Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Semakin maju suatu negara salah satunya ditandai dengan semakin
banyaknya orang yang berpendidikan tinggi, akan tetapi karena kemampuan
pemerintah dalam menyediakan lapangan kerja sangat terbatas dan tidak
sebanding dengan pertambahan penduduk maka akan semakin banyak orang yang
menganggur. Oleh karena itu dunia kewirausahaan dirasakan menjadi semakin
penting untuk diketahui lebih jauh lagi. Keberhasilan pembangunan yang dicapai
oleh negaranegara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang tidaklah lepas dari
peran dunia kewirausahaan. Menurut PBB suatu negara akan memiliki ekonomi
yang kuat apabila sedikitnya 20 % kegiatan ekonominya digerakkan oleh usaha
kecil hingga menengah. Sayangnya di Indonesia pandangan sebagian besar
masyarakat terhadap dunia wirausaha masih kurang mendukung. Banyak faktor
psikologis yang menyebabkan masyarakat kurang berminat untuk berwirausaha.
Banyak orang tua beranggapan “untuk apa sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya
hanya menjadi pedagang”. Mereka juga beranggapan menjadi pegawai khususnya
pegawai negeri lebih menjamin kehidupan dimasa datang daripada menjadi
wirausaha. Hal inilah yang menyebabkan lulusan perguruan tinggi kurang
termotivasi untuk terjun ke dunia usaha.
Kewirausahaan dalam keperawatan atau yang biasa disebut nursepreneur
terdiri dari dua kata yaitu nurse dan entrepreneur.Entrepreneur adalah seorang
individu yang memiliki kemampuan untuk menciptakan, mencari, dan
memanfaatkan peluang dalam menuju apa yang diinginkan sesuai dengan yang
diidealkan. Seorang entrepreneur adalah seorang individu yang mengasumsikan
tanggung jawab total dan risiko untuk menemukan atau membuat peluang
menggunakan bakat pribadi, ketrampilan dan energi, dan seseorang yang
mempekerjakan proses perencanaan strategis untuk mentransfer peluang tersebut
menjadi sebuah layanan yang bernilai atau produk (ICN, 2004). Nursepreneur
merupakan istilah baru dalam mempopulerkan entrepreneurship yang dikaitkan
dengan perawat atau dunia keperawatan. Seiring dengan gencarnya program

1
gerakan nasional kewirausahaan pada masyarakat luas, kalangan kampus adalah
salah satu sasarannya. Para calon intelektual yang tengah dalam studi pada
berbagai bidang ilmu berusaha dikenalkan pada dunia wirausaha. Hal ini
merupakan langkah usaha membekali wawasan dan pengetahuan dasar kepada
mereka agar kelak setelah meninggalkan kampus tidak selalu berorientasi pada
keinginan untuk menjadi pegawai atau karyawan, tapi justru menjadi pencipta
lapangan pekerjaan. Di beberapa kampus yang concern dalam program ini bahkan
sampai membentuk satu wadah resmi pusat pelatihan dan riset bisnis yang tidak
hanya ditujukan pada mahasiswa saja tapi untuk masyarakat luas. Khusus untuk
para mahasiswa ilmu keperawatan, maka istilah nursepreneur dipakai untuk
mengenalkan dan memberi pengetahuan dasar tentang kewirausahaan. Hal ini
diupayakan sebagai sebuah upaya lompatan pola berpikirmenanggulangi
pengangguran melalui dunia pendidikan. Lebih jauh lagi memang ditujukan agar
dapat membentuk jiwa-jiwa wirausaha baru yang dapat berkontribusi bagi
kesejahteraan masyarakat, di samping memiliki soft skill dan keterampilan yang
kompeten dalam bidang profesi keperawatan sesuai dengan disiplin studi yang
dijalani (Winarto, 2005).

