Anda di halaman 1dari 11

BAHASA, BANGSA

Karya : Muhammad Yamin

Selagi kecil berusia muda,


Tidur si anak di pangkuan bunda
Ibu bernyanyi, lagu dan dendang
Memuji si anak banyaknya sedang;
berbuai sayang malam dan siang
buaian tergantung di tanah moyang.
Terlahir di bangsa, berbahasa sendiri
diapit keluarga kanan dan kiri
besar budiman di tanah melayu
berduka suka, sertakan rayu;
Perasaan serikat menjadi padu
Dalam bahasanya, permai merdu.
Meratap menangis bersuka raya
Dalam bahagia bala dan baya;
Bernafas kita pemanjangkan nyawa
Dalam bahasa sambungan jiwa
Di mana Sumatra, di situ bangsa,
Di mana Perca, di sana bahasa.
Andalasku sayang, jana bejana
sejakkan kecil muda teruna
sampai mati berkalang tanah
lupa ke bahasa, tiadakan pernah
ingat pemuda, Sumatera malang
tiada bahasa, bangsa pun hilang.
IBU KOTA SENDJA

Karya : Toto Sudarto Bachtiar

Penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari

Antara kuli-kuli berdaki dan perempuan telanjang mandi

Di sungai kesayangan , o, kota kekasih

Klakson oto dan lonceng trem saing-menyaingi

Udara menekan berat di atas jalan panjang berkelokan

Gedung-gedung dan kepala mengabur dalam senja

Mengarungi dan layung-layung membara di langit barat daya

O, kota kekasih

Tekankan aku pada pusat hatimu

Di tengah-tengah kesibukanmu dan penderitaanmu

Aku seperti mimpi, bulan putih di lautan awan belia

Sumber-sumber yang murni terpendam

Senantiasa diselaputi bumi keabuan

Dan tangan serta kata menahan napas lepas bebas

Menunggu waktu mengangkut maut

Aku tiada tahu apa-apa, di luar yang sederhana

Nyanyian-nyanyian kesenduan yang bercanda kesedihan

Menunggu waktu keteduhan terlanggar di pintu dini hari


Serta keabadian mimpi-mimpi manusia

Klakson dan lonceng bunyi bergiliran

Dalam penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari

Antara kuli-kuli yang kembali

Dan perempuan mendaki tepi sungai kesayangan

Serta anak-anak berenangan tertawa tak berdoa

Di bawah bayangan samar istana kejang

Layung-layung senja melambung hilang

Dalam hitam malam menjulur tergesa

Sumber-sumber murni menetap terpendam

Senantiasa diselaputi bumi keabuan

Serta senjata dan tangan menahan napas lepas bebas

O, kota kekasih setelah senja

Kota kediamanku, kota kerinduanku


PUISI, RIMBA ATAU TAMAN BUNGA

Puisi : Sosiawam Leak

Apa yang bisa diberikan puisi

di tengah senyuman Tuhan;

tsunami dan banjir bah

formalin, bakso tikus, longsoran sampah

flu burung dan demam berdarah?

apakah puisi berteriak sekencang reformasi

pemilu dan sidang raju

demo kepala desa, ruu pornografi atau karikatur nabi?

apakah puisi seperti blt

raskin, kartu sehat, ganti rugi tanah

untuk tol dan program pemerintah?

atau ia mirip komentar penguasa

tentang bbm, tdl, teroris, impor beras dan pupuk kimia?

freeport dan blok cepu?

Apakah ia seperti chairil

intisari pikiran dan perenungan?

atau cuma seonggok jagung di kamar willy

yang loyo berhadapan dengan spp wiji?

apakah puisi beda dengan nina bobok ibu kala kita kecil dulu?
apakah ia tak sama dengan tembang dolanan di pelataran

saat kanak-kanak, berkawan teman-teman dan rembulan?

apakah ia tak bisa gaul dengan abg

yang nongkrong di mall, super market dan televisi?

apakah ia tak bisa dipinang dentuman ritmik

café, restoran, dan discotik?

apakah ia adalah lembu yang kecapaian

usai membajak sawah?

atau puisi adalah sawah itu sendiri?

angin, batu, bajak, tanah, matahari

bulan, laut, ranting, kedalaman dan kesenyapan

jiwa yang terbelenggu?

denting gitar dan gemericik air kali?

