Anda di halaman 1dari 8

RESUME MATA KULIAH ETIKA BISNIS

CHAPTER 4 PENGAMBILAN KEPUTUSAN YANG ETIS

Disusun oleh :
KELOMPOK 12 MANAJEMEN B

Azhar Adhi Pratama F0215024


Desi Kurnia Ramadhan F0217058
Inas Nurfadia Futri F0217053

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2018
Pendahuluan

Pada bab ini akan menjelaskan bagimana kita harus bertindak etis dalam
kejadian yang ada pada kejadian sehari-hari kita dan dalam konteks bisnis. Dimulai
dari memeriksa berbagai macam elemen yang terlibat dalam keputusan-keputusan
yang terlibat dalam pengambilan keputusan seseorang dan menerapkan konsep
tersebut dalamkeputusan-keputusan yang dibuat individu-individu setiap hari dalam
bisnis. Dan juga bab ini meninjau berbagai macam cara dimana pengambilan
keputusan etis dapat berjalan dengan buruk dan juga cara dimana para pimpinan
bisnis yang efektif dapat memberikan contoh keputusan eetis yang paling baik.

Sebuah Proses Pengambilan Keputusan untuk Etika


Dalam membuat sebuah proses pengambilan keputusan yang etis (ethical
decision-making rpocess) mungkin langkah pertama dalam pengambilan keputusan
yang bertaanggung jawab secara etis adalah menemukan fakta-fakta dalam situasi
yang terjadi. Perbedaan persepsi (perceptual differences) dalam bagaimana sesorang
mengalami dan memahami situasi dapat menjelaskan banyak perdebatan etis. Dengan
mengetahui fakta-fakta dan meninjau secara cermat keadaannya akan memberikan
kemudahan dalam memecahkan perselisihan pendapat pada tahap awal. Namun,
sebuah penilaian yang etis dibuat berdasarkan penentuan yang cermat atas fakta-fakta
yang ada merupakan sebuah penilaian yang etis yang dinilai lebih masuk akal
daripada penilaian yang dibuat tidak berdasarkan fakta-fakta. Langkah kedua dalam
pengambilan keputusan etis yang bertanggung jawab mensyaraktan kemampuan
untuk mengenali sebuah keputusan atau permasalahan sebagai sebuah keputusan etis
atau permasalahan etis.Dalam konteks bisnis, merupakan suatu hal yang mudah untuk
terpengaru dan terfokus pada aspek finansial dari pengambilan sebuah keputusan
sehingga seringkali luput dari pengamatan seseorang dengan sebutan miopo normatif
(normative myopia) atau penglihatan sempit terhadap nilai-nilai.
Langkah ketiga yakni mengidentifikasi dan mempertimbangkan semua pihak
yang dpengaruhi oleh sebuah keputusan, orang-orang ini biasa disebut dengan “para
pemegang/pemangku kepentingan (stakeholders). Mempertimbangkan hal lain dengan
tidak hanya memandang dari sudut pandang kita akan membantu kita untuk membuat
keputusan yang lebih masuk akan dan bertanggung jawab. Untuk berlatih melakukan
hal tersebut yakni dengan mencoba untuk mengubah peran sesorang. Sebuah tradisi

