Anda di halaman 1dari 9

PEMBAHASAN

Percobaan kali ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pH terhadap absorpsi obat
melalui saluran pencernaan secara in vitro. Percobaan dengan metode in vitro dilakukan
dengan menggunakan organ terisolasi hewan percobaan yang menggambarkan keadaan
sebenarnya organ hidup. Studi absorpsi in vitro dimaksudkan untuk memperoleh
informasi tentang mekanisme absorpsi suatu bahan obat, tempat terjadinya absorpsi yang
optimal, permeabilitas membran saluran pencernaan terhadap berbagai obat, serta
pengaruh berbagai faktor terhadap absorpsi suatu obat.

Dalam percobaan kali ini akan dibahas absorpsi obat. Proses absorpsi merupakan
dasar penting dalam menentukan aktivitas farmakologis obat. Kegagalan atau kehilangan
obat selama proses absorpsi akan mempengaruhi efek obat dan menyebabkan kegagalan
pengobatan. Faktor yang mempengaruhi kecepatan dan besarnya absorbsi, termasuk
bentuk dosis, jalur/rute masuk obat, aliran darah ke tempat pemberian, fungsi saluran
pencernaan (Gastrointestinal), adanya makanan atau obat lain, dan variable lainnya
(Abrams, 2005). Absorpsi menentukan tinggi atau rendahnya kadar obat dalam darah.
Kadar obat dalam darah itulah yang menentukan bagus atau tidaknya efek yang dihasilkan
dan target terapi yang diharapkan. Sehingga karena sifatnya yang krusial, maka absorbsi
menjadi rate limiting step untuk obat dengan kelas BCS kelas 2. Jika absorbsi yang terjadi
adalah baik, maka step selanjutnya seperti disolusi, metabolisme, dan ekskresi akan baik
pula.

Obat yang larut dalam lipid umumnya mengalami absorbsi melalui mekanisme difusi
pasif. Difusi pasif merupakan suatu proses dimana molekul secara spontan (tanpa
memerlukan energi) berdifusi dari area yang memiliki konsentrasi lebih tinggi ke area
dengan konsentrasi yang lebih rendah (Shargel, 2004). Makin baik kelarutannya dalam
lipid, maka baik absorpsinya sampai suatu absorpsi optimum tercapai. Obat-obat yang
digunakan sebagian besar bersifat asam atau basa organik lemah. Sehingga absorpsi obat
dipengaruhi derajat ionisasinya pada waktu zat tersebut berhadapan dengan membran.
Membran sel lebih permeable terhadap bentuk obat yang tidak terionkan dari pada bentuk
obat yang terionkan (Watson, 2007). Derajat ionisasi obat dipengaruhi pKa senyawa obat
dan pH dari medium. Hal ini dapat dibuktikan dengan persaman Handerson-Hasselbach
yang menggambarkan hubungan antara pKa dan pH :
(Shargel, 2004)
Berdasarkan hipotesis pH-partisi, jika pH dari salah satu sisi membran berbeda dari
pH sisi lainnya, maka obat akan terionisasi pada derajat yang berbeda, konsentrasi total
obat (terion dan tak terion) akan berbeda pada kedua sisi, dan kompartemen dengan
bentuk terion lebih banyak akan menghasilkan konsentrasi total obat yang lebih tinggi
(Shargel, 2004).
Obat yang digunakan pada percobaan kali ini adalah asam salisilat yang ditempatkan
pada dua kondisi pH tempat absorpsi yaitu pH 1.2 pada cairan lambung buatan tanpa
pepsin dan pH 7.5 pada cairan usus tanpa pankreatin. Asam salisilat termasuk obat
golongan asam lemah, sehingga berdasarkan teori like dissolves like, obat pada
lingkungan buffer pH 1.2 akan berada dalam bentuk bebasnya (Abrams, 2005).

Asam salisilat memiliki aktivitas keratorik dan antiseptik lemak jika digunakan
secara topikal. Selain itu, penggunaan jangka panjang pada daerah yang sama akan
mengiritasi kulit sehingga menyebabkan dermatitis (Syukuri, 2002). Berikut Pemerian
dari asam salisilat,

Gambar 1. Asam Salisilat (Moffat, 2011).

