Anda di halaman 1dari 17

Aku sudah berkeluarga, tapi aku punya WIL yang juga sangat kucintai.

Aku
sudah menganggap ia sebagai istriku saja. Karena itu aku akan
memanggilnya dalam cerita ini sebagai istriku. Dari obrolan selama ini ia
mengatakan bahwa ia ingin melihatku 'bercinta' dengan wanita lain.
Akhirnya tibalah pengalaman kami ini.

Siang di hari Sabtu itu terasa panas sekali, tiupan AC mobil yang menerpa
langsung ke arahku dan 'istriku' kalah dengan radiasi matahari yang tembus
melalui kaca-kaca jendela. Aku sedang melaju kencang di jalan tol menuju
arah Bogor untuk suatu keperluan bisnis. Seperti telah direncanakan,
kubelokkan mobil ke arah pom bensin di Sentul. setelah tadi tak sempat aku
mengisinya. Dalam setiap antrian mobil yang cukup panjang terlihat ada
gadis-gadis penjaja minuman berenergi. Sekilas cukup mencolok karena
seragamnya yang cukup kontras dengan warna sekelilingnya.

Dari sederetan gadis-gadis itu tampak ada seorang yang paling cantik, putih,
cukup serasi dengan warna-warni seragamnya. Ia terlalu manis untuk
bekerja diterik matahari seperti ini walaupun menggunakan topi. Tatkala
tersenyum, senyumnya lebih mengukuhkan lagi kalau di sini bukanlah
tempat yang pantas baginya untuk bekerja. Aku sempat khawatir kalau ia
tidak berada di deretanku dan aku masih hanyut dalam berbagai terkaan
tentangnya, aku tidak sempat bereaksi ketika ia mengangguk, tersenyum dan
menawarkan produknya. Akhirnya dengan wajah memohon ia berkata,
"Buka dong kacanya.." Segera aku sadar dengan keadaan dan refleks
membuka kaca jendelaku. Istriku hanya memperhatikan, tidak ada komentar.

Meluncurlah kata-kata standar yang ia ucapkan setiap kali bertemu calon


pembeli. Suaranya enak didengar, tapi aku tak menyimaknya. Aku malah
balik bertanya, "Kamu ngapain kerja di sini?"
"Mom, kita kan masih perlu sekretaris, kenapa tidak dia aja kita coba."
"Ya, boleh aja", jawab istriku.
"Gimana mau?" tanyaku kepada gadis itu.
"Mau.. mau Mas", katanya.

Setelah kenalan sebentar dan saling tukar nomor telepon, kulanjutkan


perjalananku setelah mengisi bensin sampai penuh. Istriku akhirnya tahu
kalau maksudku yang utama hanyalah ingin 'berkenalan' dengannya. Ia
sangat setuju dan antusias.

Malam sekitar jam 20:00 HP istriku berdering, sesuai pembicaraan ia akan


datang menemui kami. Setelah diberi tahu alamat hotel kami, beberapa saat
kemudian ia muncul dengan penampilan yang cukup rapi. Ia cepat sekali
akrab dengan istriku karena ternyata berasal dari daerah yang sama yaitu
**** (edited), Jawa Barat. Tidak sampai setengah jam kami sudah merasa
betul-betul sebagai suatu keluarga yang akrab. Ia sudah berani menerima
tawaran kami untuk ikut menginap bersama. Ia sempat pamit sebentar untuk
menyuruh sopir salah satu keluarganya untuk pulang saja, dan telepon ke
saudaranya bahwa malam itu ia tidak pulang.

Setelah cerita kesana-kemari akhirnya obrolan kami menjurus ke masalah


seks. Setelah agak kaku sebentar kemudian suasana mencair kembali. Kini
dia mulai menimpali walau agak malu-malu. Singkat cerita dia masih
perawan, sudah dijodohkan oleh keluarganya yang ia belum begitu puas.
Keingintahuannya terhadap masalah seks termasuk agak tinggi, tapi
pacarnya itu sangat pemalu, termasuk agak dingin dan agak kampungan
walau berpendidikan cukup. Kami ceritakan bahwa dalam masalah seks
kami selalu terbuka, punya banyak koleksi photo pribadi, bahkan kali ini
kami ingin membuat photo ketika 'bercinta'.

"Udah ah, kita sambil tiduran aja yuk ngobrolnya", ajak istriku.
"Nih kamu pakai kimono satunya", kata istriku sambil memberikan baju
inventaris hotel. Sedangkan aku yang tidak ada persiapan untuk menginap
akhirnya hanya menggunakan kaos dan celana dalam. Ia dan istriku sudah
merebahkan badannya di tempat tidur, kemudian aku menghampiri istriku
langsung memeluknya dari atas. Kucumbu istriku dari mulai bibir, pipi,
leher, dan buah dadanya. Istriku mengerang menikmatinya. Aku
menghentikan cumbuanku sejenak kemudian meminta tamu istimewaku
untuk mengambil photo dengan kamera digital yang selalu kami bawa.
Tampak ia agak kikuk, kurang menguasai keadaan ketika aku menolehnya.