1.2. Rumusan Masalah


1.2.1. Apa itu kewirausahaan dalam keperawatan?
1.2.2. Bagaimana Konsep Wirausaha di Bidang Penelitian ?
1.2.3. Bagaimana teknik perawatan luka dapat dijadikan peluang usaha
dalam keperawatan?
1.2.4. Bagaimana terapi modalitas dapat dijadikan peluang usaha dalam
keperawatan?

1.3. Tujuan
1.3.1. Untuk mengetahui kewirausahaan dalam keperawatan
1.3.2. Untuk mengetahui konsep wirausaha di bidang penelitian
1.3.3. Untuk memahami peluang usaha pada teknik perawatan luka
1.3.4. Untuk memahami peluang usaha pada terapi modalitas

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Kewirausahaan dalam Keperawatan


2.1.1. Pengertian Kewirausahaan
Nurse entrepreneur adalah seorang pemilik bisnis yang
menawarkan pelayanan keperawatan meliputi perawatan
lagsung,pendidikan, penelitian, administratif atau konsultasi. Perawat
yang bekerja secara mandiri atau perawat wirausaha bertanggung
jawab langsung kepada klien, kepada siapa, atau atas nama siapa,
pelayanan keperawatan yang disediakan (ICN, 2004).
Kewirausahaan dalam keperawatan akan baik untuk perawat
professional dan perusahaan pelayanan kesehatan, karena akan
menciptakan kemandirian dan termotivasi untuk berpikir, lebih
produktif,kreatif, dan lebih dapat bersaing dalam pemasarannya.
Mereka akan seperti perusahaan lainnya mempunyai keinginan yang
tinggi untuk mengontrol kariernya sendiri (ICN, 2004).

2.1.2. Jenis-Jenis Kewirausahaan


a. Bidang Pelayanan Keperawatan
1) Home care
Menurut Departemen Kesehatan (2002) menyebutkan bahwa
home care adalah pelayanan kesehatan yang berkesinambungan
dan komprehensif yang diberikan kepada individu dan keluarga di
tempat tinggal mereka yang bertujuan untuk meningkatkan,
mempertahankan atau memulihkan kesehatan atau
memaksimalkan tingkat kemandirian dan meminimalkan akibat
dari penyakit. Selain itu, home care merupakan pelayanan yang
dikelola oleh suatu unit atau sarana ataupun institusi baik aspek
administrasi maupun aspek pelayanan dengan mengkoordinir
berbagai kategori tenaga professional dibantu tenaga non
professional dibidang kesehatan maupun non kesehatan.

3
2) Konsultan Keperawatan
Konseling adalah proses membantu pasien untuk menyadari
dan mengatasi tekanan psikologis atau masalah sosial, untuk
membangun hubungan interpersonal yang baik,dan untuk
meningkatkan perkembangan seseorang dimana didalamnya
diberikan dukungan emosional dan intelektual.(Mubarak dan
Nur Chayatin, 2009).
3) Terapi Komplementer
Menurut WHO (World Health Organization),
pengobatan komplementer adalah pengobatan non-
konvensional yang bukan berasal dari negara yang
bersangkutan. Jadi untuk Indonesia, jamu misalnya, bukan
termasuk pengobatan komplementer tetapi merupakan
pengobatan tradisional. Pengobatan tradisional yang dimaksud
adalah pengobatan yang sudah dari zaman dahulu digunakan
dan diturunkan secara turun – temurun pada suatu negara. Tapi
di Philipina misalnya, jamu Indonesia bisa dikategorikan
sebagai pengobatan komplementer.Di Indonesia ada 3 jenis
teknik pengobatan komplementer yang telah ditetapkan oleh
Departemen Kesehatan untuk dapat diintegrasikan ke dalam
pelayanan konvensional, yaitu Akupunktur medik , Terapi
hiperbarik ,Terapi herbal medik,
4) Nursing Care Center
Nursing care center adalah lembaga keperawatan yang
memberikan akses langsung pada klien dalam pelayanan
keperawatan profesional yang berorientasi pada kebutuhan
masyarakat sesuai dengan masalah yang dihadapi masyarakat.
5) Pelayanan Fisioterapi
Fisioterapi adalah suatu cara atau bentuk pelayanan
kesehatan untuk mengembalikan fungsi organ tubuh dengan
memakai tenaga alam. Dalam fisioterapi, tenaga alam yang
dipakai antara lain listrik, sinar, air, panas, dingin, massage

