Anda di halaman 1dari 158

Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum membaca novel ini :

 Cerita ini terinspirasi dari anime ―Kuroshitsuji‖. Karena saya sangat menyukai anime
tersebut, saya mencoba untuk membuat cerita yang hampir mirip temanya, namun berbeda
jalan cerita dan konsepnya.
 Nama-nama dalam cerita ini banyak berasal dari novel-novel yang pernah saya baca (tapi,
ada juga yang dari anime, termasuk nama Teresa, Cloud, dan Alicia).
 Cerita ini tidak mengisahkan kisah di tahun tertentu. Jadi, tidak ada unsur tahun di sini.
 Cerita ini juga tidak menentukan di mana tempat-tempat yang diceritakan.
 Cerita ini adalah re-write atau tulis ulang dari cerita sebelumnya yang terhapus secara tidak
sengaja dari computer saya.
 Cerita ini, tentu saja, hanya fiksi. Tidak ada sangkut-pautnya dengan cerita-cerita nyata atau
semacamnya.
 Mungkin Anda akan sedikit, atau sangat tidak nyambung dengan cerita ini. Harap
dimaklumi karena saya baru belajar membuat novel fiksi bergenre fantasi. Jadi, bila ada
kesalahan mohon dimaafkan.
 Silakan kirimkan saran, kritik, dan komentar ke : kireiputri97@yahoo.co.id
Penjelasan Mengenai Monsta yang Muncul Dalam Cerita Ini :

 Teresa & Cloud : Monsta kembar yang terlahir sebagai pelindung Putri Kegelapan. Teresa
dan Cloud adalah Monsta terkuat ke-2 setelah Zidane Grimoire yang tidak lain adalah ayah
dari Renata. Teresa berciri-ciri memiliki rambut pirang keemasan dan bermata merah
kebiruan. Sedangkan Cloud berambut hitam legam dan juga bermata sama seperti Teresa.
Mereka berdua dijuluki ―The Twins Monsta‖ atau ―Twins Phantom‖. Teresa dan Cloud
adalah salah satu Monsta berwujud manusia. Mereka berdua terlahir sebagai pelindung
Renata semenjak gadis itu masih bayi dan ditakdirkan untuk menjadi Master dalam The
Fantasy Area.
 Regald : Regald adalah Monsta milik Darren Anderson, tunangan Renata. Regald adalah
Monsta pelindung keluarga Anderson sekaligus Monsta berwujud manusia yang jarang di
kalangan Monsta. Regald berciri-ciri berambut pirang panjang dan bermata emas.
 Ronald Howatd : Dia adalah Monsta berwujud manusia dan juga roh yang menjaga pohon
tempat almarhum kedua orangtua Renata menaruh senjata mereka yang nantinya akan
menjadi senjata Renata. Ronald adalah jenis Monsta yang cukup ramah. Tapi, jika kau
mengatakan sesuatu yang berhubungan dengan kebohongan, dia akan langsung
menusukmu dengan jarum tipis beracun miliknya.
 Draco : Monsta berbentuk naga perak yang memiliki kulit bagaikan baja. Sulit untuk
menembus kulit baja yang menyelimuti tubuhnya. Hanya ada satu senjata yang bisa
menghancurkan kulit baja Draco, yaitu Azalea Sword.
 Alligator : Monsta jenis Chimera berkepala singa, berbadan ular, dan memiliki sayap
seperti burung merpati putih.
 Orphelica : Monsta berwujud wanita manusia raksasa. Matanya yang berwarna putih
ditutup dengan kain selendang hitam. Konon, jika ada orang yang menatap matanya secara
langsung, maupun tidak langsung, ia akan terkena kutukan seumur hidup. Orphelica
memiliki senjata berbentuk tombak seperti trisula. Orphelica selalu menutupi wajahnya
dengan rambutnya sehingga tidak ada yang tahu seperti apa rupa Orphelica.
 Death Rebel : Death Rebel adalah Monsta berbentuk seperti dewa kematian. Dengan
mantel panjang hitam, sabit raksasa, dan juga topeng berbentuk tengkorak manusia. Dia
adalah ―hakim‖ bagi para Monsta yang melanggar peraturan. Death Rebel sangatlah dekat
dengan Putri Kegelapan (Renata). Bahkan, senjata Bloody Rose milik Renata terbuat dari
bahan yang sama seperti yang dimiliki sabit raksasa Death Rebel.
PROLOG

Salam kenal, namaku Renata Nightblood. Usiaku 16 tahun. Ciri-ciri fisikku adalah berambut
panjang berwarna hiam lebat, bola mata berwarna biru, dan kulit putih. Yah… bisa dibilang, aku
cukup menarik, tapi sifatku tidak. Aku terkenal dingin dan kurang bergaul. Yah… itu bukan
salahku, sih. Aku hanya tidak suka mereka menanyakan kehidupan pribadiku. Jujur saja, aku tidak
suka jika mereka menanyakan itu. Ada alasan tersendiri mengapa aku begitu.

Terlepas dari sifatku yang dingin (yang kadang membuat teman-temanku, bahkan para
guru enggan berurusan denganku), aku juga dikenal jago memainkan alat music. Oke… kalian
tidak perlu bertanya apa alat music yang bisa kumainkan. Aku bisa memainkan hampir setiap alat
music. Selain hal itu, kehidupanku bisa dibilang… tidak terlalu buruk.

Di luar, aku memang anak sekolahan biasa. Sekolah bersama teman-teman (dalam artian
hanya dalam belajar kelompok. Itupun jika mereka mau), belajar pelajaran umum, bersenda gurau
(yang ini jarang kulakukan), dan sebagainya. Tapi, di dalam, aku tidak seperti itu. Aku punya
rahasia yang tidak bisa aku ungkapkan pada siapapun termasuk satu-satunya teman terdekatku.

Kalian mau tahu?

Baiklah…

Apa kalian tahu apa itu Gamer? Mungkin menurut kalian itu adalah kata dalam bahasa
Inggris yang berarti pemain.

Hampir betul.

Tapi, di sini, di dunia ini, bukan itu arti yang sebenarnya. Arti sebenarnya Gamer adalah
petarung yang akan bertarung sampai mati dalam sebuah permainan nyata bernama ―The Fantasy
Area‖. Itu adalah permainan dimana orang-orang yang sudah terdaftar dan mendapat ―kontrak‖
dengan monster (atau iblis. Kalau kalian mau menyebutnya begitu) yang disebut Monsta, harus
bertarung sampai mati untuk mendapatkan kebebasan hidupnya kembali (kebanyakan sih
memang begitu). Permainan itu sangat mengerikan karena jika orang yang tidak tahu apa-apa
tentang peraturan permainan tersebut, bermain, mereka akan mati dan seluruh keluarganya akan
mati dimakan oleh Monsta mereka sampai tidak tersisa satupun yang bisa melanjutkan permainan
tersebut sebagai pengganti si pemain yang sudah mati. Dan, setelah si Gamer dan seluruh
keluarganya meninggal (dimakan, istilah kasarnya), semua orang yang berhubungan dekat, maupun
tidak dengan si Gamer akan lupa sama sekali dengan si Gamer tersebut.

Monsta adalah monster, atau iblis, yang mengikat kontrak dengan Gamer yang bermain
dalam ―The Fantasy Area‖. Bentuk mereka kadang seperti binatang, atau manusia. Untuk jenis
Monsta manusia, itu adalah jenis yang sangat langka. Tanda kontrak antara Monsta dan Gamer
bisa dimana saja. Di tangan, di kaki, di kepala, di bagian tubuh manapun. Tanda itu sebagai ikatan
yang akan membuat sang Gamer tidak bisa lari dari Monsta-nya sampai dia memenangkan
permainan tersebut. Dan juga menjadi tanda jika si pemegang kontrak kalah dalam permainan,
mereka akan dimakan oleh Monsta-nya.

Permainan yang mengerikan yang sudah merenggut banyak nyawa. Namun disukai oleh
orang-orang. Mungkin kalian mengira ini gila. Tapi, itulah kenyataannya. Permainan itu entah
kapan sudah ada sebelum aku mengetahuinya dengan caraku sendiri. Orang-orang mengetahuinya
melalui internet, laporan harian yang diberikan setiap hari untuk melihat siapa yang terkuat di hari
itu, dan menonton langsung melalui TV. Entah bagaimana mereka bisa tahu apa itu The Fantasy
Area.

Yah… asal kalian tahu saja, aku juga seorang Gamer, secara tidak sengaja.

Sewaktu aku masih berusia 14 tahun, seseorang—bukan, dua orang berpakaian serba hitam,
menghampiriku ketika aku pulang sekolah. Pria dan wanita, dengan usia yang menurutku masih
berusia 25 tahun. Mereka mendatangiku dan berkata meminta bantuanku melakukan sesuatu. Aku
menyanggupi saja, tapi aku tidak menduga kalau aku akan dijadikan seorang Gamer ketika mereka
ternyata membawaku ke sebuah gudang tua yang terletak di pinggir kota dan memberiku tanda
kontrak di mata kananku dan membuatku pingsan. Begitu terbangun, aku sudah berganti pakaian
dengan pakaian yang tidak pernah kubayangkan akan kupakai (karena aku hidup sendiri dan tidak
mengenal keluargaku, aku harus menghidupi diriku sendiri).

Yah… jika kalian pernah menonton anime tentang seseorang yang berganti pakaian secara
ajaib, mungkin kalian bisa menebak seperti apa penampilanku saat itu. Mungkin seperti seorang
Cosplayer, karena aku mengenakan kemeja lengan pendek (bagian bahunya menggelembung) dan
juga rok lipit yang bertumpuk-tumpuk seperti gaun sebatas lutut berwarna biru tua. Di tanganku
juga tergeletak sebuah tongkat besi perak yang ketika kusentuh langsung berubah menjadi sabit
raksasa. Dan saat itu juga aku baru sadar kalau kedua orang itu adalah Monsta. Monsta manusia.

Aku mencoba membatalkan kontrak itu walau nyawaku akan dimakan mereka. Toh, aku
juga hidup sendiri sehingga tidak akan ada yang akan mati karena aku. Ya. Bisa dibilang aku
bodoh. Tapi, bukan itu. Si wanita menyela ucapanku dan berkata,

―Kami hanya ditugaskan oleh seseorang untuk menjadikanmu sebagai Gamer. Orang itu
mengharapkan kamu bisa menaklukkan permainan itu.‖ ujarnya.

―Siapa?‖

―Dia orang yang dekat denganmu.‖ Kata si pria, ―Salah seorang keluargamu.‖

Mendengar kata keluarga, aku tentu saja kaget. Aku tidak kenal siapa keluargaku. Aku
bahkan tidak ingat namaku sendiri. Ya. Aku hilang ingatan sejak berusia 12 tahun. Itulah alasan
kenapa aku tinggal sendiri. Tanpa orangtua, apalagi seorang wali.

Waktu itu, aku masih belum bisa percaya kalau salah seorang keluargaku adalah Gamer.
Tapi, aku tidak bisa memungkiri kenyataan ketika si pria menunjuk bekas luka di lengan kanan
atasku yang berbentuk tanda silang yang masih berbekas. Kenyataan bahwa mereka adalah Monsta
salah satu keluargaku dulu, aku tidak bisa menolak untuk bermain ketika mereka juga mengatakan
kalau seluruh keluargaku mati dibunuh oleh seseorang. Itu membuatku tidak bisa berkata apa-apa
lagi. Dan akhirnya aku menjadi seorang Gamer selama 2 tahun.

Selain karena aku ingin membalas dendam pada orang yang sudah membunuh keluargaku,
aku juga ingin mendapat ingatanku kembali. Selama ini, aku selalu menerima perlakuan aneh
(bukan karena sifat dinginku) dari beberapa orang yang menatap penuh rasa ingin tahu. Aku tidak
tahu kenapa, tapi aku pernah mendengar mereka menyebutku ―Gadis Yang Terpilih‖, ―Gadis
Penakluk‖, dan sebagainya.

Dan saat kedua Monsta itu memberitahuku, semua jelas dimataku. Aku adalah Gamer, si
―Gadis Terpilih‖ dan si ―Gadis Penakluk‖. Kedua Monsta yang mengikat kontrak denganku,
Cloud dan Teresa, adalah Monsta kembar terkuat yang pernah ada dalam sejarah ―The Fantasy
Area‖.

Perjuanganku menjadi yang terkuat dalam permainan itu masih berlanjut. Hingga aku bisa
membalaskan dendamku dan menemukan kembali ingatanku.
BAB 1

Aku terbangun ketika seseorang membuka tirai jendela kamarku dan menyingkapnya, membuat
sinar matahari yang mengganggu mengganggu tidurku.

―Nona,‖

―Ngghh…‖ aku bergelung di kasur, mencoba menutupi mataku dengan selimut karena
silaunya matahari.

―Nona, sudah waktunya bangun.‖ Tepukan pelan di bahuku.

―Iya… iya…‖ aku menyingkap selimutku dan menatap wajah Cloud yang terlampau bersih
dan putih untuk Monsta seperti dirinya. Dan juga Teresa.

Cloud tersenyum dan memberikanku secangkir susu hangat. Aku mengerutkan kening
ketika dia memberiku gelas berisi susu tersebut.

―Sudah kubilang, aku bukan anak kecil.‖ Kataku pelan.

―Tapi, susu bisa membuat Anda lebih tinggi.‖ Balasnya.

―Kau…‖

―Tidak baik marah-marah di pagi yang indah seperti ini, Nona.‖ Katanya menyela
perkataanku, ―Dan saya yakin, wajah Anda yang tersenyum akan membuat orang-orang tidak
berpikiran buruk tentang Anda.‖

Aku mendengus mendengar ucapannya dan dengan setengah hati menerima susu itu.

Sambil meminumnya pelan-pelan, aku memperhatikan Cloud menyingkap semua tirai


jendela di kamar ini.

Kamar besar ini memang salah satu dari ruangan sebuah rumah megah yang terletak di
pinggir kota. Cloud bilang kalau ini adalah rumahku. Rumahku yang sah. Karena itu aku bisa
menempati rumah ini. Surat-surat rumah ini juga masih ada dan lengkap, begitu juga dengan
rekening bank yang jumlahnya tidak terhitung. Semua itu adalah milik keluargaku. Aku sendiri
heran kenapa Cloud dan Teresa bisa memelihara semua ini tanpa seorang tuan (dalam artian yaitu
Gamer). Mereka hanya mengatakan kalau semua itu adalah pesan dari keluargaku. Aku tidak
mengerti maksudnya, tapi aku tidak mempermasalahkan hal itu.

Cloud tiba-tiba sudah berdiri lagi di hadapanku dengan seragam sekolahku berada di
tangannya.

Juga sebuah penutup mata untuk menutupi tanda kontrak di mata kananku.

―Sebaiknya Anda segera mandi dan bersiap-siap untuk sarapan kalau Anda ingin berangkat
ke sekolah.‖

―Aku tahu…‖

Aku meminum habis susu hangat itu dan meletakkan gelasnya di atas meja di sebelah
tempat tidurku. Dia lalu mengangkat gelas itu dan mengikutiku menuju kamar mandi.

―Siapa yang terkuat di permainan itu sekarang?‖ tanyaku sambil menutup pintu kamar
mandi ketika aku sudah berada di dalamnya. Dia menunggu diluar, tentu saja.

―Alicia Blonde, Daniel Morgan, dan… Anda, Rosalia Blood, berada di urutan 30.‖

―Oh…‖

Rosalia Blood adalah nama ―panggung‖ yang kugunakan dalam permainan tersebut.

―Urutan ke-30. Tidak buruk juga…‖

―Memang, Nona.‖ Ujar Cloud, ―Tapi kenapa Anda tidak mengeluarkan kekuatan Anda
yang sesungguhnya di permainan itu?‖

―Apa latihan untuk hari ini akan diperketat?‖ tanyaku lagi tanpa memperdulikan
ucapannya barusan.

―Tidak. Kita akan berlatih seperti biasa saja.‖

―Baguslah.‖ Aku mengedikkan bahu, walau tahu dia tidak bisa melihatnya, ―Aku ada
urusan sebentar di perpustakaan. Menjadi petugas perpustakaan selama sehari.‖
―Apa karena Anda dihukum?‖

―Kau tahu seperti apa aku.‖ Dengusku.

Dia tidak menjawab, dan aku mengira-ngira apakah dia sedang tersenyum atau menahan
tawa.

***

Setelah satu jam bersiap-siap dan juga sarapan, kini aku berada di sebuah mobil sedan mewah
silver yang dikemudikan oleh Cloud. Disebut mobil sedan mewah juga tidak tepat, karena mobil
ini sejenis limousine kelas atas, yang tidak aku sangka, juga milikku.

Perjalanan ke sekolah seringkali membuatku bosan. Aku menghabiskan waktu dengan


membaca buku pelajaran, walau aku sudah hafal dan mengerti semua penjelasan di buku tersebut.

―Nona memang selalu rajin.‖ Cloud tiba-tiba berbicara. Kurasakan dia memperhatikanku
dari kaca di dasbor.

―Tetaplah menyetir dan jangan meleng.‖ Kataku, ―Kalau tidak, kau akan mencelakakan
aku.‖

―Baik, Nona.‖

Aku mendengus dan tanpa sadar menyentuh penutup mata yang menutupi mata kananku.
Aku masih tidak bisa memercayai semua yang terjadi, tapi pikiranku masih bisa mentolerir itu
semua. Memang sangat aneh, semua hal ini…

―Apa Nona sedang memikirkan sesuatu?‖

Aku mendongak melihat kedua bola mata Cloud yang berwarna hitam pekat menatapku
dari kaca dasbor.

―Tidak.‖ kataku berbohong.


Cloud tertawa kecil dan kemudian melanjutkan, ―Anda tidak pandai berbohong. Saya bisa
melihat Anda memikirkan sesuatu.‖

―Aku hanya memikirkan ujian yang akan kuikuti di sekolah.‖ Kataku masih berbohong.

―Begitu?‖

―Kalau iya, lalu kenapa?‖

Cloud menggeleng. ―Saya tahu Anda berbohong. Tapi, saya tidak akan memaksa Anda
untuk mengatakan apa yang sedang Anda pikirkan.‖ Katanya.

―Bagus kalau begitu.‖ Kataku melihat pemandangan di luar jendela mobil. ―Lebih baik kau
cepat karena sebentar lagi, aku rasa, bel masuk akan berbunyi. Dan aku bisa terlambat.‖

―Baik.‖

Aku menatap Cloud sekilas, kemudian berpaling memandang keluar jendela lagi. Sebentar
lagi aku harus bersiap-siap untuk menciptakan kebohongan lagi. Kebohongan yang kubuat di
sekolah tidak besar, aku hanya berpura-pura menjadi anak normal biasa yang ditakuti tanpa
diketahui bahwa aku juga Gamer. Salah satu pemain ―The Fantasy Area‖.
BAB 2

―Renata!‖

Aku baru saja turun dari mobil ketika seseorang memanggil namaku. Aku mendongakkan
kepala untuk melihat siapa yang memanggilku dengan suara yang cukup keras itu.

Ya ampun… rupanya Eliza. Satu-satunya temanku di sekolah.

Dia berlari kearahku sambil tersenyum. Tas sekolahnya bergoyang seirama dengan
gerakannya. Rambut pirangnya yang pendek dibuat agak bergelombang, dan dia terlihat sangat
cantik (yang sebenarnya jelas, kalau dia adalah salah satu dari 5 cewek tercantik di sekolah).

Aku balas melambai sambil tersenyum dan mengangguk sekilas pada Cloud. Dia lalu
masuk kembali ke dalam mobil dan pergi. Hanya dengan mengirimkan pikiran (kelebihan antara
Gamer dan Monsta mereka adalah, kau bisa memberitahukan apa isi pikiranmu pada sang
Monsta. Itu jika kau ingin…).

―Selamat pagi, Renata.‖ Sapa Eliza dengan nada riang.

―Pagi.‖

―Hari yang indah untuk sekolah, bukan?‖ katanya lagi.

Aku mengangguk kecil dan berjalan bersamanya menuju koridor sekolah yang dilewati
hampir seluruh siswa SMA Garden Heaven setiap harinya. Aku memperbaiki letak tali tas
sekolahku sambil terus berjalan.

―Hei, Renata?‖

Aku menoleh kearah Eliza, dia memandangku dengan kening berkerut.

―Ya?‖

―Kamu agak aneh hari ini,‖ katanya sambil menepuk bahuku, ―Kamu sakit?‖
Aku tersenyum dan menggeleng. Eliza mamng satu-satunya temanku. Dan dia sangat
perhatian padaku. Menurutnya, sifatku yang dingin itu sangat menarik dan dia memutuskan untuk
berteman denganku.

―Tidak. Aku tidak sakit, kok.‖ Kataku, ―Hanya kelelahan.‖

―Kamu melakukan apa sampai kamu kelelahan begitu?‖ ujarnya dengan nada menggurui,
―Ngomong-ngomong, mata kananmu masih sakit, ya?‖

Tanganku refleks bergerak menyentuh penutup mata kananku, ―Tidak juga, Liz. Tapi,
menurut dokter, mata kananku tidak bisa berfungsi lagi.‖

―Heee? Kenapa begitu?‖

Aku hanya tersenyum dan tidak menjawab. Aku tidak akan mau mengatakan bahwa di
mata kananku ini terdapat tanda kontrakku dengan Cloud dan Teresa. Kalau dia tahu, mungkin
dia akan menjauh dariku dan aku akan kesepian lagi seperti dulu.

―Yah… mungkin ada sistem saraf yang putus. Atau mungkin juga mata kananku ini buta.‖
Jawabku, ―Tidak perlu cemas, Eliza. Aku baik-baik saja.‖

Wajah Eliza yang masih kelihatan khawatir sedikit lega. Dia menggandeng tanganku dan
mengajakku masuk ke dalam kelas.

Aku duduk di bangku paling belakang dan mengeluarkan buku-buku pelajaranku. Eliza
sendiri duduk di bangku di sebelah kananku.

―Oh iya, yang mengantarmu tadi itu ayahmu, kan?‖

Aku menghentikan kegiatanku dan menoleh kearahnya. Semua orang mengenal Cloud
dan Teresa sebagai orangtuaku. Untuk membuat penyamaran Cloud dan Teresa lebih
menyakinkan, aku menyuruh Cloud untuk menjalankan perusahaan yang ditinggalkan keluargaku
sebagai ayahku, dan Teresa menjadi ibuku. Penyamarannya selain menjadi ibuku masih ada lagi.
Yaitu sebagai pelatih kepribadianku di sekolah.

Di SMA Garden Heaven ini, setiap siswa memiliki pelatih kepribadian yang dipekerjakan
untuk melatih kepribadian setiap siswa agar mereka menjadi warga yang baik dan diterima oleh
masyarakat. Sewaktu aku masuk ke sekolah ini, aku selalu membolos pelajaran kepribadian itu
dengan alasan tidak memiliki orang tua. Teresa yang tahu tentang semua pelajaranku di sekolah
(dia dan Cloud mempelajari setiap buku yang ada di perpustakaan di rumah. Tentu saja dengan
kecepatan membaca diatas kecepatan manusia biasa. Mereka, kan, Monsta), langsung mendaftar
menjadi pelatih kepribadian di sekolahku (kebetulan masih ada 3 tempat kosong dalam pelajaran
itu) sebagai pelatih tetapku.

Sampai sekarang, mereka berdua cukup bagus dalam acting maupun penyamaran mereka.

―Ya.‖ Aku mengangguk, ―Memangnya kenapa?‖

―Ayahmu masih terlihat muda.‖ Katanya. ―Usianya masih sekitar 25 tahun…‖

Aku menelan ludah. Mencoba memikirkan cerita untuk berbohong pada Eliza.

―Err… aku pernah dengar dari ibuku, kalau mereka menikah di usia muda. Kalau tidak
salah… 14 tahun.‖ Kataku.

―Heee… masih muda sekali. Apa mereka dijodohkan, begitu?‖

―Kurasa… ya.‖

Eliza hanya manggut-manggut dan kemudian mulai mengerjakan sesuatu (yang


kemungkinan besar adalah PR. Selain cantik, dia juga pintar. Dia selalu mendapat peringkat
pertama di kelas!) di mejanya.

Aku menghela nafas dan melihat keluar jendela di sampingku. Aku membuka jendelanya
dan merasakan angin pagi menerpa wajahku.

Ketika aku asyik menikmati langit pagi, mata kananku terasa panas. Terasa terbakar dari
dalam. Hampir saja aku berteriak kesakitan saat Teresa masuk ke kelasku dengan pakaian
resminya, setelan kerja yang terdiri dari blus putih yang ditutupi blazer hitam dan juga rok katun
hitam selutut, serta sepatu hak tinggi. Semua orang yang ada di kelas menatap kearah Teresa yang
bisa dibilang menjadi pelatih kepribadian favorit oleh hampir sebagian besar siswa (yang benar saja.
Dia Monsta).

―Teresa,‖
―Renata, aku ingin bicara padamu.‖ Katanya dengan nada khas seorang pelatih
kepribadian. ―Berdua saja. Ikuti aku.‖

Dia berbalik dan pergi meninggalkan kelas. Kali ini, akulah yang ditatap semua orang.
Cepat-cepat aku berdiri dan berjalan keluar kelas.

―Semangat, ya, Renata, kau akan dihukum.‖ Ujar seorang siswa cowok di dekatku. Dia lalu
tertawa-tawa sendiri bersama teman-temannya.

Aku menggertakkan gigi agar tidak mengucapkan kata-kata kasar pada mereka. Aku tidak
mau hari ini menjadi hari yang buruk hanya karena aku berkata kasar.

Teresa sudah menunggu di balik pintu kelas. Aku menutup pintu kelas di belakang
punggungku dan berjalan kearahnya.

―Ada apa?‖ tanyaku.

―Apa Anda merasa tanda kontrak Anda seperti terbakar?‖ tanyanya balik.

―Ya.‖ Aku mengangguk, ―Rasanya… aneh.‖

―Aneh seperti apa, Nona?‖

Aku membuka ikatan penutup mataku dan melepasnya. Lalu menatap Teresa, ―Rasanya…
seperti ada sesuatu yang mencoba merenggut tanda kontrak ini dariku, tapi juga ada sesuatu yang
menahannya. Hampir saja aku berteriak kesakitan tadi di kelas.‖ Ujarku. ―Aku rasa, ada Gamer
lain di sekolah ini. Mungkin dia masih baru atau yang terkuat.‖

Yang kukatakan memang benar. Ada suatu tanda jika ada Gamer lain di dekatmu, yaitu
dengan rasa panas membara di tanda kontraknya. Semakin kuat Gamer lain tersebut, maka tanda
kontrak akan terasa seperti terbakar dan terasa menyengat di bagian tubuh tempat tanda kontrak
tersebut berada.

―A, apa Nona tidak terluka?‖

Aku menggeleng. ―Tidak. Tapi perasaan ini menggangguku.‖

―Apa Anda ingin memerintahkan saya menyelidikinya?‖ tanya Teresa.


―Yah… aku memang menginginkan itu darimu.‖ Ujarku sambil melipat kedua tanganku di
depan dada, ―Tapi bagaimana dengan latihan? Apa akan diliburkan?‖

Teresa tersenyum, ―Tidak. latihan akan dilakukan seperti biasa. Pada jam pelajaran
kepribadian.‖

―Cih, aku kira aku akan terbebas dari latihan ketika kau sedang menyelidiki.‖

―Sayang sekali, tidak.‖ katanya. ―Sekarang, beri saya perintah.‖

Aku menghela nafas dan menunduk sebentar, kemudian mengangkat wajahku. Tanda
kontrakku nyaris kembali terasa terbakar ketika aku mengucapkan kata perintah padanya.
Sebenarnya aku tidak biasa memberi perintah padanya disaat jam sekolah seperti ini. Tapi, apa
boleh buat. Aku tidak suka dibuat terganggu oleh perasaan tidak penting macam ada Gamer lain di
tempat ini.

―Ini perintah. Cari tahu apa ada Gamer lain di sekolah ini. Secepatnya.‖

―Yes, My Lady.‖ Teresa membungkuk di depanku sambil menyilangkan tangan kanannya


di depan dada.

―Aku akan kembali ke kelas.‖ Kataku saat dia berdiri lagi, ―Dan, jangan lupa tugasmu.‖

―Baik.‖

Aku memasang lagi penutup mataku dan kemudian berbalik kearah kelas.

―Jangan sampai Anda tertidur di kelas, Nona.‖ Kata Teresa sebelum aku masuk.

―Cerewet!‖

Aku menutup pintu di belakangku dengan keras dan berjalan kearah bangkuku tanpa
menoleh lagi. Walau aku tahu ada beberapa teman sekelasku yang tertawa-tawa mengejekku, aku
tetap tidak peduli. Aku duduk dan membuang muka kearah jendela dan tidak menghiraukan
panggilan dari Eliza.

Perasaanku masih terasa aneh. Walau aku sudah mencoba menenangkan diri (aku cukup
bagus untuk melakukannya dalam waktu beberapa detik), tapi perasaan itu terus saja mengganggu.
Perasaan aneh yang berdesir pelan seperti batu karang yang terkikis oleh air secara
perlahan. Aku tidak tahu nama perasaan itu. Dan juga tidak tahu bagaimana cara
menghilangkannya.
BAB 3

―Haaa!!‖

Aku membanting lawanku dengan gerakan ringan dan membiarkannya mengerang


kesakitan selama beberapa saat.

Sekarang pelajaran bela diri Taekwondo. Dan aku termasuk salah seorang yang jago dalam
hal ini.

Selain pelajaran umum yang dipelajari seperti Matematika, IPA, dan juga IPS, pelajaran
lain dan kegiatan ekstrakurikuler juga harus dan wajib diikuti oleh setiap siswa. SMA Garden
Heaven, atau yang lebih sering disebut sebagai SMA GaVen termasuk salah satu sekolah yang
berdedikasi menjadi sekolah internasional bagi para pelajar dari kalangan orang-orang kaya,
pejabat, maupun keturunan bangsawan.

Karena itu, semua kegiatan di sekolah ini menjadi pelajaran tersendiri bagi para siswanya.
Ada tiga golongan siswa di sekolah ini, yang pertama adalah keturunan bangsawan. Para keturunan
bangsawan, biasanya hanya mengambil mata pelajaran yang berhubungan dengan kebangsawanan
mereka saja. Yang kedua adalah orang kaya sekaligus pejabat. Orang-orang kaya dan pejabat
mengambil 2/3 pelajaran yang berhubungan. Dan untuk siswa yang termasuk golongan ketiga,
sekaligus yang paling tinggi adalah siswa yang termasuk dari kalangan orang kaya, pejabat, sekaligus
keturunan bangsawan, mengambil semua mata pelajaran yang diwajibkan, termasuk bela diri.

Sialnya, aku termasuk golongan ketiga. Karena keluargaku adalah orang kaya, sekaligus
pemilik perusahaan terbesar ketiga di dunia yang berbasis dalam teknologi dan juga keturunan
bangsawan (aku pernah menelusuri garis keturunan sebelum aku dan ternyata, aku termasuk
kalangan bangsawan), aku cukup terkenal di sekolah. Tapi terkenalnya aku hanya karena sifatku
yang super dingin dan tidak banyak bicara. Hanya segelintir orang yang tahu aku termasuk
golongan ketiga. Salah satunya adalah Eliza. Eliza adalah golongan kedua. Tapi, walau dia
termasuk golongan kedua, dia tidak pernah mempermasalahkan apakah aku termasuk golongan
yang mana (alasan lain dia berteman denganku adalah karena menurutnya aku imut. Mirip seperti
boneka).
―Baik, pemenang pertandingan ini adalah Renata Nightblood.‖

Seruan kagum dan beberapa siswa yang mengikuti pelajaran ini terdengar di telingaku.

Aku bergegas ke sudut ruang bela diri dan menghampiri tas olahragaku. Aku
mengeluarkan sebotol air dan meminumnya hingga tersisa setengah. Ya ampun… ternyata aku
terlalu mengeluarkan banyak tenaga. Untung saja aku tidak kelepasan menggunakan kekuatanku
yang sebenarnya saat menjadi Gamer.

―Wah… kau hebat sekali, Renata.‖

Aku menoleh ke sampingku dan melihat Eliza berdiri di sebelahku. Sekarang dia memakai
baju balet. Eliza memang ikut kegiatan tari balet yang ruangannya terletak di sebelah ruang bela diri
ini.

Dia lalu duduk di sebelahku dan melihat pertandingan lain yang masih berlangsung.
Melihatnya terlihat santai, aku menebak latihan baletnya sudah selesai.

―Kau selalu dapat nilai sempurna dalam kegiatan ini, ya?‖ kata Eliza, ―Sahabatku memang
hebat.‖

―Biasa saja…‖ aku mengelap keringat dengan handuk kecil dari tasku, ―Kau juga penari
balet yang hebat. Aku tidak bisa mengikuti langkahmu jika kau menari.‖

Dia tersenyum dan merapikan rambutku yang agak berantakan dan sedikit menempel
karena keringat di dahiku.

―Kau tahu? Kau terlalu perhatian padaku.‖ Kataku saat dia melakukan itu.

Eliza hanya tersenyum dan menawarkan sebungkus permen padaku. Aku menerimanya
dan membuka bungkus permen itu.

―Soalnya aku suka wajahmu yang imut seperti boneka itu.‖ katanya polos.

Aku tersenyum kecil dan memperhatikan pertandingan di depanku dengan tatapan


menerawang. Teresa belum memberitahuku apakah ada Gamer lain di sekolah ini.
Setahuku, Gamer-Gamer yang ada di sekolah ini tidak pernah memberikan perasaan yang
sangat kuat seperti ini (dalam artian, level mereka masih rendah). Perasaan berdesir ini terlalu
aneh. Bahkan lebih aneh dari perasaan ketakutanku di malam hari saat aku terbangun karena
mimpi buruk.

―Renata?‖

Aku terlonjak kaget dan menoleh kearah Eliza yang menatapku.

―I, iya?‖

―Kenapa melamun? Kamu baik-baik saja, kan?‖ tanyanya.

―Tidak, kok… aku tidak melamun.‖ aku menggeleng, ―Hanya memikirkan apakah aku bisa
bolos pelajaran kepribadian nanti.‖

Eliza tertawa kecil, ―Kamu tidak akan bisa lari dari ibumu, kan?‖ katanya.

Yah… jika aku bisa. Kataku dalam hati.

Satu jam kemudian, latihan bela diri sudah selesai. Aku segera berganti baju dengan
seragamku dan berjalan ke aula sekolah yang dijadikan pusat pelatihan kepribadian. Eliza ikut
denganku, karena dia juga mengambil pelajaran itu. Yah… setidaknya, aku punya teman dalam
pelatihan itu.

