Anda di halaman 1dari 4

1.

Para Pihak :

Pemohon :

Pemohon I : Oei Keng Hien

Pemohon II : Troy Haryanto

Termohon :

Termohon I : CV. DELIMA

Termohon II : Gunawan Alie

Turut Termohon : Ang Fanny Angellia (istri termohon II)

2. Alasan Permohonan :

a. Termohon mempunyai pinjaman kepada :

a) Pemohon I sebesar Rp. 924.501.000,- (telah jatuh tempo)

b) Pemohon II sebesar Rp. 1.500.000.000,- (telah jatuh tempo)

c) Kreditur lainnya sebesar Rp. 11.789.054.000,-

b. Pada tanggal jatuh tempo Pemohon tidak dapat mencairkan dana-dana dalam

rekening Bilyet Giro yang dikeluarkan oleh Termohon.

c. Karena Bilyet Giro yang tidak dapat dicairkan oleh para Pemohon artinya tidak

dipenuhinya kewajiban utang Termohon kepada para Pemohon, yang mengakibatkan

kerugian yang nyata bagi para Pemohon.

3. Putusan Hakim

- Mengabulkan permohonan para Pemohon untuk seluruhnya.

- Menyatakan :

1) Gunawan Alie dan;


2) Ang Fanny Angelina alias Ang Fanny Angellia (suami istri), keduanya beralamat

di Jalan Darmo Permai Timur 1/17 Surabaya, serta;

3) CV. DELIMA, beralamat di Jl. Sidomulyo No. 06, Desa Buduran, Kecamatan

Buduran, Kabupaten Sidoharjo;

Pailit dengan segala akibat hukumnya.

- Megangkat Safitri Haryani, S,H., M.H., Kurator yang telah terdaftar pada

Departemen Hukum dan HAM RI, sebagai Kurator Kepailitan Gunawan Alie, Ang

Fanny Angelina alias Ang Fanny Angellia dan CV. DELIMA;

- Mengangkat dan menunjuk Dwi Djanuwanto, S.H., M.H., Hakim Pengadilan Niaga

pada Pengadilan Negeri Surabaya, sebagai Hakim Pengawas Kepailitan Gunawan

Alie, Ang Fanny Angelina alias Ang Fanny Angellia dan CV. DELIMA.

4. Dasar Putusan

1) Sesuai Pasal 18 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) yang menyatakan

bahwa “ Dalam Perseroan Firma, tiap-tiap persero bertanggung jawab secara

tanggung renteng untuk seluruhnya atas perikatan perseroannya”.

2) Pasal 2 ayat (1) Undang-Unang RI Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan

Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang;

“Debitor yang mempunyai dua taua lebih Kreditur dan tidak membayar lunas

sedikitny satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat di tagih, dinyatakan pailit

dengan putusan Pengadilan baik atas permohonannya sendiri maupun atas

permohonan satu atau lebih Krediturnya”;

3) Pasal 64 ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan

Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang bahwa :


“Kepailitan suami atau istri yang kawin dalam suatu persatuan harta, diperlakukan

sebagai kepailitan persatuan harta tersebut”.

5. Komentar / Pendapat ( tanggapan)

Dari kasus yang telah saya uraikan tersebut di atas, saya setuju dengan Putusan Hakim

tersebut. Dalam hal pernyataan pailit sesuai dengan Pasal 2 ayat (1) Undang-Unang RI

Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang;

“Debitor yang mempunyai dua taua lebih Kreditur dan tidak membayar lunas

sedikitny satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat di tagih, dinyatakan pailit

dengan putusan Pengadilan baik atas permohonannya sendiri maupun atas

permohonan satu atau lebih Krediturnya”;

Sehingga, hanya butuh 2 kreditur yang hutangnya telah jatuh tempo dan dapat ditagih.

Akibat hukum dari putusan tersebut adalah terjadi sitaan umum, kehilangan wewnang

dalam pengurusan harta kekayaan, dan dilakukannya pengurusan dan pemberesan yang

dilakukan oleh curator dan didampingi oleh hakim pengawas. sesuai dengan putuasn

hakim tersebut di atas tidak ada pemisahan harta antara termohon II dan turut termohon

(suami istri), yang mengakibatkan harta bersama ikut dipailitkan sesuai dengan Pasal 64

UU No 37 Tahun 2004 yaitu :

1) Kepailitan suami atau istri yang kawin dalam suatu persatuan harta, diperlakukan

sebagai kepailitan persatuan harta tersebut.

2) Dengan tidak mengurangi pengecualian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 maka

kepailitan tersebut meliputi semua benda yang termasuk dalam persatuan, sedangkan

kepailitan tersebut adalah untuk kepentingan semua Kreditor, yang berhak meminta

pembayaran dari harta persatuan.


3) Dalam hal suami istri yang dinyatakan pailit mempunyai benda yang tidak termasuk

persatuan harta maka benda tersebut termasuk harta peilit, akan tetapi hanya dapat

digunakan untuk membayar utang pribadi suami atau istri yang dinyatakan pailit.

Jadi, putusan hakim yang menyatakan Pailit termohon dan turut termohon sudah sesuai

dengan peraturan perundang-undangan.