Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Karya sastra merupakan salah satu bentuk seni dengan menggunakan
media bahasa. Karya sastra tercipta melalui perenungan yang mendalam dengan
tujuan untuk dinikmati, dipahami, dan diilhami oleh masyarakat. Lahirnya karya
sastra bersumber dari kenyataan-kenyataan hidup yang ada di dalam masyarakat
yang kemudian diolah dan dipadukan dengan imajinasi pengarang sehingga
menjadi sebuah karya yang memiliki keindahan. Walaupun karya sastra tersebut
berupa fiksi, namun pada kenyataannya sastra juga mampu memberikan manfaat
yang berupa nilai-nilai moral bagi pembacanya.
Sebuah karya sastra tercipta karena peristiwa atau persoalan dunia yang
terekam oleh jiwa pengarang. Peristiwa atau persoalan itu sangat memengaruhi
kejiwaan. Adanya hal demikian, seorang pengarang dalam karyanya
menggambarkan fenomena kehidupan yang ada sehingga muncul konflik atau
ketegangan batin. Sastrawan, sastra, dan kehidupan sosial merupakan fenomena
yang saling melengkapi dalam kedirian masing- masing sebagai sesuatu yang
nsektensial. Sebuah karya sastra tidak dapat dilepaskan dari pengarang dan
kehidupan manusia sebagai produk kelahiran karya sastra, sastra bukan sekadar
dari kekosongan sosial melainkan hasil racikan perenungan dan pengalaman
sastrawan dalam menghadapi problema dan nilai-nilai tentang hidup dan
kehidupan (manusia dan kehidupan) pengalaman ini merupakan jawaban yang
utuh dari jiwa manusia ketika kesadarannya bersentuhan dengan kenyataan.
Karya sastra merupakan cerminan kehidupan manusia. Setiap lika-liku
kehidupan manusia dapat dituangkan dalam karya sastra. Karya sastra terdiri atas
tiga bentuk, yaitu prosa, puisi, dan drama. Prosa sendiri terbagi menjadi prosa
fiksi dan nonfiksi. Prosa fiksi adalah prosa yang dibuat berdasarkan khayalan
penulis semata, sedangkan prosa nonfiksi merupakan prosa yang dibuat
berdasarkan keadaan nyata

1
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Apakah pengertian dan hakikat Prosa Fiksi?
2. Bagaimanakah bentuk dan jenis Prosa Fiksi?
3. Bagamanakah bentuk Fiksi secara Umum dan Secara Khusus?
4. Apakah perbedaan Prosa Fiksi dan Non Fiksi?

1.3 TUJUAN PENULISAN


1. Untuk mengetahui pengertian dan hakikat Prosa Fiksi.
2. Untuk mengetahui bentuk dan jenis Prosa Fiksi.
3. Untuk mengetahui Fiksi secara umum dan Fiksi secara khusus
4. Untuk mengetahui perbedaan Prosa Fiksi dan Non Fiksi.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 HAKIKAT PROSA FIKSI


