Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT

MINI PROJECT

PENCEGAHAN PERILAKU PENGGUNAAN NAPZA DI SMP SUNAN GIRI DI


KECAMATAN ARGOMULYO SALATIGA

Disusun Oleh:
dr. Cakradenta Yudha Poetera

Pembimbing:
dr. Galuh Ajeng Hendrasti

Puskesmas Cebongan Kota Salatiga


Periode November 2017 - Maret 2018
Program Internsip Dokter Indonesia Kota Salatiga
Periode November 2017 - November 2018
HALAMAN PENGESAHAN
Laporan Usaha Kesehatan Masyarakat (UKM)
Laporan F.7 Mini Project

Topik :

Pencegahan Perilaku Penggunaan NAPZA di SMP Sunan Giri di Kecamatan


Argomulyo Salatiga

Diajukan dan dipresentasikan dalam rangka praktik klinis dokter internsip sekaligus sebagai
bagian dari persyaratan menyelesaikan program internsip dokter Indonesia di Puskesmas
Cebongan Kota Salatiga

Diajukan dan dipresentasikan dalam rangka praktik klinis dokter internship sekaligus sebagai
bagian dari persyaratan menyelesaikan program internship dokter Indonesia
di Puskesmas Cebongan

Telah diperiksa dan disetujui pada tanggal Juli 2018

Mengetahui,
Dokter Pendamping Kepala UPTD Puskesmas Cebongan

dr. Galuh Ajeng Hendrasti drg. Yulia Kristiyany


NIP. 19821014 201001 2 017 NIP. 19740702 200604 2 002
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Penyalahgunaan NAPZA (Narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya)
bukan merupakan hal yang baru, baik di negara-negara maju maupun di negara-negara
berkembang. Data dari United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) menyebutkan
bahwa dari tahun ke tahun terjadi peningkatan penggunaan narkotika dan obat-obat terlarang
di dunia. Data World Drug Report (2016) tahun 20012-2014 diperoleh angka pengguna
narkoba di dunia mencapai 247 juta jiwa atau meningkat 5,2% dari tahun sebelumnya
(Iskandar, 2015).
Sepanjang tahun 2015 BNN telah mengungkap sebanyak 102 kasus Narkotika dan
Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang merupakan sindikat jaringan nasional dan
internasional, dimana sebanyak 82 kasus telah P21 (hasil penyidikan kasus narkoba sudah
lengkap). Kasus-kasus yang telah diungkap tersebut melibatkan 202 tersangka yang terdiri
dari 174 WNI dan 28 WNA. Berdasarkan seluruh kasus Narkotika yang telah diungkap, BNN
telah menyita barang bukti sejumlah 1.780.272,364 gram shabu kristal; 1200 mililiter shabu
cair; 1.100.141,57 gram ganja; 26 biji ganja; 95,86 canna chocolate; 302 gram happy cookies;
14,94 gram hashish; 606.132 butir ekstasi; serta cairan prekursor sebanyak 32.253 mililiter
dan 14,8 gram sedangkan dalam kasus Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) total asset
yang berhasil disita oleh BNN senilai Rp 85.109.308.337 (Primadi, 2014).
Pada tahun 2015 BNN juga menemukan 2 jenis zat baru (new psychoactive
substance) yaitu CB-13 dan 4-klorometkatinon. Sehingga total NPS yang telah ditemukan
BNN hingga akhir tahun 2015 yakni sebanyak 37 jenis (Astuti, 2013).
Dampak penyalahgunaan NAPZA tidak hanya berakibat bagi penyalahgunanya yang
menyebabkan gangguan fisik dan mental hingga berakibat kematian, namun juga berdampak
pada tatanan sosial keluarga dan masyarakat sampai tindak kriminal. Masalah NAPZA
merupakan permasalahan yang amat penting dan perlu penanganan khusus semenjak dini.
Sebagai langkah awal dilakukan pencegahan sebelum seseorang terlibat penyalahgunaan
NAPZA, namun apabila seseorang sudah terlibat dilakukan pencegahan sekunder (terapi
pengobatan) dan pencegahan tersier (rehabilitasi). (Adnan, 2013). Rehabilitasi adalah proses
pemulihan pada ketergantungan penyalahguna narkotika (pecandu) secara komprehensif
meliputi aspek biopsikososial dan spiritual sehingga memerlukan waktu yang lama, kemauan
keras, kesabaran, konsistensi dan pembelajaran terus menerus. Tujuan rehabilitasi ialah
memulihkan kembali rasa harga diri, percaya diri, kesadaran, serta tanggung jawab terhadap
masa depan diri, keluarga, maupun masyarakat atau lingkungan sosialnya. Pasien
mendapatkan pelayanan rehabilitasi yaitu rehabilitasi: medis, vocational (karya), sosial,
psikologis (Adnan, 2013).
Seorang penderita napza yang mengikuti rehabilitasi harus mengikuti berbagai proses
mulai dari rehabilitasi medis berupa pemeriksaan fisik, pemeriksaan psikologis, dan tes
darah/lab hingga memperoleh diagnosa yang tepat, pemberian pengobatan dan pencegahan,
latihan penggunaan alat-alat bantu dan fungsi fisik. Rencana terapi yang diberikan berupa
detoksifikasi selama 2 minggu (bila perlu). Kemudian pasien dapat memilih rehabilitasi rawat
inap selama 6 bulan – 1 tahun. Program rehabilitasi yang diberikan berupa konseling individu
dan kelompok, KIE dan VCT, psikoterapi, cek kesehatan rutin. Atau pasien dapat memilih
rawat jalan selama 3 bulan. Program rehabilitasi yang diberikan yakni konseling individu,
Komunikasi Informasi Edukasi dan Voluntar, Counseling, and Testing (VCT). Biaya yang
diperlukan dalam mengikuti program rehabilitasi yakni tiga juta rupiah per orang (Waseso,
2015).
Perilaku menyimpang dengan penggunaan NAPZA terus meningkat karena kurangnya
edukasi tentang kesehatan dan bahaya yang ada. Jual-beli rokok yang dapat ditemukan di
mana saja, menyebabkan anak usia sekolah bahkan SD, sudah mengkonsumsinya. Semakin
meningkatnya angka penggunaan NAPZA di kota Salatiga, maka Puskesmas Cebongan
memerlukan tindakan konsisten dalam hal pencegahan awal sehingga masyarakat khususnya
remaja mampu membentengi pribadi mereka sendiri sehingga menurunkan angka
penggunaan NAPZA.

