Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Beberapa teori tentang perkembangan manusia telah mengungkapkan
bahwa manusia tumbuh dan berkembang dari masa bayi ke dewasa melalui
beberapa langkah dan jenjang. Kehidupan anak dalam menulusuri
perkembangannya itu pada dasarnya merupakan kemampuan mereka berinteraksi
dengan lingkungan. Pada proses integrasi dan interaksi ini faktor intelektual dan
emosional mengambil peran penting. Proses tersebut merupakan proses sosialisasi
yang mendudukan anak-anak sebagai insan y/ang secara aktif melakukan proses
sosialisasi. Lingkungan sosial memberikan banyak pengaruh terhadap
pembentukan berbagai aspek kehidupan, terutama kehidupan sosio-psikologis.1
Banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan psikologis dan sosial anak baik
dari segi emosional, moral maupun kemandirian.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian perkembangan sosial?
2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan sosial?
3. Bagaimana perkembangan emosional dan sosial seorang anak?
4. Bagaimana perkembangan moral dan sosial seorang anak?
5. Bagaimana perkembangan kemandirian dan sosial seorang anak?

1
Sunarto dan Ny. B. Agung Hartono, Perkembangan Peserta Didik, (Jakarta: Rineka
Cipta, 2002), h. 126

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. Perkembangan Sosial dan Faktor-fakor yang Mempengaruhinya


Manusia tumbuh dan berkembang di dalam lingkungan. Lingkungan ini
dapat dibedakan atas lingkungan fisik dan dan lingkungan sosial. Lingkungan
sosial memberikan banyak pengaruh terhadap pembentukan berbagai aspek
kehidupan,terutama kehidupan sosio-psikologis.2 Manusia sebagai makhluk
sosial, senantiasa berhubungan dengan manusia. Bersosialisasi pada dasarnya
merupakan proses penyesuaian diri terhadap lingkungan kehidupan sosial,
bagaimana seseorang hidup dalam kelompoknya, baik kelompok kecil maupun
kelompok luas. Interaksi seseorang dengan manusia lain diawali sejak saat bayi
lahir, dengan cara yang amat sederhana. Sepanjang kehidupan pola aktivitas sosial
anak mulai terbentuk.
Menurut Piaget, interaksi sosial anak sangat terbatas, terutama hanya
dengan ibunya. Perilaku anak tersebut berpusat pada akunya atau egocentric dan
hampir keseluruhan perilakunya berpusat pada dirinya. Bayi belum banyak
memperhatikan lingkungannya; dengan demikian apabila kebutuhan dirinya
terpenuhi maka ia tidak akan peduli lagi terhadap lingkungannya. Sisa waktu
kehidupannya digunakan untuk tidur.
Pada tahun kedua anak sudah belajar kata “tidak” dan sudah belajar
“menolak” lingkungan, seperti mengatakan “tidak mau ini”, “tidak mau itu” dan
semacamnya. Anak telah mulai mereaksi lingkungan secara aktif, ia telah belajar
membedakan dirinya dengan orang lain, perilaku emosionalnya mulai
berkembang dan berperan. Perkembangan dan pergaulan dengan manusia lain
menjadi semakin luas. Ia mengenal kedua orang tuanya, teman bermainnya, dan
lain-lain.
Pada umur-umur selanjutnya sejak anak mulai belajar disekolah
mengembangkan interaksi sosial dengan menerima pandangan orang lain,
kelompok (masyarakat), memahami tanggung jawab dan berbagai pengertian