1|Pengambilan Keputusan yang Etis


lama dalam etika filosofis menyatakan bahwa menguji legitimasi etis adalah dengan
melihat apakah sebuah keputusan diterima dari semua sudut pandang pihak yang
terlibat. Jika semua yang terlibat dianggapkan sebagai keputusan yang sah, maka
keputusan tersebut juga sudah dianggap sebagai keputusan adil, indenpenden, dan
etis.
Kenyataan bahwa banyak keputusan bisnis melibatkan kepentingan sebagai
pemegang kepentingan membantu kita memahami tantangan utama dalam
pengambilan keputusan yang etis. Mengambil keputusan untuk menguntungkan suatu
kelompok seringkali berarti bahwa kelompok pemegang kepentingan lainnya
dirugikan. Setelah kita meninjau fakta-fakta, mengamati isu-isu etis yang terlibat, dan
mengidentifikasi para pemegang kepentingan, kita perlu mempertimbangkan
alternatif-alternatif yang tersedia. Kreativitas dalam mengidentifikasi pilihan-pilihan
yang juga disebut dengan “imajinasi moral” (imagination moral) adalh suatu elemen
yang membedakan antara orang yang baik yang mengambil keputusan etis dengan
orang baik yang tidak melakukan hal tersebut.
Langkah selanjutnya dalam proses pengambilan keputusan adalah
mengevaluasi dampak tiap alternatif yang telah dipikirkan terhadap masing-masing
pemegang kepentingan yang telah anda identifikasi. Dengan mempertimbangkan
alternatif-alternatif itu akan melibatkan prediksi konsekuensi yang kemungkinan
besar, yang dapat diduga, dan yang mungkin akan menimpa semua pemegang
kepentingan yang terkait. Beberapa alternatif mungkin mempertimbangkan hal-hal
yang menyangkut prinsip-prinsip, hak-hak, dan kewajiban-kewajiban yang
mengesampingkan konsekuensi-konsekuensi.
Salah satu faktor tambahan dalam membandingkan dan memperimbangkan
alternatif-alternatif mengharuskan adanya pertimbangan akan dampak dari sebuah
keputusan terhadap integritas dan karakter kita sendiri. Bagaimana pun juga, kita
tidak bisa mengakhiri pengambilan keputusan dengan hanya yang menjadi
kewenangan kita saja, namun setelah mempelajari ini, kita diharapkan akan memiliki
kemampuan untuk bertanggung jawab kemudian mengevaluasi implikasi dari
keputusan yang diambil, memantau dan belajar dari hasil dan memodifikasi tindakan
kita berdasarkan pengalaman tersebut ketika dihadapkan dengan sebuah tantangan
serupa.
Ketika Pengambilan Keputusan yang Etis Tidak Berjalan Baik:
Mengapa Orang “Baik” melakukan tindakan yang “Buruk”?
Terdapat berbagai cara dimana pengambilan keputusan yang bertanggung
jawab tidak berjalan dengan baik dan banyak cara dimana orang gagal untuk
bertindak sesuai dengan keputusan yang etis yang mereka buat. Kita tidak boleh
meremehkan kemungkinan nyata dari pilihan tidak bermoral dan berperilaku tidak
etis. Individu yang berperilaku tidak etis mungkin memiliki berbagai alasan atas
tindakan tersebut. Yang pada akhirnya menyebabkan banyak batu sandungan dalam
pengambilan keputusan dan perilaku yang bertanggung jawab.
Beberapa batu sandungan terhadap tindakan yang bertanggung jawab bersifat
kognitif atau intelektual. Misalkan, jenis ketidaktahuan tertentu dapat mengakibatkan
keputusan yang tidak etis. Rintangan kognitif lainnya adalah bahwa terkadang kita
hanya mempertimbangkan alternatif-alternatif yang terbatas. Ketika berhadapan
dengan sebuah situasi yang memiliki dua alternatif pemecahan yang jelas, terkadang
kita hanya mempertimbangkan dua jalan keluar yang jelas, sehingga melupakan
kenyataan kemungkinan adanya alternatif lain.
Pada umumnya, kita juga lebih nyaman dengan aturan keputusan yang
sederhanakan. Sebuah aturan keputusan yang sederhana memberikan ketenangan
bagi banyak pengambil keputusan. Kita juga terkadang memilih alternatif yang
memenuhi kriteria keputusan yang minimal, dikenal juga dengan istilah “satisficing”
(memuaskan). Kita memilih pilihan yang mencukupi, pilihan yang dapat diterima oleh
manusia, walaupun mungkin itu bukan yang terbaik. Batu sandungan lainnya tidak
bersifat kognitif atau intelektual akan tetapi berkaitan dengan motivasi dan keinginan
yang kuat. Membuat keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan secara etis
sepajang hidup seseorang mungkin merupakan tantangan paling serius yang dihadapi
semua orang. Hal yang paling mudah adalah dengan bersikap pasif dan hanya
menyesuaikan diri dengan ekspetasi sosial dan budaya, “mengikuti arus”. Untuk
menjalani kehidupan yang berarti, kita harus mundur sejenak dan memirkirkan
keputusan kita, mengansumsikan tanggung jawab sebagai makhluk yang otonom.

Pengambilan Keputusan yang Etis dalam Peran Manajerial


Lingkungan dapat mempengaruhi suatu pengambilan keputusan. Dalam dunia
bisnis, terkadang konteks organisasi mempersulit kita untuk bertindak secara etis.
Para individu harus mempertimbangkan implikasi etis dari pengambilan keputusan
pribadi dan profesional.

Dalam konteks bisnis, para individu mengisi peran sebagai karyawan,


manajer, eksekutif senior, dan anggota dewan. Mereka memiliki kemampuan untuk
menciptakan dan membentuk konteks organisasi di mana semua karywan mengambil
keputusan. Dengan demikian, mereka memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan
pengaturan organisasi yang mendorong perilaku etis dan menekan perilaku tidak etis.