Setelah aku mengajarinya bagaimana menggunakan kamera yang kuberikan


itu, kemudian kuteruskan mencumbu istriku. Dengan telaten kucumbu
istriku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kini tamuku tampaknya sudah
menguasai keadaan, ia dengan leluasa mengintip kami dari lensa kamera dari
segala sudut. Akhirnya istriku mencapai klimaksnya setelah liang
senggamanya kumainkan dengan lidah, dengan jari, dan terakhir dengan
batang istimewaku. Sedangkan aku belum apa-apa.

"Sekarang gantian Rin, kamu yang maen aku yang ngambil photonya", kata
istriku.
"Ah Mbak ini ada-ada aja", kata Rini malu-malu.
Sebagai laki-laki, aku sangat paham dari bahasa tubuhnya bahwa dia tidak
menolak. Dalam keadaan telanjang bulat aku berdiri dan langsung memeluk
Rini yang sedang memegang kamera. Tangan kirinya ditekuk seperti akan
memegang pinggangku, tapi telapaknya hanya dikepal seolah ragu atau
malu. Kuraih kamera yang masih di tangan kanannya kemudian kuberikan
kepada istriku.

Kini aku lebih leluasa memeluk dan mencumbunya, kuciumi pipi dan
lehernya, sedang tanganku terus menggerayang dari pundak sampai lekukan
pantatnya. Pundaknya beberapakali bergerak merinding kegelian. Kedua
tangannya kini ternyata sudah berani membalas memelukku. Kemudian aku
memangkunya dan merebahkannya di tempat tidur. Kukulum bibir
mungilnya, kuciumi pipinya, kugigit-gigit kecil telinganya, kemudian
kuciumi lehernya punuh sabar dan telaten. Ia hanya mendesah, kadang
menarik nafas panjang dan kadang badannya menggelinjang-gelinjang.

Tidak terlalu susah aku membuka kimononya, sejenak kemudian tampak


pemandangan yang cukup mempesona. Dua bukit yang cukup segar
terbungkus rapi dalam BH yang pas dengan ukurannya. Kulitnya putih,
bersih dengan postur badan yang cukup indah. Sejenak aku menoleh ke
bawah, tampak pahanya cukup menawan. Sementara itu onggokan kecil di
selangkangan pahanya yang terbungkus CD menambah panorama
keindahan.

Ia tidak menolak ketika aku membuka BH-nya, demikian juga ketika aku
melepaskan kimononya melewati kedua tangannya. Kuteruskan
permainanku dengan mengitari sekitar bukit-bukit segar itu. Seluruh titik di
bagian atasnya telah kutelusuri tidak ada yang terlewatkan, kini kedua bukti
itu kuremas perlahan. Ia mendesah, "Eeehhh.."

Tatkala kukulum puting susunya, badannya refleks bergerak-gerak,


desahnya pun semakin jelas terdengar. Kuulangi lagi cumbuanku dari mulai
mengulum bibirnya, mencium pipinya, kemudian lehernya. Kemudian
kuciumi lagi bukit-bukit indah itu, dan kemudian kupermainkan kedua
puting susunya dengan lidahku. Gelinjangnya semakin terasa bergerak
mengiringi desahannya yang terasa merdu sekali.

Petualanganku kuteruskan ke bagian bawahnya. Ia mencegah ketika aku


akan membuka CD-nya yang merupakan pakaian satu-satunya yang tersisa.
"Ya nggak usah dibuka" ujarku, "Aku elus-elus aja ya bagian atasnya pakai
punyaku", bujukku. Ia tidak bereaksi, tapi aku langsung saja
menyingsingkan CD-nya ke bawah. Tampaklah dua bibir yang mengapit
lembah cintanya dihiasi bulu-bulu tipis. Kupegang burungku sambil duduk
mengangkang di atas kedua pahanya, kemudian kuelus-eluskan burung itu
ke ujung lembah yang sebagian masih tertutup CD. Agak lama dengan
permainan itu, akhirnya mungkin karena ia juga penasaran, maka ia tidak
menolak ketika kulepaskan CD-nya.

Kini kami sama-sama telanjang, tak satu helai benang pun yang tersisa.
Kuteruskan permainan burungku dengan lebih leluasa. Tak lama kemudian
cairan kenikmatannya pun sudah meleleh menyatakan kehadirannya.
Burungku pun lebih lancar menjelajah. Tapi karena lembahnya masih
perawan agak susah juga untuk menembusnya.

Ketika kucoba untuk memasukkan burungku ke dalam lembah sorganya,


tampak bibir-bibir kenikmatannya ikut terdorong bersama kepala burungku.
Menyadari alam yang dilaluinya belum pernah dijamah, aku cukup sabar
untuk melakukan permainan sampai lembah kenikmatannya betul-betul
menerimanya secara alami. Gelinjang, desahan, dan ekspresi wajahnya yang
sedang menahan kenikmatan membuatku semakin bersemangat dan lebih
percaya diri untuk tidak segera ejakulasi. Ia sudah tidak menyadari apa yang
sedang terjadi. Akhirnya kepala burungku berhasil menembus lubang
kenikmatan itu.

Kuteruskan permainanku dengan mengeluarkan dan memasukkan lagi


kepala burungku. Ia merintih kenikmatan, ia pasrah saja dengan keadaan
yang terjadi, karena itu aku yakin bahwa rintihan itu bukan rintihan
kesakitan, kalaupun ada, maka akan kalah dengan kenikmatan yang
diperolehnya. Selanjutnya kulihat burung yang beruntung itu lebih
mendesak ke dalam. Aku sudah tidak tahan untuk memasukkan seluruh
burungku ke tempatnya yang terindah.