4
dan latihan yang mana penggunaannya disesuaikan dengan
batas toleransi penderita sehingga didapatkan efek pengobatan
(Krausen, 1985).
6) Klinik Praktik Bersama
Perawat dapat berkolerasi dengan tenaga kesehatan lain
seperti dokter, apoteker, atau bidan dalam membuka klinik
praktik bersama sebagai kolega. Pada kolaborasi tersebut
terjadi proses komplek yang membutuhkan saling satu sama
lain dalam bersama-sama membangun bisnis di bidang
kesehatan.
b. Dalam Bidang penelitian
Banyaknya permasalahan dalam bidang kesehatan
terutama yang dihadapi oleh lembaga penyelenggara pelayanan
kesehatan juga membuka peluang usaha tersendiri bagi perawat.
Dengan membentuk tim riset profesional seperti:
1) Teknik perawatan luka.
2) Terapi modalitas.
c. Dalam Bidang Pendidikan
Semakin meningkatnya permintaan masyarakat tentang
layanan kesehatan dirumah dapat membuka peluang perawat
untuk mendirikan lembaga pelatihan ataupun konsultan yang
bergerak dibidang pendidikan seperti:
1) Lembaga Pelatihan Baby Sister.
2) Pelatihan Perawatan Lansia atau Anak.

2.2. Konsep Wirausaha di Bidang Penelitian


Penelitian/riset pada umumnya sering diasosiasikan dengan lembaga
pendidikan karena riset yang bergerak di pendidikan atau kesehatan banyak
dilakukan oleh dunia pendidikan. Selain itu, banyaknya permasalahan dalam
bidang kesehatan terutama yang dihadapi oleh lembaga penyelenggara
pelayanan kesehatan juga membuka peluang usaha tersendiri bagi perawat.

5
Oleh karena itu, perawat yang senang mengembangkan dan memiliki
relasi yang terjun di dunia penelitian, tidak ada salahnya mencoba menekuni
area cakupan bidang usaha ini, seperti membentuk tim riset profesional terkait
permasalahan kesehatan pada umumnya dan keperawatan pada khususnya,
atau sebagai jasa pengolah data dan promosi suatu produk. Berikut ini 3 hal
yang harus diperhatikan dalam mengembangkan lahan bisnis ini antara lain:
a. Pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan
1. Metodologi riset yang sudah baku
2. Ruang lingkup bidang yang menjadi sasaran riset
3. Program aplikasi pengolahan data riset.
4. Kemampuan untuk berkoordinasi dan bekerjasama dengan ahli di
bidang riset dan lainnya
b. Modal yang diperlukan
1. Ruangan yang nyaman untuk pertemuan, diskusi kelompok (metode
kualitatif), dan kerja
2. Komputer untuk mengolah data dan pekerjaan administratif
3. Biaya operasional untuk lisrik, telepon, alat tulis kantor, dan karyawan
c. Kiat menjalankan usaha
1. Rancang bidang riset yang akan ditawarkan. Pemilihan bidang
sebaiknya harus sesuai dengan kemampuan SDM yang kitamiliki,
sebab lahan bisnis ini merupakan pekerjaan inteletual. Misalnya,
perusahaan kita memutuskan bergerak di riset kualitatif atau
kuantitatif atau keduanya.
2. Kerja sama dengan ahli riset, baik sebagai karyawan atau joint
venture untuk menjalankan usaha ini.
3. Rekrut orang-orang yang mempunyai kompetensi di bidangnya,
misalnya pengolah data (riset kuantitatif) dan ahli interview (riset
kualitatif).
4. Lengkapi peralatan kantor, misalnya meja bundar untuk diskusi panel
dan komputer dengan program pengolahan data.
5. Pasarkan usaha ke perusahaan-perusahaan yang tidak memiliki divisi
riset khusus.

