Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH FARMAKOFOOD

PANGAN UNTUK PENYAKIT KANKER

Disusun oleh kelompok 8 :


Nadya Sri Patimah 0661 15 021
Mia Zami’atu Latifah 0661 17 057
Ervi Kustiana 0661 17 254
Afifah Marissa Arlindini 0661 17 316
Zahara Younda Usman 0661 17 327

DosenPembimbing :
Cantika Zaddana , S.GZ, M.Si

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PAKUAN
BOGOR
2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kanker bukanlah suatu penyakit yang ringan. Langkah awal dalam pengobatan penyakit
kanker adalah deteksi dengan benar bahwa gejala yang muncul pada tubuh pasien adalah benar-
benar sel kanker ganas. Deteksi ini bisa dilakukan dengan pemeriksaan biopsy, sehingga langkah
pengobatan bisa dilakukan secara cepat dan tepat. Langkah berikutnya adalah terapi pengobatan
dengan cara konvensional. Namun pada kenyataannya pengobatan dengan cara ini sering kali
kanker belum bisa diatasi secara total.
Jumlah penderita penyakit kanker di Indonesia belum diketahui secara pasti, tetapi
peningkatan dari tahun ke tahun dapat dibuktikan sebagai salah satu penyebab kematian. Hanya
beberapa penyakit kanker yang dapat diobati secara memuaskan, terutama jika diobati saat masih
stadium dini. Keberhasilan pengobatan sangat ditentukan oleh jenis kanker, stadium kanker,
keadaan umum penderita, dan usaha penderita untuk sembuh.
istilah lain dari kanker adalah NEOPLANSIA, yaitu adanya pembuluh darah baru. Neoplansia
terjadi apabila sel-sel didalam jaringan atau organ berkembang secara tidak terkendali sebagai
mana yang seharusnya terjadi pada pertumbuhan normal. Pada neoplansia yang ganas sel-sel
dapat berkembang menyebar kejaringan jaringan di sekitarnya secara langsung atau ke organ lain
yang letaknya berjauhan, melalui pembuluh darah ataupun limpa sehingga terjadi penyebaran
sel-sel ganas atau mestatase. Pada neoplansia tidak ganas biasanya menimbulkan gejala
terjadinya pembekakan dan adanya penekanan terhadap jaringan lain.
Selanjutnya beberapa tumo tidak ganas cemdrung untuk dapat menjadi ganas. Neoplansia yang
terjadi pada jaringan epitel disebut juga Carsinoma dan pada jaringan disebut Sercoma. Sel-sel
abnormal yang berkembang dalam darah atau sumsum tulang disebut leukimia. Penyebab
terjadinya Neoplasia secara pasti masih sulit untuk di buktikan. Beberapa penelitian menunjukan
bahwa terdapat hubungan yang erat antara gizi dan kanker. Berdasarkan atas keterkaitannya
dengan kanker, gizi dibedakan atas tiga sifat,yaitu Causing. cancer , Promoting cancer, dan
Protective cancer.
BAB II

