Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kejahatan korupsi merupakan kejahatan yang luar biasa, yang menjadi
penghambat utama tercapainya tujuan pembangunan nasional, yaitu terwujudnya
Indonesia yang adil. Upaya penindakan korupsi harus diimbangi dengan upaya
pencegahannya. Pemerintah telah berupaya melakukan upaya pencegahan yang
dituangkan dalam Instruksi Presiden dan Peraturan Presiden. Untuk mensinergikan
kegiatan pencegahan korupsi, reformasi birokrasi, dan peningkatan kualitas pelayanan
publik, maka ditetapkan kebijakan pembangunan Zona Integritas, yang sekaligus
merupakan tindak lanjut dari penandatanganan Pakta Integritas oleh seluruh PNS yang
merupakan komitmen untuk tidak melakukan korupsi. Sebagai tolak ukur keberhasilan
pembangunan ZI, ditetapkan suatu indikator, dengan pemberian penghargaan berupa
predikat WBK dan WBBM. Diharapkan nilai IPK Indonesia terus meningkat dari tahun
ke tahun.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana pembangunan zona integritas menuju wilayah bebas korupsi dan
wilayah birokrasi bersih melayani di Indonesia ?

1.3 Tujuan Penulisan


Agar mahasiswa mengetahui dan memahami pembangunan zona integritas
menuju wilayah bebas korupsi dan wilayah birokrasi bersih melayani di Indonesia

~1~
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Zona Integritas
Dalam Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi
Birokrasi Republik Indonesia nomor 52 tahun 2014 tentang pedoman pembangunan
Zona Integritas menuju wilayah bebas korupsi dan wilayah birokrasi bersih melayani di
lingkungan instansi pemerintah menyebutkan bahwa, Zona Integritas merupakan
predikat yang diberikan kepada instansi pemerintah yang pimpinan dan jajarannya
mempunyai komitmen untuk mewujudkan wilayah bebas korupsi (WBK) dan wilayah
birokrasi bersih melayani (WBBM) melalui reformasi birokrasi, khususnya dalam hal
pencegahan korupsi dan peningkatan kualitas pelayanan publik, serta reformasi
birokrasi di lingkungan kerja yang menjadi tanggung jawabnya, yang diawali dengan
penandatanganan Pakta Integritas oleh seluruh pegawainya.
Pada hakekatnya, pembangunan zona integritas menuju WBK/WBBM ditujukan
untuk membangun dan mengimplementasikan program reformasi birokrasi secara baik
pada tingkat unit kerja di lingkungan instansi pemerintah (K/L/Pemda), sehingga
mampu menumbuh kembangkan budaya kerja birokrasi yang anti korupsi dan budaya
birokrasi yang melayani publik secara baik, serta mampu meningkatkan kepercayaan
publik terhadap birokrasi di lingkungan instansi pemerintah.
Zona integritas merupakan salah satu program yang dimaksudkan untuk
mengakselerasi capaian sasaran reformasi birokrasi, yaitu pemerintahan yang bersih dan
akuntabel, efektif dan efisien, serta kualitas pelayanan publik yang baik. Namun dalam
perjalanan menuju pencapaian sasaran reformasi birokrasi, kendala sering kali dihadapi,
diantaranya adalah penyalahgunaan wewenang, praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme
(KKN), dan lemahnya pengawasan. Hal tersebut berimbas pada kepuasan pelayanan
masyarakat dan tingkat kepercayaan masyarakat kepada birokrasi yang semakin rendah.
Oleh karena itu, setiap instansi pemerintah dirasa perlu untuk membangun pilot project
pelaksanaan reformasi birorkasi yang dapat menjadi percontohan penerapan pada unit-
unit kerja lainnya.