Prosa yang sejajar dengan istilah fiksi (arti rekaan) dapat diartikan : karya
naratif yang menceritakan sesuatu yang bersifat rekaan, tidak sungguh - sungguh
terjadi di dunia nyata. Tokoh, peristiwa dan latar dalam fiksi bersifat imajiner. Hal
ini berbeda dengan karya nonfiksi. Dalam nonfiksi tokoh, peristiwa, dan latar
bersifat faktual atau dapat dibuktikan di dunia nyata, Abrams ( Nurgiyantoro,
1994 : 2).
Karya Fiksi dapat diartikan sebagai cerita rekaan, akan tetapi, pada
kenyataannya karya yang tidak mengandung unsur rekaan pun disebut sebagai
karya fiksi. Dewasa ini tampaknya penyebutan untuk karya fiksi lebih ditujukan
terhadap karya yang berbentuk prosa naratif (atau biasa juga disebut teks naratif).
Karya – karya lain yang penulisannya tidak berbentuk prosa, misalnya berupa
dialog seperti dalam drama atau sandiwara, termasuk skenario untuk film, juga
puisi – puisi drama (drama puisi) dan puisi – puisi balada, pada umumnya tidak
disebut sebagai karya fiksi. Bentuk – bentuk karya itu dipandang sebagai genre
yang berbeda. Walau demikian sebenarnya kita tidak dapat menyangkal bahwa
karya – karya itu juga mengandung unsur rekaan.
Dalam penulisan ini istilah dan pengertian fiksi sengaja dibatasi pada
karya yang berbentuk prosa, prosa naratif, atau teks naratif (narrative text). Karya
fiksi, seperti halnya dalam kesastraan Inggris dan Amerika, menunjuk pada karya
yang berwujud novel dan cerita pendek. Novel dan cerita pendek (juga dengan
roman) sering dibedakan orang, walaupun tentu saja hal itu lebih bersifat teoritis.
Disamping itu, orang juga membedakan antara novel serius dengan novel
populer yang bersifat teoritis dan tentatif. Hasil pembedaan itu seperti mudah
diduga sebelumnya, tentulah tidak semua orang mau menerimanya (Nurgiyantoro,
1994 : 8 - 9)
Jadi dapat diartikan juga Prosa Fiksi adalah suatu karya yang menceritakan
sesuatu yang bersifat rekaan, khayalan, serta hal yang tidak terjadi sunguh –
sungguh sehingga tidak perlu dicari kebenarannya pada dunia nyata. Ada

3
tidaknya, atau dapat tidaknya sesuatu yang dikemukakan dalam suatu karya
dibuktikan secara empiris, inilah antara lain yang membedakan karya fiksi dengan
karya nonfiksi. Tokoh, peristiwa, dan tempat yang bersifat imajinatif, sedangkan
karya nonfiksi bersifat faktual.

2.2 BENTUK PROSA FIKSI

1. Roman

Roman adalah bentuk prosa baru yang mengisahkan kehidupan pelaku


utamanya dengan segala suka dukanya. Dalam roman, pelaku utamanya sering
diceritakan mulai dari masa kanak-kanak sampai dewasa atau bahkan sampai
meninggal dunia. Roman mengungkap adat atau aspek kehidupan suatu
masyarakat secara mendetail dan menyeluruh, alur bercabang-cabang, banyak
digresi (pelanturan). Roman terbentuk dari pengembangan atas seluruh segi
kehidupan pelaku dalam cerita tersebut.

Berdasarkan kandungan isinya, roman dibedakan atas beberapa macam, antara


lain sebagai berikut:

a) Roman transendensi, yang di dalamnya terselip maksud tertentu, atau yang


mengandung pandangan hidup yang dapat dipetik oleh pembaca untuk
kebaikan. Contoh: Layar Terkembang oleh Sutan Takdir Alisyahbana, Salah
Asuhan oleh Abdul Muis, Darah Muda oleh Adinegoro.
b) Roman sosial adalah roman yang memberikan gambaran tentang keadaan
masyarakat. Biasanya yang dilukiskan mengenai keburukan-keburukan
masyarakat yang bersangkutan. Contoh: Sengsara Membawa Nikmat oleh
Tulis St. Sati, Neraka Dunia oleh Adinegoro.
c) Roman sejarah yaitu roman yang isinya dijalin berdasarkan fakta historis,
peristiwa-peristiwa sejarah, atau kehidupan seorang tokoh dalam sejarah.
Contoh: Hulubalang Raja oleh Nur St. Iskandar, Tambera oleh Utuy Tatang
Sontani, Surapati oleh Abdul Muis.

4
d) Roman psikologis yaitu roman yang lebih menekankan gambaran kejiwaan
yang mendasari segala tindak dan perilaku tokoh utamanya. Contoh: Atheis
oleh Achdiat Kartamiharja, Katak Hendak Menjadi Lembu oleh Nur St.
Iskandar, Belenggu oleh Armijn Pane.
e) Roman detektif merupakan roman yang isinya berkaitan dengan kriminalitas.
Dalam roman ini yang sering menjadi pelaku utamanya seorang agen polisi
yang tugasnya membongkar berbagai kasus kejahatan. Contoh: Mencari
Pencuri Anak Perawan oleh Suman HS, Percobaan Seria oleh Suman HS,
Kasih Tak Terlerai oleh Suman HS.