Sinonim : acidum salicylicum

Berat Molekul : 138,12

Rumus Molekul : C7H6O3


Kelarutan : larut dalam 550 bagian air dan dalam 4 bagian etanol
(95%); mudah larut dalam kloroform dan dalam eter; larut dalam larutan ammonium
asetat , dinatrium hidrogenfosfat, kalium sitrat, dan natrium sitrat.

Pemerian :hablur ringan tidak berwarna atau serbuk berwarna putih;


hampir tidak berbau; rasa agak manis dan tajam.

Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik.

Kegunaan : keratolitikum, antifungi, sebagai sampel.

(Lesson, 1990)

Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah metode usus terbalik. Metode
ini digunakan untuk menggambarkan proses terjadinya absorsi dalam saluran pencernaan.
Keuntungan metode ini, yaitu :
1. Metode sederhana dan reprodusible.
2. Dapat membedakan antara proses absorpsi aktif dan pasif.
3. Dapat dilakukan untuk mengetahui daerah pada usus halus yang absorpsiya
optimal terutama dalam kasus transport aktif.
4. dapat digunakan untuk mengoptimasi level first pass metabolism obat pada sel
epitel usus.

Sedangkan kekurangan dari metode Usus terbalik diantaranya adalah keberadaan


muscularis mucosa menyebabkan obat bergerak dari lumen ke lamia propia yakni tempat
dimana darah dan limpa berada dan menembus muscularis mucosa. Obat yang cenderung
terikat pada sel di muscularis mucosa akan menyebabkan persepsi bahwa transport yang
terukur lebih besar dari yang sebenarmya sehingga tidak menggambarkan keadaan yang
sebenarnya (Shargel, 2004).

Obat yang digunakan adalah asam salisilat. Larutan obat yang digunakan larutan
asam salisilat 0,01 M. Didapatkan latutan obat dengan kadar 1,38 mg/ml dengan pH 7,5

Hewan uji yang digunakan untuk praktikum kali ini adalah tikus putih. Pemilihan
tikus sebagai hewan uji karena hewan ini memiliki struktur anatomi fisiologi yang hampir
sama dengan manusia. Sehingga diharapkan hasil dari uji yang dicobakan pada tikus putih
dengan menyangkut struktur fisiologi anatomi dapat diaplikasikan pada manusia. Tikus
putih yang digunakan sebagai hewan uji sebelumnya dipuasakan terlebih dahulu selama
20-24 jam sebelum percobaan, tapi diberi minum air masak. Hal ini agar hasil absorbsi
obat yang didapatkan adalah hasil yang sebenarnya dan tidak terganggu dengan adanya
makanan yang dimakan dari tikus serta untuk mengosongkan lambung dan usus. Tikus
yang digunakan masing – masing dua ekor untuk tiap pengujian pH. Praktikan
mengerjakan pengujian dengan pH 7,5 pada cairan lambung buatan tanpa pepsin,
sedangkan pengujian dengan pH 1,2 pada cairan usus tanpa pankreatin dikerjakan oleh
praktikan pada golongan sebelumnya.

Pertama-tama, tikus dikorbankan terlebih dahulu dengan menggunakan uretan. 2


tikus dipejankan secara i.m dengan uretan dan ditunggu selama 15 menit, tetapi setelah
15 menit tikus belum menunjukkan kematiannya, maka dilakukan dislokasi pada daerah
leher (tulang belakang kepala) agar tikus mati, lalu dilakukan penimbangan, didapat tikus
1 sebesar 135 g dan tikus 2 sebesar 85 g digunakan percobaan pada pH 7,5 sedangkan
pada pH 1,2 tikus 1 sebesar 220 g dan tikus 2 sebebesar 260 g.