2.2 Pencanangan Pembangunan Zona Integritas


Adapun pencanangan Pembangunan Zona Integritas berdasarkan pedoman
Pembangunan Zona Integritas Nomor 52 tahun 2014, meliputi sebagai berikut:

~2~
a) Pencanangan pembangunan Zona Integritas adalah deklarasi/pernyataan dari
pimpinan suatu instansi pemerintah bahwa instansinya telah siap membangun
Zona Integritas;
b) Pencanangan pembangunan Zona Integritas dilakukan oleh instansi pemerintah
yang pimpinan dan seluruh atau sebagian besar pegawainya telah
menandatangani dokumen Pakta Integritas dapat dilakukan secara
massal/serentak pada saat pelantikan, baik sebagai CPNS, PNS, maupun
pelantikan dalam rangka mutasi kepegawaian horizontal atau vertikal. Bagi
instansi pemerintah yang belum seluruh pegawainya menandatangani dokumen
Pakta Integritas, dapat melanjutkan/melengkapi setelah pembangunan Zona
Integritas;
c) Pencanangan pembangunan Zona Integritas beberapa instansi pusat yang berada
di bawah koordinasi Kementrian dapat dilakukan bersama-sama. Sedangkan
pencanangan pembangunan Zona Integritas di instansi daerah dapat dilakukan
oleh kabupaten/kota bersama-sama dalam satu provinsi;
d) Pencanangan pembangunan Zona Integritas dilaksanakan secara terbuka dan
dipublikasikan secara luas dengan maksud agar semua pihak termasuk
masyarakat dapat memantau, mengawal, mengawasi dan berperan serta dalam
program kegiatan reformasi birokrasi khususnya di bidang pencegahan korupsi
dan peningkatan kualitas pelayanan publik;
e) Penandatanganan Piagam Pencanangan Pembangunan Zona Integritas untuk
instansi pusat dilaksanakan oleh pimpinan instansi pemerintah &
Penandatanganan Piagam Pencanangan Pembangunan Zona Integritas untuk
instansi daerah dilaksanakan oleh pimpinan instansi pemerintah daerah;
f) KPK, ORI, unsur masyarakat lainnya (perguruan tinggi, tokoh masyarakat/LSM,
dunia usaha) dapat juga menjadi saksi pada saat pencanangan Zona Integritas
untuk instansi pusat dan instansi daerah.

2.3 Proses Pembangunan Zona Integritas


Dalam upaya pembangunan Zona Integritas menuju WBBM, Kemenkes telah
melakukan penilaian terhadap calon Satker WBK yang memenuhi syarat indikator hasil
dan indikator proses Satker WBK serta pada tanggal 30 Agustus 2013 telah
mengusulkan 3 Satuan Kerja ke Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Reformasi Birokrasi untuk ditetapkan sebagai Satker WBK. Proses pembangunan Zona

~3~
Integritas yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan dengan melakukan 2 (dua) cara
penilaian, yakni sebagai berikut.
1) Penilaian Satuan Kerja Berpredikat WBK
Penilaian Satuan Kerja berpredikat yang berpredikat WBK di lingkungan
Kementerian Kesehatan dilakukan oleh Tim Penilai Internal (TPI) yang dibentuk
oleh Menteri Kesehatan. Penilaian dilakukan dengan dengan menggunakan
indikator proses (nilai di atas 75) dan indikator hasil yang mengukur efektivitas
kegiatan pencegahan korupsi yang telah dilaksanakan. Dalam upaya pencapaian
predikat Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan
Melayani (WBBM) kriteria utama yang harus dipenuhi adalah pencapaian opini
laporan keuangan kementerian/lembaga oleh BPK-RI, harus memperoleh hasil
penilaian indikator proses di atas 75 dan memenuhi syarat nilai indikator hasil
WBK seperti tabel berikut ini.
NO UNSUR INDIKATOR PROSES BOBOT %
1 Penandatanganan pakta integritas 5
2 Pemenuhan kewajiban LHKPN 6
3 Pemenuhan akuntabilitas kinerja 6
4 Pemenuhan kewajiban laporan keuangan 5
5 Penerapan kewajiban disiplin PNS 5
6 Penerapan kode etik khusus 4
7 Penerapan kebijakan pelayanan publik 6
8 Penerapan whistle blower system tindak pidana korupsi 6
9 Pengendalian gratifikasi 6
10 Penanganan benturan kepentingan (conflict of interest) 6
11 Kegiatan pendidikan, pembinaan, dan promosi antikorupsi 6
12 Pelaksanaan saran perbaikan yang diberikan oleh 5
BPK/KPK/APIP
13 Penerapan kebijakan pembinaan purna-tugas 4
14 Penerapan kebijakan pelaporan transaksi keuangan yang 6
tidak sesuai dengan profil PPATK
15 Promosi jabatan secara terbuka 3
16 Rekrutmen secara terbuka 3
17 Mekanisme pengaduan masyarakat 6