2. Novel

Novel berasal dari Italia. yaitu novella ‘berita’. Novel adalah bentuk prosa
baru yang melukiskan sebagian kehidupan pelaku utamanya yang terpenting,
paling menarik, dan yang mengandung konflik. Konflik atau pergulatan jiwa
tersebut mengakibatkan perubahan nasib pelaku. lika roman condong pada
idealisme, novel pada realisme. Biasanya novel lebih pendek daripada roman dan
lebih panjang dari cerpen. Contoh: Ave Maria oleh Idrus, Keluarga Gerilya oleh
Pramoedya Ananta Toer, Perburuan oleh Pramoedya Ananta Toer, Ziarah oleh
Iwan Simatupang, Surabaya oleh Idrus.

3. Cerpen

Cerpen adalah bentuk prosa baru yang menceritakan sebagian kecil dari
kehidupan pelakunya yang terpenting dan paling menarik. Di dalam cerpen boleh
ada konflik atau pertikaian, akan tetapi hal itu tidak menyebabkan perubahan
nasib pelakunya. Contoh: Radio Masyarakat oleh Rosihan Anwar, Bola Lampu
oleh Asrul Sani, Teman Duduk oleh Moh. Kosim, Wajah yang Bembah oleh
Trisno Sumarjo, Robohnya Surau Kami oleh A.A. Navis.

4. Riwayat

Riwayat (biografi), adalah suatu karangan prosa yang berisi pengalaman-


pengalaman hidup pengarang sendiri (otobiografi) atau bisa juga pengalaman

5
hidup orang lain sejak kecil hingga dewasa atau bahkan sampai meninggal dunia.
Contoh: Soeharto Anak Desa, Prof. Dr. B.J Habibie, Ki Hajar Dewantara.

5. Kritik

Kritik adalah karya yang menguraikan pertimbangan baik-buruk suatu


hasil karya dengan memberi alasan-alasan tentang isi dan bentuk dengan kriteria
tertentu yang sifatnya objektif dan menghakimi.

6. Resensi

Resensi adalah pembicaraan / pertimbangan / ulasan suatu karya (buku,


film, drama, dll.). Isinya bersifat memaparkan agar pembaca mengetahui karya
tersebut dari berbagai aspek seperti tema, alur, perwatakan, dialog, dll, sering juga
disertai dengan penilaian dan saran tentang perlu tidaknya karya tersebut dibaca
atau dinikmati.

7. Esai

Esai adalah ulasan / kupasan suatu masalah secara sepintas lalu


berdasarkan pandangan pribadi penulisnya. Isinya bisa berupa hikmah hidup,
tanggapan, renungan, ataupun komentar tentang budaya, seni, fenomena sosial,
politik, pementasan drama, film, dan lain-lain.

8. Hikayat

Hikayat, berasal dari India dan Arab, berisikan cerita kehidupan para dewi,
peri, pangeran, putri kerajaan, serta raja-raja yang memiliki kekuatan gaib.
Kesaktian dan kekuatan luar biasa yang dimiliki seseorang, yang diceritakan
dalam hikayat kadang tidak masuk akal. Namun dalam hikayat banyak mengambil
tokoh-tokoh dalam sejarah. Contoh: Hikayat Hang Tuah, Kabayan, si Pitung,
Hikayat si Miskin, Hikayat Indra Bangsawan, Hikayat Panji Semirang, Hikayat
Raja Budiman.

6
9. Sejarah

Sejarah (tambo), adalah salah satu bentuk prosa lama yang isi ceritanya
diambil dari suatu peristiwa sejarah. Cerita yang diungkapkan dalam sejarah bisa
dibuktikan dengan fakta. Selain berisikan peristiwa sejarah, juga berisikan silsilah
raja-raja. Sejarah yang berisikan silsilah raja ini ditulis oleh para sastrawan
masyarakat lama. Contoh: Sejarah Melayu karya datuk Bendahara Paduka Raja
alias Tun Sri Lanang yang ditulis tahun 1612.

10. Kisah

Kisah, adalah cerita tentang cerita perjalanan atau pelayaran seseorang dari
suatu tempat ke tempat lain. Contoh: Kisah Perjalanan Abdullah ke Negeri
Kelantan, Kisah Abdullah ke Jedah.

