Anda di halaman 1dari 36

MAKALAH KEPERAWATAN ANAK II

"Laporan Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan Pada Pasien


SLE(Systemic Lupus Erythematosus)"

OLEH :
KELOMPOK 6
(KELAS B11-A)

NI PUTU SRI APRIANTINI (183222945)


NI PUTU YUVI GITAYANI (183222946)
NI WAYAN CINTIA DEVI UTAMI (183222947)
NI WAYAN NIA ARDITYA SARI (183222948)
NI WAYAN SUMARNI (183222949)
NI WAYAN WAHYU ESTY UDAYANI (183222950)
PUTU RIAS ADREANI (183222951)
NI PUTU SRI UTAMI DEVI (183222952)

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN


STIKES WIRA MEDIKA PPNI BALI
201
KATA PENGANTAR

“Om Swastyastu”

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada kami sehingga kami mampu menyelesaikan
makalah ini yang berjudul “Laporan Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan Pada Pasien
SLE”. Adapun pembuatan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah
Keperawatan Anak II.
Dalam menyelesaikan penulisan makalah ini, kami mendapat banyak bantuan dari
berbagai pihak dan sumber.Oleh karena itu kami sangat menghargai bantuan dari semua
pihak yang telah member kami bantuan dukungan kjuga semangat, buku dan sumber
lainnya sehingga tugas ini dapat terselesaikan.Oleh karena itu melalui media ini
kelompok menyampaikan ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu
pembuatan makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari
kesempurnaan karena keterbatasan kemampuan dan ilmu pengetahuan yang kelompok
miliki.Oleh karena itu kelompok mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna
untuk menyempurnakan makalah ini.

“Om Santih, Santih, Santih Om”

Denpasar, 23 September 2018


Kelompok

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................ ii


DAFTAR ISI ...................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ...............................................................................................1
B. Rumusan Masalah ..........................................................................................2
C. Tujuan.............................................................................................................2
D. Manfaat ...........................................................................................................2
BAB IIPEMBAHASAN
A. Laporan Pendahuluan .....................................................................................3
1. Pengertian SLE ..........................................................................................3
2. Epidemiologi ............................................................................................. 3
3. Etiologi ...................................................................................................... 4
4. Pathway ..................................................................................................... 8
5. Klasifikasi ................................................................................................. 9
6. Manifestasi Klinis ...................................................................................... 10
7. Pemeriksaan Fisik ...................................................................................... 11
8. Pemeriksaan Penunjang/diagnostik ........................................................... 11
B. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan ..............................................................16
BAB IIIPENUTUP
A. Kesimpulan .....................................................................................................23
B. Saran ...............................................................................................................23
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................... 24

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penyakit Systemic Lupus Erithematosus (SLE) merupakan penyakit yang
menyebabkan peradangan atau inflamasi multisistem yang disebabkan banyak faktor
dan dikarakterisasi oleh adanya gangguan disregulasi sistem imun berupa peningkatan
sistem imun dan produksi autoantibody yang berlebihan. Lupus hingga saat ini
menyerang paling sedikit sekitar 5 juta orang di dunia. Di Amerika hingga saat ini
tercatat 1,5 juta orang menderita penyakit lupus (Lupus Foundation of America,
2015).
Penyakit autoimun merupakan penyakit yang timbul akibat patahnya toleransi
kekebalan diri. Lupus merupakan salah satu penyakit autoimun. Faktor-faktor yang
bersifat predisposisi dan ikut berkontribusi menimbulkan penyakit autoimun antara
lain, faktor genetik, kelamin (gender), infeksi, sifat autoantigen, obat-obatan, serta
faktor umur. Menurut Judha, dkk (2015), faktor yang meningkatkan risiko penyakit
lupus yakni jenis kelamin, wanita usia produktif lebih berisiko terkena penyakit ini.

Lupus paling umum terdiagnosis pada mereka yang berusia diantara 15-40
tahun. Ras Afrika, Hispanics dan Asia lebih berisiko terkena lupus. Paparan sinar
matahari juga menjadi faktor risiko lupus. Penyakit auotoimun inimelibatkan berbagai
organ dengan manifestasi klinis yang bervariasi dari yang ringan sampai berat dimana
tubuh pasien lupus membentuk antibodi yang salah arah, merusak organ tubuh sendiri,
seperti ginjal, hati, sendi, sel darah merah, leukosit, atau trombosit
Penyakit ini dapat terjadi pada semua orang tanpa membedakan usia dan jenis
kelamin. Prevalensi SLE berbeda-beda untuk tiap etnis yaitu etnis Afrika-Amerika
mempunyai prevalensi Sekitar 5% anak yang lahir dari individu yang terkena lupus,
akan menderita penyakit lupus, apabila kembar identik maka salah satu dari bayi
kembar tersebut akan menderita lupus. Sebesar 10% penderita lupus, mengalami
kelainan pada lebih dari satu jaringan tubuh. Kelainan jaringan tersebut dikenal
dengan istilah “overlap syndrom” atau “mixed connective tissue disease” (Lupus
Foundation of America, 2015).

1
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimana membuat asuhan keperawatan anak yang mengalami SLE (Systemic
Lupus Erithematosus).

1.3 Tujuan Tulisan


Untuk mengetahui bagaimana gambaran simulasi asuhan keperawatan anak yang
mengalami SLE (Systemic Lupus Erithematosus)

1.4 Manfaat Tulisan


1.4.1 Manfaat Teoritis
Hasil dari penyusunan makalah ini diharapkan dapat memberikan
manfaat kepada semua pihak, khususnya kepada mahasiswauntuk menambah
pengetahuan dan wawasan mengenai asuhan keperawatan pada anak yang
mengalami SLE (Systemic Lupus Erithematosus).
1.4.2 Manfaat Praktis
Hasil dari penyusunan makalah ini diharapkan dapat dijadikan sebagai
suatu pembelajaran bagi mahasiswa yang nantinya ilmu tersebut dapat
dipahami dan diaplikasikan dalam praktik keperawatan.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Laporan Pendahuluan (Konsep DasarPenyakit)


1. Definisi
Lupus eritematosus sistemik (SLE) adalah radang kronis yang disebabkan oleh
penyakit autoimun (kekebalan tubuh) di mana sistem pertahanan tubuh yang tidak
normal melawan jaringan tubuh sendiri. Antara jaringan tubuh dan organ yang
dapat terkena adalah seperti kulit, jantung, paru-paru, ginjal, sendi, dan sistem
saraf.
Lupus eritematosus sistemik (SLE) merupakan suatu penyakit atuoimun yang
kronik dan menyerang berbagai system dalam tubuh. ( Silvia& Lorraine, 2006 )
Systemic lupus erythematosus (SLE) adalah penyakit radang yang menyerang
banyak sistem dalam tubuh, dengan perjalanan penyakit bisa akut atau kronis, dan
disertai adanya antibodi yang menyerang tubuhnya sendiri. Systemic lupus
erythematosus (SLE) adalah suatu penyakit autoimun multisystem dengan
manifestasi dan sifat yang sangat berubah – ubah, penuakit ini terutama
menyerang kulitr, ginjal, membrane serosa, sendi, dan jantung.(Robins, 2007)

