Anda di halaman 1dari 9

Kesehatan dan keselamatan kerja

Penanganan Limbah Kimia

OLEH : 1. Ghaitsa zahira sopha yusuf


2. Saskia Chairunnisa
3. Agustian Arafat
4. Nursinta Hilala

Politehnik Kesehatan Kemenkes Gorontalo


2018-2019
A. Pengertian Pengelolaan Limbah Laboratorium
Pengelolaan Limbah Laboratorium adalah bagaimana buangan yang berasal
dari laboratorium dapat di kelola supaya tidak mencemari lingkungan dan
menimbulkan berbagai penyakit. Dalam jumlah tertentu dengan kadar tertentu,
kehadirannya dapat merusakkan kesehatan bahkan mematikan manusia atau
kehidupan lainnya sehingga perlu ditetapkan batas-batas yang diperkenankan
dalam lingkungan pada waktu tertentu.(1)
B. Proses pengolahan limbah secara kimia dapat dilakukan dengan
berbagai proses antara lain :
a. Netralisasi
Netralisasi adalah reaksi antara asam dan basa menghasilkan air dan garam. Dalam
pengolahan air limbah, pH diatur antara 6,0 – 9,5. Di luar kisaran pH tersebut, air
limbah akan bersifat racun bagi kehidupan air, termasuk bakteri.
Jenis bahan kimia yang ditambahkan tergantung pada jenis dan jumlah air limbah
serta kondisi lingkungan setempat. Netralisasi air limbah yang bersifat asam dapat
menambahkan Ca(OH)2 atau NaOH, sedangkan bersifat basa dapat menambahkan
H2SO4, HCl, HNO3, H3PO4, atau CO2 yang bersumber dari flue gas.
Netralisasi dapat dilakukan dengan dua system, yaitu: batch atau continue,
tergantung pada aliran air limbah. Netralsasi system batch biasanya digunakan jika
aliran sedikit dan kualitas air buangan cukup tinggi. Netralisasi system continue
digunakan jika laju aliran besar sehingga perlu dilengkapi dengan alat kontrol
otomatis.
b. Presipitasi
Presipitasi adalah pengurangan bahan-bahan terlarut dengan cara penambahan
bahan - bahan kimia terlarut yang menyebabkan terbentuknya padatan – padatan.
Dalam pengolahan air limbah, presipitasi digunakan untuk menghilangkan logam
berat, sufat, fluoride, dan fosfat. Senyawa kimia yang biasa digunakan adalah lime,
dikombinasikan dengan kalsium klorida, magnesium klorida, alumunium klorida,
dan garam - garam besi.
Adanya complexing agent, misalnya NTA (Nitrilo Triacetic Acid) atau EDTA
(Ethylene Diamine Tetraacetic Acid), menyebabkan presipitasi tidak dapat terjadi.
Oleh karena itu, kedua senyawa tersebut harus dihancurkan sebelum proses
presipitasi akhir dari seluruh aliran, dengan penambahan garam besi dan polimer
khusus atau gugus sulfida yang memiliki karakteristik pengendapan yang baik
Pengendapan fosfat, terutama pada limbah domestik, dilakukan untuk mencegah
eutrophication dari permukaan. Presipitasi fosfat dari sewage dapat dilakukan
dengan beberapa metode, yaitu penambahan slaked lime, garam besi, atau garam
alumunium.
c. Koagulasi dan flokulasi
Proses koagulasi dan flokulasi adalah konversi dari polutan-polutan yang
tersuspensi koloid yang sangat halus didalam air limbah, menjadi gumpalan-
gumpalan yang dapat diendapkan, disaring, atau diapungkan.
Partikel koloid sangat sulit diendapkan dan merupakan bagian yang besar dalam
polutan serta menyebabkan kekeruhan. Untuk memisahkannya, koloid harus
diubah menjadi partikel yang berukuran lebih besar melalui proses koagulasi dan
flokulasi. Koagulasi dann flokulasi dapat dilakukan melalui beberapa tahapan
proses, yaitu:
1) Penambahan koagulan/flokulan disertai pengdukan dengan kecepatan tinggi
dalam waktu singkat.
2) Destabilsasi dari system koloid
3) Penggumpalan partikel yang telah mengalami destabilsasi sehingga terbentuk
microfloc.
4) Penggumpalan lanjutan untuk menghasilkan macrofloc yang dapat
diendapkan, disaring, dan diapungkan.
Destabilisasi biasanya dilakukan dengan penambahan bahan-bahan kimia yang
dapat mengurangi daya penolakan karena mekanisme pengikatan dan absobsi.
Berkurangnya daya penolakan biasanya akan diikuti dengan penggumpalan koloid
yang telah netral secara elektrostatik, yang akan menghasilkan berbagai gaya yang
bekerja di antara partikel hingga terjadi kontak satu sama lain.
· Koagulasi
Secara garis besar, hal-hal penting mengenai proses koagulasi dapat diringkaskan
sebagai berikut:
a. Koagulasi bertujuan untuk membuat gumpalan-gumpalan yang lebih besar
dengan penambahan bahan-bahan kimia, misalnya Al2SO4, Fe2Cl3, Fe2SO4,
PAC, dan sebagainya.
b. Dasar-dasar perencanaan koagulasi adalah sebagai berikut:
1. Untuk kemudahan operasi dan perawatan, di gunakan inline mixer
2. Waktu tinggal untuk reaksi adalah 30 detik – 2 menit
3. Flash mixer digunakan dengan kecepatan 250 rpm atau lebih
4. Mixer yang digunakan dapat berupa mixer jenis turbine a propeller
5. Bahan shaft adalah baja tahan karat
6. Penggunaan bahan kimia bervariasidari 50 ppm – 300 ppm
7. Sangat disarankan untuk melakukan percobaan laboratory terlebih dahulu
8. Jenis dosing pump yang digunakan adalah positive displacem (screw,
membrane, peristaltic).
· Flokulasi
Secara garis besar, hal-hal penting mengenai proses flokulasi dapat diringkaskan
sebagai berikut:
a. Flokulasi bertujuan untuk membuat gumpalan yang lebih besardan pada
gumpalan terbentuk selama koagulasi dengan penambahan polimer, misalnya
polimer kationik dan anionic yang beredar dipasar dengan nama – nama alliwd
koloid, praestol, kurifloc, dan diafloc.
b. Dasar – dasar perencanaan untuk flokulasi adalah sebagai berikut.
1 Untuk kemudahan pengoperasian dan perawatan, digunakan sta mixer
2 Waktu tinggal untuk reaksi biasanya antara 20 – 30 menit
3 Slow mixer digunakan dengankecepatan antara 20 -60 rpm
4 Jenis impeller dapat berupa paddle atau turbine
5 Materi shaft sebaiknya baja tahan karat
6 Penggunaan bahan kimia antara 2 mg -5 mg / liter
7 Sangat disarankan untuk melakukan percobaan laboratorium terlebih dahulu
8 Jenis dosing pump yang digunakan adalah positive displaceme (screw,
membrane, peristaltic). (2)

