Anda di halaman 1dari 15

LABORATORIUM PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI

LAPORAN PRAKTIKUM FILTRASI


disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Praktikum Pengolahan Limbah
Industri Semester V Prodi D3-Teknik Kimia

Dosen Pembimbing : Ir. Emma Hermawati, M.T.

Praktikum: 04 September 2018


Penyerahan: 06 September 2018

Oleh
Fatona Waluya (161411037)
Husna Immah (161411038)
Indra Maulana Arifin (161411039)
Indri Nurbaitie Maharani (161411040)
Kelompok 2 (Kelas 3B, D3-Teknik Kimia)

JURUSAN TEKNIK KIMIA


POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2018
I. TUJUAN
Setelah melakukan percobaan, mahasiswa diharapkan mampu:
1. Melakukan dan mempelajari proses filtrasi yang dilakukan secara kontinyu.
2. Membandingkan tingkat kekeruhan air hasil proses filtrasi dengan standar
baku mutu untuk air bersih dan air minum.
3. Menentukan waktu optimum proses filtrasi dengan menggunakan media filter
pasir kuarsa.
4. Mengetahui pengaruh proses filtrasi terhadap perubahan pH.

II. DASAR TEORI


2.1. Filtrasi
Filtrasi adalah proses yang digunakan pada pengolahan air untuk
memisahkan partikel padatan tersuspensi (pengotor) yang terdapat dalam
air. Penurunan kadar padatan tersuspensi dilakukan dengan cara fisika
melalui proses penyaringan dengan menggunakan media pasir dan kerikil.
Proses ini dapat dilakukan secara alami (filtrasi biasa) atau dengan bantuan
tekanan (filtrasi tekanan).
Cairan yang telah melalui proses filtrasi atau penyaringan itu disebut
sebagai filtrat, sedangkan padatan yang tertumpuk di penyaringan disebut
residu. Disamping mereduksi kandungan zat padat, filtrasi juga dapat
mereduksi kandungan bakteri, menghilangkan warna, bau, rasa, besi dan
mangan.

2.2. Prinsip dasar filtrasi


Prinsip filtrasi adalah pemisahan partikel padatan yang berukuran
kecil dengan menggunakan media filter. Media yang digunakan untuk
menyaring umumnya berupa pasir dan kerikil, terkadang dapat juga
ditambahkan antrasit dan karbon aktif. Selama air kotor dialirkan melewati
saringan pasir, berlangsung proses pembersihan yang bekerja menurut
proses-proses mekanis, pengendapan dan penyerapan, metabolisme
biologis dan perubahan elektrolisa.
a. Proses-proses mekanis
Dalam lapisan suatu saringan pasir terdapat rongga-rongga kecil
yang memungkinkan air lewat sebagai aliran dalam tanah. Partikel halus
yang tidak dapat lolos dari rongga-rongga ini akan tertahan dan
demikian akan membebaskan air dari kandungan pengotornya.
b. Pengendapan dan penyerapan
Rongga antara butiran pasir berlaku sebagai kolam sedimentasi,
selanjutnya kotoran halus akan mengendap dalam rongga tersebut dan
tidak akan lolos lagi karena adanya daya adhesi dari butiran pasir yang
mengikat kotoran. Penangkapan kotoran ini dapat dipercepat oleh
adanya gelatin yang menyelimuti butiran pasir sebagai akibat adanya
bakteri atau bahan kimia yang ikut terbawa dalam aliran.

2.3. Filter Pasir Lambat


Filter pasir lambat adalah salah satu metode filtrasi dengan
menggunakan medium filter berupa pasir yang memiliki ukuran lebih kecil
(0,15-0,35 mm) sehingga menyebabkan kecepatan filtrasi menjadi lebih
lambat yaitu 0,1 hingga 0,4 m/jam.
Filter pasir lambat banyak digunakan untuk menghilangkan
kandungan pengotor pada air baku yang memiliki kekeruhan relatif rendah
yaitu sekitar 50 NTU. Efisiensi filter pasir lambat tergantung pada distribusi
ukuran partikel pasir, rasio luas permukaan filter terhadap kedalaman dan
kecepatan filtrasi.