2. Epidemiologi
Penyakit lupus atau systemic lupus erythematosus (SLE) prevalensinya dalam
populasi tertentu kira – kira satu kasus per 2500 orang, penyakit ini cenderung
terjadi pada perempuan (kira – kira 9:1), yang menyerang satu diantara 700
perempuan usia subur. systemic lupus erythematosus (SLE) lebih sering
ditemukan pada ras tertentu seperti ras kulit hitam, Cina, dan Filipina. Penyakit ini
terutama diderita oleh wanita muda dengan puncak kejadian pada usia 15-40 tahun
(selama masa reproduktif) dengan perbandingan wanita dan laki-laki 5:1)
Di Indonesia, data unutk kasus SLE masih belum ada yang mencakup semua
wilayah Indonesia. Data tahun 2002, berdasarkan data pasien yang datang ke
poliklinik Reumatologi Penyakit Dalam di RSUP Cipto Mangunkosumo Jakarta,
terdapat 1,4% kasusu dari total seluruh kunjungan pasien. Sedangkan unutuk RS
Hasan Sadikin Bandung, terdapat 10,5% (291pasien) dari total pasien yang
berkunjung ke poliklinik reumatologi pada tahun2010.

3
3. Etiologi dan faktor Pencetus
Etiologi penyakit ini belum diketahui secara pasti, tetapi didugaterdapat
beberapafaktorpredisposisiyangberperanterhadapterjadinyaSLE,yangantara lain
terdiri dari faktor endogen dan faktoreksogen (Fandika, 2016).
a. Beberapa literatur menyatakan adanya faktor – faktor endogen sebagai
predisposisi terjadinya SLE, diantaranya adalah :

- Faktor genetik
Faktor genetik memegang peranan pada banyak penderita lupus dengan resiko
yang meningkat pada saudara kandung dan kembar monozigot. Penelitian
terakhir menunjukkan bahwa banyak gen yang berperan terutama gen yang
mengkode unsur-unsur sistem imun. Diduga berhubungan dengan gen respons
imun spesifik pada kompleks histokompabilitas mayor kelas II, yaitu HLA-
DR2 dan HLA-DR3 serta dengan komponen komplemen yang berperan dalam
fase awal reaksi ikat komplemen (yaitu C1q, C1r, C1s, C4, dan C2) telah
terbukti. Gen-gen lain yang mulai ikut berperan adalah gen yang mengkode
reseptor sel T, imunoglobulin dan sitokin.1 Studi lain mengenai faktor genetik
ini yaitu studi yang berhubungan dengan HLA (Human Leucocyte Antigens)
yang mendukung konsep bahwa gen MHC (Major Histocompatibility
Complex) mengatur produksi autoantibodi spesifik. Penderita lupus (kira-kira
6%) mewarisi defisiensi komponen komplemen, seperti C2,C4, atau C1q.
Kekurangan komplemen dapat merusak pelepasan sirkulasi kompleks imun
oleh sistem fagositosit mononuklear sehingga membantu terjadinya deposisi
jaringan. Defisiensi C1q menyebabkan sel fagosit gagal membersihkan sel
apoptosis sehingga komponen nuklear akan menimbulkan respon imun.
Faktor genetik meningkatkan adanya penemuan autoimun dibandingkan
dengan populasi lain.18 Kecenderungan meningkatnya SLE yang terjadi
pada anak kembar identik menggambarkan adanya kemungkinan faktor
genetik yang berperan dalam penyakit ini. Gen-gen yang memiliki resiko
tinggi terjadinya SLE terutama Human Leukocyte Antigen-DR2 (HLA-
DR2) yang menunjukan sel-sel yang mampu memberikan antigen zat asing
ke sel darah putih, HLA-DR3 yang mengurus gen struktural yang
memproduksi berbagai jenis unsur penting pada darah dan jaringan sel
lupus, dan biasa terdapat linkage SLE pada kromosom 1.

4
- Faktor Hormonal
Mayoritas penyakit ini menyerang wanita muda dan beberapa penelitian
menunjukkan terdapat hubungan timbal balik antara kadar hormon estrogen
dengan sistem imun. Estrogen mengaktifasi sel B poliklonal sehingga
mengakibatkan produksi autoantibodi berlebihan pada pasien
LES.Autoantibodi pada lupus kemudian dibentuk untuk menjadi antigen
nuklear (ANA dan anti-DNA).Selain itu, terdapat antibodi terhadap struktur
sel lainnya seperti eritrosit, trombosit dan fosfolipid.Autoantibodi terlibat
dalam pembentukan kompleks imun, yang diikuti oleh aktifasi komplemen
yang mempengaruhi respon inflamasi pada banyak jaringan, termasuk kulit
dan ginjal.

- Antibodi dan KompleksImun


Autoantibodi adalah penanda lupus yang sering kali mengahasilkan sesuatu yang
tidak memiliki kepentingan klinis maupun patologis dan menyerang sel tubuh
dan jaringannya sendiri. Autoantibodi yang berperan dalam lupus dapat
digolongan menjadi empat yaitu antibodi yang terbentuk
padanucleus,sepertiANA,Anti-DNA,danAnti-sm.,antibodiyangterbentuk
padasitoplasmaseperti,antibodipadasel-selyangberbedajenisdanantibodi yang
terbentuk pada antigen. Biasanya untuk dapat mengetahui antibodi ini
dilakukantesdarah

- Faktorlingkungan
Faktor lingkungan dapat menjadi pemicu pada penderita lupus, seperti radiasi
ultra violet, tembakau, obat-obatan, virus.Sinar UV mengarah pada
selfimmunity dan hilangnya toleransi karena menyebabkan apoptosis
keratinosit.Selain itu sinar UV menyebabkan pelepasan mediator imun pada
penderita lupus, dan memegang peranan dalam fase induksi yanng secara
langsung mengubah sel DNA, serta mempengaruhi sel imunoregulator yang
bila normal membantu menekan terjadinya kelainan pada inflamasi
kulit.Faktor lingkungan lainnya yaitu kebiasaan merokok yang menunjukkan
bahwa perokok memiliki resiko tinggi terkena lupus, berhubungan dengan zat
yang terkandung dalam tembakau yaitu amino lipogenik aromatik.Pengaruh
obat juga memberikan gambaran bervariasi pada penderita lupus.Pengaruh
obat salah satunya yaitu dapat meningkatkan apoptosis keratinosit.Faktor
lingkungan lainnya yaitu peranan agen infeksius terutama virus dapat
5
ditemukan pada penderita lupus.Virus rubella, sitomegalovirus, dapat
mempengaruhi ekspresi sel permukaan dan apoptosis.
- Faktor Stress
Stress yang berlebihan meruakan pemicu aktifnya lupus. Odapus akan
merasa dalam lingkaran, karena ia sakit karena stress dan lupus
merupakan
penyakitkronikyangmenyebabkanseseorangakanlebihrentanuntukmerasa
rendah diri, terbatas aktifitasnnya, dan jauh dari pergaulan. Hal ini dapat
bisa membuat Odapus stress dan membuat daya tahan tubuh menurun
sehingga
menimbulkaninfeksi.DemamakanmemperparahLupuskarenaseorangyang
membawa “gen” lupus bisa memicu proses melalui virus dan bakteri yang
berkembang karena daya tahan tubuhmenurun.