6
2.3. Teknik Perawatan Luka
Pada saat ini, perawatan luka telah mengalami perkembangan yang
sangat pesat terutama dalam dua dekade terakhir ini. Teknologi dalam bidang
kesehatan juga memberikan kontribusi yang sangat besar untuk menunjang
praktik perawatan luka. Penyakit degeneratif dan kelainan metabolik semakin
banyak ditemukan, sehingga perawat dituntut untuk berinovasi dan kreatif
dalam menggunakan peluang tersebut. Selain itu yang harus dipahami adalah
berkaitan dengan cost effectiveness yang dikedepankan oleh manajemen
perawatan luka modern. Sehingga kedepannya, status kesehatan masyarakat
dapat meningkat dengan adanya usaha perawatan luka yang mudah dijangkau
oleh masyarakat.
2.3.1. Tujuan
Tujuan apabila usaha mandiri perawatan luka dilaksanakan:
1. Meningkatkan pelayanan kesehatan di bidang perawatan luka
dengan tenaga professional
2. Mengurangi resiko terjadinya komplikasi akibat kurangnya
pengetahuan masyarakat dalam perawatan luka.
3. Meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam perawatan luka di
rumah
4. Menerapkan ilmu pengetahuan dalam bidang kesehatan.
5. Menciptakan lapangan pekerjaan khusunya untuk tenaga medis.
2.3.2. Manfaat
Dapat memberikan pelayanan perawatan luka yang optimal dalam
pencegahan komplikasi yang mungkin saja terjadi, untuk
meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat serta dapat menambah
wawasan bagi masyarakat dalam melakukan perawatan luka secara
mandiri di rumah
2.3.3. Dampak Usaha
1. Ekonomi: Meningkatkan pendapatan tenaga keperawatan dan
masyarakat yang ekonominya menengah ke bawah mampu
memberikan perawatan luka bagi keluarganya

7
2. Sosial: Kesadaran kesehatan masyarakat akan pentingnya
perawatan pada luka mereka menjadi tinggi
3. Budaya: Usaha ini akan memberikan pengaruh kebudayaan atau
kebiasaan seorang jika mengalami luka untuk segera mendapatkan
penanganan atau perawatan.
2.3.4. Contoh Jasa yang Ditawarkan
1. Perawatan luka : kegiatan ini akan dilakukan oleh perawat yang
berkompeten dengan menggunakan prinsip perawatan luka yang
benar dan sesuai perkembangan ilmu pengetahuan. Sebagai contoh:
Perawatan luka bersih, luka kotor dan luka gangren.
2. Layanan kunjungan rumah : bagi klien yang tidak dapat datang ke
rumah perawatan luka dan menginginkan perawatan luka dirumah
maka dapat memesan melalui aplikasi online atau media sosial
yang akan kami validasi melalui telfon.
3. Konsultasi perawatan luka : bagi klien atau keluarga klien yang
menginginkan penjelasan lebih lanjut mengenai perawatan luka
pada klien maka dapat melakukan konsultasi. Hal-hal yang kurang
jelas dapat dikonsulkan dengan perawat yang melakukan tindakan.

2.4. Terapi Modalitas


Terapi modalitas berasal dari kata modality yang berarti modal,
kekuatan, atau potensi. Terapi modalitas menurut Perko dan Kreigh (1998)
merupakan suatu tindakan terapi dimana memiliki pendekatan tertentu baik
secara langsung dan fasilitatif sesuai dengan teoir dan kiat terapis dengan
menjadikan kekuatan klien sebagai modal utama untuk berubah (Susana S.A.
et al., 2007). Terapi modalitas ini juga dikenal sebagai upaya alternatif terapi
yang digunakan untuk menyembukan klien dengan gangguan jiwa. Akan
tetapi seiring perkembangan ilmu dan teknologi di kesehatan, terapi ini
banyak juga dilakukan untuk terapi alternatif pada klien dengan gangguan
fisik serta banyak digunakan dalam berbagai penelitian-penelitian.
Terapi modalitas saat ini yang berkembang mencakup terapi
psikofarmakologi, terapi perubahan perilaku dan kognitif, terapi manajemen

