Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH KELOMPOK

“Tanggung Jawab Moral Keilmuan”

IAIN PALOPO

Disampaikan dalam Rangka Mengikuti Mata Kuliah


Filsafat Ilmu Semester V JurusanTadris Matematika

Disusun Oleh: Kelompok 10

Umar : 1502040073
M. Yusuf : 1502040066

Dosen Pembimbing
Syamsul Irawan, S.Ag., M.Pd.i

PROGRAM STUDI TADRIS MATEMATIKA


FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERIPALOPO
2017/2018
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah ini tentang “Tanggung jawab Moral Keilmuan”
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami
menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi
dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu
dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar
kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang limbah dan
manfaatnya untuk masyarakan ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi
terhadap pembaca.

Palopo, 10 Oktober 2017

Penyusun (Kelompok 10)

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang Masalah ............................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ..................................................................................... 2
C. Tujuan Penuliasan Makalah ...................................................................... 3

BAB II PEMBAHASAN
A. Sumber – Sumber Ilmu Pengetahuan ........................................................ 4
B. Etika Keilmuan.......................................................................................... 5
C. Sikap Keilmuan ......................................................................................... 9
D. Kesadaran Moral ....................................................................................... 10

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan ............................................................................................... 11
B. Saran .......................................................................................................... 11

DAFTAR PUSTAKA
Lampiran I

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Ilmu pengetahuan merupakan salah satu hal penting yang harus dimiliki
dalam kehidupan manusia. Dengan ilmu semua keperluan dan kebutuhan manusia
bisa terpenuhi secara lebih cepat dan lebih mudah. Merupakan kenyataan bahwa
peradaban manusia sangat berhutang kepada ilmu. Ilmu telah banyak mengubah
wajah dunia seperti hal memberantas penyakit, kelaparan, kemiskinan, dan berbagai
kehidupan yang sulit lainnya. Dengan kemajuan ilmu juga manusia bisa merasakan
kemudahan lainnya seperti transportasi, pemukiman, pendidikan, dan komunikasi.
Singkatnya, ilmu merupakan sarana membantu manusia dalam mencapai tujuan
hidupnya1.
Ilmu pada dasarnya ditujukan untuk kemaslahatan manusia. Dalam hal ini,
ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana atau alat dalam meningkatkan taraf hidup
manusia dengan memperhatikan kodrat manusia, martabat, dan kelestarian manusia.
Mengenai pemanfaatan ilmu, Suriasumantri mengemukakan: “Pengetahuan
merupakan kekuasaan, kekuasaan yang dapat dipakai untuk kemaslahatan manusia”2.
Pertanyaan kemudian timbul: apakah ilmu selalu merupakan berkah dan
penyelamat bagi manusia? Memang sudah terbukti dengan kemajuan ilmu
pengetahuan manusia dapat menciptakan berbagai bentuk teknologi. Misalnya,
pembuatan bom yang pada awalnya untuk memudahkan kerja manusia, namun
kemudian dipergunakan untuk hal-hal yang bersifat negatif yang menimbulkan

1
Bakhtiar, Amsal. (2004). Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Hal.162
2
Suriasumantri, Jujun. S. (2010). Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan. Hal.149

1
2

malapetaka bagi manusia itu sendiri, seperti yang terjadi di Bali. Masalah
yang terjadi, ilmu yang tadinya diciptakan sebagai sarana membantu manusia,
ternyata kemudian tersebut justru menambah masalah bagi manusia. Sehingga
diperlukan moral keilmuaan agar ilmu yang dimiliki dan yang diperoleh dapat
bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain.
Istilah moral yang kita kenal berasal dari Bahasa Latin, yaitu “mores” yang
berarti adat kebiasaan, sedangkan moral berasal dari Bahasa Yunani, yaitu “ethos”,
yang berarti kebiasaan. Dalam kehidupan sehari-hari moral lebih dikenal dengan arti
susila. Moral mengandung arti praktis, ia merupakan ide-ide universal tentang
tindakan seseorang yang baik dan wajar dalam masyarakat. Dari pengertian diatas
dapat di simpulkan bahwa moral adalah budi pekerti, sikap mental atau budi perangai
yang tergambar dalam bentuk tingkah laku berbicara, berpikir dan sebagainya yang
merupakan ekspresi jiwa seseorang, yang akan melahirkan perbuatan baik –menurut
akal dan syari’at– atau perbuatan buruk. Ruang lingkup moral meliputi bagaimana
caranya agar dapat hidup lebih baik dan bagaimana caranya untuk berbuat baik serta
keburukan.
Penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi membutuhkan dimensi etis
sebagai pertimbangan dan mempunyai pengaruh terhadap proses perkembangan lebih
lanjut ilmu dan teknologi. Bertitik pangkal dari permasalahan di atas, penulis akan
menjelaskan tentang sumber – sumber, etika, sikap dan kesadaran moral keilmuan.
Salah satunya dengan makalah yang berjudul “Tanggung Jawab Moral Keilmuan”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka
rumusan masalah yang diangkat dalam penulisan makalah ini adalah:
1. Sikap keilmuan yang seperti apa yang harus kita miliki ?
2. Kesadaran moral apa saja yang harus kita lakukan dalam etika keilmuan?
3