Kemudian kurebahkan badanku di atas tubuhnya yang indah, kuciumi


pipinya sambil pantatku kugerakkan naik turun. Sementara burungku lebih
jauh menjangkau ke dalam lembah nikmatnya. Akhirnya seluruh berat
badanku kuhempaskan ke tubuh mungil itu. Dan.., "Blesss...." seluruh
burungku masuk ke dalam surga dunia yang indah. Ia mengerang, gerakan
burungku pun segera kuhentikan sampai liang kewanitaannya menyesuaikan
dengan situasi yang baru.
Setelah agak lama aku pun mulai lagi memainkan gerakan-gerakanku
dengan gentle. Kini ia mulai mengikuti iramaku dengan menggerak-
gerakkan pinggulnya. Selang berapa lama kedua tangannya lekat
mencengkram punggungku, kakinya ikut menjepit kedua kakiku. Kemudian
muncul erangan panjang diikuti denyut-denyut dari lembah sorganya.
"Eeehhh..." desahnya. Aku pun sudah tidak tahan lagi untuk menumpahkan
seluruh kenikmatan, segera kucabut burungku kemudian kumuntahkan di
luar dengan menekan ke selangkangannya. "Eeehhh..." erangku juga. Kami
berdua menarik nafas panjang.

Setelah agak lama kemudian aku duduk, kuraih kaos dalamku kemudian aku
mengelap selangkangnya yang penuh dengan air kenikmatanku. Tampak
tempat tidurnya basah oleh cairan-cairan bercampur bercak-bercak merah. Ia
pun segera duduk, sejenak dari raut wajahnya tampak keraguan terhadap
situasi yang telah dialaminya. Aku dan istriku memberi keyakinan untuk
tidak menyesali apa yang pernah terjadi.

Besok paginya aku sempat bermain lagi dengannya sebelum check out.
Betul-betul suatu akhir pekan yang susah dilupakan. Akhirnya ia kutitipkan
bekerja di perusahaan temanku. Aku sudah berkeluarga, tapi aku punya WIL
yang juga sangat kucintai. Aku sudah menganggap ia sebagai istriku saja.
Karena itu aku akan memanggilnya dalam cerita ini sebagai istriku. Dari
obrolan selama ini ia mengatakan bahwa ia ingin melihatku 'bercinta' dengan
wanita lain. Akhirnya tibalah pengalaman kami ini.

Siang di hari Sabtu itu terasa panas sekali, tiupan AC mobil yang menerpa
langsung ke arahku dan 'istriku' kalah dengan radiasi matahari yang tembus
melalui kaca-kaca jendela. Aku sedang melaju kencang di jalan tol menuju
arah Bogor untuk suatu keperluan bisnis. Seperti telah direncanakan,
kubelokkan mobil ke arah pom bensin di Sentul. setelah tadi tak sempat aku
mengisinya. Dalam setiap antrian mobil yang cukup panjang terlihat ada
gadis-gadis penjaja minuman berenergi. Sekilas cukup mencolok karena
seragamnya yang cukup kontras dengan warna sekelilingnya.

Dari sederetan gadis-gadis itu tampak ada seorang yang paling cantik, putih,
cukup serasi dengan warna-warni seragamnya. Ia terlalu manis untuk
bekerja diterik matahari seperti ini walaupun menggunakan topi. Tatkala
tersenyum, senyumnya lebih mengukuhkan lagi kalau di sini bukanlah
tempat yang pantas baginya untuk bekerja. Aku sempat khawatir kalau ia
tidak berada di deretanku dan aku masih hanyut dalam berbagai terkaan
tentangnya, aku tidak sempat bereaksi ketika ia mengangguk, tersenyum dan
menawarkan produknya. Akhirnya dengan wajah memohon ia berkata,
"Buka dong kacanya.." Segera aku sadar dengan keadaan dan refleks
membuka kaca jendelaku. Istriku hanya memperhatikan, tidak ada komentar.

Meluncurlah kata-kata standar yang ia ucapkan setiap kali bertemu calon


pembeli. Suaranya enak didengar, tapi aku tak menyimaknya. Aku malah
balik bertanya, "Kamu ngapain kerja di sini?"
"Mom, kita kan masih perlu sekretaris, kenapa tidak dia aja kita coba."
"Ya, boleh aja", jawab istriku.
"Gimana mau?" tanyaku kepada gadis itu.
"Mau.. mau Mas", katanya.

Setelah kenalan sebentar dan saling tukar nomor telepon, kulanjutkan


perjalananku setelah mengisi bensin sampai penuh. Istriku akhirnya tahu
kalau maksudku yang utama hanyalah ingin 'berkenalan' dengannya. Ia
sangat setuju dan antusias.

Malam sekitar jam 20:00 HP istriku berdering, sesuai pembicaraan ia akan


datang menemui kami. Setelah diberi tahu alamat hotel kami, beberapa saat
kemudian ia muncul dengan penampilan yang cukup rapi. Ia cepat sekali
akrab dengan istriku karena ternyata berasal dari daerah yang sama yaitu
**** (edited), Jawa Barat. Tidak sampai setengah jam kami sudah merasa
betul-betul sebagai suatu keluarga yang akrab. Ia sudah berani menerima
tawaran kami untuk ikut menginap bersama. Ia sempat pamit sebentar untuk
menyuruh sopir salah satu keluarganya untuk pulang saja, dan telepon ke
saudaranya bahwa malam itu ia tidak pulang.