11. Dongeng

Dongeng, adalah suatu cerita yang bersifat khayal.

12. Cerita berbingkai

Cerita berbingkai, adalah cerita yang didalamnya terdapat cerita


lagi yang dituturkan oleh pelaku-pelakunya. Contoh: Seribu Satu Malam.

2.3 JENIS PROSA SECARA UMUM

Fiksi pada umumnya terbagi menjadi sejumlah genre: bagian-bagian dari


fiksi, masing-masingnya dibedakan oleh gaya, teknik naratif, isi media, atau
kriteria yang didefinisikan secara populer. Meskipun sebuah karya
tergolong imajiner tetapi ia memiliki golongan yang disebut Fiksi Non-fiksi
(Nonfiction Fiction), yakni sebuah bentuk karya fiksi yang dasar ceritanya
merupakan sebuah fakta. Yang termasuk kedalam Fiksi Non-fiksi adalah:

a. Fiksi sejarah (Historical fiction), adalah fiksi yang dasar penulisannya


merupakan sejarah. Novel ini terikat oleh fakta-fakta sejarah, tetapi fiksi
ini memberikan ruang gerak untuk fiksionalitas, misalnya dengan

7
memberitakan pikiran dan perasaan tokoh lewat percakapan. Sebagai
contoh adalah Bendera Hitam dari Kurasan dan Tentara Islam di Tanah
Galia karya Darji Zaidan.
b. Fiksi ilmiah (Science fiction), adalah fiksi yang dasar penulisannya adalah
fakta ilmu pengetahuan. Sebagai contoh novel ini adalah 1984,
karya George Orwell. Genre ini misalnya, memprediksi atau
mengandaikan teknologi yang bukan realita pada saat penciptaan karya
tersebut: novel Jules Verne From the Earth to the Moon diterbitkan pada
tahun 1865 dan pada tahun 1969, astronot Neil Armstrong pertama kali
mendarat di bulan.
c. Fiksi biografis (Biographical fiction), adalah fiksi yang dasar
penulisannya adalah fiksi biografis. Karya biografis juga memberikan
ruang bagi fiksionalitas, misalnya yang berupa sikap yang diberikan oleh
penulis, di samping juga munculnya bentuk-bentuk dialog.[7] Sebagai
contoh karya biografis adalah Bung Karno Penyambung Lidah
Rakyat karya Cindy Adams, Kuantar Kau ke Gerbang dan Tahta untuk
Rakyat.

Beberapa karya fiksi sedikit atau sangat digambarkan ulang berdasarkan


pada beberapa kisah asli yang sebenarnya, atau sebuah biografi yang
direkonstruksi. Seringkali, bahkan ketika cerita fiksi didasarkan pada fakta,
mungkin terdapat penambahan dan pengurangan dari kisah nyata untuk
membuatnya lebih menarik. Contohnya adalah The Things They Carried karya
Tim O'Brien, serial cerita pendek mengenai Perang Vietnam.

Karya fiksi yang secara eksplisit melibatkan unsur-unsur supernatural,


magis, atau secara ilmiah tidak mungkin sering diklasifikasikan dalam
genre fantasi, termasuk novel karya Lewis Carroll Alice In Wonderland,
seri Harry Potter karya J. K. Rowling, dan The Lord of the Rings karya J. R. R.
Tolkien. Pencipta fantasi terkadang memperkenalkan makhluk imajiner dan
tokoh-tokoh.