c. JENIS-JENIS LIMBAH BERACUN


1. Limbah mudah meledak, adalah limbah yang melalui reaksi kimia dan
dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan
cepat dapat merusak lingkungan.
2. Limbah mudah terbakar, adalah limbah yang bila berdekatan dengan api,
percikan api, gesekan atau sumber nyala lain akan mudah menyala atau
terbakar dan bila telah menyala akan terus terbakar hebat dalam waktu
lama.
3. Limbah reaktif, adalah limbah yang menyebabkan kebakaran karena
melepas atau menerima oksigen atau limbah organik peroksida yang
tidak stabil dalam suhu tinggi.
4. Limbah beracun, adalah limbah yang mengandung racun yang berbahaya
bagi manusia dan lingkungan.
5. Limbah yang menyebabkan infeksi, adalah limbah laboratorium yang
terinfeksi penyakit atau limbah yang mengandung kuman penyakit,
seperti bagian tubuh manusia yang diamputasi dan cairan tubuh manusia
yang gterkena infeksi.
6. Limbah yang bersifat korosif, adalah limbah yang menyebabkan iritasi
pada kulit atau mengkorosikan baja, yaitu memiliki Ph sama atau kurang
dari 2,0 untuk limbah yang bersifat asam dan lebih besar dari 12,5 untuk
yang bersifat basa. (3)

