Anda di halaman 1dari 56

LAPORAN LONG CASE STUDY

KEPANITERAAN ILMU KEDOKTERAN KELUARGA


PUSKESMAS 1 SOKARAJA

DEMAM TIFOID

Disusun Oleh:
Muhammad Mahdi Alattas
G4A016038

Pembimbing:
dr. Yenni Apriana, MPH
dr. Mardiyani Isnen. P

KEPANITERAAN KLINIK STASE KOMPREHENSIF


ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

2018
HALAMAN PENGESAHAN

Laporan Kepaniteraan Kedokteran Keluarga


Long Case

Demam Tifoid

Disusun untuk memenuhi sebagian syarat


Kepaniteraan Ilmu Kedokteran Komunitas/Ilmu Kesehatan Masyarakat
Fakultas Kedokteran
Universitas Jenderal Soedirman

Oleh:
Muhammad Mahdi Alattas
G4A016038

Telah diperiksa, disetujui dan disahkan:


Hari :
Tanggal : Oktober 2018

Preseptor Lapangan Preseptor Fakultas

dr. Mardiyani Isnen. P dr. Yenni Apriana, MPH


SIP.3302/53181/014491/1187/25/1/2016 NIP.19720423 200212 2 004
I. KARAKTERISTIK DEMOGRAFI KELUARGA

Nama Kepala Keluarga : Tn. P


Alamat lengkap : Desa Karangduren , RT 04 RW 04
Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas
Bentuk Keluarga : Nuclear family
Tabel 1.1 Daftar anggota keluarga yang tinggal dalam satu rumah
No. Nama Kedudukan L/P Umur Pendidikan Pekerjaan Keterangan
1. Tn. P Kepala L 52 SMP Pedagang
keluarga
(Ayah)
2. Ny. U Ibu P 47 SD Ibu rumah
tangga
3. Sdr. U Anak P 21 SMA Pelajar
4. An. R Anak P 12 SMP Pelajar
Sumber : Data Primer, Oktober 2018

Kesimpulan dari karakteristik demografi diatas adalah bentuk keluarga Tn. P adalah
nuclear family dengan Tn. P (52 tahun) sebagai kepala keluarga yang bekerja
sebagai pedagang dan Ny. U (47 tahun) adalah istri dari Tn. P. Keluarga ini
dikarunia dua anak kandung dengan anak pertama Sdr. U (21 tahun) yang berstatus
sebagai pelajar SMA serta anak kedua An. R (12 tahun) yang berstatus sebagai
pelajar SMP. Keseluruhan anggota keluarga inti ini tinggal dalam satu rumah.
II. STATUS PENDERITA

A. PENDAHULUAN
Laporan ini disusun berdasarkan kasus yang diambil dari seorang pasien jenis
kelamin perempuan berusia 12 tahun yang datang dengan keluhan demam
sejak 4 hari sebelum datang ke IGD Puskesmas 1 Sokaraja.

B. IDENTITAS PASIEN
Nama : An. R
Usia : 12 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Status : Belum menikah
Agama : Islam
Suku bangsa : Jawa
Kewarganegaraan : Indonesia
Pekerjaan : Pelajar SMP
Pendidikan Terakhir :-
Alamat : Desa Karangduren RT 04 RW 04, Sokaraja.
Pengantar : Ibu pasien
Tanggal Periksa : 03 Oktober 2018

C. ANAMNESIS (diambil melalui autoanamnesis dan alloanamnesis)


1. Keluhan Utama
Demam
2. Keluhan Tambahan
Nyeri kepala, nafsu makan dan minum menurun, nyeri perut, belum buang
air besar (BAB) sejak 4 hari sebelum masuk IGD puskesmas dan badan
terasa lemas.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang pada hari Selasa tanggal 2 Oktober 2018 dengan
keluhan demam sejak 4 hari sebelum datang ke IGD Puskesmas 1 Sokaraja.
Keluhan demam tersebut dirasakan hingga mengganggu aktivitas belajar
dan keseharian pasien. Keluhan demam dirasakan setiap hari dan hilang
timbul. Pasien mengaku suhu badannya mulai terasa meningkat (demam)
terutama pada sore hari hingga dini hari dan demam kembali turun pada pagi
hari. Keluhan demam juga sempat membaik ketika pasien mengkonsumsi
obat penurun panas yang dibelinya di apotek, namun beberapa lama
kemudian pasien akan demam kembali.
Pasien juga mengeluhkan nyeri kepala, nafsu makan dan minum
turun, nyeri perut disekitar pusat, badan terasa lemas dan pasien belum BAB
sejak 3 hari yang lalu.
Keluhan nyeri kepala dirasakan pasien sejak 4 hari sebelum masuk
ke IGD Puskesmas 1 Sokaraja. Keluhan tersebut dirasa sangat mengganggu
pasien. Nyeri kepala dirasakan setiap hari dan hilang timbul. Nyeri kepala
terutama dirasakan saat keluhan demam muncul yaitu saat sore hingga dini
hari dan membaik ketika pagi hari dan setelah pasien mengkonsumsi obat
yang dibelinya dari apotek.
Keluhan nyeri perut dirasakan pasien sejak 4 hari sebelum masuk ke
IGD Puskesmas 1 Sokaraja. Keluhan tersebut dirasa sangat mengganggu
pasien. Nyeri perut dirasakan setiap hari dan hilang timbul, terutama
dirasakan saat sore hingga dini hari dan membaik ketika pagi hari dan
setelah pasien mengkonsumsi obat yang dibelinya dari apotek.
Nafsu makan dan minum menurun sejak 2 hari sebelum pasien
masuk ke IGD Puskesmas 1 Sokaraja. Pasien mengaku setiap makanan dan
minuman yang dikonsumsi terasa pahit dan pasien enggan untuk
mengkonsumsinya. Keluhan ini mengakibatkan pasien jarang makan dan
minum hingga badan lemas juga mulai dirasa pasien. Keluhan tersebut
sangat mengganggu aktivitas keseharian pasien.
Pasien belum BAB sejak 5 hari sebelum masuk IGD Puskesmas 1
Sokaraja. Keluhan ini dirasa mengganggu dan membuat pasien serta
keluarga khawatir. Pasien tidak memiliki riwayat Bab berdarah, berlendir,
konstipasi mapun diare sebelumnya.
Pasien menyangkal adanya keluhan mual, muntah, batuk, pilek,
mimisan, gusi berdarah, sulit buang air kecil (BAK) dan muncul bintik-
bintik merah pada tubuh. Pasien juga tidak pernah pergi ke luar pulau Jawa
sebelumnya. Beberapa teman satu sekolah pasien juga mengalami keluhan
serupa dengan pasien.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
- Riwayat mengalami keluhan yang sama : disangkal
- Riwayat mondok : disangkal
- Riwayat operasi : disangkal
- Riwayat kecelakaan : disangkal
- Riwayat darah tinggi : disangkal
- Riwayat jantung : disangkal
- Riwayat kencing manis : disangkal
- Riwayat asma : disangkal
- Riwayat alergi makanan/obat : disangkal
5. Riwayat Penyakit Keluarga
- Riwayat mengalami keluhan yang sama : diakui (kakak kandung pasien)
- Riwayat kencing manis : disangkal
- Riwayat darah tinggi : disangkal
- Riwayat jantung : disangkal
- Riwayat asma : disangkal
6. Riwayat Sosial dan Exposure
a. Community : Pasien dalam kesehariannya tinggal bersama
dengan Ayah, ibu dan kakak kandung dalam satu
rumah. Rumah pasien berada di pedesaan yang
cukup padat penduduk.
a. Home : Rumah An. R memiliki ventilasi dan pencahayaan
yang cukup pada masing-masing ruangan untuk
menerangi rumah. Dinding rumah terbuat dari
tembok dan dinding bagian dapur terbuat dari kayu
dan bambu, lantai rumah pasien terbuat dari ubin
dan pada bagian dapur masih berupa tanah dan batu.
Dalam rumah terdapat 2 kamar tidur, 1 ruang
keluarga, 1 ruang tamu, 1 kamar mandi dan 1 dapur.
Dalam kamar mandi sudah memiliki jamban,
sehingga untuk BAB pasien tidak perlu ke luar
rumah. Sumber air bersih yang digunakan pasien
untuk kebutuhan sehari-hari berasal dari sumur.
Jarak septic tank dari sumber air sekitar 3 meter.
Tingkat kelembaban rumah cukup lembab.
Keluarga pasien memasak dengan menggunakan
kompor gas. Tempat sampah keluarga diletakkan
didapur dan disamping rumah dan terbuka, yang
biasanya dibakar 2-3 hari sekali. Disamping rumah
pasien terdapat kandang kambing. Kandang tersebut
dibersihkan 3-4 hari sekali. Tempat tinggal An. R
merupakan lingkungan pemukiman yang cukup
padat, jarak antar rumah saling berdekatan sekitar 2-
3 meter.
b. Hobby : Pasien mengisi waktu luangnya dengan bermain
bersama teman sebayanya di sekitar rumah.
c. Occupational : Pasien adalah seorang pelajar di SMP Negeri 3
Sokaraja.
d. Personal Habit : Pasien sering mengkonsumsi jajanan dan makanan
diluar rumah. Sebelum dan sesudah makan pasien
terkadang tidak melalakukan cuci tangan. Ketika
pasien melakukan cuci tangan, pasien jarang
menggunakan sabun.
e. Diet : Pasien mengaku rutin makan 2-3 kali sehari dengan
nasi, sayur dan lauk seadanya. Sering
mengkonsumsi makanan yang digoreng dan
makanan-makanan instan yang dijual di sekolah dan
disekitar rumah yang tidak diketahui higienitasnya.
f. Drug : Pasien tidak mengkonsumsi obat-obatan tertentu.
7. Riwayat Ekonomi
Pasien tergolong dalam keluarga ekonomi kelas menengah
kebawah. Pendapatan rata-rata keluarga pasien adalah sekitar Rp.
750.000,00- Rp. 1.000.000,00- yang berasal dari hasil pekerjaan ayahnya.
8. Riwayat Demografi
Hubungan antara pasien dengan keluarganya dapat dikatakan rukun
dan harmonis. Hal tersebut dapat terlihat dari cara berkomunikasi pasien
dengan ayah, ibu dan kakaknya yang tampak baik. Ayah, ibu dan kakak
pasien selalu bergantian menemani pasien selama perawatan dibangsal.
9. Riwayat Sosial
Pasien sudah mengenal baik tetangga di sekitar rumahnya, karena
sejak lahir pasien sudah tinggal di lingkungan tersebut dan sebagian
tetangganya masih merupakan sanak saudara/keluarga pasien dan sering
bermain dengan teman sebayanya dekat rumah.
10. Anamnesis Sistemik
a. Keluhan Utama : Demam
b. Kulit : Warna kulit sawo matang
c. Kepala : Nyeri kepala
d. Mata : Tidak ada keluhan
e. Hidung : Tidak ada keluhan
f. Telinga : Tidak ada keluhan
g. Mulut : Mulut terasa pahit dan kering
h. Tenggorokan : Tidak ada keluhan
i. Pernafasan : Tidak ada keluhan
j. Sistem Kardiovaskuler : Tidak ada keluhan
k. Sistem Gastrointestinal : Nyeri perut, nafsu makan dan minum turun,
belum buang air besar (BAB) sejak 5 hari
sebelum masuk IGD Puskesmas 1 Sokaraja.
l. Sistem Saraf : Demam
m. Sistem Muskuloskeletal : Badan lemas
n. Sistem Genitourinaria : Tidak ada keluhan
o. Ekstremitas : Atas : Tidak ada keluhan
Bawah : Tidak ada keluhan
D. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum/Kesadaran
Tampak lemas, kesadaran compos mentis.
GCS E4M6V5.
2. Tanda Vital
a. Nadi : 84 x/menit
b. Pernafasan : 18 x/menit
c. Suhu : 38.4 oC per axillar
d. TD : 110/80 mmHg
3. Status gizi
a. BB : 36 kg
b. TB : 149 cm
c. BMI : 16.2kg/m2
d. Kesan status gizi : Underweight
4. Kulit : Sianosis (-), ikterik (-), ptekie (-)
5. Kepala : Bentuk mesosefal, rambut tidak mudah dicabut
6. Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
7. Hidung : Nafas cuping hidung (-/-), discharge (-/-)
8. Telinga : Bentuk dan ukuran normal, sekret (-/-)
9. Mulut : Bibir sianosis (-), mukosa mulut basah (+), lidah
tampak kotor dan pucat, tepi hiperemis (+), tremor (+)
10. Tenggorokan : Faring hiperemis (-), Tonsil T1-T1
11. Leher : Deviasi trakea (-), limfonodi cervicalis tidak teraba
12. Thoraks :
a. Pulmo :
Inspeksi : pergerakan dada kanan = kiri
Palpasi : fremitus raba kanan = kiri
Perkusi : sonor/sonor
Auskultasi : suara dasar vesikuler (+/+) suara tambahan RBH (-/-)
RBK (-/-) wheezing (-/-)
b. Cor :
Inspeksi : ictus cordis tak tampak
Palpasi : ictus cordis tak kuat angkat
Perkusi : batas kiri atas : SIC II LPSS
batas kiri bawah : SIC V LMCS
batas kanan atas : SIC II LPSD
batas kanan bawah : SIC IV LPSD
batas jantung kesan tidak melebar
Auskultasi : S1>S2, regular, gallop (-), murmur (-)
13. Abdomen
Inspeksi : datar
Auskultasi : bising usus (+) normal
Perkusi : timpani, pekak alih (-), pekak sisi (-)
Palpasi : supel, nyeri tekan (+) regio umbilical, hepar dan lien tidak
teraba
14. Sistem Collumna Vertebralis
Inspeksi : deformitas (-), skoliosis (-), kiphosis (-), lordosis (-)
Palpasi : nyeri tekan (-)
15. Ektremitas : Uji Rumple Leed (-)
Akral dingin - - Oedem - -
- - - -