b. Beberapa literatur menyatakan adanya faktor – faktor eksogen sebagai


predisposisi terjadinya SLE, diantaranya adalah :

- Kontak dengan sinarmatahari


Paparan sinar matahari langsung, merupakan salah satu faktor yang
memperburuk kondisi gejala SLE.Diperkirakan sinar matahari dapat
memancarkan sinar ultraviolet yang dapat merangsang peningkatan
hormon estrogen yang cukup banyak sehingga mempermudah terjadinya
reaksi autoimun dan juga dapat mengubah struktur dari DNA sehingga
memicu terciptanya autoantibodi.Sinar ultraviolet menyebabkan sel-sel
kulit melepaskan substansi (sitokin, prostaglandin) yang memicu
inflamasi.Kemudiandiserapkedalamalirandarahdanterbawakebagiantubuhla
innya.AkibatnyatimbulinflamasipadaberbagaiorgantubuhyangterserangSL
E.
- Makanan danMinuman
Makanan dan minuman dalam kemasan, terutama minuman berjenis
isotonik yang mengandung zat pengawet, seperti Natrium Benzoate, dan
Kalium Sorbet serta yang mengandung kafein menyebabkan gejala
SLE.Sedangkan makanan yang dapat memicu lupus bagi Odapus sendiri
adalah yang mengandung L-canavanine dan biasa terdapat pada jenis
polong- polongan, selain itu juga makanan yang mengandung pemanis
6
buatan (Aspartam), serta sayuran yang mengandung belerang,
misalnya kubis,dll

7
- Infeksivirus/bakteri
Partikel Ribonucleat Acid (RNA) virus telah ditemukan pada jaringan ikat
Odapus yang membuat reaksi respon imun abnormal. Virus-virus yang
terlibat dalam penyebab SLE diantaranya myxoviruz, reovirus, measle,
parainfluenza, mump, Epstein-Barr, dan onco atau retroviruz jenis C. Hal ini
bisa diketahui dari adanya partikel-partikel virus dalam jaringan lupus, dan
dari beberapa catatatan yang menunjukan bahwa mikroba bisa menyerupai
zat-zat asing atau antigen yang menyebabkan autoimun.

- Obat golongansulva
Obat-obatan dari jenis klorpromazin, metilpoda, isoniazid, dilantin,
penisilamin,kuinidine,hydralazine(obathipertensi)danprocainamide(untu
k mengobati detak jantung yang tidak teratur), jika terus dikonsumsi
akan membentuk antibodi penyebablupus.
Sedangkanuntukpengobatanyangdilakukandalamkedokterangigiyang
dianggap berbahaya dan dianggap sebagai pencetus penyakit lupus
adalah tambalanamalgam,yangdisebabkanolehkandunganmerkurinya.

4. Patogenesis
Penyakit SLE terjadi akibat terganggunya regulasi kekebalan yang
menyebabkan peningkatan autoantibodi yang berlebihan. Gangguan imunoregulasi ini
ditimbulkan oleh kombinasi antara faktor-faktor genetik, hormonal ( sebagaimana
terbukti oleh awitan penyakit yang biasanya terjadi selama usia reproduktif) dan
lingkungan (cahaya matahari, luka bakar termal). Obat-obat tertentu seperti
hidralazin, prokainamid, isoniazid, klorpromazin dan beberapa preparat antikonvulsan
di samping makanan seperti kecambah alfalfa turut terlibat dalam penyakit SLE-
akibat senyawa kimia atau obat-obatan.
Pada SLE, peningkatan produksi autoantibodi diperkirakan terjadi akibat
fungsi sel T-supresor yang abnormal sehingga timbul penumpukan kompleks imun
dan kerusakan jaringan. Inflamasi akan menstimulasi antigen yang selanjutnya
serangsang antibodi tambahan dan siklus tersebut berulang kembali.Alfalfa juga dapat
menyebabkan lupus, pemicu aktif muncul menjadi L-canvanine. Peran, jika ada, dari
virus dan bakteri dalam memicu lupus tetap jelas meskipun perlu penelitian yang
cukup besar. Tidak ada bukti yang meyakinkan bahwa infeksi tertentu adalah penting
8
dalam menyebabkan lupus. Menariknya, ada peningkatan penyakit rematik pada
orang dengan infeksi HIV, dan penyakit autoimun termasuk lupus tampaknya menjadi
lebih umum ketika ada restorasi kompetensi kekebalan dengan penggunaan obat anti
retro virus yang sangat aktif (Malleson, Pete; Tekano, Jenny. 2007).

PATHWAY

Faktor penyebab (genetik, lingkungan,hormonal)

Limfosit T tidak berfungsi (abnormal)

Pembentukan Antibodi terhadap tubuh sendiri (inti sel)

Penumpukan kompleks imun di seluruh organ

Clinical manifestation

Muskuloskletal Mukokutan Ginjal Paru Oral

Nyeri sendi eritema, PK Nefritis PK Efusi ulkus palatum,


sikatriks, gagal ginjal Pleura lesi di mulut
lesi diskoid
anoreksia
Intoleransi Gangguan
Nyeri Gangguan
Aktivitas Citra Integritas Kulit Ketidakseimbangan
Akut
(D.0077) (D.0056) Tubuh (D.0129) nutrisi kurang dari
( D.0083)
kebutuhan

9
5. Klasifikasi
Ada tiga jenis type lupus yaitu sebagai berikut :
a. CutaneousLupus
Tipe ini juga dikenal sebagai Discoid Lupus Tipe lupus ini hanya terbatas pada
kulit dan ditampilkan dalam bentuk ruam yang muncul pada muka, leher, atau
kulit kepala. Ruam ini dapat menjadi lebih jelas terlihat pada daerah kulit yang
terkena sinar ultraviolet (seperti sinar matahari, sinar fluorescent). Meski terdapat
beberapa macam tipe ruam pada lupus, tetapi yang umum terdapat adalah ruam
yang timbul, bersisik dan merah, tetapi tidakgatal.
b. DiscoidLupus
Tipe lupus ini dapatmenyebabkan inflamasi pada beberapa macam organ. Untuk
beberapa orang mungkin saja hal ini hanya terbatas pada gangguan kulit dan
sendi. Tetapi pada orang yang lain, sendi, paru-paru, ginjal, darah ataupun organ
dan/atau jaringan lain yang mungkin terkena. SLE pada sebagian orang dapat
memasuki masa dimana gejalanya tidak muncul (remisi) dan pada saat yang lain
penyakit ini dapat menjadi aktif(flare).
c. Drug-inducedlupus
Tipe lupus ini sangat jarang menyerang ginjal atau sistem syaraf. Obat yang
umumnya dapat menyebabkan druginduced lupus adalah jenis hidralazin (untuk
penanganan tekanan darah tinggi) dan pro-kainamid (untuk penanganan detak
jantung yang tidak teratur/tidak normal). Tidak semua orang yang memakan obat
ini akan terkena drug-induced lupus. Hanya 4 persen dari orang yang
mengkonsumsi obat itu yang bakal membentuk antibodi penyebab lupus. Dari 4
persen itu, sedikit sekali yang kemudian menderita lupus. Bila pengobatan
dihentikan, maka gejala lupus ini biasanya akan hilang dengan sendirinya. Dari
ketiganya, Discoid Lupus paling sering menyerang. Namun, Systemic Lupus
selalu lebih berat dibandingkan dengan Discoid Lupus, dan dapat menyerang
organ atau sistem tubuh. Pada beberapa orang, cuma kulit dan persendian yang
diserang. Meski begitu, pada orang lain bisa merusak persendian, paru-paru,
ginjal,darah, organ atau jaringanlain.

