Anda di halaman 1dari 5

PRAKTIKUM PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI

SEMESTER GANJIL TAHUN AJARAN 2018/2019

MODUL : Filtrasi
PEMBIMBING : Ir. Emma Hermawati, MT.

Oleh
Kelompok : VI

Nama : 1. Selina Afriani 161411054

2. Selly Cahyani 161411055

3. Servio Galih P 161411056

4. Shafira Suhadi P 161411057

Kelas : 3B TKI

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2018
I. TUJUAN
a. Mempelajari proses filtrasi pada pengolahan air baku.
b. Mengetahui pengaruh tingkat kekeruhan air baku pada proses filtrasi.
c. Menghitung efisiensi pada proses filtrasi .
d. Menentukan hubungan antara laju alir dengan efisiensi kekeruhan pada proses filtrasi.
e. Menentukan laju alir maksimum dan optimum pada proses filtrasi.
II. DASAR TEORI
Filtrasi merupakan proses pemisahan zat padat tersuspensi dari air secara fisik
dengan menggunakan filter. Filtrasi ditujukan untuk menurunkan kadar padatan
tersuspensi melalui penyaringan dengan filter. Proses tersebut dapat dilakukan dengan
metode alami atau metode bantuan dengan tekanan. Pada proses filtrasi, cairan (air)
akan keluar melalui filter sebagai filtrat, sedangkan sisa-sisa zat yang tertahan di
media filter disebut sebagai residu.
Media filter yang sering digunakan untuk menyaring umumnya adalah kerikil
dan pasir. Ada juga yang menggunakan karbon aktif untuk hasil yang lebih baik. Air
keruh yang dilewatkan pada media filter akan melalui proses mekanis dimana dalam
lapisan suatu saringan pasir yang terdapat rongga-rongga kecil akan membiarkan air
lewat dan partikel-partikel halus yang tidak dapat lolos dari rongga-rongga tersebut
akan tertahan. Rongga-rongga antara pasir tersebut akan berguna juga sebagai tempat
sedimentasi sehingga dapat mengendapkan partikel-partikel halus yang tidak akan
bias lolos lagi karena gaya adhesi dari pasir yang mengikat kotoran dan adanya gelatin
yang menyelimuti pasir karena bahan kimia atau bakteri dari dalam aliran.
Metode filtrasi pasir lambat menggunakan medium filter berupa pasir kecil
(0.15-0,35 mm) sehingga menyebabkan kecepatan filtrasi menjadi lambat (0,1-0,4
m/jam) dan memanfaatkan gaya gravitasi. Metode ini sering digunakan untuk air
dengan kekeruhan yang tidak banyak.

Gambar 1.1 Penyaringgayagravitasi


Kekeruhan pada air dapat disebabkan oleh bahan-bahan organic atau
anorganik yang tersuspensi atau yang terlarut dan mikroorganisme lain. Kekeruhan
dapat diukur dalam satuan turbiditas 1 mg/L SiO2. Pengukuran tersebut dilakukan
dengan metode Nephelometric dimana pada metode ini sumber cahaya yang
dilewatkan pada sampel cairan dan jumlah intensitas cahaya yang dipantulkan dari
pengotor diukur menggunakan suspense polimer formazin sebagai larutan standar
pengukuran tersebut. Satuan yang digunakan untuk mengukur kekeruhan dengan
metode tersebut adalah NTU (Nephelometric Turbidity Unit). Dari pengukuran
tersebut dapat diperoleh efisiensi dari proses filtrasi dengan pengukuran kekeruhan
sebelum filtrasi dan setelah filtrasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi pada
proses filtrasi diantaranya adalah debit fitrasi, konsentrasi kekeruhan, suhu dan
viskositas, serta ukuran, kedalaman, bahan dari media.
Debit aliran filtrasi tidak boleh terlalu besar karena akan menyebabkan proses
filtrasi tidak berjalan baik karena jika terlalu besar maka pengotor air yang akan
melewati rongga-rongga media filter akan mempunyai waktu kontak yang sedikit
dengan media filter sehingga kemungkinan pengotor yang lolos akan banyak.
Konsentrasi kekeruhan juga mempengaruhi proses filtrasi dimana semakin
pekat/banyak pengotor yang ada maka akan semakin banyak tersumbatnya rongga-
rongga media filter sehingga konsentrasi kekeruhan juga perlu diperhatikan sebagai
factor penting dalam proses filtrasi. Suhu dan viskositas berkaitan satu sama lain.
Faktor suhu akan mempengaruhi massa jenis, viskositas, dan daya tarik-menarik antar
partikel halus penyebab kekeruhan sehingga akan mempengaruhi ukuran partikel
halus pada proses penyaringan. Ukuran media akan menentukan lamanya penyaringan
dan daya saring. Semakin tebal media filter maka penyaringan akan lebih lama,
sebaliknya media filter yang tipis akan memerlukan waktu penyaringan yang sedikit.
Tinggi pendeknya media juga mempengaruhi debit aliran akibat faktor driving force.
Semakin tinggi posisi air di media maka daya tekan akan semakin besar menekan air
untuk masuk ke media filter.
Untuk standar air yang dapat digunakan kebutuhan sehari-hari, telah diatur
dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.32 Tahun 2017.
Tabel 1. Parameter Fisik dalam Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
untuk Media Air untuk Keperluan Higiene Sanitasi

No. Parameter Wajib Unit Standar Baku Mutu (Kadar Maksimum)


1 Kekeruhan NTU 25
2 Warna TCU 50
3 ZatPadatTerlarut (TDS) Mg/L 1000
4 Suhu °C Suhuudara ± 3
5 pH 6,5-8,5
6 Rasa Tidakberasa
7 Bau Tidakberbau

III. ALAT DAN BAHAN


Tabel 3.1 Alat yang digunakan
Nama Alat Spesifikasi Jumlah

Unit kolom filter 1 set


Turbiditimeter 1 set
Gelas ukur 1000 ml 1 buah
Stopwatch 1 buah
Beker glass 250 ml 1 buah
Batang pengaduk 1 buah
Beker plastik 2L 2 buah
Botol plastik (untuk sampling) 20 buah
Kertas saring 2 lembar
pH meter 1 buah
Neraca 1 set

Tabel 3.2 Bahan yang digunakan


Nama Bahan Jumlah

Air kran Bentonit 20 L

10 gram
IV. PROSEDUR KERJA

Pencampuran air dengan bentonit (Pembuatan air baku)

Pengadukan air baku hingga homogen

Memasukkan air baku ke bak filtrasi

Mengukur nilai kekeruhan, pH, dan TSS air baku

Mengambil sampel setiap 10 menit sebanyak 8 kali

Mengukur nilai kekeruhan dan pH sampel

Mengukur TSS air baku hasil filtrasi