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium (03/10/2018)
Hb 12,1 gr/dL (N)
Leukosit 2300 (L)
Trombosit 197000
Widal:
Salmonela typhi O 1/160
Salmonela typhi H 1/320
F. DIAGNOSIS HOLISTIK
1. Aspek Personal
Idea
Pasien mengeluhkan demam, nyeri kepala, nafsu makan dan minum turun,
nyeri perut, belum BAB sejak 5 hari sebelum masuk IGD Puskesmas 1
Sokaraja, dan badan terasa lemas.
Concern
Pasien merasa badannya tidak nyaman dan lemas, keluarga pasien kawatir
kondisi pasien semakin lemas dan memburuk sehingga membuat pasien
sulit untuk beraktivitas dan belajar.
Expectacy
Pasien dan keluarga mempunyai harapan agar penyakit pasien dapat segera
sembuh dan dapat segera beraktivitas seperti semula.
Anxiety
Pasien dan keluarganya khawatir keadaan pasien semakin memburuk.
2. Aspek Klinis
Diagnosis : Demam tifoid
Gejala klinis yang muncul : Demam, nyeri kepala, nafsu makan dan minum
turun, nyeri perut belum BAB sejak 5 hari
sebelum masuk IGD Puskesmas 1 Sokaraja
dan badan terasa lemas.
Diagnosa banding : Dengue fever.
3. Aspek Faktor Risiko Intrinsik Individu
Pasien sering mengkonsumsi jajanan dan makanan diluar rumah.
Sebelum dan sesudah makan pasien terkadang tidak melalakukan cuci
tangan. Ketika pasien melakukan cuci tangan, pasien jarang menggunakan
sabun.
4. Aspek Faktor Risiko Ekstrinsik Individu
a. Makanan yang dijual di sekolahnya yang tidak atau kurang terjaga
kebersihannya.
b. Keadaan dan kebersihan lingkungan rumah yang kurang sehat, dapur
yang dekat dengan tempat sampah terbuka, jarak sumber air dengan
septic tank kurang dari 10 meter,
c. Status sosial ekonomi keluarga pasien yang rendah, menyebabkan
kondisi hunian tidak memenuhi kriteria rumah sehat.
d. Rendahnya pemahaman pasien dan keluarga mengenai higienitas diri
sendiri, makanan dan lingkungan.
e. Rendahnya pemahaman pasien dan keluarga mengenai penyakit demam
tifoid.
5. Aspek Skala Penilaian Fungsi Sosial
Skala penilaian fungsi sosial pasien adalah 3, karena pasien mulai
terganggu dalam melakukan aktivitas dan kegiatan sehari-hari seperti
bermain bersama teman temannya dan mulai ijin tidak mengikuti kegiatan
disekolah.

G. PENATALAKSANAAN KOMPREHENSIF
1. Personal Care
a. Initial Plan
Usulan pemeriksaan penunjang:
1) Pemeriksaan darah lengkap (Leukosit, Eritrosit, Hitung Jenis
Leukosit, Ht).
2) Pemeriksaan darah serial setiap hari (Hb, Ht, Trombosit).
3) Serologi :
a) Enzyme Immunoassay test (Typhidot): Deteksi IgM dan IgG
Salmonella typhi
b) Kultur Salmonella typhi dengan spesimen darah
c) Pemeriksaan IgM dan IgG anti dengue
b. Medikamentosa
1) IVFD RL 20 tpm
2) PO Amoxicilin tab 3x500 mg selama 10 hari
3) PO Paracetamol 3x500 mg
4) PO Antasid Syrup 3x1 cth
c. Non Medikamentosa
1) Istirahat tirah baring
2) Diet tinggi kalori, tinggi protein, tinggi serat (diet papaya)
3) Perbanyak minum air putih
4) Konsumsi obat-obatan secara rutin dan tuntas
5) Kontrol dan monitor tanda vital
6) Monitoring tanda komplikasi tifoid: penurunan kesadaran,
hemodinamik terganggu (nadi teraba halus dan cepat), akral dingin,
gejala akut abdomen, hepatomegali.
d. KIE (konseling, informasi dan edukasi)
Pasien dan keluarganya perlu mendapatkan edukasi mengenai:
1) Penyebab, faktor risiko, cara penularan, tanda dan gejala serta
pengobatan demam tifoid.
2) Edukasi tanda-tanda kegawatan demam tifoid seperti: pasien
mengigau, gelisah atau bahkan sampai tidak sadarkan diri, kaki dan
tangan teraba dingin, nyeri perut hebat, BAB hitam.
3) Minum obat teratur dan tuntas, terutama penggunaan antibiotik
sesuai anjuran walaupun gejala sudah membaik.
4) Selalu mencuci tangan dengan sabun sebelum dan sesudah makan.
5) Pilihlah makanan dan minum yang terjamin kebersihan dan
kematangannya. Jangan membeli makanan/minuman yang dijajakan
disekolah yang tidak jelas higienitasnya.
6) Bahan makanan mentah yang akan diolah harus dicuci dengan air
bersih dan mengalir.
7) Harus menjaga kesehatan peralatan makanan/minuman dengan cara
mencucinya menggunakan air bersih dan sabun cuci piring.
2. Family Care
a. Dukungan psikologis dari keluarga lainnya.
b. Pasien harus lebih memperhatikan kebersihan makanan yang
dikonsumsi.
c. Saling mengingatkan antar anggota keluarga untuk menjaga higienitas
diri dan makanan.
d. Keluarga dapat menyediakan sabun di dapur dan dikamar mandi
rumahnya dan saling mengingatkan untuk cuci tangan menggunakan
sabun sebelum dan setelah makan.
3. Community Care
Melakukan konseling atau edukasi pada masyarakat di tempat tinggal
pasien maupun di sekolah pasien tentang aspek pencegahan demam tifoid
melalui:
a. Melakukan edukasi pada masyarakat di tempat tinggal dan pada sekolah
pasien mengenai perbaikan sanitasi lingkungan
b. Melakukan edukasi pada masyarakat di tempat tinggal dan pada sekolah
pasien mengenai peningkatan hygiene makanan dan minuman
c. Menganjurkan murid-murid di sekolah pasien untuk membawa bekal
sendiri dari rumah.
d. Melakukan edukasi pada masyarakat di tempat tinggal dan pada sekolah
pasien mengenai peningkatan hygiene perorangan.