Kami berdua berjalan di koridor menuju aula. Cuaca hari ini terlihat mendung. Padahal
tadi pagi masih cerah-cerah saja. Aku tidak peduli dengan cuaca yang sering berubah-ubah, tapi
yang kuperhatikan adalah cowok yang berdiri di bawah pohon besar dan sedang menatap diriku.

Orang itu memperhatikanku dengan kedua bola mata berwarna emas yang aneh.
Rambutnya yang berwarna pirang agak berkibar karena terkena angin yang berhembus. Matanya
masih terus menatapku, bahkan sepertinya matanya itu sedang menelitiku. Aku sendiri balas
menatapnya, dan perasaan berdesir itu tiba-tiba semakin bertambah keras.

Apa… apa dia?


Cowok itu berbalik dan melangkah pergi diiringi oleh seseorang yang aku tidak tahu siapa.
Ketika aku masih terus menatapnya, tanganku dipegang oleh Eliza, aku menoleh kearahnya dan
melihatnya menatapku khawatir.

―Ada apa, Renata?‖ tanyanya, ―Kamu mau kemana? Bukankah sebentar lagi pelatihan
kepribadian akan segera dimulai?‖

―Ap—tidak… aku tidak apa-apa. Aku hanya…‖

―Renata,‖

Aku menoleh ke belakang dan melihat Teresa berdiri di belakang. Wajahnya dihiasi
senyuman, yah… palsu. Karena dia bertindak sebagai orang tua palsuku.

―Ya?‖

―Kelas akan segera dimulai. Kalau tidak cepat, kalian akan terlambat.‖ Katanya.

―Baiklah.‖

Ketika aku akan berjalan lagi, Teresa menyuruhku untuk tetap tinggal dengan isyarat mata.

―Err… Eliza, aku mau bicara dengan Tere—eh, ibuku sebentar. Kau pergi saja duluan.‖
Kataku pada Eliza.

―Apa? Baiklah… tapi, cepat datang ke aula. Oke?‖

―Baik, baik…‖

Setelah Eliza tidak terlihat lagi, aku berbalik memandang Teresa yang berdiri di
belakangku.

―Nah, ada berita apa? Apa kau sudah ta—‖

―Gamer lain sudah ditemukan.‖ Ujarnya.

―Apa? Secepat itu?‖

―Gamer ini… berbeda dari yang lain.‖ katanya, ―Ada yang aneh dengan Gamer yang satu
ini.‖
―Aneh?‖ aku mengerutkan kening, ―Aneh bagaimana?‖

―Dia… Gamer ini… ingin bertemu dengan Anda. Tanpa bertarung.‖

―Ha??‖

Aku tidak tahu raut wajahku menunjukkan keterkejutan yang sejelas apa. Aku tidak tahu
apakah harus merasa bersyukur karena Gamer ini memilih bertemu denganku tanpa bertarung
atau tidak. Tapi, tetap saja. Ini aneh. Dalam urutan yang terkuat saja, aku berada di urutan ke-30
(itu karena aku tidak menggunakan seluruh kekuatanku, ingat?).

―Aneh. Kenapa dia ingin bertemu denganku tanpa bertarung?‖ tanyaku, ―Biasanya yang
terkuat maupun yang lemah bertemu denganku dengan bertarung.‖

Teresa menggeleng, dan aku semakin bingung dengan Gamer yang dia maksud.

―Gamer ini… berbeda, Nona.‖ Katanya, ―Dia mengenal Nona sudah lama sekali. Sebelum
Anda hilang ingatan.‖

Wow. ini lebih mengejutkan dari yang tadi.

―Gamer ini… tahu masa laluku?‖ tanyaku tidak percaya.

Teresa mengangguk. Kuperhatikan wajahnya, sepertinya dia menyembunyikan sesuatu.


Ada sedikit senyum di wajahnya, yang menandakan kalau dia berbohong. Tapi, Teresa pandai
menyembunyikan kebohongan walaupun aku menyuruh dia dan Cloud untuk tidak pernah
berbohong padaku.

―Kau menyembunyikan sesuatu?‖ tebakku.

―Saya tidak menyembunyikan apapun dari Anda.‖ Ujarnya, ―Saya tidak pernah bertemu
dengan orang lain yang tahu tentang masa lalu Anda. Cloud juga tidak pernah bertemu Gamer ini.
Gamer ini masih baru,‖

―Dan? Aku yakin masih ada lanjutannya.‖ Kataku. Aku melirik jam tangan kecil yang
melingkar di pergelangan tangan kiriku. Sudah 15 menit kami berbicara.

―Dia salah satu dari yang tekuat. Si nomor dua.‖


***

Aku menghempaskan diriku ke kursi mobil ketika sudah waktunya pulang. Teresa duduk di kursi
di sebelah kursi pengemudi.

Aku melepas dasi pita yang masih melingkar di leherku dan membuka satu kancing untuk
melegakan leherku yang rasanya tersiksa karena berkeringat dan kelelahan.

Mobil sudah melaju ketika aku mangambil sebotol jus dari kulkas mini di sebelah tempat
dudukku. Sambil memandang keluar jendela, aku minum sedikit-sedikit jus jeruk dari botol yang
kupegang.

―Kapan Gamer itu ingin menemuiku?‖ tanyaku sambil tetap memandang keluar jendela.

―Secepatnya, Nona.‖ Ujar Teresa, ―Dia tidak menyertakan kapan waktunya.‖

―Begitu…‖

Aku meneguk beberapa tegukan jus lagi. Memikirkan apa yang akan dikatakan oleh
Gamer yang akan bertemu denganku itu.

―Apa Anda ingin saya mencari tahu siapa Gamer itu?‖ tanya Cloud.

―Tidak. Tidak perlu. Biarkan saja dia yang menentukan waktunya.‖ Kataku, ―Lagipula aku
tidak suka membuat janji lebih dulu.‖

―Baiklah.‖

Mobil yang dikemudikan Cloud sudah memasuki halaman rumah besarku dan berhenti di
depan pintu depan rumah.

Aku membuka pintu mobil dan berjalan kearah pintu rumah sambil menghela nafas.
Entah kenapa aku merasa ada sesuatu yang mengganggu pikiranku yang aku tidak tahu apa.
Cloud membukakan pintu dan aku langsung mengerjap mundur sambil menunjuk bagian
dalam rumah. Pemandangan di dalam benar-benar diluar perkiraanku.

―Ada apa, Nona?‖ tanya Teresa yang berjalan dibelakangku.

―I, itu…‖

Mereka berdua melihat ke dalam dan wajah mereka sama terkejutnya denganku.

Ruang tamuku tiba-tiba sudah berubah warna menjadi warna pink. Warna yang kubenci.
Bukan hanya itu, ada banyak sekali pernak-pernik yang menurutku terlalu imut untuk ukuran
seorang wanita. Bahkan ada balon-balon berwarna-warni segala.

Ada apa ini sebenarnya!?

―Ini… apa yang…‖

―Selamat datang, Renata!‖

Aku tersentak kaget dan mundur ke belakang ketika seseorang muncul dari balik pintu.
Dan hatiku semakin tersentak kaget ketika melihat orang itu.

Cowok berambut pirang yang tadi kulihat di sekolah!

―Ah, Anda…‖

―Renata!! Lama tidak bertemu!‖ cowok itu langsung memelukku dan mencium pipiku.
Membuat bulu kudukku meremang. Aku tidak biasa dipeluk dan dicium seperti ini.

―Tolong, lepaskan…‖ aku mencoba melepaskan diri dari cowok ini dan melangkah
mundur.

―Wah… kamu banyak berubah, ya?‖ katanya setelah melepas pelukannya, ―Jadi tambah
cantik.‖

―Ap—‖

―Tuan, Anda seharusnya tidak langsung melakukan itu pada Nona Renata.‖ Teresa berdiri
di depanku, ―Anda seharusnya bisa menahan diri.‖
―Ah… itu biasa.‖ Katanya, ―Oh ya, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Darren
Anderson.‖

―Darren… Anderson…‖

Nama itu merasuk pikiranku begitu dalam sampai membuat kepalaku terasa sakit. Tapi,
aku menahan diriku agar tidak jatuh pingsan. Aneh. Hanya karena dia menyebut nama itu, kenapa
kepalaku seperti mau pecah? Juga… kenapa perasaanku…

Perasaanku membuncah senang ketika dia menyebut namanya.

―Kau… kau kenal aku?‖ tanyaku lirih.

―Hm? Tentu saja.‖ Katanya riang, ―Aku, kan—‖

―Tuan Darren,‖

Seorang butler berpakaian serba hitam muncul tiba-tiba di sebelah Darren.

―Ah, Regald.‖

―Regald?‖

―Ini Regald.‖ Ujar Darren. ―Pelayanku. Monsta-ku.‖

―Mons—‖ aku menoleh kearah Teresa dan Cloud, meminta penjelasan.

Kalian bilang hanya kalian saja Monsta yang berbentuk manusia! Kataku dalam hati. Tapi,
aku yakin, mereka berdua mendengarnya walau aku mengatakannya dalam hati.

―Memang hanya ada beberapa Monsta yang berbentuk manusia,‖ pelayan Darren tiba-tiba
angkat bicara. Aku menoleh kearahnya dengan penasaran. Apa dia juga mendengar apa yang
kuucapkan dalam hati pada Teresa dan Cloud!?

―Apa? Tapi, bukankah—‖

―Teresa dan Cloud adalah Monsta istimewa.‖ Kali ini Darren yang bicara. ―Monsta kembar
itu jarang ada, lho…‖

―Ha?‖
―Itu tidak perlu dibahas.‖ Cloud berdiri di sebelahku, ―Anda terlalu memuji kami berdua.‖

―Hahaha… biasa saja.‖

Aku masih bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, sebelum aku bertanya,
Cloud sudah keburu menyela lagi.

―Jadi, Anda-kah, si Gamer nomor 2 itu?‖

Darren tersenyum lebar dan mengangguk.

―Ya. Suatu kejutan, ya?‖ katanya.

―Ap—‖

―Oh ya, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu, Renata.‖ Dia meraih tanganku, ―Ayo,
ikut aku.‖

―Eh? Tunggu dulu!‖

Tapi terlambat untuk protes. Dia sudah menarikku berlari menaiki tangga menuju lantai
dua. Aku menoleh kearah Teresa dan Cloud, dan melihat mereka hanya tersenyum kecil. Dan
aku tahu kalau mereka berdua sedang menertawakanku.

Sialan! Mereka malah mengejekku!


BAB 4

Darren membawaku berlari menyusuri koridor di lantai dua. Aku tidak tahu dia mau membawaku
kemana. Karena di lantai dua hanya ada kamarku beserta ruang pribadi lainnya.

Pikiran yang tidak-tidak memenuhi pikiranku. Apa jangan-jangan cowok ini…

Tidak. Kalau aku berpikiran seperti itu, aku merasa bulu kudukku semakin meremang.

Kami berdua berhenti di depan sebuah pintu. Aku makin mencelos ketika mengetahui
kalau kami berhenti di depan pintu kamarku!

―K, kamu mau apa?‖

―Jangan berpikiran yang tidak-tidak, deh…‖ katanya sambil tersenyum padaku.

Lagi-lagi perasaan berdesir itu datang. Tanpa sadar aku menundukkan kepala agar wajahku
yang memerah tidak terlihat olehnya.

―Ta, tapi, kenapa kamarku…‖

―Lihat saja dulu. Oke?‖

Dia membuka pintu dan aku melongo melihat dekorasi kamarku yang tiba-tiba berubah
total dari sebelumnya.

Aku tidak bisa berteriak kaget ketika melihat perubahan dekorasi tersebut.

―Kamarku!?‖

―Bagaimana? Jadi lebih cantik, kan?‖ kata Darren sambil memelukku, ―Warna pink atau
merah memang cocok untukmu.‖

―T, tapi… apa-apaan…‖

―Apa? Bukankah dulu kamu bilang suka warna pink dan merah? Apa sekarang warna
kesukaanmu berubah?‖
―Itu…‖

―Aku tahu, kok, kamu hilang ingatan.‖ Katanya mengucapkan pikiranku, ―Tapi, itu bukan
masalah bagiku.‖

―Darren… tolong lepas…‖

Dia lalu melepaskan pelukannya dan membiarkanku masuk ke dalam kamar. Ugh! Warna
pink dan merah dimana-mana. Aku tidak menyukai kedua warna ini, tapi… entah kenapa, karena
Darren bilang dulu aku suka kedua warna ini. Mungkin saja…

―Kau bilang kau tahu tentang masa laluku?‖ tanyaku menoleh padanya.

―Ya. Monsta kembarmu sudah memberitahumu, kan?‖

Aku mengangguk. Aku menatapnya dengan seksama. Mencoba memahami apa yang dia
inginkan.

Sepertinya dia menyadari kalau aku menatapnya. Dia tersenyum padaku dan membuat
perasaan berdesir itu semakin kuat. Aku hampir saja limbung dan tidak bisa menahan berat
badanku gara-gara perasaan berdesir itu.

―Kau… kau tahu siapa saja keluargaku?‖ tanyaku. Ada nada penuh harap dalam suaraku
yang pasti terdengar jelas olehnya.

Tapi, Darren tidak menjawab. Dia memalingkan wajahnya dan seolah sedang berpikir.
Aku menunggu jawaban darinya. Apa dia memikirkan sesuatu?

―Darren?‖

―Ah, iya?‖ dia mengerjap kaget dan menoleh kearahku dengan ekspresi kaget yang begitu
nyata hingga aku tidak tahu apakah dia berbohong atau tidak.

―Kamu belum menjawab pertanyaanku.‖ Kataku.

―Errr… yang mana?‖

―Soal keluargaku. Siapa saja keluargaku.‖


―Ah… itu…‖

Aku melihat Darren kelihatan salah tingkah. Ada apa dengan orang ini?

―Darren?‖

―Itu… anu, itu…‖

―Kamu tidak mau menjawab.‖ Kataku menyimpulkan, ―Kalau tidak mau, tidak usah
memaksakan diri.‖

Aku membalikkan badanku membelakanginya dan mengkonsentrasikan pikiranku pada


dekorasi kamarku yang sekarang. Aku bergidik dalam hati harus tidur dengan warna merah dan
pink dimana-mana nanti malam. Setelah Darren pergi, aku akan menyuruh Cloud atau Teresa
menggantinya dengan warna abu-abu atau biru laut seperti semula.

―Bu, bukan itu…‖

―Cukup. Jangan membantah lagi. Kamu tidak perlu memaksakan diri menjawabnya.‖
Ujarku, ―Lagipula pertanyaan itu tidak pen—‖

―Dengar dulu!‖

Darren memegang kedua bahuku dan menghadapkan tubuhku padanya. Tingginya yang
hampir sama sepertiku (tinggiku sekitar 170 senti) membuatku tidak perlu bersusah payah untuk
mendongakkan wajahku untuk menatapnya.

―Maaf,‖ dia seperti tersadar dan melepaskan pegangannya pada bahuku dan mundur
selangkah. ―Aku bukannya tidak mau menjawab pertanyaanmu.‖

―Lalu? Aku sudah bilang, kan, tidak perlu memaksakan diri. Aku baru… mengenalmu.‖
Kataku tersenyum minta maaf.

―Bukan. Bukan itu…‖ Darren menggeleng, ―Tapi… aku tidak bisa memberitahumu yang
sebenarnya.‖

―Apa?‖ aku mengerutkan kening mendengar jawabannya, ―Kenapa? Aku berhak tahu siapa
keluargaku.‖
―Karena…‖ Darren menelan ludah. Dan aku langsung berpikir kenapa pertemuan pertama
seperti ini yang malah kualami kalau dia ingin bertemu denganku tanpa bertarung.

Yah… setidaknya memang tanpa bertarung secara fiisk. Tapi bertarung secara lisan.

―Karena apa?‖ tanyaku.

―Belum saatnya kuceritakan.‖ Darren menggeleng pelan. ―Terlalu beresiko jika aku
menceritakannya sekarang padamu. Tidak akan membantu memulihkan ingatanmu.‖

―Apa?‖

―Sebenarnya aku kesini karena tujuan khusus. Selain bertemu denganmu, tentu saja.‖ Dia
berkata sambil tersenyum dan membuat wajahku memerah.

―Tujuan khusus? Tujuan apa?‖

Darren menepuk pundakku dua kali, ―Yah… aku ingin bicara denganmu. Kita bisa bicara
dengan santai, kan?‖

―Tapi, apa yang mau kamu bicarakan? Dan tujuan khusus apa yang kamu maksud?‖

Senyum Darren semakin melebar. Dia meraih tanganku dan kemudian memelukku lagi.
Tapi kali ini tidak seperti pelukan yang sebelumnya. Pelukan yang ini justru terasa lebih erat
namun menenangkan.

―Kita bisa bicara santai,‖ bisiknya di telingaku, ―Sebagai tunangan.‖

***

Aku duduk di kursi di taman belakang rumah sambil menghela nafas lelah. Aku tidak menyangka
kalau berbicara dengan Darren bisa menghabiskan seluruh tenagaku.
Bagaimana aku tidak kehabisan tenaga kalau dia terus saja memelukku selama dia bicara
dan tidak memperbolehkanku menyela ucapannya. Apalagi menyangkut ucapannya tentang tujuan
khusus yang sekarang aku tahu, kalau dia dan aku adalah… tunangan.

Kuakui aku kaget dengan kata tunangan. Aku, kan tidak ingat siapa aku karena hilang
ingatan sewaktu berusia 13 tahun.

Tujuan khusus yang dia maksud adalah, bekerja sama dalam The Fantasy Area.

Darren mengatakan, ada beberapa Gamer yang berpasangan untuk menjadi yang pertama
mengalahkan pemain nomor satu The Fantasy Area. Namun, cara menjadi yang pertama dengan
bekerja sama sering berakhir dengan menghilangnya pasangan Gamer tersebut. Ada rumor bahwa
si Nomor Satu mempunyai Monsta yang paling mengerikan dan paling kuat, hingga tidak ada yang
bisa mengalahkannya.

Dan Darren menawariku bekerja sama dengannya sebagai pasangan Gamer dan juga
sebagai tunangan.

―Kita tunangan?‖ tanyaku. Saat itu, kami ada di ruang tamu. Teresa, Cloud, dan juga
pelayan Monsta Darren, Regald, juga ada.

Akhirnya, setelah Regald menyuguhkan secangkir teh pada Darren, dia langsung melepas
pelukannya dariku.

Darren yang asyik menyesap tehnya, mengangguk.

―Ya.‖ Katanya, ―Yah… mungkin Teresa dan Cloud tidak memberitahumu.‖

―Mereka memang tidak memberitahuku.‖ Kataku mengiyakan sambil melirik sekilas


kearah kedua Monsta-ku itu. ―Apa… kita berdua ditunangkan sejak kecil?‖

Pertanyaanku penuh harap. Aku tahu itu.

―Hmm… ya.‖ Darren mengangguk lagi, ―Ah… kalau menyangkut hubungan kita, ini malah
menjurus kearah siapa keluargamu.‖

―Kau mau menceritakannya padaku, kan? Kumohon…‖


Ya. Kali ini kuselipkan nada memohon dalam suaraku. Benar-benar pembohong sejati.

Tapi, untuk ingatanku, aku tidak pernah mau berbohong. Aku benar-benar ingin tahu.

Darren tidak langsung menjawab. Tapi malah menatap Teresa dan Cloud, kemudian
menatap Regald.

Darren berdeham. Dia merais sesuatu dari saku bajunya dan menyerahkannya padaku.

―Apa ini?‖ tanyaku menatap kertas di tangannya.

―Ambil, dan lihat.‖ Ujarnya.

Aku menerima kertas itu dengan perlahan dan melihatnya. Rupanya sebuah kertas foto.
Aku membaca tulisan yang ada di ujung bawah kanan :

Aku dan keluargaku.

Aku membalik kertas itu dan terenyak melihat apa yang tertera di kertas foto itu.

Gambar yang ada di kertas itu… aku. Aku ketika masih kecil, mungkin berusia sekitar 7
tahun. Dan seorang gadis seusiaku, atau mungkin 3-5 tahun lebih tua dariku, berambut pendek
sebahu dan memiliki bola mata yang sama sepertiku. Kemiripan wajah kami berdua sangat terlihat
jelas. Bahkan lesung pipi dan juga sinar mata yang sama…

―Siapa ini?‖ tanyaku pada Darren tanpa mengalihkan tatapanku dari foto di tanganku.

―Itu kakakmu. Lily Nightblood‖ Jawab Darren, ―Satu-satunya keluargamu. Setelah kedua
orangtuamu terbunuh, Kak Lily-lah yang merawatmu.‖

―Kakak… ku?‖

―Ya. Aku tebak, Teresa dan Cloud tidak memberitahumu.‖

Aku menggeleng dan menatap Teresa dan Cloud. Meminta kepastian dari mereka berdua.

―Maafkan kami, Nona. Tapi, itu perintah.‖

―Perintah dari siapa?‖ tanyaku bingung dan marah. ―Apa… apa kakakku yang
memerintahkan kalian?‖
―Ya, Nona. Nona Lily memerintahkan kami untuk tidak menceritakannya pada Anda.‖
Kata Teresa.‖

―Tapi, karena apa? Kenapa kalian tidak memberitahuku?!‖

―Itu karena mereka terikat kontrak sampai mati.‖ Darren yang menjawab pertanyaanku.

Aku berpaling dari Teresa dan Cloud pada Darren.

―Terikat kontrak sampai mati? Bukankah kalau Monsta mengikat kontrak dengan tuan
yang baru, kontrak yang lama akan terhapus?‖ kataku.

―Memang sebagian besar Monsta seperti itu.‖ Darren mengakui, ―Tapi, ada beberapa
Monsta, tidak lebih jumlahnya dari 15, mempunyai karakteristik dan kontrak yang unik.‖

―Karakteristik? Kontrak yang unik?‖

Darren mengangguk. Dia lalu berpindah dari tempat duduknya dan duduk di sampingku.

―Beberapa Monsta memiliki keistimewaan tersendiri pada tuannya. Tapi, ada yang lebih
unik lagi. Yaitu Monsta yang terikat selamanya dengan satu keluarga Gamer sampai mereka
mendapatkan apa yang mereka mau.‖

―Maksudmu?‖ aku masih tidak mengerti apa maksudnya. Kucoba menatap kearah Teresa
dan Cloud. Tapi mereka tidak merespon tatapanku.

―Begini, Monsta kembarmu, Teresa dan Cloud, juga Monsta milikku, Regald, adalah salah
satu dari sekian Monsta terunik yang pernah ada.‖ Kata Darren, ―Mereka akan terikat kontrak
dengan satu keluarga Gamer yang mereka anggap layak mereka jadikan tuan dan akan mematuhi
mereka bahkan jika mereka membuat kontrak baru dengan orang lain yang masih berasal dari
keluarga Gamer tersebut.‖

―Para Monsta ini, bisa membuat dua sampai lima kontrak sekaligus dengan orang lain yang
mereka anggap pantas. Ketika Monsta dan tuannya sudah mengikat kontrak, mereka tidak
memangsa seluruh keluarga Gamer tersebut, melainkan hanya orang yang mengikat kontrak pada
merekalah yang akan mereka mangsa jika mereka mati. Monsta yang unik ini disebut Monsta
Iblis.‖
―Kalau itu… aku pernah mendengarnya.‖ Ujarku tanpa sadar, ―Seseorang… pernah
mengatakan itu padaku.‖

―Tentu saja.‖ Kata Darren dengan senyum sumringah. ―Karena Kak Lily-lah, yang
menceritakan yang kuceritakan barusan pada kita berdua sewaktu kita masih kecil. Kamu bisa
tanya pada Teresa atau Cloud, kalau-kalau kamu tidak percaya.‖

Aku mengerjap pada Darren dan kemudian menatap kedua Monsta-ku. Mereka
mengangguk.

―Apa Kak Lily… apa dia juga Gamer?‖ tanyaku pada mereka berdua.

―Ya. Nona Lily adalah Gamer terhebat yang pernah ada.‖ Kata Cloud, ―Gamer paling
hebat yang pernah membuat kontrak dengan kami berdua.‖

―Apa dia juga memerintahkan kalian untuk menjadikanku sebagai Gamer?‖

Mereka berdua lagi-lagi mengangguk.

―Lalu, sekarang dimana Kak Lily? Dimana dia sekarang?‖ tanyaku. Bukan hanya pada
Darren. Tapi juga Teresa, Cloud, dan Regald.

Mereka semua diam (kalau Monsta, mereka akan terus diam. Tidak seperti manusia). Dan
kemudian Cloud yang berbicara.

―Nona Lily menghilang.‖

―Meng… hilang? Menghilang bagaimana? Bukankah kalian pernah menjadi Monsta-nya?‖

―Menghilang yang dimaksud disini bukan menghilang seperti ditelan bumi.‖ Kata Teresa,
―Tapi dia diculik. Dan dikurung.‖

―Dikurung!?‖

―Oleh Gamer Nomor Satu. Alicia Blonde.‖

―Apa?‖
―Alicia Blonde.‖ Kata Darren mengulangi nama itu, ―Alicia Blonde adalah nama samaran.
Tentu kamu sudah tahu itu karena setiap Gamer memiliki nama samaran yang mewakili
kepribadian mereka masing-masing. Nama aslinya adalah Rine McCillan. Gadis seusiamu yang
lebih misterius darimu. Si nomor 30 yang sebenarnya bisa saja meloncat menjadi si nomor 1.‖

―Ha?‖

―Rine McCillan menjadi Gamer di usia 5 tahun dan menjadi si Nomor Satu di usia 12
tahun. Awalnya Rine adalah gadis yang pendiam dan tidak banyak bertarung seperti Gamer
lainnya. Tapi, sekitar 4 tahun yang lalu, Si Nomor Satu tiba-tiba menjadi maniak bertarung. Suka
menghalalkan segala cara untuk mencari, melawan, dan membunuh Gamer lain. Bahkan dia juga
membunuh orang-orang yang tidak terlibat dalam The Fantasy Area.‖

―Rine McMillan lalu ditetapkan sebagai pembunuh sekaligus Gamer paling berbahaya. Dia
semakin menjadi-jadi dalam membunuh dan memusnahkan keluarga Gamer The Fantasy Area.
Julukannya yang lain adalah…‖

―Serigala berdarah, Bloody Fox.‖ Kata Regald.

―Bloody Fox?‖ aku mengulangi nama itu. Aku merasa mengenal nama itu.

Sekelebat bayangan muncul di kepalaku bersamaan dengan rasa sakit yang aneh. Aku
memejamkan mata erat-erat ketika mengingat suara jeritan mengerikan di kepalaku.

―Ugh!‖

―Renata? Renata?‖

―Kak?‖

―Bahaya! Kamu harus pergi dari sini, Renata.‖

Suara itu… aku kenal suara itu… dimana…

―Aku tidak mau pergi tanpa Kak Lily!‖

―Kamu harus pergi! Harus! Ini demi keselamatanmu juga!‖


Bayangan itu perlahan memudar bersamaan dengan suara-suaranya. Aku membuka mata
perlahan dan merasakan kedua tangan Darren memegangi kedua pundakku. Aku menatapnya dan
ia balas menatap balik dengan perasaan cemas.

―Kamu baik-baik saja?‖ tanya Darren.

Aku mengangguk pelan. Darren menempelkan punggung tangannya di keningku.

―Badanmu tidak panas. Tapi wajahmu pucat.‖ Katanya, ―Apa kamu—‖

―Sepertinya segel ingatannya mulai goyah.‖ Kata Teresa.

Aku menoleh kearahnya dan melihatnya memegang sebuah kalung rantai bermatakan
berlian berwarna biru yang aneh, seperti ada sesuatu yang bergolak di dalamnya. Berlian biru itu
sedikit retak.

―Kalung itu…‖

Teresa mengerjapkan matanya dan menatapku dan Darren sambil tersenyum.

―Ah, tentu saja Anda tidak ingat dengan benda ini, Nona.‖ Katanya dengan nada bersalah
yang nyata. ―Ini adalah kalung Nona Lily yang sering dipakai olehnya.‖

―Kalung Kak Lily?‖

―Err… tapi, Anda tidak perlu mengenakannya. Karena ini amanat dari Nona Lily agar kami
menjaga ini baik-baik sampai saatnya tiba.‖ Kata Cloud.

―Sampai saatnya tiba? Apa maksudnya?‖ tanyaku tidak mengerti.

―Anda akan tahu nanti.‖ Ujar Teresa.

Dan, seperti tidak terjadi percakapan serius, Darren kembali mengobrol hal-hal lain. Saat
dia pulang, aku langsung pergi ke taman belakang. Tidak hanya untuk menenangkan telingaku
yang pegal karena mendengar obrolan Darren yang tidak ada habisnya. Tapi juga memikirkan apa
arti dari bayangan itu dan kalung yang dipegang Teresa.

Nona Lily menyuruh kami menjaga ini baik-baik sampai saatnya tiba…
Aku menghembuskan nafas dan menutup mataku menikmati angin sore. Aku tidak
membuka mataku ketika Cloud datang sambil membawa senampan teh dan makanan kecil
kesukaanku. Termasuk obat-obatanku.

―Sudah waktunya minum obat, Nona Renata.‖ Katanya di dekat telingaku.

―Mmm… tinggalkan saja aku sendiri. Aku akan minum obatnya, kok.‖ Balasku sambil
menghembuskan nafas lagi, ―Anginnya sedang dalam keadaan bagus. Aku tidak mau kau merusak
ketenanganku sekarang ini. Pergilah.‖

―Baik.‖

Kudengar langkah kaki Cloud menjauhi tempatku duduk. Sekali lagi, untuk ke sekian
kalinya aku menghembuskan nafas.

Aku tidak boleh berlama-lama memikirkan hal-hal seperti ini. Masih ada pertarungan yang
harus kuhadapi malam ini.
BAB 5

The Fantasy Area adalah permainan kematian, sehingga tidak seorangpun yang mau terlibat dalam
permainan itu kecuali karena terpaksa atau mempunyai sesuatu yang ingin dicapai, seperti balas
dendam ataupun… mengubah masa lalu melalui kemenangan menjadi si Nomor Satu dalam
permainan tersebut.

Para Monsta yang ada, adalah monster, iblis, juga pembunuh paling berdarah dingin selain
manusia yang mengikat kontrak dengan mereka. Mereka bisa menjadi mahkluk yang patuh,
namun bisa juga menjadi pembunuh paling mematikan. Hanya beberapa Monsta yang memiliki
kepribadian. Sebagian besar? Semuanya bar-bar seperti binatang liar.

Aku mengetahui semua ini dari Teresa dan Cloud saat mereka pertama kali menjadikanku
Gamer. Dan juga, mereka juga mengatakan, bahwa Monsta ada yang ber kepribadian kasar dan
jahat, dan baik serta lembut. Yah… aku tidak mengakui Teresa dan Cloud, Monsta kembar yang
sering dijuluki ―Twins Phantom‖ termasuk dari Monsta berkepribadian kasar, tapi, mereka juga
memiliki sifat yang lembut. Aku tidak tahu apakah itu karena mereka menganggapku dan
Kakakku, Lily, sebagai tuan yang pantas atau tidak.

Dan aku mendapatkan jawabannya setelah mengamati mereka selama 1 tahun pertama
kami terikat kontrak. Mereka memiliki kepribadian ganda. Mereka bisa menjadi jahat di saat
dibutuhkan, dan mereka akan menjadi Monsta lembut dan menjadi pelayan sekaligus pengajarku.

Hanya beberapa Gamer yang mengetahui ini, termasuk Darren. Teresa dan Cloud adalah
Monsta yang paling ditakuti di kalangan Monsta. Mereka adalah Monsta kembar pertama sekaligus
yang terakhir yang pernah ada di kalangan Monsta. Juga, mereka berwujud manusia. Sudahkah
kubilang kalau mereka termasuk dari 15 Monsta yang berwujud manusia? Ke-15 Monsta itu,
semua berwujud manusia berusia 25 tahun atau kurang dari itu. Karena itu, banyak yang tidak
percaya kalau Teresa, yang menyamar menjadi pelatih kepribadianku adalah ibuku. Wajahnya
yang terlalu muda itu bisa dianggap mencurigakan bagi mereka. Aku tidak menyalahkan mereka
jika mereka tahu bahwa usia palsu Teresa adalah 21 tahun. Padahal, sebagai Monsta, mereka
sudah berusia lebih dari ratusan tahun.
Nah, kita kembali pada The Fantasy Area.

Malam ini aku akan bertarung lagi. Dengan si Nomor 78, Gregory Stiner. Aku dengar dia
adalah seorang rakyat biasa walau dia kaya. Aku tidak tahu mengapa dia menjadi Gamer padahal
usianya masih sangat muda, 14 tahun.

Aku sedang bersiap-siap dibantu Teresa ketika Cloud masuk sambil membawa secangkir
teh dan obat-obatanku.

Yah… untuk informasi saja. Aku punya penyakit asma dan aku juga mengalami lemah
jantung.

Tentu saja tidak akan ada yang percaya dengan dua penyakit yang kuderita itu karena
tubuhku amat sangat terlihat sehat. Ini semua berkat Cloud dan Teresa yang memberikanku
sedikit kekuatan mereka padaku, sehingga tubuhku terlihat segar bugar meski di dalamnya, aku
punya dua penyakit yang jika tidak segera ditangani akan sangat fatal akibatnya bagi diriku sendiri.

―Nona, sudah waktunya minum obat.‖ Ujar Cloud.

―Mmm…‖

Setelah Teresa mengikatkan tali sepatuku, aku menyeruput sedikit teh panas itu dan
menenggak tiga butir pil obat sekaligus.

―Baiklah,‖ aku meletakkan cangkir teh di meja di dekat tempat tidurku setelah meminum
beberapa teguk untuk menelan pil-pil pahit itu, ―Kita berangkat sekarang.‖

Mereka berdua mengangguk.

Cloud lalu memasangkan mantel hitam panjang di sekeliling tubuhku. Lalu memasangkan
topeng berbentuk kupu-kupu berwarna hitam di wajahku. Dan, tentu saja, kami berangkat.