Apakah Kecurangan Itu?

Kecurangan terjadi ketika seseorang memperoleh kesempatan yang tak wajar.


Plagiasi merupakan salah satu bentuk kecurangan. Hal tersebut terjadi ketika
seseorang mengatasnamakan hasil kerja orang lain sebagai miliknya dengan cara
menggunakan perkataan atau ide orang lain tanpa menyebutkan sumbernya. Jika kita
sebagai masyarakat memaafkan perilaku ini, secara eksplisit maupun implisit, dengan
tidak mengakhirinya, hal ini akan mempersulit kita untuk mempertahankan
masyarakat yang bersemangatdan bertanggung jawab sebagai orang dewasa.

Mengapa Saya Harus Peduli?

Masalahnya lebih rumit dari yang diperkirakan: para mahasiswa tidak dapat
diajarkan etika jika mereka tidak ingin mempelajarinya –dan kemauan untuk belajar
ini harus ditanamkan lebih mendalam dari yang disyaratkan oleh sebuah program
studi. Agar pengajaran etika bisnis berhasil, para mahsiswa harus memulai dengan
perangkat-perangkat mereka sendiri. Nilai-nilai tidak dipelajari di kelas, tetapi
dipelajari seiring berjalannya waktu. Anak-anak membangun perasaannya atas apa
yang “benar” atau “salah” sesuai dengan yang mereka pelajari di rumah dari orang tua
mereka, yang diajarkan guru agama mereka, dan apa yang dilihat dari lingkungan
sekitarnya.

Apa Saja yang Dilakukan oleh Orang Lain?

Sebagai contoh, di sebuah universitas di negara asing menerapkan sebuah


sistem kehormatan. Sistem ini mengaharuskan anggotanya untuk mematuhi aturan
yang ada yaitu tidak boleh berbohong, curang, dan mencuri. Bagi yang melanggar
akan dikenai sanksi untuk keluar dari tempat tersebut. Langkah tersebut cukup
ekstrim, akan tetapi tidak menutup kemungkinan masalah-masalah tersebut selesai.
Hanya saja, tingkat kecurangan di universitas berkurang secara signifikan jika
menerapkan hal ini.

Apa yang Dapat Saya Lakukan?

Langkah penting pertama adalah meninggalkan pernyataan “itu hanya


sekolah”. Hal itu bukan “hanya sekolah”. Bagaimana kita bersikap di dalam ruang
kelas mempengaruhi sikap kita di lingkup yang cakupannya lebih luas daripada itu.
Ketika tidak dapat mengendalikan tindakan orang lain, kita dapat mengdalikan
tindakan sendiri. Jika memilih untuk berbuat curang, maka kita perlu sadar bahwa
segalanya memiliki konsekuensi bahkan jika kita tidak pernah “tertangkap” sekalipun.

Langkah kedua melibatkan tindakan utnuk memutuskan sejauh mana toleransi


dan penerimaan kita terhadap tindakan orang lain. Bahkan jika kita memutuskan
untuk tidak melaporkan tindakan curang tersebut, permasalahannya adalah apa reaksi
kita ketika persoalan terjadi.

Etika Individu versus Etika Kelompok

Beberapa organisasi memilliki nilai-nilai yang melampaui nilai-nilai pribadi


para manajer mereka, nilai-nilai semacam itu yang diterapkan tidak hanya pada
profitabilitas saja, biasanya muncul ketika organisasi sedang berada di bawah tekanan.
Umumnya orang-orang yang ada di orrganisasi akan menerima karena nilai-nilai
tersebut tidak disajikan sebagai perintah yang kaku, melainkan suatu hal yang ambigu.

Organisasi yang tidak memiliki warisan nilai-nilai yang dterima dan dibagi
bersama-sama cenderung menjadi tidak seimbang ketika di bawah tekanan, karena
setiap orang menyelamatkan dirinya masing-masing. Dalam upaya pengambilalihan
terkenal, perusahaan-perusahaan yang memiliki budaya kuat berani menghadapi
tantangan dan melawannya.

Kata etika banyak diacuhkan dan semakin membingungkan. Sampai saat ini
gagasan mengenai nilai-nilai bersama dan sebah proses berdasarkan kesepakatan
untuk menangani keragaman dan perubahan terlihat sebagai inti dari masalah etis.
Orang-orang yang tehubung dengan keyakinan inti mereka dan keyakinan orang lain
serta mempertahankannya dapat hidup lebih nyaman dalam kondisi yang terdepan.