B. PERNYATAAN MASALAH
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka beberapa pertanyaan yang dapat
diajukan adalah : Bagaimana cara melakukan pencegahan untuk mengurangi angka kejadian
penggunaan NAPZA di Kota Salatiga ? Bagaimana cara untuk memberikan pengetahuan
yang benar terhadap masyarakat khusunya remaja agar angka kejadian NAPZA di Kota
Salatiga dapat menurun ?

C. TUJUAN
C.1. TUJUAN UMUM
Untuk memberikan edukasi dan meningkatkan kesadaran terhadap masyarakat
khususnya remaja tentang bahaya NAPZA sebagai langkah awal pencegahan
terhadap perilaku menyimpang pada remaja.

C.2. TUJUAN KHUSUS


C.2.1. Dapat menurunkan angka penggunaan NAPZA di Kota Salatiga dengan cara
memberikan pengertian terhadap remaja tentang bahaya NAPZA.
C.2.2. Untuk meningkatkan pengetahuan pada usia remaja tentang macam-macam
NAPZA.
C.2.3. Untuk meningkatkan pengetahuan remaja tentang upaya pencegahan dan
penanggulangan pengguna NAPZA.

D. MANFAAT
D.1 Diharapkan dapat menurunkan hingga meniadakan angka kejadian penggunaan
NAPZA di Kota Salatiga.
D.2.Diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran atau tambahan referensi dalam
pengembangan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan masyarakat khususnya remaja.
D.3.Bagi penulis merupakan suatu pengalaman yang sangat berharga dalam
mengaplikasikan ilmu yang telah didapat dan menambah wawasan pengetahuan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

1. Pengertian dan Istilah Napza

Menurut peraturan pemerintah Republik Indonesia No. 40 tahun 2013:

1.1. Narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau

bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintesis, yang dapat

menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa,

mengurangi sampai menghilangkan nyeri, dan dapat menimbulkan

ketergantungan.

1.2. Tanaman Narkotika adalah jenis tanaman tertentu yang mengandung zat

yang dapat dikategorikan kedalam jenis narkotika yang ditemukan di ladang

atau tempat lainnya dalam keadaan masih tertanam atau hidup.

1.3. Prekursor Narkotika adalah zat atau bahan pemula atau bahan kimia

yang dapat digunakan untuk pembuatan narkotika sebagaimana dibedakan

dalam tabel yang terlampir dalam UU NO.35 Tahun 2009 tentang Narkotika

(Binfar kemkes, 2015).

2. Penggolongan NAPZA

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan No.13 tahun 2014 tentang Perubahan

Penggolongan Narkotika: Daftar Narkotika golongan I: Tanaman Papaver

Somniferum L dan semua bagian-bagiannya termasuk buah dan jeraminya kecuali

bijinya. Opium mentah, yaitu getah yang membeku sendiri diperoleh dari buah

tanaman Papaver Somniferum Ldengan atau tanpa mengalami pengolahan


sekedarnya untuk pembungkus dan pengangkutan tanpa memperhatikan kadar

morfinnya.

Tanaman koka, tanaman dari semua genus Erythroxylon dari keluarga

Erythroxylaceae termasuk buah dan bijinya. Daun koka,daun yang belum atau

sudah dikeringkan atau dalam bentuk serbuk dari semua tanaman genus

Erythroxylon dari keluarga Erythroxylaceae yang menghasilkan kokain secara

langsung atau melalui perubahan kimia.