PEMBAHASAN

1. KANKER

⃘ Penyebab terjadinya Kanker

Penyebab kanker biasanya tidak dapat diketahui secara pasti karena penyebab kanker dapat
merupakan gabungan dari sekumpulan faktor, genetik dan lingkungan. Namun ada beberapa
faktor yang diduga meningkatkan resiko terjadinya kanker, sebagai berikut :
Faktorketurunan
Faktor genetik menyebabkan beberapa keluarga memiliki resiko lebih tinggi untuk menderita
kanker tertentu bila dibandingkan dengan keluarga lainnya. Jenis kanker yang cenderung
diturunkan dalam keluarga adalah kanker payudara, kanker indung telur, kanker kulit dan kanker
usus besar. Sebagai contoh, risiko wanita untuk menderita kanker meningkat 1,5 s/d 3 kali jika
ibunya atau saudara perempuannya menderita kanker payudara.
Faktor Lingkungan
-Merokok sigaret meningkatkan resiko terjadinya kanker paru – paru, mulut, laring (pita suara),
dan kandung kemih.
– Sinar Ultraviolet dari matahari
– Radiasi ionisasi (yang merupakan karsinogenik) digunakan dalam sinar rontgen dihasilkan dari
pembangkit listrik tenaga nuklir dan ledakan bom atom yang bisa menjangkau jarak yang sangat
jauh. Contoh, orang yang selamat dari bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada Perang Dunia
II, berisiko tinggi menderita kanker sel darah, seperti Leukemia.
Faktor Makanan yang mengandung bahan kimia.
Makanan juga dapat menjadi faktor risiko penting lain penyebab kanker, terutama kanker pada
saluran pencernaan. Contoh jenis makanan yang dapat menyebabkan kanker adalah :
– Makanan yang diasap dan diasamkan (dalam bentuk acar) meningkatkan resiko terjadinya
kanker lambung
– Minuman yang mengandung alkohol menyebabkan berisiko lebih tinggi terhadap kanker
kerongkongan.
–Zatpewarnamakanan
– Logam berat seperti merkuri yang sering terdapat pada makanan laut yang tercemar seperti:
kerang,ikan,dsb.
– Berbagai makanan (manis,tepung) yang diproses secara berlebihan.
Virus
Virus yang dapat dan dicurigai menyebabkan kanker antara lain :
– Virus Papilloma menyebabkan kutil alat kelamin (genitalis) agaknya merupakan salah satu
penyebab kanker leher rahim pada wanita.
– Virus Sitomegalo menyebabkan Sarkoma Kaposi (kanker sistem pembuluh darah yang ditandai
oleh lesi kulit berwarna merah)
–Virus Hepatitis B dapat menyebabkan kanker hati.
– Virus Epstein – Bar (di Afrika) menyebabkan Limfoma Burkitt, sedangkan di China virus ini
menyebabkan kanker hidung dan tenggorokan. Ini terjadi karena faktor lingkungan dan genetik.
– Virus Retro pada manusia misalnya virus HIV menyebabkan limfoma dan kanker darah
lainnya.
Infeksi
– Parasit Schistosoma (bilharzia) dapat menyebabkan kanker kandung kemih karena terjadinya
iritasi menahun pada kandung kemih. Namun penyebab iritasi menahun lainnya tidak
menyebabkankanker.
– Infeksi oleh Clonorchis yang menyebabkan kanker pankreas dan saluran empedu.
– Helicobacter Pylori adalah suatu bakteri yang mungkin merupakan penyebab kanker lambung,
dan diduga bakteri ini menyebabkan cedera dan peradangan lambung kronis sehingga terjadi
peningkatan kecepatan siklus sel.
Faktor Prilaku
– Perilaku yang dimaksud adalah merokok dan mengkonsumsi makanan yang banyak
mengandung lemak dan daging yang diawetkan juga peminum minuman beralkohol.
– Perilaku seksual yaitu melakukan hubungan intim diusia dini dan sering berganti ganti
pasangan.
Gangguan Keseimbangan Hormonal
-Hormon estrogen berfungsi merangsang pertumbuhan sel yang cenderung mendorong terjadinya
kanker, sedangkan progesteron melindungi terjadinya pertumbuhan sel yang berlebihan. Ada
kecenderungan bahwa kelebihan hormon estrogen dan kekurangan progesteron menyebabkan
meningkatnya risiko kanker payudara, kanker leher rahim, kanker rahim dan kanker prostat dan
buah zakar pada pria.
Faktor kejiwaan, emosional
– Stres yang berat dapat menyebabkan ganggguan keseimbangan seluler tubuh. Keadaan tegang
yang terus menerus dapat mempengaruhi sel, dimana sel jadi hiperaktif dan berubah sifat
menjadi ganas sehingga menyebabkan kanker.
Radikal bebas
Radikal bebas adalah suatu atom, gugus atom, atau molekul yang mempunyai electron bebas
yang tidak berpasangan dilingkaran luarnya. Sumber – sumber radikal bebas yaitu :
1. Radikal bebas terbentuk sebagai produk sampingan dari proses metabolisme.
2. Radikal bebas masuk ke dalam tubuh dalam bentuk racun-racun kimiawi dari makanan ,
minuman, udara yang terpolusi, dan sinar ultraviolet dari matahari.
3. Radikal bebas diproduksi secara berlebihan pada waktu kita makan berlebihan (berdampak
pada proses metabolisme) atau bila kita dalam keadaan stress berlebihan, baik stress secara fisik,
psikologis,maupun biologis.
Kanker
Salah satu zat gizi yang berkaitan dengan penyebab terjadinya kanker adalah Lemak. Konsumsi
lemak yang berlebih dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker. Hal ini disebabkan lemak
bersifat Cancer Promoting. Adanya lemak dalam tubuh membuat zat yang bersifat karsinogenik,
zat yang membentuk terjadinya kanker, berkembang. Beberapa cara zat gizi lemak menjadi
penunjang timbulnya kanker, diaritaranya adalah :
• Sebagai penyebab : tubuh mengeluarkan hormon tertentu secara berlebihan, diantaranya sekresi
hormon esterogen yang berlebih meriunjang tumbuhnya kanker payudara.
• Sebagaipenyebab:sekresi cairan empedu yang berlebih menuju usus yang selanjutnya oleh
mikroorganisma di kolon di ubah menjadi zat karsinogenik.
Asam lemak Poliunsaturated ( PUFA) yang mengalami proses hidrogenasi akan membentuk
asam lemak Trans ( Trans - fatty acid) yang cenderung menunjang timbulnya kanker dan
merangsang pembentukan kolesterol.
Konsumsi alkohol dan merokok secara berlebihan dapat menimbulkan kanker di daerah kepala
dan leher. Konsumsi alkohol berlebihan dapat menyebabkan kanker mulut, kanker tenggorokan,
dan kanker hati.
Faktor Intake 1'utriai Berlebihan yang mempunyai Resiko Tinggi Terjadinya Kanker.
Kancer oral : alkohol, tembakau, rendah beta caroten, rendah vitamin E
Kanker Payudara dan Prostat : tinggi lemak, tinggi kalori,
rendah omega 3
Kanker Saluran Pencernaan : nitrosamin, alkohol, As.amino pyrosalates pada daging dan ikan
yang dipanggang, rendah karoten, rendah vitamin C, dan vitamin E
Kanker Hati : aflatoksin
Kanker Saluran Pemafasan : merokok,alkohol, rendah vitamin C dan vitamin E
Kanker Cervicaz : rendah vit. C, vit. E dan beta karotin
Kanker Ovarium : makanan berlemak, digoreng, dan telur.
Kanker Kolorektal : tinggi protein hewani,alkohol, tinggi kalori, rendah vit. C dan vit. D,rendah
kalsium, rendah konsumsi karotin dan serat.
Melanoma : rendah vit. 86 dan karotinoid
Carcinogenalami: Radiasi ultra violet, obat celup, zat kimiawi (asap,penambangan), virus,
nitrosamin, aflatoxin, saffrole.
Sfek Pengobatan Kanker Terhadap Maaukan kt<Hzl
Pengobatan yang dilakukan pada penderita kanker umumnya adalah melalui terapi radiasi,
operasi, dan kemoterapi. Pengobatan tersebut mempunyai efek . menghambat masukan zat-zat
gizi yang penting ba8i tubuh. Pada pasien kanker dalam kurun waktu tertentu akan mengalami
penurunan status gizi atau akan mengalami Cachexia, ( lihat gambar 1 ) yang mana pasien
menjadi sangat kurus, lemah,dan kurang gizi.
PENCEGAHAN KANKER
Sebagian besar jenis kanker dapat dicegah dengan kebiasaan hidup sehat sejak usia muda dan
menghindari faktor-faktor penyebab kanker.
1. Mengenai makanan:
▫ Mengurangi makanan berlemak yang berlebihan
▫ Lebih banyak makan makanan berserat.
▫ Lebih banyak makan sayur-sayuran berwarna serta buah-buahan, beberapa kali
sehari
▫ Lebih banyak makan makanan segar
▫ Mengurangi makanan yang telah diawetkan atau disimpan terlalu lama
▫ Membatasi minuman alkohol
2. Hindari diri dari penyakit akibat hubungan seksual
3. Hindari kebiasaan merokok. Bagi perokok: berhenti merokok.
4. Upayakan kehidupan seimbang dan hindari stress
5. Periksakan kesehatan secara berkala dan teratur.