Setelah cerita kesana-kemari akhirnya obrolan kami menjurus ke masalah


seks. Setelah agak kaku sebentar kemudian suasana mencair kembali. Kini
dia mulai menimpali walau agak malu-malu. Singkat cerita dia masih
perawan, sudah dijodohkan oleh keluarganya yang ia belum begitu puas.
Keingintahuannya terhadap masalah seks termasuk agak tinggi, tapi
pacarnya itu sangat pemalu, termasuk agak dingin dan agak kampungan
walau berpendidikan cukup. Kami ceritakan bahwa dalam masalah seks
kami selalu terbuka, punya banyak koleksi photo pribadi, bahkan kali ini
kami ingin membuat photo ketika 'bercinta'.

"Udah ah, kita sambil tiduran aja yuk ngobrolnya", ajak istriku.
"Nih kamu pakai kimono satunya", kata istriku sambil memberikan baju
inventaris hotel. Sedangkan aku yang tidak ada persiapan untuk menginap
akhirnya hanya menggunakan kaos dan celana dalam. Ia dan istriku sudah
merebahkan badannya di tempat tidur, kemudian aku menghampiri istriku
langsung memeluknya dari atas. Kucumbu istriku dari mulai bibir, pipi,
leher, dan buah dadanya. Istriku mengerang menikmatinya. Aku
menghentikan cumbuanku sejenak kemudian meminta tamu istimewaku
untuk mengambil photo dengan kamera digital yang selalu kami bawa.
Tampak ia agak kikuk, kurang menguasai keadaan ketika aku menolehnya.

Setelah aku mengajarinya bagaimana menggunakan kamera yang kuberikan


itu, kemudian kuteruskan mencumbu istriku. Dengan telaten kucumbu
istriku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kini tamuku tampaknya sudah
menguasai keadaan, ia dengan leluasa mengintip kami dari lensa kamera dari
segala sudut. Akhirnya istriku mencapai klimaksnya setelah liang
senggamanya kumainkan dengan lidah, dengan jari, dan terakhir dengan
batang istimewaku. Sedangkan aku belum apa-apa.

"Sekarang gantian Rin, kamu yang maen aku yang ngambil photonya", kata
istriku.
"Ah Mbak ini ada-ada aja", kata Rini malu-malu.
Sebagai laki-laki, aku sangat paham dari bahasa tubuhnya bahwa dia tidak
menolak. Dalam keadaan telanjang bulat aku berdiri dan langsung memeluk
Rini yang sedang memegang kamera. Tangan kirinya ditekuk seperti akan
memegang pinggangku, tapi telapaknya hanya dikepal seolah ragu atau
malu. Kuraih kamera yang masih di tangan kanannya kemudian kuberikan
kepada istriku.

Kini aku lebih leluasa memeluk dan mencumbunya, kuciumi pipi dan
lehernya, sedang tanganku terus menggerayang dari pundak sampai lekukan
pantatnya. Pundaknya beberapakali bergerak merinding kegelian. Kedua
tangannya kini ternyata sudah berani membalas memelukku. Kemudian aku
memangkunya dan merebahkannya di tempat tidur. Kukulum bibir
mungilnya, kuciumi pipinya, kugigit-gigit kecil telinganya, kemudian
kuciumi lehernya punuh sabar dan telaten. Ia hanya mendesah, kadang
menarik nafas panjang dan kadang badannya menggelinjang-gelinjang.

Tidak terlalu susah aku membuka kimononya, sejenak kemudian tampak


pemandangan yang cukup mempesona. Dua bukit yang cukup segar
terbungkus rapi dalam BH yang pas dengan ukurannya. Kulitnya putih,
bersih dengan postur badan yang cukup indah. Sejenak aku menoleh ke
bawah, tampak pahanya cukup menawan. Sementara itu onggokan kecil di
selangkangan pahanya yang terbungkus CD menambah panorama
keindahan.

Ia tidak menolak ketika aku membuka BH-nya, demikian juga ketika aku
melepaskan kimononya melewati kedua tangannya. Kuteruskan
permainanku dengan mengitari sekitar bukit-bukit segar itu. Seluruh titik di
bagian atasnya telah kutelusuri tidak ada yang terlewatkan, kini kedua bukti
itu kuremas perlahan. Ia mendesah, "Eeehhh.."

Tatkala kukulum puting susunya, badannya refleks bergerak-gerak,


desahnya pun semakin jelas terdengar. Kuulangi lagi cumbuanku dari mulai
mengulum bibirnya, mencium pipinya, kemudian lehernya. Kemudian
kuciumi lagi bukit-bukit indah itu, dan kemudian kupermainkan kedua
puting susunya dengan lidahku. Gelinjangnya semakin terasa bergerak
mengiringi desahannya yang terasa merdu sekali.