H. PROGNOSIS
Ad vitam : ad bonam
Ad fungsionam : ad bonam
Ad sanationam : ad bonam
J. FLOW SHEET
Tabel 2.1 Flow Sheet An. R (12 tahun)
No. Hari, Problem Tanda Pemeriksaan Planning
Tanggal Vital Fisik
1. Selasa Badan terasa N:115 Mata:CA -/- SI -/- IVFD RL 20
02/10/201 panas, nyeri x/menit Mulut: lidah kotor tpm
8 kepala, nyeri RR:18x/ dan pucat, tepi Paracetamol
18.00 perut, BAB (-) menit hiperemis, 3x500 mg
WIB 5 hari, BAK S:39.10 C tremor. Antasid
(+) N, nafsu TD:100/8 P/ SD ves+/+, suspensi 3x1
makan dan 0 mmHg Rbk-/-, Rbh-/-, cth
minum Wh-/-
menurun. Mual C/ S1>S2 reg, M- Tirah baring
dan muntah , G- Diet lunak
disangkal A/ datar, BU(+)N, TKTP
timpani, NT (+) Banyak minum
umbilical air putih.
Eks: Uji RL (-),
akral hangat
++/++
2. Rabu Demam sedikit N:88 Mata:CA -/- SI -/- IVFD RL 20
03/10/201 membaik, nyeri x/menit Mulut: lidah kotor tpm
8 kepala, nyeri RR:18x/ dan pucat, tepi Amoxicilin
07.00 perut, BAB (-) menit hiperemis, 3x500 mg
WIB 6 hari, BAK (+) S:38.50 tremor. selama 10 hari
N, nafsu makan C P/ SD ves+/+, Paracetamol
dan minum TD:100/ Rbk-/-, Rbh-/-, 3x500 mg
menurun, lemas 70 Wh-/- Antasid
mmHg C/ S1>S2 reg, M- suspensi 3x1
, G- cth
A/ datar, BU(+)N,
timpani, NT (+) Tirah baring
umbilical Diet lunak
Eks: akral hangat TKTP
++/++ Banyak minum
air putih.
P: Cek darah
Hasil Lab: rutin, widal.
Hb 12,1 gr/dL (N)
Leukosit 2300 (L)
Widal:
Salmonela typhi
O 1/160
Salmonela typhi
H 1/320
3. Kamis Pasien masih N:88x/m Mata:CA -/- SI -/- IVFD RL 20
04/10/201 merasa demam, enit Mulut: lidah kotor tpm
8 nyeri kepala RR:18x/ dan pucat, tepi Amoxicilin
08. 00 dirasa menit hiperemis, tremor 3x500 mg
WIB membaik, nyeri S:37.40 (-). selama 10 hari
perut membaik, C P/ SD ves+/+, Paracetamol
pasien sudah TD:110/ Rbk-/-, Rbh-/-, 3x500 mg
bias BAB, bab 70 Wh-/- Antasid
konsistensi mmHg C/ S1>S2 reg, M- suspensi 3x1
lembek, , G- cth
berwarna A/ datar, BU (+)
kuning N, timpani, NT (- Tirah baring
kecoklatan, ) umbilical Diet lunak
lender (-), darah Eks: akral hangat TKTP
(-), BAK (+) N, Banyak minum
nafsu makan air putih.
dan minum
membaik, lemas
membaik
4. Jumat Demam dirasa N:80x/m Mata: CA -/- SI - IVFD RL 20
05/10/201 masih naik dan enit /- tpm
8 turun, terutama RR:18x/ Mulut: lidah kotor Amoxicilin
07. 45 dirasakan menit (-), tremor (-). 3x500 mg
WIB demam saat S:38.80 P/ SD ves+/+, selama 10 hari
malam hari, C Rbk-/-, Rbh-/-, Paracetamol
nyeri kepala TD:110/ Wh-/- 3x500 mg dan
dirasa 80 C/ S1>S2 reg, M- Ibuprofen
membaik, nyeri mmHg , G- 3x400 mg
perut membaik, A/ datar, BU (+) bergantian
pasien sudah N, timpani, NT (- Antasid
bias BAB, bab ) umbilical suspensi 3x1
konsistensi Eks: akral hangat cth
lembek,
berwarna Tirah baring
kuning Diet lunak
kecoklatan, TKTP
lender (-), darah Banyak minum
(-), BAK (+) N, air putih.
nafsu makan
dan minum
membaik, lemas
membaik
5. Sabtu Demam dirasa N:96x/m Mata: CA -/- SI - IVFD RL 20
06/10/201 masih naik dan enit /- tpm
8 turun, terutama
08. 10 dirasakan RR:16x/ Mulut: lidah kotor Amoxicilin
WIB demam saat menit (-), tremor (-). 3x500 mg
malam hari, S:38.60 P/ SD ves+/+, selama 10 hari
nyeri kepala C Rbk-/-, Rbh-/-, Paracetamol
dirasa TD:120/ Wh-/- 3x500 mg dan
membaik, nyeri 70 C/ S1>S2 reg, M- Ibuprofen
perut membaik, mmHg , G- 3x400 mg
pasien sudah A/ datar, BU (+) bergantian
bias BAB, bab N, timpani, NT (- Antasid
konsistensi ) umbilical suspensi 3x1
lembek, Eks: akral hangat cth
berwarna
kuning Tirah baring
kecoklatan, Diet lunak
lender (-), darah TKTP
(-), BAK (+) N, Banyak minum
nafsu makan air putih.
dan minum
membaik, lemas
membaik
6. Minggu Demam dirasa N:80x/m Mata: CA -/- SI - IVFD RL 20
07/10/201 masih naik dan enit /- tpm
8 turun, nyeri RR:18x/ Mulut: lidah kotor Amoxicilin
06. 30 kepala dirasa menit (-), tremor (-). 3x500 mg
WIB membaik, nyeri S:37.50 P/ SD ves+/+, selama 10 hari
perut membaik, C Rbk-/-, Rbh-/-, Paracetamol
pasien sudah TD:120/ Wh-/- 3x500 mg dan
bias BAB, bab 80 C/ S1>S2 reg, M- Ibuprofen
konsistensi mmHg , G- 3x400 mg
lembek, A/ datar, BU (+) bergantian
berwarna N, timpani, NT (- Antasid
kuning ) umbilical suspensi 3x1
kecoklatan, Eks: akral hangat cth
lender (-), darah
(-), BAK (+) N, Tirah baring
nafsu makan Diet lunak
dan minum TKTP
membaik, lemas Banyak minum
membaik air putih.

Disarankan
Rujuk, namun
pasien
menolak dan
meminta
pulang.
III. IDENTIFIKASI FUNGSI-FUNGSI KELUARGA

A. FUNGSI HOLISTIK
1. Fungsi Biologis
Bentuk keluarga An. R (12 tahun) adalah nuclear family. Kepala
keluarga adalah Tn. P (52 tahun) yang merupakan ayah kandung pasien.
Pada keluarga ini terdapat ayah pasien, ibu pasien yang berusia 47 tahun
dan 2 orang anak. Anak pertama berusia 21 tahun dan anak kedua yang
merupakan pasien sendiri berusia 12 tahun. Keluarga ini hidup bersama
dalam satu rumah. Ayah pasien merupakan anak pertama dari tiga
bersaudara. Sedangkan ibu pasien merupakan anak kedua dari empat
bersaudara.
2. Fungsi Psikologis
Hubungan antara pasien dengan keluarganya cukup harmonis.
Pasien merupakan seorang yang penurut dan terutama kepada kedua
orangtuanya dan terkadang ikut membantu kegiatan rumah tangga ibunya
di rumah. Kadang ada sedikit masalah perbedaan pendapat antara orang tua
dan anak yang masih dalam batas wajar. Tidak ada konflik yang berat di
dalam keluarga pasien. Menurut pasien, anggota keluarganya saling
mendukung terhadap urusan masing-masing. Tn.P sangat menyayangi
anggota keluarganya, jika ada anggota keluarga yang sakit, maka akan
diantarkan berobat ke puskesmas atau dokter setempat. Kedua orangtua
An.R memiliki perhatian yang cukup baik terhadap anaknya. Pasien dan
anggota keluarga lain tidak pernah merasa tertekan saat berada didalam
keluarga.
3. Fungsi Sosial
Pasien sudah mengenal baik tetangga di sekitar rumahnya, karena
sejak lahir pasien sudah tinggal di lingkungan tersebut dan sebagian
tetangganya masih merupakan sanak saudara/keluarga pasien. Pasien
senang bermain dengan lingkungan rumahnya, hubungan pasien dengan
teman-temannya cukup baik, pasien juga disayang oleh tetangganya.
Keluarga pasien juga sering mengikuti kegiatan desa seperti pengajian RT
dan acara perlombaan saat HUT RI.
4. Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan
Pasien berasal dari keluarga ekonomi kelas menengah kebawah.
Satu-satunya sumber pendapatan keluarga pasien adalah dari ayah pasien.
Ayah pasien bekerja sebagai pedagang dengan penghasilan rendah dan tidak
tetap sekitar Rp.750.000,00-Rp.1.000.000,00-/bulan. Ibu pasien merupakan
seorang ibu rumah tangga. Fasilitas pelayanan kesehatan yang dapat
dijangkau yaitu puskesmas. Pembiayaan kesehatan berasal dari BPJS
Dapat disimpulkan bahwa bentuk keluarga An.R adalah nuclear
family. Keluarga An.R adalah keluarga yang cukup harmonis, dan
merupakan keluarga dengan perekonomian kelas menengah kebawah.
B. FUNGSI FISIOLOGIS (A.P.G.A.R SCORE)
Untuk menilai fungsi fisiologis keluarga ini digunakan A.P.G.A.R
SCORE dengan nilai hampir selalu = 2, kadang = 1, hampir tidak pernah = 0.
A.P.G.A.R SCORE disini akan dilakukan pada masing-masing anggota
keluarga, kemudian dirata-rata untuk menentukan fungsi fisiologis keluarga
secara keseluruhan. Nilai rata-rata 1-5 = jelek, 5-7 = sedang, 8-10 = baik.
Adaptation
Pasien jarang menceritakan keluhannya terhadap keluarga. Meskipun
begitu jikalau pasien memiliki masalah, keluarga selalu siap menolong.
Misalnya ketika pasien bercerita tentang sakit yang dialaminya, keluarga pasien
berusaha untuk mencari pengobatan.
Partnership
Komunikasi terjalin satu sama lain baik. Setiap ada permasalahan didiskusikan
bersama dengan anggota keluarga lainnya, komunikasi dengan anggota keluarga
berjalan dengan baik.
Growth
Pasien terlihat cukup puas atas segala bentuk dukungan dan bantuan dari
keluarga untuk kegiatan atau hal-hal baru yang hendak dilakukan pasien.
Affection
Pasien merasa cukup puas dengan perhatian keluarga dalam menyayangi
pasien. Dalam hal mengekspresikan perasaan atau emosi, antar anggota keluarga
berusaha untuk selalu jujur. Apabila ada hal yang tidak berkenan di hati, maka
anggota keluarga akan mencoba untuk segera menyampaikan tanpa dipendam,
sehingga permasalahan dapat segera selesai.
Resolve
Rasa kasih sayang yang diberikan kepada pasien cukup, baik dari keluarga
maupun dari saudara-saudara. Pasien merasa senang apabila bisa berkumpul di rumah
walaupun hanya untuk menonton televisi, bersenda gurau, maupun makan bersama.
Tabel 3.1 Nilai APGAR dari Tn. P terhadap keluarga
Hampir
Hampir Kadang
A.P.G.A.R Tn. P Terhadap Keluarga tidak
selalu -kadang
pernah
Saya puas bahwa saya dapat kembali ke
A keluarga saya bila saya menghadapi 
masalah
Saya puas dengan cara keluarga saya
P membahas dan membagi masalah 
dengan saya
Saya puas dengan cara keluarga saya
menerima dan mendukung keinginan
G 
saya untuk melakukan kegiatan baru
atau arah hidup yang baru
Saya puas dengan cara keluarga saya
mengekspresikan kasih sayangnya dan
A 
merespon emosi saya seperti
kemarahan, perhatian dll
Saya puas dengan cara keluarga saya
R 
dan saya membagi waktu bersama-sama
Total poin = 9, fungsi fisiologis Tn.P terhadap keluarga cukup sehat

Tabel 3.2 Nilai APGAR dari Ny. U terhadap keluarga


Hampir
Hampir Kadang
A.P.G.A.R Ny.U Terhadap Keluarga tidak
selalu -kadang
pernah
Saya puas bahwa saya dapat kembali ke
A keluarga saya bila saya menghadapi 
masalah
Saya puas dengan cara keluarga saya
P membahas dan membagi masalah 
dengan saya
Saya puas dengan cara keluarga saya
menerima dan mendukung keinginan
G 
saya untuk melakukan kegiatan baru
atau arah hidup yang baru
Saya puas dengan cara keluarga saya
mengekspresikan kasih sayangnya dan
A 
merespon emosi saya seperti
kemarahan, perhatian dll
Saya puas dengan cara keluarga saya
R 
dan saya membagi waktu bersama-sama
Total poin = 9, fungsi fisiologis Sdri. Y terhadap keluarga cukup sehat
Tabel 3.3 Nilai APGAR dari Sdr. U terhadap keluarga
Hampir
Hampir Kadang
A.P.G.A.R Sdr. U Terhadap Keluarga tidak
selalu -kadang
pernah
Saya puas bahwa saya dapat kembali ke
A keluarga saya bila saya menghadapi 
masalah
Saya puas dengan cara keluarga saya
P membahas dan membagi masalah 
dengan saya
Saya puas dengan cara keluarga saya
menerima dan mendukung keinginan
G 
saya untuk melakukan kegiatan baru
atau arah hidup yang baru
Saya puas dengan cara keluarga saya
mengekspresikan kasih sayangnya dan
A 
merespon emosi saya seperti
kemarahan, perhatian dll
Saya puas dengan cara keluarga saya
R 
dan saya membagi waktu bersama-sama
Total poin = 8, fungsi fisiologis Sdr. U terhadap keluarga cukup sehat

Tabel 3.4 Nilai APGAR dari An. R terhadap keluarga


Hampir
Hampir Kadang
A.P.G.A.R An.R Terhadap Keluarga tidak
selalu -kadang
pernah
Saya puas bahwa saya dapat kembali ke
A keluarga saya bila saya menghadapi 
masalah
Saya puas dengan cara keluarga saya
P membahas dan membagi masalah 
dengan saya
Saya puas dengan cara keluarga saya
menerima dan mendukung keinginan
G 
saya untuk melakukan kegiatan baru
atau arah hidup yang baru
Saya puas dengan cara keluarga saya
mengekspresikan kasih sayangnya dan
A 
merespon emosi saya seperti
kemarahan, perhatian dll
Saya puas dengan cara keluarga saya
R 
dan saya membagi waktu bersama-sama
Total poin = 8, fungsi fisiologis Sdr. U terhadap keluarga cukup sehat
A.P.G.A.R SCORE keluarga pasien = (9+9+8+8)/4 = 8.5
Kesimpulan : fungsi fisiologis keluarga pasien baik
Secara keseluruhan total poin dari A.P.G.A.R keluarga pasien adalah 34
sehingga rata-rata A.P.G.A.R dari keluarga pasien adalah 8.5. Hal ini
menunjukkan bahwa fungsi fisiologis yang dimiliki keluarga pasien dalam
keadaan baik.