2
Ibid, h. 126

2
orang lain. Menginjak masa remaja, interaksi dan pengenalan atau pergaulan
dengan teman sebaya terutama lawan jenis menjadi semakin penting pada
akhirnya pergaualan sesama manusia menjadi sesuatu yang penting.3
Perkembangan sosial manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
a. Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh
terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembnagan
sosialnya. Kondisi dan tat acara kehidupan keluarga merupakan lingkungan
yang kondusif bagi sosialisasi anak. Di dalam keluarga berlaku norma-norma
kehidupan keluarga, dan dengan demikian pada dasarnya keluarga
merekayasa perilaku kehidupan budaya anak.
Proses pendidikan yang benar bertujuan mengembangan kepribadian
anak lebih banyak di tentukan oleh keluarga. Pola pergaulan dan bagaimana
norma dalam menempatkan diri terhadap lingkungan yang lebih luas
ditetapkan dan diarahkan oleh keluarga.
b. Kematangan
Bersosialisasi memerlukan kematangan fisik dan psikis. Untuk mampu
mempertimbangkan dalam proses sosial, memberi dan menerima pendapat
orang lain, memerlukan kematangan intelektual dan emosional. Di samping
itu, kemampuan berbahassa ikut pula menentukan. Dengan demikian, untuk
mampu bersosialisasi dengan baik diperlukan kemampuan fisik sehingga
setiap orang fisiknya telah mampu menjalankan fungsinya dengan baik.
c. Status sosial ekonomi
Kehidupan sosial banyak di pengaruhi oleh kondisi atau status
kehidupan sosial keluarga dalam lingkungan masyarakat. Masyarakat akan
memandang anak, bukan sebagai anak yang independen, akan tetapi akan
dipandang dalam konteksnya yang utuh dalam keluarga anak itu, “ia anak
siapa”. Secara tidak langsung dalam pergaulan social anak, masyarakat dan
kelompok akan memperhitungkan norma yang berlaku dalam keluarganya.4

3
Ibid, h. 127
4
Ibid, h. 131

3
Dari pihak anak itu sendiri,periakunya akan banyak memperhatikan
kondisi normatif yang telah ditanamkan keluarganya. Sehubungan dengan hal
itu, dalam kehidupan sosial anak akan senantiasa “menjaga” status sosial dan
ekonomi keluarganya. Yang dimaksud “menjaga status sosial keluarganya”
itu mengakibatkan menempatkan dirinya dalam pergaulan sosial yang tidak
tepat. Hal itu dapat berakibat lebih jauh, yaitu menjadi “terisolasi” dari
kelompoknya. Akibat lain mereka akan membentuk kelompok elit dengan
normanya sendirinya.
d. Pendidikan
Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat
pendidikan sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif, akan
memberikan warna kehidupan sosial anak di dalam masyarakat dan
kehidupan mereka yang akan datang. Pendidikan dalam arti yang luas harus
diartikan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh kehidupan keluarga,
masyarakat, dan kelembagaan. Penanaman norma perilaku yang benar secara
sengaja diberikan kepada peserta didik yang belajar di kelembagaan
pendidikan (sekolah).
e. Kapasitas mental: emosi dan intelegensi
Kemampuan berpikir banyak mempengaruhi banyak hal, seperti
kemampuan belajar, memecahkan masalah dan berbahasa. Perkembangan
emosi, sangat berpengaruh terhadap perkembangan sosial anak. Anak yang
berkemampuan intelektual tinggi akan berkemampuan berbahasa baik.5
Kemampuan intelektual tinggi, kemampuan berbahasabaik, dan pengendalian
emosi secara seimbang sangan menentukan keberhasilan dalam
perkembangan soial anak. Sikap saling pengertian dan kemampuan
memahami orang lain merupakan modal utama dalam kehidupan sosial dan
hal ini akan dengan mudah dicapai oleh remaja yang berkekmampuan
intelektual tinggi.6