Tanaman ganja, semua tanaman genus canabis dan semua bagian dari tanaman

termasuk biji, buah, jerami, hasil olahan tanaman ganja atau bagian tanaman ganja

termasuk damar ganja atau hasis.

Tetrahydrocannabinol, dan semua isomer serta semua bentuk stereo kimianya.

Delta 9 Tetrahydrocannabinoldan semua bentuk stereo kimianya. Asertofina :3-0-

Acetiltetrahidro-7-a-(1-hidroksi-1-metilbutil)-6, 14-endoeteno-oripavina (Mboi,

2014).

3. Jenis NAPZA yang sering disalah-gunakan

3.1. Opioida

Opioida dihasilkan dari getah opium poppy yang diolah menjadi morfin,

kemudian dengan proses tertentu menghasilkan putau , dimana putau

mempunyai kekuatan 10 kali melebihi morfin. Opioid sintetik mempunyai

kekuatan 400 kali lebih kuat dari morfin. Opioida atau opiate biasanya

digunakan dokter sebagai analgetika kuat berupa pethidin, methadone, talwin,

codein dan lain lain.


Opiate disalahgunakan dengan cara disuntik atau dihisap, dengan nama

jalanannya adalah putau, ptw, black heroin, brown sugar. Opiate dibagi

dalam 3 golongan besar, yaitu:

3.1.1. Opiate alamiah: morfin, opium, codein

3.1.2. Piate semi sintetik: heroin/putau, hidromorfin

3.1.3. Piate sintetik: meperidin, proposipen, metadon.

3.2. Kokain

Kokain adalah zat yang adiktif yang sering disalahgunakan dan merupakan

zat yang sangat berbahaya.Kokain merupakan alkaloid yang didapatkan dari

tanaman belukar erythroxylon coca, yang berasal dari Amerika Selatan,

dimana daun dari tanaman belukar ini biasanya dikunyah kunyah-penduduk

setempat untuk mendapatkan efek stimulan.Kokain mempunyai 2 bentuk,

yaitu kokain hidroklorid dan free base.Nama jalanan darikokain adalah

koka, coke, happy dust, charlie, snow/salju, putih(Mboi, 2014).

3.3. Kanabis

Kanabis (ganja) mengandung delta-9 tetra-hidrokanabinol (THC).

Ganja yang dibentuk seperti rokok merupkan tanaman yang sudah

dikeringkan dan dirajang , kemudian dilinting seperti tembakau. Komplikasi

yang mungkin terjadi adalah sindrom amotivasional, yaitu sekumpulan

gejala yang timbul karena penggunaan ganja dalam jangka waktu yang lama

dan dalam jumlah yang banyak sehingga mengakibatkan kemampuan

bicara, baca, hitung akan menurun, kemampuan dan keterampilan sosial

terhambat, menghindari persoalan bukan mnyelesaikannya, gerak anggota


badan lambat, perhatian terhadap lingkungan sekitar berkurang sampai tidak

bereaksi sama sekali ketika dipanggil, mudah percaya mistik, kurang semangat

dalam bersaing dan kurang memikirkan masa depan (Mboi, 2014).

3.4 Amfetamin

Nama generik amfetamin adalah D-pseudo efinefrin, yang digunakan

sebagai dekongestan. Amfetamin terdiri dari 2 jenis yaitu MDMA

(Methilene dioxy methamphetamine)/ekstasi dan metamfetamin (sabu-

sabu). Penggunaannya melalui oral dalam bentuk pil, kristal yang dibakar

dengan menggunakan kertas aluminium foil dan asapnya dihisap atau

dibakar dengan menggunakan botol kaca yang dirancang khusus (bong) atau

kristal yang dilarutkan disuntikkan melalui intravena (Mboi, 2014).

3.5 Lysergic acid (LSD)

Lysergic acid biasa didapatkan berbentuk seperti kertas berukuran kotak

kecil, sebesar seperempat perangko dalam banyak warna dan gambar, ada

juga berbentuk pil, kapsul. Cara penggunaannya dengan meletakkan LSD

pada permukaan lidah, dan bereaksi setelah 30-60 menit dan hilang setelah

8-12 jam(Mboi, 2014).

3.6 Sedatif hipnotik (Benzodiazepine)

Sedatif (obat penenang) hipnotik (obat tidur) yang disalah gunakan

adalah benzodiazepam (nitrazepam, flunitrazepam) (Mboi, 2014).


3.7 Solvent / Inhalasia
Inhalan adalah zat yang berbentuk gas dan dapat masuk ke dalam tubuh

melalui sistem pernapasan (paru-paru). Zat tersebut hanya dapat digunakan

dengan cara di hirup (Mboi, 2014).

3.8. Alkohol

Alkohol diperoleh dari proses fermentasi madu, gula, sari buah, atau umbi

umbian. Hasil fermentasi ini dapat diperoleh alkohol dengan kadar tidak lebih

dari 15%, tetapi dengan proses penyulingan dapat dihasilkan alkohol dengan

kadar yang lebih tinggi, bahkan mencapai 100%. Alkohol adalah zat yang

banyak dikonsumsi orang melalui minuman (bir 2-5% alkohol, anggur 10-

40%, wiski, vodka 40-50% alkohol) (Mboi, 2014).

