2. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi
3. Nyeri berhubungan dengan distensi kandung empedu
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
mual muntah, nyeri abdomen dan kurang minat pada makanan
5. Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual muntah dan
kehilangan cairan aktif
6. Keletihan berhubungan dengan kurang energi
7. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan gangguan pigmentasi (ikterus)

C. Intervensi Keperawatan
1. Risiko infeksi berhubungan dengan supresi respon inflamasi dan statis cairan
empedu
Tujuan: setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1x24 jam nyeri
berkurang
Kriteria hasil:
 Tanda dan gejala infeksi berkurang/tidak ada
 Memperlihatkan personal hygiene yang adekuat
Intervensi:
 Pantau tanda dan gejala infeksi
 Kaji factor yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi
 Pantau hasil laboratorium
 Amati penampilan praktek hygiene personal untuk perlindungan terhadap
infeksi
 Jelaskan pada pasien dan keluarga mengapa sakit atau terapi
meningkatkan resiko terhadap infeksi
 Instruksikan untuk menjaga personal hygiene
 Ajarkan pasien dan keluarga tehnik mencuci tangan yang benar
 Ajarkan kepada pengunjung untuk mencuci tangan sewaktu masuk dan
meninggalkan ruang pasien
 Bantu pasien/keluarga untuk mengidentifikasi factor dilingkungan mereka,
gaya hidup atau praktik kesehatan yang meningkatkan risiko infeksi
 Ajarkan keluarga bagaimana membuang balutan luka yang kotor dan
sampah biologis lainnya

2. Nyeri berhubungan dengan distensi kandung empedu


Tujuan: setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1x24 jam nyeri
berkurang
Kriteria hasil:
 Keadaan umum normal pasien tampak nyaman
 Nyeri berkurang pasien tampak rileks ditunjukkan dengan skala nyeri 1-3
 Pasien melakukan managemen nyeri saat nyeri kembali dating
 TTV dalam batas normal
Intervensi:
 BHSP
 Observasi, catat lokasi dan skala nyeri dan karakter nyeri
 Anjurkan pasien dalam posisi nyaman
 Anjurkan managemen nyeri distraksi relaksasi nafas dalam
 Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesic
 Observasi tanda tanda vital
 Kaji respon pasien

3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


mual muntah, nyeri abdomen dan kurang minat pada makanan
Tujuan: setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1x24jam
keseimbangan nutrisi terpenuhi
Kriteria hasil:
 Asupan nutrisi kembali seimbang
 Pasien menunjukkan energy yang adekuat
 TTV dalam batas normal
 Mual muntah berkurang
Intervensi:
 BHSP
 Observasi tanda tanda vital
 Anjurkan untuk makan sedikit tapi sering
 Berkolaborasi dengan ahli gizi dalam pemberian program diet
 Monitoring asupan gizi pasien
 Kaji respon pasien

4. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi


Tujuan: setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1x24 jam suhu tubuh
kembali normal
Kriteria hasil:
 Suhu tubuh kembali normal pasien nyaman
 Tanda vital dalam bats normal
 Pasien dapat melakukan tindakan untuk mengurangi suhu tubuh
Intervensi:
 BHSP
 Observasi tanda vital
 Anjurkan menggunakan pakaian tipis dan minum air putih
 Anjurkan untuk melakukan kompres dingin pada daerah dada dan ketiak
 Kolaborasi dalam pemberian antipiretik
 Kaji respon pasien

5. Risiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual muntah dan


kehilangan cairan aktif
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam, risiko
kekurangan volume cairan berkurang
Kriteria hasil:
 Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ urine
normal, HT normal
 Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal
 Tidak ada tanda tanda dehidrasi, Elastisitas turgor kulit baik, membran
mukosa lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan
 Intervensi:
 Timbang popok/pembalut jika diperlukan
 Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
 Monitor status hidrasi (kelembaban membran mukosa, nadi adekuat,
tekanan darah ortostatik), jika diperlukan
 Monitor vital sign
 Monitor masukan makanan / cairan dan hitung intake kalori harian
 Lakukan terapi IV
 Monitor status nutrisi
 Berikan cairan
 Berikan cairan IV pada suhu ruangan
 Dorong masukan oral
 Berikan penggantian nesogatrik sesuai output
 Dorong keluarga untuk membantu pasien makan
 Tawarkan snack ( jus buah, buah segar )
 Kolaborasi dokter jika tanda cairan berlebih muncul meburuk
 Atur kemungkinan tranfusi
 Persiapan untuk tranfusi

6. Keletihan berhubungan dengan kurang energi


Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam, keletihan
berkurang
Kriteria hasil:
Beradaptasi dengan keletihan yang dibuktikan oleh toleransi aktivitas,
ketahanan, dan status nutrisi (energy dan energy psikomotor)
Intervensi:
 Pantau bukti adanya keletihan fisik dan emosi yang berlebihan pada pasien
 Pantau respon kardiorespirasi terhadap aktivitas missal takikardi, disritmia,
dyspnea pucat dan sesak napas)
 Pantau dan catat pola tidur pasien dan jumlah jam tidurnya
 Pantau lokasi dan sifat ketidaknyamanannya atau nyeri selama bergerak
dan beraktivitas
 Tentukan persepsi pasien pada orang terdekat pasien tentang penyebab
keletihan
 Pantau asupan nutrisi untuk menjamin keadekuatan sumber energy

7. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan gangguan pigmentasi (ikterus)


Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam, integritas
kulit membaik
Kriteria hasil:
 Keutuhan kulit tetap dapat dipertahankan
 Tidak ada ikterus
 Tidak ada eritema pada kulit
Intervensi:
 Kaji warna kulit tiap 8 jam
 Bersihkan kulit saat terkena kotoran
 Pantau bilirubin direk dan indirek
 Rubah posisi setiap 2 jam
 Jaga kebersihan kulit dan kelembabannya
DAFTAR RUJUKAN

Ahern, Nancy R. Dkk, 2009. Buku Saku Diagnosis Keperawatan, Ed. 9. Jakarta:
EGC.Ardini,

Brunicardi F, Andersen D, Billiar T, dkk. Cholangitis in Schwartz Principles of Surgery,


Eight edition, New York ; McGraw-Hill, 2007, p : 1203-1213
Cameron L, John, Terapi bedah Mutakhir, Edisi 4, Binarupa Aksaram Jakarta, 1997, hal
: 476-479
De Jong, Wim. 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC.

Dorland, Newman. 2011. Kamus Kedokteran Dorland. Jakarta: EGC.

Erina, Outry Siregar Nurhayat Usman, Kiki Lukman. 2011. Pola Kuman di Duktus
Biliaris dan Test Resistensi/Sensitifitas terhadap Antimikroba pada Pasien
Ikterus Obstruktif di Duvisi Bedah Digestif , Departemen Ilmu Bedah RSHS.
Bandung: Universitas Padjajaran
Nurman, A. 1999. Kolangitis Akut Dipandang dari Sudut Penyakit Dalam. J.
Kedokteran Trisakti 18 (3): 1-7
Soetikno, Rista D. 2007. Imaging Pada Ikterus Obstruksi. Bandung: Bagian/UPF
Radiologi FKUNPAD/RSUP dr. Hasan Sadikin.

Wada K, Takada T, Kawarada Y, Nimura Y. Miura F, Yoshida M, Mayumi T, Strasberg S,


Pitt HA, Gadacz TR, Buchler MW, BelghitiJ, de Santibanes E, Gouma DJ,
Neuhaus H, Dervenis C, Fan ST, Chen MF, Ker CG, Bornman PC, Hilvano SC,
Kim SW, Liau KH, Kim MH. Diagnostic criteria and severity assessment of acute
cholangitis. Tokyo Guidelines. J Hepatobiliary Pancreat Surg. 2007; 14 (1) 52-8