Petualanganku kuteruskan ke bagian bawahnya. Ia mencegah ketika aku


akan membuka CD-nya yang merupakan pakaian satu-satunya yang tersisa.
"Ya nggak usah dibuka" ujarku, "Aku elus-elus aja ya bagian atasnya pakai
punyaku", bujukku. Ia tidak bereaksi, tapi aku langsung saja
menyingsingkan CD-nya ke bawah. Tampaklah dua bibir yang mengapit
lembah cintanya dihiasi bulu-bulu tipis. Kupegang burungku sambil duduk
mengangkang di atas kedua pahanya, kemudian kuelus-eluskan burung itu
ke ujung lembah yang sebagian masih tertutup CD. Agak lama dengan
permainan itu, akhirnya mungkin karena ia juga penasaran, maka ia tidak
menolak ketika kulepaskan CD-nya.

Kini kami sama-sama telanjang, tak satu helai benang pun yang tersisa.
Kuteruskan permainan burungku dengan lebih leluasa. Tak lama kemudian
cairan kenikmatannya pun sudah meleleh menyatakan kehadirannya.
Burungku pun lebih lancar menjelajah. Tapi karena lembahnya masih
perawan agak susah juga untuk menembusnya.

Ketika kucoba untuk memasukkan burungku ke dalam lembah sorganya,


tampak bibir-bibir kenikmatannya ikut terdorong bersama kepala burungku.
Menyadari alam yang dilaluinya belum pernah dijamah, aku cukup sabar
untuk melakukan permainan sampai lembah kenikmatannya betul-betul
menerimanya secara alami. Gelinjang, desahan, dan ekspresi wajahnya yang
sedang menahan kenikmatan membuatku semakin bersemangat dan lebih
percaya diri untuk tidak segera ejakulasi. Ia sudah tidak menyadari apa yang
sedang terjadi. Akhirnya kepala burungku berhasil menembus lubang
kenikmatan itu.

Kuteruskan permainanku dengan mengeluarkan dan memasukkan lagi


kepala burungku. Ia merintih kenikmatan, ia pasrah saja dengan keadaan
yang terjadi, karena itu aku yakin bahwa rintihan itu bukan rintihan
kesakitan, kalaupun ada, maka akan kalah dengan kenikmatan yang
diperolehnya. Selanjutnya kulihat burung yang beruntung itu lebih
mendesak ke dalam. Aku sudah tidak tahan untuk memasukkan seluruh
burungku ke tempatnya yang terindah.

Kemudian kurebahkan badanku di atas tubuhnya yang indah, kuciumi


pipinya sambil pantatku kugerakkan naik turun. Sementara burungku lebih
jauh menjangkau ke dalam lembah nikmatnya. Akhirnya seluruh berat
badanku kuhempaskan ke tubuh mungil itu. Dan.., "Blesss...." seluruh
burungku masuk ke dalam surga dunia yang indah. Ia mengerang, gerakan
burungku pun segera kuhentikan sampai liang kewanitaannya menyesuaikan
dengan situasi yang baru.

Setelah agak lama aku pun mulai lagi memainkan gerakan-gerakanku


dengan gentle. Kini ia mulai mengikuti iramaku dengan menggerak-
gerakkan pinggulnya. Selang berapa lama kedua tangannya lekat
mencengkram punggungku, kakinya ikut menjepit kedua kakiku. Kemudian
muncul erangan panjang diikuti denyut-denyut dari lembah sorganya.
"Eeehhh..." desahnya. Aku pun sudah tidak tahan lagi untuk menumpahkan
seluruh kenikmatan, segera kucabut burungku kemudian kumuntahkan di
luar dengan menekan ke selangkangannya. "Eeehhh..." erangku juga. Kami
berdua menarik nafas panjang.

Setelah agak lama kemudian aku duduk, kuraih kaos dalamku kemudian aku
mengelap selangkangnya yang penuh dengan air kenikmatanku. Tampak
tempat tidurnya basah oleh cairan-cairan bercampur bercak-bercak merah. Ia
pun segera duduk, sejenak dari raut wajahnya tampak keraguan terhadap
situasi yang telah dialaminya. Aku dan istriku memberi keyakinan untuk
tidak menyesali apa yang pernah terjadi.

Besok paginya aku sempat bermain lagi dengannya sebelum check out.
Betul-betul suatu akhir pekan yang susah dilupakan. Akhirnya ia kutitipkan
bekerja di perusahaan temanku.

Salam kenal kepada pembaca budiman. Namaku Adi Mas Said, seorang
mahasiswa sebuah perguruang tinggi ternama di kota Medan. Keluargaku
terdiri dari ayah ibuku dan seorang adik perempuan yang bernama Fina.
Keluargaku termasuk keluarga yang cukup berada. Fina saat ini duduk di
kelas tiga SMP sebuah sekolah swasta di Medan. Dia seorang gadis yang
sangat popular di sekolahnya dan juga sekaligus merupakan wakil ketua
OSIS. Tidak heran kenapa dia bisa sepopuler itu.

Fina seorang gadis yang cantik dan manis. Tubuhnya tidak terlalu tinggi,
namun kemungilannya justru membuatnya nampak semakin manis. Dadanya
tidak terlalu besar, namun lekukannya indah. Bibirnya merah merekah dan
lesung pipitnya membuatnya semakin menggoda, ibaratnya apel merah yang
segar. Rambutnya panjang sampai ke bahu, hitam legam, indah dan harum.
Kulitnya putih dan mulus. Singkat kata, dia memang seorang gadis yang
sangat cantik dan merupakan kebanggaan orang tuaku. Selain itu dia juga
sangat pandai membawa diri di hadapan orang lain sehingga semua orang
menyukainya.