10
6. Gejalaklinis
Gejala klinis yang mungkin muncul pada pasein SLE yaitu:
a. Wanita muda dengan keterlibatan dua organ ataulebih.
b. Gejala konstitusional: kelelahan, demam (tanpa bukti infeksi) dan penurunan berat
badan
c. Muskuloskeletal: artritis, artralgia,myositis
d. Kulit: ruam kupu-kupu (butter• ly atau malar rash), fotosensitivitas, lesi
membrane mukosa, alopesia, fenomena Raynaud, purpura, urtikaria,vaskulitis.
e. Ginjal: hematuria, proteinuria, silinderuria, sindromanefrotik
f. Gastrointestinal: mual, muntah, nyeriabdomen
g. Paru-paru: pleurisy, hipertensi pulmonal,lesi parenkhimparu.
h. Jantung: perikarditis, endokarditis,miokarditis
i. Retikulo-endotel: organomegali (limfadenopati, splenomegali,hepatomegali)
j. Hematologi: anemia, leukopenia, dantrombositopenia
k. Neuropsikiatri: psikosis, kejang, sindroma otak organik, mielitis transversus,
gangguan kognitif neuropati kranial danperifer.
Kecurigaan terhadap adanya SLE jika terdapat dua atau lebih tanda gejala diatas.

11
7. PemeriksaanFisik
 Inspeksi : inspeksi kulit dilakukan untuk menemukan ruam eritematous. Plak
eritematous pada kulit dengan skuama yang melekat dapat terlihat pada kulit
kepala, muka atau leher. Inspeksi kulit kepala dilakukan untuk menemukan gejala
alopesia, dan inspeksi mulut serta tenggorok untuk ulserasi yang mencerminkan
gangguan gastrointestinal. Selain itu juga untuk melihat pembengkakansendi.
 Auskultasi : dilakukan pada kardiovaskuler untuk mendengar friction rub
perikardium yang dapat menyertai miokarditis dan efusi pleura. Efusi pleura serta
infiltrasi mencerminkan insufisiensi respiratorius dan diperlihatkan oleh suara paru
yangabnormal.
 Palpasi : dilakukan palpasi untuk mengetahui adanya nyeri tekan, dan sendi yang
terasahangat.

8. PemeriksaanDiagnostik
 Pemeriksaan lab:
a. Pemeriksaandarah
Pemeriksaan darah bisa menunjukkan adanya antibodi antinuklear, yang terdapat
pada hampir semua penderita lupus. Tetapi antibodi ini juga bisa ditemukan pada
penyakit lain. Karena itu jika menemukan antibodi antinuklear, harus dilakukan
juga pemeriksaan untuk antibodi terhadap DNA rantai ganda. Kadar yang tinggi
dari kedua antibodi ini hampir spesifik untuk lupus, tapi tidak semua penderita
lupus memiliki antibodi ini. Pemeriksaan darah untuk mengukur kadar komplemen
(protein yang berperan dalam sistem kekebalan) dan untuk menemukan antibodi
lainnya, mungkin perlu dilakukan untuk memperkirakan aktivitas dan lamanya
penyakit.

12
b. Analisa air kemih menunjukkan adanya darah atauprotein.
 Radiology :
- Rontgen dada menunjukkan pleuritis atau perikarditis.

8. Diagnosis/kriteriadiagnosis
Berdasarkan kriteria American College of Rheumatology (ACR) 1982, diagnosis SLE
dapat ditegakkan secara pasti jika dijumpai empat kriteria atau lebih dari 11 kriteria,
yaitu:
Kriteria Batasan
Ruam malar Eritema yang menetap, rata atau menonjol, pada daerah
malar dan cenderung tidak melibatkan lipat nasilabial
Ruam discoid Plak eritema menonjol dengan kerato• k dan sumbatan
folikular. Pada SLE lanjut dapat ditemukan parut atrofik
Fotosensitivitas Ruam kulit yang diakibatkan reaksi abnormal terhadap
sinar matahari, baik dari anamnesis pasien atau yang
dilihat oleh dokter pemeriksa
Ulkus mulut Ulkus mulut atau orofaring, umumnta tidak terasa nyeri
dan dapat terlihat oleh pemeriksa
Artritis Atritis non erosif yang melibatkan dua atau lebih sendi
perifer, ditandai oleh nyeri tekan, bengkak atau efusia
Serosis
a. riwayat penyakit pleuritik berdasarkan anamnesa atau
- Pleuritis
terdapat efusipleura
- Pericarditis
b. dapat dilihat pada rekaman EKG ataupericardial
friction rub atau terdapat efusi pleura

Gangguan renal a. Proteinuria menetap >0,5 gram/hari atau >3+ bila tidak
dilakukan pemeriksaankuantitatif
b. Silinder seluler: dapat berupa silinder eritrosit,
hemoglobin, granular, tubular, atau campuran
Gangguan neurologi a. Kejang yang bukan disebabkan oleh obat-obatan atau
gangguan metabolik (misalnya uremia, ketoasidosis,
atau ketidakseimbanganelektrolit)
b. Psikosis yang bukan disebabkan oleh obat-obatanatau

13
gangguan metabolik (misalnya uremia, ketoasidosis,
atau ketidakseimbangan elektrolit)
Gangguan hematologik a. Anemia hemolitik denganretikulus
b. Lekopenia <4000/mm3 pada dua kali pemeriksaan
atau lebih,atau
c. Limfopenia <1500/mm3 pada dua kali pemeriksaan
atau lebih,atau
d. Trombositopenia <100.000/mm3 tanpadisebabkan
obat-obatan
Gangguan imunologik a. Anti-DNA: antibodi terhadap native DNA dengan titer
yang abnormal,atau
b. Anti-Sm: terdapatnya antibodi terhadap antigen
nukluear Sm,atau
c. Temuan positif terhadap antibodi antifosfolipid yang
didasarkanatas:
- Kadar serum antibodi antikordiolipin abnormal baik
IgG atauIgM
- Tes lupus antikoagulan positifmenggunakan metode
standar,atau
- Hasil tes serologi positif palsu terhadap sifilis
sekurang-kurangnya selama 6 bulan dan
dikonfirmasi dengan test imobilisasi Treponema
pallidum atau tes fluoresensi absropsiantibodi
treponema
Antibodi antinuklear Titer abnormal dari antibodi antinuklear berdasarkan
positif(ANA) pemeriksaan imunofluoresensi atau pemeriksaan setingkat
pada kurun waktu perjalanan penyakit tanpa keterlibatan
obat yang diketahui berhubungan dnegan sindrom lupus
yang diinduksi obat