8
agresi, terapi somatik, terapi komplementer dan alternatif, terapi kelompok
terapeutik, dan terapi keluarga (Videbeck S.L, 2008; Fontaine K.L, 2009;
Stuart, 2013; Halter M.J, Pollard C.L, Ray S.L., Haase M, 2014; Stuart G.W.,
Keliat B.A & Pasaribu J., 2016)

2.4.1. Terapi perilaku kognitif


Terapi perilaku kognitif atau yang dikenal dengan Cognitive
Behavioural Therapy (CBT) merupakan salah satu terapi yang
digunakan untuk mengatasi masalah kesehatan teruatama pada mental
dalam jangkauan yang lebih luas, misalnya saja seperti fobia, depresi,
OCD, dan masih banyak lainnya. Teori ini memang lebih
memfokuskan pada pasien agar dapat melihat diri anda sendiri dari
sudut pandang yang berbeda dibandingkan sebelumnya. Teori ini
memang cukup efektif untuk mengatasi gangguan mental yang sehari
hari terjadi dan membuatnya lebih baik dibandingkan sebelumnya.
Pada terapi perilaku kognitif, ada dua aspek yang akan
ditawarkan kepada pasien yaitu aspek kognitif dan aspek behavioral.
Tentunya kedua hal ini memiliki tujuan yang berbeda, namun intinya
adalah untuk membuat pasien menjadi lebih baik dari sebelumnya.
1. Aspek Kognitif
Dalam aspek kognitif ini, akan lebih ditekankan pada bagaimana
pasien dapat memiliki pola pemikiran yang berbeda. Tak hanya
pada pola pikir saja, namun juga pada sikap, imajinasi, serta
asumsi yang berbeda. Pasien juga diharapkan untuk mampu
memfasilitasi diri dalam hal belajar untuk mengetahui kesalahan
kesalahan dalam aspek kognitif sehingga membuat pasien dapat
memperbaiki kesalahannya tersebut.
2. Aspek Behavioral
Aspek behavioral dalam terapi perilaku kognitif akan menjadi
sebuah jembatan untuk pasien yang digunakan untuk mengubah
hubungan yang sudah menjadi kebiasaan yang salah dalam
memperlihatkan reaksi permaslaahan dengan realita yang ada

9
dari kondisi tersebut. Pasien juga akan dibimbing untuk belajar
mengubah tingkah lakunya sendiri agar menjadi lebih positif
dari sebelumnya. Terapi ini dapat menjadikan pasien menjadi
lebih tenang serta mampu mengendalikan tubuh serta
pemikirannya sendiri. Sehingga lebih mudah untuk menghindari
resiko stress karena pasien akan mampu berpikir secara realistis.
2.4.2. Terapi komplementer dan alternatif
Terapi komplementer dan alternative atau Complementary and
alternative medicine (CAM) merupakan salah satu terapi yang saat ini
banyak diminati oleh masyarakat. Terapi komplementer dan alternatif
(CAM) menurut The National Center for Complementary and
alternative Medicine (NCCAM) di AS adalah suatu pengobatan secara
integratif sebagai sebagai upaya menggabungan terapi medis utama
dan terapi
The National Center for Complementary and Alternative
Medicine (NCCAM) dalam Stuart G.W., Keliat B.A, Pasaribu J.,
(2016) di AS telah mengembangkan sistem klasifikasi lima domain
utama terapi komplementer dan alternatif seperti berikut:
1. Sistem Medikal Keseluruhan, contoh terapi Ayurveda,
naturopati, pengobatan tradisional cina, homeopati.
2. Tindakan pikiran-tubuh, contoh meditasi, hipnotis, doa,
yoga, petunjuk gambar, biofeedback, seni, music dan terapi
dansa.
3. Terapi biologis, contoh terapi herbal, diet khusus,
orthomolecular dan terapi biologis individu
4. Metode manipulative tubuh, contoh chiropractic, pijat dan kerja
tubuh, refleksologi.
5. Terapi Energi, contoh Qigong, Reiki, terapi sentuhan,
elektromagnet