C. Tujuan Penulisan Makalah


Sesuai dengan latar belakang dan rumusan masalah diatas, tujuan yang ingin
dicapai dari penulisan makalah ini secara umum adalah untuk memperoleh penjelasan
singkat tentang “Tanggung Jawab Moral Keilmuan”. Secara lebih terperinci tujuan
penulisan makalah ini adalah:
1. Mengetahui sikap apa yang harus dimiliki dalam etika keilmuan.
2. Mendapatkan informasi tentang kesadaran moral yang harus dilakukan dalam etika
keilmuan.
BAB II
TANGGUNG JAWAB MORAL KEILMUAN

A. Sumber – Sumber Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan dapat diperoleh dimana saja. Dari buku, surat kabar, jurnal,
majalah, televisi dan internet. Segala sesuatu yang dapat menambah wawasan
keilmuan kita bisa disebut sebagai ilmu pengetahuan. Dibawah ini akan dijelaskan
sumber – sumber yang menjadi dasar sebuah ilmu pengetahuan.
 Sumber Ilmu pengetahuan dalam Islam
Betapa tinggi perhatian Islam terhadap ilmu pengetahuan dan betapa Allah SWT
mewajibkan kepada kaum muslimin untuk belajar dan terus belajar, maka Islampun
telah mengatur dan menggariskan kepada ummatnya agar mereka menjadi ummat
yang terbaik (dalam ilmu pengetahuan dan dalam segala hal) dan agar mereka tidak
salah dan tersesat, dengan memberikan bingkai sumber pengetahuan berdasarkan
urutan kebenarannya sebagai berikut.
1. Al-Qur’an dan Sunnah
Allah SWT telah memerintahkan hamba-Nya untuk menjadikan al-Qur’an dan
Sunnah sebagai sumber pertama ilmu pengetahuan. Hal ini dikarenakan
keduanya adalah langsung dari sisi Allah SWT dan dalam pengawasannya,
sehingga terjaga dari kesalahan, dan terbebas dari segala kekeliruan apapun,
karena ia diturunkan dari Yang Maha Berilmu dan Yang Maha Adil. Sehingga
tentang kewajiban mengambil ilmu dari keduanya, disampaikan Allah SWT
melalui berbagai perintah untuk memikirkan ayat-ayat-Nya (QS 12/1-3) dan
menjadikan Nabi SAW sebagai pemimpin dalam segala hal (QS 33/21).

4
5

2. Alam Semesta
Allah SWT telah memerintahkan manusia untuk memikirkan alam semesta
(QS 3/190-192) dan mengambil berbagai hukum serta manfaat darinya, diantara
ayat – ayat yang telah dibuktikan oleh pengetahuan modern seperti:
a. Ayat tentang asal mula alam semesta dari kabut/nebula (QS 41/11).
b. Ayat tentang urutan penciptaan (QS 79/28-30):
Berdasarkan keterangan ayat di atas sudah semestinya lah kita sebagai
makhluk Allah yang sempurna dan memiliki akal, dapat mentafakuri segala
ciptaan Allah SWT baik yang ada di langit maupun di bumi.
3. Diri Manusia
Allah SWT memerintahkan agar manusia memperhatikan tentang proses
penciptaannya, baik secara fisiologis/fisik (QS 86/5) maupun psikologis/jiwa
manusia tersebut (QS 91/7-10).
4. Sejarah
Allah SWT memerintahkan manusia agar melihat kebenaran wahyu-Nya
melalui lembar sejarah (QS 12/111). Jika manusia masih ragu akan kebenaran
wahyu-Nya dan akan datangnya hari pembalasan, maka perhatikanlah kaum Nuh,
Hud, Shalih, Fir’aun, dan sebagainya, yang kesemuanya keberadaannya
dibenarkan dalam sejarah hingga saat ini.
Berdasarkan 4 sumber pengetahuan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa
agama islam telah menjelaskan secara terperinci tentang sumber – sumber ilmu
pengetahuan yang harus kita yakini kebenarannya. Tidak hanya adab, tataraca
melakukan ibadah tetapi di dalam al – Qur’an juga dijelaskan tentang fakta
penciptaaan alam semesta.
B. Etika Keilmuan
1. Pengertian etika
Dalam Wikipedia Bahasa Indonesia Etika ( Yunani Kuno : "ethikos", berarti
"timbul dari kebiasaan") adalah cabang utama filsafat yang mempelajari
6

nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral . Etika
mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar , salah , baik , buruk , dan
tanggung jawab . Etika dimulai bila manusia merefleksikan unsur-unsur etis dalam
pendapat – pendapat spontan kita. Kebutuhan akan refleksi itu akan kita rasakan,
antara lain karena pendapat etis kita tidak jarang berbeda dengan pendapat orang lain.
Untuk itulah diperlukan etika, yaitu untuk mencari tahu apa yang seharusnya
dilakukan oleh manusia3.
Secara metodologis, tidak setiap hal menilai perbuatan dapat dikatakan
sebagai etika. Etika memerlukan sikap kritis, metodis, dan sistematis dalam
melakukan refleksi. Karena itulah etika merupakan suatu ilmu. Sebagai suatu ilmu,
objek dari etika adalah tingkah laku manusia. Akan tetapi berbeda dengan ilmu-ilmu
lain yang meneliti juga tingkah laku manusia, etika memiliki sudut pandang normatif.
Maksudnya etika melihat dari sudut baik dan buruk terhadap perbuatan manusia.
2. Macam – Macam Etika
Etika terbagi menjadi tiga bagian utama: meta-etika (studi konsep etika), etika
normatif (studi penentuan nilai etika), dan etika terapan (studi penggunaan nilai-nilai
etika). Ketiga jenis etika tersebut akan dijelaskan sebagai berikut:
a. Meta Etika
Meta-Etika sebagai suatu jalan menuju konsepsi atas benar atau tidaknya
suatu tindakan atau peristiwa. Dalam meta-etika, tindakan atau peristiwa yang
dibahas dipelajari berdasarkan hal itu sendiri dan dampak yang dibuatnya.
Sebagai contoh,"Seorang anak menendang bola hingga kaca jendela pecah."
Secara meta-etis, baik-buruknya tindakan tersebut harus dilihat menurut sudut
pandang yang netral. Pertama, dari sudut pandang si anak, bukanlah suatu
kesalahan apabila ia menendang bola ketika sedang bermain, karena memang
dunianya(dunia anak-anak) memang salah satunya adalah bermain, apalagi ia
tidak sengaja melakukannya. Akan tetapi kalau dilihat dari pihak pemilik jendela,
tentu ia akan mendefinisikan hal ini sebagai kesalahan yang telah dibuat oleh si