Terapi Diet Penderita Kanker


Penurunan berat badan yang terjadi terus menerus pada pasien kanker disebabkan oleh adanya
penurunan intake energi ataupun peningkatan pengeluaran energi (karena tumor ) serta
perubahan metabolisme protein dalam tubuh. Produksi insulin pada pasien kanker akan menurun.
Rendahnya produksi insulin tubuh selanjutnya dapat menyebabkan meningkatnya
kadar glukosa darah. Tingginya kadar glukosa darah selanjutnya dapat menyebabkan
menurunnya nafsu makan pasien. Oleh sebab itu makan pagi merupakan waktu makan yang tepat
dibandingkan waktu makan lainnya karena pagi hari keadaan kadar glukosa darah adalah yang
terendah. Toleransi kadar glukosa juga mempengaruhi fungsi gastrointestinal, .karena
kadar glukosa darah yang tinggi dapat memperlambat gerakan peristaltik di lambung. Hal ini
selanjutnya dapat menyebabkan pasien kanker merasa cepat kenyang dan tidak nafsu makan.
Peningkatan pemecahan protein otot pada pasien kanker dapat menyebabkan kehilangan asam
amino tubuh, dan selanjutnya menyebabkan tuhuh menjadi lemah. Untuk menunjang
keberhasilan pengobatan kanker perlu adanya dukungan nutrisi yang optimal dengan
memperhatikan kebutuhan zat gizi dan tujuan pemberian zat gizi pasien kanker. Tujuan
pemberian diet pasien kanker diantaranya adalah
1. Mencegah terjadinya penurunan berat badan (jangka pendek).
2. Mencapai dan memelihara berat badan normal (jangka panjang ).
3. Mengganti zat gizi yang hilang karena efek pengobatan.
4. Memenuhi kebutuhan kalori, protein, KH, L, Vitamin dan mineral yang seimbang untuk
mencegah Mencegah terjadinya terjadinya mlnutrisi.
5. infeksi dan komplikasi lebih lanjut
6. Memenuhi kebutuhan mikronutrien.
7. Menjaga keseimbangan kadar glukosa darah