Namun di balik semua itu, sang “putri” ini sebetulnya tidaklah perfect.
Kepribadiannya yang manis ternyata hanya topeng belaka. Di dunia ini,
hanya aku, kakak laki-lakinya, yang tahu akan kepribadiannya yang
sesungguhnya. Kedua orang tuaku yang sering keluar kota untuk berbisnis
selalu menitipkan rumah dan adikku kepadaku. Tapi mereka tidak tahu kalau
aku kesulitan untuk mengendalikan adikku yang bandelnya bukan main. Di
hadapanku, dia selalu bersikap membangkang dan seenaknya. Bila aku
berkata A, maka dia akan melakukan hal yang sebaliknya. Pokoknya aku
sungguh kewalahan untuk menanganinya.
Suatu hari, semuanya berubah drastic. Hari itu adalah hari Sabtu yang tak
akan terlupakan dalam hidupku. Pada akhir minggu itu, seperti biasanya
kedua orang tuaku sedang berada di luar kota untuk urusan bisnis. Mereka
akan kembali minggu depannya. Kebetulan, aku dan adikku juga sedang
liburan panjang. Sebetulnya kami ingin ikut dengan orang tua kami keluar
kota, tapi orang tuaku melarang kami ikut dengan alasan tak ingin kami
mengganggu urusan bisnis mereka. Biarpun adikku kelihatan menurut, tapi
aku tahu kalau dia sangat kesal di hatinya. Setelah mereka pergi, aku
mencoba untuk menghiburnya dengan mengajaknya nonton DVD baru yang
kubeli yaitu Harry Potter and the Order of Pheonix. Tapi kebaikanku dibalas
dengan air tuba. Bukan saja dia tidak menerima kebaikanku, bahkan dia
membanting pintu kamarnya di depan hidungku.

Inilah penghinaan terakhir yang bisa kuterima. Akupun menonton DVD


sendirian di ruang tamu. Tapi pikiranku tidaklah focus ke film, melainkan
bagaimana caranya membalas perbuatan adikku. Di rumah memang cuma
ada kami berdua. Orang tua kami berpendapat bahwa kami tidak
memerlukan pembantu dengan alasan untuk melatih tanggung jawab di
keluarga kami. Selintas pikiran ngawur pun melintas di benakku. Aku
bermaksud untuk menyelinap ke kamar adikku nanti malam dan memfoto
tubuh telanjangnya waktu tidur dan menggunakannya untuk memaksa
adikku agar menjadi adik yang penurut.

Malam itu, jam menunjukan pukul sebelas malam. Aku pun mengedap di
depan pintu kamar adikku. Daun telingaku menempel di pintu untuk
memastikan apa adikku sudah tertidur. Ternyata tidak ada suara TV ataupun
radio di kamarnya. Memang biasanya adikku ini kalau hatinya sedang
mengkal, akan segera pergi tidur lebih awal. Akupun menggunakan
keahlianku sebagai mahasiswa jurusan teknik untuk membuka kunci pintu
kamar adikku. Kebetulan aku memang mempunyai kit untuk itu yang kubeli
waktu sedang tour ke luar negeri. Di tanganku aku mempunyai sebuah
kamera digital.

Di kamar adikku, lampu masih terang karena dia memang tidak berani tidur
dalam kegelapan. Akupun berjalan perlahan menuju tempat tidurnya.
Ternyata malam itu dia tidur pulas terlentang dengan mengenakan daster
putih. Tanganku bergerak perlahan dan gemetar menyingkap dasternya ke
atas. Dia diam saja tidak bergerak dan napasnya masih halus dan teratur.
Ternyata dia memakai celana dalam warna putih dan bergambar bunga
mawar. Pahanya begitu mulus dan aku pun bisa melihat ada bulu-bulu halus
menyembul keluar di sekitar daerah vaginanya yang tertutup celana
dalamnya.

Kemudian aku menggunakan gunting dan menggunting dasternya sehingga


akhirnya bagian payudaranya terlihat. Di luar dugaanku, ternyata dia tidak
mengenakan kutang. Payudaranya tidak begitu besar, mungkin ukuran A,
tapi lekukannya sungguh indah dan menantang. Jakunku bergerak naik turun
dan akupun menelan ludah melihat pemandangan paling indah dalam
hidupku. Kemudian dengan gemetar dan hati-hati, aku pun membuka celana
dalamnya. Adikku masih tertidur pulas.

Pemandangan indah segera terpampang di hadapanku. Sebuah hutan kecil


yang tidak begitu lebat terhampar di depan mataku. Sangking terpesonanya,
aku hanya bisa berdiri untuk sekian lamanya memandang dengan kamera di
tanganku. Aku lupa akan maksud kedatanganku kemari. Sebuah pikiran
setanpun melintas, kenapa aku harus puas hanya dengan memotret tubuh
adikku. Apakah aku harus mensia-siakan kesempatan satu kali ini dalam
hidupku? Apalagi aku masih perjaka ting-ting. Tapi kesadaran lain juga
muncul di benakku, dia adalah adik kandungku., For God Sake. Kedua
kekuatan kebajikan dan kejahatan berkecamuk di pikiranku.