Berikutdaftar nama narkotika baru yang telah diatur dalam Permenkes No 2/2017

antara lain adalah sebagai berikut:

Jenis Narkoba Turunan Narkotika Efek Samping

Methylone (MDMC) Cathinone Stimulan, halusinogen, insomnia,

symphathomimetic

Mephedrone (4-MMC) Cathinone Stimulan, meningkatkan detak

jantung, harmful

Pentedrone Cathinone Psychostimulant

4 MEC Cathinone Emphatogenic

MDPV Cathinone Euphoria, stimulan, efek

aphrodisiac, efek emphatogenic

Jenis Narkoba Turunan Narkotika Efek Samping


MDHP Cathinone Psychostimulant

JWH-018 Syntetic Halusinogen, efek cannabinoid,

Cannabinoid toxic

XLR-11 Syntetic Halusinogen, efek cannabinoid,

Cannabinoid toxic

DMA Phenethylamine Stimulan, efek lebih rendah dari

(Dimethylamphetamin) methamphetamine

5-APB Phenethylamine Stimulan, emphatogenic

6-APB Phenethylamine Euphoria

PMMA Phenethylamine Stimulan, halusinogen, insomnia,

symphathomimetic

2C-B Phenethylamine Halusinogen

DOC Phenethylamine Euphoria, archetypal psychedelic

251-NBOME Phenethylamine Stimulan, halusinogen, toxic

25C-NBOME Phenethylamine Stimulan, halusinogen, toxic

Tembakau Gorilla Metil 2-{[1- Kehilangan


(5fluoropentil)-1H-
(5-fluoro-ADB) indazol–3- Kesadaran,kecanduan, toxic.
karbonil]amino}-
3,3-dimetilbutanoat
Dumolid (Nitrazepam) Benzodiazepin Depresi, Gangguan koordinasi
dan berbicara, Bingung atau
disorientasi, Gangguan
konsentrasi dan memori,
Penurunan pada tekanan darah
dan frekuensi napas
Tabel 2.1. Daftar nama narkotika terbaru dalam Permenkes No 2/2017
4. Tanda dan gejala

Tanda dan gejala yang ditampilkan akibat intoksikasi dan putus zat berbeda

beda, tergantung pada zat yang dikonsumsi. Tanda dan gejala dapat dilihat secara

langsung, baik tanda tanda fisik ataupun non fisik.

Tanda-tanda non fisik yang biasa ditampakkan dirumah, meliputi:

Membangkang terhadap teguran orang tua, tidak mau mempedulikan peraturan

keluarga, mulai melupakan tanggung jawab rutinnya di rumah, malas mengurus

diri, sering tersinggung dan mudah marah.

Tanda-tanda non fisik yang biasa ditampakkkan di sekolah, meliputi: Prestasi

di sekolah tiba-tiba menurun mencolok, membolos sekolah, tidak disiplin,

perhatian terhadap lingkungan tidak ada, sering kelihatan mengantuk di sekolah,

sering keluar dari kelas pada jam pelajaran dengan alasan ke kamar mandi

(Lisa,2013)

5. Mekanisme Penggunaan NAPZA Dalam Tubuh

Mekanisme kerja obat dalam tubuh merupakan suatu keadaan dimana obat

tersebut merangsang susunan saraf pusat untuk bekerja sesuai dengan karakteristik

zat yang akan digunakan.Zat yang masuk ke dalam tubuh akan mempengaruhi

sinyal penghantar syaraf (sistem neurotransmitter dalam sistem syaraf pusat) yang

dapat menggangu fungsi-fungsi antara lain kognitif (pikiran, memori), afektif

(alam perasaan) dan psikomotor perilaku (Lisa,2013).


6. Faktor-Faktor Penyebab Penyalahgunaan Napza

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi penyalahgunaan napza pada

seseorang. Berdasarkan pendekatan kesehatan masyarakat, faktor-faktor penyebab

timbulnya penyalahgunaan napza terdiri dari:

6.1 Faktor zat

Tidak semua zat yang digunakan akan memberikan pengaruh yang

sama bagi pemakai. Dalam hal ini hanya obat dengan pengaruh

farmakologik tertentu yang akan menimbulkan gangguan penyalahgunaan

napza, baik yang akan menimbulkan ketergantungan.

6.2 Faktor Individu

Tiap individu memiliki perbedaan tingkat resiko untuk

menyalahgunakan Napza. Faktor yang mempengaruhi individu terdiri dari

faktor kepribadian dan faktor konstitusi. Di bawah ini merupakan beberapa

alasan yang berasal dari diri sendiri (Lisa, 20013).