Dietyang dianjurkan :
• tinggi protein : 1,5 - 2,0 g /kg BB untukmengganti kehilangan berat badan,
• tinggi kalori : 25 - 35 kcal/ kg BB,dan 40 – 50 kcal/ kg BB untuk mengganti simpanan dalam
tubuh bila pasien berat badan kurang. Bila terjadi infeksi perlu tambahan kalori sesuai dengan
keadaan infeksi.
• lemak :25 o/o NPC1
• makanan sebaiknya diberikan lebih banyak pada pagi hari. Diberikan porsi kecil dan sering.
Makanan formula sonde dapat diberikan sesuai dengan kondisi pasien. Bila kehilangan berat
badan mencapai lebih dari 20 °/o dapat
diberikan ·Total Parenteral Nutrition (TPN), sesuai dengan kondisi pasien,
• bila perlu dapat diberikan suplemen vitamin B kompleks ( vitamin 86, Asam pantotenik 1 asam
folat, dll) vitamin A, dan vitamin C
• syarat terapi diet secara khusus bervariasi sesuai dengan kondisi pasien dan penyakit.

2. PANGAN FUNGSIONAL
Pengertian Pangan Fungsional
Menurut konsensus pada The First International Conference on East-West
Perspective on Functional Foods tahun 1996, pangan fungsional adalah pangan yang
karena kandungan komponen aktifnya dapat memberikan manfaat bagi kesehatan, di luar
manfaat yang diberikan oleh zat-zat gizi yang terkandung di dalamnya.
Definisi pangan fungsional menurut Badan POM adalah pangan yang secara alamiah
maupun telah melalui proses, mengandung satu atau lebih senyawa yang berdasarkan
kajian-kajian ilmiah dianggap mempunyai fungsi-fungsi fisiologis tertentu yang
bermanfaat bagi kesehatan. Serta dikonsumsi sebagaimana layaknya makanan atau
minuman, mempunyai karakteristik sensori berupa penampakan, warna, tekstur dan cita
rasa yang dapat diterima oleh konsumen. Selain tidak memberikan kontraindikasi dan tidak
memberi efek samping pada jumlah penggunaan yang dianjurkan terhadap metabolisme zat
gizi lainnya. Pangan fungsional merupakan makanan yang bermanfaat bagi kesehatan di
luar nutrisi dasar atau bermanfaat bagi kesehatan di luar zat gizi yang tersedia. Pangan
fungsional yang diperkaya dengan vitamin, serat, dan asam lemak atau makanan yang
didesain rendah Na dan lemak, dapat dimanfaatkan oleh konsumen untuk meningkatkan
status gizi mereka.
Makanan dapat dianggap sebagai makanan fungsional jika memuaskan ditujukan
untuk mempengaruhi menguntungkan satu atau lebih fungsi target dalam tubuh, di luar
efek gizi yang memadai, dengan cara yang relevan dengan baik keadaan peningkatan
kesehatan dan kesejahteraan dan atau pengurangan dari risiko penyakit.

Fungsi Pangan Fungsional


Pangan/makanan fungsional memiliki tiga fungsi yaitu fungsi nutritional (primer),
artinya makanan tersebut dapat memenuhi kebutuhan gizi (karbohidrat, protein, lemak,
vitamin dan mineral); fungsi sensoris (sekunder) artinya makanan tersebut dapat diterima
oleh konsumen secara sensoris dan fungsi fisiologi (tersier) artinya makanan tersebut
memiliki fungsi untuk menjaga kesehatan, mengurangi terjadinya suatu penyakit dan
menjaga metabolisme tubuh.
Meskipun mengandung senyawa yang bermanfaat bagi kesehatan, pangan fungsional
tidak berbentuk kapsul, tablet, atau bubuk yang berasal dari senyawa alami. Pangan
fungsional dibedakan dari suplemen makanan dan obat berdasarkan penampakan dan
pengaruhnya terhadap kesehatan. Kalau obat fungsinya terhadap penyakit bersifat kuratif,
maka pangan fungsional hanya bersifat membantu pencegahan suatu penyakit. Dari konsep
yang telah dikembangkan oleh para ilmuwan, jelaslah bahwa pangan fungsional tidak sama
dengan food supplement atau obat. Pangan fungsional dapat dikonsumsi tanpa dosis
tertentu, dapat dinikmati sebagaimana makanan pada umumnya, serta lezat dan bergizi.
Jadi makanan fungsional dikonsumsi bukan berupa obat (serbuk) tetapi dikonsumsi
berbentuk makanan.