5
Ibid, h. 132
6
Ibid, h. 133

4
B. Perkembangan Emosional dan Sosial
Pandangan etnologi menganggap bahwa jalinan kasih sayang antara ibu
dengan anaknya merupakan dasar bagi perkembangan sosio-emosional,
sedangkan selanjutnya merupakan perilaku bawaan.
Ketika lahir, bayi memiliki seperangkat rangsangan-rangsangan tertentu.
Kemudian pada saat tiga bulan pertama, rasa ketidaksenangan dan ketidak
gembiraan bayi mulai dapat diketahui. Pada usia 3-6 bulan pertama, rasa
ketidaksenangan bayi dideferensiasikan lagi menjadi kemarahan, kebencian dan
ketakuta. pada usia 9-12, perasaan akan kesenangan dan kegembiraan juga dapat
diketahui dengan perasaan kasih sayang, lalu akan berkembang menjadi rasa
cemburu. Dan sekitar usia 2 tahun, rasa senang anak akan lebih dideferensiasi lagi
menjadi kenikmatan dan keasyikan terhadap sesuatu. Pada saat usia 5 tahun,
ketidaksenangan anak berkembang lagi menjadi perasaan rasa malu, kecewa dan
rasa ketidaksenangan berkembang menjadi harapan dan kasih sayang. Dan
seterusnya akan mengalami penguatan-penguatan melalui pengalaman dengan
lingkungannya.
Ada beberapa faktor penting yang sangat berpengaruh dalam
perkembangan sosio-emosional anak, beberapa di antaranya adalah perlakuan dan
cara pengasuhan orang tua, kesesuaian bayi dengan pengasuhnya, dan tempramen
bayi.7
Perilaku dan cara mengasuh orang tua sangat mempengaruhi
perkembangan sosio-emosional anak. Pengalaman-pengalaman interaksi sosial
awal anak dengan orang tua akan menjadi dasar bagi pembentukan dan
perkembangan pola-pola sosio-emosional anak yang bersangkutan. interaksi
tersebut dapat berupa kasih sayang maupun kekerasan. Kasih sayang seorang bayi
kepada ibunya dapat diamati secara jelas anatara 6-8 bulan. Bayi mulai
berinteraksi dengan apa yang dikenalnya dan bereaksi negatif terhadap sesuatu
yang asing baginya. Ekspresi kasih sayang orang tua kepada anaknya biasanya
berupa kehangatan dan komunikasi. Meskipun oang tua menyangi anaknya, tapi

7
http://kompasiana.com/post/edukasi/2011/01/09/sedikit-tentang-perkembangan-sosial-
dan-pribadi-anak/ , diposting oleh Panser Dwi Puspita tanggal 9 Januari 2011, diakses tanggal 3
Oktober 2012

5
terkadang intesitas kasih sayang masing-masing orang tua berbeda, kadang ada
yang mengekspresikan kasih sayang lewat kekerasan. Hal tersebut tentu sangat
berpengaruh pada perkembangan sosio-emosional anak.
Di samping perkembangan-perkembangan yang telah disebutkan, yang
paling penting adalah perkembangan diri (self) yaitu persepsi seseorang tentang
dirinya-abilitas-perilaku, harga diri, dan kepribadiannya. Kepribadian diri juga
dapat disebut dengan pencarian identitas diri atau jati diri anak yang terbentuk
dari psikososial. Perkembangan identitas diri sampai puncak dialami oleh remaja,
akan tetapi proses perkembangan dimulai sejak bayi sampai tua.8

C. Perkembangan Moral dan Sosial


Istilah moral berasal dari bahasa Latin yakni mos (moris) yang berarti adat
istiadat. Belum bermoral, artinya ia belum memiliki pengetahuan atau pengertian
akan apa yang diharapkan oleh kelompok sosial di mana ia hidup.
Perkembangan moral seorang anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan di
mana ia hidup. Anak belajar dan di ajarkan oleh lingkungannya mengenai
bagaimana ia harus bertingkah laku yang baik dan tingkahlaku yang bagimana
yang dikatakan salah atau tidak baik. Lingkungan ini dapat berarti orang tua,
saudara-saudara, teman-teman, guru-guru, dan sebagainya. Orang tua adalah
orang yang pertama di kenal oleh anak, sehingga anak belajar moral dari orang
tuanya. Namun hal ini tidak berarti jika anak menunjukkan hal yang tidak
bermoral, itu di sebabkan karena pengaruh orang tua. Faktor individual dan
lingkungan dapat juga mempengaruhi perkembangan si anak, jadi dapat dikatakan
bahwa orangtua bukanlah satu-satunya faktor penentu bagiperkembangan moral
anak, namun orangtua dapat mengarahkan perkembangan moral anak sejauh
mungkin, denngan menyadari akan peranannya yang besar dalam kehidupan si
anak.9

8
http://kompasiana.com/post/edukasi/2011/01/09/sedikit-tentang-perkembangan-sosial-
dan-pribadi-anak/ , diposting oleh Panser Dwi Puspita tanggal 9 Januari 2011, diakses tanggal 3
Oktober 2012
9
Singgih D. Gunarsa dan Ny Y Singsih D Gunarsa, Psikologi Perkembangan Anak dan
Remaja, (Jakarta: Gunung Mulia, 1995), Cet. Ke-7, h. 60-63