8
2.3 JENIS PROSA FIKSI SECARA KHUSUS

a. Fiksi Realistis

Fiksi Realistis biasanya melibatkan cerita yang latar dasarnya (waktu dan
lokasi di dunia) adalah nyata dan kejadian-kejadiannya dapat terjadi secara layak
dalam pengaturan dunia nyata; fiksi non-realistik melibatkan cerita yangterjadi
pada latar sebaliknya, sering kali berlatar pada alam semesta yang sepenuhnya
imajiner, sejarah alternatif dunia selain yang saat ini dipahami sebagai benar, atau
lokasi atau waktu lain yang tidak nyata. Terkadang bahkan
menghadirkan teknologi yang tidak mungkin atau pembangkangan terhadap
hukum alam yang dipahami saat ini. Namun, semua jenis fiksi boleh jadi
mengundang audiens mereka untuk mengeksplorasi ide-ide, masalah, atau
kemungkinan yang nyata dalam latar imajiner. Kritikus sastra James Wood,
berpendapat bahwa "fiksi adalah baik kecerdasan dan hal yang terlihat seakan-
akan benar", yang berarti bahwa fiksi membutuhkan baik penemuan kreatif
maupun tingkat kepercayaan yang dapat dipercaya,[ sebuah gagasan yang sering
dikemas dalam istilah penyair Samuel Taylor Coleridge: penangguhan
ketidakpercayaan. Juga, kemungkinan-kemungkinan fiktif yang tak terbatas itu
sendiri menandakan ketidakmungkinan mengetahui realitas secara penuh, secara
provokatif menunjukkan bahwa tidak ada kriteria untuk mengukur konstruksi
realitas.

b. Fiksi Sastra

Fiksi Sastra diartikan sebagai karya fiksi yang dianggap memiliki nilai
sastra, berbeda dari fiksi "genre" yang lebih komersial. Perbedaan ini bisa
menjadi kontroversial di antara para kritikus dan cendekiawan. Neal
Stephenson berpendapat bahwa walaupun definisi apapun adalah sederhana, tapi
pada masa kini ada perbedaan budaya umum antara fiksi sastra dan genre. Di satu
pihak, para penulis sastra saat ini sering disokong oleh patron, dengan
dipekerjakan di universitas atau lembaga serupa, dan dengan keberlanjutan
posisinya ditentukan tidak hanya oleh penjualan buku tetapi juga oleh kritik dari
penulis sastra ternama lain serta kritikus. Di pihak lain, menurutnya, penulis fiksi
genre cenderung menyokong diri mereka sendiri melalui penjualan buku. Akan

9
tetapi, dalam suatu wawancara, John Updike mengeluhkan bahwa "kategori 'fiksi
sastra' baru-baru ini muncul untuk menyiksa orang sepertiku yang hanya ingin
menulis buku, dan jika ada yang mau membacanya, itu bagus, semakin banyak
semakin meriah. ... Aku semacam penulis genre. Aku menulis fiksi sastra, yang
mana seperti fiksi mata-mata atau chick lit"

2.4 PERBEDAAN PROSA FIKSI DAN PROSA NONFIKSI

a. Prosa Fiksi
Prosa fiksi adalah prosa yang berupa cerita rekaan atau khayalan/ imajinasi
pengarangnya. Isi cerita tidak sepenuhnya berdasarkan pada fakta. Prosa fiksi
disebut juga karangan narasi sugestif/ imajinatif.
b. Prosa Nonfiksi
Prosa nonfiksi adalah karangan yang tidak berdasarkan rekaan atau
khayalan pengarang, tetapi berisi hal-hal yang berupa informasi faktual
(kenyataan) atau berdasarkan pengamatan pengarang. Karangan ini diungkapkan
secara sistematik, kronologis, atau kilas balik dengan menggunakan bahasa
semiformal. Prosa fiksi ialah prosa yang berupa cerita rekaan atau khayalan
pengarangnya. Isi cerita tidak sepenuhnya berdasarkan pada fakta. Prosa fiksi
disebut juga karangan narasi sugestif/ imajinatif. Prosa fiksi berbentuk cerita
pendek (cerpen), novel, dan dongeng. Di dalam prosa fiksi, terdapat unsur-unsur
pembangun yang disebut unsur intrinsik, yaitu: tema, alur/plot, penokohan, latar,
amanat, sudut pandang pengarang, dan gaya bahasa. Prosa nonfiksi ialah karangan
yang tidak berdasarkan rekaan atau khayalan pengarang tetapi berisi hal-hal yang
berupa informasi faktual (kenyataan) atau berdasarkan pengamatan pengarang.
Prosa nonfiksi disebut juga karangan semi ilmiah, yang termasuk karangan semi
ilmiah ialah: artikel, tajuk rencana, opini, feature, biografi, tips, reportase,
jurnalisme baru, iklan, dan pidato
Dengan mengetahui definisi tersebut kita sudah mengetahui perbedaan
antara Prosa Fiksi dan Prosa Nonfiksi. Untuk lebih jelas lagi, kita bisa melihat
contoh.