Akhirnya, karena pikiranku tidak bisa memutuskan, maka aku membiarkan


“adik laki-lakiku” di selangkangku memutuskan. Ternyata beliau sudah
tegang siap perang. Manusia boleh berencana, tapi iblislah yang
menentukan. Kemudian aku meletakan kamera di meja. Aku pun
menggunakan kain daster yang sudah koyak untuk mengikat tangan adikku
ke tempat tidur. Sengaja aku membiarkan kakinya bebas agar tidak
menghalangi permainan setan yang akan segera kulakukan. Adikku masih
juga tidak sadar kalau bahaya besar sudah mengancamnya. Aku pun segera
membuka bajuku dan celanaku hingga telanjang bulat.

Kemudian aku menundukan mukaku ke daerah selangkangan adikku.


Ternyata daerah itu sangat harum, kelihatan kalau adikku ini sangat menjaga
kebersihan tubuhnya. Kemudian aku pun mulai menjilati daerah lipatan dan
klitoris adikku. Adikku masih tertidur pulas, tapi setelah beberapa lama,
napasnya sudah mulai memburu. Semakin lama, vagina adikku semakin
basah dan merekah. Aku sudah tak tahan lagi dan mengarahkan moncong
meriamku ke lubang kenikmatan terlarang itu. Kedua tanganku memegang
pergelangan kaki adikku dan membukanya lebar-lebar.
Ujung kepala penisku sudah menempel di bibir vagina adikku. Sejenak, aku
ragu-ragu untuk melakukannya. Tapi aku segera menggelengkan kepalaku
dan membuang jauh keraguanku. Dengan sebuah sentakan aku mendorong
pantatku maju ke depan dan penisku menembus masuk vagina yang masih
sangat rapat namun basah itu. Sebuah teriakan nyaring bergema di kamar,”
Aaaggh, aduh….uuuhh, KAK ADI, APA YANG KAULAKUKAN??”
Adikku terbangun dan menjerit melihatku berada di atas tubuhnya dan
menindihnya. Muka adikku pucat pasi ketakutan dan menahan rasa sakit
yang luar biasa. Matanya mulai berkaca-kaca. Sedangkan pinggulnya
bergerak-gerak menahan rasa sakit. Tangannya berguncang mencoba
melepaskan diri. Begitu juga kakinya mencoba melepaskan diri dari
pegangannku. Namun semua upaya itu tidak berhasil. Aku tidak berani
berlama-lama menatap matanya, khawatir kalau aku akan berubah pikiran.
Aku mengalihkan pandangan mataku ke arah selangkangan. Ternyata vagina
adikku mengeluarkan darah, darah keperawanan.

Aku tidak menghiraukan semua itu karena sebuah kenikmatan yang belum
pernah kurasakan dalam hidupku menyerangku. Penisku yang bercokol di
dalam vagina adikku merasakan rasa panas dan kontraksi otot vagina adikku.
Rasanya seperti disedot oleh sebuah vakum cleaner. Aku pun segera
menggerakan pinggulku dan memompa tubuh adikku. Adikku menangis dan
menjerit:” Aduhh..aahh..uuhh..am..pun..ka k…lep..as..kan..pana ss…
sakitt!!” “Kak..Adii..mengo..uuhh..yak.. aduh…tubuhku!!! ” Aku tidak
tahan dengan rengekan adikku, karena itu aku segera menggunakan celana
dalam adikku untuk menyumpal mulutnya sehingga yang terdengar hanya
suara Ughh..Ahhh.

Setelah sekitar lima belas menit, adikku tidak meronta lagi hanya menangis
dan mengeluh kesakitan. Darah masih berkucuran di sekitar vaginanya tapi
tidak sederas tadi lagi. Aku sendiri memeramkan mata merasakan
kenikmatan yang luar biasa. Aku semakin cepat menggerakan pinggulku
karena aku merasa akan segera mencapai klimaksnya. Sesekali tanganku
menampar pantat adikku agar dia menggoyangkan pinggulnya sambil
berkata:’ Who is your Daddy?” Sebuah dilema muncul di pikiranku.
Haruskah aku menembak di dalam rahim adikku atau di luar? Aku tahu
kalau aku ingin melakukannya di dalam, tapi bagaimana bila adikku hamil?
Ahh… biarlah itu urusan nanti, apalagi aku tahu di mana ibuku menyimpan
pil KBnya. Tiga menit kemudian..crott..crottt..akupu n menembakan cairan
hangat di dalam rahim adikku. Keringat membasahi kedua tubuh kami dan
darah keperawanan adikku membasahi selangkangan kami dan sprei tempat
tidur.

Aku membiarkan penisku di dalam vagina adikku selama beberapa menit.


Kemudian setelah puas, aku mencabut keluar penisku dan tidur terlentang di
samping adikku. Aku kemudian membebaskan tangan adikku dan membuka
sumpalan mulutnya. Kedua tanganku bersiap untuk menerima amukan
kemarahannya. Namun di luar dugaanku, dia tidak menyerangku. Adikku
hanya diam membisu seribu bahasa dan masih menangis. Posisinya masih
tidur dan hanya punggungnya yang mengadapku. Aku melihat tangannya
menutup dadanya dan tangan lainnya menutup vaginanya. Dia masih
menangis tersedu-sedu.