14
9. Therapy/tindakanpenanganan
Pilar pengobatan yang untuk penderita SLE sebaiknya dilakukan secara
berkesinambungan. Pilar pengobatan yang bisa dilakukan:

a. Edukasi dankonseling
Pasien dan keluarga penderita SLE memerlukan informasi yang benar dan
dukungan dari seluruh keluarga dan lingkungannya. Pasien memerlukan informasi
tentang aktivitas fisik, mengurangi atau mencegah kekambuhan misalnya dengan
cara melindungi kulit dari sinar matahari dengan menggunakan tabir surya atau
pakaian yang melindungi kulit, serta melakukan latihan secara teratur. Pasien juga
memerlukan informasi tentang pengaturan diet agar tidak mengalami kelebihan
berat badan, osteoporosis, atau dislipidemia. Informasi yang bisa diperlukan
kepada pasein adalah:
- Penjelasan tentang penyakit lupus danpenyebabnya
- Tipe dari penyakit SLE dan karakteristik dari tipe-tipe penyalitSLE
- Masalah terkait dengan fisik, kegunaan istirahta latihan terutama yang terkait
dengan pengobatan steroid seperti osteoporosis, kebutuhan istirahat,
pemakaian alat bantu, pengaturan diet, serta cara mengatasiinfeksi
- Masalah psikologis yaitucara pemahaman diri pasien SLE, mengatasirasa
leleah, stres, emosional, trauma psikis, masalah terkait dengan hubungan
dengan keluarga, serta cara mengatasinyeri.
- Pemakaian obat mencakup jenis obat, dosis, lama pemberian, dan yang
lainnya. Kebutuahn pemberian vitamin danmineral.
- Kelompok pendukung bagi penderitaSLE
- Edukasi juga perlu diberikan untuk mengurangi stigma psikologis akibat
adanya anggota keluarga yang menderita SLE

b. Programrehabilitasi

Pasien SLE memerlukan berbagai latihan untuk mempertahankan kestabilan sendi


karena jika pasien SLE diberikan dalam kondisi immobilitas selama lebih dari 2
minggu dapat mengakibatkan penurunan massa otot hingga 30%. Tujuan, indikasi,
dan teknis pelaksanaan program rehabilirasi melibatkan beberapa hal, yaitu:
- Istirahat
- Terapifisik

15
- Terapi denganmodalitas
- Ortotik, dan yanglainnya.
c. Pengobatanmedikamentosa
Jenis obat yang dapat digunakan pada pasein SLE adalah:
- OAINS
- Kortikosteroid
- Klorokuin
- Hidroksiklorokuin (saat ini belum tersedia diIndonesia)
- Azatioprin
- Siklofosfamid
- Metotreksat
- Siklosporin A
- Mikofenolatmofetil
Jenis obat yang paling umum digunakan adalah kortikosteroid yang dipakai
sebagai antiinflamasi dan imunosupresi. Namun, penggunaan kortikosteroid
menimbulkan efek samping. Cara mengurangi efek samping dari penggunaan
kortikosteroid adalah dengan mengurangi dosis obatnya segera setelah penyakit
terkontrol. Penurunan dosis harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari
aktivitas penyakit muncul kembali dan terjadinya defisiensi kortikol yang muncul
akibat penekanan aksis hipotalamus-pituitari-adrenal kronis. Penurunan dosis
yang dilakuakn secara bertahap akan memberikan pemulihan terhadap fungsi
adrenal. Penggunaan sparing agen kortikosteroid dapat diberikan untuk
memudahkan menurunkan dosis kaortokosteroid dan mengobtrol penyakit
dasarnya. Obat yang sering digunakan sebagai sparing agen kortokosteroid adalah
azatioprin, mikofenolat mofenil, siklofosfamid,danmetotrexate.

16
B. Konsep Dasar AsuhanKeperawatan
1. Pengkajian :
Penting dilakukan Pengkajian terhadap Klien secara holistik (Biologis,
Psikologis,Social dan Spiritual ) untuk mendapatkan data yang lengkap dan
sistematis. Adapun metode yang dapat dipakai dalam Proses Pengkajian yaitu :

a. Status kesehatan

1) Status kesehatan saat ini

2) Status kesehatan masa lalu

3) Riwayat penyakit keluarga

4) Riwayat kehamilan dan kelahiran


5) Riwayat imunisasi
b. Pola kebutuhan dasar
1. Persepsi dan Penanganan Kesehatan
Menggambarkan persepsi, pemeliharaan dan penanganan kesehatan. Persepsi terhadap arti
kesehatan, dan piñata laksanaan kesehatan, kemampuan menyusun tujuan, pengetahuan
tentang praktek kesehatan.
Komponen:
a. Gambaran kesehatan secara umum dan saat ini,
b. alasan kunjungan dan harapan,
c. gambaran terhadap sakit dan penyebabnya dan penanganan yang dilakukan:
1) Kepatuhan terhadap pengobatan
2) Pencegahan/tindakan dalam menjaga kesehatan
3) Penggunaan obat resep dan warung,
4) Penggunaan produk atau zat didalam kehidupan sehari-hari dan frekuensi (misal :
rokok, alkohol)
5) Penggunaan alat keamanan dirumah/sehari-hari, dan faktor resiko timbulnya
penyakit
6) Gambaran kesehatan keluarga

17
2. Nutrisi-Metabolik
Menggambarkan intake makanan, keseimbangan cairan dan elektrolit, nafsu makan, pola
makan, diet, fluktuasi BB dalam 6 bulan terakhir, kesulitan menelan, mual / muntah,
kebutuhan julah zat gizi, masalah / penyembuhan kulit, akanan kesukaan.
Komponen:
a. Gambaran yang biasa dimakan (Pagi,siang,sore,snack)
b. Tipe dan intake cairan
c. Gambaran bagaimana nafsu makan, kesulitan dan keluhan yang mempengaruhi makan
dan nafsu makan
d. Penggunaan obat diet
e. Makanan Kesukaan, Pantangan,alergi
f. Penggunaan suplemen makanan
g. Gambaran BB, perubahan BB dalam 6-9 bln,
h. Perubahan pada kulit (lesi, kering, membengkak,gatal)
i. Proses penyembuhan luka (cepat-lambat)
j. Adakah faktor resiko terkait ulcer kulit (penurunan sirkulasi, defisit sensori,penurunan
mobilitas)
3. Eliminasi
Menggambarkan pola fungsi eksresi, kandung kemih dan kulit.
Komponen :
a. Berapa kali miksi dalam sehari, karakteristik urin
b. Adakah masalah dalam proses miksi, adakah penggunaan alat bantu untuk miksi
c. Gambaran pola BAB, karakteritik
d. Penggunaan alat bantu
e. Bau bdn, Keringat berlebih,lesi & pruritus
4. Aktivitas-Latihan
Menggambarkan pola aktivitas dan latihan, fungsi pernafasan dan sirkulasi.
Komponen:
a. Gambaran level aktivitas, kegiatan sehari-hari dan olahraga
b. Aktivitas saat senggang/waktu luang
c. Apakah mengalami kesulitan dalam bernafas, lemah, batuk, nyeri dada,palpitasi,nyeri
pada tungkai, gambaran dalam pemenuhan ADL : Level Fungsional (0-IV), Kekuatan
Otot (1-5)