Klasifikasi Pangan Fungsional


Golongan senyawa yang dianggap mempunyai fungsi-fungsi fisiologis tertentu di
dalam pangan fungsional adalah senyawa-senyawa alami di luar zat gizi dasar yang
terkandung dalam pangan yang bersangkutan. Menurut BPOM RI, yang termasuk
komponen pangan fungsional adalah sebagai berikut: vitamin; mineral; gula alkohol; asam
lemak tidak jenuh; peptida dan protein tertentu; asam amino; serat pangan; prebiotik dan
probiotik; kolin, lesitin dan inositol; karnitin dan skualen; isoflavon; fitosterol dan
fitostanol; polifenol dan komponen fungsional lain yang akan ditetapkan kemudian.
Berdasarkan komponen aktif yang terdapat dalam makanan fungsional, maka dapat
dikelompokkan sebagai berikut;
1. Makanan fungsional yang bersifat utuh, yaitu mengandung komponen aktif yang
secara alami ada dalam bahan pangan. Contoh komponen aktif alamiah dalam bahan
pangan tersebut adalah;
a. nerodiol dan linalool pada teh hijau yang berperan untuk mencegah karies gigi
dan mencegah kanker.
b. komponen sulfur pada bawang-bawangan yang berfungsi untuk mencegah
agregasi platelet dan menurunkan kadar kolesterol
c. kurkumin pada rimpang kunyit dan l-tumeron pada rimpang temulawak yang
berkhasiat untuk pengobatan berbagai penyakit
d. daidzein dan genestein pada tempe yang berperan untuk menurunkan
kolesterol dan mencegah kanker.
e. serat pangan (dietary fiber) dari berbagai sayuran, buah-buahan, serealia, dan
kacang-kacangan yang berperan untuk pencegahan timbulnya berbagai
penyakit yang berkaitan dengan proses pencernaan
2. Makanan fungsional yang diperkaya, yaitu yang ditambahkan komponen zat gizi
dalam bahan makanan. Contoh komponen aktif yang ditambahkan dalam makanan
fungsional, diantaranya adalah:
a. vitamin A, vitamin E, beta-karoten, flavonoid, selenium, dan seng (zinc) yang
telah diketahui peranannya sebagai antioksidan untuk mengatasi serangan
radikal bebas yang menjurus kepada timbulnya berbagai penyakit kanker.
b. asam lemak omega-3 dari minyak ikan laut untuk menurunkan kolesterol dan
meningkatkan kecerdasan otak, terutama pada bayi dan anak balita
c. kalsium untuk menjaga kesehatan tulang dan gigi, mencegah osteoporosis
(kerapuhan tulang) dan tekanan darah tinggi
d. asam folat untuk mencegah anemia dan kerusakan syarat
e. zat besi untuk mencegah anemia gizi
f. iodium untuk mencegah gondok dan kretinisme
g. oligosakarida untuk membantu pertumbuhan mikroflora yang dibutuhkan usus
3. Makanan fungsional yang ditingkatkan fungsinya yaitu memiliki komponen aktif yang
keberadaaannya dalam bahan pangan akibat proses pengolahan. Contoh komponen
aktif yang keberadaannya dalam bahan pangan akibat proses pengolahan adalah zatzat tertentu
pada produk fermentasi susu (yoghurt, yakult, kefir), fermentasi kedelai,
dan lain-lain.