D. Bentuk limbah klinis bermacam-macam dan berdasarkan potensi yang


terkandung di dalamnya dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Limbah benda tajam adalah objek atau alat yang memiliki sudut tajam, sisi,
ujung atau bagian menonjol yang dapat memotong atau menusuk kulit seperti
jarum hipodermik, perlengkapan intravena, pipet pasteur, pecahan gelas, pisau
bedah. Semua benda tajam ini memiliki potensi bahaya dan dapat menyebabkan
cedera melalui sobekan atau tusukan. Benda-benda tajam yang terbuang mungkin
terkontaminasi oleh darah, cairan tubuh, bahan mikrobiologi, bahan beracun atau
radio aktif.
2. Limbah infeksius mencakup pengertian sebagai berikut: Limbah laboratorium
yang berkaitan dengan pemeriksaan mikrobiologi dari poliklinik. Limbah jaringan
tubuh meliputi organ, anggota badan, darah dan cairan tubuh. Limbah sitotoksik
adalah bahan yang terkontaminasi atau mungkin terkontaminasi dengan obat
sitotoksik selama peracikan, pengangkutan atau tindakan terapi sitotoksik. Limbah
farmasi ini dapat berasal dari obat-obat kadaluwarsa, obat-obat yang terbuang
karena batch yang tidak memenuhi spesifikasi atau kemasan yang terkontaminasi,
obat-obat yang dibuang oleh pasien atau dibuang oleh masyarakat, obat-obat yang
tidak lagi diperlukan oleh institusi bersangkutan dan limbah yang dihasilkan
selama produksi obat- obatan.
3. Limbah kimia adalah limbah yang dihasilkan dari penggunaan bahan kimia
dalam tindakan medis, veterinari, laboratorium, proses sterilisasi, dan riset.
4. Limbah radioaktif adalah bahan yang terkontaminasi dengan radio isotop yang
berasal dari penggunaan medis atau riset radio nukleida. Selain sampah klinis, dari
kegiatan penunjang laboratorium, juga menghasilkan sampah nonklinis atau dapat
disebut juga sampah non medis. Sampah non medis ini bisa berasal dari
kertas,(berupa karton, kaleng, botol), sampah dari praktikan, sisa makanan
buangan; sampah dapur (sisa pembungkus, sisa makanan/bahan makanan, sayur
dan lain-lain). Limbah cair yang dihasilkan Laboratorium mempunyai karakteristik
tertentu baik fisik, kimia dan biologi. Limbah laboratorium, tingkat pengolahan
yang dilakukan sebelum dibuang dan jenis sarana yang ada (laboratorium, klinik
dll). Tentu saja dari jenis-jenis mikroorganisme tersebut ada yang bersifat patogen.
Limbah laboratorium seperti halnya limbah lain akan mengandung bahan-bahan
organik dan anorganik, yang tingkat kandungannya dapat ditentukan dengan uji air
kotor pada umumnya seperti BOD, COD, pH, mikrobiologik, dan lain-lain.
Perlindungan terh adap bahaya pencemaran dari manapun juga perlu diberikan
perhatian khusus. Sehubungan dengan hal tersebut, pengelolaan limbah
laboratorium yang merupakan penunjang untuk diagnose kesehatan, juga
mempunyai tujuan untuk melindungi masyarakat dari bahaya pencemaran
lingkungan yang bersumber dari limbah laboratorium infeksius, perlu diupayakan
bersama oleh unsur-unsur yang terkait dengan penyelenggaraan kegiatan belajar di
Laboratorium. Unsur-unsur tersebut meliputi antara lain sebagai berikut :
a. Penanggung Jawab Laboratorium
b. Para ahli pakar dan lembaga yang dapat memberikan saran-saran
c. Para pengusaha dan swasta yang dapat menyediakan sarana fasilitas yang
diperlukan.
Oleh karena itu, kiranya dianggap perlu untuk membahas mengenai
pengelolaan limbah khususnya di laboratorium guna tidak berdampak negatif bagi
masyarakat maupun lingkungan disekitarnya. (4)
DAFTAR PUSTAKA :

Nurfadhilah A, dkk. 2016 PENGELOLAAN LIMBAH LABORATORIUM

https://iis12maspupah.blogspot.com/2016/05/makalah-pengelolaan-limbah-laboratorium.html (25)

wijayanti A, dkk. 2014. pengolahan limbah. Makalah.

https://plus.google.com/114318324787521505595/posts/jKnYjpc7Sqg (25)

fajriani N, dkk. 2017. Penanganan limbah kimia. Makalah.


http://www.academia.edu/30699021/PENANGANAN_LIMBAH_KIMIA. (25)

Nurfadhilah A, dkk. 2016 PENGELOLAAN LIMBAH LABORATORIUM

https://iis12maspupah.blogspot.com/2016/05/makalah-pengelolaan-limbah-laboratorium.html
(25)