18
5. Tidur-Istirahat
Menggambarkan pola tidur-istirahat dan persepsi pada level energi.
Komponen:
a. Berapa lama tidur dimalam hari
b. Jam berapa tidur-Bangun
c. Apakah terasa efektif
d. Adakah kebiasaan sebelum tidur
e. Apakah mengalami kesulitan dalam tidur
6. Kognitif-Persepsi
Menggambarkan pola pendengaran, penglihatan, pengecap, taktil, penciuman,
persepsi nyeri, bahasa, memori dan pengambilan keputusan.
Komponen:
a. Kemampuan menulis dan membaca
b. Kemampuan berbahasa
c. Kemampuan belajar
d. kesulitan dalam mendengar
e. Penggunaan alat bantu mendengar/melihat
f. Bagaimana visus
g. Adakah keluhan pusing bagaimana gambarannya
h. Apakah mengalami insensitivitas terhadap dingin, panas,nyeri
i. Apakah merasa nyeri (Skala dan karaketeristik)
7. Persepsi Diri – Konsep Diri
Menggambarkan sikap terhadap diri dan persepsi terhadap kemampuan,harga
diri,gambaran diri dan perasaan terhadap diri sendiri.
Komponen:
a. Bagaimana menggambarkan diri sendiri
b. Apakah ada kejadian yang akhirnya mengubah gambaran terhadap diri
c. Apa hal yang paling menjadi pikiran
d. Apakah sering merasa marah, cemas, depresi, takut, bagaimana gambarannya
8. Peran – Hubungan
Menggambarkan keefektifan hubungan dan peran dengan keluarga-lainnya.
Komponen:
a. Bagaimana gambaran pengaturan kehidupan (hidup sendiri/bersama)
b. Apakah mempunyai orang dekat?Bagaimana kualitas hubungan?Puas?
19
c. Apakah ada perbedaan peran dalam keluarga, apakah ada saling keterikatan
d. Bagaimana dalam mengambil keputusan dan penyelesaian konflik
e. Bagaimana keadaan keuangan
f. Apakah mempunyai kegiatan sosial?

9. Seksualitas – Reproduksi
Menggambarkan kepuasan/masalah dalam seksualitas-reproduksi.
Komponen:
a. Apakah kehidupan seksual aktif
b. Apakah menggunakan alat bantu/pelindung
c. Apakah mengalami kesulitan/perubahan dalam pemenuhan kebutuhan seks
d. Khusus wanita : TMA, gambaran pola haid, usia menarkhe/ menopause riwayat
kehamilan, masalah terkait dengan haid
10. Koping – Toleransi Stres
Menggambarkan kemampuan untuk menangani stres dan menggunakan sistem
pendukung.
Komponen:
a. Apakah ada perubahan besar dalam kehidupan dalam bbrp thn terakhir
b. Dalam menghadapi masalah apa yang dilakukan?efektif?
c. Apakah ada orang lain tempat berbagi?apakah orang tersebut ada sampai
sekarang?
d. Apakah anda selalu santai/tegang setiap saat
e. Adakah penggunaan obat/zat tertentu
11. Nilai – Kepercayaan
Menggambarkan spiritualitas, nilai, sistem kepercayaan dan tujuan dalam hidup.
Komponen:
a. Apakah anda selalu mendapatkan apa yang diinginkan
b. Adakah tujuan,cita-cita,rencana di masa yang akan datang
c. Adakah nilai atau kepercayaan pribadi yang ikut berpengaruh
d. Apakah agama merupakan hal penting dalam hidup? gambarkan

c. Pemeriksaan Fisik

1) Inspeksi
Pengamatan secara seksama setatus kesehatan Klien dari kepala sampai kaki.

20
Pada Klien dengan SLE mungkin akan ditemukan antara lain:
a. Ruam wajah dalam pola malar (seperti kupu-kupu) pada daerah pipi dan
hidung.
b. Lesi dan kebiruan di ujung jari akibat buruknya sirkulasi dan hipoksia kronik
c. Lesi berskuama di kepala, leher dan punggung, pada beberapa penderita
ditemukan eritema atau sikatrik.
d. Luka-luka di selaput lender mulut atau pharing.
e. Dapat terlihat tanda peradangan satu atau lebih persendian yaitu
pembengkakan, warna kemerahan dan rentang gerak yang terbatas.
f. Perdarahan sering terjadi terutama dari mulut atau bercampur urina (urine
kemerahan)
g. Gerakan dinding thorak mungkin tidak simetris atau tampak tanda – tanda
sesak (Napas cuping hidung,Retraksi supra sterna, bahkan intercostals,apabila
terdapat ganguan organ paru)

2) Palpasi
Pemeriksaan dengan meraba klien :

1. Sklerosis, yaitu terjadi pengencangan dan pengerasan kulit jari-jari tangan

2. Nyeri tekan pada daerah sendi yang meradang

3. Oedem mata dan kaki, mungkin menandakan keterlibatan ginjal dan


hipertensi

3) Perkusi
Pemeriksaan pisik dengan mengetuk bagian tubuh tertentu; untuk mengetahui
Reflek, atau untuk mengetahui kesehatan suatu organ tubuh misalnya :
Perkusi organ dada untuk mengetahui keadaan Paru dan jantung.
4) Auskultasi

Pemeriksaan pisik dengan cara mendengar, biasanya menggunakan alat


Stetoskup, antara lain untuk mendengar denyut jantung dan Paru-paru.

2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi dan kerusakan jaringan.