~4~
18 E-Procurement 6
19 Pengukuran kinerja individu 3
20 Keterbukaan informasi publik 3

2) Penilaian dan Penetapan Satuan Kerja Berpredikat WBBM


Penilaian satker yang berpredikat Wilayah Birokrasi Bersih dan
Melayani (WBBM), dilakukan oleh Tim Penilai Nasional (TPN) melalui
evaluasi atas kebenaran material hasil self -assessment yang dilaksanakan oleh
TPI termasuk hasil self-assesament tentang capaian indikator hasil WBBM.
Untuk mencapai Indikator Hasil WBK dan WWBM dapat dinilai mengacu pada
penilaian seperti tabel berikut ini.
NO UNSUR INDIKATOR WBK WBBM KETERANGAN
HASIL
1 Nilai Indeks Integritas >7,0 >7,5 Skala 0–10 berdasarkan
intrumen KPK
2 Penilaian kinerja unit >550 >750 Skala 0–1000
pelayanan berdasarkan Permenpan
public 38/2012. Dalam
2 tahun terakhir
3 Penilaian kerugian 0% 0% Penilaian APIP & BPK
negara (KN) dalam 2 tahun yang
belum diselesaikan (%)
terakhir
4 Persentase maksimum 3% 2% 0% jika jumlah
temuan inefektif pegawai 100 orang
5 Persentase minimum 3% 2% <1% jika jumlah
temuan inefisien pegawai >100 orang
6 Persentase maksimum 1% 0% Idem
jumlah pegawai yang
dijatuhi hukuman
disiplin karena
penyalahgunaan
keuangan

~5~
7 Persentase pengaduan 5% 0% Idem
masyarakat yang belum
ditindak lanjuti
8 Persentase pegawai yang 0% 0% Pengaduan yang telah
melakukan tindak pidana >60 hari dalam 2 tahun
korupsi terakhir berdasarkan
keputusan pengadilan
yang telah mempunyai
kekuatan hukum tetap

Proses pembangunan Zona Integritas difokuskan pada penerapan program


manajemen perubahan, penataan tatalaksana, penataan manajemen SDM, penguatan
pengawasan, penguatan akuntabilitas kinerja, dan peningkatan kualitas pelayanan publik
yang bersifat konkret. Dalam membangun Zona Integritas, pimpinan instansi
pemerintah menetapkan satu atau beberapa unit kerja yang diusulkan sebagai WBK dan
WBBM dengan memperhatikan beberapa syarat yang telah ditetapkan, diantaranya : (1)
dianggap sebagai unit yang penting/strategis dalam melakukan pelayanan publik; (2)
mengelola sumber daya yang cukup besar, serta (3) memiliki tingkat keberhasilan
reformasi birokrasi yang cukup tinggi di unit tersebut. Sehingga, perlunya dilakukan
pembinaan dan pengawasan yang efektif guna menjaga terpeliharanya predikat WBK
dan WBBM.