C. FUNGSI PATOLOGIS (S.C.R.E.E.M)


Fungsi patologis dari keluarga An.R dinilai dengan menggunakan
S.C.R.E.E.M sebagai berikut:
Tabel 3.5 Nilai SCREEM dari keluarga pasien
Sumber Patologi Ket
Social Interaksi sosial keluarga dengan tetangga dan saudara-saudara -
di sekitar rumah cukup baik.
Cultural Dalam kegiatan sehari-hari keluarga ini menggunakan -
bahasa Jawa dan dicampur dengan Bahasa Indonesia.
Keluarga pasien jarang mempercayai obat-obatan
tradisional.
Religion Pemahaman agama cukup baik. Penerapan ajaran juga baik, -
hal ini dapat dilihat dari pasien dan keluarga rutin menjalankan
sholat dan mengikuti kegiatan keagamaan seperti pengajian
Economic Ekonomi keluarga ini tergolong kelas menengah kebawah, +
yang bekerja di dalam keluarga hanya ayah pasien. Untuk
kebutuhan primer sudah bisa terpenuhi, meski belum mampu
mencukupi kebutuhan sekunder, diperlukan skala prioritas
untuk pemenuhan kebutuhan hidup.
Education Pendidikan anggota keluarga kurang. Latar belakang +
pendidikan Ayah dan ibu pasien adalah SMP. Saat ini pasien
masih belum bersekolah. Pengetahuan pasien dan keluarga
tentang penyakit yang diderita masih kurang.
Medical Dalam mencari pelayanan kesehatan, keluarga menggunakan -
pelayanan puskesmas dan menggunakan BPJS. Akses
layanan kesehatan yang dapat dijangkau yaitu puskesmas
karena termasuk cukup dekat dengan rumah pasien

Keterangan :
1. Economic (+) oleh karena ekonomi keluarga pasien tergolong menengah
kebawah.
2. Education (+) oleh karena pengetahuan pasien tentang kesehatan terutama
tentang penyakitnya masih kurang.
Kesimpulan :
Keluarga An.R fungsi patologis yang ditemukan antara lain fungsi ekonomi dan
fungsi pendidikan.
D. FAMILY GENOGRAM

Tn. G Ny. A Tn. A Ny. R


78 th 74 th 77 th 77 th

Tn. S Ny. S Ny. A


Ny. W Tn. L
48 th 45 th 49 th
42 th 41 th

Tn. P Ny. U
52 th 47 th

Sdr. U An. R
21 th 12 th

Gambar 3.1 Genogram Keluarga An. R

Keterangan :
: Perempuan : Tinggal satu rumah

: Laki-laki

: Riwayat mengalami keluhan


: Pasien
yang sama denga pasien
IV. IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
KESEHATAN

A. IDENTIFIKASI FAKTOR PERILAKU DAN NON PERILAKU


KELUARGA
1. Faktor Perilaku
Pasien beberapa minggu terakhir sering membeli makanan di sekitar
sekolah dan di sekitar rumahnya dan makanan tersebut dijual di dalam
gerobak dan sering dalam kondisi terbuka serta higienitas makanan yang
tidak diketahui. Sebelum dan sesudah makan pasien hampir tidak pernah
mencuci tangan. Pasien dan keluarganya juga mengaku jarang
menggunakan sabun ketika cuci tangan. Sepulang dari sekolah dan keluar
dari kamar mandi pun pasien jarang mencuci tangan dengan sabun. Pasien
sering menggunakan alat makan bersama dengan anggota keluarga yang
lain. Kebiasaan-kebiasaan tersebut memudahkan pasien terkontaminasi oleh
mikroorganisme penyebab tifoid.
2. Faktor Non Perilaku
Demam tifoid merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri
dan ditularkan melaui makanan dan minuman sehingga penyakit ini erat
hubungannya dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Seseorang
berkebiasaan sehat atau tidak sehat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan
pengetahuannya. Kurangnya kesadaran seseorang untuk berperilaku bersih
dan sehat akan meningkatkan risiko orang tersebut untuk terpapar bakteri
Salmonella typhi maupun Salmonella paratyphi.
Pasien termasuk dalam keluarga dengan latar belakang pendidikan
yang kurang. Pendidikan terakhir ayah pasien adalah SMP sedangkan ibu
pasien berpendidikan terakhir SD. Hal tersebut mempengaruhi pengetahuan
dan pemahaman keluarga pasien maupun pasien sendiri mengenai kesehatan,
termasuk faktor risiko, agen penyebab, gejala klinis dan pengobatan demam
tifoid.
Demam tifoid juga lebih banyak mengenai penduduk dengan tingkat
sosial ekonomi rendah. Hal tersebut berdasarkan asumsi bahwa penghasilan
seseorang dapat digunakan untuk memperoleh pelayanan kesehatan dan
perbaikan lingkungan sehingga dapat mencegah terkena suatu penyakit.
Selain itu, penduduk dengan penghasilan rendah lebih mengandalkan
membeli makanan siap santap dengan mutu yang rendah dan tidak terjamin
kebersihannya.
Jika dilihat dari pendapatan perbulan, ayah pasien sebagai pedagang
memiliki penghasilan sekitar Rp.750.000,00 - Rp.1.000.000,00. Dapat
dikatakan bahwa pasien tergolong dalam keluarga dengan kelas ekonomi
menengah kebawah, sehingga kondisi hunian tidak memenuhi kriteria
rumah sehat.
Pasien tinggal di rumah dengan ventilasi dan pencahayaan yang
cukup pada masing-masing ruangan untuk menerangi rumah. Tingkat
kelembaban rumah dikatakan cukup lembab. Banyak pakaian-pakaian kotor
yang ditumpuk begitu saja di berbagai sisi di rumah pasien. Dinding rumah
terbuat dari tembok dan dinding bagian dapur terbuat dari kayu dan bambu.
Lantai rumah sudah menggunakan ubin, lantai dapur masih beralaskan
tanah. Dalam rumah terdapat 2 kamar tidur berukuran 3x2 meter, 1 ruang
keluarga, 1 ruang tamu, 1 kamar mandi dan 1 dapur. Dalam kamar mandi
sudah memiliki jamban namun sangat jarang dibersihkan dan terlihat kurang
bersih. Secara umum, kondisi rumah tampak jarang dibersihkan.
Sumber air bersih yang digunakan pasien untuk kebutuhan sehari-
hari berasal dari sumur. Jarak septic tank dari sumber air hanya sekitar 3
meter. Padahal diketahui bahwa jarak antara sumber air bersih dengan septic
tank juga mempengaruhi kejadian demam tifoid. Syarat minimal sumber air
bersih dengan septic tank yaitu 10 meter. Sumur merupakan sumber air yang
sering digunakan di masyarakat secara luas. Jarak sumur dengan septic tank
yang sangat dekat dapat mempengaruhi kualitas air. Rembesan air dari
septic tank dapat mencemari air tanah di sekitarnya termasuk air sumur yang
digunakan untuk kebutuhan minum dan memasak sehari-hari sehingga
dapat menjadi sumber penularan demam tifoid.
Lingkungan tempat tinggal An. R merupakan lingkungan
pemukiman yang cukup padat, jarak antar rumah saling berdekatan sekitar
2-3 meter, dimana tetangga sebelah rumah pasien memiliki kandang
kambing yang berjarak 1 meter di samping rumahnya. Hal ini dapat
memudahkan tercemarnya lingkungan rumah oleh kandang dan kotoran
yang beterbangan. Selain itu pasien memiliki tempat sampah yang
diletakkan didalam dapur dan disamping rumah yang dibiarkan terbuka
yang dapat menjadi sumber penularan penyakit.
Perilaku:
- Pasien memiliki kebiasaan
membeli makanan disekitar
rumah dan sekolahnya yang
sering dijual dalam kondisi Lingkungan:
terbuka. Kondisi rumah dan
- Sebelum dan sesudah lingkungan rumah yang
makan pasien hampir tidak tidak sehat
pernah mencuci tangan
dengan sabun.
- Sepulang sekolah dan
keluar dari kamar mandi
pun pasien jarang mencuci
tangan dengan sabun. Pendidikan dan
- Kebiasaan menggunakan pengetahuan:
An.R Rendahnya pemahaman
alat makan bersama dengan
Demam Tifoid pasien dan keluarga
anggota keluarga lain
mengenai faktor resiko,
agen penyebab, gejala
klinis dan pengobatan
Ekonomi: demam tifoid.
Termasuk keluarga kelas
menengah kebawah.

Gambar 4.1. Faktor Perilaku dan Non Perilaku Keluarga

Keterangan:
= Faktor Perilaku
= Faktor Non-Perilaku

B. IDENTIFIKASI LINGKUNGAN RUMAH


1. Gambaran Lingkungan
Pasien tinggal di Desa Karangduren RT 04/RW 04 Kecamatan
Sokaraja, Kabupaten Banyumas. Pasien tinggal disebuah rumah dengan
jumlah penghuni 4 orang. Pasien tinggal di rumah dengan ventilasi dan
pencahayaan yang cukup pada masing-masing ruangan untuk menerangi
rumah. Tingkat kelembaban rumah dikatakan cukup lembab. Banyak
pakaian-pakaian kotor yang ditumpuk begitu saja di berbagai sisi di rumah
pasien. Dinding rumah terbuat dari tembok dan dinding bagian dapur terbuat
dari kayu dan bambu. Lantai rumah sudah menggunakan ubin, lantai dapur
masih beralaskan tanah. Dalam rumah terdapat 2 kamar tidur berukuran 3x2
meter, 1 ruang keluarga, 1 ruang tamu, 1 kamar mandi dan 1 dapur. Dalam
kamar mandi sudah memiliki jamban, sehingga untuk BAB pasien tidak
perlu ke luar rumah. Tempat penampungan air di dalam kamar mandi
menggunakan ember tampung. Kamar mandi dan ember tampung
dibersihkan atau dikuras setiap 1-2 minggu sekali. Dapur pasien tidak terlalu
luas, banyak terdapat tumpukan barang bekas yang tidak terpakai. Keluarga
memasak menggunakan kompor gas.
Sumber air bersih yang digunakan pasien untuk kebutuhan sehari-
hari berasal dari sumur. Jarak septic tank dari sumber air hanya sekitar 3
meter. Padahal diketahui bahwa jarak antara sumber air bersih dengan septic
tank juga mempengaruhi kejadian demam tifoid. Syarat minimal sumber air
bersih dengan septic tank yaitu 10 meter. Sumur merupakan sumber air yang
sering digunakan di masyarakat secara luas. Jarak sumur dengan septic tank
yang sangat dekat dapat mempengaruhi kualitas air. Rembesan air dari
septic tank dapat mencemari air tanah di sekitarnya termasuk air sumur yang
digunakan untuk kebutuhan minum dan memasak sehari-hari sehingga
dapat menjadi sumber penularan demam tifoid.
Lingkungan tempat tinggal An.R merupakan lingkungan
pemukiman, jarak antar rumah saling berdekatan sekitar 2-3 meter, dimana
didekat rumah pasien juga terdapat kandang kambing, yang berjarak 1 meter
dengan rumah pasien. Kandang kambing tersebut dibersihkan 2-3 hari
sekali. Hal ini dapat memudahkan tercemarnya lingkungan rumah oleh
kandang dan kotoran kambing kering yang beterbangan. Selain itu pasien
memiliki tempat sampah yang diletakkan didalam dapur dan diamping
rumahnya dan seringkali dibiarkan terbuka, hal tersebut dapat menjadi
sumber penularan penyakit.
Kesan: kebersihan rumah dan lingkungannya belum adekuat