21
b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan ulkus
palatum dan lesi dimulut.
c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan peningkatan aktivitas penyakit, rasa
nyeri, depresi.
d. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan dan ketergantungan fisik
serta psikologis yang diakibatkan penyakit kronik.
e. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan fungsi barier kulit,
penumpukan kompleks imun

22
3. Rencana AsuhanKeperawatan

Diagnose NOC NIC


Nyeri akut Pain control Pain management
Indicator Aktivitas
Factor yang
- Mengenali onsetnyeri - Melakukan pengkajian
berhubungan: Agen
nyeri termasuk lokasi,
injuri fisik - Menjelaskanfactor
karateristik, onset/durasi,
penyebab
frekuensi, kualitas atau
- Melaporkan perubahannyeri
keparahan nyeri, dan
- Melaporkan gejalayang
factor pencetusnyeri
tidakterkontrol
- Observasi tandanonverbal
- Menggunakan sumberdaya
dari ketidaknyamanan,
yang tersedia untuk
terutama pada pasien yang
menguranginyeri
tidak bisa berkomunikasi
- Mengenali gejala nyeriyang
secaraefektif
berhubungan dengan
- Gunakan strategi
penyakit
komunikasi terapeutik untuk
- Melaporkan nyeriterkontrol
mengetahui pengalama
nyeri pasien dan respon
pasienterhadap nyeri
- Kaji pengetahuandan
kepercayaan pasien
tentangnyeri
- Tentukan dampak dari nyeri
terhadap kualitas hidup
(tidur, selera makan,
aktivitas,dll)
- Evaluasi keefektifan
manajemen nyeri yang
pernah diberikan
sebelumnya
- Control factorlingkungan

23
yang dapat mempengaruhi
ketidaknyamanan pasien
- Kolaborasi dengan pasien,
anggota keluarga, dan
tenaga kesehatan lain
untuk implementasi
manajemen nyeri
nonfarmakologi
- Dukung pasienuntuk
menggunakan pengobatan
nyeri yang adekuat
Ketidakseimbangan NOC:  Kaji adanya alergimakanan
nutrisi kurang dari
a. Nutritional status: Adequacy  Kolaborasi dengan ahli gizi
kebutuhan tubuh
ofnutrient untuk menentukan jumlah
Berhubungan dengan :
b. Nutritional Status : foodand kalori dan nutrisi yang
Ketidakmampuan untuk
FluidIntake dibutuhkanpasien
memasukkan atau
c. WeightControl  Yakinkan diet yang dimakan
mencerna nutrisi oleh
mengandung tinggi serat
Setelah dilakukan tindakan
karena faktor biologis,
untuk mencegahkonstipasi
keperawatan selama….nutrisi
psikologis atau ekonomi.
 Ajarkan pasien bagaimana
kurang teratasi dengan
DS:
membuat catatan makanan
indikator:
- Nyeriabdomen harian.
 Albuminserum
 Monitor adanya penurunan
- Muntah
 Pre albuminserum BB dan guladarah
- Kejangperut
 Monitor lingkungan selama
 Hematokrit
- Rasa penuhtiba-tiba makan
 Hemoglobin
setelahmakan  Jadwalkan pengobatan dan
DO:  Total iron bindingcapacity tindakan tidak selama jam
Jumlah limfosit makan
- Diare
 Monitor turgorkulit
- Rontok rambutyang
 Monitor kekeringan, rambut
berlebih
kusam, total protein, Hb dan
- Kurang nafsumakan
kadarHt
24
 Monitor mual danmuntah
- Bising ususberlebih
 Monitor pucat, kemerahan,
- Konjungtivapucat
dan kekeringan jaringan
Denyut nadilemah
konjungtiva
 Monitor intakenuntrisi

 Informasikan pada klien dan


keluarga tentang manfaat
nutrisi
 Kolaborasi dengan dokter
tentang kebutuhan suplemen
makanan seperti NGT/ TPN
sehingga intake cairan yang
adekuat dapatdipertahankan.

 Atur posisi semi fowler atau


fowler tinggi selamamakan
 Kelola pemberan anti
emetik:.....
 Anjurkan banyakminum
Pertahankan terapi IVline
 Catat adanya edema,
hiperemik, hipertonik papila
lidah dan cavitas oval

25
Intoleransi aktivitas NOC NIC
Definisi : Ketidakcukupan · Energy conservation Activity Therapy
energi psikologis atau · Activity tolerance · Kolaborasikan dengan
fisiologis untuk melanjutkan tenaga rehabilitasi medik
· Self Care : ADLs
atau menyelesaikan aktifitas dalam merencanakan
kehidupan sehari-hari yang program terapi yang tepat
harus atau yang ingin Kriteria Hasil :
· Bantu klien untuk
dilakukan. · Berpartisipasi dalam
mengidentifikasi aktivitas
aktivitas fisik tanpa disertai
yang mampu dilakukan
Batasan Karakteristik : peningkatan tekanan darah,
nadi dan RR · Bantu untuk memilih
· Respon tekanan darah
aktivitas konsisten yang
abnormal terhadap · Mampu melakukan aktivitas
sesuai dengan kemampuan
aktivitas sehari-hari (ADLs) secara
fisik, psikologi dan social
· Respon frekwensi mandiri
· Bantu untuk
jantung abnormal · Tanda-tanda vital normal
mengidentifikasi dan
terhadap aktivitas · Energy psikomotor mendapatkan sumber yang
· Perubahan EKG yang · Level kelemahan diperlukan untuk aktivitas
mencerminkan aritmia yang diinginkan
· Mampu berpindah: dengan
· Perubahan EKG yang atau tanpa bantuan alat · Bantu untuk mendapatkan
mencerminkan iskemia alat bantuan aktivitas
· Status kardiopulmunari
· Ketidaknyamanan adekuat seperti kursi roda, krek
setelah beraktivitas · Bantu untuk
· Sirkulasi status baik
· Dipsnea setelah mengidentifikasi aktivitas
· Status respirasi : pertukaran
beraktivitas yang disukai
gas dan ventilasi adekuat
· Menyatakan merasa · Bantu klien untuk membuat
letih jadwal latihan diwaktu

· Menyatakan merasa luang

lemah · Bantu pasien/keluarga


untuk mengidentifikasi

Faktor Yang Berhubungan : kekurangan dalam

· Tirah Baring atau beraktivitas

26
imobilisasi · Sediakan penguatan positif

· Kelemahan umum bagi yang aktif beraktivitas

· Ketidakseimbangan · Bantu pasien untuk

antara suplai dan mengembangkan motivasi

kebutuhan oksigen diri dan penguatan

· Imobilitas · Monitor respon fisik,


emosi, social dan spiritual
· Gaya hidup monoton

Gangguan citra tubuh Body image Body image enhancement


Karakteristik: Indicator: Aktivitas:
- Perilaku menghindari - Gambaran internaldiri - Tentukan harapan pasien
salah satu bagiantubuh Keserasian anatararealitas tentang citra tubuhnya
- Responnonverbal terhadap tubuh, ideal berdasarkan
perubahan pada tubuh tubuh,danpenampilantubuh tingkatperkembangan

- Kepuasanterhadap - Bantu pasien


penampilantubuh mendiskusikan penyebab
- Perilaku menggunakan penyakit dan penyebab
strategi terjadinya perubahan pada
untukmeningkatkan tubuh
fungsitubuh - Bantu pasien menetapkan
batasan perubahan actual
padatubuhnya
- Gunakan anticipatori
guidance untuk
menyiapkan pasienuntuk
perubahan yang dapat
diprediksi padatubuhnya
- Bantu pasien menentukan
pengaruh dari kelompok
sebaya dalam
mempresentasikan citra
tubuh

27
- Bantu pasien
mendiskusikanperubahan
yang disebabkan karena
masapubertas
- Identifikasi kelompok
dukungan unutkpasien
- Monitor frekuensi
pernyataan pasien tentang
kritik terhadapdirinya
- Gunakan latihanpengakuan
diri dengankelompok
Sebaya
Kerusakan integritas NOC NIC
kulit · Tissue Integrity : Skin and Pressure Management
Definisi : Perubahan / Mucous Membranes · Anjurkan pasien untuk
gangguan epidermis dan / · Hemodyalis akses menggunakan pakaian
atau dermis yang longgar