6.3 Faktor Lingkungan Sosial

Faktor lingkungan sosial adalah faktor dimana individu melakukan

interaksi dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Faktor ini mencakup

faktor keluarga dan faktor sosial lainnya, misalnya pada keluarga yang

kurang harmonis, lingkungan pergaulan individu, komunikasi orang tua dan

anak kurang baik, orang tua yang bercerai atau kawin lagi, orang tua

terlampau sibuk, orang tua yang acuh dan otoriter, kurangnya orang yang

menjadi teladan dalam hidupnya dan kurangnya beragama (Lisa, 2013).


7. Proses Terjadinya Penyalagunaan dan Ketergantungan Napza

Proses terjadinya ketergantungan NAPZA dapat dilihat dibawah ini:

7.1. Abstinence adalah berhenti total menggunakan NAPZA

7.2. Eksperimental adalah penggunaan NAPZA yang bersifat coba coba,

tanpa motivasi tertentu dan hanya didorong oleh perasaan ingin tahu saja.

Ciri khas penggunaan NAPZA untuk penggunaan eksperimental berupa,

Frekuensi Penggunaanyang bersifat occasional, biasanya beberapa kali dalam

sebulan, pada saat liburan atau berkumpul dengan teman teman.Dari sumber zat,

biasanya obat didapat dari teman sebaya.Karena alasan penggunaan seperti rasa

ingin tahu, solidaritas, agar diterima oleh kelompok, menginginkan tantangan.

Untuk mendapatkan efek yang diinginkan, pengguna akan merasa euphoria dalam

jumlah kecil dapat menyebabkan intoksikasi, perasaan yang diinginkan meliputi

perasaan senang, diterima, kontrol.Penyalahgunaan Napza adalah penyalahgunaan

yang bersifat patologis,dipakai secara rutin (berlangsung selama 1 bulan), terjadi

penyimpangan perilaku dan gangguan fisik di lingkungan sosial. Cara

mendapatkannya dari teman, mencuri untuk mendapatkan uang untuk membeli

zat, menjual zat dan menyimpan sebagian untuk konsumsi sendiri. Demi

mendapatkan efek merasa normal kembali dari perasaan sakit, penurunan dalam

aktivitas ekstrakurikuler (Sumiati, 2009)

Ketergantungan adalah penggunaan NAPZA yang cukup berat, telah terjadi

ketergantungan fisik psikologik yang ditandai oleh adanya toleransi dan sindroma
putus obat. Ciri khas penggunaan NAPZA untuk ketergantungan yakni: Frekuensi

penggunaan setiap hari atau terus menerus. Sumber zat berupa menghalalkan

segala cara untuk mendapatkan zat, mengambil resiko yang serius, sering

melakukan tindakan kriminal, seperti merampok dan mencopet. Alasan

menggunakan zat seperti membutuhakan zat untuk menghilangkan sakit dan

depresi, untuk melarikan diri dari kenyataan, menggunakan karena di luar kontrol.

Efek yang dirasakan, pada saat tidak menggunakan zat, klien akan merasa sakit

atau tidak nyaman, zat membantu mereka untuk merasa normal, pengguna tidak

merasa euphoria pada tahap ini, kemungkinan ada perasaan ingin bunuh diri,

merasa bersalah, malu, ditolak, merasa adanya perubahan emosi, seperti depresi,

agresif, cepat tersinggung, dan apatis. Ciri-ciri pengguna berupa perubahan fisk,

seperti penurunan berat badan, masalah kesehatan, penampilan yang buruk,

kemungkinan mengalami hilang ingatan, flash back, paranoid, perubahan mood,

dan gangguan mental lainnya. Kemungkinan drop out dari sekolah atau

dikeluarkan dari pekerjaan. Sering keluar rumah, kemungkinan over dosis.

Tertangkap, terutama pada saat menggunakan zat/ relapse. Ciri khas penggunaan

NAPZA untuk relapse:Relapse merupakan keadaan dimana seseorang yang

memiliki riwayat penggunaan NAPZA setelah mampu berhenti dalam jangka

waktu tertentu kembali menggunakan NAPZA yang bisa disebabkan oleh berbagai

faktor (Prabowo, 2014)

8. Bahaya Penyalahgunaan NAPZA

Bahaya penyalahgunaan NAPZA (BNN, 2009) adalah: Bahaya terhadap diri

pemakai berupa merubah kepribadian si pemakai. Merubah perilaku menjadi masa


bodoh, pemurung, memarah, dan melawan terhadap siapapun. Semangat kerja

atau semangat belajar menurun, suatu saat bersikap seperti orang yang mengalami

gangguan jiwa. Tidak ragu melanggar norma masyarakat. Tidak segan menyiksa

diri untuk menghilangkan rasa nyeri. Bahaya terhadap keluarga berupa: tidak

segan mencuri uang dan barang keluarga untuk membeli NAPZA. Tidak sopan

dan melawan orang tua. Tidak menghargai harta untuk keluarga (merusak barang).

Mencemarkan nama baik keluarga. Bahaya terhadap lingkungan masyarakat.