2.4. Kekeruhan
Kekeruhan air dapat ditimbulkan oleh adanya bahan-bahan organik
dan anorganik, kekeruhan juga dapat mewakili warna. Sedang dari segi
estetika kekeruhan air dihubungkan dengan kemungkinan hadirnya
pencemaran melalui buangan dan warna air tergantung pada warna air yang
memasuki badan air (Sudarmono, 2010).
Kekeruhan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan
berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-
bahan yang terdapat dalam air. Kekeruhan disebabkan oleh adanya bahan
organik dan anorganik yang tersuspensi dan terlarut (misalnya lumpur dan
pasir halus), maupun bahan anorganik dan organik yang berupa plankton
dan mikroorganisme lain. Kekeruhan dinyatakan dalam satuan turbiditas,
yang setara dengan 1 mg/liter SiO2.
Pengukuran nilai kekeruhan sering diukur dengan metode
Nephelometric. Pada metode ini, sumber cahaya dilewatkan pada sampel
dan intensitas cahaya yang dipantulkan oleh bahan-bahan penyebab
kekeruhan diukur dengan menggunakan suspensi polimer formazin sebagai
larutan standar. Satuan kekeruhan yang diukur dengan menggunakan
metode Nephelometric adalah NTU (Nephelometric Tubidity Unit).
Kekeruhan dipengaruhi oleh benda-benda halus yang disuspensikan
seperti lumpur dan sebagainya, adanya jasad-jasad renik (plankton), dan
warna air.

2.5. Efisiensi Proses Filtrasi


Faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi proses filtrasi:
1. Debit filtrasi
Debit yang terlalu besar akan menyebabkan tidak berfungsinya
filter secara efisien sehingga proses filtrasi tidak dapat terjadi dengan
sempurna. Jika aliran air terlalu cepat dalam melewati rongga diantara
butiran media pasir dapat menyebabkan berkurangnya waktu kontak
antara permukaan butiran media penyaring dengan air yang akan
disaring.
2. Konsentrasi kekeruhan
Konsentrasi kekeruhan sangat mempengaruhi efiiensi dari filtrasi.
Konsentrasi kekeruhan air baku yang sangat tinggi akan menyebabkan
tersumbatnya lubang pori dari media atau akan terjadi clogging, sehingga
dalam melakukan filtrasi sering dibatasi seberapa besar konsentrasi
kekeruhan dari air baku yang boleh masuk.
3. Temperatur
Adanya perubahan suhu dari air yang akan di filtrasi menyebabkan
massa jenis, viskositas absolut, viskositas kinematis dari air akan
mengalami perubahan. Selain itu juga mempengaruhi daya tarik menarik
diantara partikel halus penyebab kekeruhan, sehingga terjadi perbedaan
dalam ukuran besar partikel yang akan disaring. Akibat ini akan
mempengaruhi daya adsorpsi.
4. Kedalaman media, ukuran, dan material
Pemilihan media dan ukuran merupakan keputusan penting dalam
perencanaan penggunaan filter. Tebal tipisnya media akan menentukan
lamanya pengaliran air dan daya saring. Media yang tebal biasanya
mempunyai daya saring yang sangat tinggi, tetapi membutuhkan waktu
pengaliran yang lebih lama. Sebaliknya media yang terlalu tipis memiliki
waktu pengaliran yang terlalu pendek, kemungkinan juga memiliki daya
saring yang rendah.
Keadaan media yang terlalu kasar atau terlalu halus akan
menimbulkan variasi dalam ukuran rongga antar butir. Ukuran pori
sendiri menentukan besarnya tingkat porositas dan kemampuan
menyaring partikel halus yang terdapat dalam air baku.
5. Tinggi muka air diatas media dan kehilangan tekanan
Keadaan tinggi muka air diatas media berpengaruh terhadap
besarnya debit atau laju filtrasi dalam media. Muka air yang cukup tinggi
diatas media akan meningkatkan daya tekan air untuk masuk kedalam
pori dan ini akan meningkatkan laju filtrasi.