Kriteria Hasil : · Hindari kerutan pada


Batasan Karakteristik : tempat tidur
· Integritas kulit yang baik bisa
· Kerusakan lapisan kulit
dipertahankan (sensasi, · Jaga kebersihan kulit agar
(dermis)
elastisitas, temperatur, tetap bersih dan kering
· Gangguan permukaan hidrasi, pigmentasi) · Mobilisasi pasien (ubah
kulit (epidermis)
· Tidak ada luka/lesi pada kulit posisi pasien) setiap dua
· Invasi struktur tubuh jam sekali
· Perfusi jaringan baik

· Menunjukkan pemahaman · Monitor kulit akan adanya


Faktor Yang Berhubungan : kemerahan
dalam proses perbaikan kulit
Eksternal :
dan mencegah terjadinya · Oleskan lotion atau
· Zat kimia, Radiasi
cedera berulang minyak/baby oil pada
· Usia yang ekstrim daerah yang tertekan
· Mampu melindungi kulit dan
· Kelembapan mempertahankan · Monitor aktivitas dan
· Hipertermia, Hipotermia kelembaban kulit dan mobilisasi pasien

· Faktor mekanik perawatan alami · Monitor status nutrisi


28
(mis..gaya gunting pasien
[shearing forces]) · Memandikan pasien
· Medikasi dengan sabun dan air

· Lembab hangat

· Imobilitasi fisik Insision site care


· Membersihkan, memantau
Internal:
dan meningkatkan proses
· Perubahan status cairan
penyembuhan pada luka
· Perubahan pigmentasi yang ditutup dengan
· Perubahan turgor jahitan, klip atau straples

· Faktor perkembangan · Monitor proses

· Kondisi kesembuhan area insisi

ketidakseimbangan · Monitor tanda dan gejala


nutrisi (mis.obesitas, infeksi pada area insisi
emasiasi) · Bersihkan area sekitar
· Penurunan imunologis jahitan atau staples,

· Penurunan sirkulasi menggunakan lidi kapas


steril
· Kondisi gangguan
metabolik · Gunakan preparat
antiseptic, sesuai program
· Gangguan sensasi
· Ganti balutan pada interval
· Tonjolan tulang
waktu yang sesuai atau
biarkan luka tetap terbuka
(tidak dibalut) sesuai
program

Dialysis Acces Maintenance

4. Implementasi

29
Implementasi adalah pengolahan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun
pada tahapan perencanaan. Jenis tindakan pada implmentasi ini terdiri dari tindakan mandiri, saling
ketergantungan/kolaborasi dan tindakan rujukan/ketergantugan. Implementasi tindakan
keperawatan disesuikan dengan rencana tindakan keperawatan.

5. Evaluasi

Hal yang diberikan dari pemberian auhan keperawatan pada anak dengan sistemik lupus
erythemstosus (SLE) antara lain :

- Exspresi wajah pasien tidak lagi meringis

- Berat badan pasien sudah dalam rentang normal

- Pasien terilhat sudah bisa melakukan aktivitas sehari hari tanpa bantuan dari orang lain

- Pasien mampu memahamipenyebab penyakit dan penyebab terjadinya perubahan pada tubuh

- Kulit pasien terlihat lebih lembab dan kerusakan integritas kulit bisa diminimaliskan

30
BAB III
PENUTUP

A. SIMPULAN
Systemic lupus erytematosus (SLE) atau lupus eritematosus sistemik (LES) adalah penyakit
radang atau inflamasi multisistem yang penyebabnya diduga karena adanya perubahan sistem imun
(Albar, 2003). SLE termasuk penyakit collagen-vascular yaitu suatukelompok penyakit yang
melibatkan sistem muskuloskeletal, kulit, dan pembuluh darah yang mempunyai banyak manifestasi
klinik sehingga diperlukan pengobatan yang kompleks. Etiologi dari beberapa penyakit collagen-
vascular sering tidak diketahui tetapi sistem imun terlibat sebagai mediator terjadinya penyakit
tersebut. Penyakit Lupus dapat diklasifikasikan menjadi 3 macam yaitu discoid lupus, systemic lupus
erythematosus, dan lupus yang diinduksi oleh obat. Penyakit ini menimbulkan gejala-gejala umum
yang sering dianggap sepele tetapi justru perlu untuk ditangani sejak awal agar terhindar dari
penyebarannya sampai ke organ-organ.

B. SARAN
Oleh karena hal tersebut dalam makalah ini terdapat beberapa sara yang dapat membantu dalam
pemahaman penyakit SLE :
1. Perlu mengenali gejala-gejala pada penyakit SLE ini agar dapat ditangani dengan baik sejak
awal untuk mempercepat proses penyembuhan dan merawat penyakit ini untuk menghindari
penyebarannya keseluruh organ tubuh.
2. Perlu mengetahui tindakan-tindakan untuk proses penyembuhan penyakit SLE.
3. Perlu mendapatkan informasi yang lebih dalam makalah ini tentang penyakit SLE.

31
DAFTAR PUSTAKA

Chang, Esther, dkk. 2009. Patofisiologi Aplikasi Praktik Keperawatan. Jakarta: EGC.

Corwin, Elizabeth J. 2000. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.

Engram, Barbara. 1998. Rencana Asuhan Keperawatan Mrdikal-Bedah Volume 2. Jakarta: EGC.

Fandika.2016. Asuhan Keperawatan SLE (Systemic Lupus Erythematosus) Pada Anak. Available at
:https://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/ujph/article/view/5854/6849 . Diakses tanggal 23
September 2018

Nurarif, A.H. dan Kusuma, H. 2015. APLIKASI Asuhan Keperawatan Berdasarkan


Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Jogjakarta: MediAction.

Price A. Sylvia. 2006. Patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit edisi 6 Penerbit buku
Kedokteran. Jakarta : ECG

Syifa, Vyza. 2012. Informasi Yang Harus Dikaji Pada Pengkajian Menggunakan 11 Pola Fungsi
Kesehatan Gordon. Available at : http://vyzasyifa.blogspot.com/2012/01/pengkajian-
menggunakan-11-pola-fungsi.html . Diakses tanggal 23 September 2018

2012. Asuhan Keperawatan SLE. Available at


:Http://tutor.lscf.ucsb.edu/instdev/sears/immunology/fig20-6-110.gif). Diakses tanggal 20
September 2018

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (1st ed.). Jakarta.

Yusuf. 2014. Askep SLE(dalam :http://cupdate1.blogspot.com/2014/04/askep-sle-systemic-lupus-


erithematosus.html ) Diakses Tanggal 20 September 2018

Endi.2013. Askep Penyakit Lupus Sistem Imun. Available at:


http://evaloy.blogspot.com/2013/03/askep-penyakit-lupus-sistem-imun-dan.html). Diakses
tanggal 20 September 2018.

32
33