Berbuat tidak senonoh (mesum) dengan orang lain. Mengambil dan mencuri harta

milik tetangga atau orang lain. Menggangguketertiban umum. Tidak merasa

menyesal apabila melakukan kesalahan atau pelanggaran. Bahaya terhadap bangsa

dan negara berupa: rusaknya mental dan fisik generasi muda. Kehilangan rasa

patriotisme dan cinta bangsa. Dipengaruhi pihak lain untuk menghancurkan

negara (Prabowo, 2014).

9. Dampak Penyalahgunaan dan Ketergantungan NAPZA

Penggunaan NAPZA dalam jangka waktu yang lama dapat mempengaruhi:

Kesehatan membuat organ tubuh yang paling banyak dipengaruhi adalah sistem

syaraf pusat yaitu otak dan sumsum tulang belakang, dan organ lain seperti

jantung, paru-paru, hati, ginjal dan panca indera.Tetapi sebenarnya

penyalahgunaan NAPZA membahayakan seluruh tubuh. Sudah terlalu banyak

kasus kematian terjadi akibat pemakaian NAPZA, terutama karena pemakaian

berlebih (over dosis) dan kematian AIDS (akibat pemakaian NAPZA melalui

jarum suntik bersama dengan orang yang sudah terinfeksi HIV).Pendidikan

membuat kebiasaan malas, sering bolos, dikeluarkan dari sekolah.


Pekerjaanmenimbulkan konflik dengan teman kerja, tidak masuk kantor,

pemutusan hubungan kerja (PHK).Ekonomi menimbulkan kerugian materi yang

mengakibatkan kemiskinan. Sosial dan psikologis, Ketergantungan pada NAPZA

menyebabkan orang tidak lagi dapat berpikir dan berperilaku normal. Perasaan,

pikiran, dan perilakunya dipengaruhi oleh zat yang dipakainya. Hukum, misalnya

terlibat kasus-kasus pencurian, perampokan atau pembunuhan (Prabowo,2014).

10. Upaya Penanggulangan Masalah NAPZA

Upaya penanggulangan masalah NAPZA bertujuan untuk menghentikan

samasekali (abstinensia), mengurangi frekuensi/keparahan relapse, memperbaiki

fungsi psikologi dan adaptasi sosial.

10.1. Preventif

Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan cara:Latihan afirmasi,

misalnya mengatakan kepada diri sendiri “Say no to drugs”, tak pernah

mencoba walaupun hanya 1 kali.Menolak ajakan (negosiasi) teman,

seperti:Menolak ajakan yang tidak bermanfaat (mabuk, nonton film porno).

Menolak ajakan yang jelas merugikan dan melanggar kesopanan. Menolak

ajakan untuk melakukan perbuatan yang menakutkan atau mencurigakan

(mengedarkan NAPZA). Menolak pengaruh atau ajakan teman tidak harus

dilakukan kasar atau marah, tetapi dapat dilakukan dengan halus dan sopan,

tetapi, tegas dan dengan alasan yang masuk akal. Dengan cara yang baik tetapi

tegas (asertif), teman yang mengajak dapat mengerti dan akan berhenti merayu

atau memaksa.Deteksi dini atau pengenalan sedini mungkin ciri-ciri :

Pengguna NAPZA, sikapnya suka bohong, mencuri, sering berkelahi. Didalam


keluarga seperti kurang memberi perhatian, komunikasi tidak baik. Penyebaran

informasi melalui media massa, misalnya iklan. Pendidikan efektif, misalnya

terampil menyelesaikan masalah secara konstruktif. Pemberian alternatif,

misalnya mengadakan aktifitas dan memberi kesempatan mengembangkan diri

dalam aktifitas tersebut. Latihan ketahanan sosial, misalnya meningkatkan

pertahanan diri, menolak, membuat permintaan untuk berdiskusi dengan orang

lain.Peningkatan kemampuan, misalnya menyelesaikan masalahnya dan

mengendalikan diri.

10.2. Kuratif

Pengobatan dapat dilakukan dengan cara:Detoksikasi bertujuan untuk

mengurangi gejala putus zat, membantu klien terhindar dari pengobatan sendiri

dangan zat ilegal, mempersiapkanuntuk program lanjutan

(maintenance/rehabilitasi).Maintenance (pemeliharaan), klien diberikan

substitusi setelah detoksifikasi untuk jangka panjang, misalnya dengan

naltrekson, bufrenorfin atau metadon.Terapi psikososial seperti konseling

(termasuk komunikasi teraupetik), psikotropika, terapi kelompok, terapi

keluarga dan terapi lingkungan. Termasuk juga pemberian pendidikan,

misalnya agama.

10.3. Berbagai modalitas terapi dan pendekatan

Therapeutic Community –TC Model, model ini merujuk pada keyakinan

bahwa gangguan penggunaan Napza adalah gangguan pada seseorang secara

menyeluruh. Dalam hal ini norma-norma perilaku diterapkan secara nyata dan

ketat yang diyakinkan dan diperkuat dengan memeberikan reward dan sangsi
yang spesifik secara langsung untuk mengembangkan kemampuan mengontrol

diri dan sosial/komunitas.