***
Tempat pertarungan The Fantasy Area tidak ditentukan. Dimanapun itu, akan bisa menjadi
tempat bertarung. Pertarungan biasa dilakukan di malam hari, dimana tidak ada seorangpun bisa
melihat pertarungan kami (yang sebenarnya tidak perlu. Karena bila dua orang Gamer saling
bertemu dan bertarung, dunia, atau bumi, atau apalah sebutannya, akan berubah menjadi arena
pertarungan yang hampa dan tak berpenghuni. Kalau kalian pernah menonton anime, atau kartun,
atau film yang beradegan dunianya berubah menjadi tak berpenghuni dan kelihatan rusak parah.
Ya… kira-kira begitulah gambarannya). Aku tidak tahu darimana orang-orang tahu perkembangan
The Fantasy Area melalui internet, TV, atau media manapun karena dunia yang kumaksud dalam
bertarung adalah dunia yang terisolasi dari dunia yang sebenarnya. Jadi bisa dibilang, dunia yang
The Fantasy Area gunakan adalah dunia parallel.

Kini, aku, Cloud, dan Teresa sudah berada di taman besar di tengah kota. Aku memeriksa
lagi undangan yang diberikan si Nomor 78. Taman Grey. Memang ini tempatnya. Taman yang
indah sebenarnya, tapi sebentar lagi taman ini akan jadi tempat bertarung.

―Dimana si Nomor 78, Gregory Stiner?‖ tanyaku sambil memandang berkeliling taman
yang terlihat sangat sepi ini. ―Apa dia terlambat?‖

―Sepertinya, iya.‖ ujar Cloud. ―Mau menunggu sambil minum susu hangat?‖

―Lagi?‖ aku mendelik padanya. Bisa-bisanya dia mengatakan itu di saat seperti ini!

―Ini bagus untuk pertumbuhan tulang Anda, Nona.‖ Kata Cloud sambil menuangkan susu
hangat dari termos ke dalam gelas.

Tunggu, sejak kapan dia membawa keranjang piknik berisikan termos, gelas, dan juga
sandwich!?

―Da, darima—sejak kapan kau membawa itu?‖ tanyaku curiga.

―Eh? Nona tidak melihatnya, ya? Saya sudah membawanya sejak tadi. Kalau-kalau Anda
lapar, bisa langsung makan…‖

―Bukan itu masalahnya!‖

Telingaku yang sudah terlatih mendengar sebuah suara. Aku menoleh kearah semak-
semak dan melihat gerakan di sana. Aku memang melatih kelima indera-ku agar bisa membantuku
dalam permainan kematian ini. Dibutuhkan konsentrasi tinggi untuk bisa tetap berada di posisi
nomor 30. Aku juga harus menyembunyikan kekuatanku yang sebenarnya.

Seperti kata Darren, aku bisa saja meloncat menjadi Nomor 1 kalau aku menggunakan
seluruh kekuatanku.

―Teresa, Cloud.‖

Tubuh mereka berdua berubah sigap, begitu juga aku. Dengan perlahan, aku mendekat
kearah semak-semak itu sambil mengacungkan sebuah tongkat silinder perak yang langsung
berubah menjadi senjataku sebagai Gamer, sabit raksasa, Bloody Rose.

Aku berhenti sekitar satu meter dari semak-semak itu dan mengangkat sabitku.

―Game, start!‖

Bunyi seperti bunyi lonceng bel gereja terdengar menggema. Seketika itu juga keadaan
taman ini berubah, menjadi lebih suram dengan warna tanah terbakar dan pohon-pohon kering.
Dunia parallel The Fantasy Area.

Segera setelah aku mendengar semak-semak itu berbunyi lagi, aku menyabetkan sabitku
hingga membuat tanaman semak-semak itu terbelah dua. Sekelebat bayangan keluar dari semak-
semak itu dan mendarat 6 meter dariku. Seorang cowok berusia 14 tahun berambut merah berdiri
bersama seekor harimau putih sebesar mobil truk. Matanya merah dan dari mulutnya keluar air
liur. Iiihh…

―Wah, wah…‖ aku mengayun-ayunkan sabitku sehingga terlihat menakutkan,


―Bersembunyi itu tidak baik, Gregory Stiner.‖

―Kau pasti si Nomor 30.‖ Kata Gregory. Suaranya terdengar kekanak-kanakan, ―Aku sudah
dari tadi menunggumu.‖

―Oh? Kukira aku yang datang lebih cepat. Tapi, bersembunyi itu tindakan tidak terpuji.‖
Ujarku menjentikkan jari. Teresa dan Cloud langsung berdiri di hadapanku, ―Dan, aku rasa, kau
ingin menyerang secara sembunyi-sembunyi, ya?‖

―Cih.‖
Aku tertawa kecil melihat wajahnya. Menurutku, dia cukup imut juga. Tapi, sayangnya,
sekarang tidak. Kalau aku tidak memenangkan pertarungan ini, itu sama saja harga mati.

―Nah, bisa kita mulai pertarungannya? Sudah 20 menit kita berbicara.‖ Kataku.

―Tentu saja.‖ Gregory mengeluarkan dua bilah pedang dari sarung pedang yang ada di
pinggang kanannya. Mata kedua pedang itu berpendar biru aneh.

―Lion, serang Monsta gadis itu!‖

―Teresa, Cloud, bereskan Monsta Gregory Stiner.‖ Kataku, ―Pemiliknya, biar aku yang
urus.‖

―Yes, My Lady.‖

Mereka berdua lalu menyerang Monsta milik Gregory Stiner. Aku juga langsung
menyerang Gregory, dengan kecepatan di atas rata-rata manusia. Karena jika sudah berada di
dunia parallel The Fantasy Area, kekuatan, kecepatan, juga kemampuan lainnya akan meningkat
dua kali lipat. Itulah kenapa latihan di dunia nyata sangatlah penting.

Dia menangkis serangan sabitku dengan kedua pedangnya. Aku menyerang sekali lagi, kali
ini dengan serangan beruntun.

―Sudah kuduga.‖ Ujarku pelan. ―Pedang kembar terkutuk, Curse Sword.‖

―Rupanya kau tahu juga soal senjata Gamer.‖ Kata Gregory, ―Tapi, pedang ini lebih
istimewa daripada Curse Sword.‖

―Apa?‖

Gregory menyabetkan pedangnya ke wajahku. Secepat kilat aku bersalto ke belakang dan
mundur beberapa langkah. Sesuatu mengalir di pipiku, yang kusadari ternyata darahku sendiri.
Aku menyentuhnya dengan jari telunjuk.

―Cukup berani, pintar, dan berdedikasi.‖ Aku menjilat darah yang ada di jariku,
―Sepertinya kau bisa menjadi lebih kuat dariku.‖
―Sebenarnya, aku cukup handal dalam memanfaatkan kelemahan lawan.‖ Kata Gregory
sambil mengayunkan pedangnya ke udara di hadapanku. Samar-samar aku melihat pedang itu
memanjang dan…

Sekali lagi aku bersalto mundur melihat serangannya. Berkali-kali aku tersudut oleh
serangannya.

Sial. Sepertinya dia lebih kuat dari yang kuduga.

Tunggu. Serangan seperti ini. Tidak mungkin! Apa dia…

―Sepertinya aku terlalu meremehkanmu, Gregory.‖ Kataku sambil berdiri tegak dan
menyapu darah yang keluar dari sudut bibirku. Kulirik Teresa dan Cloud, mereka juga sedang
sibuk membereskan Monsta harimau itu. ―Jurus itu… aku tidak menyangka kau menguasai jurus
itu.‖

―Kau rupanya kenal jurus ini.‖ kata Gregory sambil mengayunkan pedangnya. ―Ini jurus
pedang ilusi. Aku rasa kau mengenal jurus ini, ya?‖

―Yah… sepertinya.‖ Aku tersenyum dengan sebelah bibir. ―Tidak mungkin aku lupa.‖

Bagaimana aku tidak kenal jurus itu. Jurus pedang itu adalah jurus pedang yang pernah
melukai punggungku 2 tahun lalu saat aku baru saja menjadi Gamer. Aku tidak mungkin lupa
jurus itu. Aku tidak menduga aku lupa siapa pemilik jurus itu barusan. Tapi, sekarang aku ingat
siapa dia. Dia orang suruhan…

―Kau… jangan-jangan… suruhan orang itu, kan?‖ kataku. ―Yang berusaha membunuhku 2
tahun lalu.‖

―Oh… kau masih ingat rupanya.‖ Gregory menjentikkan jarinya. Tubuhnya yang mungil itu
berubah menjadi tubuh pria dewasa.

Sial. Sekali lagi aku harus mengatakan ini, sial! Aku dijebak.

Selain tubuhnya yang berubah tinggi dan lebih dewasa, wajahnya tidak berubah. Dan baru
kusadari siapa Gregory Stiner sebenarnya.
―Lama tidak bertemu, Renata Nightblood.‖ Katanya sambil menyibakkan rambutnya ke
belakang, ―Aku senang kau tumbuh menjadi gadis remaja yang cantik.‖

Aku menatap tajam pria itu.

―Jack Bold.‖ Aku mengucapkan nama asli pria itu, ―Si Nomor 5. Anjing suruhan si Nomor
1.‖

Dalam dunia The Fantasy Area ada segelintir Gamer yang bisa mengubah usia dan
tubuhnya sesuka hati dengan sebuah benda atau jimat yang entah bagaimana bisa mereka dapatkan
secara illegal. Ada yang bilang kalau benda atau jimat pengubah itu didapatkan dari si nomor 1.

Pria bernama Jack itu tersenyum kecil, ―Ingatanmu cukup baik, ya? Sayang sekali, Nona
Alicia ingin aku membunuhmu dalam pertarungan ini.‖

―Apa?‖

Seketika dia lenyap dari pandanganku dan kusadari dia sudah berada di belakangku.
Dengan cepat dia memiting lenganku dan mencekik leherku.

―Akh!‖

―Wah, wah… sekarang giliranmu yang tersudut, ya?‖ katanya di telngaku.

―Licik! Akan kubunuh kau!‖

Aku berusaha melepaskan diri dari pitingannya dan mencoba mundur. Tapi, usahaku sia-
sia. Pitingannya semakin erat dan membuat tanganku sakit.

―Nona!‖

Aku melihat kearah Cloud yang berlari kearahku sambil melemparkan sebilah pisau kecil
kearah Jack. Aku lantas menundukkan kepala dan memukul perut Jack dengan sikuku. Pukulanku
membuatnya mundur, dan ini kugunakan untuk menjauh dari pria sinting ini. Cloud segera berdiri
di sampingku.

―Anda baik-baik saja, Nona?‖ tanyanya.


―Yah…‖ aku meludahkan darah yang ada di mulutku, ―Tidak lebih baik dari pertarungan
pertama itu.‖

―Orang itu…‖

―Jack Bold. Orang yang menyerangku 2 tahun lalu.‖ Aku mengangguk menyelesaikan kata-
katanya, ―Dia yang bilang kalau aku adalah Gadis Terkutuk saat itu.‖

―Apa Anda ingin dia dibunuh sekarang?‖ Kata Cloud sambil memandang kearah Teresa.

Monsta harimau milik Jack sudah mulai memudar seiring dengan serangan beruntun dari
Teresa. Pertarungan sudah hampir selesai jika Monsta lawan mulai memudar tubuhnya. Aku
melihat kearah Jack, wajahnya tidak terlihat khawatir. Apa Monsta harimau itu bukan satu-satunya
Monsta miliknya?

―Nona, apa sebaiknya kita mulai menyerangnya secara bersamaan?‖ bisik Cloud.

Aku tidak menjawab. Aku terus menatap Jack. Bukan karena aku takut kalah atau apa,
tapi… ada bayangan orang lain di dalam matanya. Bayangan yang aneh. Seolah memanggilku.

Renata…

Suara… suara ini… tidak mungkin! Itu bukan suaranya!

―Nona?‖

Aku tersentak kaget dan tidak menyadari ada serangan yang mengarah padaku. Cloud
menggendongku dan melompat bersalto ke udara.

―Anda baik-baik saja?‖ tanya Cloud sambil mendaratkan kakinya di tanah.

Aku mengangguk kaku dan melihat kearah Teresa lagi. Monsta harimau itu sudah
sepenuhnya menghilang, dan dia kini berdiri di sebelah Cloud. Tapi, dunia parallel ini tidak
menghilang. Itu berarti pertarungan belum selesai.

Cloud menurunkanku dan berdiri di belakangku. Jack Bold mengayunkan kedua


pedangnya dan memasukkan salah satunya ke dalam sarung pedangnya.

―Kita dijebak.‖ Gumamku pelan.


―Sepertinya begitu, Nona.‖ Kata Teresa menyetujui, ―Sebaiknya Anda menunggu dengan
tenang disini dan membiarkan kami membereskan oran itu.‖

―Baiklah.‖ Aku mengangguk dan memegang Bloody Rose-ku sangat erat, ―Cloud, Teresa.
Bunuh dia!‖

―Yes, My Lady.‖

Mereka berdua melesat maju dengan kecepatan luar biasa kearah Jack Bold. Gerakan
mereka bagai hantu. Tidak bisa dilihat dengan jelas. Tapi, aku tahu, mereka berhasil menyudutkan
pria sialan itu.

Renata…

―Siapa!?‖ aku berbalik ke belakang dan mendapati udara kosong di sekitarku.

Aku menoleh kearah Teresa dan Cloud yang masih menyerang Jack Bold. Tidak mungkin
suara itu datang dari mereka. Jaraknya terlalu jauh. Lantas siapa…

Renata… Renata…

Suara itu bergema di telingaku, tapi aku tidak melihat siapapun di dekatku. Darimana asal
suara itu? Kenapa… suara itu terdengar semakin dekat?

Disini… Renata, disini…

Aku menoleh ke belakang dan melihat kabut hitam menyelimutiku. Kabut hitam ini aneh,
kabut ini seolah menarikku masuk ke dalamnya. Aku menebas kabut itu hingga melihat jalan
keluar, tapi, secepat kilat kabut ini mulai menghalangi pandanganku. Kabut apa ini?

―Teresa! Cloud!‖ aku mencoba memanggil mereka berdua, tapi jaraknya terlalu jauh. Aku
yakin mereka tidak bisa mendengarku karena kabut ini memantulkan suaraku.

―Nona Renata!!‖

Kulihat mereka berdua berlari kearahku. Berarti suaraku terdengar oleh mereka. Aku
mengulurkan tanganku mencoba menjangkau mereka.

Kamu tidak perlu takut… suara itu terdengar lagi. Kamu hanya perlu ke sini…
―Siapa kau!? Jangan main-main denganku!‖ aku berteriak di tengah kabut hitam ini sambil
menyabetkan Bloody Rose ke segala arah, menciptakan beberapa lubang yang dengan cepat
menutup kembali.

Kamu hanya perlu di sini…

Sepasang tangan muncul dari belakang dan menyentuh wajahku. Aku terkesiap kaget dan
menoleh. Sentuhan tangan itu amat dingin dan membuatku merinding.

Dari kabut muncul sesosok tubuh. Si pemilik tangan tersebut.

Dan ketika aku melihat dengan jelas siapa itu, aku tidak tahu apakah harus terkejut atau
bereaksi seperti apa.

―Kamu tidak perlu takut…‖ sosok itu berbicara. ―Aku akan melindungimu.‖

Aku mundur selangkah ketika sosok itu berjalan mendekatiku.

―Siapa kau?‖ aku bertanya.

Sosok itu tersenyum. Dia mengulurkan tangannya dan menyentuh wajahku. Aku tidak
terkesiap lagi, tapi tubuhku terasa membeku dan tidak bisa bergerak. Sosok itu melepas topeng
kupu-kupu di wajahku.

Sial. Sepertinya kabut ini memiliki jiwa dan bisa membuat orang-orang yang terperangkap
di dalamnya mati perlahan.

Itu menurutku. Aku tidak tahu benar atau tidaknya.

Tangannya menelusuri garis wajahku dan sekali lagi membuatku merinding. Aku menepis
tangan sosok itu dan mundur selangkah lagi.

Sentuhan tangannya… aneh. Kataku dalam hati. Tangan itu seolah menyerap kekuatanku!

―Nona Renata!!‖

Aku tersentak kaget dan melihat kearah lubang yang kubuat dengan Bloody Rose, yang
ternyata belum sepenuhnya tertutup. Cloud berdiri di depan kabut ini sambil mengulurkan
tangannya padaku. Aku berusaha meraih tangan Cloud saat seseorang menarik tubuhku hingga
terjatuh.

―Tidak boleh… kamu tidak boleh kembali kesana… ‖ sosok itu menarik tanganku dengan
erat. Mataku mulai terasa berat. Aku tidak yakin apakah sosok itu bayangan ataupun sungguhan.
Cengkeraman tangannya sangat erat sampai tanganku terasa sakit.

―Lepaskan!!‖

―Nona, gunakan Bloody Rose!‖ seru Cloud.

―Aku tahu!‖

Aku mengayunkan sabit raksasaku dan membuat sosok itu buyar beserta kabut hitam yang
menyelimutiku. Suara jeritan mengerikan memekakkan telinga terdengar saat kabut hitam di
sekitarku buyar. Cloud menarikku berdiri dan menutupi kedua telingaku dengan tangannya.

―Je, jeritan apa itu?‖ tanyaku.

―Jeritan kematian.‖ Kata Cloud menarikku pergi dari jangkauan jeritan ini, ―Jeritan itu bisa
membuat otak mengalami gangguan dan dalam waktu kurang dari 5 detik akan membuat orang
yang mendengarnya tewas seketika.‖

―Apa?!‖

―Yang lebih penting, kita harus mundur untuk kali ini. Terlalu berbahaya bagi Anda,
medan pertarungan ini.‖ katanya lagi.

Aku mengangguk, lalu menoleh kearah Teresa, ―Teresa! Kita pergi sekarang!‖

―Baik, Nona!‖

―Game, End!‖

Setelah aku mengucapkan itu, bunyi dentang lonceng itu kembali terdengar. Dunia parallel
The Fantasy Area kembali menjadi dunia nyata.

Aku melihat kearah Jack Bold, yang seluruh tubuhnya penuh luka dan darah. Matanya
menatap tajam padaku. Mulutnya bergerak-gerak mengucapkan sesuatu yang tidak bisa kudengar.
Sebelum aku menyimak apa yang diucapkannya, Cloud sudah menggendongku dan membawaku
pergi dari tempat itu bersama Teresa.
BAB 6

―Ugh!‖

―Nona!‖

Aku memegang kepalaku yang terasa sakit dan seolah mau pecah. Suara denging aneh
menyerang kepalaku dengan resonansi luar biasa ketika kami sudah berada di rumah.

Cloud mendudukkanku di tepi kasur dan menyentuh telinga kananku.

―Darah…‖ gumamnya. ―Telinga kanan Anda terluka, Nona.‖

―Cloud, sakit…‖ rintihku, ―Sakit…‖

―Tahan sebentar, Nona,‖ kata Cloud menyapu telinga kananku dengan sentuhan selembut
kupu-kupu, ―Teresa, ambilkan air dingin dan handuk kecil, juga es batu untuk Nona Renata.‖

―Baik.‖

Cloud membaringkanku dengan posisi miring dan meletakkan kain di sekitar telingaku
yang terluka. Sakitnya sangat terasa dan membuat kepalaku pusing. Cloud memegangi tanganku
dan meletakkannya di dekat telinga kananku. Aku bisa merasakan ada cairan yang keluar dari
telingaku.

―Apa… apa itu buruk?‖ tanyaku sambil mendesis kesakitan.

―Anda punya penyakit lemah jantung. Mungkin suara itu membuat penyakit Anda sedikit
berontak.‖ Katanya, ―Tenang saja, saya dan Teresa akan menyembuhkannya.

Aku mengangguk pelan.

Teresa kemudian datang sambil membawa baskom berisi air dingin, handuk kecil, dan
sekantong kecil es batu di sebuah nampan. Dia juga membawa kotak P3K. Dengan cekatan, Cloud
membersihkan darah yang mengalir dari telinga kananku dengan kapas. Teresa sendiri membantu
Cloud mengambilkan segala keperluannya untuk mengobati lukaku.
Para Monsta tidak hanya bisa membunuh, tapi mereka juga punya kemampuan untuk
menyembuhkan luka. Baik itu luka ringan maupun luka parah sekalipun. Jika mereka sudah
mengikat kontrak dengan Gamer, mereka harus bisa menjaga pemegang kontrak mereka tidak
terluka sedikitpun dan tetap sehat, karena jika Gamer terluka dan tidak segera diobati… itu akan
membuat Gamer tersebut kehilangan fungsi anggota badannya walau luka yang dideritanya adalah
luka ringan (jadi kalau luka berat, bisa fatal akibatnya).

Aku meringis pelan ketika Cloud menyentuh luka di telinga kananku lagi.

―Aww…‖

―Tahan sebentar, ini tidak akan sakit lama, Nona.‖ Ujarnya.

―Iya iya… aku tahu…‖

Aku menahan sakit lagi ketika Cloud secara perlahan menaruh kapas bersih dan
meletakkan tangannya di sana. Seberkas sinar kebiruan muncul dari tangannya diikuti hilangnya
rasa sakit yang kurasakan di telinga kananku.

Selama 5 menit, sinar kebiruan itu terlihat, dan ketika aku sudah merasa lebih baik, sinar
kebiruan itu lenyap. Dia lalu membersihkan bercak-bercak darah yang ada di leher dan juga
bahuku dengan air dingin. Dia juga melepas kapas kotor yang masih menempel di telinga
kananku.

―Sudah selesai.‖ Ujarnya sambil mengelap wajah, leher dan bahuku dengan handuk basah,
―Tapi, Anda masih harus banyak istirahat. Lukanya bisa terbuka sewaktu-waktu jika Anda tidak
hati-hati.‖

Aku mengangguk mengiyakan ucapannya.

Teresa memberikan kantong es tadi di atas dahiku. Rasa dingin langsung menjalar dari
kantong es itu.

―Terima kasih, Teresa…‖ kataku sambil mendesah senang, ―Esnya enak.‖

Teresa mengangguk dan tersenyum, lalu membereskan baskom dan kotak P3K. Cloud
mengambilkan piyama tidurku di dalam lemari pakaianku dan meletakkannya di sampingku.
Teresa lalu melepas kancing bajuku dan menggantinya dengan piyama itu (tentu saja Cloud
membalikkan badannya. Tidak mungkin, kan, dia melihatku berganti pakaian!?).

Aku menyentuh mata kananku ketika Teresa mengikat pita yang menjadi tali piyama
tidurku.

―Ada apa, Nona?‖ tanya Teresa.

―Tidak.‖ aku menggeleng, ―Aku hanya… merasa aneh.‖

―Anda selalu merasa aneh setiap hari sejak Anda bertemu kami.‖ Ujar Cloud sambil
tersenyum.

Aku mengedikkan bahu, ―Entahlah. Sepertinya aku masih tidak menyangka sudah 2 tahun
terlewati sejak aku bertemu kalian. Kehidupanku langsung berubah drastis. Tidak ada lagi
kehidupan normal dalam diriku.‖

―Anda tidak benar.‖ Kata Teresa, ―Anda masih normal di luar.‖

―Hanya di luar. Bukan di dalam.‖ Aku menyetujui ucapan Teresa.

―Nah, sekarang Anda harus istirahat.‖ Teresa menyelimutiku dengan selimut dan
menyalakan AC kamar, ―Mungkin sebaiknya Anda tidak perlu sekolah selama 3 hari. Untuk
memastikan luka Anda sudah benar-benar sembuh, itu perlu waktu.‖

―Yah… benar juga.‖ Aku menghela nafas, ―Lalu, bagaimana dengan Darren? Apa dia akan
kesini lagi?‖

―Tentu. Tuan Darren adalah tunangan Anda, sudah pasti dia akan datang menjenguk.‖
Kata Teresa, ―Apa Anda ingin Tuan Darren berada disini besok?‖

―Boleh juga. Untuk menghibur kebosananku.‖ Aku tersenyum kecil dan memejamkan
mata.

―Baiklah, aku mau tidur. Kalian boleh pergi,‖ kataku lagi.

Mereka berdua mengangguk, lalu berjalan keluar dari kamarku dan menutup pintu.
Aku menghela nafas lagi dan berusaha mengendurkan pernafasanku sebelum aku jatuh
tertidur.
BAB 7

Di sebuah tempat di pinggir lain kota, sebuah rumah besar berdiri disana. Rumah yang megah dan
indah, namun terlihat suram karena taman yang tidak terawat dan cat rumah yang kusam dan
mengelupas di sana-sini.

Namun, siapa sangka jika rumah yang suram itu berpenghuni.

Seorang gadis berusia 19 tahun berdiri di depan jendela besar di kamarnya. Rambutnya
hitam pendek sebahu. Ia mengenakan sweater biru muda dan rok selutut berwarna coklat. Di
wajahnya terlihat perban yang menutupi mata kirinya. Sebelah matanya menatap keluar dengan
pandangan menerawang.

―Ah, rupanya Anda ada disini.‖

Suara itu membuat si gadis menoleh kearah pintu kamar yang terbuka. Jack Bold masuk
ke dalam dan menyalakan lampu kamar yang sedari tadi tidak dinyalakan.

―Jack…‖ gadis itu memandang marah padanya. Kedua tangannya tanpa sadar terkepal erat.

―Anda tidak perlu khawatir…‖ kata Jack seolah mengetahui pikiran gadis itu. ―Aku tidak
membunuh adik kesayanganmu.‖

―Mau sampai kapan kalian mengurungku disini? Alici—Rine, apa dia masih menginginkan
sesuatu dariku? Selain kebebasanku?‖ geram gadis itu.

―Kasar sekali.‖ Jack berjalan kearah gadis itu. Saat jaraknya dan si gadis hanya 30 senti, Jack
berhenti dan memandangi wajah gadis itu. ―Kau tidak sopan memanggil beliau hanya dengan
namanya saja.‖

―Kalian yang curang. Mengurungku disini hanya untuk mengincarnya!‖ kata gadis itu,
―Kalau saja waktu itu kalian tidak menggunakan cara licik, mungkin ini semua tidak akan pernah
terjadi pada Renata. Dia pasti masih hidup normal seperti anak-anak lain—‖

―Jack?‖
Mereka berdua menoleh kearah pintu kamar dan melihat seorang gadis berambut pirang
panjang bergelombang masuk ke dalam bersama seorang pelayan pria berpakaian serba hitam.

―Nona Alicia,‖ Jack membungkuk saat gadis pirang itu mendekat kearahnya, ―Maaf, kalau
percakapan kami mengganggu tidur Anda.‖

Gadis berambut pendek tadi memandang jijik Jack yang membungkuk pada Alicia Blonde
yang bernama asli Rine McMillan.

―Berdirilah.‖ Alicia memegang tangan Jack.

Jack lalu berdiri dan tersenyum licik sekilas pada gadis berambut pendek. Alicia
memperhatikan sikap kedua orang di hadapannya dengan seksama dan mengerutkan kening.

―Lily, apa Jack mengganggumu lagi?‖ tanyanya.

Gadis berambut pendek yang bernama Lily itu membuang muka dan tidak mau menjawab.
Dan Alicia sudah tahu jawabannya.

―Begitu… anak itu tidak terbunuh. Hanya luka ringan.‖ Alicia tersenyum kecil, ―Kau yakin
kalau anak itu akan kembali mencariku, Jack?‖

―Tentu, Nona.‖ Jack mengangguk, ―Sesuai rencana Anda.‖

―Hmmfh… baguslah.‖ Alicia berjalan mendekati pelayannya, ―Aku ingin tahu, sebesar apa
kekuatannya jika dia menjadi nomor 3.‖

―Apa?‖ Lily memalingkan wajahnya dan menatap Alicia, ―Mau apa lagi kau dengannya!?
Mau membuatnya lebih menderita? Itu tidak akan kubiarkan!‖

Alicia menoleh kearah Lily dengan senyuman sinis, ―Tidak. Aku tidak ingin membuatnya
menderita.‖ Katanya menggeleng, ―Tapi, aku ingin membuatnya menjadi milikku.‖

―Milikmu? Kau gila.‖ Kata Lily.

Alicia tertawa dan bersandar pada pelayannya, yang terus saja diam. Namun, jika
diperhatikan, bola mata pelayan Alicia berwarna kuning keemasan. Juga tubuhnya yang teramat
kaku dan tegap, seolah ia terbuat dari batu, serta wajah yang dingin dan tanpa ekspresi namun
sangat tampan. Tidak akan ada yang mengira bahwa ia adalah… Monsta.

―Siapa bilang aku gila, Lily?‖ kata Alicia setelah tawanya berhenti. ―Aku hanya ingin
membuatnya menjadi milikku. Apa itu salah? Mengganggumu?‖

Lily menatap tajam Alicia.

―Apa maksudmu dengan membuat Renata menjadi milikmu?‖ kata Lily, ―Apa kau mau—‖

―Seperti yang kau pikirkan.‖ Sela Alicia.

Kali ini Lily tidak bisa menahan amarahnya. Dia menyabetkan tangannya di udara dan
memunculkan sebuah pedang panjang berwarna merah darah dari tangannya. Lily menghunuskan
pedang itu pada Alicia.

―Hooo… pedang Bloody Nightmare.‖ Alicia memandang pedang di tangan Lily dengan
pandangan kagum yang nyata. Membuat wajahnya seperti anak kecil berusia 10 tahun. ―Kau tidak
pernah memperlihatkan pedang itu padaku sebelumnya…‖

―Jangan pernah membuat Renata menderita lagi!‖ kata Lily menahan suaranya agar tetap
tenang walau dia sangat marah, ―Atau aku akan menebasmu dengan senjataku.‖

Jack dan Monsta milik Alicia memosisikan diri mereka di antara kedua gadis itu untuk
melindungi Alicia. Tapi, Alicia menggelengkan kepalanya.

―Lily, aku tidak akan menyakitinya. Aku hanya ingin dia menjadi milikku.‖ Kata Alicia,
―Karena itulah aku menculikmu, mengurungmu di rumahku. Karena aku ingin melihat
kekuatannya yang sebenarnya terbangun.‖

―Kekuatan Renata yang… sebenarnya?‖ Lily mencengkeram pedangnya dengan erat, ―Apa
maksudmu…‖

―Seperti yang kau pikirkan. Lagi.‖ Alicia tersenyum.

―Kau…‖
―Tapi, jika kau tidak mau tenang, aku bisa saja membunuhnya malam ini juga.‖ Kata Alicia
lagi, ―Kau tidak ingin melihat adik tercintamu mati begitu saja, kan?‖

Lily menahan geramannya dan menebaskan pedangnya di udara dan seketika itu juga
pedang Lily menghilang.

―Kalau kau sampai membuat Renata menderita, aku benar-benar tidak akan
memaafkanmu.‖ Geram Lily, ―Keluar dari sini!‖

Alicia melenggang pergi tanpa berbicara dan Monsta serta Jack mengikutinya di belakang.

Setelah ketiga orang itu pergi, Lilya berdiri memandangi langit di luar jendela sambil
menahan tangis.

***

―Gilbert,‖

Monsta Alicia membungkukkan badannya.

―Aku sudah pernah mendengar kehebatan keluarga Nightblood sebagai Gamer.‖ Kata
Alicia, ―Bisa kau ceritakan lagi kisah yang itu? Aku sangat menyukainya.‖

―Apa Anda tidak ingin tidur lagi, Nona?‖ tanya Gilbert balik.

Alicia memiringkan kepalanya dan berjalan masuk ke kamar.

―Hmmm… baiklah. Aku akan tidur.‖ Kata Alicia, ―Kau pergi saja. Aku akan tidur. Jangan
khawatir.‖

Gilbert mengangguk dan membungkuk, lalu segera menutup pintu kamar Alicia.

Setelah langkah kaki Gilbert tidak terdengar lagi, Alicia berjalan kearah meja di sebelah
tempat tidurnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam lacinya. Sebuah kalung berbandul bulan
sabit hitam. Sesuatu dalam bandul itu bergerak dan seperti berbicara pada Alicia karena gadis itu
tersenyum.

―Sebentar lagi…‖ gumam Alicia, ―Kau akan terbangun, Putri Kegelapan.‖

Alicia menggenggam erat batu kalung itu hingga pecah berkeping-keping. Sesuatu keluar
dari dalam batu itu dan terbang keluar menembus jendela kamarnya.
BAB 8

Kalau di bilang istirahat, sebenarnya juga tidak tepat. Nyatanya, selama aku izin untuk tidak masuk
sekolah, aku harus mengerjakan tugas dari perusahaan yang masih menumpuk. Ya. Walau Cloud
yang mengurus perusahaan, sebenarnya dia hanya direktur utama sementara, sedangkan akulah
direktur utamanya.

Sekarang sudah hari kedua aku tidak masuk sekolah. Sekarang ini, aku sedang di ruang
kerja sekaligus ruang belajarku, meneliti perkembangan produk yang dibuat perusahaan dan
menghitung keuangannya. Cloud sendiri ikut membantuku. Teresa tidak ada. Dia harus terus
pergi ke SMA GaVen untuk memberikan laporan pembelajarannya padaku untuk kepala sekolah.

―Waktunya minum obat.‖ Suara Cloud yang tiba-tiba terdengar di telingaku membuatku
kaget. Aku nyaris terlompat dari kursi gara-gara suaranya yang kelewat dekat dan pelan itu.

―Ada apa, Nona?‖ tanyanya sambil menahan tawa. Sial. Dia malah menertawakanku.

―Kau membuatku kaget saja!‖ kataku sambil duduk kembali, ―Jangan pernah melakukan
itu lagi.‖

―Baiklah.‖

Cloud meletakkan secangkir teh di hadapanku beserta satu piring kecil berisi beberapa
butir obat. Aku menelan semua obat itu sekaligus, dan kemudian meminum tehnya.

―Sudah.‖ Kataku, ―Sekarang, aku mau bekerja lagi.‖

―Lebih baik Anda istirahat.‖ Katanya sambil mengambil cangkir teh yang setengah kosong
itu. ―Telinga kanan Anda masih belum bisa mendengar dengan baik.‖

―Aku tahu…‖ ujarku sambil menulis e-mail pada karyawan perusahaan tentang produk
baru untuk bulan depan yang sudah kusetujui. ―Tapi, aku masih banyak pekerjaan. Dan juga—‖

―Renata!‖
Aku terlonjak kaget dan menoleh kearah pintu yang menjeblak terbuka. Darren masuk ke
dalam dan langsung memelukku erat sampai aku tidak bisa bernafas.

―Darren? Lepas…‖

―Kamu tidak apa-apa, kan? Kata Teresa, telinga kananmu terluka.‖ Darren menyentuh
telinga kananku, ―Sepertinya sudah disembuhkan.‖

―Darren, lepaskan… aku tidak bisa bernafas, nih.‖ Kataku melepas pelukannya.

―Kamu baik-baik saja, kan?‖ tanyanya lagi.

―Iya. aku baik-baik saja.‖ Kataku mengangguk, ―Tidak perlu khawatir seperti itu.‖

―Syukurlah.‖ Darren tersenyum padaku, ―Aku takut kau terluka parah.‖

―Kau terdengar seperti perempuan, Darren.‖ Kataku geli melihat sikapnya.