Setelah 2 tikus mati kemudian dilakukan pembedahan. Pembedahan dilakukan


untuk mengambil usus tikus yang akan digunakan untuk uji. Perut tikus dibuka di
sepanjang linea mediana. Linea mediana adalah garis yang melintas tepat ditengah tubuh
dengan arah lintasan atas-bawah/vertical (Abrams, 2005). Kemudian usus dikeluarkan.
Usus yang sudah dikeluarkan, diukur sepanjang 15 cm dibawah pilorus. Pilorus adalah
bagian lambung bawah yang berhubungan dengan bagian atas duodenum/usus dua belas
jari (Abrams, 2005) dan dibuang. Lalu dilanjutkan mengukur 20 cm dibawahnya, usus ini
dipotong dan akan digunakan dalam percobaan. Usus yang sudah didapatkan direndam
dengan NaCl fisiologis 0,9% didalam cawan petri agar usus tidak kering dan rusak.
Kemudian usus dibagi dua sama panjang, lalu dibersihkan menggunakan NaCl fisiologis
0,9%. Dimana bagian atas usus yang dijadikan sampel (dengan larutan obat) dan usus
bagian bawah sebagai kontrol. Ujung dari potongan usus diikat dengan benang, kemudian
dengan menggunakan batang besi panjang berdiamater 2 mm, usus dibalik secara
perlahan agar usus tidak sobek, sehinggga mukosa usus berada di bagian luar. Tujuan dari
peletakan mukosa usus diluar karena ingin menyamakan pengondisian seperti dalam
tubuh manusia, dimana mukosa usus adalah bagian yang lipofil, sehingga diharapkan
nantinya akan dapat diukur seberapa besar kadar zat aktif obat yang bersifat lipofil yang
dapat diabsorpsi oleh mukosa usus.
Gambar 2. Bagan alat tabung Crane & Wilson (Watson, 2007)

Setelah itu, usus yang telah siap, diikatkan dan dimasukkan ke alat tabung Crane &
Wilson yang sudah dimodifikasi dengan benang, agar tidak mudah lepas, pada pipa B.
Kemudian usus dicek apakah bocor atau tidak dengan cara pada ujung pipa terbuka B
diisi dengan NaCl fisiologis 0,9% sampai penuh. Jika sudah dipastikan usus tidak bocor
maka usus di ukur sebesar 7 cm dan diikat ke pipa C. Daerah sebesar 7 cm ini yang akan
diuji.

Kemudian, usus yang sudah siap diisi dengan cairan NaCl fisiologis 0,9% (cairan
serosal) sebanyak 1,4 ml agar usus tidak basah dan rusak. Cairan NaCl fisiologis 0,9%
merupakan cairan yang isotonis karena menyerupai cairan tubuh tikus/mamalia. Lalu,
kedalam tabung besar dimasukkan larutan dapar pH 7,5 (cairan mukosal) sebanyak 75
ml untuk kontrol dan larutan obat sebanyak 75 ml untuk sampel. Kantong usus yang sudah
terisi cairan tadi kemudian dimasukkan ke dalam tabung besar tersebut. Kemudian alat
diletakkan diatas waterbath untuk menjaga agar suhu tetap stabil pada suhu 37º C yang
menyerupai suhu yang ada didalam tubuh tikus/mamalia. Lalu pada pipa lain digunakan
untuk mengalirkan gas oksigen masuk ke alat. Saat alat sudah dialiri oksigen dan usus
dimasukkan ke dalam larutan obat maka stopwatch dinyalakan.

Selama percobaan berlangsung, seluruh bagian usus dijaga agar tetap terendam
cairan mukosal/larutan obat dan selalu dialiri dengan gas oksigen agar sel usus tetap
hidup. Kecepatan alir gas oksigen kira-kira sebesar 100 gelembung per menit. Kecepatan
alir ooksigen gas oksigen tidak boleh lebih dari 100 gelembung per menit karena dapat
menimbulkan tekanan yang tinggi, yang dapat merusak vili usus yang akan diuji.
Penyamplingan dilakukan dengan mengambil cairan serosal sebanyak 1,4 ml tiap 15
ml lewat kanula. Setelah dilakukan pengambilan, maka cairan serosal dicuci
menggunakan 1,4 ml cairan serosal, kemudian diisi kembali dengan cairan serosal yang
baru sebesar 1,4 ml juga. Sehingga volume sampel yang diperoleh tiap kali sampling
adalah sebanyak 2,8 ml. Sampling yang dilakukan adalah pada menit ke-15, 30, 45, dan
60 untuk masing-masing sampel dan kontrol.