3
Wikipedia. Etika. [Online] http://id.wikipedia.org/wiki/Etika [9 Oktober 2017]
7

anak. Si pemilik jendela berasumsi demikian karena ia merasa dirinya telah


dirugikan.
Bagaimanapun juga hal-hal seperti ini tidak akan pernah menemui
kejelasannya hingga salah satu pihak terpaksa kalah atau mungkin masalah
menjadi berlarut-larut. Mungkin juga kedua pihak dapat saling memberi maklum.
Menyikapi persoalan-persoalan yang semacam inilah, maka meta-etika dijadikan
bekal awal dalam mempertimbangkan suatu masalah, sebelum penetapan hasil
pertimbangan dibuat.
b. Etika Normatif
Etika normatif tidak berbicara lagi tentang gejala-gejala, melainkan tentang
apa yang sebenarnya harus merupakan tindakan kita. Dalam etika normatif,
norma-norma dinilai, dan sikap manusia ditentukan. Jadi, etika normatif
berbicara mengenai pelbagai norma yang menuntun tingkah laku manusia. Etika
Normatif memberi penilaian dan himbauan kepada manusia untuk bertindak
sebagaimana seharusnya berdasarkan norma-norma. Ia menghimbau manusia
untuk bertindak yang baik dan menghindari yang jelek.
Hal yang sama juga dirumuskan Bertens dengan mengatakan bahwa etika
normatif itu tidak deskriptif melainkan preskriptif (memerintahkan), tidak
melukiskan melainkan menentukan benar-tidaknya tingkah laku atau anggapan
moral. Untuk itu ia mengadakan argumentasi-argumentasi. Jadi, ia
mengemukakan alasan-alasan mengapa suatu anggapan moral dapat dianggap
benar atau salah.
c. Etika Terapan
Etika Terapan adalah etika yang mencoba membangun jembatan antara
prinsip-prinsip moral dasar yang masih cukup abstrak dan umum yang diberikan
oleh etika umum dan penanganan masalah-masalah moral konkret dalam praksis
kehidupan, baik pribadi maupun sosial. Etika sendiri sebagai cabang ilmu filsafat
atau teologi sebenarnya sudah merupakan ilmu yang menyangkut praksis
kehidupan. Akan tetapi sifat terapannya masih dapat lebih dipertajam lagi dengan
mencoba -- berdasarkan informasi yang diperoleh dari ilmu-ilmu khusus yang
8

tersangkut -- memberikan prinsip-prinsip dan norma-norma moral yang lebih


operasional4.
3. Nilai dalam Etika Keilmuan
Menurut Khairul Anwar etika keilmuan merupakan etika normatik yang
merumuskan prinsip-prinsip etis yang dapat dipertanggungjawabkan secara rasional
dan dapat diterapkan dalam ilmu pengetahuan5. Tujuan etika keilmuan adalah agar
seorang ilmuan dapat menerapkan prinsip-prinsip moral, yaitu yang baik dan
menghindarkan dari yang buruk kedalam perilaku keilmuannya, sehingga ia dapat
menjadi ilmuan yang mempertanggungjawabkan keilmuannya. Etika normatif
menetapkan kaidah-kaidah yang mendasari pemberian penilaian terhadap perbuataan-
perbuatan apa yang seharusnya dikerjakan dan apa yang seharusnya terjadi serta
menetapkan apa yang bertentangan apa yang seharusnya terjadi.
Nilai dan norma yang harus berada pada etika keilmuan adalah nilai dan
norma moral. Bagi seorang ilmuan nilai dan norma moral yang dimilikinya akan
menjadi penentu, apakah ia sudah menjadi ilmuan yang baik atau belum. Tugas
seorang ilmuan harus menjelaskan hasil penelitiannya sejernih mungkin atas dasar
rasionalitas dan metodologis yang tepat agar dapat dipergunakan oleh masyarakat.Di
bidang etika tanggung jawab seorang ilmuan adalah bersifat objektif, terbuka,
menerima kritik, menerima pendapat orang lain, kukuh dalam pendirian yang
dianggap benar dan berani mengakui kesalahan.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa etika keilmuan yang
berkembang saat ini diharapkan tidak menjerumuskan para ilmuwan pada hal-hal
yang tidak diinginkan oleh manusia itu sendiri. Para ilmuwan yang jujur dan patuh
pada norma-norma keilmuan saja belum cukup melainkan ia harus dilapisi oleh moral
dan akhlaq, baik moral umum yang dianut masyarakat atau bangsa (moral/ etika
Pancasila bagi bangsa Indonesia), maupun moral religi yang dianutnya. Hal ini

4
Suriasumantri, Jujun. S. (2010). Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan. Hal.21
5
Anwar, Khairul.. Nilai dan Etika. [Online] http://delapan12.blogspot.com/2011/10/nilai-dan-
etika.html [9 Oktober 2017]
9