2. Denah Rumah

Su KK
m
ur
Kamar
mandi

Kamar Ruang
Tidur 1
Tamu

Dapur

Kamar
Tidur 2

Gambar 4.2 Denah Rumah An. R


V. DAFTAR MASALAH DAN PEMBINAAN KELUARGA

A. MASALAH MEDIS :
Pasien jenis kelamin perempuan usia 12 dengan demam tifoid.

B. MASALAH NONMEDIS :
1. Pasien memiliki kebiasaan membeli makanan di lingkungan sekolah dan
disekitar rumahnya.
2. Pasien memiliki kebiasaan tidak mencuci tangan dengan sabun sebelum dan
setelah makan dan setelah keluar dari kamar mandi.
3. Pasien memiliki kebiasaan menggunakan alat makan bersama dengan
anggota keluarga lainnya
4. Rendahnya pemahaman pasien dan keluarga mengenai faktor resiko, agen
penyebab, gejala klinis dan pengobatan demam tifoid.
5. Keadaan dan kebersihan lingkungan rumah yang kurang sehat, dapur yang
diisi serta dekat dengan tempat sampah terbuka, kandang kambing dan jarak
sumber air dengan septic tank kurang dari 10 meter.
6. Pasien tergolong dalam keluarga dengan kelas ekonomi menengah
kebawah.

C. DIAGRAM PERMASALAHAN PASIEN

- Kebiasaan membeli Kebiasaan tidak mencuci


makanan di lingkungan tangan dengan sabun
sekolah dan rumahnya. sebelum dan setelah
- Kebiasaan menggunakan makan, setelah bekerja dan
Kelas ekonomi
alat makan bersama setelah keluar dari kamar
menengah
mandi.
kebawah.
An. R
Demam Tifoid

Keadaan dan kebersihan


Rendahnya pemahaman pasien dan lingkungan rumah yang
keluarga mengenai faktor resiko, agen tidak sehat.
penyebab, gejala klinis dan pengobatan
demam tifoid.
Gambar 5.1 Diagram Permasalahan Pasien
D. MATRIKULASI MASALAH
Prioritas masalah ini ditentukan melalui teknik kriteria matriks:
Tabel 5.1 Matrikulasi Masalah
I T R Jumlah
No. Daftar Masalah
P S SB Mn Mo Ma IxTxR
1. Pengetahuan tentang
5 5 5 5 5 4 5 115
penyakit rendah
2. Perilaku tidak mencuci
5 4 5 3 4 5 5 63,48
tangan dengan sabun
3. Kebiasaan membeli
makanan di lingkungan 5 5 5 3 4 4 5 64,50
sekolah dan rumahnya.
4. Kebiasaan menggunakan
5 4 4 3 4 4 5 55,47
alat makan bersama
5. Kondisi rumah dan
lingkungan sekitar yang 5 5 4 3 3 3 2 35,88
tidak sehat
6. Kondisi ekonomi keluarga
adalah kelas menengah
4 5 5 1 1 1 1 4,60
kebawah

Keterangan:
I : Importancy (pentingnya masalah)
P : Prevalence (besarnya masalah)
S : Severity (akibat yang ditimbulkan oleh masalah)
SB : Social Benefit (keuntungan sosial karena selesainya masalah)
T : Technology (teknologi yang tersedia)
R : Resources (sumber daya yang tersedia)
Mn : Man (tenaga yang tersedia)
Mo : Money (sarana yang tersedia)
Ma : Material (ketersediaan sarana)

Kriteria penilaian:
1 : tidak penting
2 : agak penting
3 : cukup penting
4 : penting
5 : sangat penting

E. PRIORITAS MASALAH
Berdasarkan kriteria matriks diatas, maka urutan prioritas masalah keluarga
An.R adalah sebagai berikut :
1. Pengetahuan tentang penyakit rendah
2. Kebiasaan membeli makanan di lingkungan sekolah dan rumahnya.
3. Perilaku pasien tidak mencuci tangan dengan sabun
4. Kebiasaan menggunakan alat makan bersama dengan anggota keluarga lain
5. Kondisi rumah dan lingkungan sekitar yang tidak sehat
6. Kondisi ekonomi keluarga kelas menengah kebawah
Prioritas masalah yang diambil adalah tingkat pengetahuan pasien dan keluarga
tentang penyakit yang diderita masih rendah.

F. PENENTUAN ALTERNATIF TERPILIH


Penentuan alternatif terpilih berdasarkan Metode Rinke yang
menggunakan dua kriteria yaitu efektifitas dan efiseiensi jalan keluar. Kriteria
efektifitas terdiri dari pertimbangan mengenai besarnya masalah yang dapat
diatasi, kelanggengan selesainya masalah, dan kecepatan penyelesaian masalah.
Efisiensi dikaitkan dengan jumlah biaya yang diperlukan untuk menyelesaikan
masalah. Skoring efisiensi jalan keluar adalah dari sangat murah (1), hingga
sangat mahal (5).
Tabel 5.2 Kriteria dan Skoring Efektivitas dan Efisiensi Jalan Keluar
C
M
I V (jumlah biaya
(besarnya
(kelanggengan (kecepatan yang diperlukan
Skor masalah
selesainya penyelesaian untuk
yang dapat
masalah) masalah) menyelesaikan
diatasi)
masalah)
1 Sangat kecil Sangat tidak Sangat lambat Sangat murah
langgeng
2 Kecil Tidak langgeng Lambat Murah
3 Cukup besar Cukup langgeng Cukup cepat Cukup murah
4 Besar Langgeng Cepat Mahal
5 Sangat besar Sangat langgeng Sangat cepat Sangat mahal

Prioritas alternatif terpilih dengan menggunakan metode Rinke adalah


sebagai berikut:
Tabel 5.3 Alternatif Terpilih
Urutan
Daftar Alternatif Jalan Efektivitas Efisiensi MxIxV
No. Prioritas
Keluar M I V C C
Masalah
1. Penyuluhan kepada pasien 4 3 3 1 36 1
dan keluarga mengenai
pengertian, penyebab,
faktor risiko, cara
penularan, tanda dan
gejala, serta penanganan
dan pencegahan demam
tifoid.
2. Pembagian leaflet 3 2 2 4 3 2
mengenai demam tifoid
dan perilaku hidup bersih
dan sehat (PHBS).

Berdasarkan hasil perhitungan penentuan alternatif terpilih menggunakan


metode Rinke, didapatkan alternatif terpilih yaitu penyuluhan kepada pasien dan
keluarga mengenai pengertian, penyebab, faktor risiko, cara penularan, tanda dan
gejala, serta penanganan dan pencegahan demam tifoid dengan skor 36.
VI. RENCANA PEMBINAAN KELUARGA

A. RENCANA PEMBINAAN KELUARGA


1. Tujuan
Tujuan Umum
Meningkatkan pengetahuan mengenai penyakit demam tifoid terutama
mengenai sumber penularan, tanda dan gejala, serta penanganan dini.
Tujuan Khusus
Mengubah perilaku pasien dan keluarga dalam menjaga kebersihan dan
kesehatan anggota keluarga.
2. Cara Pembinaan
Pembinaan dilakukan di rumah pasien dalam waktu yang sudah ditentukan
bersama dengan memberikan penyuluhan dan edukasi pada pasien dan
keluarga. Penyuluhan dan edukasi dilakukan dalam suasana santai sehingga
materi yang disampaikan dapat diterima.
3. Materi Pembinaan
Materi utama pada penyuluhan dan edukasi kepada pasien dan keluarga
yaitu mengenai pengertian, penyebab, faktor risiko, cara penularan, tanda
dan gejala, serta penanganan dan pencegahan demam tifoid. Materi
selanjutnya berupa penyuluhan tentang perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS) sebagai salah satu upaya pencegahan terhadap penyakit demam
tifoid.
4. Sasaran Pembinaan
Sasaran dari pembinaan yang dilakukan adalah pasien beserta anggota
keluarga pasien yang tinggal di rumah tersebut sebanyak 3 orang.
5. Evaluasi Pembinaan
Evaluasi yang dilakukan adalah dengan memberikan beberapa pertanyaan
mengenai materi yang telah disampaikan sebelumnya kepada pasien dan
keluarga. Jika pasien atau keluarganya dapat menjawab pertanyaan, maka
mereka dianggap sudah memahami materi yang telah disampaikan
sebelumnya dan dapat saling mengingatkan antar anggota keluarga.
F. HASIL PEMBINAAN KELUARGA
Tabel 6.1. Hasil Pembinaan Keluarga
Anggota
Hari, Kegiatan yang
No. keluarga Hasil kegiatan
Tanggal dilakukan
yang terlibat
1. Jumat, 5 a. Membina hubungan Pasien dan Pasien bersedia untuk
Oktober saling percaya dengan keluarga dikunjungi lebih lanjut
2018 pasien, diantaranya untuk dipantau
perkenalan dan perkembangannya.
bercerita mengenai
kehidupan sehari-hari
b. Melakukan tanya
jawab terhadap kondisi
pasien dan keluarga
c. Memeriksa kondisi
pasien
d. Mendiskusikan dengan
pasien untuk
kedatangan ke
rumahnya.
2. Minggu, a. Memeriksa kondisi Pasien dan a. Pasien sudah tidak
7 rumah dan lingkungan keluarga demam, gejala
Oktober tempat tinggal pasien simptomatis sudah
2018 b. Menggali pengetahuan berkurang.
dan pemahaman b. Pasien dan keluarga
pasien dan keluarga memahami tentang
tentang penyakitnya penyakit demam
c. Memberikan tifoid
penjelasan mengenai c. Pasien dan keluarga
pengertian, penyebab, sepakat untuk
faktor risiko, tanda dan menerapkan PHBS
gejala, cara penularan
serta penatalaksanaan
demam tifoid
d. Memotivasi pasien dan
keluarga untuk
memperbaiki
higienitas perorangan
dengan menerapkan
PHBS
G. HASIL EVALUASI
1. Evaluasi Formatif
Pelaksanaan kegiatan dilakukan pada 4 orang yang terdiri dari,
pasien An.R, Ayah pasien Tn.P, Ibu pasien Ny. U dan kakak kandung pasien
Sdr.U. Metode yang digunakan berupa konseling dan edukasi tentang
penyakit demam tifoid mulai dari pengertian, penyebab, faktor risiko, cara
penularan, tanda dan gejala, penanganan dan edukasi PHBS sebagai salah
satu upaya pencegahan terhadap penyakit demam tifoid.
2. Evaluasi Promotif
Sasaran konseling sebanyak 4 orang yaitu, pasien, ayah pasien, ibu
pasien dan kakak kandung pasien. Waktu pelaksanaan kegiatan pada
Minggu, 7 Oktober maret 2017 di rumah pasien. Konseling berjalan dengan
lancar dan pasien serta keluarga merasa puas karena merasa lebih
diperhatikan dengan adanya kunjungan ke rumahnya untuk memberikan
edukasi tentang penyakit yang sedang diderita An.R.
3. Evaluasi Sumatif
Sebelum dilakukan konseling pasien dan keluarga mengaku belum
memahami penyakit yang diderita oleh An. R sehingga dengan adanya
konseling pasien merasa puas dan senang karena menjadi lebih paham
tentang penyakitnya. Setelah konseling selesai, dilakukan tanya jawab
dengan peserta.
VII. TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Demam tifoid merupakan penyakit sistemik yang disebabkan oleh
infeksi dan diseminasi bakteri Salmonella typhii dan/atau Salmonella paratyphii
dengan karakteristik berupa demam dan nyeri abdomen. Infeksi ini melibatkan
pembesaran plak peyer dan limfenodi mesenterikus (Pegues dan Miller, 2011).