10
Contoh Prosa Fiksi

Hikayat Si Miskin

Suatu hari, sepasang suami istri yang dikutuk menjadi miskin, melahirkan
seorang anak yang bernama Marakarma. Sejak anak itu lahir, keduanya pun mulai
hidup berkecukupan. Suatu saat, seorang ahli nujum meramalkan bahwa
Marakarma akan membawa sial bagi keluarganya. Ayah Murakarma pun
meyakini hal tersebut dan sang anak pun dibuangnya ke suatu tempat. Sejak
anaknya dibuang, hidup Ayah Murakarma justru semakin miskin lagi melarat.

Di tempat lain, Murakarma yang terbuang belajar berbagai kesaktian di


tempat pembuangannya. Tanpa sebab yang jelas, dia dituduh telah melakukan
pencurian, dan dia pun dibuang ke lautan dan terdampar di pantai. Saat terdampar
di pantai, dia bertemu dengan seorang putri yang bernama Putri Cahaya. Sang
putri tersebut telah menyelamatkan hidup Murakarma. Sejak saat itu, Murakarma
pun mencoba pulang ke kampung halamannya. Selama di perjalanan, dia pun
mendapatkan kesialan demi kesialan, sekaligus keberuntungan demi
keberuntungan.

Contoh Prosa Nonfiksi

Artikel

“Letak kerajaan Sriwijaya dan peninggalannya”

Sejarah adalah suatu peristiwa di masa lampau yang dipelajari dari bukti
berupa benda yang memuat informasi tertentu. Dalam hal kerajaan Sriwijaya ini,
jarak waktu yang terlalu jauh menjadikan banyak perdebatan mengenai sejarah
kerajaan sriwijaya ini, termasuk diantaranya adalah letak pasti kerajaan yang
berkembang di abad ke-7 masehi ini. Pendapat ini memiliki dukungan bukti
tertentu yang membuat semakin sulit mengetahui letak kerajaan Sriwijaya secara
pasti. Pendapat yang pertama datang dari Pirre-Yves Manguin yang melakukan
penelitian pada tahun 1993, dimana ia berpendapat bahwa kerajaan Sriwijaya

11
terletak di daerah sungai Musi antara Bukit Siguntang dan Sabokiking yang saat
ini masuk dalam wilayah provinsis Sumatera Selatan.

Pendapat lain adalah dari ahli sejarah Soekmono yang mengatakan bahwa
pusat kerajaan Sriwijaya ada di hilir sungai Batanghari, yakni antara Muara Sabak
hingga Muara Tembesi yang berada di provinsi Jambi. Ada lagi pendapat lain
yang mengatakan bahwa pusat kerajaan Sriwijaya ada di sekitar candi Muara
Takus yang masuk dalam provinsi Riau yang dikemukakan oleh Moens. Dasar
dari pendapat ini adalah petunjuk rute perjalanan I Tsing dan ide mengenai
persembahan untuk kaisar China pada tahun 1003, yakni berupa candi. Namun
hingga kini belum ada kesepakatan dan bukti yang sangat kuat dimana pusat
kerajaan Sriwijaya sebenarnya berada.

Peninggalan kerajaan Sriwijaya

Peninggalan kerajaan Sriwijaya ada dua macam, yakni secara fisik yang
berupa benda yang membuktikan kerajaan ini pernah ada di masa lalu dan
peninggilan sosio-kultural yang hingga saat ini masih dianut oleh bangsa kita.
Peninggalan fisik ini berupa candi, prasasti dan benda-benda lain seperti keramik
dan gerabah yang ada di berbagai daerah di wilayah Asia Tenggara. Prasasti
kerajaan Sriwijaya antara lain:

1. Prasasti Kota Kapur di Bangka


2. Prasasti Telaga Batu ditemukan pada tahun 1918
3. Prasasti Karang Berahi ditemukan pada tahun 1904
4. Prasasti Kedukan Bukit ditemukan pada tahun 1920
5. Prasasti Talang Tuo ditemukan pada tahun 1920
6. Prasasti Boom Baru

Diantara semua prasasti di dalam negeri tersebut, prasasti Kota Kapur


adalah prasasti tertua yang bertahun 682 masehi. Prasasti ini menceritakan
perjalanan Dapunta Hyang dari Minanga dengan perahu berasama 20.000 pasukan
dan 200 peti perbekalan serta 1.213 tentara yang berjalan kaki.