Darren tersenyum dan duduk di meja. Sebenarnya itu tindakan yang tidak sopan. Tapi,
sepertinya cowok ini tidak peduli dengan peraturan umum seperti tidak boleh duduk di atas meja.
Regald, Monsta Darren, berdiri di samping pintu, diam tidak bergerak seperti patung.

―Oh ya, mumpung aku sudah disini, bagaimana kalau kita jalan-jalan?‖ katanya.

―Jalan-jalan?‖

―Ya. Daripada kamu mengurusi masalah… uh, hitung-menghitung ini, lebih baik kita jalan-
jalan.‖ Katanya lagi.

―Aku tidak bisa.‖ Jawabku sambil kembali menatap layar laptop. ―Aku masih ada pelajaran
kepribadian setelah ini bersama Teresa.‖

―Duh… kejam sekali. Tunanganmu ini, kan sudah datang jauh-jauh kemari hanya untuk
menghabiskan waktu bersamamu.‖ Kata Darren dengan nada merajuk.

―Aku benar-benar tidak bisa. Aku sibuk.‖ Kataku lagi, ―Selain itu, apa kamu tidak
sekolah?‖

―Ha? Untuk apa?‖


Aku menoleh menatapnya sambil mengerutkan kening. Apa katanya tadi? Untuk apa? Apa
dia ini tidak sekolah atau bagaimana?

―Mungkin Anda tidak tahu, Nona.‖ Cloud menyuguhkan teh pada Darren, ―Tapi, Tuan
Darren sudah lulus kuliah dengan nilai tertinggi di universitas tempatnya belajar dan sudah meraih
gelar doctor. Tuan Darren juga mempunyai perusahaan yang terkenal, AngelStark Company.‖

―Apa?!‖

Aku menatap Darren lagi, yang tersenyum lebar sambil mengacungkan dua jarinya
membentuk huruf V.

―Lulus… kuliah??? Dia sudah lulus kuliah??‖ kataku tidak percaya. ―AngelStark
Company!? Perusahaan yang bergerak di bidang produk kecantikan dan memiliki cabang
perusahaan makanan dan pernak-pernik yang terkenal itu?‖

―Tidak perlu kaget seperti itu.‖ kata Darren, ―Aku, kan hanya menjalankan perusahaan
yang disukai para wanita. Perusahaan kecantikan.‖

Aku membuka mulutku ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak ada yang keluar dari mulutku.
Aku tidak percaya Darren adalah pemilik AngelStark Company. Perusahaan itu adalah
perusahaan yang juga bekerja sama dengan perusahaanku, ERU Company. Ini gara-gara aku tidak
cermat membaca laporan pemilik saham dan perusahaan-perusahaan lain yang bekerja sama
dengan perusahaanku dari Cloud.

―Kamu benar-benar tidak mau ikut jalan-jalan? Ayolah… pekerjaan bisa dilakukan nanti.‖
Kata Darren setengah merajuk padaku.

―Tapi…‖

―Anda bisa meninggalkan pekerjaan itu pada saya.‖ Kata Cloud menyela, ―Saya akan
mengerjakannya secepat mungkin.‖

―Iya, memang. Tapi…‖

―Tidak baik jika Anda menolak ajakan seorang pria, apalagi kalau dia adalah tunangan
Anda, untuk jalan-jalan.‖ Kata Cloud lagi, ―Lagipula, saya rasa, Anda butuh hiburan.‖
Aku menatapnya dengan tatapan sengit yang aku tahu tidak akan mempan dengannya. Aku
menghela nafas dan menghembuskannya dengan kesal.

―Baiklah. Aku akan ikut denganmu, Darren.‖ Kataku. Yang langsung disambut dengan
senyum manis darinya.

Akhirnya, setelah pekerjaan yang kuserahkan pada Cloud selesai, kami segera keluar dari
ruanganku dan berjalan ke pintu depan. Cloud dan Regald mendampingi kami di belakang.
Rencananya, kami akan jalan-jalan dengan menggunakan mobil Darren. Jadi, otomatis Cloud tidak
perlu menyetir mobil dan Regald-lah yang akan menyetir.

Ketika aku akan masuk ke dalam mobil, aku melihat siluet tubuh yang kukenal berdiri di
depan pintu pagar rumah yang jaraknya dari tempatku berdiri sekitar 10 meter (tentu saja aku bisa
melihatnya. Ingat, kan, kalau semua indera-ku menjadi lebih peka dari sebelumnya?). Aku
berhenti bergerak ketika melihat dengan seksama siapa yang berada di sana.

Ya ampun. Itu Eliza!

Ini gawat! Kalau dia melihat Darren di sini, dia mungkin akan berpikiran yang macam-
macma. Apalagi… aduh! Cloud juga ada dan tidak ke perusahaan. Eliza pasti juga mencurigai hal
itu nanti.

Tapi—hei! Darimana dia tahu alamat rumahku yang sekarang? Padahal aku tidak pernah
memberitahu siapapun dimana aku tinggal sekarang.

―Ada apa, Nona?‖ tanya Cloud berbisik di sebelahku.

―Ada Eliza di depan pagar.‖ Balasku ikut berbisik.

Cloud melihat kearah yang kutunjuk dan mengangguk mengerti.

―Apa Anda ingin teman Anda itu disuruh pergi?‖ tanyanya lagi.

Aku menimbang-nimbang sejenak, kemudian menggeleng, ―Itu tidak sopan.‖ Kataku,


―Biarkan saja dia masuk, dan…‖

Aku menelan ludah dan melirik Darren sekilas. Dia sepertinya melihat Eliza juga. Dan aku
tahu, aku tidak bisa menyembunyikan identitasku yang satu ini dari Eliza selamanya.
―…biarkan saja dia ikut jalan-jalan dengan kita. Siapa tahu dia bisa menjadi teman yang baik
di perjalanan.‖ Kataku menyambung ucapanku yang barusan. ―Bawa saja dia kemari.‖

―Baik.‖

Cloud lalu berjalan kearah pintu pagar.

―Itu siapa, Renata?‖ tanya Darren yang tahu-tahu sudah berada di dekatku dan membuatku
terlonjak kaget.

―Darren! Jangan mengagetkanku tiba-tiba begitu, dong!‖ gerutuku.

―Maaf…‖ katanya sambil tersenyum polos. ―Jadi, itu siapa? Yang di depan pagar?‖

―Itu temanku. Eliza.‖ Kataku, ―Memangnya kenapa kamu ingin tahu?‖

―Tidak apa-apa.‖ Darren menggeleng, ―Apa dia tahu kalau kamu…‖

―Gamer? Tidak, Darren. Dia tidak tahu.‖ Aku menyela ucapannya. ―Dia hanya tahu aku
anak yatim-piatu yang tinggal di rumah kontrakan murah dan bersekolah di SMA GaVen dengan
factor keberuntungan.‖

―Oh…‖

Aku melihat lagi kearah pagar dan melihat Cloud berjalan bersama Eliza.

―Yah… karena dia datang di saat yang tidak tepat, aku yakin aku harus menceritakan
semuanya secara detail.‖ Kataku mendecakkan lidah.

―Menceritakan apa? Bahwa kamu adalah Gamer?‖ tanya Darren.

Aku menggeleng, ―Eliza tahu Teresa dan Cloud adalah orang tuaku. Aku tidak yakin
apakah dia tidak menyadari sikap Cloud yang seperti pelayan itu. Aku yakin, Eliza pasti akan
menanyakan kenapa Cloud bertingkah seperti pelayan padahal dia adalah ayahku. Dan aku harus
menceritakannya dari A sampai Z.‖ kataku.

―Hmmm…‖
―Tapi, kalau aku? Apa kamu juga akan menceritakan tentang aku?‖ kata Darren sambil
menepuk-nepuk kepalaku.

Jantungku langsung berjumpalitan tidak keruan ketika dia menepuk kepalaku. Aku
menepis tangannya dan berpaling lagi kearah Eliza yang semakin dekat.

―Yah… mungkin.‖ Kataku padanya.

―Renata?‖ sapa Eliza saat berada di hadapanku.

―Hai, Eliza.‖ Sapaku balik, ―Ada apa—ah, bukan. Bagaimana kamu bisa tahu rumahku
disini?‖

Eliza tersenyum sambil memperlihatkan kertas yang ada di tangannya.

―Apa kamu tidak tahu rumah ini juga dekat dengan rumahku? Aku mendapatkan
alamatmu yang baru dari ayahku.‖ Katanya. ―Aku tidak tahu kalau ini rumahmu. Kenapa kau tidak
bilang padaku?‖

Oh ya. Aku lupa. Ayah Eliza, kan, juga tinggal di dekat sini. Bagaimana aku bisa lupa akan
hal itu?

―Lalu, kamu ada apa kesini?‖ tanyaku lagi tanpa menjawab pertanyaannya.

―Aku ingin menyerahkan catatan pelajaran untukmu. Aku dengar dari ibumu, katanya
kamu sakit. Jadi aku menyempatkan waktu luangku untuk membuat catatan pelajaran selama
kamu tidak masuk.‖

Eliza menyerahkan sebuah buku tulis bersampul biru yang cukup tebal padaku.

―Terima kasih, Eliza.‖

―Tidak masalah.‖ Eliza berkata sambil tersenyum. Tapi, kemudian wajahnya berubah
serius, ―Anu, Renata, kenapa ayahmu tadi…‖

Aku menggelengkan kepalaku sebelum dia melanjutkan kata-katanya.

―Kita bicarakan saja sambil jalan.‖ Kataku tersenyum, menekan rasa penasaran yang jelas
terlihat di mata Eliza, ―Kamu mau ikut? Aku akan menceritakan… semuanya.‖
―Semuanya? Tentang apa?‖

―Kamu akan tahu. Ayo, ikut.‖

***

―Jadi, mereka berdua sebenarnya adalah pelayanmu!?‖

Aku mengernyit ketika Eliza berteriak keras di dekat telingaku. Darren malah
menertawakanku sambil memegang tanganku. Sial, dia bukannya membantuku menjelaskan,
malah mengambil kesempatan memegang tanganku.

Sekarang kami sudah berada di mobil, menuju ke tempat yang disarankan oleh Darren.
Selama itu pula, aku menceritakan semuanya (kecuali tentang aku adalah seorang Gamer. Itu tidak
perlu diceritakan. Aku tidak mau menakutinya, atau dia meninggalkanku). Menjawab pertanyaan-
pertanyaan Eliza dengan hati-hati agar aku tidak kelepasan bicara bahwa aku adalah Gamer. Sulit,
memang, tapi untungnya aku melewatkan itu semua dengan sempurna.

―Err… ya. Mereka berdua memang pelayanku.‖ Kataku, ―Aku tidak punya siapa-siapa lagi
selain mereka. Untunglah mereka berdua yang menemukanku lebih dulu. Karena kalau tidak,
mungkin aku masih harus hidup sebatanga kara seperti dulu.‖

―Begitu…‖ Eliza manggut-manggut, ―Ya ampun, Renata, kamu tidak pernah menceritakan
hal ini padaku! Curang!‖

―Hei, sekarang aku sudah menceritakannya, bukan? Jadi, kamu tidak penasaran lagi?‖

―Iya juga, sih…‖ Eliza nyengir. ―Aku senang kamu menceritakannya padaku. Tapi, kalau
ada masalah, cerita padaku, ya? Aku pasti akan membantu.‖

―Ya. Terima kasih, Eliza.‖ Aku tersenyum padanya dan dia tersenyum balik.

―Lalu…‖ pandangan mata Eliza tertuju pada Darren yang masih memegang tanganku.
―Ah, ya. Ini Darren.‖ Kataku. Aku lupa menceritakan siapa Darren padanya, ―Dia adalah…
tunanganku.‖

―Tunangan!??‖ mata Eliza bolak-balik menatapku dan Darren, ―Tunanganmu???‖

―Iya. Aku juga baru mengetahuinya empat hari yang lalu. Dia yang datang sendiri ke
rumahku dan mengatakan dia tunanganku.‖

―Benarkah? Apa dia tidak berbohong?‖

―Tentu saja tidak.‖ sahut Darren, ―Aku memang tunangannya. Kami ditunangkan sejak
kecil. Sewaktu Renata menghilang, aku bersusah payah mencarinya.‖

―Oh…‖ Eliza manggut-manggut lagi.

―Nah, bagaimana sebagai tanda perkenalan, kita pergi makan es krim?‖ kata Darren.

―Ha???‖ aku menoleh kearahnya dengan sebelah alis terangkat, ―Makan es krim? Darren,
aku tidak mau makan es krim. Kau bilang kita hanya jalan-jalan sa—‖

―Justru karena itu aku mengajakmu jalan-jalan, Renata.‖ Ujarnya menyela ucapanku sambil
tersenyum lebar. ―Aku ingin memberi kejutan untukmu.‖

―Kejutan?‖ tanya Eliza.

―Ya. Karena aku berhasil menemukannya, sesuai pesan kedua orang tuanya, aku ingin
memberinya sesuatu yang ditinggalkan oleh mereka.‖ kata Darren, ―Tapi, jangan tanya sekarang.
Nanti bukan kejutan namanya…‖

―Wah… romantis sekali.‖ Kata Eliza. ―Tunanganmu benar-benar orang yang romantis,
Renata.‖

Aku tidak mengerti sisi romantisnya ada dimana. Tapi aku hanya mengedikkan bahu.

―Oh ya, tadi pagi ada seseorang yang mencari ibu—err, maksudku, Teresa.‖ Kata Eliza,
―Laki-laki tinggi berpakaian serba hitam dan seorang anak perempuan berambut pirang.‖

―Untuk apa mereka mencari Teresa?‖ tanyaku heran, ―Kalaupun itu adalah siswa baru di
sekolah, mungkin saja—‖
―Tidak.‖ Eliza menggeleng, ―Mereka tidak hanya mencari Teresa. Aku sempat mendengar
pembicaraan mereka karena aku tidak sengaja melewati koridor tempat mereka berbicara. Mereka
mengatakan kalau mereka mencari Putri Kegelapan.‖

―Putri Kegelapan?‖ aku mengerutkan kening. Rasanya aku kenal nama itu.

Kepalaku tiba-tiba berdenyut saat Eliza bicara lagi.

―Ya. Mereka bilang, mereka mencari Putri Kegelapan yang mengikat—hei, Renata? Kamu
baik-baik saja?‖

Aku mengerjap-ngerjapkan mata ketika tangan Eliza menyentuh bahuku. Sekelebat


bayangan sempat melintas di mataku ketika aku mencoba memfokuskan mataku pada Eliza.

―Ayah! Ibu!‖

Anak kecil? Aku bergumam dalam hati ketika melihat gadis kecil berambut panjang dan
bermata biru kemerahan sedang memegang boneka kelinci putih. Berlari kearah kedua
orangtuanya yang sedang duduk di sofa panjang.

Pemandangan apa ini? Ini dimana?

―Waduh waduh… kamu tidak perlu berlari seperti itu…‖ ujar si ibu sambil menyambut
gadis kecil itu ke dalam pelukannya.

―Ayah, ibu, teman-temanku tidak mau bermain denganku lagi.‖ ujar si gadis kecil mulai
menangis, ―Mereka bilang aku monster. Aku tidak sama dengan mereka… ‖

―Ya ampun… kamu tidak perlu nangis begitu, sayang.‖ Kata sang ayah, ―Mereka tidak tahu
kalau nanti, mereka akan mengagumimu. Seperti kakakmu. Kamu tidak perlu menangis lagi. ‖

Gadis kecil itu menghapus air matanya dan aku melihat mata biru kemerahannya berubah
menjadi biru seperti warna mata—

―Renata?‖

Aku terkesiap kaget dan melihat Eliza memegang kedua pundakku.

―E… liza?‖
―Renata? Kamu kenapa? Wajahmu pucat.‖ Katanya sambil mengelap keringat yang tanpa
kusadari mengalir di dahiku. ―Apa kamu sakit?‖

Aku menggeleng pelan dan menoleh kearah Cloud, yang sudah kuduga, memegang kalung
yang sama dengan yang dipunyai Teresa.

―Cloud,‖

―Ya, Nona?‖ dia memasukkan kalung itu ke dalam saku bajunya dan menoleh kearahku.
―Apa ada masalah?‖

―Tidak.‖ aku menggeleng, ―Kapan kita akan sampai di tempat tujuan kita, Darren?‖ aku
menoleh pada Darren yang sepertinya menatapku.

―Darren?‖

―Oh?‖ kedua mata Darren mengerjap, ―Sebentar lagi. Kenapa? Sudah tidak sabar, ya?‖

Aku memandang Darren, Cloud, dan Regald bergantian. Aku merasa mereka
menyembunyikan sesuatu yang aku tidak tahu apa itu.

Tapi, aku yakin, aku tidak akan bisa mengetahuinya. Setidaknya mungkin belum saatnya.
BAB 9

Rupanya tempat yang kami tuju adalah taman bunga yang cukup indah. Banyak jenis bunga
bermekaran disini. Terutama bunga mawar putih, bunga kesukaanku.

Taman ini cukup dipadati oleh orang-orang. Ada beberapa orang yang duduk di kursi
panjang sambil memandang kearah danau yang terletak di samping taman, ada juga anak-anak yang
asyik memetik bunga-bunga untuk dijadikan mahkota bunga.

―Wah… taman ini indah sekali.‖ Kata Eliza yang berdiri di sebelahku.

―Mm… memang indah.‖ Aku menyetujui. Aku menoleh kearah Darren yang sedang sibuk
sendiri di belakang punggungku.

―Darren, apa disini kau akan memberiku kejutan?‖ tanyaku.

―Tentu saja.‖ Darren menoleh kearahku sambil tersenyum, ―Kemarikan tanganmu.‖

Aku menyambut uluran tangan Darren, dan tahu-tahu saja, dia malah menarikku berlari
kearah hutan di taman ini.

―Darren?!‖

―Tapi, bukan di depan temanmu.‖ Katanya mengedipkan mata jahil. ―Regald! Cloud!
Kalian berdua disini saja, jaga teman Renata!!!‖

―Apa??‖

―Kita akan kesini. Ayo.‖

Darren mengajakku berlari melewati semak bunga berwarna putih. Kami terus berlari
melewati semak-semak yang lain sampai…

―Ya Tuhan.‖ Aku terkesiap kaget ketika kami berhenti berlari dan Darren menunjuk ke
satu arah.

―Lihat? Aku tahu kamu akan menyukai ini.‖ katanya nyengir.


Aku mengerjap-ngerjapkan mata, berusaha memikirkan kalau tempat ini hanya mimpi.
Tapi setiap kali aku membuka mataku lagi, tempat ini masih ada. Dan aku yakin tempat ini bukan
bohongan.

Tempat ini adalah tempat pertama kali aku bertemu Cloud dan Teresa. Di taman ini. Ya.
Aku ingat tempat ini. Tempat dimana mereka mengikat kontrak denganku pertama kalinya dan
kehidupanku berubah 180 derajat. Tempat ini juga tempatku pertama kali berada… di kota ini. Di
tempat ini aku terdampar, tidak ingat apapun dan tidak mempunyai apa-apa kecuali baju di badan.

―Darren,‖ aku menelan ludah. Entah aku harus marah, kesal, atau frustasi berada di tempat
aku memulai segalanya disini, ―Apa maksudmu membawaku ke tempat ini? Tempat ini… aku
benci tempat ini.‖

―Tidak. Kamu tidak membencinya. Kamu hanya tidak ingat kenapa kamu bisa berada
disini saat pertama kali. Dan juga, aku tahu dari Cloud kalau di tempat inilah mereka melakukan
kontrak denganmu.‖ Kata Darren.

―Kau tahu itu dari Cloud?!‖ kataku keras.

―Jangan marah padanya. Dia hanya menjalankan tugasnya.‖ Ujar Darren, ―Dan karena
tempat ini sangat bersejarah untukmu, aku juga ingin mengukirkan sejarah di tempat ini untukmu.‖

―Apa maksudmu?‖ tanyaku, ―Jangan bilang kalau disini ada jebakan…‖

―Tidak ada jebakan.‖ Darren menggeleng, ―Aku hanya akan memberikan ini padamu.‖

Darren meraih tangan kiriku dan memakaikan sebuah cincin berlian berwarna biru yang
cantik di jari telunjukku.

―Cincin ini…‖

―Ini cincin ibumu.‖ Kata Darren, ―Cincin ini adalah cincin pernikahan ayah dan ibumu.
Memang di tanganmu agak terlalu besar, tapi suatu hari nanti pasti akan muat di jari manismu.‖

Aku menatap cincin itu. Berlian birunya berkilau diterpa sinar matahari.
―Dan, ini.‖ Darren meraih tanganku yang lain dan memasangkan cincin dengan berlian
berwarna sama, tapi lebih kecil, ke jari manisku, ―Ini cincin khusus dariku. Sebagai tanda kalau
kita tunangan.‖

―Tapi, Darren, bukannya kalau cincin tunangan itu harusnya di—‖

―Di tangan kirimu sudah ada cincin dari orangtuamu. Kalau aku menambahkannya lagi,
kamu nanti dikira pamer, dong…‖ sela Darren sambil tersenyum jenaka.

―Oh ya,‖ aku tersenyum melihat senyumnya, ―Benar juga.‖

Aku tertawa kecil ketika dia menggelitiki pipiku. Memang ada seperti sengatan listrik yang
mengalir di tanganku. Tapi… entah kenapa, aku merasa tenang.

―Nah, sekarang kamu sudah siap untuk menjalani harimu yang biasa.‖ Katanya.

―Eh?‖

―Aku mengajakmu kesini untuk bersenang-senang. Setelah itu, kamu pasti bisa menjalani
hari-hari seperti biasanya, kan?‖ kata Darren lagi, ―Habis… selama aku bertemu denganmu
beberapa hari ini, kamu selalu murung.‖

Hah? Dia memperhatikanku ya? Sejak kapan??!

―Oh… begitu.‖

Darren tersenyum lagi. Dia lalu menggenggam tanganku, ―Nah, sudah siap untuk jalan-
jalan?‖

Aku memperhatikan tanganku yang digenggamnya, kemudain beralih ke wajahnya dan


tersenyum sambil mengangguk.

Ternyata… punya tunangan seperti Darren ada untungnya juga.

***
Aku mengempaskan diriku ke kasur dan menatap langit-langit kamar. Cloud dan Teresa berada di
depan pintu kamarku. Aku tahu, mereka tetap akan ada disana sampai aku keluar dari kamar.
Padahal aku sudah memberi mereka perintah untuk meninggalkanku sendirian sekarang ini.

Aku meraba luka gores—bukan, bekas luka gores yang dibuat oleh seorang Gamer tadi.
Aku masih tidak mengerti kenapa lukaku bisa sembuh secepat ini.

Acara jalan-jalan tadi tidak berjalan mulus sesuai dugaanku. Pasalnya, ada seorang Gamer
yang secara tidak sengaja (atau sengaja?) mengajakku bertarung. Ah… kalau tidak salah, nama
Gamer itu Gelwa Harcourt. Aku tidak tahu apakah peraturan dunia parallel The Fantasy Area
mulai berubah, karena ternyata, bel pertandingan langsung terdengar ketika dia menyebutkan
Game Start.

Alhasil, aku dan Darren, yang memang Gamer, berubah pakaian dan memegang senjata
masing-masing.

Tapi, yang membuatku semarah ini sekarang bukanlah itu.

Aku tidak tahu pasti kenapa, tapi Eliza juga masuk ke dalam dunia parallel. Dia memang
bukan Gamer karena dia tidak memiliki Monsta, ataupun senjata.

Manusia yang bukan Gamer tidak bisa bertahan lama di dunia parallel lebih dari 5 menit
karena dunia itu akan menyerap energy kehidupan dari manusia yang bukan Gamer.

―Eliza?‖ aku berlari kearahnya ketika dia mulai terjatuh ke tanah. Wajahnya pucat. Dan
aku tahu, kalau dia tidak cepat-cepat keluar dari dunia ini, dia bisa mati.

―Eliza? Eliza?!‖

―Renata? Ini… ini dimana? Kenapa… pakaianmu… berubah?‖ tanyany dengan nafas
tersengal-sengal.

Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya. Akan sangat berisiko baginya jika dia mengetahui
aku adalah Gamer. Ada kemungkinan besar dia akan dibunuh oleh Gamer Master The Fantasy
Area yang tidak aku tahu siapa (mungkin si nomor 1?).

Aku menotok syaraf di lehernya dan matanya langsung terpejam.


―Maaf, Eliza. Aku tidak bisa membiarkanmu terbunuh atau mati disini hanya karena aku.‖
Gumamku.

―Teresa!‖

Teresa muncul di sampingku sambil berlutut.

―Ya, Nona?‖

―Bawa Eliza pergi dari sini.‖ Kataku, ―Dan, kau bisa menghilangkan ingatannya mengenai
apa yang dilihatnya barusan, bukan? Tentang dunia parallel ini?‖

―Baik. Akan saya laksanakan.‖ Ujarnya.

Aku mengangguk. Dia lalu menggendong Eliza dengan mudah dan langsung melompat
pergi dari tempat ini.

Aku menoleh kearah Gelwa Harcourt dan melihatnya terlihat ketakutan ketika Monsta
berbentuk naga perak muncul dari kalung yang dipakainya. Aku berdiri di samping Darren yang
sudah siap dengan dua pistol berwarna biru di tangannya.

Aku menoleh kearah Darren dan ia mengangguk. Aku melempar tongkatku ke udara dan
senjata Bloody Rose-ku keluar dari tongkat itu.

―Kita serang bersama? Gamer-nya?‖ tanyaku.

―Sudah pasti.‖ Sahut Darren. Tapi, kemudian dia terdiam, ―Sepertinya ada perubahan
peraturan dalam The Fantasy Area. Sepertinya sekarang kita—bukan, tapi hanya kamu yang bisa
bertarung di siang hari.‖

―Kelihatannya begitu.‖ Aku menyetujui ketika melihat dinding tipis pemisah dunia parallel
dan dunia nyata di dekatku. Orang-orang di dunia nyata tidak bisa melihat kami. Tapi aku merasa
memang hanya aku yang bisa menyerang Gelwa Harcourt.

―Aku akan menyusul Teresa, memastikan temanmu, Eliza baik-baik saja.‖ Kata Darren
lagi, ―Jangan sampai kalah, sayang.‖

Aku tersenyum padanya.


Darren dan Regald lalu pergi dari tempat ini ke dunia nyata dan meninggalkan aku dan
Cloud. Aku mengayunkan sabit raksasaku ke berbagai arah, menciptakan angin yang luar biasa
kencang di sekitar arena pertarungan.

―Cloud! Ayo!‖

Aku berlari kearah Gelwa Harcourt sambil mengayunkan sabit raksasaku itu dan
menghantam tanah tempat Gelwa barusan berada. Aku menoleh ke belakang dan melihat anak itu
berada di atas pohon kering tandus.

―Jadi, kau yang diincar oleh Alicia Blonde?‖ ujar Gelwa. Nada suaranya tiba-tiba berubah.
Begitu juga raut wajahnya. ―Ternyata memang benar…‖

―Apa?‖

Aku tidak tahu persis apa yang terjadi. Tahu-tahu Gelwa Harcourt sudah berdiri di
hadapanku dengan pisau perak teracung ke mata kananku yang tertutup rambut.

―Berikan aku kekuatan yang kubutuhkan, Putri Kegelapan.‖

Aku tidak sempat menghindar dan pisau perak itu semakin dekat dengan mata kananku.

―Nona!‖

Cloud menahan serangan Gelwa dan mendorongku mundur. Dia lalu memukul mundur
Gelwa sampai dia terlempar beberapa meter.

Aku berdiri dan melangkah ke samping Cloud. Gelwa kembali berdiri, dengan tubuh yang
penuh luka. Wow. Kekuatan Cloud tadi sepertinya terlalu besar diterima tubuhnya yang
sebenarnya lebih mungil daripada aku itu.

―Gelwa Harcourt. Dia adalah Gamer nomor 9. Berkepribadian ganda dan memiliki senjata
pedang terkutuk yang terbuat dari taring Monsta singa, Lionic Sword yang bisa berubah menjadi
pisau pendek. Monsta miliknya adalah naga perak Draco.‖ Kata Cloud sambil membersihkan
debu yang menempel di bahu jasnya.

―Nomor 9, ya? Dia kelihatan lemah.‖ Kataku manggut-manggut, ―Tapi, apa katamu tadi?
berkepribadian ganda?‖
―Ya. Yang sekarang sedang bertarung dengan kita adalah sisinya yang jahat.‖

Gelwa menggerakkan lehernya ke kiri dan ke kanan. Membuat suara sendi yang
berkeretak memuakkan.

―Wah, wah… serangan Monsta terhebat memang hebat. Kepalaku sampai berkeretak
seperti ini.‖ katanya dengan nada senang, ―Aku jadi semakin menginginkan tuanmu, sang Putri
Kegelapan.‖

―Putri Kegelapan?‖ aku mengerutkan kening. Sudah tiga kali aku mendengar nama itu
disebut, ―Apa maksudnya, Cloud? Kenapa dia menyebutku Putri Kegelapan?‖

Tapi, Cloud tidak menjawab. Aku jadi senewen sendiri.

―Cloud, jawab aku. Ini perintah.‖ Kataku.

Cloud menghela nafas dan tiba-tiba menggendongku ketika naga perak Draco milik Gelwa
Harcourt menyerang kearahku.

―Baiklah, kalau Anda ingin tahu. Tapi, tolong Anda jangan marah setelah Anda mendengar
ini.‖ katanya di telingaku.

―Katakan saja.‖ Perintahku.

―Putri Kegelapan adalah…‖ dia menunduk menghindari libasan ekor si Draco dan
melompat ke belakang, ―… adalah sebutan untuk Anda.‖

―Aku sudah tahu hal itu. Yang ingin aku tahu, adalah kenapa dia memanggilku seperti itu?‖
kataku, ―Katakan saja denga jelas!‖

―Baiklah.‖ Lagi-lagi dia menghela nafas dan kembali menghindari serangan Gelwa dan
Monsta-nya yang terus menyerbu.

―Itu adalah panggilan yang ditujukan untuk anak istimewa yang lahir di bulan Desember 16
tahun yang lalu. Anak yang dilahirkan dari seorang keluarga terkutuk yang diperkirakan akan
menjadi pemegang Gamer sekaligus Monsta Master di masa depan. Anak yang dipercaya bisa
mengubah kebijakan mengerikan The Fantasy Area yang dibuat oleh Alicia blonde.‖
―Apa? Tapi, kenapa aku—‖

―Maaf. Saya tidak bisa menjelaskan lebih jauh. Saya diperintahkan oleh Nona Lily untuk
tidak memberitahukannya pada Anda sebelum waktunya tepat.‖ Kata Cloud lagi, ―Saya benar-
benar minta maaf.‖

―Cih.‖ Aku mendecakkan lidah kesal. Tahu jika sudah menyangkut kakak yang tidak bisa
kuingat wajahnya itu, artinya pembicaraan cukup sampai disitu.

Aku masih digendong oleh Cloud karena serangan Gelwa dan Monsta-nya semakin
menjadi-jadi. Bukan hanya akurasi kecepatannya yang bertambah, tapi juga kekuatan mereka
seperti bertambah sepuluh kali lipat dari sebelumnya.

―Kenapa kekuatannya seperti bertambah lebih kuat?‖ tanyaku diantara serangan bertubi-
tubi lawan kami.

―Kelebihan dari memiliki kepribadian ganda. Kekuatan akan bertambah lebih kuat dari
sewajarnya. Tapi, jika kekuatan itu dipakai secara berlebihan, akan membuat si pengguna
mengalami pemendekan umur, dan lama-kelamaan akan mati.‖ Kata Cloud panjang-lebar.

―Begitu.‖ Aku mengangguk mengerti, ―Kalau begitu, bagaimana cara kita mengalahkannya?
Dengan membunuhnya begitu saja? Seperti yang biasa kita lakukan?‖

―Tidak. Dia harus diperlakukan dengan sikap berbeda.‖ Cloud melompat lagi. Kali ini
bersalto menghindar sabetan pedang Gelwa. Aku berpegangan erat pada lehernya, takut terjatuh.

―Apa maksudmu diperlakukan dengan sikap berbeda?‖ tanyaku.

―Karena dia adalah Gamer berkepribadian ganda, kita harus memusnahkan sisi jahatnya
yang menjadi Gamer.‖ Jawabnya, ―Dengan menyerang langsung Monsta miliknya, itu akan efektif
membunuh sisi jahatnya.‖

―Aku mengerti.‖ Aku mengangguk, ―Biarkan aku yang menahan serangan Gelwa, kau
serang Monsta naga itu. Jangan sampai gagal.‖

―Yes, My Lady.‖

Cloud dengan cepat menurunkanku ke tanah dan aku langsung berlari menerjang Gelwa.
Pinjamkan aku kekuatan besar, Bloody Rose! Kataku sambil menyabetkan sabitku dengan
gerakan menyilang. Menghasilkan sebuah sinar biru berbentuk tanda X yang menerjang Gelwa.

Aku tahu dia akan menghindari serangan terlemahku itu, Bloody Light, tapi, itu hanya
sekedar pengalih perhatiannya. Serangan utamanya baru akan dimulai!

Aku menyabetkan Bloody Rose ke segala arah dan kembali menciptakan awan badai yang
terarah pada Gelwa.

Gelwa berhenti bergerak dan menengadah ke langit tempat awan badai mulai berkumpul.
Tapi, wajahnya tidak kelihatan takut atau terkejut. Seolah dia sudah tahu seranganku yang
berikutnya adalah serangan menengahku ini.

Aku mengerutkan kening mendapat pemikiran seperti itu. Apa jangan-jangan dia…

―Kakak!‖

―Hah?‖

Aku menghentikan ayunan sabitku dan menengadah ke langit. Aku yakin aku mendengar
suara itu lagi. Suara yang sama. Suaraku sewaktu aku masih kecil.

―Renata…‖

Sebuah bayangan muncul di hadapanku. Gadis berambut pendek yang waktu itu pertama
kali kulihat bayangannya. Mengenakan baju sekolah dan menenteng tas dengan santai dan
menyambut pelukan gadis kecil yang tidak lain adalah aku sendiri.

―Apa ini… apa ini ingatanku?‖ gumamku melangkah mundur. Aku tidak pernah tahu aku
bisa mendapat ingatanku di saat seperti ini. Hanya dua kali aku mendapat bayangan seperti ini.

―Kakak, kita bermain, yuk? Aku bosan berada di rumah terus-terusan…‖ kata gadis kecil
itu.