dimaksudkan agar jangan sampai terjadi hal-hal yang menyimpang yang akibatnya
menyengsarakan umat manusia. Sebagai seorang ilmuwan sudah barang tentu mereka
juga perlu memiliki visi moral yaitu moral khusus sebagai ilmuwan. Moral inilah di
dalam filsafat ilmu juga disebut juga sebagai sikap ilmiah.
Para ilmuwan Indonesia dalam mengembangan ilmu pengetahuan diharapkan
berlandaskan etika Pancasila dan moral Pancasila guna pembangunan bangsa
Indonesia. Sehingga pembangunan tidak menyimpang dari tujuan luhur keilmuan
(objektivitas) dan kepentingan kemanusiaan agar dapat dapat selalu berdampingan
dengan alam yang lestari dan harmoni.
C. Sikap Keilmuan
Sikap keilmuan dalam hal ini merupakan sikap ilmiah dari seorang peneliti
atau ilmuan. Sikap ilmiah adalah sikap-sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap
ilmuwan dalam melakukan tugasnya untuk mempelajari meneruskan, menolak atau
menerima serta merubah atau menambah suatu ilmu.
Menurut Prof. Harsojo dalam Liza menyebutkan enam macam sikap ilmiah
diantaranya adalah sebagai berikut6:
1. Obyektivitas
Dalam peninjauan yang penting adalah obyeknya.
2. Sikap serba relatif
Ilmu tidak mempunyai maksud mencari kebenaran mutlak, ilmu berdasarkan
kebenaran-kebenaran ilmiah atas beberapa postulat, secara priori telah
diterima sebagai suatu kebenaran. Malahan teori-teori dalam ilmu sering
untuk mematahkan teori yang lain.
3. Sikap Skeptis
Adalah sikap untuk selalu ragu-ragu terhadap pernyataan-pernyataan yang
belum cukup kuat dasar-dasar pembuktiannya.
4. Kesabaran Intelektual

6
Liza. Sikap Ilmiah. [Online] http://id.shvoong.com/humanities/ philosophy/2114497-sikap-
ilmiah/ Liza [19 Maret 2012]
10

Sanggup menahan diri dan kuat untuk tidak menyerah pada tekanan agar
dinyatakan suatu pendirian ilmiah , karena memang belum selesainya dan
cukup lengkapnya hasil dari penelitian , adalah sikap seorang ilmuwan
5. Kesederhanaan
Adalah sikap cara berfikir, menyatakan, dan membuktikan
6. Sikap tidak memihak pada etik.
D. Kesadaran Moral
Nilai dan norma yang harus berada pada etika keilmuan adalah nilai dan
norma moral. Bagi seorang ilmuan nilai dan norma moral yang dimilikinya akan
menjadi penentu, apakah ia sudah menjadi ilmuan yang baik atau belum. Ilmuan yang
tidak memiliki moral akan menyalahgunakan ilmu yang dimilikinya.
Kesadaran tanggungjawab moral keilmuan merupakan hal yang menjadi
aturan bagi para ilmuan dalam merumuskan ide-idenya agar ide dan temuan yang
dikembangkan sesuia dengan kontesk zaman sehingga berguna bagi banyak orang
dalam menentukan atau menjadi fasilitas dalam menunjuang kehidupam masyarakat
dunia.
Moral sangat menjadi penentu bagi seseorang terhadap temuan-temuan yang
dicetuskan, karena moral merupakan nilai dan norma-norma. Nilai dan norma inilah
yang akan menentukan sejauh mana kualitas temuan atau ide-ide para ilmuan. Degan
demikian, tanggung jawab moral keilmuan sangat dibutuhkan bagi para ilmuan
terhadap ide atau temuannya sehingga ide atau temuan mereka dapat bermanfaat,
bukan menjadi hal yang menakutkan bagi banyak orang.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan informasi yang diperoleh maka penulis dapat menyimpulkan
sebagai berikut:
 Ada beberapa sumber-sumber ilmu pengetahuan diantaranya: (1) Al-qur’an,
(2) Alam Semesta, (3) Diri Sendiri, (4) Sejarah.
 Ada beberapa macam Etika ilmu yaitu: (1) Meta Etika, (2) Etika Normatif, (3)
Etika Terapan.
 Menurut Prof. Harsojo dalam Liza menyebutkan enam macam sikap ilmiah
diantaranya adalah : (1) Objektivitas, (2) Sikap serba relative, (3) Sikap
Skeptis, (4) Kesabaran Intelektual, (5) Kesederhanaan, (6) Sikap tidak
memihak pada etik.
 Nilai dan norma yang harus berada pada etika keilmuan adalah nilai dan
norma moral. Bagi seorang ilmuan nilai dan norma moral yang dimilikinya
akan menjadi penentu, apakah ia sudah menjadi ilmuan yang baik atau belum.
Ilmuan yang tidak memiliki moral akan menyalahgunakan ilmu yang
dimilikinya.
B. Saran
Sebagai pengajar bukan hanya mentransper ilmu tapi juga mendidik
pemelajar agar memiliki moral dan tanggung jawab dalam bersikap maupun
bertindak. Supaya pengajar dapat menjadi contoh bagi pemelajar dengan
menunjukkan moral yang baik sesuai ajaran agama dan ideologi, bertanggung jawab
terhadap ilmu yang disampaikan serta memberi manfaat bagi pemelajar maupun
masyarakat.