Setelah tahap penyamplingan selesai, semua vial yang berisi sampel dan kontrol
diberi perlakuan sebelum dilakukan analisis menggunakan spektrofotometer UV. Larutan
sampel dimasukkan ke dalam tabung dan ditambahkan 2 ml Seng sulfat 5% dan 2 ml
Barium hidroksida. Penambahn kedua reagen membuat larutan menjadi berwarna putih
susu. Atom Zn merupakan logam berat yang dapat mengikat protein yang terdapat
didalam sampel sehingga tidak mempengaruhi pembacaan absorbansi. Sedangkan barium
hidroksida akan mengendapkan kompleks Zn dengan protein sehingga terpisah dari obat
(Watson, 2007). Kemudian, campuran disentrifugasi selama 10 menit yang bertujuan
untuk memisahkan endapan dari supernatan. Lalu, supernatan diambil dengan pipet dan
dibaca absorbansinya pada panjang gelombang maksimal 233 nm. Alasan memilih
panjang gelombang maksimum adalah karena panjang gelombang maksimum memiliki
kepekaan maksimal karena terjadi perubahan absorbansi yang paling besar dan pada
panjang gelombang maksimum, bentuk kurva absorbansi terhadap konsentrasi memenuhi
hukum Lambert-Beer.

Berdasarkan hasil percobaan pada pH 1,2, didapat absorbansi sampel 1 dari menit
15, 30, 45, dan 60 adalah berturut-turut sebagai berikut 2,787; 0,345; 0,343; dan 0,278
dengan hasil kontrol berturut-turut 0,072; 0,061; 0,039; 0,020. Sedangkan absorbansi
sampel 2 didapat absorbansi sampel dari menit 15, 30, 45, dan 60 berturut-turut adalah
1,519; 0,321; 0,369; dan 0,269 dengan kontrol berturut-turut 0,069; 0,028; 0,020; 0,014,
dengan faktor pengenceran 2 kali pada menit ke-15 hingga menit ke-60. Perhitungan
absorbansi dilakukan dengan menggunakan kontrol sebagai blanko, sehingga yang
terukur adalah absorbansi sampel saja (secara langsung). Absorbansi asam salisilat adalah
absorbansi sampel itu sendiri.

Nilai absorbansinya dimasukkan kedalam persamaan regresi linier dari kurva baku
asam salisilat. Dari data pengamatan terlihat bahwa data yang didapatkan tersebut
menyimpang dari yang seharusnya karena absorbansi yang diperoleh mengalami naik-
turun. Seharusnya semakin lama, maka absorbansinya semakin tinggi, karena seharusnya
semakin banyak obat yang terabsorpsi. Pada percobaan kali ini, senyawa obat yang
digunakan asam salisilat, dimana senyawa obat ini bersifat asam, sehingga obat ini akan
terabsorpsi optimum di pH asam. Setelah dilakukan perhitungan konsentrasi berdasarkan
persamaan regresi linier dari kurva baku asam salisilat, maka data-data absorbansi dan
konsentrasi di plotkan kedalam grafik. Di mana sumbu-x nya adalah waktu dan sumbu –
y nya adalah konsentrasi. Jadi grafik yang terbentuk adalah grafik konsentrasi terhadap
waktu. Dari grafik terlihat bahwa, pada pH 1,2 dan pH 7,5 konsentrasi paling tinggi
adalah pada menit ke-60.

Sedangkan data yang didapat dari percobaan pada pH 7,5 adalah yakni absorbansi
sampel 1 dari menit 15, 30, 45, dan 60 adalah berturut-turut sebagai berikut 0,785; 0,824;
0,871; dan 1,264 dengan faktor pengenceran 2 kali untuk menit ke 15 hingga ke-60.
Sedangkan pada sampel 2 dari menit 15, 30, 45, dan 60 adalah berturut-turut sebagai
berikut 0,432; 0,487; 0,208; dan 1,369 dengan faktor pengenceran 2 kali pada menit ke-
15 sampai ke-60. Dengan kontrol sampel 1 berturut-turut 0,920; 0,389; 0,276; 0,331 dan
sampel 2 berturut-turut 0,416; 0,305; 0,374; 0,289.

Pada pH 1,2 didapatkan jumlah obat kumulatif pada menit ke-60 adalah 0,0477 mg
(untuk tikus 1) dan 0,0124 mg (untuk tikus 2). Nilai ka (kecepatan absorbsi) rata-rata
adalah 5,008∙10-4/menit yang didapat dari slope regresi linier. Permeabilitas yang didapat
adalah 6,0484∙10-6 cm/detik. Serta lag time yaitu 13,1948 menit.