Gadis berambut pendek hanya tersenyum muram mendengar permintaan adiknya. Aku
melihat mulutnya bergerak mengatakan sesuatu ketika seseorang menyentakku ke belakang. Gelwa
berdiri tepat di atasku sambil mengacungkan pedangnya. Sial. Aku tidak ingat kalau aku sedang
bertarung. Bayangan tadi membuatku tidak ingat apapun kecuali apa yang kulihat dari bayangan itu
sendiri.

―Hah! Putri Kegelapan? Ini bukan dia!‖ katanya sambil menancapkan pedangnya di dekat
rambutku.

―Aku bukan Putri Kegelapan.‖ Kataku, ―Kau salah menantang orang. Aku nomor 30.‖

Gelwa menarik pedangnya dan menyibakkan rambut yang menutupi mata kananku hingga
tanda kontrakku terlihat.

―Aku tahu kau memang bukan orang yang kucari.‖ Ujarnya sambil menginjak tangan
kananku.

―Argh!‖

―Tapi, aku yakin, Sang Putri Kegelapan ada di dalam dirimu.‖ Gelwa tersenyum dengan
sebelah bibirnya. ―Karena aku juga pernah melihat kekuatan aslimu.‖

―Apa?‖

Pedang Gelwa menggores pipi kananku dan meninggalkan luka gores dari bawah mata
kananku sampai ke ujung dagu.

―Kita lihat… apakah lukamu akan cepat sembuh kalau kutambah dengan ini.‖ pedang
Gelwa teracung tepat di depan mata kananku. ―Bagaimana jika mata kananmu ini kucongkel?
Sebagai salam perkenalan.‖

Aku berusaha menghindar dari tusukan pedangnya, tapi kaki Gelwa yang menginjak
tanganku malah semakin menginjak tanganku. Aku tidak bisa berteriak kesakitan karena… yah,
aku gengsi, sebenarnya (disaat seperti ini aku malah gengsi).

Duak!

Gelwa Harcourt tiba-tiba terlempar ke belakang. Aku segera bangun sambil mengelus
tanganku yang diinjaknya dengan tidak berperi-kemanusiaan tadi.

Bagaimana dia bisa terlempar? Sejauh 10 meter!?


―Anda tidak apa-apa, Nona?‖

Aku menoleh dan melihat Teresa di belakangku.

―Kau yang melakukannya?‖ aku bertanya menunjuk kearah Gelwa yang terlempar.

Aku kira dia akan mengangguk mengiyakan, tapi ternyata tidak. Dia menggeleng dan
membantuku berdiri, lalu mengeluarkan saputangan untuk menghapus darah di pipiku.

―Anda yang melakukannya.‖ Katanya pelan.

―Apa? Bagaimana bisa? Aku tidak—‖

―Sebaiknya kita mundur untuk saat ini. Keadaan arena bertarung di siang hari akan
membuat curiga pihak pemerintah.‖ Kata Teresa lagi.

Aku melihat kearah dinding tipis di setiap sisi arena pertarungan. Memang kelihatannya
ada beberapa orang yang mengeluhkan tidak bisa melewati tempat ini karena terhalang oleh
sesuatu dan menghubungi petugas keamanan seetempat.

―Apa Anda ingin segera pergi atau meneruskan pertarungan?‖ tanya Teresa melihat kearah
Cloud yang masih berurusan dengan Draco, Monsta Gelwa.

―Kita mundur.‖ Aku menyetujui, ―Cloud! Kita mundur!‖

―Baik!‖

―Surrender! End Game!‖

Seketika itu juga dinding tipis itu pecah dan pakaianku kembali normal. Dan saat itu juga
baru kusadari kalau kepalaku terasa sakit. Aku tidak mendengar suara Gelwa Harcourt. Aku tidak
tahu apakah dia pergi sebelum aku menyatakan menyerah atau dia bersembunyi.

Cloud berjongkok di sebelahku dan segera menggendongku. Aku sempat melihat tatapan
pengunjung taman terarah padaku yang digendong. Mereka tidak menyangka Cloud bisa
menggendongku yang kelihatannya lebih berat daripada Cloud (yang benar saja. Cloud itu Monsta!
Oh, ya… mereka tidak tahu hal itu).
Dengan satu sentakan, kami sudah pergi meninggalkan taman itu dengan melompat jauh
dengan kekuatan diatas rata-rata manusia normal.

Aku menghela nafas dan membalikkan tubuhku menghadap jendela. Kulihat langit diluar
berubah gelap. Sepertinya akan hujan.

Pintu kamarku diketuk dan aku tahu, Teresa-lah yang mengetuknya. Mereka berdua masih
ada di depan pintu rupanya.

―Nona Renata?‖

―Apa?‖ tanyaku tanpa berniat membuka pintu.

Yah… sebenarnya mereka bisa saja masuk. Toh, pintunya tidak kukunci.

―Sudah waktunya makan siang. Tuan Darren sudah menunggu di ruang makan bersama
Nona Eliza.‖ Katanya.

Aku mengerutkan kening, kenapa Darren dan Eliza ada disini? Bukankah belum 5 menit
aku tiba di rumah?

―Mereka sudah berada di sini sejak tadi, menunggu di taman belakang.‖ Kali ini Cloud
yang menjawab, ―Nona, tidak baik jika Anda mengurung diri terus di kamar. Sebaiknya Anda
keluar dan makan siang bersama tunangan dan teman Anda.‖

Aku mendengus. Semakin tidak berniat untuk makan siang atau melakukan apapun.

―Jika Anda tidak segera keluar, saya akan memaksa Anda.‖ Kata Cloud lagi.

―Silakan saja.‖ Tantangku, ―Aku tidak berselera makan. Tinggalkan saja aku sendiri. Aku
mau tidur.‖

―Tapi, Nona, Tuan Darren ingin membicarakan sesuatu dengan Anda.‖ Ujar Cloud, ―Soal
peraturan baru The Fantasy Area.‖

―Kenapa tidak besok saja? Aku tidak mau diganggu sekarang.‖ Kataku lagi sambil
memejamkan mata.
―Nona, jika Anda tidak mau mendengarkan, kemungkinan besar, masalah besar akan
menimpa Anda.‖ Kata Teresa menyahut, ―Anda akan mendapat pelajaran kepribadian selama
seminggu penuh tanpa istirahat ataupun bermain.‖

―Apa!? Tidak adil!‖ aku bangkit bangun dan menatap kearah pintu.

Ya ampun… kalau selama seminggu aku harus mengikuti pelajaran paling membosankan
itu (apalagi dengan guru seperti Teresa, itu terasa seperti neraka), bisa mati kebosanan aku.

―Pokoknya aku tidak mau bertemu siapapun juga.‖ Kataku, ―Sampai kalian
memberitahuku kenapa semua ini selalu mengarah padaku. Kenapa aku yang selalu diincar
belakangan ini. Dan kalung apa yang selalu kalian pegang setiap kali aku mendapatkan bayangan
ingatanku.‖

Aku menunggu jawaban dari mereka berdua. Tapi hening. Tidak ada suara satupun.

―Nona,‖ akhirnya suara Cloud yang terdengar setelah beberapa lama hening ini
berlangsung, ―Saya yang akan menceritakannya. Jika Anda mau, saya akan memperlihatkan ingatan
Anda yang hilang.‖

Kedua alisku terangkat. Suara Cloud yang biasanya tenang sekarang agak berubah sedih.
Aneh. Monsta tidak pernah merasakan perasaan seperti sedih ataupun senang. Mereka hanya tahu
harga diri dan gengsi.

―Aku tidak mau dibohongi.‖ Kataku, ―Aku memerintahkan kalian untuk tidak pernah
berbohong padaku sejak awal. Sejak kalian membuatku menjadi Gamer.‖

―Kami tahu itu.‖ kata Cloud lagi, ―Dan saya rasa, Anda sudah siap untuk mendapatkan
ingatan Anda kembali.‖

―Dan juga pertarungan terakhir Anda.‖ Sambung Teresa.

―Pertarungan… terakhir?‖ kali ini alisku berkerut lagi, ―Pertarungan terakhir apa?‖

―Boleh kami masuk terlebih dahulu?‖ tanya Teresa.

Aku menajamkan mataku. Lalu menghela nafas. Aku tidak suka dibuat penasaran, dan
tidak suka dibohongi.
―Baiklah. Kalian berdua boleh masuk.‖
BAB 10

Tengah malam, aku terbangun ketika bahuku digerakkan oleh Teresa. Aku mengucek-ucek
mataku dan menggeliat bangun.

―Apa sudah waktunya?‖ tanyaku sambil menguap karena masih mengantuk.

Teresa mengangguk. Dia lalu meletakkan pakaian di sebelah tempat tidurku dan mulai
mengganti baju tidurku ketika aku duduk tegak di pinggir kasur.

Aku hanya diam saat Teresa memakaikan kemeja lengan panjang putih dan
mengancingkan kancingnya.

―Apa…‖

―Ya, Nona?‖

―Tidak ada apa-apa.‖ Aku menggeleng, ―Dimana Cloud?‖

―Sudah siap di depan.‖ Jawab Teresa sambil memakaikan rok berwarna biru tua, ―Dan
Anda juga harus siap.‖

Aku diam lagi. Memikirkan pembicaraanku dengan kedua Monsta-ku tadi siang.

Setelah Darren dan Eliza pulang (tentu saja aku harus menjawab serentetan pertanyaan dari
Eliza ketika aku keluar dari kamar dengan tampang kusut. Aku kira Eliza hanya mengingat dia
sampai di rumahku dan belum menceritakan apapun. Karena itu aku menceritakan lagi semuanya
dari awal, kecuali tentang Gamer, tentu saja), aku berjalan kearah taman belakang dengan Teresa
dan Cloud mengikuti.

―Kalian bilang akan menceritakan semuanya, kan?‖ tanyaku saat sampai di pintu kaca yang
menghubungkan bagian dalam rumah dengan taman belakang. ―Aku menunggunya.‖

―Baiklah.‖
Aku menoleh kearah mereka berdua dan melihat mereka mengeluarkan kalung berlian
biru dan menyerahkannya padaku. Aku memperhatikan kedua kalung itu. Sesuatu yang kulihat di
dalam batu berlian itu semakin bergerak ketika aku menyentuhnya.

―Apa yang ada di dalam batu ini? Seperti ada sesuatu yang bergerak.‖ kataku.

―Itu adalah ingatan Anda.‖ Kata Cloud. ―Pecahkan saja kedua batu itu. Ingatan Anda akan
segera kembali, juga kemampuan Anda yang lebih besar—‖

―Dari yang kubayangkan. Iya, kan? Aku sudah tahu. Gelwa Harcourt… waktu itu dia juga
bilang begitu.‖

Cloud mengangguk.

Aku memegang kedua batu itu dengan tanganku dan memecahkannya dengan mudah.
Sinar kebiruan keluar dari batu berlian di tanganku dan masuk begitu saja ke dalam tubuhku.
Segera saja, aku seperti melihat pintu gerbang besar yang aneh dan terbuka. Berbagai macam
gambar dan suara terngiang di otakku. Hanya butuh beberapa detik untuk menyadari kalau aku
sudah ingat semuanya. Tentang asal-usulku, tentang kedua orangtuaku, dan tentang Kak Lily. Kini
aku ingat wajah mereka.

Aku ingat semua yang terjadi dalam hidupku sebelum aku hilang ingatan. Aku juga ingat
kenapa aku disebut Putri Kegelapan.

―Bagaimana perasaan Anda, Nona?‖ tanya Cloud sambil membantuku berdiri.

Rupanya karena pengaruh ingatan itu, aku sampai jatuh terduduk.

―Aneh.‖ Aku mengakui, ―Sangat aneh. Seolah menonton film lama.‖

Cloud tersenyum dan menuntunku duduk di kursi santai di dekat pintu kaca. Aku melepas
penutup mata yang menutupi mata kananku. Entah kenapa, rasanya mata kananku terasa panas.

―Mata Monsta Anda sudah kembali.‖ Ujar Teresa.

―Eh?‖
―Mata kanan Anda. Bola mata yang diwarisi oleh ayah Anda, Zidane Grimoire. Sudah
kembali.‖ Katanya lagi sambil memberikan cermin padaku.

Aku menerima cermin itu dan melihat pantulan wajahku. Wajahku masih sama seperti
dulu. Hanya saja kali ini lebih putih dan… ugh. Kuakui, lebih mulus. Mata kananku yang semula
berwarna sama seperti mata kiriku, sekarang berwarna merah. Dengan tanda kontrak tetap ada
disana. Rambutku…

―Rambutku sepertinya bertambah panjang.‖ Kataku meraba rambutku, ―Apa ini pengaruh
dari ingatanku juga?‖

―Dari awal rambut Anda memang sudah panjang, Nona Renata.‖ Kata Cloud, ―Hanya saja,
kali ini… yah, memang bisa dibilang lebih panjang.‖

―Aneh juga rambutku bisa panjang segini hanya dalam waktu beberapa detik.‖ Aku
tersenyum dengan lelucon yang kubuat sendiri.

―Apa Anda ingin memotongnya?‖ tanya Teresa.

―Tidak. Tidak perlu. Aku rasa aku suka rambutku yang seperti ini.‖ aku menggeleng.
―Nah, apa pertarungan terakhir akan dilakukan malam ini?‖

Mereka berdua mengangguk.

―Setelah Anda menerima ingatan Anda, itu berarti pertarungan terakhir Anda sudah
ditentukan.‖ Kata Teresa, ―Anda harus berhadapan dengan Alicia Blonde. Tanpa dibantu orang
lain kecuali… kami. Dan, mungkin, Tuan Darren dan Regald juga menjadi perkecualian seperti
kami.‖

―Aku sudah tahu itu.‖ aku tersenyum, ―Apa ada sesuatu yang ingin kalian katakan
padaku?‖

Mereka berdua lalu membungkuk di hadapanku dengan tangan kanan menyilang di depan
dada mereka. Wajah mereka menunduk.

―Selamat datang kembali, Putri Renata.‖ Ujar mereka bersamaan, ―Suatu kehormatan
melayani Anda kembali dengan ingatan Anda yang sudah kembali.‖
Aku tersenyum dan bangkit berdiri.

―Segera siapkan apa saja yang diperlukan untuk pertarungan terakhir.‖ Perintahku, ―Kita
akan membawa kembali Kak Lily. Aku akan mengubah kembali peraturan The Fantasy Area yang
sebenarnya.‖

―Nona,‖

―Apa?‖

Aku menoleh kearah Teresa dan melihat di tangannya ada sebuah amplop surat.

―Sebenarnya, perintah ini sudah lama diberikan Nona Lily.‖ Katanya, ―Ini adalah surat
yang ditulis olehnya sebelum dia menghilang.‖

Teresa menyodorkan amplop itu.

Aku menerimanya dan membukanya. Kubuka kertas surat yang ada di dalamnya. Dan…
harus mengakui, kakakku yang tak pernah kutemui lagi itu tulisannya benar-benar rapi.

Untuk Renata,

Renata, jika kamu membaca surat ini, berarti segel ingatan yang Kakak buat untukmu
sudah pecah karena rusak atau kamu hancurkan sendiri dan Kakak sudah tidak ada lagi disisimu.
Kakak hanya berharap kamulah yang menghancurkan segel ingatan itu sendiri.

Renata, kamu boleh marah jika kamu memang merasa marah karena Kakak menyegel
ingatanmu seenaknya. Tapi, itu adalah pesan dari ayah dan ibu. Untuk membuatmu tidak
merasakan kejamnya dunia parallel The Fantasy Area suatu hari nanti.

Mungkin kamu sudah tahu, kamu adalah setengah Monsta – setengah manusia. Itu karena
ayahmu, Zidane Grimoire menikah dengan ibu kita, Rachel Nightblood. Kamu juga pasti sudah
mengingatnya, kalau aku adalah kakak tirimu. Tapi, biarpun begitu, aku tetap menganggapmu
seperti adikku sendiri dan tidak pernah membencimu apapun yang terjadi.

Kakak sudah lama menjadi Gamer sejak berusia 6 tahun, dan saat itulah kamu lahir.
Dengan mata merah seperti ayah, dan juga mata biru seperti ibu. Kamu ditakdirkan menjadi
pemegang kekuasaan sah The Fantasy Area. Oh, asal kamu tahu, Renata, ayah, Zidane Grimoire
adalah Monsta Master, dan ibu kita adalah Gamer Master. Karena itu, secara langsung, kamulah
pewaris sah kedua gelar tersebut. Ada ramalan yang mengatakan seperti itu juga. Karena itulah,
ayah dan ibu menugaskan Kakak untuk menjagamu sampai kamu siap mendapatkan kedua gelar
itu nantinya. Tapi, sayangnya, Alicia Blonde, pendatang baru yang haus kekuasaan itu datang dan
mengacaukan semuanya.

Renata, dalam surat ini, mungkin Kakak tidak bisa menceritakan terlalu banyak. Tapi,
kamu bisa mendapatkan semua informasi yang kamu butuhkan dalam dirimu. Kamu memiliki
kemampuan membaca pikiran orang lain, dan juga bisa membaca masa lalu serta masa depan.
Kakak yakin, kamu bisa mengerti kenapa Kakak sengaja menyegel ingatan serta kekuatanmu yang
sebenarnya. Alicia—bukan, tapi Monsta Alicia, Gilbert Adio, yang mengincar kekuatanmu. Dia
memperalat Alicia Blonde untuk memburumu.

Karena itu, jika suatu hari nanti kamu harus bertarung dengan Alicia Blonde, kamu harus
membawa Alicia Blonde ke Negara asalnya, pada orangtuanya yang sudah lama mencarinya. Tapi,
di saat itu juga, kamu harus menerima kenyataan kalau Kakak harus mati demi dirimu.

Tolong jangan marah, Renata. Kakak tahu kamu akan kecewa, tapi tidak ada cara lain.
Hanya ini satu-satunya cara untuk membebaskan Alicia Blonde dan juga dirimu. Kalian berdua
sama-sama dijuluki pemilik Kegelapan, namun berbeda. Kegelapan yang kalian berdua miliki
berbeda satu sama lain. Kegelapan yang ada padamulah yang akan memenangkan semuanya,
Renata. Kakak yakin itu.

Jika kamu benar-benar sudah siap menerima kenyataan bahwa Kakak akan pergi, Kakak
akan sangat menghargainya. Biarkan Teresa ataupun Cloud memakan jiwa Kakak. Itu adalah tugas
terakhir mereka sebagai Monsta Kakak. Dan itu juga tugas terakhir untuk Kakak, menjagamu.
Karena jika Kakak sudah mati, berarti kamu siap untuk mendapat kedua gelar terkuat itu. Kamu
tidak perlu khawatir, Kakak akan selalu bersamamu. Di dalam hatimu.

Kakak tidak bisa menjelaskan apapun padamu. Mengenai bagaimana terbentuknya The
Fantasy Area. Karena itu sacral, tidak bisa dibicarakan dengan sembarang orang, walau kamu
sendiri adalah pewaris sah. Tapi, tetap saja tidak bisa. Kamu harus bisa mengalahkan orang yang
memulai semua ini.
Kakak memang tidak pernah meminta apapun darimu, Renata. Tapi, tolong kamu ingat ini
baik-baik, kamu itu kuat, bahkan lebih kuat daripada Kakak. Jadi, jangan pernah menyerah.

Kakak selalu menyayangimu.

Lily Nightblood

Aku membaca surat itu dan menatap lama nama Kak Lily. Aku bahkan tidak sadar kalau
setitik airmata mengalir di pipiku,

―Nona Renata?‖ tegur Teresa.

Aku menghapus air mata itu dan memasukkan surat beserta amplop itu ke saku pakaianku.

―Tidak apa-apa.‖ Kataku, ―Lalu, siapa yang akan memakan jiwa Kak Lily nanti?‖

―Itu tergantung pilihan Nona.‖ Kata Teresa.

―Apa kalian tidak bisa membaginya? Seperti… makanan lain?‖ tanyaku.

―Tidak. Itu tidak diperbolehkan. Karena jika kami melakukan itu, kekuatan kami akan
memudar.‖ Kata Cloud menjawabnya.

―Begitu…‖ aku menghembuskan nafas, ―Kalau begitu, aku memerintahkan Teresa-lah yang
akan memakan jiwa Kak Lily. Cloud, kau bisa memakan jiwaku nanti saat aku sudah mencapai
ajalku. Kau bisa menungguku, kan?‖

―Tentu, Nona. Tapi,‖

―Tapi apa?‖ aku menoleh kearahnya.

―Saya tidak bisa memakan jiwa Anda. Karena jika saya memakan jiwa Anda, jiwa setengah
Monsta Anda juga akan ikut termakan. Dan itu dianggap pelanggaran. Karena itu, saya tidak bisa
memakan jiwa Anda‖ Kata Cloud, ―Apa itu tidak apa-apa?‖

Aku melipat kedua tanganku di depan dada dan menatapnya, ―Berarti, kau tidak akan bisa
memakan jiwaku? Dan, bagaimana jika kau ingin makan? Apakah kau harus memakan jiwa lain?‖
―Ya, Nona.‖ Jawabnya membungkuk. ―Dengan izin Anda.‖

―Baiklah. Lagipula,‖ aku membalikkan badanku dan berjalan ke dalam rumah, ―Aku tidak
ingin kesempatan membalas dendamku lewat begitu saja. Tidak masalah jika kau tidak bisa
memakan jiwaku.‖

―Kalian tidak akan pernah mengkhianatiku, kan?‖

―Tidak. Hidup kami sepenuhnya kami curahkan untuk Tuan Putri Kegelapan.‖ Jawab
Teresa.

―Dan Kalian juga tidak akan pernah pergi dari sisiku sampai aku mendapat apa yang
kumau, bukan?‖

―Tentu. Kami berjanji dan bersumpah dengan darah kami sebagai Monsta pendamping
Putri Kegelapan.‖ Kata Cloud.

―Bagus.‖

―Sudah selesai.‖

Aku mendengar suara dasi pita di kerah bajuku sudah terikat. Aku lalu memakai mantelku
dibantu Teresa.

Aku lalu memasang penutup mata untuk menutupi mata kananku. Teresa menyerahkan
tongkat perak yang tidak lain adalah Bloody Rose-ku. Sejenak, aku mengerutkan kening melihat
tongkat ini di tanganku.

―Kenapa tongkat ini—‖

―Alicia Blonde sudah mengetahui Anda mendapatkan ingatan Anda kembali. Karena itu
dia membuat peraturan baru, meniadakan dunia parallel The Fantasy Area.‖

―Apa? Dia seenaknya saja…‖

Aku menggenggam tongkat itu erat sebelum menyematkannya di pinggang kananku.


―Kita tidak punya banyak waktu jika peraturannya begitu.‖ Kataku sambil mengeratkan
ikatan penutup mataku, ―Kita bereskan semuanya malam ini juga.‖

―Yes, My Lady.‖
BAB 11

Lily baru saja mengganti perban yang menutupi mata kirinya ketika dia merasakan sesuatu yang
sangat familiar.

Dia datang. batinnya.

Ia menoleh kearah jendela. Sekarang dia sudah berganti pakaian dengan pakaiannya
sebelum ia tertangkap dulu. Kemeja lengan panjang putih dengan rompi hitam, juga rok selutut
berwarna senada. Ia juga mengenakan sepatu bot hitam. Dengan seksama, Lily melihat keluar
jendela dan menemukan bayangan sosok yang dicarinya. Tanpa sadar, ia tersenyum sendu.

―Bloody Nightmare.‖

Pedangnya muncul di udara di sebelahnya. Lily memegang gagang pedangnya dan dengan
cepat menyabetkannya ke kaca jendela.

PRAANG!!!

Alicia dan Gilbert yang sedang berada di ruang kerja terkejut mendengar suara kaca pecah
tersebut.

―Apa itu?‖ tanya Alicia.

Gilbert tidak menjawab. Tapi, matanya mengarah kearah langit-langit ruangan tersebut.

―Lily Nightblood…‖

―Dia berhasil kabur?‖ tanya Alicia lagi.

Gilbert mengangguk, ―Kita tidak punya banyak waktu lagi, Nona. Kita harus segera pergi
keluar. Saya yakin, Putri Kegelapan sudah berada di depan.‖

―Begitu…‖ Alicia tersenyum dengan sebelah bibirnya, ―Ini akan menjadi menarik. Ayo,
Gilbert, kita keluar. Panggil Jack, Gelwa, dan juga teman-teman yang lain.‖
―Baik, Nona.‖

―Ini akan menjadi kejutan.‖ Kata Alicia sambil memakai pita merah dirambutnya, ―Kejutan
berdarah untuk Putri Kegelapan tercinta.‖

Lily melompat keluar dari jendela kamar yang dipecahkannya dan berlari kearah hutan.
Disana, dua sosok bayangan sudah menunggunya dalam kegelapan hutan. Lily berhenti sekiat 6
meter dari bayangan tersebut sambil mengacungkan pedangnya.

―Mau apa kalian?‖ tanya Lily memicingkan mata menatap sosok yang di tengah.

―Kami harus menghentikan hidupmu disini, Nona—bukan, Ksatria pelindung Putri


Kegelapan. Lily Stephanie Nightblood.‖

Lily semakin mengeratkan pegangannya pada pedangnya.

―Rupanya kau sudah tahu semuanya.‖ Kata Lily, ―Kalian sudah tahu sejak awal, kan?‖

―Tentu saja kami tahu.‖ bayangan itu melangkah maju sehinga wajahnya terlihat di bawah
sinar bulan. Itu Jack Bold.

―Kami sudah tahu sejak lama.‖ Ujar bayangan yang lain yang bergerak berdiri di samping
Jack. Gelwa Harcourt. ―Karena mata kirimulah buktinya. Bukti penerimaan tanda kontrak Monsta
kembar Teresa dan Cloud. Monsta yang hanya akan setia pada tuannya dan juga sang putri.‖

―Heh.‖ Lily mengibaskan pedangnya dan menyarungkannya di sarung pedang di pinggang


kanannya. ―Kukira kalian hanya menganggapku sebagai beban dan gadis sakit-sakitan di rumah
yang buruk itu.‖

―Jangan pernah menyebut rumah Nona Alicia rumah yang buruk.‖ Kata Jack, ―Seandainya
saja kau gadis manis yang tidak banyak omong dan penurut, aku bisa membuatmu jadi milikku.‖

―Tidak akan pernah terjadi.‖ Kata Lily. ―Tidak akan pernah. Jika kalian menyentuh Renata
seujung jaripun, kalian akan berurusan denganku dan Monsta kembarku.‖

―Jangan sombong.‖ Kata Gelwa, ―Kau tidak tahu apa-apa tentang kekuatan kami, bukan?‖
―Kalian ingin menyerangku? Silakan saja.‖ Tantang Lily.

―Ternyata kau gadis yang sangat sombong, ya?‖ kata Jack. ―Lion!‖

―Draco!‖

Monsta Jack dan Gelwa muncul di sisi mereka. Lily mengeluarkan pedangnya, mata
pedangnya bersinar diterpa sinar rembulan.

―Bagaimana, Lily? Mau menyerah? Kau tidak bisa mengalahkan kami tanpa Monsta-mu.‖
Kata Jack.

―Ah… kalianlah yang terlalu meremehkanku.‖ Kata Lily tersenyum dengan sebelah
bibirnya.

Seluruh tubuh Lily tiba-tiba diselimuti sinar kebiruan yang semakin lama semakin besar.
Jack dan Gelwa memperhatikan sinar biru itu dengan seksama dan Jack membelalakkan matanya
ketika dia mengenal cahaya apa itu.

―Cahaya itu…‖

―Selama 12 tahun aku dilatih oleh ibuku untuk menjadi ksatria pelindung Renata kelak.
Dan aku sudah mempersiapkan segalanya untuk saat itu.‖ kata Lily, ―Dan, kurasa sekaranglah
saatnya untuk memanggil kekuatanku yang sebenarnya.‖

―Apa?!‖

Lily mengangkat tangan kanannya ke udara. Sinar biru itu berkumpul di telapak tangannya
yang segera berubah menjadi merah darah.

―Aku memanggil iblis tanpa sayap, sang penjaga neraka, penakluk api dan juga penebar
kegelapan. Aku memanggilmu dengan darah manusia yang haus kekuasaan di hadapanku… ‖

―Mantra itu…‖ Jack melindungi matanya dari angin yang berhembus dari segala arah
menuju Lily.

―Ya. Tidak salah lagi. Ini mantra terkutuk milik keluarga Nightblood.‖ Kata Gelwa.
―Mantra pemanggil Monsta penebar ketakutan sepanjang masa.‖
―… Dengan mempertaruhkan nyawaku, kupanggil kau wahai penguasa neraka terdalam,
sang Monsta penjaga pintu kegelapan, Orphelica!‖

DUAARR!!!

Ledakan dahsyat terjadi di antara Lily dan Jack serta Gelwa. Dari ledakan itu muncul
sesosok wanita berambut hitam legam dan panjang serta memakai pakaian serba hitam. Matanya
ditutup dengan kain hitam dan di tangannya tergenggam sebuah tombak yang terbuat dari
tengkorak berbentuk seperti trisula. Itu adalah Orphelica. Monsta penjaga neraka terdalam dan
juga ratu dari segala ketakutan.

Jack dan Gelwa menyiagakan senjata mereka. Lily juga demikian walau wajahnya sekarang
berubah pucat akibat mengeluarkan banyak tenaga untuk memanggil Orphelica.

―Nah, bagaimana kalau kita mulai bertarung sampai mati sekarang?‖ kata Lily dengan
senyum tersungging di bibirnya yang mulai memucat.
BAB 12

Aku merasakan ada pertarungan ketika kami berlari (sebenarnya aku tidak berlari, tapi digendong
oleh Cloud. Yah… ini memang sudah kebiasaanku, tidak bisa diubah), menuju rumah tak terawat
di pinggir lain kota. Saat itu, aku merasakan ada kegelapan yang sangat kuat dari arah hutan di
dekat rumah tersebut.

―Ada pertarungan.‖ Kataku.

―Pasti Nona Lily.‖ Ujar Teresa yang berlari di sebelah Cloud, ―Nona Lily pasti
menggunakan mantra pemanggil Orphelica.‖

―Orphelica? Ratu penjaga neraka dan penebar ketakutan?‖ aku terkejut mendengar nama
Orphelica. Dalam ingatanku, aku pernah bertemu dengan Monsta penjaga neraka tersebut
bersama ayah.

―Kak Lily bisa memanggil Orphelica? Bukankah dia salah satu Monsta yang jika dipanggil
diperlukan tenaga yang besar?‖ tanyaku.

―Nona Lily mengikat kontrak dengan Orphelica dengan perantara Nyonya Rachel. Ibu
Anda-lah si pemegang kontrak Orphelica. Jadi secara tidak langsung, Nona Lily mewarisi
Orphelica sebagai Monsta-nya.‖ kata Cloud menjawab pertanyaanku.

―Begitu…‖ aku mengangguk mengerti dan mengeratkan pelukanku pada Cloud saat dia
melompati jurang yang lebarnya sekitar 30 meter dan kedalamannya tertutup kabut putih.

Tentu saja Cloud dan Teresa bisa melompati jurang itu dengan mulus. Saat kami sampai di
seberang jurang, aku mengendurkan pelukanku pada lehernya.

―Lalu, apakah Kak Lily baru saja…‖

―Sepertinya dia baru saja memanggil Orphelica.‖ Kata Teresa mengangguk, ―Sebaiknya kita
cepat agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.‖

―Ya. Kau benar.‖ Aku menyetujui, ―Cepat pergi kearah hutan! Kita akan membantu Kak
Lily.‖
―Yes, My Lady.‖

***

Lily bersalto ke belakang sambil memegang bahu kanannya yang terkena sabetan pedang Jack.
Nafasnya juga terengah-engah. Rupanya memanggil Orphelica dan bertarung dengan kedua Gamer
di hadapannya ini memakan banyak tenaga.

Kalau begini, aku akan kalah! Batinnya.

Lily mengelap darah yang mengalir di sudut bibirnya dan tiba-tiba merasakan kekuatan
besar sedang mengarah ke tempatnya bertarung. Dia menengadah menatap langit dan merasakan
kekuatan itu semakin lama semakin besar. Dia juga merasakan ada kekuatan lain yang datang dari
arah rumah Alicia. Lily tahu, beberapa anak buah Alicia sedang menuju kemari untuk
membunuhnya.

―Gawat…‖ gumamnya. Dia menoleh kearah Orphelica yang dengan mudah menghajar
Monsta Gelwa dan Jack.

―Orphelica! Gunakan kekuatanmu sekarang!‖

Seolah merespon, Orphelica mengangkat tombak yang dipegangnya tinggi-tinggi dan


menyentakkannya ke tanah. Seketika itu juga tanah di sekitar mereka bergetar dan mulai pecah
seolah terjadi gempa bumi dahsyat. Lily melompat ke atas pohon tinggi dan memperhatikan jurang
dalam yang terletak di ujung hutan. Dia lalu mengangkat pedangnya dan sinar kebiruan yang
menyelimuti tubuhnya kemudian muncul lagi. Sejenak dia melihat lagi kearah jurang tersebut dan
tersenyum.

Lily lalu menutup matanya dan mengucapkan kata-kata yang diajarkan oleh ibunya.

―Demi langit malam dan bulan purnama, aku memanggil kekuatan terbesar sang ratu
penebar ketakutan. Pada bulan kubersumpah menjadi ksatria pelindung kegelapan, pada matahari
aku bersumpah menjadi penjaga cahaya, kuberikan nyawaku untuk melakukan tugas terakhir
sebagai ksatria pelindung Putri Kegelapan!‖

Tanah di bawah semakin bergetar hebat. Jack dan Gelwa bahkan sampai terjatuh ke dalam
lubang yang dibuat oleh Orphelica. Untung mereka berdua berhasil meloloskan diri dari lubang
tersebut.

―Sial, dia menggunakan kekuatan terbesar Monsta itu.‖ kata Jack sambil meludahkan darah
yang ada di mulutnya. ―Kalau begini, dia akan menghancurkan seluruh hutan dan membuat
keseimbangan dunia parallel dan dunia nyata goyah.‖

―Itulah kekuatan Orphelica, si Ratu Penebar Ketakutan.‖ Kata Gelwa, ―Aku pernah dengar
kalau sang ratu penebar ketakutan adalah Monsta paling ditakuti setelah Monsta Gamer, Zidane
Grimoire.‖

―Ya. Kau benar.‖ Kata Jack menyetujui, ―Tapi, kita harus menghentikan gadis itu dulu
sebelum menghadapi sang Putri Kegelapan.‖

―Baik.‖

Mereka berdua lalu berlari kearah Lily dan melompat mengepung gadis itu. Pedang
mereka berdua terhunus pada Lily.