Model Medik, model ini berbasis pada biologik dan genetik atau fisiologik

sebagai penyebab adiksi yang membutuhkan pengobatan dokter dan memerlukan

farmakoterapi untuk menurunkan gejala serta perubahan perilaku. Program ini

dirancang berbasis rumah sakit dengan program rawat inap sampai kondisi bebas

dari rawat inap atau kembali ke fasilitas di masyarakat.

Model Minnesota, dikembangkan dari Hazelden Foundation dan Johnson

Institute. Model ini fokus pada abstinen atau bebas Napza sebagai tujuan utama

pengobatan. Model Minesota menggunakan program selama tiga sampai enam

minggu rawat inap dengan lanjutan aftercare, termasuk mengikuti program self

care group(Alcohol Anonymous or Narcotics Anonymous).

Model Ekletik, menerapkan pendekatan secara holistik dalam program

rehabilitasi. Pendekatan spiritual dan kognitif melalui penerapan program 12

langkah merupakan pelengkap program TC yang menggunakan pendekatan

perilaku, hal ini sesuai dengan jumlah dan variasi masalah yang ada pada setiap

pasien adiksi.

Model Multi Disiplin, merupakan pendekatan yang lebih komprehensif

dengan menggunakan komponen disiplin yang terkait termasuk reintegrasi dan

kolaborasi dengan keluarga dan pasien.

Model Tradisional, tergantung pada kondisi setempatdan terinspirasi dari hal-

hal praktis dan keyakinan yang selama ini sudah dijalankan. Komponen dasar

terdiri dari: medikasi, pengobatan alternatif, ritual dan keyakinan yang dimiliki
oleh sistem lokal contoh: pondok pesantren, pengobatan tradisional/herbal

(www.kepmen-kes-no420 tahun 2016).

Faith Based Model, sama dengan model tradisional hanya pengobatan tidak

menggunakan farmakoterapi.

10.4. Panduan program rehabilitasi Napza

Komponen panduan program rehabilitasi napza yakni: Medik/klinis-

menyediakan layanan medis/psikiatris secara profesional pada tempat dan saat

diperlukan serta mampu untuk menentukan baik kondisi fisik maupun

psikologis pasien. Merencanakan diet nutrisi/gizi yang dibutuhkan pasien.

Melakukan pemeriksaan HIV, Hepatitis B/C dan IMS serta melakukan

tindakan yang sesuai termasuk VCT (Voluntar, Counseling and Testing) dan

PITC (Provider Initiated Testing and Counseling). Menyediakan pendidikan

agama dan mendorong pasien untuk melaksanakan kegiatan ibadah sesuai

kepercayaan mereka. Layanan/Terapi Keluarga untuk mendorong pasien yang

menolak masuk ke dalam program pengobatan dan juga memelihara dukungan

kepada pasien dalam proses pemulihan. Mengajarkan pasien untuk mengenali

situasi dengan risiko tinggi dan pencetus yang mungkin menyebabkan

menggunakan napza kembali, untuk mengembangkan strategi kemampuan

menghadapi tekanan dari luar dan belajar untuk mengelola situasi slip

(Kepmenkes, 2016).

Aftercare, suatu lanjutan dari layanan perawatan seperti dukungan kepada

kelompok pemulihan, konseling, latihan keterampilan hidup, penempatan

kerja, rujukan dan layanan lain sesuai kebutuhan pasien. Memberikan


hubungan terapeutik antara pasien yang membutuhkan bantuan

dengan konselor (konseling). Membantu pasien dalam kebutuhan

bantuan hukum. Mengajarkan untuk mampu bersosialisasi dan

keterampilan bekerja untuk pasien sesuai minat dan kompetensi

(terapi vokasional). Mengembangkan keterampilan sosial untuk

berkomunikasi lebih baik (latihan keterampilan hidup).

Melanjutkan pendidikan formal yang relevan dengan kemampuan

pasien, meningkatkan pengetahuan tentang konsekuensi gaya hidup

berisiko dan lain-lain (Kepmenkes, 2016).

Program rehabilitasi yang dijalankan pada yayasan Kahapi

berlangsung selama enam bulan. Berupa program detoksifikasi

berlangsung selama 7-10 hari. Program konseling berlangsung

sekali dalam seminggu selama 1 jam diruang konseling. Terapi

kelompok berlangsung 2x1 minggu selama 30 menit. Program

pendidikan dan latihan berlangsung selama 2x1 minggu selama 1

jam. Program rekreasi berlangsung sekali setahun selama tujuh hari

di tempat tempat indah. Program psikologis sekali seminggu selama

satu jam. Program Vokasional dilakukan setiap hari selam 1 jam.

Program pelayanan sosial berupa kegiatan gotong royong dan

musyawarah sekali seminggu.

BAB III
METODE DAN LANGKAH YANG DILAKUKAN
A. Desain Penyuluhan
Metode komunikasi yang digunakan berupa penyuluhan pada remaja kelas
VII dan VIII di SMP Sunan Giri Salatiga. Media atau saluran komunikasi yang
digunakan adalah slide power point melalui Laptop.

B. Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni tahun 2018 di SMP Sunan Giri,
Kelurahan Ledok, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga.

C. Penanggung Jawab
Penanggung jawab dari kegiatan ini terdiri dari dokter internsip dan
petugas PKM Cebongan.

D. Pelaksanaan Kegiatan
Kegiatan : Penyuluhan tentang Infeksi Menular Seksual mencakup
etiologi, tanda, gejala, penanggulangan dan
pencegahannya serta komplikasinya.
Tujuan : Meningkatkan kesedaran dan pengetahuan tentang
bahaya Infeksi Menular Seksual
Peserta : 120 orang
Waktu : Rabu dan Kamis, tanggal 30-31 Mei 2018, pukul 09.00-
12.00 WIB
Metode : Pemberian materi melalui slide presentasi dengan Ms.
Power Point yang berisi materi Infeksi Menular
Seksual.
Penanggung Jawab : Dokter internsip dan petugas PKM Cebongan

E. Monitoring dan Evaluasi


Kegiatan pemberian edukasi ke masyarakat dalam bentuk penyuluhan
seperti ini dilakukan secara rutin oleh Puskesmas Cebongan, Salatiga sebagai
upaya promosi kesehatan dan sarana tukar informasi guna terwujudnya
penurunan angka kejadian penggunaan NAPZA khususnya di kota Salatiga.
Penyuluhan kali ini dilakukan pada tanggal 30-31 Mei 2018, bertempat di
aula SMP Sunan Giri Salatiga dan dihadiri oleh ± 120 siswa dan siswi.
Tujuan dilakukannya kegiatan ini adalah untuk memberikan edukasi dan
meningkatkan kesadaran terhadap masyarakat khususnya remaja tentang
NAPZA sebagai langkah awal pencegahan peningkatan angka penggunaan
NAPZA di Kota Salatiga.
Saat pemberian penyuluhan, peserta menyimak dengan tenang dan
terlihat antusias. Selama sesi diskusi, banyak dari peserta yang bertanya.
Adapun beberapa pertanyaan yang diajukan oleh peserta:
1. Apa bahaya merokok?
2. Bagaimana ciri pengguna NAPZA?
3. Apakah pecandu narkoba dapat diobati?
4. Siapa saja yang beresiko tinggi sebagai pengguna NAPZA?
5. Mengapa seseorang bisa menggunakan NAPZA?
Monitoring dan evaluasi dilakukan dengan pengecekan pemahaman
peserta penyuluhan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar
materi yang telah disampaikan. Pertanyaan dijawab dengan benar oleh peserta
penyuluhan merupakan bukti keberhasilan bahwa penyuluhan yang dilakukan
mampu diterima dan dipahami oleh peserta. Dengan adanya pemahaman
tersebut diharapkan mampu menjadi lini pertama sebagai upaya pencegahan
meningkatnya angka kejadian penggunaan NAPZA di kota Salatiga.
Proses penyuluhan berjalan lancar, sesuai dengan tujuan penyuluhan.
Para peserta berusaha untuk memahami materi, memanfaatkan sesi diskusi
dengan baik dan banyak dari peserta yang bertanya. Penyuluhan dimulai
pukul 9.00-12.00 dan ditutup dengan ucapan terima kasih kepada pihak SMP
Sunan Giri sebagai objek penyuluhan, penyerahan kenang-kenangan, foto
bersama dan diakhiri dengan pembacaan doa bersama-sama.
Target pemberian pengetahuan kepada siswa dan siswi SMP Sunan Giri
Salatiga sudah tercapai dan semoga menambah pengetahuan tentang NAPZA
mencakup definisi, macam, tanda dan gejala, pencegahan, serta
penanggulangan.
F. Dokumentasi
DAFTAR PUSTAKA

1. Adi Sularsito & Djuanda Suria. Dalam : Djuanda Adhi,editor. Ilmu Penyakit
Kulit dan Kelamin. Edisi keenam. Dermatitis. Jakarta: Badan Penerbit
Fakultas Kedokteran dan Kesehatan ; 2010. Hal. 138-147.
2. Daili FS, Indriatmi W, dkk. Editor. Pedoman Nasional Penanganan Infeksi
Menular Seksual. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI. 2011.
3. Daill SF, Makes WIB, Zubier F. Infeksi Menular Seksual. Edisi keempat.
Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2011.
4. KEMENKES RI. Program Pengendalian HIV/AIDS dan PIMS di Faskes
Tingkat Pertama, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta 2016.
5. KEMENKES RI. Laporan Perkembangan HIV/AIDS dan PIMS, Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, 2016
6. KEMENKES RI. Buku Pedoman Penanganan Infeksi Menular Seksual,
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, 2016
7. United Nations Joint Programme on HIV$/AIDS and World Health
Organization. Report of the global AIDS epidemic. Joint United Nations
Programme on HIV/AIDS/ UNHCR/ UNIOCEF/ WFP/ UNDP/
UNFPA/UNESC0/ WHO/ WORLD BANK. Geneva. 2006