Oleh karena itu, etika bisnis berkaitan dengan keotentikan dan integritas
perusahaan. Untuk menjadi etis adalah dengan mengikuti tujuan bisnis dan juga
kultural perusahaan, pemiliknya, pegawainya, dan pelanggannya. Orang yang tidak
dapat menjalankan visi perusahaan bukanlah pebisnis yang sebenarnya dan, karenanya
tidak etis dalam pandangan bisnis.

Kapan Kita Mengambil Sikap?

Pertanyaan mendasar yang terus diajukan adalah “kapan kita mengambil suatu
sikap?”. Kapan kita mempersilahkan orang lain untuk mencampuri kehidupan
keseharian kita? Hanya beberapa dari kita yang dapat menyediakan waktu dan upaya
untuk mengurusi setiap orang yang sedang dalam kesulitan yang kita temui. Berapa
banyak pengorbanan yang secara pribadi kita berikan? Dan bagaimana kita
mempersiapkan organisasi dan institusi kita sehingga mereka dapat memberikan
respon yang tepat dalam suatu krisis? Bagaimana kita memengaruhi mereka jika kita
tidak setuju dengan sudut pandang merek?

Perilaku luar kepala,gangguan,dan hambatan pengecualian moral


dari perlikau etis dalam pekerjaan

Berita terpenuhi dengan tindakan para penjahat perusahan. Petugas di lincoln


savings dan loan telah menggelapkan ribuan dolar dari tabungan pensiun para nasabah
mereka. Jgua ada berita mengenai para manajer time warner yang terlihat melakukan
sebaliknya ketimbang melepaskan jutaan dolar dari penjualan musik rap dengan lagu
yang mendukung kekerasan terhadap perempuan dan polisi. Namun tidak semua
kelakuan buruk perusahaan dilakukan oleh orang jahat. Bagi kita yang peduli dengan
perbuatan etis dan tidak hanya sekdar niat yang baik permasalahnya sudah jelas.

Skrip

Salah satu faktor nya adalah skrip. Istilah ini merujuk pada prosedur dalam
menangani suatu siutasi berdasarkan pengalaman. Tidak seperti pengalaman yang
lain,skrip disimpan dalam ingatan secara refleks dan di luar kepala. Salah satu
kesalahan etis yang dihubungkan dengan skrip adalah kegagalan ford motor co. Untuk
menarik pinto 1970. Pinto adalah mobil dengan kecacatan dalam rancangan yang
tidak terdeksi. Yang menimbulkan kebakaran pada tangki bensin Hal ini sering terjadi
dalam dunia kerja. Pekerjaan yang berulangmembutuhkan kewaspadaan untuk
menghindari kesalahan etis. Ketika ada pengulangan,kemungkinan besar ada skrip.
Dengan demikian cara terbaik untuk menghilangkan potensi skrip yang berakibat
pada perilaku yang tidak etis adalah dengan menjauhkan dengan situasi yang
memiliki tingkat pengulangan tinggi.

Gangguan gangguan

Skrip adalah jalan pintas kognitif yang mengambil alih pemikiran yang
cermat,kecenderungan manusia yang serupa itu adalah perlakuan kita mengabaikan
gangguan. Ketidakperhatian terhadap apa yang terjadi ini dapat menyeret kita kita
dalam masalah dengan pasangan kita dan orang orang penting lainnya,dan itu juga
dapat mengabaikan kesalahan etis.

Ketidak pedulian mengenai gangguan dalam pekerjaan kebanyakan terjadi


ketika para pegawai dengan cara terbatas dalam mendapatkan perspektif didorong
untuk fokus dan tergerak. Cara terbaik untuk melawan kecenderungan ini dengan
memberikan model pengendalian diri yang dilakukan oleh manajer senior.

Pengecualian moral

Masalah terakhir yang mengeluarkan kejelekan orang orang baik adalah


kecenderungan manusia untuk untuk secara moral mengecualikan orang tertentu. Hal
ini terjadi ketika orang atau kelompok dipresepsikan berada diluar batasan dari
lingkup dimana nilai dan pertimbangan tentang keadilan berlaku. Salah satu bentuk
pengecualian adalah dalam penggunaan kata ganti.

Sehingga tidak mengejutkan salah satu cara untuk memerluas jangkauan


keadilan dengan mendorong kontak langsung dengan orang orang yang secara moral
dikecualikan. Program pilot ini mencakup 1000 karyawan esai tak lama bahkan
personel pendukung laboratorium pun harus meninggalkan bangku dan meja kerna
mereka untuk bertemu secara rutin para apoteker dan orang sakit