Lily sendiri tidak bergeming dari posisinya dan tidak berniat menghindar.

―Mati kau!‖ teriak Jack dan Gelwa bersamaan sambil menyabetkan pedang mereka pada
Lily.

Lily membuka matanya dan tersenyum saat kedua pedang itu menembus tubuhnya. Tubuh
Lily langsung terkulai dan jatuh ke tanah diiringi Orphelica yang mulai menghilang di udara.

Tapi, apa yang selanjutnya mereka lihat benar-benar membuat mereka tercengang. Tubuh
Lily tidak menyentuh tanah, seseorang menangkap tubuh Lily lebih dulu. Rambut pirang orang
yang menangkap tubuh Lily sangat terlihat jelas. Dan mereka tahu siapa itu.

―Tidak mungkin!‖ kata Jack, ―Cepat sekali mereka sampai kemari.‖

Teresa menengadahkan wajahnya dan tersenyum.


―Senang bertemu Anda lagi, Tuan Jack Blood.‖ Ujarnya.

Jack hanya tersenyum dengan sebelah bibirnya setelah mengatasi keterkejutannya. Gelwa
berdiri di sampingnya dengan pedang terhunus.

―Hah, ternyata kamu datang sendiri, ya? Dimana tuanmu? Apa dia belum sampai? Atau
malah takut?‖ kata Gelwa tergelak sendiri.

―Tentu saja tidak.‖ kata Teresa kalem, ―Dia ada disini. Putri Kegelapan sudah datang.‖

Jack dan Gelwa memegang senjatanya dengan erat. Mereka meneliti sekeliling mereka.
Tidak ada siapapun.

―Dimana gadis itu?‖ bisik Gelwa pada Jack.

―Kalian mencariku, ya?‖

Sebuah suara terdengar di belakang mereka. Refleks, mereka menoleh dan melihat Renata
yang digendong oleh Cloud berada di belakang mereka. Mata kanan Renata yang berwarna merah
terang terlihat jelas walau tertutup poni rambutnya.

―Hai lagi, Jack, Gelwa.‖ Sapa Renata sambil mengibaskan tongkatnya yang langsung
berubah menjadi Bloody Rose.
BAB 13

―Kita sudah sampai.‖ Kata Cloud saat kami sampai di pinggir hutan. Aku menengadah ke atas
ketika melihat cahaya aneh dari dalam hutan.

―Cahaya itu… Kakak?‖

―Tugasnya sudah hampir selesai.‖ Kata Teresa, ―Saya akan pergi lebih dulu, Anda
menyusul di belakang saya.‖

―Ya. Jangan sampai Kak Lily disentuh oleh orang lain.‖ aku mengangguk.

Aku berpegangan lagi pada leher Cloud saat dia mulai berlari menembus hutan. Samar-
samar, aku melihat Orphelica, si ratu penebar ketakutan di tengah hutan. Beberapa anak buah
Alicia Blonde ternyata sudah menunggu di sekitar tempat Orphelica. Aku mengeluarkan
tongkatku dan mengubahnya menjadi Bloody Rose, lalu menyabetkannya kearah mereka semua.

―Jumlah meeka ada berapa banyak?‖ tanyaku pada Cloud sambil menyabetkan sekali lagi
Bloody Rose pada Monsta berbentuk singa besar putih.

―Saya rasa lumayan. Mungkin sekitar 60.‖

―Cukup untuk pemanasan.‖ Aku menusukkan sabit raksasaku pada seorang Gamer
perempuan yang sepertinya lebih tua dariku. Aku merasakan Teresa sudah menyela—bukan, Kak
Lily sudah tewas. Aku tahu itu, aku bisa merasakannya. Jack dan Gelwa membunuhnya. ―Percepat
larimu, Cloud. Aku tidak mau ketinggalan pertarungan dengan Jack dan Gelwa. Mereka sudah
membunuh Kak Lily.‖

―Baik.‖

***
Kini, aku sudah berada di belakang Jack Blood dan Gelwa Harcourt. Aku tidak akan kaget
seandainya mereka tidak menyadari aku sudah berdiri di belakang mereka. Karena setelah
ingatanku pulih dan kekuatanku yang sebenarnya kudapatkan kembali, auraku jadi sulit dibaca
oleh para Gamer maupun Monsta.

Itu artinya, hawaku bagaikan hantu.

―Haa!!!‖ aku mengibaskan sabit raksasaku kearah mereka berdua.

Jack dan Gelwa langsung terjatuh ke tanah. Yah… sebenarnya kurang tepat, mereka hanya
sedikit terluka karena mereka sempat menghindari seranganku.

―Cloud.‖

Cloud membawaku turun ke dalam hutan dan menurunkanku ke tanah. Kulihat, walau
luka yang mereka dapat hanya sedikit, sepertinya itu berpengaruh pada tubuh mereka. Beberapa
bagian tubuh mereka agak menghitam.

―Racun—bukan, kegelapan palsu?‖ gumamku.

―Saya rasa itu kegelapan yang diberikan Alicia Blonde dan Monsta-nya untuk
meningkatkan kekuatan mereka.‖ Teresa berbicara di sebelahku.

Aku menoleh kearahnya dan melihat Kak Lily di pelukannya. Matanya terpejam, tapi
bibirnya tersenyum. Ada sedikit darah yang mengalir dari mulutnya. Perlahan aku membersihkan
darah itu dari sudut bibir Kak Lily.

―Apa Kak Lily sudah…‖

―Tidak. Belum. Dia ingin menyampaikan sesuatu pada Anda.‖ Ujar Teresa.

―Eh?‖

―Rena… ta?‖ mata Kak Lily yang tertutup perlahan terbuka. Sinar matanya sayu, dan
hampir kosong, ―Kau… datang, ya? Baguslah…‖

―Kak…‖ aku menyentuh pipinya dan merasakan tubuhnya mulai mendingin, ―Maaf. Aku
datang terlambat. Kakak terlalu menghalangiku sampai aku baru bisa datang sekarang.‖
Kak Lily hanya tersenyum kecil. Dia lalu menyentuh mata kananku dengan tangan
gemetar.

―Akhirnya… tugas Kakak sudah selesai.‖ Katanya lirih, ―Sekarang… kamu… bisa…
melanjutkan apa yang diamanahkan… dari… Ayah…‖

―Kamu… siap, kan?‖ tanyanya lagi.

Aku mengangguk sambil tersenyum. Aku meraih tangannya yang menyentuh mata
kananku dan menggenggamnya erat.

―Tentu.‖ Jawabku, ―Aku akan melanjutkan apa yang seharusnya Ayah lakukan. Aku akan
mengambil alih semua yang ada. Aku akan membuat Kak Lily, Ayah, dan Ibu bangga padaku.‖

―Bagus…‖ Kak Lily tersenyum, ―Kalau begitu… Teresa…‖

―Ya, Nona Lily?‖

―Sekarang, ma… kan jiwaku…‖

Teresa mengangguk dengan perintah itu. Aku melepaskan tangan Kak Lily dan mundur
beberapa langkah. Aku mengangguk pada Teresa yang menatapku, meunggu perintahku.

Teresa lalu menutup mata Kak Lily dan mengangkat tangannya. Dari tangan Teresa
muncul sinar kebiruan yang sering kulihat jika dia atau Cloud menyembuhkan lukaku. Tangan
Teresa lalu masuk ke dalam tubuh Kak Lily hingga tubuhnya sekarang juga terselimuti sinar
kebiruan itu.

Perlahan-lahan tubuh Kak Lily mulai memudar seiring cahaya itu semakin terang. Dan
ketika cahaya itu menjadi lebih terang dan membuat mataku silau, tubuh Kak Lily sudah lenyap
sepenuhnya.

―Selesai, Nona Renata.‖ kata Teresa sambil berdiri.

―Mmm…‖ aku mengangguk, ―Selanjutnya…‖

Aku menoleh kearah Jack dan Gelwa.

―Cloud, Teresa, kalian tetap disitu. Biar mereka, aku yang urus.‖
―Baik, Nona.‖

―Sepertinya, anak nakal perlu diberi pelajaran.‖ Kataku maju ke depan dan mengarahkan
Bloody Rose pada mereka berdua. ―Bagaimana kalau kalian merasakan neraka untuk kedua
kalinya?‖

―Jangan mimpi!‖ teriak Gelwa. Dia berlari cepat kearahku dengan pedang terhunus.

Aku tersenyum mengejek melihat tindakannya. Beberapa detik lagi pedang Gelwa akan
menebas leherku.

Tapi, aku tidak berniat menghindar.

Dengan gerakan santai, aku menangkap mata pedang Gelwa dengan kedua jariku.

―Apa?!‖

―Hmmph. Aku rasa, kau tidak tahu kekuatanku seperti apa, ya?‖ kataku mematahkan mata
pedang itu menjadi dua. Disusul tendangan kearah perut, yang kuakui secara sadar, terlalu hebat
bagi tubuhku yang kelihatan kecil.

Gelwa terlempar kembali ke belakang. Darah mengalir dari dada dan mulutnya.

―Sakit?‖ kataku, ―Apa kamu mau menyerah sekarang?‖

―Kau…‖

―Tidak perlu marah.‖ Aku mengibas-ngibaskan tanganku, ―Yang ingin kulawan bukanlah
kalian. Tapi, Alicia Blonde dan Monsta-nya.‖

―Hadapi kami dulu!‖

Aku menoleh kearah Jack yang berbicara barusan.

―Apa aku tidak salah dengar?‖ tanyaku main-main. ―Kamu tidak akan bisa menang
melawanku.‖

―Kita lihat saja!‖ dia maju kearahku dan menyabetkan pedangnya ke segala arah.
Dengan mudah aku menghindari semua serangannya. Hasil latihan juga ditambah dengan
kekuatanku yang baru saja kudapat, hal ini seperti bermain bagiku.

Tapi, kalau aku tidak cepat, pagi akan datang, dan saat itu, aku harus bisa merebut
semuanya kembali.

―Cukup main-mainnya.‖ Kataku sambil memegang Bloody Rose dan mengibaskannya.

―Haaa!!‖

Aku menebas tangan kanan Jack dan menghadiahi satu tendangan kearah dadanya. Tidak
hanya itu, sebelum dia terjatuh ke tanah, aku menotok seluruh syarafnya agar dia tidak bisa
bergerak. Semua itu kulakukan hanya dalam waktu kurang dari 1 menit.

―Kau… akan…‖

―Tidak perlu berbicara.‖ Kataku dingin sambil mengangkat Bloody Rose, ―Kau akan mati
disini sekarang.‖
BAB 14

Aku mengangkat Bloody Rose tinggi-tinggi dan sebelum aku sempat menebas lehernya, sebuah
serangan mengarah kearahku dengan sangat cepat.

―Nona!‖

Cloud mendorongku dan menyelamatkanku dari serangan itu, yang langsung menghantam
pohon-pohon hutan dengan kerusakan luar biasa.

―A, apa itu barusan?‖ tanyaku.

―Dia datang.‖ kata Teresa berdiri di sebelahku dan membantuku berdiri. ―Alicia Blonde
dan Gilbert.‖

Aku melihat kearah serangan tadi datang. Seorang gadis seusiaku berambut pirang panjang
bergelombang berdiri di depan Jack bersama seorang pria berpakaian pelayan sama seperti Cloud.
Mata gadis itu bersinar ramah, memang. Tapi, matanya menunjukkan nafsu kekuasaan yang tinggi.

―Ah… akhirnya datang juga.‖ Kata gadis itu sambil tersenyum.

―Jadi, kau yang namanya Alicia Blonde?‖ tanyaku.

―Ya.‖ Balasnya masih tersenyum, ―Alicia Blonde, si nomor 1. Senang bertemu denganmu,
Putri Kegelapan.‖

Aku menatap tajam Alicia.

―Aku heran, kenapa kau sangat ingin mengincarku. Bahkan sampai menculik kakakku
hanya untuk mendapatkanku.‖ Ujarku. ―Tentunya usaha itu tidak berhasil, ya?‖

―Eh? Tidak… berhasil, kok.‖ Katanya, ―Soalnya, Gilbert yang punya ide untuk
memburumu.‖

―Gilbert?‖
―Monsta-ku.‖ Alicia menunjuk pria di dekatnya, ―Namanya Gilbert. Dan dia adalah
Monsta paling kuat. Setelah memakanmu, mungkin dia akan menjadi yang terkuat.‖

―Memakanku?‖

―Ya. Kekuatan Putri Kegelapan sangat besar dan menjadi incaran bagi semua Monsta yang
ada.‖ Kata Alicia, ―Setiap Monsta yang bisa sedikit saja meminum darahmu atau bahkan
memakanmu akan dilimpahi kekuatan luar biasa yang melebihi Gamer Master maupun Monsta
Master yang pernah ada.‖

―Karena kau adalah putri setengah Monsta, kau mewarisi kekuatan dari Zidane Grimoire,
sekaligus kekuatan terbesar Gamer legendaries, Rachel Nightblood. Kekuatanmu itu melebihi yang
bisa diduga oleh semua orang. Kau adalah satu-satunya yang terkuat diantara yang lain. Ditambah
lagi, ―Twins Phantom‖ juga mengawalmu. Kau jadi semakin tak terkalahkan. Kau itu harta yang
sangat berharga, lho, Renata Rachelica Nightblood.‖

―Hah. Omong kosong.‖ Kataku, ―Aku bukanlah harta karun.‖

―Eh? Bukan, ya? Hmmm… bagaimana, nih, Gilbert? Apa kita habisi dia sekarang agar dia
bungkam?‖ kata Alicia menoleh pada Gilbert, Monsta-nya.

―Kalau itu yang Anda inginkan.‖ Ujar Gilbert.

―Baiklah…‖ Alicia menoleh dan menunjuk kearahku, ―Dapatkan dia, dan makan jiwanya.
Kita akan menjadi yang terkuat dan tak terkalahkan.‖

―Baik.‖

Aku mengubah sabitku kembali menjadi tongkat. Gilbert dengan cepat berdiri di depanku
dan mencoba menyerangku dari depan.

―Cara lama.‖ Ujarku sambil bersalto ke belakang.

―Anda tidak bisa lari kemana-mana, Nona Renata.‖ kata Gilbert, ―Tempat ini sudah
dikepung oleh para Gamer dan Monsta yang mengincar Anda.‖
Setelah mengatakan itu, Gamer maupun Monsta (yang sudah kuduga, bersembunyi) keluar
dari tempat persembunyian mereka. Bahkan ada Monsta burung dan naga seperti Draco-nya
Gelwa.

―Saya minta maaf. Tapi, ini akan menjadi tempat terakhir Anda melihat dunia nyata
maupun parallel The Fantasy Area.‖

―Hmph.‖

Aku tersenyum kecil mendengar ucapan Gilbert. Aku melirik kearah pohon besar yang
berada di dekat Teresa dan Cloud berdiri.

―Tapi, sepertinya tidak semua Gamer dan Monsta ingin mengincarku, ya?‖ kataku
menatapnya tajam, ―Kalian yang akan menyesal sudah menantangku bertarung.‖

―Seperti yang dikatakan oleh tunanganku.‖ Dua sosok tubuh muncul dari balik pohon
besar itu.

Aku menoleh kearahnya dan tersenyum.

―Hai, Darren, Regald.‖ Kataku.

Darren tersenyum padaku, ―Pertarungan ini menarik. Aku ingin tahu, apakah aku bisa
membunuh Monsta bernama Gilbert itu.‖ katanya.

―Lakukan yang kau suka, My Fiance.‖ Kataku.

Darren berjalan kearahku. Saat berhenti di hadapanku, tangannya menepuk pelan


kepalaku dan wajahnya tersenyum.

―Itulah sebabnya, Kak Lily memercayakanku untuk menjagamu.‖ Katanya.

―Hah??‖

―Tidak apa-apa.‖ Darren menggeleng, ―Nah. Siap untuk bertarung?‖

Aku tersenyum dan menoleh kearah musuh yang ada di depan kami.

―Tentu. Aku sudah siap sejak dulu.‖ Tandasku.


BAB 15

Aku mengibaskan tongkatku dan mengubahnya menjadi Bloody Rose.

―Game, start!‖ seruku.

Bunyi dentang bel yang sudah biasa kudengar ketika kata-kata itu kusebutkan mulai
terdengar lambat-laun semakin keras. Dan saat bunyi dentang bel itu bergema keras, dunia parallel
The Fantasy Area mulai merambat ke dunia nyata tempat kami berdiri sekarang.

―Cloud, Teresa.‖

―Ya, Nona?‖

Aku menunjuk para Gamer dan Monsta yang berada di belakang Alicia dan Gilbert.

―Urus mereka semua.‖ Kataku, ―Habisi saja.‖

―Yes, My Lady.‖

Alicia tersenyum dengan sebelah bibirnya dan menoleh kearah Gilbert. Tahu bahwa
pertarungan akan segera dimulai. Dia lalu mengeluarkan sebuah jarum dari saku bajunya.

Tapi itu bukan jarum biasa. Aku tahu itu.

Karena dalam beberapa detik kemudian, jarum tipis sepanjang 15 senti itu berubah
menjadi sebuah tombak berwarna perak yang sama seperti Bloody Rose-ku.

―Arcspear…‖ gumamku menyebut nama senjata Alicia, ―Senjata terlarang yang terbuat dari
darah Ayah sebagai Monsta legendaries.‖

―Gilbert,‖ Alicia menoleh pada Gilbert, ―Kita habisi mereka sekarang.‖

Gilbert mengangguk dan menjentikkan jarinya.

Tiba-tiba sebuah—bukan, tapi jeruji raksasa terbentang di sekeliling hutan. Bahkan di


langitpun juga terdapat jeruji besi.
―Apa ini?‖

―Game-nya akan kita mulai di dalam penjara ini.‖ kata Alicia.

―Penjara?‖

―Jeruji raksasa ini adalah batas dunia parallel dan dunia nyata.‖ Kata Alicia lagi, ―Kalau
salah satu dari kita. Hanya kau, aku, dan Monsta kita, keluar dari batas jeruji ini, akan kalah. Baik
itu dalam keadaan terluka ataupun tidak.‖

Permainan yang tidak sulit. Aku sudah pernah melakukan hal ini sejak dulu.

―Lakukan apa yang kau bisa untuk membunuhku, Alicia.‖ Kataku, ―Aku yakin, aku yang
akan menang.‖

―Jangan sombong dulu, Putri Kegelapan.‖ Dia tersenyum, ―Aku yang akan memenangkan
Game ini dengan mudah, dan akan membuatmu merasakan sakitnya kepedihan neraka yang
kubuat.‖

Aku mendengus dan berlari kearah mereka.

Pertarungan dimulai sekarang!

***

Aku bersalto ke belakang menghindari serangan Gelwa dan Jack yang dilakukan secara bersamaan.
Dengan cepat, aku melancarkan pukulan dan tendangan beruntun kearah mereka.

Jack dan Gelwa jatuh tersungkur ke tanah dengan luka yang cukup serius. Monta mereka
berdua berlari menerjangku dan menyerang. Aku menghindari setiap serangan mereka dengan
mudah dan cepat. Sambil menghindar ke belakang, aku menoleh kearah Alicia yang bertarung
melawan Cloud dan Teresa.

Aku masih tidak mengerti, kenapa aku seperti tidak diperbolehkan untuk melawan Alicia
lebih dulu oleh kedua Gamer di hadapanku ini.
―Sudah cukup bermainnya!‖ aku mengibaskan rambutku ke belakang dan mengangkat
Bloody Rose tinggi-tinggi.

―Haaa!!!‖ aku mengibaskan Bloody Rose pada kedua Monsta di hadapanku.

―Jangan menghalangiku!‖ teriakku pada mereka dan melompat kearah Alicia.

Saat Bloody Rose-ku sudah hampir menembus tubuh Alicia, Monsta-nya, Gilbert Adio
mengempaskanku dengan kekuatannya. Aku bersalto ke belakang dan mendarat ke tanah. Gilbert
mengeluarkan sebilah—bukan, sepertinya ada banyak sekali cadangan pisau di dalam pakaiannya,
ya? Di tangannya terdapat, setidaknya 10 buah pisau perak mengkilap.

Aku berdiri dan kembali berlari menerjangnya sambil mengayun-ayunkan senjataku.

Gilbert ternyata tidak bisa dianggap remeh.

Sekali lagi, dia berhasil menangkis seranganku. Percikan api keluar di antara Bloody Rose
dan pisau Gilbert.

―Serangan yang hebat, Tuan Putri.‖ Katanya tersenyum mengejek.

―Cih!‖

Aku melompat mundur ketika sebilah pisau meluncur kearah wajahku. Memang bisa
kuhindari, tapi tidak ayal bilahnya melukai wajahku dan meninggalkan goresan sepanjang 5 senti.
Aku menyentuh darah yang mengalir dan berkonsentrasi untuk memulihkannya.

Dalam beberapa detik, wajahku tidak lagi terasa sakit dan lukanya memudar.

Aku menatap tajam pada Gilbert yang membalas tatapanku dengan tatapan mengejek.

―Kau berani sekali menentang pewaris sah Master.‖ Kataku. ―Apa hanya karena jika kau
bisa membunuhku, kau bisa menguasai dunia parallel dan dunia nyata?‖

―Tidak hanya itu saja, Tuan Putri.‖ Ujarnya tersenyum dengan sebelah bibir.

―Apa?‖
―Dengan membunuhmu, saya bisa menggunakan tubuh Anda untuk Nona Alicia.‖
Katanya, ―Sejak dulu, tubuh Nona Alicia sangatlah lemah. Karena itu, untuk bertahan hidup, Nona
Alicia harus…‖

―Harus apa?‖ tanyaku bingung. Tapi, kemudian kerutan di keningku menghilang dan aku
mulai mengerti apa maksudnya.

―Kau… jangan bilang kalau gadis itu…‖

―Ya.‖ Gilbert mengangguk, ―Dia harus mengganti raganya dengan raga yang lebih kuat.
Raga yang digunakannya sekarang adalah raga si nomor 4, Melinda Hazellica.‖

―Tidak mungkin!‖

Pantas saja, aku tidak pernah lagi mendengar berita tentang si nomor 4, Melinda Hazellica,
yang juga dikenal sebagai pelindungku. Aku ingat dia dulu pernah menemaniku bermain bersama
Kak Lily di masa lalu. Gadis seusiaku yang seharusnya sudah meninggal karena tidak terdengar
kabarnya di dunia parallel The Fantasy Area dan dunia nyata itu ternyata berdiri di hadapanku
dengan jiwa orang lain di dalam tubuhnya.

Dan kenapa aku tidak menyadari wajahnya yang seharusnya tidak asing itu?

―Saya akan membunuh Anda.‖ Kata Gilbert, ―Untuk mendapatkan kekuatan terbesar dan
tidak bisa dikalahkan oleh apapun.‖

Dia lalu berlari dengan kecepatan tinggi kearahku. Aku mengibaskan Bloody Rose dan
mengubahnya kembali menjadi tongkat. Aku rasa, aku tidak memerlukan Bloody Rose dulu saat
ini, karena aku hanya perlu menghindar dari setiap serangannya.

―Dalam mimpimu!!‖ aku melakukan split dan berguling menghindari serangan pisaunya
yang berikutnya.

Aku dengan cepat aku berdiri dan mengacungkan tongkatku padanya.

―Kau tidak akan pernah kuizinkan menyentuh atau bahkan membunuhku.‖ Kataku.

―Seperti yang dikatakan oleh Nona-ku.‖


Teresa dan Cloud tiba-tiba sudah berdiri di samping kiri dan kananku.

―Kalian?‖

―Kami akan malindungi Anda.‖ Kata Teresa, ―Kami sudah mengikat kontrak dengan Anda
dan juga, tunangan Anda bisa menghadapi Alicia Blonde seorang diri.‖

Aku menoleh kearah Alicia dan melihat Darren dan Regald yang sedang menyerangnya
habis-habisan. Wah… aku tidak pernah melihat secara langsung tunanganku itu bertarung.
Rupanya dia kuat juga.

―Nona, silahkan Anda menyingkir.‖ Cloud berdiri di depanku, ―Saya yang akan
menghadapinya.‖

―Tidak. Aku juga—‖

―Anda lupa apa yang tertera di kontrak kita? Melindungi Anda jangan sampai terluka
sedikitpun. Saya tidak ingin Anda terluka sedikitpun.‖

―Tapi, Cloud, aku tidak—‖

―Nona, ayo.‖ Teresa merengkuh pundakku, ―Biarkan Cloud yang mengurus Monsta itu.
Sebaiknya Anda menyingkir.‖

―Teresa!‖

―Ini masalah kami.‖ Wajah Teresa tiba-tiba berubah muram.

Tidak. Memang sudah biasa wajahnya dan Cloud muram, tapi tidak seperti ini. Wajah
mereka lebih muram daripada yang biasanya.

―Teresa, Cloud, sebenarnya apa yang…‖

―Ini masalah harga diri kami.‖ Kata Teresa pelan di hadapanku, ―Anda harus mengerti.
Biarkan masalah ini hanya untuk sesama pelayan Sang Terkuat. Dan, kami ingin Anda melakukan
sesuatu. Hanya untuk kali ini kami meminta.‖

Mata merah kebiruannya memancarkan keseriusan yang dalam.


Aku mengangguk pelan dan menghela nafas, ―Baiklah.‖ Kataku, ―Apa yang kalian ingin
aku lakukan?‖

Teresa mendekatkan wajahnya ke telingaku dan membisikkan sesuatu padaku. Aku


mendengarkan dengan seksama dan kemudian mengangguk.

―Aku mengerti.‖ Kataku, ―Aku akan melakukannya.‖

―Terima kasih, Nona.‖ Kata Teresa tersenyum, ―Dan? Perintah Anda?‖

Aku menatap Teresa dan Cloud bergantian. Kemudian kearah Gilbert.

―Ini perintah.‖ Ujarku, ―Bunuh Alicia Blonde dan Monsta-nya!‖

―Yes, My Lady.‖
BAB 16

Aku berlari kearah pohon tertinggi di dalam hutan. Untunglah jeruji besi yang mengelilingi hutan
ini berada sejauh 13 kilometer dari pohon yang akan kutuju. Tapi, beberapa kali aku terhalang
oleh Gamer level rendah. Dengan mudah aku bisa mengatasi mereka. Hanya menerima 2-3
serangan saja mereka sudah kalah.

Aku berhenti beberapa meter dari sebatang pohon besar yang dikelilingi oleh ribuan
kunang-kunang yang berkelip-kelip. Dengan perlahan aku mendekati pohon itu tanpa mengusik
para kunang-kunang ini. Teresa sudah memperingatkanku agar tidak mengusik mereka. Karena
mereka bukanlah kunang-kunang biasa. Mereka adalah jiwa yang tertambat ditempat ini untuk
menjaga harta karun yang disimpan oleh ayahku. Teresa juga mengatakan padaku bahwa jiwa yang
menjaga pohon ini tidak tahu siapa aku, dan jika aku mengusik mereka, mereka bisa saja
membunuhku karena dianggap orang asing.

Senjata terkuat Monsta dan Gamer yang pernah ada tersimpan di dalam batang pohon itu.
Padahal kukira hanya Bloody Rose-ku yang menjadi senjata terkuat. Ternyata masih ada.

Dan senjata itu bernama…

Apa yang kau lakukan disini?

Aku tersentak kaget dan menoleh ke belakang. Kunang-kunang itu masih berkeliaran
dimana-mana. Tapi suara tadi…

Apa yang kau lakukan disini, Nona Muda?

―Siapa? Tunjukkan dirimu!‖ seruku.

Kami tidak perlu menunjukkan diri. Ujar suara itu, Siapa kau, Nona Muda? Kenapa
sepertinya auramu tidak asing di tempat ini?

Deg!

Gawat. Sepertinya mereka terusik karena kehadiranku disini.


―Err… aku…‖

Auramu sama persis dengan Rachel Nightblood. Wajahmu juga sama persis dengannya.
Siapa kau?

―Aku Renata Rachelica Nightblood. Putri dari Rachel Nightblood dan Zidane Grimoire.‖
Kataku, ―Aku kemari ingin mengambil senjata orangtuaku.‖

Renata Rachelica? Apa kau Putri Kegelapan yang dikatakan oleh Lily Stephanie
Nightblood pada kami 4 tahun lalu? Tanya suara itu.

―Lily Stephanie Nightblood adalah kakakku. Kakak tiri sekaligus pelindungku.‖ Kataku,
―Apa dia pernah memberitahukan kalian siapa namaku?‖

Tentu saja. Suatu kehormatan untuk bisa bertemu dengan Anda secara langsung.

―Bisakah kau menunjukkan saja wujudmu? Aku tidak nyaman berbicara dengan seseorang
yang tidak bisa kulihat.‖ Kataku agak mengernyit takut ketika mengucapkan kata ‗tidak nyaman‘
barusan.

Maaf, kalau Saya membuat Anda tidak nyaman.

Perlahan- ribuan kunang-kunang itu mulai berkumpul dan membentuk siluet sesosok
tubuh pria. Makin lama makin terlihat jelas wujud sosok itu. Berpakaian serba putih dan
mengenakan mantel berwarna emas.

Yah… sebenarnya disebut pria juga tidak tepat. Wajahnya masih sangat muda. Sama seperti
Teresa dan Cloud.

―Wow…‖

―Salam kenal, Nona Renata,‖ ujar pria itu, ―Nama saya Ronald Howard. Saya adalah
penjaga pohon ini sebagai Monsta.‖

―Ronald Howard? Jadi, kau salah satu dari 15 Monsta berwujud manusia itu?‖

―Benar.‖ Ujarnya tersenyum. ―Nah, Anda ingin mengambil senjata orangtua Anda,
bukan?‖
―Ah, iya…‖ aku mengangguk.

―Silakan lewat sini.‖ Dia berjalan di hadapanku dengan begitu luwes untuk ukuran Monsta.

Aku segera mengikutinya sampai di hadapan pohon besar yang cukup tua ini. Ronald
menyentuh kulit pohon itu dengan jari telunjuknya, dengan sangat perlahan.

Dan kemudian, retakan terjadi di sekitar kulit pohon yang disentuh oleh Ronald. Retakan
itu membentuk suatu pola berbentuk huruf H dan R yang aneh, tapi, kemudian, retakan itu pecah
berkepig-keping dan membuat lubang menganga pada batang pohon itu. Tepat diatas sebuah
kotak peti berwarna biru tua yang sudah kusam. Ronald mengambil kotak itu dan
menyerahkannya padaku.

―Inilah senjata Tuan Zidane dan Rachel.‖ Katanya.

Aku menerima kotak itu dan segera membukanya. Aku terenyak sejenak ketika melihat isi
kotak peti itu.

―Nona Renata?‖

Aku mengambil benda di dalam kotak di tanganku. Sebuah pisau kecil bertahtakan berlian
biru tua dan anak panah yang mata panahnya sudah agak berkarat.

Apa ini senjata milik ayah dan ibu?

―Senjata ini…‖

―Ah, ada pesan dari Nona Lily untuk Anda.‖ Sela Ronald.

―Eh?‖

―Nona Lily berpesan, ―Jangan hanya melihat dari bentuknya. Kedua senjata ini akan
membantum suatu saat nanti.‖.‖ katanya.

―Begitukah?‖ aku menatap kedua benda di tanganku itu dan mencoba mempercayai pesan
Kak Lily yang dikatakan Ronald barusan.

―Baiklah, aku akan segera—‖


―Tunggu sebentar, Nona.‖ Sela Ronald, ―Saya punya sesuatu untuk Anda.‖

Aku mengerutkan kening mendengar ucapannya.

―Kotak ini, kan?‖ kataku menunjuk kotak di tanganku.

Anehnya, Ronald menggeleng. Dia mengambil sesuatu dari saku bajunya dan
menyerahkannya padaku. Pita rambut berwarna biru dan hitam.

―Pita?‖

―Ini pita penyembunyi usia. Jika Anda memakai pita berwarna hitam, tubuh Anda akan
mengecil menjadi anak-anak berusia 13 tahun. Dan pita berwarna biru ini adalah sebaliknya, Anda
akan menjadi wanita dewasa berusia 25 tahun.‖ Jelasnya.

―Wah… berguna sekali.‖ Kataku mengamati kedua pita itu. Mungkin aku bisa
menggunakannya untuk keluar dari rumah dalam tubuh wanita dewasa.

Bagus juga…

―Baiklah. Aku ambil.‖ Aku mengambil kedua pita itu dan menyimpannya di saku bajuku.
―Kalau begitu, aku pergi dulu. Terima kasih sudah menjaga senjata ini untukku, Ronald.‖

―Sama-sama, Nona. Saya senang senjata ini berada di tangan yang tepat.‖ Kata Ronald
tersenyum, ―Sampai bertemu lagi lain waktu, Putri Kegelapan.‖

Setelah berkata begitu, tubuh Ronald kembali berubah menjadi ribuan kunang-kunang dan
bertebaran di sekitar pohon ini. Aku melihat kearah pohon tadi. lubang menganga itu sudah
hilang. Tertutup.

Aku menggenggam erat pisau kecil dan patahan anak panah di tanganku sebelum
menyimpannya, kemudian segera berlari kembali ke arena pertarungan.

***
Aku berlari menginjak beberapa batang cabang pohon sambil menghindari anak panah maupun
butiran peluru secepat cahaya yang ditembakkan oleh para Gamer yang mengikutiku. Sesekali aku
menyabetkan Bloody Rose dan berhasil menumbangkan beberapa Gamer. Tapi, jumlah mereka
semakin banyak, aku tidak bisa mengalahkan mereka semua kalau begini caranya. Kalau hanya
dengan menyabetkan Bloody Rose, itu tidak akan cukup.

SYUUT!!!

Aku menghindar dari sabetan pedang seorang Gamer wanita yang sepertinya lebih tua
dariku itu dan melompat ke cabang pohon yang berikutnya.

Aku berhenti dan memperhatikan mereka semua menutupi jalanku. Aku tahu, mereka
mengincarku bukan karena aku adalah Putri Kegelapan, tapi, pasti karena suatu alasan lain yang
aku rasa aku tahu apa. Aku akan mencoba mengulur waktu dengan mengungkit hal itu.

―Apa kalian disuruh oleh Alicia Blonde unyuk membunuhku padahal kalian tidak ingin?‖
kataku.

Mereka semua sekarang menjadi ragu. Apa perataanku tadi benar? Apa mereka memang
ingin membunuhku karena disuruh?

―Kami hanya melaksakan perintah si nomor 1.‖ Ujar wanita yang tadi menyerangku. ―Kami
tidak perlu perasaan tidak ingin membunuhmu.‖

―Apa benar?‖ ujarku, ―Aku lihat, beberapa diantara kalian ada yang ragu untuk
membunuhku.‖

Diam lagi. Dan inilah kesempatanku.