Penelitian Ilmiah tentang Pangan Fungsional dan Kesehatan


Sifat fungsional dalam makanan fungsional disebabkan oleh adanya komponen bioaktif yang
terdapat dalam bahan nabati ataupun bahan hewani pada makanan. Beberapa penelitian
membuktikan adanya pengaruh komponen bioaktif terhadap kesehatan, diantaranya adalah
sebagai berikut:
1. Serat pangan (dietary fiber) dan pati resisten (resistant starch).
Serat pangan adalah bagian tumbuhan yang dapat dimakan atau analog dengan
karbohidrat, yang tahan terhadap pencernaan dan absorpsi di dalam usus halus manusia
dan mengalami fermentasi sebagian atau seluruhnya di dalam usus besar. Serat pangan
meliputi polisakarida, karbohidrat analog, oligosakarida, lignin, dan bahan yang terkait
dengan dinding sel tanaman (waxes, cutin, suberin). Sifat fungsional serat pangan muncul
karena efek fisiologis yang ditimbulkan. Efek fisiologis berkaitan dengan sifat fisik dan
kimia serat pangan dan fraksi-fraksinya. Efek fisiologis serat pangan yang berkaitan
dengan sifat fisik dan kimia meliputi: viskositas, fermentabilitas, kapasitas pengikatan air,
absorpsi molekul organik dan sifat penukar ion.
Efek kesehatan dari makanan fungsional sumber serat dan pati resisten sangat
berhubungan erat dengan efek fisiologis serat pangan. Serat pangan memberikan viskositas
yang tinggi pada digesta. Sifat ini dapat mengurangi absorpsi glukosa dan kolesterol,
sehingga konsumsi serat pangan yang tinggi dapat mencegah diabetes maupun hyperkolesterol.
Dengan demikian jelas bahwa serat pangan dapat mencegah diabetes type II, mencegah
hyperkolesterolemia serta menyehatkan kolon (mencegah kontipasi, divertikulosis dan kanker
kolon). Pangan sumber serat pangan antara lain bekatul, sayur, buah, serealia, dan rumput laut.
Beberapa penelitian tentang pangan fungsional menunjukkan bahwa ekstrak serat
pangan ubi jalar dapat meningkatkan bakteri asam laktat, bifidobacteria dan lactobacilli
yang dapat mencegah diare akibat Salmonela typhimurium. Pada penelitian yang sejenis,
menunjukkan bahwa pati kayu serat ubi jalar dapat meningkatkan respon immun mucosa
pada anak balita.
2. Inulin dan FOS (Fruktooligosakarida)
Inulin merupakan oligosakarida yang mengandung fruktosa (=fruktan) yang
berasal/terdapat dalam tanaman. Frukto oligo sakarida (FOS) adalah oligosakarida
mengandung 2-10 unit fruktose, dihubungkan dengan ikatan glikosidik. Inulin dan FOS
tidak dicerna dalam usus halus, sehingga nilai kalorinya rendah dan difermentasi oleh
mikroflora di dalam kolon serta menstimulir bifidobacteria..
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penambahan oligofruktosa dalam diet
dapat meningkatkan kesehatan usus besar. Karena alasan manfaat kesehatan tersebut
oligofruktosa atau inulin sekarang banyak diperdagangkan sebagai suplemen makanan,
sebagai prebiotik dan promotor aktivitas bakteri bifido (bifidobacteria) dengan berbagai
nama dagang. Efek kesehatan inulin dan FOS antara lain: mengurangi konstipasi,
menambah frekuensi ke belakang, melunakan feses, menaikkan kadar air feses,
meningkatkan bifidobakteri, laktobasili serta menurunkan Enterobakteri & Clostridium
perfringen. Inulin dan FOS banyak terdapat dalam : bawang merah, bawang putih, pisang
dan asparagus.
3. Senyawa antioksidan
Antioksidan dibedakan menjadi dua macam,yaitu antioksidan dalam sistem pangan
dan antioksidan dalam sistem biologis. Meskipun secara prinsip keduanya sama yaitu suatu
senyawa yang dapat mencegah proses oksidasi, tetapi terkait dengan makanan fungsional,
antioksi dan yang dimaksud adalah antioksidan dalam sistem biologis. Secara umum
antioksidan dalam sistem biologis didefinisikan sebagai suatu senyawa yang dapat
melindungi sel tubuh dari kerusakan sebagai akibat proses oksidasi. Jadi secara prinsip
sebenarnya di dalam tubuh kita terjadi oksidasi, yang pada tingkat tertentu mengakibatkan
gangguan kesehatan.
Adanya antikosidan dalam makanan yang kita konsumsi dapat membantu mengatasi
kemungkinan oksidasi tersebut. Antioksidan tersebut dapat diperoleh dengan sintesis atau
secara alamiah yaitu pada berbagai bahan pangan kaya antioksidan. Makanan fungsional
yang didalamnya terkandung antioksidan yang cukup, dapat membantu meningkatkan
pertahanan tubuh. Banyak jenis antioksidan alami terdapat di berbagai bahan pangan,
antara lain kelompok carotenoid, flavonoid dan phenolic.
Ada beberapa macam karotenoid, terdapat pada bahan pangan misalnya wortel, labu
kuning, ketela rambat (betakarotene), jeruk, telur, jagung (lutein, zeaxantine), serta tomat,