2.4 Wilayah Bebas Korupsi dan Wilayah Birokrasi Bersih Melayani


Wilayah Bebas Korupsi adalah predikat yang diberikan kepada suatu unit kerja
yang memenuhi sebagian besar kriteria dalam mengimplementasikan 6 area perubahan
program reformasi birokrasi, yaitu manajemen perubahan, penataan tatalaksana,
penataan sistem manajemen SDM, penguatan pengawasan, penguatan akuntabilitas
kinerja, dan peningkatan kualitas pelayanan publik. Hal tersebut juga harus didukung
dengan hasil survei eksternal Indeks Persepsi Korupsi (IPK) dan Indeks Persepsi
Kualitas Pelayanan yang menyatakan baik, di mana nilai IPK minimal 13,5 dari
maksimal 15, serta telah menyelesaikan tindak lanjut hasil pemeriksaan oleh pemeriksa
internal dan eksternal.
Wilayah Birokrasi Bersih Melayani, sama seperti WBK, predikat ini hanya
diberikan kepada unit kerja yang memenuhi sebagian besar kriteria 6 area perubahan
~6~
dan didukung hasil survei eksternal IPK dan Indek Persepsi Kualitas Pelayanan yang
baik, minimal 13,5 dari nilai maksimal 15. Namun yang membedakan adalah adanya
nilai persepsi kualitas pelayanan publik dengan perolehan minimal 16 dari nilai
maksimal sebesar 20, serta telah menyelesaikan tindak lanjut hasil pemeriksaan oleh
pemeriksa internal dan eksternal.
Adapun penjelasan indikator-indikator tersebut yaitu :
a) Manajemen perubahan, bertujuan untuk mengubah secara sistematis dan
konsisten mekanisme kerja, pola pikir (mind set), serta budaya kerja (culture set)
individu pada unit kerja yang dibangun, menjadi lebih baik sesuai dengan tujuan
dan sasaran pembangunan Zona integritas.
b) Penataan tatalaksana, bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas
sistem, proses dan prosedur kerja yang jelas, efektif, efisien, dan terukur pada
Zona Integritas menuju WBK/WBBM.
c) Penataan sistem manajemen SDM, bertujuan untuk meningkatkan
profesionalisme SDM aparatur pada Zona Integritas menuju WBK/WBBM.
d) Penguatan akuntabilitas, akuntabilitas kinerja merupakan perwujudan kewajiban
suatu instansi pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan atau
kegagalan pelaksanaan program dan kegiatan dalam mencapai misi dan tujuan
organisasi. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan
akuntabilitas kinerja instansi pemerintah.
e) Penguatan pengawasan, bertujuan untuk meningkatkan penyelenggaraan
pemerintahan yang bersih dan bebas KKN pada masing-masing instansi
pemerintah.
f) Peningkatan kualitas pelayanan publik, merupakan suatu upaya untuk
meningkatkan kualitas dan inovasi pelayanan publik pada masing-masing
instansi pemerintah secara berkala sesuai kebutuhan dan harapan masyarakat.
Disamping itu, peningkatan kualitas pelayanan publik dilakukan untuk
membangun kepercayaan masyarakat terhadap penyelenggara pelayanan publik
dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan menjadikan
keluhan masyarakat sebagai sarana untuk melakukan perbaikan pelayanan
publik.

~7~
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Zona Integritas merupakan predikat yang diberikan kepada instansi pemerintah
yang pimpinan dan jajarannya mempunyai komitmen untuk mewujudkan wilayah bebas
korupsi (WBK) dan wilayah birokrasi bersih melayani (WBBM) melalui reformasi
birokrasi, khususnya dalam hal pencegahan korupsi dan peningkatan kualitas pelayanan
publik, serta reformasi birokrasi di lingkungan kerja yang menjadi tanggung jawabnya,
yang diawali dengan penandatanganan Pakta Integritas oleh seluruh pegawainya. Proses
pembangunan Zona Integritas difokuskan pada penerapan program manajemen
perubahan, penataan tatalaksana, penataan manajemen SDM, penguatan pengawasan,
penguatan akuntabilitas kinerja, dan peningkatan kualitas pelayanan publik yang
bersifat konkret. Proses pembangunan Zona Integritas yang dilakukan oleh kementerian
kesehatan dengan melakukan 2 (dua) cara penilaian, yakni penilaian satuan kerja
berpredikat wbk dan penilaian dan penetapan satuan kerja berpredikat wbbm

3.2 Saran
Sebagai mahasiswa kiranya kita dapat bersama-sama untuk selalu
menumbuhkan dan meningkatkan semangat nasionalisme untuk Negara Indonesia agar
menjadi Negara yang bebas dari Korupsi, dan ciptakan pribadi bebas korupsi

~8~
DAFTAR PUSTAKA

Adwirman, dkk. 2014. Buku Ajar Pendidikan dan Budaya Antikorupsi. Jakarta : Pusat
Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan

Surachmin dan Suhandi Cahaya. 2011. Strategi dan Teknik Korupsi. Jakarta :
Sinar Grafika

Puspito, Nanang, dkk. 2011. Pendidikan Anti Korupsi untuk Perguruan Tinggi. Jakarta :
Kemendikbud RI

~9~