B. ETIOLOGI
Bakteri penyebab demam tifoid adalah Salmonella typhii dan/atau S.
paratyphii A, S. paratyphii B dan S. paratyphii C. Serotipe S. typhii dan S.
paratyphii hanya mampu hidup di manusia dan dapat menyebabkan demam
tifoid. Bakteri tersebut merupakan bagian dari genus Salmonella, yaitu bakteri
berbentuk basil berukuran 2-3 x 0,4-0,6 mikrometer, gram negatif, anaerob
fakultatif, motil, serta tidak memiliki kemampuan membentuk spora. Secara
biokimiawi, Salmonella mampu memproduksi asam pada fermentasi glukosa
dan mereduksi nitrat, namun tidak memproduksi sitokrom oksidase (Haraga et
al., 2008; Pegues dan Miller, 2011).
Salmonella typhii dan paratyphii sejatinya merupakan bagian dari
spesies Salmonella enterica subspesies enterica serotipe typhimurium.
Serotipe/serovar dari bakteri ini dibagi berdasarkan antigen somatis O (antigen
lipopolisakarida pada dinding sel), antigen permukaan Vi (hanya ditemukan
pada S. typhii dan S. paratyphii C), serta antigen flagella H. Dalam serum
penderita demam tifoid akan terbentuk antibodi terhadap ketiga macam antigen
tersebut (Haraga et al., 2008; Pegues dan Miller, 2011). Kuman ini tumbuh
dalam suasana aerob dan fakultatif anaerob. Kuman ini mati pada suhu 56ºC
dan pada keadaan kering. Di dalam air dapat bertahan hidup selama 4 minggu
dan hidup subur pada medium yang mengandung garam empedu. (Widoyono,
2008).

C. FAKTOR RISIKO
1. Karakteristik Individu
a. Usia
Prevalensi demam tifoid terbanyak pada kelompok umur 6-14
tahun dan 15-24 tahun. Determinan faktor usia ini dianggap dominan
terhadap kejadian demam tifoid. Apabila dicermati penyakit demam
tifoid ini banyak diderita anak usia sekolah, usia remaja dan dewasa
muda dimana kelompok ini mempunyai kebiasaan ruang lingkup gerak
yang tinggi, sehingga dimungkinkan kelompok ini mengenal jajanan
diluar rumah, sedang tempat jajan tersebut belum tentu terjamin
kebersihannya (Maria, 2007).
b. Jenis kelamin
Berdasarkan laporan riset kesehatan dasar (Riskesdas) Provinsi
Jawa Tengah tahun 2007, kejadian demam tifoid lebih banyak
ditemukan pada laki-laki daripada perempuan (Depkes RI, 2006).
Penelitian yang dilakukan Okky Purnia Pramitasari (2013) menyatakan
bahwa jenis kelamin berhubungan dengan kejadian demam tifoid. Laki-
laki lebih beresiko menderita demam tifoid karena laki-laki lebih banyak
mengkonsumsi makanan siap saji atau makanan warung yang biasanya
banyak mengandung penyedap rasa dan kehigienisan yang belum
terjamin, dibandingkan wanita yang lebih suka memasak makanan
sendiri sehingga lebih memperhatikan kebersihan makanannya.
Kebiasaan ini menyebabkan pria lebih rentan menderita penyakit yang
ditularkan melalui makanan seperti tifoid bila makanan yang dibeli
kurang higienis.
c. Tingkat sosial ekonomi
Demam tifoid lebih banyak menyerang penduduk dengan tingkat
sosial ekonomi rendah. Penduduk dengan tingkat sosial ekonomi rendah
berisiko menderita demam tifoid 8,8 kali lebih besar dibandingkan
penduduk dengan tingkat sosial ekonomi tinggi. Hal ini menunjukkan
tingkat kesehatan sebagian besar ditentukan oleh status ekonomi.
Penghasilan seseorang dapat digunakan untuk memperoleh pelayanan
kesehatan dan perbaikan lingkungan sehingga membantu mencegah
penyakit. Selain itu, penduduk kota berpenghasilan rendah lebih
mengandalkan pada makanan jajanan siap santap dengan mutu yang
rendah dan tidak terjamin keamanannya sehingga lebih mudah
terjangkit penyakit menular seperti demam tifoid (Artanti, 2013).
d. Tingkat pendidikan dan Pengetahuan
Demam tifoid merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri
dan ditularkan melaui makanan dan minuman sehingga penyakit ini erat
hubungannya dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Seseorang
berkebiasaan sehat atau tidak sehat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan
dan pengetahuannya. Kurangnya kesadaran seseorang untuk berperilaku
bersih dan sehat akan meningkatkan risiko orang tersebut untuk terpapar
bakteri Salmonella typhii. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Suprapto
tahun 2012 menunjukkan bawa penderita yang memiliki pengetahuan
yang kurang mengenai penularan demam tifoid berisiko 3.8 kali untuk
menderita demam tifoid dibandingkan responden yang memiliki
pengetahuan yang cukup mengenai penularan demam tifoid di RSUP
Dr. Kariadi Semarang (Suprapto, 2012).
2. Faktor Perilaku
a. Kebiasaan mencuci tangan
Salah satu media utama penularan kuman Salmonella typhii
adalah melalui tangan. Mencuci tangan sebelum makan dengan sabun
diikuti dengan pembilasan akan banyak menghilangkan mikroba yang
terdapat pada tangan. Kombinasi antara aktivitas sabun sebagai
pembersih, penggosokan dan aliran air akan menghanyutkan partikel
kotoran yang banyak mengandung mikroba. Kuman Salmonella pada
tangan carrier convalescent dapat hilang dengan mudah melalui cuci
tangan pakai sabun dan air (Kurniasih, 2011). Penelitian yang dilakukan
Rakhman dkk tahun 2009 menunjukkan bahwa orang yang tidak
mencuci tangan dengan sabun sebelum makan berisiko 2,625 kali lebih
besar menderita demam tifoid dibandingkan dengan orang yang
mempunyai kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan
(Rakhman et al., 2009).
Mencuci tangan dengan sabun juga penting dilakukan setelah
buang air besar. Virus, kuman, atau bakteri bisa menular jika BAB
benar-benar mengandung Salmonella typhii yang hidup dan dapat
bertahan, serta dalam jumlah yang cukup untuk menginfeksi dan kuman
tersebut benar-benar masuk ke dalam tubuh (Rakhman et al., 2009).
b. Kebiasaan jajan di warung/pinggir jalan
Pada masa sekarang ini banyak orang yang lebih suka membeli
makanan di luar rumah karena dianggap praktis. Orang yang memiliki
kebiasaan jajan di warung atau pinggir jalan berisiko menderita demam
tifoid 5,80 kali lebih besar dibandingkan orang yang tidak pernah jajan
di warung atau pinggir jalan (Santoso, 2007). Penularan demam tifoid
dapat terjadi ketika seseorang makan di tempat umum dan makanannya
disajikan oleh carrier tifoid yang kurang menjaga kebersihan saat
memasak, mengakibatkan penularkan bakteri Salmonella typhii pada
pelanggannya. Selain itu, makanan di tempat-tempat umum biasanya
terdapat lalat yang beterbangan dimana-mana bahkan hinggap di
makanan. Lalat-lalat tersebut dapat menularkan Salmonella typhii
dengan cara lalat yang sebelumnya hinggap di feses atau muntah
penderita demam tifoid kemudian hinggap di makanan yang akan
dikonsumsi (Artanti, 2013).
c. Kebiasaan mencuci bahan makanan mentah
Buah dan sayuran mentah mengandung vitamin C yang lebih
banyak daripada yang telah dimasak, namun sebaiknya dicuci terlebih
dahulu dengan air mengalir untuk menghindari makanan mentah yang
tercemar. Jika tidak mungkin mendapatkan air untuk mencuci, dapat
dipilih buah yang dapat dikupas. Di beberapa negara penularan demam
tifoid terjadi karena mengkonsumsi kerang-kerangan yang berasal dari
air yang tercemar, buah-buahan, sayuran mentah yang dipupuk dengan
kotoran manusia, susu dan produk susu yang terkontaminasi (Suprapto,
2012). Orang yang mempunyai kebiasaan tidak mencuci bahan makanan
mentah langsung konsumsi berisiko 5,200 kali lebih besar menderita
demam tifoid dibandingkan orang yang memiliki kebiasaan mencuci
bahan makan mentah langsung konsumsi (Risani et al., 2015).
3. Faktor Lingkungan
a. Sumber air bersih
Feses manusia yang terinfeksi S. Typhii dan dibuang secara tidak
layak tanpa memenuhi persyaratan sanitasi dapat menyebabkan
terjadinya pencemaran tanah dan sumber-sumber air. Hal ini
menyebabkan bakteri S. typhii sering ditemukan di sumur-sumur
penduduk yang telah terkontaminasi oleh feses manusia yang terinfeksi
oleh kuman tifoid. Penelitian yang dilakukan Rakhman dkk (2009)
menunjukkan bahwa orang yang menggunakan sumber air bersih bukan
dari penyediaan PDAM berisiko menderita demam tifoid sebesar 1,74
kali dibandingkan dengan orang yang di rumahnya menggunakan
penyediaan air bersih dari PDAM (Rakhman et al., 2009).
Jarak antara sumber air bersih dengan septic tank juga
mempengaruhi kejadian demam tifoid. Syarat minimal sumber air bersih
dengan septic tank yaitu 10 meter. Sumur merupakan sumber air yang
sering digunakan di masyarakat secara luas. Jarak sumur dengan septic
tank yang sangat dekat dapat mempengaruhi kualitas air. Rembesan air
dari septic tank dapat mencemari air tanah di sekitarnya termasuk air
sumur yang digunakan untuk kebutuhan minum dan memasak sehari-
hari sehingga dapat menjadi sumber penularan demam tifoid. Hasil
penelitian yang dilakukan tahun menunjukkan bahwa responden yang
menggunakan sumber air bersih dari sumur yang berjarak kurang dari
10 meter dari septic tank berisiko 2,613 kali lebih besar menderita
demam tifoid dibandingkan dengan sumur yang berjarak lebih dari 10
meter dari septic tank (Kristina et al., 2015).
b. Kepemilikan jamban keluarga
Seseorang yang tidak mempunyai jamban berisiko menderita
demam tifoid 1,867 kali lebih besar dibandingkan dengan orang yang
mempunyai jamban. Setiap rumah tangga harus memiliki jamban sendiri
yang digunakan untuk buang air besar dan buang air kecil karena untuk
menjaga lingkungan yang bersih, sehat dan tidak berbau, tidak
mencemari sumber air yang ada disekitarnya, tidak mengundang
datangnya lalat atau serangga yang dapat menjadi penularan diare,
kolera, disentri, tifoid, kecacingan dan penyakit infeksi saluran
pencernaan. Selain itu juga harus memelihara agar jamban tetap sehat
dengan cara membersihkan lantai jamban, membersihkan jamban secara
teratur sehingga ruang jamban dalam keadaan bersih, di dalam jamban
tidak ada kotoran yang terlihat, tidak ada seranga (kecoa, lalat) dan tikus
yang berkeliaran serta tersediannya alat pembersih (Depkes RI, 2006).
c. Pengelolaan sampah dan air limbah
Pengelolaan sampah dan air limbah merupakan masalah untuk
kesehatan lingkungan karena sampah berkaitan erat dengan kesehatan
masyarakat, sehingga dari sampah tersebut akan hidup berbagai
mikroorganisme penyebab penyakit (bakteri patogen), dan juga
binatang serangga sebagai pemindah atau penyebar penyakit (vektor).
Seseorang yang sanitasinya buruk dalam pengelolaan sampah berisiko
3,1 kali lebih besar menderita demam tifoid (Wulan, 2013).
Pengelolaan sampah meliputi pengumpulan dan pengangkutan
sampah yang menjadi tanggung jawab dari masing-masing rumah
tangga atau institusi yang menghasilkan sampah, sehingga masyarakat
harus membangun atau mengadakan tempat khusus untuk
mengumpulkan sampah dan kemudian dari masing-masing tempat
pengumpulan sampah tersebut harus diangkut ke tempat penampungan
sementara (TPS) sampah, dan selanjutnya ke tempat penampungan akhir
(TPA). Kemudian adanya pemusnahan dan pengolahan sampah
terutama untuk sampah padat dapat dilakukan melalui berbagai cara
antara lain pemusnahan sampah dengan di tanam atau menimbum dalam
tanah, memusnahkan sampah dengan jalan membakar didalam tungku
pembakaran, dan pengolahan sampah yaitu sampah dapat dijadikan
sebagai pupuk kompos (Notoatmodjo, 2007).
4. Riwayat demam tifoid pada keluarga
Orang yang dalam keluarganya pernah menderita demam tifoid
berisiko untuk menderita demam tifoid 2,244 kali lebih besar dibandingkan
orang yang dalam keluarganya tidak ada yang menderita demam tifoid
dalam 3 bulan terakhir. Penderita yang baru sembuh dari demam tifoid
masih terus mengekskresi S. typhii dalam tinja dan air kemih sampai tiga
bulan (fase konvalesen) dan hanya 3% penderita yang mengekskresi lebih
dari satu tahun. Hal inilah yang menyebabkan penularan demam tifoid ke
anggota keluarganya (Widodo, 2009; Rakhman et al., 2009).
5. Pelayanan Kesehatan
Faktor pelayanan kesehatan yang dapat mempengaruhi status
kesehatan seseorang antara lain karena akses ke fasilitas kesehatan yang
jauh, kurang aktifnya kader kesehatana dalam melakukan tindakan promotif
dan preventif terhadap demam tifoid kepada masyarakatnya (Kristina et al.,
2015).