11
DAFTAR PUSTAKA

Akbar, Haji. Sumber Ilmu Pengetahuan dalam Islam.[Online]


http://hajiakbar2546.wordpress.com/2011/05/15/sumber-ilmu-pengetahuan-dalam
islam/[9 Oktober 2017]
Anwar, Khairul.. Nilai dan Etika. [Online]
http://delapan12.blogspot.com/2011/10/nilai-dan-etika.html [9 Oktober 2017]
Liza. Sikap Ilmiah. [Online] http://id.shvoong.com/humanities/
philosophy/2114497-sikap-ilmiah/ Liza [9 Oktober 2017]
Tata. Etika Umum dan Etika Khusus. [Online]
http://uika.blogspot.com/2011/06/etika-umum-dan-etika-khusus.html [9 Oktober
2017]
Wikipedia. Etika. [Online] http://id.wikipedia.org/wiki/Etika [9 Oktober
2017]
Bakhtiar, Amsal. (2004). Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Suriasumantri, Jujun. S. (2010). Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer.
Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

12
Lampiran I
Soal Tanggung Jawab Moral Keilmuan

1. Apa saja sumber-sumber Ilmu pengetahuan? Jelaskan!


Jawab:
 Al-Qur’an dan Sunnah
Allah SWT telah memerintahkan hamba-Nya untuk menjadikan al-Qur’an dan
Sunnah sebagai sumber pertama ilmu pengetahuan. Hal ini dikarenakan
keduanya adalah langsung dari sisi Allah SWT dan dalam pengawasannya,
sehingga terjaga dari kesalahan, dan terbebas dari segala kekeliruan apapun,
karena ia diturunkan dari Yang Maha Berilmu dan Yang Maha Adil. Sehingga
tentang kewajiban mengambil ilmu dari keduanya, disampaikan Allah SWT
melalui berbagai perintah untuk memikirkan ayat-ayat-Nya (QS 12/1-3) dan
menjadikan Nabi SAW sebagai pemimpin dalam segala hal (QS 33/21).

13
14

 Alam Semesta
Allah SWT telah memerintahkan manusia untuk memikirkan alam semesta
(QS 3/190-192) dan mengambil berbagai hukum serta manfaat darinya, diantara
ayat – ayat yang telah dibuktikan oleh pengetahuan modern seperti:
c. Ayat tentang asal mula alam semesta dari kabut/nebula (QS 41/11).
d. Ayat tentang urutan penciptaan (QS 79/28-30):
Berdasarkan keterangan ayat di atas sudah semestinya lah kita sebagai
makhluk Allah yang sempurna dan memiliki akal, dapat mentafakuri segala
ciptaan Allah SWT baik yang ada di langit maupun di bumi.
 Diri Manusia
Allah SWT memerintahkan agar manusia memperhatikan tentang proses
penciptaannya, baik secara fisiologis/fisik (QS 86/5) maupun psikologis/jiwa
manusia tersebut (QS 91/7-10).
 Sejarah
Allah SWT memerintahkan manusia agar melihat kebenaran wahyu-Nya
melalui lembar sejarah (QS 12/111). Jika manusia masih ragu akan kebenaran
wahyu-Nya dan akan datangnya hari pembalasan, maka perhatikanlah kaum Nuh,
Hud, Shalih, Fir’aun, dan sebagainya, yang kesemuanya keberadaannya
dibenarkan dalam sejarah hingga saat ini.
Berdasarkan 4 sumber pengetahuan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa
agama islam telah menjelaskan secara terperinci tentang sumber – sumber ilmu
pengetahuan yang harus kita yakini kebenarannya. Tidak hanya adab, tataraca
melakukan ibadah tetapi di dalam al – Qur’an juga dijelaskan tentang fakta
penciptaaan alam semesta.