nyatanya di matamu puisi menolak semu

berkisah segala, memamah semua

meski tak selalu mampu memamah menu

mengunyah usia hingga menua

lautan, kota, manusia kalah

korupsi serta ziarah

rindu, nabi, sejarah, kenangan

cinta, sia-sia juga nyanyian


seperti omnivora

kau telan tiap yang kau temu

entah suka entah tak kuasa, entah karib entah tak akrab

masuk ke lubang krongkongan

lalu aduk di lambung lambang

kembali ke lumbung kehidupan

apakah segampang lempang?

nyatanya, kau kerap menggulai kata-kata

melebihi makna yang hendak kau jala

hingga lahir sajak dengan kerutan

dahi lipatan dan luka sekujur muka

nyatanya, wajahnya kabur bertabur aneka

hingga kita musti waspada

kala menatap dan menyelaminya

sebab, bisa bak rimba yang di rimbun kata

sedang matahari, sang pembidik arah

tak tembus cahyanya

di rimbunan yang belum selesai tumbuh

dan terus tumbuh!

lalu, tanpa kompas kita terjebak di hutan makna

ruwet jalan keluar masuknya


sedang alas yang kita injak tak henti diserbu kabut

hasil perselingkuhan slogan dan mantera

beraroma gelisahmu yang lembah

sebab alpa kau buka jendela

hatimu! bagai lensa kamera, sajakmu tanpa kekang biasnya

menghidang gambar jauh dari nyata

lebih indah, lebih manis, lebih tragis, lebih terjaga

fantastis! kau lupa

bahwa rumput sejumput

lebih gairah dari segenggam kembang

di samudra bunga

sedang taman, tak dibutuhkan

di pendemi alvian influensa dan busung lapar

Pelangi Mojosongo, Solo, 11 maret 2006


BERSAMA PARA TKW
Karya : Agus R Sarjono

Aku memandang wajah-wajah saudaraku


dengan mata berembun
berbaris ke negeri orang
ke negeri para majikan.
Apakah yang mereka renungkan?
Wajah para tuan yang memungkinkan mereka naik pesawat terbang
memperkenalkan peradaban dunia, musim dan bendera berbeda.
Atau mereka bayangkan
tanah air hamparan negeri dengan berbagai sebutan
dan lagu-lagu yang ditanam guru-guru sekolah ke dalam batin
Juga potret-potret pahlawan yang mengabur
dan kini digantikan orang-orang berbaju safari
dan pakaian seragam
yang begitu sering mondar-mandir di jalanan nasib mereka.
Begitu royal para petinggi itu
menghibahkan berbagai perintah, pungutan dan larangan
hingga tiba-tiba semua orang menjadi akrab
dengan berbagai macam kehilangan

Dari atas pesawat,


kupandangi hamparan tanah air hijau dan lapang,
namun begitu sempit hingga mereka tak mampu
bahkan untuk sekedar menarik nafas dan membangun
kehidupan.
Ketika waktu makan tiba
kulihat begitu lahap mereka santap sajian di
pesawat:
Ikan tuna saus mentega,
nasi gurih panas,
kue coklat krim buah,
segelas sari jeruk.
Seperti hidangan raja-raja,
mungkin begitu batin mereka.
Dan kini kulihat mereka sepenuhnya
siap menjadi sahaya di mana saja di dunia.
WAJAH KITA
Karya : Hamid Jabbar

Bila kita selalu berkaca setiap saat


Dan di setiap tempat
Maka tergambarlah:
Alangkah bermacamnya
Wajah kita
Yang berderet bagai patung
Di toko mainan di jalan braga:
Wajah kita adalah wajah bulan
Yang purnama dan coreng-moreng
Serta gradakan dan bopeng-bopeng
Wajah kita adalah wajah manusia
Yang bukan lagi manusia
Dan terbenam dalam wayang
Wajah kita adalah wajah rupawan
Yang bersolek menghias lembaran
Kitab suci dan kitab undang-undang
Wajah kita adalah wajah politisi
Yang mengepalkan tangan bersikutan
Menebalkan muka meraih kedudukan
Wajah kita adalah wajah setan
Yang menari bagai bidadari
Merayu kita menyatu onani

Bila kita selalu berkaca


Yang buram tak sempurna
Maka tergambarlah
Alangkah
Wajah kita
Yang terkadang bagai binatang
Di kota di taman margasatwa
Wajah kita adalah wajah srigala
Yang mengaum menerkam mangsanya
Dengan buas, lahap dan gairahnya
Wajah kita adalah wajah anjing
Yang mengejar bangkai dan kotoran
Di tong sampah dan selokan-selokan