D. PATOMEKANISME
Bakteri Salmonella typhii dan paratyphii masuk ke dalam tubuh melalui
ingesti makanan/air yang terkontaminasi. Dosis infeksi yang dibutuhkan adalah
103-106 colony-forming units (CFU). Kondisi yang dapat menurunkan
keasaman gaster (misalnya usia <1 tahun, konsumsi antasida, dan penyakit
aklorhidrik), mengganggu integritas usus (misalnya inflammatory bowel
disease, riwayat operasi gastrointestinal, perubahan keseimbangan flora usus
akibat konsumsi antibiotik) dapat meningkatkan kerentanan terhadap infeksi
Salmonella (Grassl dan Finlay, 2008; Haraga et al., 2008; Pegues dan Miller,
2011).
Setelah bakteri mencapai ileum, maka akan menembus lapisan mukosa
dan melewati lapisan-lapisan usus melalui sel fagosit microfold (sel M) yang
berada di dalam plak peyer. Salmonella dapat memicu pembentukan lipatan
membran pada sel epitel nonfagosit, sehingga lipatan tersebut menyelimuti
bakteri dalam sebuah vesikel besar, yang disebut sebagai proses bacteria-
mediated endocytosis (BME). Proses BME tergantung kepada penyajian protein
Salmonella secara langsung pada sitoplasma epitel usus melalui sekresi bakteri
tipe III. Protein bakteri tersebut memiliki efek merubah aktin sitoskeleton yang
dibutuhkan untuk endositosis bakteri Salmonella (Grassl dan Finlay, 2008;
Haraga et al., 2008; Pegues dan Miller, 2011).
Setelah menembus lapisan epitel ileum, bakteri ini akan difagositosis
oleh makrofag. Salmonella dapat bertahan dalam makrofag melalui
kemampuannya dalam mendeteksi perubahan lingkungan yang berbahaya.
Berkat kemampuan tersebut, bakteri ini mampu memodifikasi lipopolisakarida
dan mengubah ekspresi protein membran luar sehingga ia dapat bertahan
melawan aktivitas mikrobisidal serta dapat pula mengubah proses signalling sel
fagosit. Sistem sekresi tipe III yang dimiliki oleh Salmonella mampu
menyajikan protein bakteri melewati membran fagosom menuju sitoplasma
makrofag, sehingga sistem sekresi tersebut akan memicu remodeling vakuola
berisi bakteri, dalam rangka menunjang keberlangsungan hidup dan replikasi
bakteri Salmonella (Grassl dan Finlay, 2008; Haraga et al., 2008; Pegues dan
Miller, 2011).
Sejak difagositosis, bakteri Salmonella akan terbawa menuju seluruh
tubuh dalam makrofag melalui saluran limfatik, untuk kemudian berkolonisasi
di jaringan retikuloendotelial (seperti hepar, lien, limfe nodi, dan sum-sum
tulang). Dalam stadium inkubasi dini tersebut, belum muncul tanda dan gejala
yang dirasakan pasien. Demam dan nyeri abdomen mulai muncul saat makrofag
dan sel epitel mulai memproduksi sitokin, akibat terstimulasi oleh produk
bakteri dalam jumlah besar, karena sejumlah produk bakteri tersebut mulai
memicu rangsang imun bawaan. Hepatosplenomegali mulai muncul sebagai
akibat sekunder rekrutmen sel mononuklear dan aktivasi respon imun yang
dimediasi sel, sebagai respon kolonisasi bakteri Salmonella. Rekrutmen dan
infiltrasi sel mononuklear dan limfosit tambahan menuju plak Peyer terjadi
beberapa minggu setelah infeksi/kolonisasi awal. Rekrutmen tersebut dapat
menyebabkan pembesaran dan nekrosis plak peyer, sebagai akibat dari produk
proapoptotik dari bakteri maupun dari respon inflamasi tubuh (Grassl dan
Finlay, 2008; Haraga et al., 2008; Pegues dan Miller, 2011).
Gastroenteritis yang disebabkan oleh Salmonella non tifoid (NTS)
memiliki ciri khas yang berbeda, dimana rekrutmen melibatkan sel leukosit
polimorfonuklear pada usus halus dan usus besar, akibat dari sekresi IL-8 oleh
sel usus, sebagai respon adanya kolonisasi dan translokasi protein bakteri pada
sitoplasma sel inang. Degranulasi dan pelepasan zat toksik neutrofil
menyebabkan kerusakan mukosa usus yang menyebabkan diare inflamatorik
pada NTS. Sedangkan, Salmonella tifoid hanya melibatkan sel mononuklear
dan usus halus (Grassl dan Finlay, 2008; Haraga et al., 2008; Pegues dan Miller,
2011).

E. PENEGAKAN DIAGNOSIS
1. Anamnesis
Gejala yang dikeluhkan pasien berupa demam. Demam pada
penyakit ini umumnya muncul malam hari, dengan kisaran suhu 38,8-
40,5oC. Demam berkisar antara seminggu hingga 4 minggu apabila
dibiarkan tanpa terapi. Waktu inkubasi S. typhii umumnya sekitar 10-14
hari. Selain kedua gejala tersebut, dapat pula muncul gejala sistemik seperti
nyeri kepala, batuk, menggigil, arthralgia, dan myalgia. Gejala
gastrointestinal yang timbul antara lain anoreksia, nyeri abdomen, mual,
muntah, dan diare atau bahkan konstipasi (Pegues dan Miller, 2011).
2. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan suhu badan meningkat,
bersifat kontinyu, meningkat perlahan-lahan terutama sore dan malam hari,
tapi kadang-kadang bersifat intermiten atau remiten. Pada minggu kedua
dapat ditemukan bradikardi relatif, rose spots (ruam makulopapular
kemerahan) di kulit dada dan perut, lidah kotor, splenomegali, nyeri tekan
abdomen dan gangguan mental berupa somnolen, stupor, koma, delirium
dan psikosis (Pegues dan Miller, 2011; Depkes RI, 2006).
3. Pemeriksaan Penunjang
Mengingat tanda dan gejala demam tifoid tidak spesifik, diperlukan
pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis. Beberapa diagnosis
banding yang dapat dipikirkan adalah malaria, hepatitis, enteritis bakterial,
demam dengue, infeksi rickettsia, leptospirosis, abses hepar amoebik, dan
infeksi HIV akut (Pegues dan Miller, 2011).
Satu-satunya tes laboratorium yang menjadi standar baku emas
untuk penegakan diagnosis demam tifoid adalah hasil kultur yang positif.
Kultur dapat dilakukan dari sampel darah, sumsum tulang, ruam kulit, feses,
dan sekresi usus. Spesimen darah diambil pada minggu I sakit saat demam
tinggi. Spesimen feses dan urin diambil pada minggu ke II dan minggu-
minggu seanjutnya. Sensitivitas kultur darah hanya 40-80% akibat
penggunaan antibiotik yang tinggi di daerah endemik maupun akibat jumlah
bakteri di darah yang terlalu sedikit (<15 organisme per mL) (Depkes RI,
2006; Pegues dan Miller, 2011).
Selain itu terdapat beberapa pemeriksaan lain yang dapat
mengarahkan diagnosis yaitu:
a. Darah rutin
Leukopenia dan neutropenia dapat ditemukan pada 15-25%, sedangkan
leukositosis juga dapat ditemukan pada pasien anak-anak, terutama pada
10 hari pertama saat sakit dan kondisi perforasi usus atau infeksi
sekunder (Pegues dan Miller, 2011).
b. Tes serologi Widal
Pemeriksaan ini menguji reaksi aglutinasi antara reagen aglutinogen
(reagen S. typhii) dan aglutinin (antibodi) yang terdapat dalam darah.
Pemeriksaan Widal tidak cukup sensitif maupun spesifik untuk
menggantikan kultur sebagai standar baku emas. Batas titer yang
dijadikan diagnosis hanya berdasarkan kesepakatan pada suatu daerah.
Sebagian besar pendapat bahwa titer O 1/320 sudah menyokong kuat
diagnosis demam tifoid. Diagnosis demam tifoid dianggap pasti adalah
apabila didapatkan kenaikan titer 4 kali lipat pada pemeriksaan ulang
dengan interval 5-7 hari (Depkes RI, 2006; Pegues dan Miller, 2011).
c. PCR dan DNA mampu mendeteksi S. typhii dalam darah, namun masih
belum digunakan dan dikembangkan dalam penggunaan klinis (Depkes
RI, 2006; Pegues dan Miller, 2011).