12
Selain di dalam negeri, Sriwijaya juga meninggalkan jejak di luar negeri.
Peninggalan Sriwijaya dapat ditemukan di India berupa kuil Budha. Kerajaan
Sriwijaya memiliki peninggalan selain prasasti yakni berupa barang keramik dan
tembikar. Salah satu contohnya adalah peninggalan di Jawa Tengah yang masih
dapat kita lihat sampai saat ini. Peninggalan ini terjadi pada saat Sriwijaya
memindahkan pusat kekuasaan dari Sumatera ke Jawa. Pada masa itu kerajaan
diperintah dari wangsa Syailendra yang membangun banyak candi seperti candi
Kalasan, candi Sewu dan candi Borobudur.

Dalam hal sosio-kultural, pengaruh kerajaan Sriwijaya saat ini masih


menjadi inspirasi budaya, misalnya lagu dan tarian tradisional Gending Sriwijaya.
Tarian Sevichai di Thailand selatan juga merupakan inspirasi dari seni budaya
Sriwijaya. Yang paling penting dari itu semua adalah penyebaran bahasa melayu
yang merupakan akar dari Bahasa Indonesia. Bahaya melayu kuno memang
digunakan pada zaman kerajaan Sriwijaya yang dibuktikan dengan prasastinya
yang menggunakan bahasa tersebut. Hubungan dagang yang dilakukan
menggunakan bahasa melayu sebagai bahasa standar. Bahasa melayu pun menjadi
dikenal luas. Itulah kenapa alasan Bahasa Indonesia menggunakan bahasa Melayu
sebagai bahasa Induk.

13
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Prosa adalah karya rekaan yang tidak berbentuk dialog dan isinya dapat
merupakan kisah sejarah atau sederetan peristiwa. Prosa berusaha menampilkan
cerita hasil imajinasi, baik dari cerita lisan maupun cerita tulis. Dalam prosa,
pengarang mengolah dunia imajinasi dengan dunia kenyataan atau kenyataan
sosial budaya yang dihadapinya. bahwa fiksi merupakan cerita rekaan yang
bertujuan untuk mendidik. Melalui karya fiksi pengarang menceritakan masalah-
masalah dalam kehidupan sehari-hari, dan bukan hanya hasil imajinasi tetapi juga
merupakan hasil penghayatan dan perenungan secara intens.

Rekaan menceritakan sesuatu yang yang tidak ada atau tidak sungguh-
sungguh terjadi. Kebenarannya hanya ada dalam cerita itu sehingga tidak perlu
dicari diluar dunia rekaan. Perbedaan fiksi dan nonfiksi sangat sederhana.

Fiksi adalah jenis tulisan yang hanya berdasarkan imajinasi. Fiksi


merupakan rekaan dari penulisnya. Nonfiksi adalah tulisan-tulisan yang isinya
nonfiktif bukan hasil imajinasi atau rekaan penulis. Nonfiksi adalah karya seni
yang bersifat aktual. Perbedaan antara fiksi dan nonfiksi hanya terletak pada
masalah faktual atau tidak, imajiner, atau tidak. Jadi, perbedaan antara keduanya
sama sekali tidak ada hubungannya dengan gaya bahasa ataupun masalah fakta
atau imanjiner.

14
DAFTAR PUSTAKA

Nurhayati. 2012. Apresiasi Prosa Fiksi. Surakarta: Cakrawala Media.


Nurgiyantoro, Burhan. 2015. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.
Sayuti, Suminto Ahmad. 1998. Dasar-dasr Analisis Puisi.Yogyakarta: LP3S.
Suheti, Tati. 2011. Kumpulan Cerita Fiksi Lengkap. Bandung: Gramedia.

15
16