6
Adapun sikap orangtua yang perlu mendapat perhatian, guna
perkembangan moral anaknya adalah:
1. Konsestensi dalam mendidik dan mengajar anak-anak.
2. Pencerminan sikap orangtua terhadap keluarga
3. Penghayatan orangtua akan agama yang di anutnya
4. Sikap konsekuen orangtua dalam mendisiplinkan anak
Perkembangan moral anak berlangsung secara bertahap. Tahap yang satu
hanya dapat dicapai jika tahap sebelumnya sudah dilewati anak. Tiap tahap
mempunyai kerektaristik-karektaristik tertentu, namun pada umumnya sulit
menentukan batas-batas yang jelas antara tahap yang satu dengan tahap yang
lainnya.
J. Piaget dan L. Kohlberg mengatakan bahwa perkembangan moral
seorang anak sejalan dengan perkembangan aspek kognitifnya. Semakin
bertambahnya tingkat-tingkat pengertian anak, makin banyak pula nilai-nilai
moral yang dapat ditangkap dan dimengerti oleh anak.
Pada tahap usia 0-3 tahun, anak melihat orang tua sebagai otorites yang
mutlak dan tidak dapat di ganggu gugat. Apa yang di tentukan oleh orang tua
harus di turut oleh anak. Menyadari hal ini, orang tua berperan besar dalam
membimbing dan menejarkan serta mengarahkan tingkah laku anak.
Tahap usia 3-6 tahun, anak sudah memiliki dasar-dasar sikap-sikap
moralitas terhadap kelompok sosialnya. Jadi pada masa ini anak memperlihatkan
suatu perbuatan yang baik, tapi masih tanpa pengetahuan mengapa ia harus
berbuat demikian. Ia melakukan hal ini untuk menghindari hukuman yang
mungkin akan dialami dari lingkungan sosial, atau untuk memperoleh pujian atau
untuk pemenuhan kebutuhan.
Pada usia 5-6 tahun, peranan konsep-konsep moralitas pada anak ini
mungkin mengalami kesulitan disebabkan karena sifat-sifat egoisme anak yang
sedang menonjol pada masa ini.
Tahap 6 – remaja, anak sudah memasuki sekolah. Ini berarti bahwa
lingkungan pengetahuan anak juga bertambah luas. Anak mengenal adanya
kelompok sosial yang lain di samping keluarga. Baik anak laki-laki maupun anak

7
permpuan, belajar untuk bertingkah laku sesuai dengan apa yang diharapkan oleh
kelompoknya. Kalau sebelumnya anak merumuskan ‘tingkah laku baik’ sebagai
suatu tindakan yang khusus seperti patuh pada ibu dan ‘tingkah laku buruk’
sebagai tidak melakukan hal yang di atas, maka pada usia 8-9 tahun, konsep-
konsep mereka bertambah luas dan umum. Mereka akan sadar bahwa mencuri itu
perbuatan yang tidak baik. Pada usia 10-12 tahun, anak sudah dapat mengetahui
dengan baik alasan-alasan atau prinsip-prinsip yang mendasari suatu peraturan.
Anak sudah mampu membedakan macam-macam situasi dimana nilai-nilai moral
itu dapat di kenakan.10

D. Perkembangan Kemandirian dan Sosial


Kemandirian dapat didefinisikan sebagai hasrat/keinginan seorang anak
atau remaja untuk melakukan segala sesuatu bagi dirinya sendiri tanpa bantuan
orang lain. Kemandirian merupakan salah satu tugas perkembangan bagi anak dan
remaja untuk belajar dan berlatih dalam membuat rencana, memilih alternatif,
membuat keputusan, serta bertanggung jawab atas segala sesuatu yang
dilakukannya.
Proses perkembangan kemandirian meliputi:
a. Kemandirian anak dan remaja berkembang melalui latihan yang dilakukan
secara terus-menerus dan dilakukan sejak dini.
b. Diajarkan kepada anak dan remaja sesuai dengan kemampuan dan
kesanggupannya sampai tumbuh rasa percaya diri.
c. Dalam proses pencarian identitas diri, remaja mulai ingin melepaskan diri
dari ikatan psikis orang tuanya.
d. Remaja ingin mulai diperlakukan dan dihargai sebagai orang dewasa.
e. Kemandirian seorang remaja diperkuat melalui proses sosialisasi yang terjadi
antara remaja dengan peer groupnya, dengan tujuan mendapatkan pengakuan
dan penerimaan kelompoknya.
Ada beberapa faktor prnghambat perkembangan dalam kemandirian, di
antaranya:

10
Ibid, h. 64-69

8
a. Tidak dapat mencapai kebebasan emosional dari orang tua.
b. Pola asuh orang tua
c. Kurang perhatian dan bimbingan orang tua dalam menjalani tugas
perkembangan yang terkait dengan perkembangan kemandirian.
d. Kurang adanya motivasi yang kuat dari anak/remajanya itu sendiri.
Adapun aspek-aspek kemandirian, meliputi:
a. Aspek Emosi, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan mengontrol emosi.
b. Aspek Ekonomi, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk mengatur
dan mengelola kebutuhan diri secara ekonomis.
c. Aspek Intelektual, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk mengatasi
berbagai masalah yang dihadapi.
d. Aspek Sosial, aspek ini ditunjukan dengan kemampuan untuk mengadakan
interaksi dengan orang lain dan tidak tergantung kepada orang lain.
Peran orang tua sangat diperlukan dalam membangun dan
mengembangkan kemandirian anak. Di bawah ini beberapa peran yang dapat
dilakukan orang tua, seperti:
a. Memperlakukan anak sesuai karakteristiknya masing-masing, tidak untuk
disamakan atau dibanding-bandingkan.
b. Mengantarkan anak kedalam kehidupan religius yang kuat dalam membangun
komunikasi dan hubungan spiritual yang kokoh baik secara habluminallah
maupun habluminannas.
c. Memfasilitasi anak dalam berbagai keterampilan praktis,serta di berbagai
sektor kehidupan sesuai dengan kemampuan dan bakat, serta kepribadian
anak.
d. Melatih anak untuk belajar mengambil keputusan yang konsisten dan
responsibility.11

11

http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI_PEND_DAN_BIMBINGAN/1957083019810
12-
NANI_M_SUGANDHI/MENUMBUHKEMBANGKAN_KEMANDIRIAN_ANAK_DAN_REM
AJA_UNTUK_MENYONGSONG_%5BCompatibility_Mode%5D.pdf

9
BAB III
KESIMPULAN

Lingkungan sosial memberikan banyak pengaruh terhadap pembentukan


berbagai aspek kehidupan, terutama kehidupan sosio-psikologis. Perkembangan
sosial manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: keluarga, kematangan,
status sosial ekonomi, pendidikan, dan kapasitas mental emosi dan intelegensi.
Perilaku dan cara mengasuh orang tua juga sangat mempengaruhi
perkembangan sosio-emosional anak. Perkembangan moral seorang anak sangat
dipengaruhi oleh lingkungan di mana ia hidup. J. Piaget dan L. Kohlberg
mengatakan bahwa perkembangan moral seorang anak sejalan dengan
perkembangan aspek kognitifnya.
Seorang anak dikatakan mandiri jika ia dapat mengendalikan emosi,
ekonomi, intelektual, dan sosial. Dalam hal ini peran orang tua sangat diperlukan.

10
DAFTAR PUSTAKA

Singgih D. Gunarsa dan Ny Y Singsih D Gunarsa, Psikologi perkembangan anak


dan remaja, Jakarta, Gunung Mulia, 1995, Cet. Ke-7
Sunarto dan Ny. B. Agung Hartono, Perkembangan Peserta Didik, Jakarta,
Rineka Cipta, 2002

Akses internet:

http://kompasiana.com/post/edukasi/2011/01/09/sedikit-tentang-perkembangan-
sosial-dan-pribadi-anak/ , diposting oleh Panser Dwi Puspita tanggal 9
Januari 2011, diakses tanggal 3 Oktober 2012
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI_PEND_DAN_BIMBINGAN/
195708301981012-
NANI_M_SUGANDHI/MENUMBUHKEMBANGKAN_KEMANDIRIA
N_ANAK_DAN_REMAJA_UNTUK_MENYONGSONG_%5BCompatib
ility_Mode%5D.pdf

11