F. PENATALAKSANAAN
1. Non Medikamentosa
a. Tirah baring
Penderita yang dirawat harus tirah baring dengan sempurna untuk
mencegah komplikasi, terutama perdarahan dan perforasi. Bila klinis
berat, penderita harus istirahat total (Depkes RI, 2006).
b. Diet
Diet harus mengandung kalori dan protein yang cukup. Sebaiknya
rendah serat untuk mencegah perdarahan dan perforasi. Diet untuk
penderita tifoid diklasifikasikan atas diet cair, diet lunak, tim dan nasi
biasa (Depkes RI, 2006).
c. Cairan yang cukup kalori dan elektrolit dengan dilakukan pemantauan
harian (Depkes RI, 2006).
2. Medikamentosa
Terapi simptomatik yang dapat diberikan untuk perbaikan keadaan umum
penderita (Depkes RI, 2006):
a. Antibiotik
Antibiotik lini pertama untuk tifoid yaitu kloramfenikol,
ampisilin atau amoxicilin (aman untuk penderita yang sedang hamil),
trimetoprim-sulfametoksazol. Bila pemberian salah satu antibiotik lini
pertama dinilai tidak efektif dapat diganti dengan antibiotik yang lain
atau dipilih antibiotik lini kedua. Antibiotik lini kedua untuk tifoid
adalah ceftriaxon, cefixime (efektif untuk anak), quinolone (tidak
dianjurkan untuk anak <18 tahun karena dinilai mengganggu
pertumbuhan tulang).

Tabel 7.1 Dosis Antibiotik untuk Demam Tifoid (Depkes RI, 2006).
Antibiotik Dosis
Kloramfenikol - Dewasa 4x500 mg selama 14 hari
- Anak 50-100 mg/KgBB/hari selama 10-14
hari dibagi 4 dosis
Ceftriaxon - Dewasa 2-4 gr/hari selama 3-5 hari
- Anak 80 mg/KgBB/hari dosis tunggal
selama 5 hari
Ampisilin dan - Dewasa 3-4 gr/hari selama 14 hari
Amoxicilin - Anak 100 mg/KgBB/hari selama 10 hari
TMP-SMX - Dewasa 2x(160-800) selama 2 minggu
- Anak TMP 6-10 mg/KgBB/hari atau
SMX 30-50 mg/KgBB/hari selama 10 hari
Quinolone - Siprofloxacin 2x500 mg 1 minggu
- Ofloxacin 2x(200-400) 1 minggu
- Pefloxacin 1x400 mg selama 1 minggu
- Fleroxacin 1x400 mg selama 1 minggu
Sefiksim - Anak 15-20 mg/KgBB/hari dibagi 2 dosis
selama 10 hari
Thiamfenikol - Dewasa 4x500 mg/hari
- Anak: 50 mg/kgBB/hari selama 5-7 hari
bebas panas

b. Antipiretik
Antipiretik seperti paracetamol dosis 3x500 mg dapat digunakan untuk
memperbaiki kondisi febris pada pasien (Widoyono, 2008).
c. Antiemetik
Antiemetik diberikan bila penderita muntah hebat. Obat yang biasa
digunakan yaitu ondansetron HCl (Widoyono, 2008).
d. Roboransia/vitamin

G. PENCEGAHAN
Pencegahan demam tifoid melalui gerakan nasional sangat diperlukan
karena akan berdampak cukup besar terhadap penurunan kesakitan dan
kematian akibat demam tifoid. Tindakan preventif dan kontrol penularan kasus
luar biasa (KLB) demam tifoid mencakup banyak aspek, mulai dari segi kuman
S. typhii sebagai agen penyakit dan faktor pejamu (host) serta faktor lingkungan
(Widodo, 2009).
Secara garis besar, terdapat tiga strategi pokok untuk memutuskan
transmisi tifoid, yaitu (Widodo, 2009):
1. Identifikasi dan eradikasi S. typhii pada pasien demam tifoid asimptomatik,
karier dan akut
Pelaksanaanya dapat dilakukan secara aktif dengan mendatangi
sasaran dan pasif dengan menunggu bila ada penerimaan pegawai di suatu
instansi. Sasaran aktif lebih diutamakan pada populasi tertentu seperti
pengelola sarana makanan/ minuman. Sasaran lainnya adalah yang terkait
dengan pelayanan masyarakat, yaitu petugas kesehatan dan petugas
kebersihan.
2. Pencegahan transmisi langsung dari pasien yang terinfeksi S. typhii akut
maupun karier
Kegiatan ini dilakukan di rumah sakit, klinik, maupun di rumah dan
lingkungan sekitar orang yang telah diketahui pengidap kuman S. typhii.
3. Proteksi pada orang yang berisiko tinggi tertular dan terinfeksi
Sarana proteksi pada populasi ini dapat dilakukan dengan cara
vaksinasi tifoid di daerah endemik maupun hiperendemik. Sasaran vaksinasi
tergantung daerahnya endemis atau non-endemis, tingkat risiko tertularnya
yaitu berdasarkan tingkat hubungan perorangan dan jumlah frekuensinya,
serta golongan individu yang berisiko yaitu golongan imunokompromise
dan golongan rentan.
VIII. PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa An. R adalah seorang pasien yang menderita
penyakit demam tifoid.
1. Aspek Personal
Idea
Pasien mengeluhkan demam, nyeri kepala, nafsu makan dan minum turun,
nyeri perut, belum BAB sejak 5 hari sebelum masuk IGD Puskesmas 1
Sokaraja, dan badan terasa lemas.
Concern
Pasien merasa badannya tidak nyaman dan lemas, keluarga pasien kawatir
kondisi pasien semakin lemas dan memburuk sehingga membuat pasien
sulit untuk beraktivitas dan belajar.
Expectacy
Pasien dan keluarga mempunyai harapan agar penyakit pasien dapat segera
sembuh dan dapat segera beraktivitas seperti semula.
Anxiety
Pasien dan keluarganya khawatir keadaan pasien semakin memburuk.
2. Aspek Klinis
Diagnosis : Demam Tifoid
Diagnosa banding : Dengue Fever
3. Aspek Faktor Risiko Intrinsik Individu
Pasien sering mengkonsumsi jajanan dan makanan diluar rumah.
Sebelum dan sesudah makan pasien terkadang tidak melalakukan cuci
tangan. Ketika pasien melakukan cuci tangan, pasien jarang menggunakan
sabun.
4. Aspek Faktor Risiko Ekstrinsik Individu
a. Makanan yang dijual di sekolahnya yang tidak atau kurang terjaga
kebersihannya.
b. Keadaan dan kebersihan lingkungan rumah yang kurang sehat, dapur
yang dekat dengan tempat sampah terbuka, jarak sumber air dengan
septic tank kurang dari 10 meter,
c. Status sosial ekonomi keluarga pasien yang rendah, menyebabkan
kondisi hunian tidak memenuhi kriteria rumah sehat.
d. Rendahnya pemahaman pasien dan keluarga mengenai higienitas diri
sendiri, makanan dan lingkungan.
e. Rendahnya pemahaman pasien dan keluarga mengenai penyakit demam
tifoid.
5. Aspek Skala Penilaian Fungsi Sosial
Skala penilaian fungsi sosial pasien adalah 3, karena pasien mulai terganggu
dalam melakukan aktivitas dan kegiatan sehari-hari seperti bersekolah,
berkumpul bersama keluarga, dan bermain dengan teman-temannya.
B. SARAN
Pemberian penyuluhan dengan materi utama mengenai pengertian,
penyebab, faktor risiko, cara penularan, tanda dan gejala, serta penanganan dan
pencegahan demam tifoid. Materi selanjutnya berupa penyuluhan tentang
perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai salah satu upaya pencegahan
terhadap penyakit demam tifoid.
DAFTAR PUSTAKA

Artanti NW. 2013. Hubungan antara Sanitasi Lingkungan, Higiene Perorangan,


dan Karakteristik Individu dengan Kejadian Demam Tifoid di Wilayah Kerja
Puskesmas Kedungmundu Kota Semarang Tahun 2012. Skripsi. Available at
:http://lib.unnes.ac.id/18354/1/6450408002.pdf. Diakses pada 07 Oktober
2018.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2006. KMK No. 364/SK/V/2006


Tentang Pedoman Pengendalian Demam Tifoid. Jakarta : Direktorat Jenderal
PP dan PL.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2012. Profil Kesehatan Indonesia


tahun 2011. Jakarta.

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. 2010. Profil Kesehatan Jawa Tengah.
Semarang.

GA dan Finlay BB. 2008. Pathogenesis of Enteric Salmonella Infections. Curr Opin
Gastroenterol. Vol. 24(1): 22-26.

Haraga A et al. 2008. Salmonella Interplay with Host Cells. Nat Rev Micobiol;
6:53.

Herliani D, Usep AH, Rika N. 2015. Hubungan antara Faktor Risiko dengan
Kejadian Demam Tifoid pada Pasien yang di Rawat di Rumah Sakit Al-Islam
Bandung Periode Februari - Juni 2015. Bandung : Universitas Islam.

Kristina RT, Andi ZA, Ansariadi. 2014. Faktor Risiko Demam Tifoid di Wilayah
Kerja Puskesmas Galesong Utara Kabupaten Takalar. Skripsi. Makasar :
Unversitas Hasanudin.

Kurniasih. 2011. Hubungan Faktor Risiko dengan Kejadian Demam Tifoid di


Rumah Sakit Jasa Kartini Kecamatan Rancah Kabupaten Tasikmalaya.
Skripsi. Bandung : Universitas Siliwangi.

Maria HW. 2007. Hubungan Faktor Determinan dengan Kejadian Demam Tifoid
di Indonesia Tahun 2006. Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
Vol. 19 (4) : 165-173.

Okky PP. 2013. Faktor Risiko Kejadian Penyakit Demam Tifoid pada Penderita
yang Dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Ungaran. Jurnal Kesehatan
Masyarakat. Vol 2 (1) : 108-117.

Pegues DA, Miller SI. 2011. Salmonellosis. Dalam Harrison's Principles of


Internal Medicine 18th edition. New York: McGraw and Hill.
Rakhman A, Rizka H, Dibyo P. 2009. Faktor – Faktor Risiko yang Berpengaruh
terhadap Kejadian Demam Tifoid pada Orang Dewasa. Berita Kedokteran
Masyarakat. Vol. 25 (4) : 167-175.

Risani ES, Henry P, Vandry DK. 2015. Hubungan Personal Hygiene dengan
Kejadian Demam Tifoid di Wilayah Kerja Puskesmas Tumaratas. Ejournal.
Vol. 3(2) : 1-8.

Santoso. 2007. Faktor-Faktor Risiko Kejadian Demam Tifoid di Kabupaten


Purworejo. Tesis. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Suprapto. 2012. Faktor Risiko Pejamu yang Mempengaruhi Kejadian Demam


Tifoid (Studi Kasus Di RSUP Dr. Kariadi Semarang). Tesis. Semarang:
Universitas Diponegoro

Vollaard AM, Van A, Widjaja S, Visser LG, Surjadi C. 2004. Risk factors for
Typhoid and Paratyphoid Fever in Jakarta, Indonesia. Journal of American
Medical Association. Vol. 291(21) : 2607-2615.

WHO, 2014. Typhoid : Immunization, Vaccines and Biologicalis. Available at :


http://www.who.int/immunization/diseases/typhoid/en/, diakses pada 07
Oktober 2018.

Widodo D. 2009. Demam Tifoid. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid
III Edisi V. Jakarta : Interna Publishing.

Widoyono. 2008. Penyakit Tropis, Epidemiologi, Penularan, Pencegahan dan


Pemberantasannya. Jakarta : Erlangga.

Wulan YS. 2013. Faktor Kebiasaan dan Sanitasi Lingkungan Hubunganya dengan
Kejadian Demam Thypoid Di Wilayah Kerja Puskesmas Ngemplak
Kabupaten Boyolali. Skripsi. Avilable at:
http://eprints.ums.ac.id/27257/11/02._NASKAH_PUBLIKASI.pdf, diakses
pada 07 Oktober 2018.
LAMPIRAN