2. Jelaskan apa yang dimaksud dengan Etika?


Jawab:
Dalam Wikipedia Bahasa Indonesia Etika ( Yunani Kuno : "ethikos", berarti
"timbul dari kebiasaan") adalah cabang utama filsafat yang mempelajari nilai
15

atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral . Etika
mencakup analisis dan penerapan konsep seperti benar , salah , baik , buruk , dan
tanggung jawab . Etika dimulai bila manusia merefleksikan unsur-unsur etis
dalam pendapat – pendapat spontan kita. Kebutuhan akan refleksi itu akan kita
rasakan, antara lain karena pendapat etis kita tidak jarang berbeda dengan
pendapat orang lain. Untuk itulah diperlukan etika, yaitu untuk mencari tahu apa
yang seharusnya dilakukan oleh manusia.

3. Sebutkan dan jelaskan macam-macam Etika?


Jawab:
a. Meta Etika
Meta-Etika sebagai suatu jalan menuju konsepsi atas benar atau tidaknya
suatu tindakan atau peristiwa. Dalam meta-etika, tindakan atau peristiwa yang
dibahas dipelajari berdasarkan hal itu sendiri dan dampak yang dibuatnya.
b. Etika Normatif
Etika normatif tidak berbicara lagi tentang gejala-gejala, melainkan tentang
apa yang sebenarnya harus merupakan tindakan kita. Dalam etika normatif,
norma-norma dinilai, dan sikap manusia ditentukan. Jadi, etika normatif
berbicara mengenai pelbagai norma yang menuntun tingkah laku manusia. Etika
Normatif memberi penilaian dan himbauan kepada manusia untuk bertindak
sebagaimana seharusnya berdasarkan norma-norma. Ia menghimbau manusia
untuk bertindak yang baik dan menghindari yang jelek.
c. Etika Terapan
Etika Terapan adalah etika yang mencoba membangun jembatan antara
prinsip-prinsip moral dasar yang masih cukup abstrak dan umum yang diberikan
oleh etika umum dan penanganan masalah-masalah moral konkret dalam praksis
kehidupan, baik pribadi maupun sosial. Etika sendiri sebagai cabang ilmu filsafat
atau teologi sebenarnya sudah merupakan ilmu yang menyangkut praksis
kehidupan. Akan tetapi sifat terapannya masih dapat lebih dipertajam lagi dengan
mencoba -- berdasarkan informasi yang diperoleh dari ilmu-ilmu khusus yang
16

tersangkut -- memberikan prinsip-prinsip dan norma-norma moral yang lebih


operasional.

4. Bagaimanakah Nilai dalam etika Keilmuan?


Jawab:
Nilai dan norma yang harus berada pada etika keilmuan adalah nilai dan
norma moral. Bagi seorang ilmuan nilai dan norma moral yang dimilikinya akan
menjadi penentu, apakah ia sudah menjadi ilmuan yang baik atau belum. Tugas
seorang ilmuan harus menjelaskan hasil penelitiannya sejernih mungkin atas
dasar rasionalitas dan metodologis yang tepat agar dapat dipergunakan oleh
masyarakat.Di bidang etika tanggung jawab seorang ilmuan adalah bersifat
objektif, terbuka, menerima kritik, menerima pendapat orang lain, kukuh dalam
pendirian yang dianggap benar dan berani mengakui kesalahan.

5. Jelaskan apa saja sikap keilmuan yang harus dimiliki oleh seorang peneliti atau
ilmuan?
Jawab:
Menurut Prof. Harsojo dalam Liza menyebutkan enam macam sikap ilmiah
diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Obyektivitas
Dalam peninjauan yang penting adalah obyeknya.
b. Sikap serba relatif
Ilmu tidak mempunyai maksud mencari kebenaran mutlak, ilmu berdasarkan
kebenaran-kebenaran ilmiah atas beberapa postulat, secara priori telah
diterima sebagai suatu kebenaran. Malahan teori-teori dalam ilmu sering
untuk mematahkan teori yang lain.
c. Sikap Skeptis
Adalah sikap untuk selalu ragu-ragu terhadap pernyataan-pernyataan yang
belum cukup kuat dasar-dasar pembuktiannya.
d. Kesabaran Intelektual
17

Sanggup menahan diri dan kuat untuk tidak menyerah pada tekanan agar
dinyatakan suatu pendirian ilmiah , karena memang belum selesainya dan
cukup lengkapnya hasil dari penelitian , adalah sikap seorang ilmuwan
e. Kesederhanaan
Adalah sikap cara berfikir, menyatakan, dan membuktikan
f. Sikap tidak memihak pada etik.