Aku memejamkan mata untuk berkonsentrasi.

―Apa kau bersiap menerima kematianmu?‖ aku mendengar suara wanita yang tadi.
―Semuanya! Bunuh dia!!‖

Aku merasakan 6 orang berlari kearahku. Dan tepat saat aku merasakan hembusan angin
yang menandakan pedang atau senjata apapun akan menebas leherku, aku membuka mataku.
Kurasakan mata kananku membara seperti terbakar.
Tapi, itulah yang kubutuhkan sekarang.

―Datanglah! Death Rebel!!‖

Angin topan besar perlahan-lahan datang ke daerah ini. Angin itu menyelimutiku dan
perlahan aku melihat sosok raksasa bermantel hitam dan memegang sabit yang sama persis seperti
Bloody Rose milikku. Di balik mantel itu, terlihat topeng berbentuk tengkorak manusia yang
bermata merah.

Death Rebel, salah satu Monsta terkuat yang menjadi legenda dan juga teman baikku di
masa lalu (jangan tanya, aku ingat semuanya. Death Rebel adalah Monsta yang memberiku Bloody
Rose). Keuntungan menjadi Putri Kegelapan adalah punya banyak teman Monsta yang akan selalu
loyal sampai mati.

Death Rebel mendekat kearahku dan secara tidak langsung menyelimutiku dengan
mantelnya.

Senang bertemu denganmu lagi, Tuan Putri. Ujarnya.

―Ya. Senang bertemu lagi.‖ aku tersenyum. ―Kita akan membantai mereka. Tanpa
ampun.‖

Siap, Tuan Putri.

Aku memegang erat Bloody Rose, kemudian menunjuk kearah beberapa Gamer.
Termasuk wanita yang tadi.

―Kau urus yang disana, aku urus yang disini. Buat pingsan para Gamer-nya saja, Monsta-
nya mau kau bunuh atau kau makan, terserah saja. Jangan sampai kalah.‖ Kataku.

Sesuai perintahmu, Tuan Putri.

Aku berlari kencang kearah salah satu Gamer yang memiliki Monsta beruang. Dengan
cepat aku mengayunkan Bloody Rose dan berhasil menebas kepala Monsta-nya. Beruang itu lalu
menghilang dengan cepat. Aku menoleh kearah si Gamer dan bergerak cepat memukul
tengkuknya.
―Maaf, tapi, aku rasa, kau terlalu cepat 100 tahun untuk bisa mengalahkanku.‖ Ujarku saat
tubuhnya mulai terjatuh ke tanah.

Aku beralih kearah yang lain dan mulai melakukan hal yang sama. Dalam waktu singkat,
60 Gamer yang melawanku berhasil kulumpuhkan. Aku menoleh kearah Death Rebel. Rupanya
dia sedang melawan wanita yang tadi berteriak menyuruh membunuhku pada anak buahnya. Aku
berlari kearah Death Rebel dan mendarat tepat di bahunya yang cukup lebar untuk kupijaki.

Aneh. Wanita ini tidak bertarung dengan Monsta-nya. Apa wanita ini manusia biasa? Kalau
iya, kenapa dia bisa bertahan di dunia parallel? Seharusnya dia sudah mati kehabisan nafas.

―Wanita ini aneh. Apa dia tidak memiliki Monsta?‖ tanyaku pada Death Rebel. ―Apa dia
manusia biasa?‖

Dia memilikinya. Hanya saja Monsta yang dimilikinya cukup pemalu. Monsta terburuk
yang pernah ada. Monsta yang bisa saja membunuhnya hanya dengan melihatnya.

―Apa?‖

Aku melihat lagi kearah wanita itu. Beberapa bagian tubuhnya sudah memar dan berdarah.
Apa dia akan tetap melanjutkan pertarungan tanpa Monsta yang membantunya? Semua anak
buahnya sudah dihabisi olehku dan Death Rebel. Tidak mungkin dia akan bertarung sendiri. Dia
pasti akan memanggil Monsta-nya cepat atau lambat.

Dan hal itu terjadi kemudian.

Sekilas, aku melihat seberkas cahaya dari wanita yang sedang melawan Death Rebel. Aku
menutup mataku dengan sebelah tangan dan tidak percaya ketika aku membuka mata dan melihat
Monsta yang dimiliki wanita itu. Monsta dengan wajah seperti harimau cacat dan memiliki tubuh
ular. Dan sayap seperti sayap merpati.

―Makh—Monsta apa itu?‖ gumamku tanpa sadar, ―Seperti Chimera.‖

Itu adalah Monsta jenis Chimera, Tuan Putri. Alligator. Jawab Death Rebel.

―Alligator? Salah satu Monsta Chimera yang itu? Monsta yang bisa menundukkan Monsta
yang ada di bawah levelnya?‖
Betul, Tuan Putri. Kata Death Rebel, Kita apakan dia?

Aku menatap wanita itu. Dan ternyata, seperti yang kuduga sebelumnya. Dia dikendalikan.

―Bunuh Monsta-nya, aku akan urus wanita itu.‖ aku melompat dari bahunya dan
menerjang si wanita, yang langsung menahan serangan sabit raksasaku dengan pedangnya.

―Maaf, Putri Kegelapan. Tapi, kau akan dijadikan tubuh berikutnya bagi Nona Alicia.‖
Ujar wanita itu.

―Dalam mimpinya. Tidak akan kubiarkan itu terjadi!‖

Aku menyentakkan Bloody Rose dan mencoba menyerangnya dari sisi kiri. Berhasil. Luka
sepanjang 6 senti kini terukir di pakaiannya. Walau tidak mengeluarkan darah yang cukup banyak,
wanita ini pastilah sudah kepayahan karena diserang habis-habisan oleh Death Rebel. Ditambah
lagi, dia juga dikendalikan. Dari sinar matanya yang nyaris kosong itu aku bisa tahu bahwa ia
dikendalikan oleh seseorang, yang kuduga adalah Gilbert. Ternyata Monsta yang satu itu punya
banyak keahlian juga.

Kalau dugaanku benar, jika aku bisa melumpuhkannya, Alligator akan terhenti gerakannya
dan dia akan lenyap begitu saja. Kembali ke tempat asal Monsta terbentuk. Dan wanita yang tidak
aku tahu namanya ini bisa selamat dari cengkeraman ganasnya The Fantasy Area.

Aku melompat bersalto dan mencoba menotok urat syaraf di lehernya. Tapi, sial.
Gerakannya yang selanjutnya begitu lincah dan luwes. Dia berhasil menghindari totokanku dan
malah berbalik sambil mengarahkan pedangnya kearah dadaku, dan aku tidak sempat
menghindar.

Aku tidak tahu apakah aku bisa mati karena serangan macam tertusuk pedang. Aku tidak
pernah mencoba apalagi melakukannya.

Sebentar lagi pedang itu akan menusukku. Setengah senti lagi…

―Renata! Awas!!!‖

Dan tubuhku tiba-tiba terlempar ke belakang, tepat ketika aku mendengar suara pedang
yang menembus tubuh seseorang.
BAB 17

Pertarungan masih berlanjut. Bahkan bisa dibilang seri untuk Darren. Melawan Alicia sama saja
baginya dengan melawan boneka mainan. Dia sudah pernah mencoba bertarung dengan gadis itu
dan hasilnya memang seri karena Alicia tiba-tiba roboh dan kemudian dibawa pergi oleh Monsta-
nya.

Sekarang, dia bisa bertarung lagi dengan si nomor 1 ini.

Tapi, ada satu yang mengganjal pikirannya.

Dimana Renata? Apa dia sedang menghadapi para Gamer lain? Atau mungkin dia…

Dia pasti berada di pohon jiwa itu. batin Darren. Dia mengibaskan pedangnya dan bersalto
ke belakang.

―Regald!‖

Regald yang berdiri di dekat Darren menoleh kearah tuannya.

―Ya?‖

―Aku akan mencari Renata. Dia pasti terhalang oleh para Gamer yang mengincarnya.‖
Kata Darren, ―Dan… jika aku mati, tolong, kau jangan dulu pergi ke tempat mayatku berada. Aku
tidak mau Renata semakin menangisiku jika aku mati. Kau tahu, kan, dia itu agak cengeng.‖

―Saya mengerti.‖

Darren lalu menyabetkan pedangnya pada Alicia untuk terakhir kali dan kemudian dia
berlari kearah hutan. Dia sempat melirik kearah Cloud dan Teresa yang bertarung melawan
Gilbert. Teresa sempat melihat kearahnya dan wanita itu mengangguk ketika Darren pergi kearah
hutan.

***
Aku terlempar sekitar satu meter ke batang pohon yang cukup tebal dan (sialnya) terkena
beberapa ranting yang cukup tajam ujungnya. Tapi, untungnya aku tidak luka parah, hanya sedikit
darah yang keluar dari sudut bibirku. Dengan ujung ibu jari aku menghapus darah itu dan berdiri.
Memang, sih, dorongan itu menolongku terhindar dari tusukan pedang, tapi, sakit yang kurasakan
ini juga tidak ada bedanya dengan ditusuk pedang.

Siapa yang mendorongku? Kataku dalam hati sambil memegangi bahuku yang terasa agak
sakit dan melihat kearah orang yang tadi mendorongku.

Dan seketika itu juga, aku yakin aku tidak bisa bernafas. Orang yang mendorongku itu…

―Dar… ren…‖

Darren berdiri membelakangiku dengan pedang yang menembus dada kirinya. Darah
mengalir keluar dari luka yang diakibatkan oleh pedang itu.

Kepala Darren menoleh kearahku, dan aku terkesiap melihat darah yang banyak mengalir
dari mulutnya.

―Syukurlah… kamu… selamat, Renata.‖ katanya terbata-bata.

Wanita yang menusuknya lalu menarik pedangnya dan bersalto mundur. Darren
mengerang kesakitan hingga ia roboh sementara wanita itu hanya mengamati saja. Aku cepat
berlari kearahnya dan memapahnya.

―Darren! Darren!!!‖

Wajah Darren begitu pucat. Nafasnya juga tersengal-sengal. Aku menoleh-noleh mencari
Regald. Tapi, dia tidak ada dimana-mana.

Kemana Monsta Darren itu?

―Renata…‖
Aku menoleh kearah Darren tepat ketika sebelah tangannya yang tidak memegang pedang
menyentuh wajahku. Matanya yang berwarna keemasan itu menatapku dengan tatapan yang
kuingat dan kusuka sejak kecil, sebelum aku hilang ingatan.

―Syukurlah… kamu tidak terluka… kan?‖ katanya.

―Darren, jangan banyak bicara. Lukamu parah. Aku akan menyembuhkanmu.‖

Aku meletakkan telapak tanganku di atas luka Darren. Sinar kebiruan yang sama seperti
dipunyai oleh Cloud dan Teresa keluar dari tanganku. Sebagai putri setengah Monsta, aku juga
memiliki kemampuan menyembuhkan.

Tapi, tangan Darren yang menyentuh wajahku beralih memegang tanganku yang berada
diatas dadanya yang terluka. Dia menggeleng lemah dan tersenyum. Membuatku bingung.

―Darren? Apa yang—‖

―Kamu tidak perlu… menyembuhkan… ku.‖ Katanya semakin lemah, ―Aku hanya… perlu
tahu… kau selamat atau… tidak…‖

―Darren, tolong. Biarkan aku menyembuhkanmu…‖ kataku. Mataku mulai berkaca-kaca


dan aku hampir menangis, ―Darren, aku mohon…‖

Tapi, Darren menggeleng lagi. Tangannya kembali menyentuh wajahku, kali ini dengan
lembut menyeka air mata yang mengalir di pipiku.

―Tidak perlu… menangis…‖ katanya, ―Aku tidak suka… melihat wajahmu sedih… seperti
itu…‖

―Aku akan terus menangis kalau kau tidak mau kusembuhkan!‖ kataku menahan tangis,
―Tolong, Darren, aku ingin menyembuhkanmu…‖

―Tidak… perlu… Renata…‖ dia memandangku dengan mata yang tersenyum, ―Aku tidak
perlu… disembuhkan. Hanya melihatmu bahagia dan tersenyum, itu… sudah cukup bagiku…‖

―Darren…‖ aku memegang tangannya dengan gemetar. ―Darren… tidak…‖


―Renata, kau dulu… pernah bilang… akan selalu bersamaku, kan?‖ katanya. Semakin lama
suaranya semakin lirih seiring dengan nafasnya yang semakin tidak teratur.

Aku ngeri membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya padanya. Tapi, demi
mendengar perkataannya, aku mengangguk. Sekilas, aku teringat janji kami sewaktu kecil. Dimana
kami sedang bermain bersama di taman bunga di belakang rumahku.

Aku ingat Darren menyematkan cincin yang terbuat dari bunga ke jari manis tangan
kananku. Saat itu, kami berjanji akan saling menjaga satu sama lain dan tidak akan pernah
berpisah. Kami akan selalu bersama, apapun yang terjadi. Darren akan menjadi pangeranku kelak,
dan aku akan menjadi putrinya. Saat itu…

… terasa indah.

Tapi, sekarang…

―Aku… aku akan selalu bersamamu.‖ Kataku dengan suara serak, ―Apapun yang terjadi. Itu
janji kita sewaktu kita masih kecil. Aku ingat itu.‖

Senyum Darren semakin terkembang. Dia kemudian terbatuk-batuk dan mengeluarkan


darah. Aku dengan panik memegang luka di dadanya, tapi kembali dicegah olehnya.

―Kau… mau mendengar satu permintaan… terakhirku?‖

―Darren! Tidak akan ada permintaan terakhir! Aku akan menyembuhkanmu, tanpa kau
minta dan tidak akan bisa kau cegah!‖

Aku menepis tangannya dan kemudian menempelkan telapak tanganku. Tapi, lagi-lagi
Darren mencegahku. Kali ini lebih keras ia menggenggam tanganku, berusaha mencegahku untuk
menyembuhkannya. Aku mendongak menatap wajahnya dengan kesal dan ingin melontarkan
kata-kata lagi.

Tapi, sedetik kemudian… aku tidak berpikir apa-apa lagi ketika dia menempelkan bibirnya
ke bibirku.
Mataku terbelalak dan aku tidak ingat kalau aku ingin menyembuhkan luka Darren. Kedua
tangan Darren merangkulku dan dia memiringkan kepalanya hingga bisa menciumku dengan lebih
baik. Aku masih tidak bisa bereaksi bahkan ketika dia selesai menciumku dan tersenyum.

―Sekarang… permintaanku terpenuhi.‖ Ujarnya.

―Eh?‖

Darren tersenyum. Ia menangkup wajahku dengan kedua tangannya dan menicum pipi
kananku. ―Aku akan selalu… bersamamu, Renata. Aku… tidak akan… meninggalkanmu. Aku…
aku akan selalu… di… hati… mu…‖

Kedua mata Darren tiba-tiba tertutup dan tubuhnya roboh di pelukanku. Aku tidak
mendengar suara tarikan nafas dari dirinya. Tubuh Darren seolah kaku di dalam pelukanku.

Tapi… aku rasa tubuhnya memang berubah kaku.

―Darren?‖ aku menyentuh punggungnya. Dan tidak ada tanda-tanda kehidupan dari tubuh
Darren.

―Tidak…‖

―Tidak… tidak…‖

Aku membalik tubuh Darren dan masih bisa melihat wajahnya yang tersenyum. Aku
mengambil tangan Darren dan memeriksa denyut nadinya.

Tidak ada gerakan. Tidak ada suara nafas teratur ataupun yang lainnya.

Ini… ini tidak mungkin terjadi…

―Darren,‖ aku memanggil namanya dan mengguncang-guncang tubuhnya, ―Darren?


Darren? Darren? Jawab aku… Darren?‖

Tapi, Darren tidak menjawab. Bibirnya yang tersenyum tidak bergerak. Begitu juga
kelopak matanya.
―Darren! Darren! Buka matamu! Darren!!‖ aku berteriak keras memanggil namanya.
Walau tahu itu sia-sia, tapi, aku ingin ada sedikit keajaiban. Keajaiban yang bisa membuat Darren
kembali.

―Darren! Kumohon…‖ tangan serta bahuku mulai bergetar karena tidak kuat menahan
tangis.

Darren pergi. Dia benar-benar pergi… dia…

―Darren!!‖ airmataku pecah sudah. Aku memeluk tubuhnya yang semakin kaku dan
menangis.

―Darren… kau bilang… kau bilang akan selalu bersamaku…‖ aku memeluk tubuhnya
semakin erat. ―Kita akan selalu bersama, kan? Tapi, kenapa…‖

Aku akan selalu… bersamamu…

Kata-kata itu terngiang dan membuatku berhenti. Aku melepas pelukanku, kutatap wajah
Darren yang tersenyum damai dengan perasaan bingung. Airmataku membasahi wajahnya yang
putih bagai kertas itu. Di wajahnya terdapat senyum yang kusuka. Di wajahnya terdapat ekspresi
damai yang kucintai. Tapi… darimana datangnya suara itu?

Aku akan selalu bersamamu… apapun yang terjadi. Aku akan selalu dihatimu… jangan
menyerah…

Aku mencoba menghapus airmataku, tapi tidak berhasil. Aku merasakan ada sepasang
tangan yang memegang kedua bahuku dan meremasnya dengan lembut. Aku menoleh ke
belakang, tapi, tidak melihat siapa-siapa.

Kamu tidak boleh menangis. Renata yang kukenal selalu tersenyum dan tertawa seperti
malaikat.

―Darren?‖

Selama kamu bahagia, itu sudah cukup bagiku. Kamu tidak boleh menyerah disini. Kamu
harus kuat…
Aku menatap wajah Darren. Apa… apa tadi suara itu… suara Darren yang belum
tersampaikan padaku? Apa dia…

Aku meletakkan Darren dengan hati-hati dan bangkit berdiri. Airmata masih mengalir di
wajahku. Tapi, aku tidak peduli lagi dengan airmata ini. Yang sekarang kupedulikan adalah orang
yang membunuh Darren. Wanita itulah yang membunuh Darren. Dia yang menusuk Darren
dengan pedangnya.

Aku tidak akan memaafkannya. Benar-benar tidak akan memaafkannya.

Aku mengambil Bloody Rose dan mengayun-ayunkannya hingga menciptakan angin yang
berhembus kencang.

Wanita itu melindungi matanya dengan kedua tangan karena angin yang kuciptakan
memang membuat ranting-ranting pohon beterbangan kearahnya.

―Aku tidak akan memaafkanmu,‖ ujarku pelan, ―Dan aku akan membunuhmu. Kau tidak
akan bisa menghalangiku menghadapi Alicia Blonde.‖

―Hah! Dalam mimpimu, Nona kecil!‖ ejeknya sambil mengacungkan pedangnya. ―Aku
yang akan membunuhmu lebih dulu. Dan akan kubuat kau merasakan neraka yang tidak pernah
kau bayangkan sebelumnya.‖

―Kita akan lihat itu.‖ kataku, ―Siapa yang akan berlutut pada yang menang, akan ditentukan
sekarang!‖

Dengan cepat aku berlari dan meloncat kearahnya sambil mengayunkan Bloody Rose,
menciptakan sinar merah terang yang siap memotong lehernya. Tapi, dia juga berhasil menghindar
dengan mudah. Aku tidak membiarkannya lepas dari pandanganku. Segera setelah dia bersalto ke
belakang, aku meloncat ke hadapannya dan mencegahnya kabur dari pandanganku. Kuayunkan
Bloody Rose kearahnya dan membuat beberapa luka lagi di tubuhnya.

Wanita itu lalu bersalto mundur dan aku kembali ke dekat mayat Darren. Aku berdiri dan
merapikan pakaianku dengan santai.
―Sepertinya kau takut kalah, ya, Nona?‖ kataku balas mengejek. Mataku menatap tajam
padanya dan memakai kemampuan yang sudah kupunyai sejak dulu, kemampuan menganalisa
Gamer dan Monsta.

―Hooo… jadi namamu Frieska Lightstring.‖ Ujarku saat mengetahui namanya. ―Nama yang
bagus. Anggun.‖

―Terima kasih sudah memuji, Nona kecil.‖ Wanita bernama Frieska itu berdiri dan
meludahkan darah yang ada dimulutnya, ―Tapi, aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku akan
membunuhmu di tempat ini. Dan Nona Alicia serta Tuan Gilbert akan senang.‖

Aku memicingkan mata padanya. Sepertinya dia tidak hanya dikendalikan dengan ilmu
hipnotis biasa. Ini pasti ilmu hipnotis tingkat tinggi.

Seseorang yang dihopnotis dengan hipnotis tingkat tinggi tidak akan bisa mendapatkan
kesadarannya kembali kecuali dibunuh. Aku yakin, selain dihipnotis, Frieska juga mendapatkan
kekuatan dari Alligator yang menjadi Monsta-nya.

―Kau berani menentang Putri Kegelapan? Pewaris sah gelar Master dunia The Fantasy
Area?‖ kataku.

―Aku tidak takut.‖ Ujarnya, ―Selama aku bisa hidup bebas, aku akan bahagia. Itulah yang
dikatakan Tuan Gilbert.

Begitu. Bujukan berupa kata-kata manis bualan. Kataku dalam hati.

―Kalau begitu, bersiaplah untuk menghadapi neraka yang kuciptakan khusus untuk
pencemar dunia The Fantasy Area.‖

―Akulah yang harusnya mengatakan itu, Nona kecil.‖

Kami berdua sama-sama meloncat ke udara dan saling mengacungkan senjata kearah titik
vital tubuh. Ujung-ujungnya, kami seperti samurai yang saling membelakangi.

Aku mendarat tepat di salah satu cabang pohon terdekat dan jatuh terduduk. Aku meraba
pinggang kananku yang mengeluarkan darah yang cukup banyak.
Aku menoleh ke belakang dan melihat wanita itu juga jatuh tersungkur dan tidak bergerak.
Darah mengalir dari punggung dan juga kepalanya. Aku yakin, dia sudah tewas.

Dengan langkah gemetar, aku berdiri dan berjalan kearah batang pohon lain untuk
tempatku bersandar. Aku mencoba mengatur nafasku yang mulai tersengal-sengal dan
pandanganku mulai mengabur. Sial. Kalau begini saja aku sudah kalah, bagaimana aku bisa
membunuh si nomor 1, Alicia Blonde dan Gilbert?

Aku menoleh kearah Death Rebel yang masih bertarung dengna Alligator. Aku tidak
sempat memikirkan bagaimana Monsta itu masih ada walau pemiliknya sudah tewas kubunuh.
Yang kupikirkan sekarang ini adalah menyelesaikan permainan ini secepatnya.

Apapun yang terjadi walau aku terluka parah sekalipun.

―Death Rebel! Kuserahkan dia padamu. Aku akan pergi ke tempat Alicia Blonde.‖ Kataku.

Siap, Tuan Putri.

―Dan pastikan, jika kau sudah selesai, segera bawa mayat Darren ke tempatku. Agar Regald
bisa memakan jiwa yang masih tersisa ditubuhnya.‖

Saya akan melaksanakannya. Anda pergilah.

Aku mengangguk. Kemudian, dengan tenagaku yang tersisa, aku melompat berlari kearah
luar hutan.

***

Aku berhenti sekitar satu meter dari arah keluar hutan dan mengambil pisau serta anak panah
yang patah yang tadi kusimpan. Aku memandang kedua senjata itu sebentar dan kemudian
memejamkan mata.

Kumohon… ayah, ibu… berikan aku kekuatan.

Aku menggenggam erat kedua senjata itu dan membuka mata.


Kedua senjata itu bersinar terang dan tiba-tiba saja menyatu menjadi sebuah pedang. Aku
tersenyum sendiri melihat senjata yang ada di tanganku. Aku segera mengibaskan Bloody Rose
dan mengubahnya kembali menjadi tongkat. Kusematkan tongkat itu di sabuk di pinggang kiriku.

Kupandangi pedang di tanganku. Pedang perak kebiruan yang bertuliskan nama ibuku,
Rachel. Kurasakan pedang itu berdengung memancarkan energy yang kuat.

―Akan kuselesaikan ini semua.‖ Kataku, ―Dan kali ini, adalah terakhir kalinya, orang-orang
yang kusayangi mati di depan mataku.‖

Kurasakan mata kananku kembali membara. Kekuatan Monsta di dalam diriku, pasti
merespon perasaanku.

Aku berjalan pelan kearah luar hutan dan sempat dihadang oleh 3 Gamer. Aku bisa
menghajar mereka dengan mudah hanya dalam beberapa serangan. Aku mengayun-ayunkan
pedangku dan membuat perhatian orang-orang yang sedang bertarung teralihkan.

―Nona Renata.‖

Aku melihat kearah Teresa dan Cloud, mengisyaratkan mereka untuk tetap melawan
Gilbert sementara aku berhadapan dengan Alicia Blonde.

Aku berhenti sekitar 2 meter dari Alicia Blonde, sementara pertarungan yang tadinya
tertunda karena kedatanganku kembali berlanjut.

Alicia menoleh kearahku dan kelihatan terkagum-kagum melihat pedang di tanganku.

―Wah… pedang legendaries milik Rachel Nightblood. Azalea Sword.‖ Katanya, ―Apa kau
akan bertarung denganku menggunakan pedang itu?‖

―Kalau tidak keberatan untuk kubunuh.‖ Ujarku, ―Alicia Blonde, hukuman yang pantas
untukmu hanyalah mati!‖

―Kejam sekali kata-katamu…‖ dia tertawa kecil. ―Baiklah. Kita bertarung secara serius.‖

Dia mengeluarkan pedangnya.


―Jangan kasar-kasar. Kau, kan wanita.‖ Katanya dengan nada mengejek. ―Ah, dan juga
terluka.‖

Aku mendengus, ―Akulah yang harusnya mengatakan itu. Bersiaplah.‖

―Kita mulai pada hitungan ketiga.‖ Ujarnya. ―Satu… dua…‖

―Tiga!!!‖

Kami berlari kearah masing-masing sambil mengayunkan pedang. Aku menahan serangan
pedangnya dengan pedangku. Menciptakan bunga api serta suara berdentang pedang yang nyaring.

Aku mendorongnya mundur dan menendang perutnya. Berhasil. Aku mengayunkan


pedangku dengan cepat dan sesekali menghadiahkan tendangan ke tubuhnya. Walau dia sering
bisa menghindari seranganku, aku tahu akurasi serangannya cukup parah. Terbukti dari sekian
banyak seranganku padanya, beberapa kali ia terkena seranganku dan tidak sempat bisa
membalasnya.

Aku mundur ke belakang ketika pedangnya meluncur kearah wajahku. Dengan cepat aku
menguasai diri dan berdiri. Alicia meludahkan darah dari mulutnya.

―Wah… kau cukup hebat.‖ Pujinya. ―Tapi, aku tidak akan membiarkanmu menang, Putri
Kegelapan.‖

―Aku juga tidak akan membiarkanmu menang.‖

Kami saling menyerang lagi. Kali ini aku tidak lagi memberikan kesempatan untuknya
membalas seranganku. Gerakanku sepuluh kali lipat lebih cepat darinya. Dan itu kugunakan untuk
membuat beberapa luka lagi untuk membuatnya lemah.

Alicia mulai kepayahan setelah seranganku yang ke – 230. Darah mengalir dari sudut
bibirnya. Juga tangan dan kaki kirinya. Dan pada akhirnya, dia jatuh terduduk. Pedangnya
terlempar jauh dan menancap di batang sebuah pohon.

Aku berdiri di hadapannya dan memandangnya dengan tatapan dingin.

―Pertarungan berakhir disini sekarang.‖ Ujarku sambil mengangkat pedangku, ―Hukuman


mati untuk Gamer yang pura-pura bertindak sebagai Master.‖
Ketika aku akan menusuk bahunya, bayangan Gilbert tiba-tiba berdiri di antara kami dan
memukulku mundur.

Aku terlempar dan akan mendarat di tanah kalau saja Cloud dan Teresa tidak cepat
menangkapku.

―Anda tidak apa-apa?‖ tanya Cloud sambil menurunkanku.

―Tidak.‖ aku meludahkan darah ke tanah, ―Kenapa Monsta sialan itu menghalangiku?‖

Aku memandang tajam pada Gilbert yang berdiri di depan Alicia dan melindunginya.

―Kalau dia masih berada disitu, aku tidak akan segan-segan membunuhnya.‖ Kataku.

―Lebih baik, biarkan kami menyembuhkan luka Anda terlebih dahulu.‖ Teresa menyentuh
pinggang kananku yang terluka dan menyembuhkan luka pedang yang disebabkan oleh Frieska.

―Terima kasih.‖ Ujarku.

Aku melihat lagi kearah Alicia dan Gilbert.

Tapi, apa yang kulihat selanjutnya benar-benar diluar dugaan.

Gilbert menggigit leher Alicia dan kelihatan seperti sedang meminum darah Alicia. Alicia
berteriak kesakitan berusaha melepaskan diri dari Gilbert.

Apa yang dilakukannya? Apa dia ingin melanggar kontrak diantara dirinya dan Alicia
dengan memakan jiwa tuannya sebelum waktunya?

Dalam The Fantasy Area, hal itu dianggap tabu dan sangat dilarang. Karena jika seorang
(atau seekor, terserah saja) Monsta melakukan hal itu, Monsta tersebut akan dianggap sebagai
pengkhianat dan akan diusir dari kalangan Monsta dan tidak akan pernah mendapat pasangan
kontrak lagi kecuali dia meminta maaf pada Monsta Master dan mendapat hukuman 200 tahun
penjara abadi.

―Apa yang dilakukannya? Apa dia berniat membunuh tuannya?‖

―Gilbert adalah pengkhianat sudah sejak lama.‖ Kata Teresa yang selesai menyembuhkan
lukaku. ―Dahulu, dia pernah melakukan hal yang sama, kemudian dia dimasukkan ke dalam
penjara abadi selama 150 tahun. Tapi, kemudian dia berhasil keluar dari penjara abadi dan
mengikat kontrak dengan Alicia Blonde secara illegal.‖

―Jadi, Alicia Blonde sebenarnya adalah pemegang kontrak illegal dari Gilbert? Tapi,
kenapa hal ini tidak pernah sampai—oh, aku lupa. Dia si nomor 1.‖

―Ya. Karena itu, tidak ada yang tahu tentang masalah ini selain kami.‖ Kata Teresa lagi.

―Kalian mengetahuinya sudah sejak lama, bukan? Dari Ayah?‖

Teresa dan Cloud mengangguk bersamaan.

Aku kembali melihat kearah Gilbert. Tubuh Alicia sudah terkulai di tanah. Tidak
bergerak. Dia sudah mati. Mata Gilbert bersinar aneh. Seperti sinar mata yang lapar.

―Katakan, apakah jika Monsta memakan jiwa tuannya sebelum kontrak terpenuhi, dia akan
mendapat kekuatan yang luar biasa atau bagaimana?‖ tanyaku.

―Monsta yang melakukan itu akan mendapat setengah kekuatan dari tuannya, bahkan
lebih. Dan jika sudah begitu, akan sulit menghentikannya, kecuali kalau dia bisa dibunuh.‖ jawab
Cloud.

―Baiklah.‖ Aku mengibaskan pedangku, ―Kita akan menyerangnya. Ini perintah. Bunuh
Gilbert sampai hancur. Biarkan saja Alicia Blonde. Dia sudah mati.‖

―Yes, My Lady.‖

Aku berlari kearah Gilbert sambil mengayun-ayunkan pedangku. Pertarungan keduaku


dimulai!
BAB 18

Sial. Sepertinya benar apa yang dikatakan Teresa dan Cloud. Kekuatan Gilbert jadi jauh lebih kuat
dari yang tadi. Apa jiwa Alicia begitu kuat hingga kekuatan Gilbert menjadi seperti ini.

Tapi, Alicia adalah anak lemah yang dihasut oleh Gilbert. Aku yakin, ini bukan kekuatan
yang berasal dari jiwa Alicia, melainkan orang lain.

Aku mengayunkan pedangku dan berhasil melukai lengan kanannya. Aku bersalto ke
belakang dan membiarkan Cloud memberikan serangan lagi. Teresa berdiri di belakangku. Kami
memang menyerang bergantian dan belum menyerang secara bersama-sama. Belum. Itu akan
kami lakukan nanti setelah Gilbert kepayahan dan tidak sanggup bergerak.

Cloud mundur ke belakang, dan kini giliran Teresa yang menyerang. Teresa menggunakan
pistol di kedua tangannya. Ia menembak kearah Gilbert yang masih bisa berhasil menghindari
serangan jarak jauh. Tapi, tubuhnya sudah penuh luka dan darah. Aku tidak yakin apakah dia
sudah kepayahan atau tidak karena aku tidak melihat tanda-tanda dia seperti itu.

―Sebaiknya kita serang dia bersamaan kali ini.‖ ujarku. ―Aku ingin menyelesaikan ini
secepatnya dan pulang ke rumah dan beristirahat.‖

―Baik.‖

Aku dan Cloud berlari bersamaan dan menyerang Gilbert.

Berhasil. Dia tersudut.

Teresa menembak lagi, kali ini tepat sasaran. Peluru itu menembus kaki kiri Gilbert. Dia
jatuh terduduk sambil memegangi kakinya yang… entah ini perasaanku atau apa. Tapi, kakinya
terlihat keriput, padahal kulit dan tubuh Gilbert sama persis seperti Monsta manusia yang lain.
Putih mulus, agak transparan, dan kencang.

―Menyerahlan, Gilbert.‖ ujarku, ―Sebelum kami membunuhmu dengan rasa sakit.‖

Bahu Gilbert berguncang, bukan karena menahan tangis, tapi menahan tawa.
―Anda tidak akan bisa membunuhku, Tuan Putri.‖ Katanya menatapku dengan matanya
itu, ―Karena Anda akan lenyap bersama saya.‖

―Apa?‖

Tanpa diduga, dia mencengkeram tanganku dan menarikku. Ia memiting lenganku ke


belakang.

―Mau apa kau!?‖ seruku sambil berusaha melepaskan tanganku dari pitingannya.

Tapi, Gilbert mencekik leherku dan kemudian dia melompat ke udara bersamaku dalam
pitingannya.

―Nona!!!‖

Aku melirik kearah Gilbert dengan ekspresi marah.

―Apa maumu?? Kau tidak akan bisa—‖

―Tentu saja bisa. Saya sudah menyiapkan semua ini sejak lama.‖ Bisiknya di telingaku,
―Saya sudah mengantisipasi hal seperti ini. Saya akan meledakkan diri saya bersama Anda.‖

―Kau gila!‖ ujarku, ―Tidak akan kubiarkan hal itu terjadi!‖

Aku berusaha melepaskan pitingannya dariku. Tapi, tangannya bergerak mencegah, kini
tangannya tidak hanya memegang kedua tanganku, leherku kembali menjadi sasarannya.