semangka dan anggur (lycopene). Antioksidan kelompok karotenoid diklaim memiliki efek
menyehatkan antara lain: dapat menetralkan radikal bebas yaitu suatu senyawa yang dapat
merusak sel dan mengakibatkan timbulnya penyakit kanker; meningkatkan pertahanan
oksidasi; membantu menyehatkan mata; membantu meningkatkan kesehatan prostat, serta
membantu mencegah timbulnya penyakit jantung.
Antioksidan kelompok flavonoids antara lain berupa senyawa-senyawa anthocyanin,
flavanols, flavonones, flavonols serta proanthocyanidin. Jenis antioksidan ini banyak
terdapat pada buah-buahan (berry, cerry, anggur dan apel), teh, cacao, coklat, bawang
merah, brokoli dan kacang tanah. Isoflavon (daidzein,genistein) banyak terdapat di dalam
kedelai dapat membantu mempertahankan kesehatan tulang dan otak serta meningkatkan
kekebalan.
Vitamin C dan vitamin E merupakan dua jenis vitamin antioksidan yang terdapat
banyak pada buah-buahan dan biji-bijian sangat bagus untuk menetralkan radikal bebas,
meningkatkan kesehatan tulang dan jantung serta meningkatkan kekebalan tubuh. Vitamin
E memiliki fungsi antioksidan yang signifikan pada membrane sel dan lipoprotein. Banyak
penelitian membuktikan bahwa vitamin E membantu menurunkan resiko penyakit jantung
koroner, kanker dan penyakit kronik lainnya. Penelitian pada pasta alami yang diperkaya
dengan isoflavone aglycons dari bahan pangan kedelai, terbukti dapat menurunkan serum
lipid dan mengurangi resiko penyakit cardiovaskuler.
4. PUFA (polyunsaturated fatty acids) dan CLA (Conjugated linoleic acids)
PUFA dan CLA merupakan komponen bioaktif yang banyak terdapat pada bahan
pangan hewani. PUFA khususnya asam lemak Omega 3, banyak terdapat dalam salmon,
tuna dan beberapa hewan laut lainya, berpotensi untuk merungurangi resiko penyakit
jantung koroner, dan membantu memperbaiki kesehatan mental dan fungsi penglihatan.
Sedangkan CLA banyak terdapat dalam daging domba dan sapi serta keju, dapat
meningkatkan fungsi kekebalan tubuh, menekan pertumbuhan tumor lambung.
Ikan merupakan hewan yang mempunyai nutrisi tinggi dan dikenal sebagai sumber
protein, lemak dengan omega 3 yang bermanfaat untuk menurunkan resiko cardiovascular
disease. Beberapa penelitian menunjukkan komponen bioaktif yang terdapat dalam ikan
dan fungsinya terhadap kesehatan. Ikan mengandung senyawa fungsional yang bermanfaat
bagi kesehatan. Senyawa fungsional dari ikan telah banyak dimanfaatkan pada produk
pangan fungsional termasuk makanan dan minuman. Selain itu, juga dimanfaatkan dalam
produksi budidaya ikan dan pemeliharaan hewan ternak untuk meningkatkan sifat
fungsional produknya. Beberapa tahun mendatang, pemanfaatan senyawa fungsional dari
ikan pada produk pangan akan semakin meningkat menyusul peluang pasar pangan
fungsional menjanjikan di tahun–tahun mendatang.
5. Prebiotik dan Probiotik
Probiotik adalah suplemen makanan berupa mikroba hidup yang dapat
menguntungkan inangnya dan meningkatkan keseimbangan mikroba usus. Mikroba itu
harus hidup pada saat dikonsumsi dan sampai ke usus halus. Genera yang paling banyak
digunakan adalah Lactobacili dan Bifidobacteria. Kedua genus ini dikonsumsi pada
makanan fermentasi seperti sayuran, yogurt, daging dan minuman berbasis susu. Fungsi
probiotik adalah memperbaiki sistem pertahanan usus baik dengan efek barier langsung
ataupun melalui pengaturan imunitas sehingga kriteria untuk probiotik adalah kemampuan
untuk berkoloni walaupun sementara pada usus, terutama pada saluran pencernaan bagian
atas seperti usus halus dan lambung dengan efek barier yang lebih kuat melawan
patogen atau menjaga kekebalan. Jika ini tercapai pencegahan infeksi saluran pencernaan
atau malah terapi untuk penyakit infeksi kronis atau kondisi radang menjadi
memungkinkan dengan probiotik.
Prebiotik didefinisikan sebagai suatu bahan makanan yang tidak dapat dicerna
yang memberikan manfaat positif bagi tubuh karena secara selektif menstimulir
pertumbuhan dan aktivitas bakteri baik dalam usus besar. Prebiotik pada umumnya
merupakan karbohidrat yang tidak dapat dicerna, namun memiliki pengaruh baik
terhadap ekosistem mikroflora probiotik dalam usus sehingga dapat memberikan efek
kesehatan pada manusia dan binatang. Di dalam usus besar, bahan prebiotik akan
difermentasi oleh bakteri probiotik terutama Bifidobacetria dan Lactobacillus yang
memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh dengan cara menjaga kesetimbagan mikrobiota
pada saluran pencernaan.