10
2.4.3. Hipnoterapi
Terapi hipnotis atau Hipnoterapi adalah salah satu terapi yang
dapat merelaksasikan pikiran dan perasaan dalam membantu klien
mengatasi permasalahan yang dialaminya seperti nyeri, stress,
cemas maupun depresi. Hipnoterapi berfokus pada relaksasi yang
dalam, konsentrasi yang tinggi serta adanya sugesti yang tinggi. Hal
ini tentu saja menuntut perawat memiliki kemampuan dan keahlian
khusus untuk dapat melakukannya. Salah satu teknik hipnoterapi yang
dapat dilakukan dan mudah dilakukan oleh perawat maupun klien
adalah hipnotis 5 jari.

2.4.4. Terapi Relaksasi Otot Progresif


Terapi Relaksasi Otot Progresif merupakan terapi yang
menggabungkan tindakan pikiran dan tubuh dimana terapi itu
dilakukan dengan proses mengencangkan dan merelaksasikan
sekelompok otot untuk mendapatkan kontrol atas masalah yang
diatasinya yang dapat merangsang pikiran dan ketegangan otot. Terapi
ini juga menerapkan tehnik imajinasi terpimpin, latihan napas
berulang, latihan autogenenik dan biofeedback.

2.4.5. Terapi Kelompok Terapeutik


Terapi kelompok adalah bentuk terapi kepada klien yang
dibentuk dalam kelompok, suatu pendekatan perubahan perilaku
melalui media kelompok. Dalam terapi kelompok perawat berinteraksi
dengan sekelompok klien secara teratur. Tujuannya adalah
meningkatkan kesadaran diri klien, meningkatkan hubungan
interpersonal, dan mengubah perilaku maladaptif. Tahapannya
meliputi: tahap permulaan, fase kerja, diakhiri tahap terminasi. Peran
perawat adalah mendorong anggota kelompok untuk saling memberi
umpan balik, dukungan, serta bertoleransi terhadap setiap perbedaan
yang ada. Akhir dari terapi kelompok adalah mendorong agar anggota

11
kelompok berani dan mampu menyelesaikan masalah yang mungkin
terjadi di masa mendatang.

2.4.6. Terapi keluarga


Terapi keluarga adalah terapi yang diberikan kepada seluruh
anggota keluarga sebagai unit penanganan (treatment unit). Tujuan
terapi keluarga adalah agar keluarga mampu melaksanakan fungsinya.
Untuk itu sasaran utama terapi jenis ini adalah keluarga yang
mengalami disfungsi; tidak bisa melaksanakan fungsi-fungsi yang
dituntut oleh anggotanya. Proses terapi keluarga meliputi tiga tahapan
yaitu fase 1 (perjanjian), fase 2 (kerja), fase 3 (terminasi). Di fase
pertama perawat dan klien mengembangkan hubungan saling percaya,
isu-isu keluarga diidentifikasi, dan tujuan terapi ditetapkan bersama.
Kegiatan di fase kedua atau fase kerja adalah keluarga dengan dibantu
oleh perawat sebagai terapis berusaha mengubah pola interaksi di
antara anggota keluarga, meningkatkan kompetensi masing-masing
individual anggota keluarga, eksplorasi batasan-batasan dalam
keluarga, peraturan-peraturan yang selama ini ada. Terapi keluarga
diakhiri di fase terminasi di mana keluarga akan melihat lagi proses
yang selama ini dijalani untuk mencapai tujuan terapi, dan cara-cara
mengatasi isu yang timbul. Keluarga juga diharapkan dapat
mempertahankan perawatan yang berkesinambungan.