2.6. Baku Mutu Air


Baku mutu air adalah ukuran batas atau kadar biologis, kimia, dan
fisika yang harus ada atau unsur pencemar yang keberadaannya diatur
dalam air. Pemerintah telah mengeluarkan standar baku mutu air untuk air
bersih dan air minum. Standar baku mutu air ini diatur dalam Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 416 Tahun 1990 tentang Syarat-syarat dan
Pengawasan Kualitas Air.

Tabel 1. Standar Baku Mutu Air

Standar Baku Mutu


(kadar maksimum yang
No. Parameter Wajib Satuan
diperbolehkan)
Air Bersih Air Minum
1. Kekeruhan NTU 25 5
2. Warna TCU 50 15
3. Total Dissolved mg/l 1000 1000
Solid
4. Suhu °C Suhu udara ± 3 Suhu udara ±
3
5. Rasa - Tidak berasa Tidak berasa
6. Bau - Tidak berbau Tidak berbau
7. pH - 6,5 – 8,5 6,5 – 8,5

III. METODOLOGI PERCOBAAN


3.1. Alat dan Bahan
3.1.1. Alat
1. Unit Kolom Filtrasi 4. Gelas Kimia
2. Turbidimeter 5. Stopwatch
3. pH meter
3.1.2. Bahan
1. Air sungai daerah Sarijadi
3.2. Prosedur Kerja

Persiapan alat filtrasi

Mengumpankan air baku Pengukuran parameter


kedalam tangki penampung awal air baku

Menyalakan pompa

Pengukuran parameter
Proses filtrasi efluen setiap 1 menit

Mematikan pompa

Membuang air sisa pada tangki


dan kolom filtrasi
IV. DATA PENGAMATAN DAN PENGOLAHAN DATA
4.1. Data Hasil Percobaan
• Debit aliran masuk ke bak filtrasi = 1,234 L/min
• Debit aliran keluar dari bak filtrasi = 1,181 L/min

Tabel 2. Data Pengamatan dari Proses Filtrasi Secara Kontinyu


Run Kekeruhan
Waktu (menit) pH
ke - Influen (NTU) Efluen (NTU)
1 0 35,69 - 6,25
2 1 35,69 14,42 6,30
3 2 35,69 4,85 6,34
4 3 35,69 4,89 6,43
5 4 35,69 4,69 6,31
6 5 35,69 4,62 6,34
7 6 35,69 4,69 6,43
8 7 35,69 4,62 6,38
9 8 35,69 4,64 6,44
10 9 35,69 4,67 6,43
11 10 35,69 4,74 6,44
12 11 35,69 4,72 6,44

4.2. Menghitung Efisiensi Kekeruhan Proses Filtrasi

𝑘𝑒𝑘𝑒𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑤𝑎𝑙−𝑘𝑒𝑘𝑒𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟


Efisiensi = 𝑥 100%
𝑘𝑒𝑘𝑒𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑤𝑎𝑙

Contoh perhitungan :
Run ke-2
𝑘𝑒𝑘𝑒𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑤𝑎𝑙−𝑘𝑒𝑘𝑒𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑘ℎ𝑖𝑟
Efisiensi = 𝑥 100%
𝑘𝑒𝑘𝑒𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑤𝑎𝑙
35,69 − 14,42
Efisiensi = 𝑥 100%
35,69
21,27
Efisiensi = 35,69 𝑥 100%

Efisiensi = 0,596 𝑥 100%


Efisiensi = 59,6%

Tabel 3. Hasil Perhitungan Efisiensi Kekeruhan Proses Filtrasi


Waktu Efisiensi
(menit) (%)
1 59,6
2 86,4
3 86,3
4 86,9
5 87,1
6 86,9
7 86,9
8 86,9
9 86,7
10 86,8
V. HASIL PENGAMATAN

Kurva Waktu Filtrasi terhadap Efisiensi Proses


Filtrasi
100
90
80
70
Efisiensi (%)