―Apa Anda kesakitan? Saya harap begitu. Karena ini akan menjadi rasa sakit Anda yang
terakhir.‖ Bisiknya lagi. ―Dan karena ini adalah arena pertarungan yang membatasi dunia parallel
dan dunia nyata, jika Anda keluar dari sini, maka Anda akan dinyatakan kalah.‖

Cih! Bagaimana caranya aku bisa lepas dari pitingannya? Aku tidak mungkin menyuruh
Teresa ataupun Cloud. Sebentar lagi, kami akan melewati batas arena! Batinku melihat jeruji besi
di langit semakin dekat dengan kepalaku.

Apa ini akhirnya?

Ini bukan akhir. Sebuah suara terdengar di telingaku. Aku menoleh kearah suara itu dan
melihat Monsta yang kukenal berada sekitar 1 meter dariku dan Gilbert.
Regald.

―Regald?‖

―Bertahanlah, Nona.‖ Ujarnya sambil melancarkan tendangan kearah Gilbert.

Tendangan Regald mengenai wajah Gilbert. Pitingannya padaku mengendur. Aku


menggunakan kesempatan itu untuk melepaskannya dan menendangnya. Regald menangkapku
dan membawaku turun ke bawah. Aku berpegangan pada lehernya ketika kami mendarat ke
tanah. Teresa dan Cloud menghampiri kami.

―Anda baik-baik saja?‖ tanya Teresa membantuku berdiri.

Aku mengangguk, kemudian menoleh kearah Regald.

―Terima kasih, Regald.‖ Kataku. ―Tapi, dimana kau tadi? Kau tidak bersama Darren saat
dia menolongku.‖

―Itu perintah Tuan Darren sendiri.‖ Ujarnya, ―Saya sudah memakan setengah jiwanya
ketika dia meninggal di hadapan Anda.‖

Mendengar nama Darren membuat hatiku terasa nyeri. Aku berusaha menahan tangis yang
mulai keluar lagi.

―Nona? Maaf, kalau itu…‖

―Tidak.‖ aku menggeleng, ―Tidak apa-apa. Aku… aku sudah merasa lebih baik. Apa kau
sudah… kau tahu, tubuhnya?‖

Regald mengangguk.

―Begitu… baguslah…‖ aku menoleh kearah Gilbert yang mencoba berdiri dengan tubuh
penuh darah. ―Lalu, bagaimana cara kita untuk membunuhnya?‖

Mereka bertiga mengikuti arah pandanganku.

―Hanya ada satu cara untuk membunuhnya.‖ Kata Teresa.


―Mengurungnya di penjara abadi selamanya.‖ Lanjut Cloud, ―Anda bisa memanggil Death
Rebel untuk menjatuhkan vonisnya, dan Orphelica akan menjaga penjara abadi yang mengurung
Gilbert nantinya.‖

―Begitu. Baiklah.‖ Aku lalu berdiri dibantu Teresa. ―Aku akan memanggil Orphelica dan
Death Rebel. Selama itu, kalian cobalah untuk menahannya.‖

―Tapi, Nona, luka Anda baru sembuh. Anda tidak bisa memaksakan diri Anda untuk—‖

―Aku tahu,‖ kataku menyela ucapan Teresa, ―Tapi, aku tidak mau, sampai tenagaku
terkuras habis, Gilbert masih ada di dunia ini. Ini perintah. Selama aku memanggil Orphelica dan
Death Rebel, kalian harus menahannya. Apapun yang terjadi jangan pedulikan aku sampai
semuanya berakhir!‖

Teresa dan Cloud menatapku dengan tatapan yang sudah sering kulihat, agak marah. Tapi,
aku tahu mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa jika aku sudah memerintahkan seperti itu.

―Baik.‖

―Regald,‖

―Ya, Nona?‖

―Kau juga. Bantu mereka.‖ kataku, ―Kekuatan kalian bertiga lebih baik untuk mengalahkan
Gilbert.‖

Regald mengangguk.

Mereka bertiga segera berlari kearah Gilbert dan kembali menyerangnya sebelum Monsta
itu bergerak. Aku memejamkan mataku untuk berkonsentrasi memanggil Death Rebel yang
kuduga masih berada di dalam hutan, dan Orphelica. Cukup sulit karena walaupun lukaku sudah
sembuh, tapi tenagaku sudah melemah akibat luka di pinggang kanan dan harus berlari
menghindari kejaran para Gamer.

Perlahan kuangkat tangan kananku ke udara, mengumpulkan semua kekuatanku yang


tersisa dan menaruhnya di telapak tanganku. Aku mencengkeram udara dan berteriak keras.

―Datanglah, Orphelica! Death Rebel!!‖


Ledakan dahsyat terjadi di hadapanku. Dan dari ledakan itu muncul dua sosok raksasa.
Orphelica dan juga Death Rebel. Mereka menatap kearahku. Kulihat di tangan Death Rebel ada
tubuh Darren. Diletakkannya tubuh Darren ke tanah dengan sikap hati-hati.

―Terima kasih.‖ Kataku dengan suara yang hampir habis.

Sama-sama, Tuan Putri. Ujar Death Rebel.

Apa perintah Anda, Tuan Putri Renata? tanya Orphelica sambil mendekatkan wajahnya
padaku, dan membuatku melihat wajah cantik di balik rambutnya yang tebal dan hitam legam itu.

―Aku ingin kalian menjatuhkan Gilbert ke penjara abadi.‖ Kataku, ―Selamanya. Orphelica,
kuminta padamu mengawasi, menyiksanya dan jangan pernah biarkan dia kabur dari penjara
abadi-mu.‖

―Death Rebel, berikan vonis itu pada Gilbert. Aku ingin kalian melakukannya sekarang.‖

Baik, Tuan Putri.

Aku mengangguk. Dan kemudian merasakan nafasku tersengal dan pandanganku mulai
mengabur.

Saat Orphelica dan Death Rebel mendekat kearah Gilbert yang masih diserang habis-
habisan oleh Regald, Cloud, dan Teresa, aku tidak melihat apa-apa lagi.
BAB 19

Cloud menyerang Gilbert dengan pisau di tangannya. Dia sekilas mendengar suara Renata jatuh ke
tanah. pingsan.

―Nona…‖

―Cloud, jangan melihat kearah lain!‖ kata Teresa, ―Kita tidak boleh melanggar perintah
Nona Renata.‖

Cloud tahu itu. Dia lalu menyerang Gilbert sekali lagi.

―Kalian… kalian akan kubunuh semuanya!!!‖ teriak Gilbert sambil menahan rasa sakit
akibat serangan bertubi-tubi dari Cloud, Teresa, dan Regald.

―Dalam mimpimu, Gilbert!‖ ujar Teresa sambil menembak kaki kiri Gilbert, ―Kami tidak
akan membiarkanmu berulah lagi seperti 300 tahun yang lalu.‖

Gilbert mengeluarkan pisau dari balik bajunya dan melemparkannya kearah Teresa.
Teresa berkelit dan bersalto menghindar ketika Gilbert berlari kearahnya dan melayangkan
tendangan ke wajahnya.

―Kau berhadapan dengan Monsta yang dijuluki terkuat nomor 2, Gilbert.‖ kata Cloud yang
tiba-tiba saja sudah berada di belakang Gilbert dan bersiap menusuk punggung Gilbert.

―Terima ini!!‖

Cloud menancapkan pisau di tangannya ke punggung Gilbert. Gilbert mengerang kesakitan


dan beralih pada Cloud sambil melemparkan pisau di tangannya.

Cloud menghindar dengan cara bersalto ke belakang dan sekali lagi melemparkan sebuah
pisau kearah Gilbert.

Akibat dari serangan bertubi-tubi, dan juga luka yang parah, Gilbert mulai sulit
berkonsentrasi dan akurasi serangannya sering salah sasaran. Mereka bertiga memanfaatkan
kesempatan ini untuk mengikat Gilbert ke sebuah pohon besar di dekat mereka.
Teresa mengangguk pada Cloud, dan mereka berdua masing-masing mengeluarkan benang
baja tipis dari pakaian mereka. Dengan gerakan yang lincah, mereka berhasil menyudutkan Gilbert
hingga mendekati pohon besar itu. Di saat yang tepat, mereka segera mengikat Gilbert dengan
benang baja tipis di tangan mereka.

Regald memberikan serangan terakhir berupa tendangan yang langsung bersarang di perut
Gilbert dan membuatnya memuntahkan darah.

Orphelica dan Death Rebel mendekat kearah mereka bertiga yang langsung segera
mundur memberikan jalan pada kedua Monsta raksasa itu.

Orphelica berdiri di sebelah kanan Gilbert, dan Death Rebel di sebelah kiri.

Death Rebel mengangkat tangannya yang berupa tulang itu ke wajah Gilbert yang masih
mengerang kesakitan. Dari tangan Death Rebel muncul sinar keemasan.

Gilbert Adio. Dosamu memakan jiwa tuanmu sebelum batas kontrak telah melanggar
peraturan tidak tertulis antara dirimu dan tuanmu. Kau juga telah membunuh Gamer lain tanpa
seizin tuanmu dan memberikan hipnotis pada Gamer serta Monsta lain untuk menurutimu dengan
cara kekerasan yang sudah melebih batas. Dosamu tidak akan bisa diampuni. Aku nyatakan kau
dipenjara dalam penjara abadi di neraka terdalam dan akan dijaga oleh Orphelica sendiri hingga
kau tidak bisa kabur.

Segera setelah Death Rebel mengatakan itu, sebuah rantai mengikat tubuh Gilbert dan
mengangkatnya ke udara. Gilbert meronta-ronta saat Orphelica mengambil rantai itu beserta
dirinya. Mata Gilbert menatap marah pada ketiga orang di bawahnya.

―Aku akan membalas perbuatan kalian. Aku akan menyiksa Putri Kegelapan sampai dia—‖

Tutup mulutmu, tahanan. Sekarang, kau tidak akan bisa kemana-mana lagi. kata Orphelica
memekakkan telinga Gilbert, Aku tidak akan membiarkanmu lepas dari pengawasanku. Akan
kubuat kau merasa tidak tahan dan memohon ampun di neraka yang kubuat.

Dalam balutan cahaya merah, tubuh Gilbert perlahan-lahan menghilang diiringi dengan
teriakan yang memekakkan telinga siapa saja yang mendengarnya. Ketika tubuh Gilbert sudah
sepenuhnya menghilang, Orphelica menghentakkan tombaknya ke tanah. Jeruji besi yang
mengukung area pertarungan tersebut kembali masuk ke dalam tanah.

Tugas kami sudah selesai. Ujar Orphelica, Sampaikan salam kami pada Tuan Putri jika ia
terbangun.

―Tentu.‖ Kata Teresa.

Nona Teresa, ini. Death Rebel memberikan sebuah bunga mawar putih pada Teresa.

Teresa menerimanya dan tersenyum tipis, ―Mawar abadi. Apakah ini hadiah untuk Nona
Renata?‖

Ya. Bunga ini akan menjaganya. Dan juga, bunga ini adalah tanda, bahwa dia resmi
menjadi pemilik dunia The Fantasy Area yang sebenarnya. Kata Death Rebel. Itu adalah titipan
dari Tuan Zidane Grimoire sendiri untuk putrinya tercinta.

―Terima kasih, Death Rebel.‖

Kalau begitu, kami pergi.

Dibalut angin yang kencang, kedua Monsta raksasa itu menghilang hanya dalam sekejap
mata.

Teresa mencium bunga mawar di tangannya dan tersenyum. Kemudian matanya


membelalak. Dia menoleh kearah Cloud dan Regald.

―Dimana Nona?‖

Tersadar dengan perkataan Teresa, mereka berdua menoleh ke tempat Renata berada.
Melihat Renata yang jatuh pingsan, mereka lantas berlari menghampiri kearah gadis itu.

Cloud memdudukkan Renata dan menahan berat tubuhnya dengan sebelah tangan
sementara tangannya yang lain memegang dahi Renata. Hanya dengan menyentuh dahi seseorang,
Cloud bisa mengetahui apakah orang itu sekarat atau tidak, sudah mati atau belum.

―Dia masih hidup.‖ Kata Cloud, ―Hanya pingsan.‖


―Syukurlah…‖ Teresa menghembuskan nafas lega. Dia mengelus rambut Renata dengan
lembut.

Regald memperhatikan sikap Teresa dan Cloud yang begitu memperhatikan Renata. Dia
memang tahu Renata adalah putri setengah Monsta yang mewarisi darah Zidane Grimoire yang
melegenda, juga tunangan dari Darren, tuannya. Tapi, entah kenapa, perhatian kedua Monsta di
hadapannya ini seperti perhatian orang tua kepada anaknya.

Merasa diperhatikan, Teresa menoleh pada Regald.

―Ada masalah, Regald?‖ tanyanya.

Regald menggeleng, ―Hanya tidak mengerti. Kenapa kalian memperlakukan Nona Renata
seperti anak kalian.‖ Ujarnya.

Teresa hanya tersenyum. Tidak menjawab.

―Mungkin suatu hari nanti, kau akan mengerti.‖ Ujarnya pada Regald, ―Aku rasa, kau harus
mengurus tubuh Tuan Darren terlebih dahulu.‖

Regald tersenyum tipis, ―Benar juga.‖ Dia lalu berjalan kearah tubuh Darren dan
mengangkatnya. ―Saya akan pergi untuk mengurus Tuan Darren.‖

―Hati-hati.‖ kata Teresa.

Regald melirik lewat bahunya dan mengangguk, ―Sampai bertemu lagi. Aku akan segera
kembali secepat mungkin.‖

Regald lalu melompat berlari dengan sangat cepat.

Teresa kembali menoleh kearah Renata yang masih pingsan. Sekali lagi, ia tersenyum.

―Bagaimana, Cloud? Kita pulang?‖ kata Teresa sambil tersenyum.

Cloud hanya tersenyum kecil dan kemudian menggendong Renata.

―Kita akan membuatkan pesta meriah untuk kembalinya Putri Kegelapan.‖ Ujarnya sambil
menatap wajah Renata yang pingsan. ―Aku rasa, Nona kita ini juga akan suka kalau kita buatkan
gaun baru untuknya.‖
Teresa tertawa kecil, ―Dia akan kesal lagi.‖ katanya, ―Nona Renata tidak suka memakai
gaun.‖

Cloud menghembuskan nafasnya dan kemudian dia segera berlari kearah hutan bersama
Teresa di sebelahnya. Meninggalkan mayat-mayat Gamer dan Monsta yang bergelimpangan di
rumah Alicia Blonde.
BAB 20

Aku tidak yakin dimana aku berada…

Disini… gelap.

Tapi, walau gelap, aku merasa nyaman. Seolah aku diselimuti oleh kehangatan yang sangat
nyaman dan membuatku tenang.

Aku tidak yakin, apakah aku sudah mati atau tidak.

Tapi, aku bisa merasakan paru-paruku mengembang ketika aku menghirup udara di
sekitarku. Semua indera-ku juga bekerja dengan baik. Berarti, aku tidak mati, kan?

―Nona…‖

Suara siapa itu? Kenapa suaranya terdengar tidak asing?

―Nona Renata…‖

Suara itu memanggilku lagi. Kali ini lebih dekat. Lebih dekat….

***

6 bulan kemudian…

Aku membuka mataku dan melihat Teresa berdiri di sampingku dengan sebuah gaun biru
di tangannya.

―Tere… sa?‖

Teresa tersenyum dan kemudian membantuku bangun. Dia meletakkan gaun yang
dibawanya di bawah kakiku.
―Tidur Anda nyenyak sekali.‖ Katanya sambil menyematkan sejumput rambut yang
menghalangi mata kananku. ―Sepertinya Anda bermimpi indah, ya?‖

―Tidak juga.‖ Kataku, ―Dimana Cloud? Jam berapa sekarang?‖

―Cloud sedang mempersiapkan pesta.‖ Jawabnya.

―Pesta?‖ aku mengerutkan kening tidak mengerti. Tapi, kemudian aku manggut-manggut
paham akan maksud Teresa.

Pesta untukku sebagai Putri Kegelapan.

Oh, ya… sudah 6 bulan sejak pertarungan waktu itu. Pertarungan dengan si nomor 1, Alicia
Blonde.

Memang di saat terakhir saat aku memanggil Orphelica dan Death Rebel aku pingsan
karena tidak kuat lagi dan tidak bertenaga. Tapi, kemudian, saat aku terbangun, aku sudah berada
di kamarku dan Teresa serta Cloud berada di sisi tempat tidurku. Cloud mengatakan pertarungan
terakhir sudah selesai, dan akan diadakan pesta untuk menyambut kedatanganku sebagai Putri
Kegelapan dan pewaris tahta Master yang sebenarnya. Melalui pesta itu, semua Gamer dan Monsta
yang ada dan tersebar dimana-mana tahu bahwa aku adalah pewaris yang sebenarnya dan harus
tunduk padaku (enak juga, ya, jadi si nomor 1). Memang ada rasa tidak nyaman dan senang ketika
seseorang memanggilmu dengan panggilan ―Nona‖ ataupun ―Tuan Putri‖ ketika bertemu
denganmu. Tapi, 4 bulan kemudian, aku mulai terbiasa.

Pekerjaan sebagai Master ternyata juga tidak mudah. Setiap hari—bukan, hampir setiap
malam aku harus meluruskan apa yang dimulai Alicia dan membuatnya menjadi lebih baik. Mulai
dari mengembalikan kesadaran para Gamer yang dikendalikan oleh Gilbert, sampai masalah
Gamer palsu. Dalam kasus ini, Gamer palsu adalah Gamer yang dipaksa bermain dalam The
Fantasy Area. Umumnya, Gamer palsu adalah orang-orang yang tidak sengaja ditemukan oleh
Gilbert dalam keadaan koma karena sakit atau kecelakaan atau yang lainnya. Gilbert
memanfaatkan hal itu untuk merasuki pikiran terdalam orang tersebut dan membuatnya mengikat
kontrak dengan Monsta yang pertama ditemuinya.
Kasus yang itu cukup sulit kutangani. Untunglah Death Rebel bisa membantuku
mempersempit daftar Gamer palsu yang harus kutangani. Dari ribuan Gamer palsu yang tersebar,
kini hanya tinggal beberapa ratus orang saja yang belum diidentifikasi.

Diantara Gamer yang ada, ternyata ada teman-teman sekelasku yang level Gamer-nya
masih lemah. Sewaktu mereka ikut pesta pertamaku sebagai Putri Kegelapan, mereka tidak
percaya bahwa aku adalah Putri Kegelapan pewaris sah tahta Master (aku sempat tertawa geli
ketika salah seorang teman sekelasku sampai tersedak minuman yang diminumnya ketika Cloud
mengumumkan bahwa aku adalah putri Zidane Grimoire dan Rachel Nightblood yang menghilang
selama ini (ternyata kabar beredar kalau aku adalah Gadis Terpilih itu maksudnya adalah ini
Menurut kabar yang beredar, aku dikatakan menghilang bersama kedua Monsta-ku entah
kemana).

Dan, setelah pesta pertama itu, banyak yang mulai mengundangku ke rumah mereka
sekedar berbincang-bincang ataupun untuk… uh, ditunangkan ataupun dinikahkan.

Untuk yang satu itu, jelas saja aku menolak. Aku masih kepikiran dengan Darren, terutama
saat dia menciumku. Seumur-umur, aku dan dia baru pertama kali itu saja berciuman. Ciuman
yang petama sekaligus terakhir. Sungguh tragis.

Aku berjalan ke kamar mandi dan mulai menyalakan shower. Setelah melepas pakaian
tidurku, aku segera berdiri di bawah pancuran shower dan mulai membersihkan seluruh tubuhku.
Terutama rambutku. Teresa sering mengomeliku tentang rambutku yang mulai kusut dan tidak
terawat. Yang benar saja, aku tidak punya waktu untuk keramas, apalagi tugasku bertambah
banyak.

Tapi, menentang Teresa, itu artinya hukuman tambahan menerjemahkan 50 puisi bahasa
Jerman yang belum sempat kupelajari lantaran tugas Master menumpuk. Jadi, mau tidak mau aku
harus menurutinya.

Sudah 20 menit aku di kamar mandi. Pintu kamar mandi tiba-tiba diketuk. Suara Teresa
terdengar diluar.

―Apa Nona sudah selesai?‖ tanyanya, ―Gaun Anda akan menangis jika Anda tidak cepat-
cepat memakainya.‖
―Bisakah kau tidak menyinggung soal gaun sebentar saja?‖ kataku dengan nada lesu, ―Aku
tidak ingin mendengar tentang gaun dulu selama aku di dalam sini.‖

Kudengar Teresa tertawa geli, kemudian langkah kakinya sedikit menjauh dari kamar
mandi.

Aku menghela nafas. Aku paling benci memakai gaun. Membuatku tidak bebas bergerak.
Kenapa, sih, wanita harus memakai gaun? Kenapa tidak pakai celana saja? Atau rok yang agak
lebar, jadi tidak terlalu membuat susah bergerak.

Aku mematikan shower dan mengeringkan tubuhku dengan handuk. Walau aku adalah
seorang ―Nona‖, aku sudah terbiasa hidup sendiri sebelum bertemu Cloud dan Teresa, ingat?

Kemudian aku mengambil baju handuk dan memakainya. Kuikatkan talinya agak kencang
karena tidak mau terkena hawa dingin dari udara AC di kamarku.

Aku lalu keluar. Kulihat Teresa sudah siap di depan cermin besar setinggi orang dewasa.

Aku berjalan pelan kearahnya dan membiarkannya melakukan tugasnya.

Beberapa menit kemudian, gaun biru itu sudah melekat di tubuhku. Gaun yang cantik,
memang. Tapi, tetap saja… aku benci gaun.

Teresa menyikat rambutku dan membiarkannya tergerai. Dia lalu memoles wajahku
dengan bedak dan mewarnai bibirku dengan pelembab bibir berwarna pink. Dia juga tidak lupa
memakaikan cincin pemberian Darren di jari manis kananku. Juga cincin ibuku di jari telunjuk
tangan kiriku.

Lagi-lagi pikiranku kembali tertuju pada Darren. Aku berusaha menahan perasaan untuk
menangis. Setiap kali aku teringat Darren, aku selalu menangis karena tidak bisa
menyelamatkannya.

―Nona?‖

Aku mengerjapkan mata dan menoleh kearah Teresa yang menatapku dengan kening
berkerut.
―Ya?‖

―Apa Anda memikirkan Tuan Darren lagi?‖ tanyanya.

Aku menggeleng pelan.

Teresa berdiri dan kemudian merangkulku, ―Saya yakin, Tuan Darren senang Anda
bahagia dan tersenyum. Bukankah itu yang diinginkan Tuan Darren dari Anda?‖ katanya.

―Memang.‖ Ujarku sambil menatap pantulan diriku di cermin, ―Tapi, aku selalu merasa
bersalah karena tidak dapat menolongnya, tunanganku sendiri.‖

Teresa mengelus rambutku, ―Semua sudah terjadi dan tidak bisa kembali lagi.‖

Aku mengangguk.

Teresa lalu melanjutkan pekerjaannya dan menyematkan bunga mawar putih abadi
pemberian Death Rebel di telinga kananku. Dia lalu memakaikan bando berhiaskan berlian dan
bunga mawar di rambutku. Mata kananku yang menjadi tempat tanda kontrakku dengan Teresa
dan Cloud sedikit tertutupi oleh poni rambutku.

―Anda cantik sekali.‖ Puji Teresa melihat pantulan diriku di cermin.

Aku tidak menjawab dan hanya tersenyum muram.

Teresa lalu memakaikan sepatu hak tinggi berwarna putih di kedua kakiku. Dia juga
mengecat kuku tangan dan kakiku dengan kuteks berwarna biru bening. Dengan satu kali tiup,
kuteks itu langsung mengering.

Pintu kamar tiba-tiba diketuk.

―Masuk.‖

Cloud masuk ke dalam dan tersenyum padaku, ―Pesta sudah siap, Nona. Mari berangkat.‖

―Begitukah?‖

Aku berdiri dan menerima uluran tangan Cloud dan segera menuju aula rumah yang
dijadikan tempat pesta berlangsung.
EPILOG

―Terima kasih kalian semua sudah mau hadir di pesta ini. Saya tahu saya masih pemula untuk hal
seperti pesta pergaulan seperti ini, tapi, dengan bimbingan dari kalian semua, saya harap saya dapat
belajar banyak dari kalian semua.‖

Tepuk tangan membahana ketika aku menyelesaikan pidatoku di depan para tamuku. Aku
lalu berjalan kearah para tamu dan berbincang-bincang dengan mereka sebentar. Beberapa kali
aku tertawa pelan dan menyahut gurauan mereka, demi menjaga kesopanan. Aku bahkan
menanggapi lelucon dari Ronald Howard, si roh penjaga pohon yang menjadi tempat
bersemayamnya Azalea Sword.

Dan, akhirnya aku bisa bebas sebentar setelah menolak dengan sopan ajakan mereka
untuk minum bir. Aku masih tahu diri karena aku masih belum cukup umur untuk minum bir.
Lagipula, penyakit lemah jantung dan asma-ku bisa kambuh kalau aku minum minuman seperti
itu.

Aku duduk di kursi di dekat jendela besar yang menghadap taman besar. Aku
menghembuskan nafas dan merapikan letak bunga mawar yang ada di rambutku.

―Silakan, Nona.‖

Aku menoleh kearah Cloud yang menyodorkan nampan berisi segelas anggur tanpa
alkohol.

―Terima kasih.‖ Aku mengambil gelas itu dan menyesapnya sedikit. Kemudian kembali
menoleh kearah luar jendela.

―Anda sedang menunggu seseorang, Nona?‖ tanya Cloud, ―Apa Tuan Christ?‖

―Bukan.‖ Aku menggeleng. Christ adalah teman baik Darren. Dia juga seorang Gamer,
tepatnya si nomor 12. Saat tahu aku mengadakan pesta untuk mengumumkan diriku secara resmi
sebagai pewaris sah, dia juga datang dan mengucapkan selamat serta turut berduka cita atas
meninggalnya Darren.
Christ ternyata adalah orang yang pandai menghibur seseorang. Hanya dalam waktu
beberapa detik, aku bisa langsung akrab dengannya dan dia menjadi teman baikku selain Eliza.
Dia juga kuundang. Karena baik di dunia nyata dan dunia parallel, berita tentangku sebagai Putri
Kegelapan sudah tersebar kemana-mana. Jadi, aku tidak bisa lagi berbohong pada temanku yang
satu itu. Untung saja dia mengerti dan tetap mau berteman baik denganku. Malah, dia sering
mewanti-wantiku untuk lebih memperhatikan penampilanku (terutama masalah rambut, yang
menurutnya adalah mahkota bagi setiap wanita).

―Bukan Christ yang kutunggu.‖ Kataku.

―Lalu, apa Anda menunggu Regald?‖ tanya Cloud lagi.

―Apa ada kabar darinya? Apa dia tidak memberikan kabar padamu atau Teresa?‖

―Tidak, Nona.‖ Cloud menggeleng. Terlihat dari pantulan bayangan di jendela. ―Belum
ada kabar dari Regald.‖

―Begitu…‖ aku menghembuskan nafas dan menyesap minumanku lagi, ―Mau bagaimana
lagi kalau dia belum memberikan kabar.‖

―Sebenarnya,‖

―Apa?‖ aku menoleh kearahnya dan melihat sebuah benda di atas nampan yang
dibawanya.

Sebuah amplop putih.

―Apa ini?‖ aku mengambil amplop itu dan membukanya. Isinya hanya sebuah kertas biasa.
Aku lalu membukanya dan membaca apa yang tertera di kertas itu. Seingatku, amplop ini tidak
ada di atas nampan sebelumnya.

―Itu dari Regald.‖ Kata Cloud, ―Baru saja sampai.‖

Aku mendongak tidak percaya dan kemudian membaca dengan teliti surat itu.

Sebentar lagi saya akan datang.

Hanya kalimat itu yang tertera.


―Kau bilang ini baru sampai? Tapi—‖

Baru saja aku akan mengucapkan pertanyaan, tiba-tiba kerumunan tamu terkuak seperti
membukakan jalan pada seseorang.

Seorang berpakaian serba hitam dan memakai topi hitam berjalan kearahku. Wajahnya
tidak kelihatan karena topinya menutupi wajahnya.

Siapa dia?

Aku berdiri dan menunggu orang itu berdiri di hadapanku. Dan ketika orang itu sudah
sampai, dia tiba-tiba berlutut. Aku mengerutkan kening melihat sikap orang itu. Sebelum aku
sempat mengatakan sesuatu, orang itu mengambil dan mencium punggung tangan kananku.

―Anu…‖

―Maaf, Saya terlambat menghadiri pesta ini.‖ orang itu melepas topinya, dan kini aku bisa
melihat wajahnya dengan jelas. Dia Regald.

―Regald!?‖

Seruan tidak percaya dan bisik-bisik terdengar di antara para tamu. Mereka juga tidak
menyangka Regald datang. Karena setiap kali undangan yang dikirimkan kepadanya selalu
kembali, orang-orang mengira kalau Regald sudah mati atau bahkan pergi dari komunitas Monsta
dan The Fantasy Area.

Tapi, ternyata dia datang. Sungguh hal yang tidak terduga.

―Darimana saja kau?‖ tanyaku, ―Ah, berdirilah.‖

Regald berdiri dan aku harus mendongak agar bisa menatap wajahnya.

―Maafkan saya karena terlambat datang ke pesta dan tidak menjawab surat Anda.‖ Katanya
dengan nada minta maaf, ―Saya masih mengurus tubuh Tuan Darren. Agak lama karena salah satu
keinginannya belum terkabul.‖

―Apa?‖

―Nona, keinginan Tuan Darren yang terakhir adalah…‖


―… Tuan Darren ingin saya mengabdi pada Anda sebagai pelayan setia Anda.‖

―Apa!!?‖

Semua orang juga terkejut. Tapi, sepertinya Cloud dan Teresa (yang tahu-tahu sudah
berdiri di sebelah Cloud) tidak. Mereka hanya tersenyum ketika aku menoleh kearah mereka
dengan pandangan bingung.

―Apa maksudnya Darren ingin kau jadi pelayanku?‖ tanyaku.

―Sewaktu mengikat kontrak dengan saya, Tuan Darren meminta tiga permintaan.
Melindunginya, membantunya, dan mengabulkan semua keinginannya. Dan keinginan yang ingin
Tuan Darren minta dari saya adalah menjadi pelayan Anda.‖

―Tapi… tapi, itu…‖

―Saya bersedia menjadi pelayan Anda, Putri Kegelapan. Akan menjadi suatu kehormatan
jika saya bisa melayani Anda dan mempertaruhkan nyawa untuk Anda demi keinginan tuan saya.‖
Kata Regald.

―Errr…‖

Aku menoleh kearah Teresa dan Cloud lagi. Mereka mengangguk.

Terimalah, Nona. Saya yakin, Tuan Darren memang mengatakan demikian. Kata Teresa
tanpa suara sambil tersenyum.

Aku menoleh kearah Regald lagi. Kemudian menghela nafas, ―Baiklah. Aku akan
menerimamu sebagai pelayanku.‖ Kataku tersenyum padanya.

―Saya berjanji pada Anda, Tuan Putri Kegelapan. Saya akan menjaga Anda seperti saya
menjaga tuan terdahulu saya.‖ Dia mengatakan itu sambil membungkuk sekali lagi.

Tepuk tangan kembali terdengar, dan aku baru sadar kalau ini semua dilihat oleh para
tamu. Aku hanya tersenyum pada mereka semua dan kemudian menyuruh Regald berdiri.
Tapi, baru saja aku kira semua sudah kembali tenang dan damai, seorang Gamer masuk ke
aula dengan tergesa-gesa. Tubuhnya penuh dengan tanah dan ada sedikit bercak darah di
wajahnya.

―Ada penyerangan di sayap kanan mansion! Ada satu pasukan Gamer palsu datang
kemari!‖

Secepat kilat aku berlari keluar aula dan berhenti di pintu utama. Benar. Dari kejauhan ada
sekitar 200 orang Gamer dan Monsta yang sedang menuju kemari.

Para tamu berdiri di belakangku. Monsta mereka siap bersama dengan senjata mereka.
Tahu bahwa ada musuh di depan sana.

Teresa dan Cloud berdiri di sisi kiri dan kananku.

―Bagaimana, Nona? Apakah kali ini Anda ingin bersenang-senang?‖ bisik Cloud di
telingaku.

Aku hanya tersenyum, ―Sudah jelas, bukan?‖ ujarku.

Aku melepas bando di kepalaku, ―Kita akan menghabisi mereka.‖

―Yes, My Lady.‖

Aku menjentikkan jariku dan Azalea sword muncul di udara di sampingku. Aku
memegangnya erat dan merasakan dengungan yang sama seperti yang kurasakan pertama kali dari
pedang itu. Entah sejak kapan, pedang inilah yang selalu muncul setiap kali aku memanggil
senjataku. Bloody Rose tidak lagi menjadi senjataku. Senjata sabit raksasaku itu kini tersimpan rapi
di lemari besi penyimpananku.

Aku mengayunkan Azalea Sword dan menunjuk kearah pasukan itu.

―Jangan beri ampun pada mereka semua.‖ Kataku. Mata kananku terasa membakar,
―Sebagian besar dari mereka semua adalah Gamer asli dan pemberontak.‖

―Baik.‖

―Regald, Teresa, kalian pergi duluan.‖


―Baik, Nona.‖

Regald dan Teresa berlari bersamaan kearah pasukan itu diiringi dengan para Gamer lain
bersama Monsta mereka.

Cloud lalu menggendongku, ―Anda siap, Nona?‖ tanyanya.

―Tentu saja.‖ kataku, ―Habisi saja para pemberontak. Aku tidak mau ada peraturan tidak
adil yang dibuat Alicia Blonde masih ada di The Fantasy Area.‖

―Baik.‖

―Game, start!!‖

Bunyi dentang bel yang sering kudengar setiap kali permainan The Fantasy Area dimulai
bergema di udara dan dunia parallel mulai memasuki daerah ini hingga menutupi cahaya bulan
yang bersinar terang. Dalam satu detik, tempat ini sudah menjadi arena pertarungan.

―Ayo, Cloud.‖

―Sesuai perintah Anda.‖

Cloud berlari kearah pasukan itu dan aku bersiap-siap menebas Monsta yang mencoba
menyerangku.

Pertarunganku kembali dimulai.

END OF STORY