Setelah semua kepuasanku tersalurkan, baru sekarang aku bingung apa yang
harus kulakukan selanjutnya. Semua kejadian ini di luar rencanaku. Aku
sekarang sangat ketakutan membayangkan bagaimana kalau orang tuaku
tahu. Hidupku bisa berakhir di penjara. Kemudian pandangan mataku
berhenti di kamera. Sebuah ide jenius muncul di pikiranku. Aku mengambil
kameranya dan segera memfoto tubuh telanjang adikku. Adikku melihat
perbuatanku dan bertanya: ”Kak Adi, Apa yang kau lakukan? Hentikan,
masih belum cukupkah perbuatan setanmu malam ini? Hentikan…”
Tangannya bergerak berusaha merebut kameraku. Namun aku sudah
memperkirakan ini dan lebih sigap. Karena tenagaku lebih besar, aku berhasi
menjauhkan kameranya dari jangkauannya. Aku mencabut keluar memori
card dari kameranya dan berkata: “Kalau kamu tidak mau foto ini tersebar di
website sekolahmu, kejadian malam ini harus dirahasiakan dari semua
orang. Kamu juga harus menuruti perintah kakakmu ini mulai sekarang.”

Wajah adikku pucat pasi, dan air mata masih berlinang di pipinya.
Kemudian dengan lemah dia mengganggukkan kepalanya. Sebuah perasaan
ibaratnya telah memenangi piala dunia, bersemayam di dadaku. Aku tahu,
kalau mulai malam itu aku telah menaklukan adikku yang bandel ini.
Kemudian aku memerintahkan dia untuk membereskan ruangan kamarnya
dan menyingkirkan sprei bernoda darah dan potongan dasternya yang koyak.
Selain itu aku segera menyuruhnya meminum pil KB yang kudapat dari
lemari obat ibuku. Terakhir aku menyuruhnya mandi membersihkan badan,
tentu saja bersamaku. Aku menyuruhnya untuk menggunakan jari-jari
lentiknya untuk membersihkan penisku dengan lembut.
Malam itu, aku telah memenangkan pertempuran. Selama seminggu
kepergian orang tuaku, aku selalu meniduri adikku di setiap kesempatan
yang ada. Pada hari keempat, adikku sudah terbiasa dan tidak lagi
menolakku biarpun dia masih kelihatan sedih dan tertekan setiap kali kita
bercinta. Aku juga memerintahkannya untuk membersihkan rumah dan
memasakan makanan kesukaanku. Aku juga memberi tugas baru untuk
mulut mungil adikku dengan bibirnya yang merah merekah. Setiap malam
selama seminggu ketika aku menonton TV, aku menyuruh adikku untuk
memberi oral seks. Dan aku selalu menyemprotkan spermaku ke dalam
mulutnya dan menyuruhnya untuk menelannya.

Ketika orang tuaku kembali minggu depannya, aku memerintahkan adikku


untuk bersikap sewajarnya menyambut mereka. Ketika ibuku memeluk
adikku, aku melihat wajah adikku yang seperti ingin melaporkan peristiwa
yang terjadi selama seminggu ini. Aku pun bertindak cepat dan berkata pada
ibuku: “Ibu, gimana perjalanan ibu? Tunjukan dong FOTOnya kepada kami
berdua.” Ibuku tersenyum mendengar ini dan tidak mencurigai apa pun. Tapi
adikku menjadi sedikit pucat dan tahu makna dari perkataanku. Dia pun
tidak jadi berkata apa-apa.

Sejak itu, setiap kali ada kesempatan, aku selalu meniduri adikku. Tentu saja
kami mempraktekan safe sex dengan kondom dan pil. Setelah dia lulus
SMA, kami masih melakukannya, bahkan sekarang dia sudah menikmati
permainan kami. Terkadang, dia sendiri yang datang memintanya. Ketika
dia lulus SMA, aku yang sekarang sudah bekerja di sebuah bank bonafid
dipindahkan ke Jakarta. Aku meminta orang tuaku untuk mengijinkan
adikku kuliah di Jakarta. Tentu saja aku beralasan bahwa aku akan
menjaganya agar adikku tidak terseret dalam pergaulan bebas. Orang tuaku
setuju dan adikku juga pasrah. Sekarang kami berdua tinggal di Jakarta dan
menikmati kebebasan kami. Hal yang berbeda hanyalah aku bisa melihat
bahwa adikku telah berubah menjadi gadis yang lebih binal.

Cerita Baru
o Ngentot dengan Teman Suamiku
o Ngentot Ayu BabySitter Tetanggaku
o Digarap dua lelaki
o Tante Ken Aduhai Seksi
o Kisah Cinta Terlarang
Kategori
o Cerita Dewasa
o Cerita Dewasa Melayu
o Cerita Panas
o Daun Muda
o Pemerkosaan
o Pesta Seks
o Sedarah
o Sesama Jenis
o Setengah Baya
o Tante Girang
o Tukar Pasangan
o Umum
Situs Hot
o Situs Bugil

o
Arsip Cerita
o July 2009
o June 2009
o May 2009
o April 2009
o March 2009
o February 2009
o January 2009
o December 2008
o November 2008
o October 2008
o September 2008
o August 2008
o July 2008
o June 2008
o December 2007
o November 2007

Cerita Dewasa

Selamat Datang Di Situs Cerita Dewasa .Topik dan Kontent yang ada
di situs ini murni didapat dari search engine,forum,dan maupun
kontent internet lainnya.Bagi yang belum cukup umur ,silahkan untuk
menutup halaman ini!!!!