60
50
40
30
20
10
0
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11
Waktu (menit)

Gambar 1. Kurva hubungan waktu filtrasi dengan efisiensi proses filtrasi

Kurva Waktu Filtrasi terhadap pH air


6.5

6.45

6.4
pH

6.35

6.3

6.25

6.2
0 2 4 6 8 10 12
Waktu (menit)

Gambar 2. Kurva hubungan waktu filtrasi dengan perubahan pH


VI. PEMBAHASAN

Berdasarkan data yang diperoleh dari hasil percobaan praktikum filtrasi


yang dilakukan secara kontinyu bahwa air sungai sebelum proses filtrasi (influen)
memiliki nilai kekeruhan sebesar 35,69 NTU, kemudian setelah dilakukan proses
filtrasi nilai kekeruhan air sungai turun menjadi 4,74 NTU. Nilai ini telah
memenuhi standar baku mutu air bersih dan air minum yang dikeluarkan oleh
pemerintah dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 416 Tahun 1990 tentang
Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air.
Waktu optimum proses filtrasi menggunakan air sungai daerah Sarijadi
terjadi pada menit ke-4 dengan efisiensi proses sebesar 86,9% dan laju alir
volumetrik masuk dan keluar sebesar masing-masing 1,234 L/menit dan 1,181
L/menit. Capaian nilai efisiensi yang cukup tinggi dan waktu optimum yang
cukup cepat disebabkan oleh air baku yang digunakan memiliki parameter awal
dengan konsentrasi kekeruhan air yang rendah (35,69 NTU), hal ini menunjukkan
bahwa kadar padatan tersuspensinya juga rendah sehingga lubang pori dari media
filter tidak mengalami clogging.
Data menunjukkan bahwa nilai pH mengalami perubahan dari 6,25 menjadi
6,44 yang mendekati pH netral seiring dengan lamanya proses filtrasi. Hal ini
disebabkan oleh kandungan zat organik yang terkandung dalam air sungai
tereduksi oleh media filter yang digunakan. Selain ditinjau dari nilai kekeruhan
air, perubahan pH juga membuktikan bahwa kandungan padatan tersuspensi air
sungai berkurang setelah dilakukan proses filtrasi.
VII. KESIMPULAN

Proses filtrasi secara kontinyu menggunakan kolom filtrasi media ganda


berupa pasir kuarsa dan batu kerikil, dengan air baku berupa air sungai di daerah
Sarijadi dengan kekeruhan awal 35,69 NTU diperoleh hasil sebagai berikut:
1. Parameter kekeruhan air hasil filtrasi telah memenuhi syarat baku mutu
air bersih dan air minum dengan nilai sebesar 4,74 NTU.
2. Waktu optimum filtrasi diperoleh pada menit ke-4 dengan efisiensi
86,9%.
3. Proses filtrasi memiliki pengaruh terhadap perubahan pH namun tidak
signifikan dengan perubahan pH dari 6,25 menjadi 6,44.
DAFTAR PUSTAKA

Kementerian Kesehatan. 1990. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 416 Tahun 1990
tentang Syarat-syarat dan Pengawasan Kualitas Air. Sekretariat Jenderal
Kementerian Kesehatan. Jakarta.

Rahayu, E.S. 2015. “Jobsheet Praktikum Filtrasi Media Butiran”. Bandung:


Politeknik Negeri Bandung

Soeswanto, B. 2010. “Utilitas 1”. Bandung: Politeknik Negeri Bandung.

Sudarmono. 2010. “Penentuan Setting Level Optimal Media Penjernih Air


Terhadap Tingkat Kekeruhan dan Kandungan Fe dengan Metode Full
Factorial 22 dan Principal Component Analysis”. Teknik Industri UNS.
Surakarta.
LAMPIRAN

Gambar 3. Air sungai sebelum proses Gambar 4. Air setelah proses filtrasi
filtrasi.

Gambar 5. Turbidimeter
Gambar 6. pH meter
Gambar 7. Unit Kolom Filtrasi