12
BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Kewirausahaan dalam keperawatan atau yang biasa disebut
nursepreneur terdiri dari dua kata yaitu nurse dan
entrepreneur.Entrepreneur adalah seorang individu yang memiliki
kemampuan untuk menciptakan, mencari, dan memanfaatkan peluang
dalam menuju apa yang diinginkan sesuai dengan yang diidealkan.
Seorang entrepreneur adalah seorang individu yang mengasumsikan
tanggung jawab total dan risiko untuk menemukan atau membuat peluang
menggunakan bakat pribadi, ketrampilan dan energi, dan seseorang yang
mempekerjakan proses perencanaan strategis untuk mentransfer peluang
tersebut menjadi sebuah layanan yang bernilai atau produk (ICN, 2004).
Penelitian/riset pada umumnya sering diasosiasikan dengan lembaga
pendidikan karena riset yang bergerak di pendidikan atau kesehatan
banyak dilakukan oleh dunia pendidikan. Selain itu, banyaknya
permasalahan dalam bidang kesehatan terutama yang dihadapi oleh
lembaga penyelenggara pelayanan kesehatan juga membuka peluang usaha
tersendiri bagi perawat.
Oleh karena itu, perawat yang senang mengembangkan dan memiliki
relasi yang terjun di dunia penelitian, tidak ada salahnya mencoba
menekuni area cakupan bidang usaha ini, seperti membentuk tim riset
profesional terkait permasalahan kesehatan pada umumnya dan
keperawatan pada khususnya, atau sebagai jasa pengolah data dan promosi
suatu produk.

3.2 Saran
Diharapkan bagi setiap mahasiswa khususnya di jurusan
keperawatan memahami makalah ini untuk menambah ilmu pengetahuan
dan menambah wawasan mengenai kewirausahaan dalam keperawatan
guna untuk meningkatkan mutu kualitas perawatan kedepannya.

13
DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, A. Aziz Alimul, Hidayat, Musrifatul, (2008), Keterampilan Dasar


Praktik Klinik, Salemba Medika, Jakarta.
AmbarwatiA, E R , Sunarsih,T, (2011), KDPK Kebidanan Teori & Aplikasi, Nuha
Medika, Yogyakarta.
http://wound heeling.html
Astuti, Retna. 2017. Penggunaan Terapi Modalitas dan Komplementer Berbasis
Evidence-Based.
https://www.researchgate.net/publication/319929971_PENGGUNAAN_TE
RAPI_MODALITAS_DAN_KOMPLEMENTER_DALAM_PRAKTEK_K
EPERAWATAN_BERBASIS_EVIDENCE_BASED. Diakses 06
September 2018
Dosen Psikologi. 2017. Terapi Perilaku Kognitif.
https://dosenpsikologi.com/terapi-perilaku-kognitif. Diakses pada 06
September 2017
Febrian, Rio. 2015. Bidang-bidang Cakupan Usaha Nursepreneur.
https://www.kompasiana.com/riodeners/566779f793fdfd65048b456e/bidang
-bidang-cakupan-usaha-nursepreneur-bagian-1?page=all. Diakses pada 05
September 2017
Raka. 2016. Proposal Klinik Perawatan Luka.
https://www.scribd.com/document/332655594/Proposal-Klinik-Perawatan-
Luka#. Diakses pada 05 September 2018
Sumber Pengertian. 2018. Pengertian Kewirausahaan Menurut Para Ahli.
http://www.sumberpengertian.co/pengertian-kewirausahaan. Diakses pada
05 September 2018.
Sundberg, D, Winebarger, A, Taplin, J. 2007. Psikologi Klinis. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar
Wida, Musthika, dkk. 2016. Kewirausahaan. https://docuri.com/download/nurse-
preneur_59bf3908f581716e46c3ae51_pdf. Diakses pada 05 September 2016

14