Beberapa penelitian menunjukkan adanya pengaruh pangan fungsional terhadap


kesehatan, diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Oil Palm Phenolics and Vitamin E Reduce Atherosclerosis in Rabbits.
Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui efek protektif dari oil palm vit E dan
phenolic terhadap atherosclerosis pada kelinci. Penelitian dilakukan dengan
pemberian oil palm vit E dan phenolic secara single dan kombinasi. Hasil penelitian
membuktikan bahwa kombinasi oil palm phenolic dan vitamin E memiliki efek
protective yang tinggi pada perkembangan lesi atherosclerosis.
b. Development of Functional Food Products in Relation to Obesity
Pada penelitian ini kompenen bioaktif bahan pangan yang diteliti adalah low
glichemic-index carbohidrat; 5-hydrxytryptophan, green tea exrtact dan chromium.
Hasil penelitian membuktikan bahwa komponen bioaktif pangan fungsional tersebut
mempengaruhi penurunan berat badan.
c. In Vivo Anti-Carcinogenic Property of A Formulated Citrus Peel Extract.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak citrus peel yang mengandung
flavonoid, dengan prosentase polymethoxylflavones (PMFs) yang tinggi dapat
melindungi dari kanker kulit, kanker kolon dan kanker prostat pada mencit.
d. Asupan mikronutrien Zinc dan Vit. A dapat meningkatkan respon immun.
Sansteid et al, 2008, Asupan mikronutrien Zinc dapat meningkatkan respon immun.
Wieringa et al, 2004. Asupan mikronutrien Vitamin A dapat meningkatkan respon
immun. Respon imun yang adekuat diperlukan untuk mencegah perkembangan
penyakit pada orang yang telah terpapar.
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan
Penyakit kanker adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel jaringan
tubuh yang tidak normal. Sel-sel kanker akan berkembang dengan cepat, tidak terkendali, dan
akan terus membelah diri. Kanker dapat terjadi diberbagai jaringan dalam berbagai organ di
setiap tubuh, mulai dari kaki sampai kepala. Bila kanker terjadi di bagian permukaan tubuh, akan
mudah diketahui dan diobati. Namun bila terjadi didalam tubuh, kanker itu akan sulit diketahui
dan kadang – kadang tidak memiliki gejala. Kalaupun timbul gejala, biasanya sudah stadium
lanjut sehingga sulit diobati.
Penyebab kanker biasanya tidak dapat diketahui secara pasti karena penyebab kanker dapat
merupakan gabungan dari sekumpulan faktor, genetik dan lingkungan, namun ada beberapa
faktor yang diduga dapat meningkatkan pertumbuhan kanker, yakni faktor keturunan, faktor
lingkungan, faktor makanan yang mengandung bahan kimia, infeksi, virus, faktor perilaku,
gangguan keseimbangan hormonal, faktor kejiwaan dan emosional, radikal bebas.
Untuk pencegahan kanker dapat di lakukan hal-hal dasar seperti tidak merokok, menghindari
makanan tinggi lemak, menambah makanan tinggi serat seperti sayuran dan buah, hidup akif
fisik, mengupayakan berat badan yang ideal, dan hidup dengan pola sehat.
Seiring dengan makin meningkatnya kesadaran pangan masyarakat akan pentingnya
hidup sehat, maka tuntutan konsumen terhadap bahan pangan juga semakin bergeser.
Dasar pertimbangan konsumen di negara-negara maju dalam memilih bahan pangan,
bukan hanya bertumpu pada kandungan gizi dan kelezatannya, tetapi juga pengaruhnya
terhadap kesehatan tubuhnya. Saat ini pangan telah diandalkan sebagai pemelihara
kesehatan dan kebugaran tubuh. Bahkan bila dimungkinkan, pangan harus dapat
menyembuhkan atau menghilangkan efek negatif dari penyakit tertentu. Kenyataan
tersebut menuntut suatu bahan pangan tidak lagi sekadar memenuhi kebutuhan dasar tubuh
(yaitu bergizi dan lezat), tetapi juga dapat bersifat fungsional. Dari sinilah lahir konsep
pangan fungsional, yang akhir-akhir ini sangat populer di kalangan masyarakat dunia.
Kepopuleran tersebut ditunjang oleh suatu keyakinan bahwa di dalam pangan fungsional
terkandung gizi-gizi dan zat-zat non gizi yang sangat penting khasiatnya untuk kesehatan
dan kebugaran tubuh.
Fenomena pangan fungsional telah melahirkan paradigma baru bagi perkembangan
ilmu dan teknologi pangan, yaitu dilakukannya berbagai modifikasi produk olahan pangan
menuju sifat fungsional. Saat ini, di Indonesia telah banyak dijumpai produk pangan
fungsional, baik yang diproduksi di dalam negeri maupun impor. Keanekaragaman pangan
lokal di Indonesia potensial untuk dikembangkan sebagai pangan fungsional dengan tujuan
untuk memperbaiki fungsi-fungsi fisiologis, agar dapat melindungi tubuh dari penyakit,
khususnya penyakit degeneratif seperti jantung koroner, hipertensi, diabetes, osteoporosis
dan kanker. Diharapkan dengan pengembangan pangan fungsional dapat meningkatkan
derajat kesehatan serta menekan biaya medis bagi masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

Khurniawan Agus, S.KM, M.KM.2014.Pangan Fungsional Untuk Kesehatan.AKPER


Muhammadiyah : Cirebon

Kusumawardi Nunik,2013.Penanganan Nutrisi Pada Penderita Kanker.Pusat Penelitian


PenyakitTidak Menular, ·sadan Litbangkes

Anda mungkin juga menyukai