Sedangkan pada pH 7,5 didapatkan jumlah obat kumulatif pada menit ke-60 adalah
0,2250 mg (untuk tikus 1) dan 0,1505 mg (untuk tikus 2). Nilai ka (kecepatan absorbsi)
rata-rata adalah 2,605∙10-3/menit yang didapat dari slope regresi linier. Permeabilitas
yang didapat adalah 4,7165∙10-5 cm/detik. Serta lag time yaitu 4,3274 menit

Berdasarkan hasil percobaan, jumlah obat kumulatif pada pH 7,5 pada menit ke-60,
yaitu 0,2250 mg (untuk tikus 1) dan 0,1505 mg (untuk tikus 2), lebih tinggi daripada pH
1,2 pada menit ke-60, yaitu 0,0477 mg (untuk tikus 1) dan 0,0124 mg (untuk tikus 2).
Semakin tinggi jumlah obat maka kadar dalam darah juga semakin tinggi. Hal ini tidak
sesuai teori, seharusnya asam salisilat pada kondisi asam (pH 1,2) akan memiliki bentuk
tak terionkan lebih banyak, sehingga lebih banyak pula terabsorbsi. Sedangkan pada pH
7,5 asam salisilat akan lebih banyak dalam bentuk terionkan, dimana seharusnya sulit
diabsorbsi sehingga kadarnya dalam darah akan lebih sedikit. Begitu pula pada nilai ka
dan Pm, pH 1,2 lebih besar daripada pH 7,5. Hal ini tidak sesuai teori dimana seharusnya
pada pH 1,2 akan lebih mudah diabsorbsi sehingga menghasilkan nilai ka dan Pm yang
lebih besar daripada pH 7,5. Namun, nilai lag time pada pH 1,2 lebih besar dibanding
pada pH 7,5, hal ini sesuai teori.

Perbedaan hasil yang sangat signifikan tersebut bisa terjadi karena perbedaan
fisiologi dari membran, dimana membran tikus tersebut didapat dari tikus yang berbeda.
Hal ini akan mempengaruhi permeabilitas obat. Selain itu juga karena perhitungan
absorbansi yang dilakukan adalah dengan metode yang berbeda. Selain itu percobaan ini
dilakukan oleh praktikan yang berbeda antara pH 1,2 dan pH 7,5 sehingga perlakuan yang
diberikan berbeda pula, mulai dari penimbangan dan pembuatan larutan obat, proses
sampling, hingga penambahan pereaksi pada sampel dan kontrol yang terambil.

Kesimpulan
1. Nilai absorbansi pada pH 1,2 lebih rendah dibanding pada pH 7,5. Hal ini tidak
sesuai teori.
2. Kadar dalam darah pada pH 1,2 lebih rendah dibanding pada pH 7,5. Hal ini tidak
sesuai teori karena seharusnya asam salisilat pada kondisi asam (pH 1,2) akan
memiliki bentuk tak terionkan lebih banyak, sehingga lebih banyak pula
terabsorbsi. Sedangkan pada pH 7,5 asam salisilat akan lebih banyak dalam
bentuk terionkan, dimana seharusnya sulit diabsorbsi sehingga kadarnya dalam
darah akan lebih sedikit.
3. Nilai ka dan Pm pada pH 1,2 lebih besar daripada pH 7,5. Hal ini tidak sesuai teori
dimana seharusnya pada pH 1,2 akan lebih mudah diabsorbsi sehingga
menghasilkan nilai ka dan Pm yang lebih besar daripada pH 7,5.
4. Nilai lag time pada pH 1,2 lebih besar dibanding pada pH 7,5. Hal ini sesuai teori.

Daftar Pustaka

Anonim, 1979, Farmakope Indonesia III, Departemen Kesehatan, Jakarta.


Collins Abrams, RN, MSN, 2005, Clinical Drug Therapy, Wolters Kluwer Health,
Lippincott Williams Wilkins, US.

Leeson, C.R., T.S. Lesson, dan A.A. Paparo, 1990, Buku Ajar Histologi, Penerbit
Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Moffat, A., 2011, Clarke’s Analysis Drug and Poisons 4th Edition, Pharmaceutical
Press, London.

Shargel, L., Wu Pong, S., B.C. Yu., A., 2004, Applied Biopharmaceutics &
Pharmacokinetics 5th Edition, McGrawHill, New York.

Syukri, S., 2002, KIMIA DASAR 1, Penerbit ITB, Bandung.

Watson, D.G., 2007, Analisis Farmasi, EGC, Jakarta.

Yogyakarta, 28 November 2017

Natalia Kristanti FA/10454


Pratiwi Saputri FA/10457
Rini Ambarsari FA/10460
Sonia Pratiwi FA/10463