Anda di halaman 1dari 20

BAB 1

LAPORAN PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Kanker paru adalah adalah tumor yang berasal dari saluran napas atau
epitel bronkus yang ditandai dengan pertumbuhan sel yang tidak normal tidak
terbatas dan merusak sel-sel jaringan yang normal.Kanker paru merupakan
penyebab utama keganasan di dunia dan mencapai hingga 13% dari semua
diagnosis kanker.selain itu kanker paru juga menyebabkan 1/3 dari seluruh
kematian akibat kanker pada laki-laki (KemenkesRI 2016:1).

Kanker paru adalah salah satu penyebab utama kematian yang


menyebabkan 1,59 juta kematian pada tahun 2012. Jumlah ini di perkirakan akan
meningkat selama dekade berikutnya. Jika dokter anda hanya mengatakan kepada
anda bahwa anda memiliki kanker paru-paru. Anda harus mengetahui dasar-dasar
penting sebelum kewalahan dengan perubahan emosional dan fisik. Kanker paru-
paru ini dapat mempengaruhi pasien usia berapapun.Organisai Kesehatan
Dunia(WHO 2010)

Kanker paru adalah penyakit pertumbuhan jaringan yang tidak dapat


terkontrol pada jaringan paru. Munculnya kanker ditandai dengan pertumuhan sel
yang tidak normal, tidak terbatas dan merusak sel-sel jaringan yang normal.
Kanker paru merupakan penyakit kanker dengan penyebab kematian terbanyak di
dunia, Yaitu 1,61 juta kematian pertahun.(12,7%) kanker payudara yaitu mencapai
1.31 juta kematian pertahun,(10,9%), Dan kanker Kolorektal yaitu mencapai 1,23
juta kematian pertahun (9,7%) (Varalakshmi, 2013: 63). Di Indonesia kanker paru
menduduki peringkat ke tiga diantara kanker yang paling sering di temukan di
beberapa Rumah sakit (Metha Arsilita Hulma,dkk 2014:196).

Menurut data dari RS Kanker Dharmais pada tahun 2013, Kanker paru
menempati urutan ke tiga untuk angka kematian dan angka kasus baru
(Departemen Kesehatan Indonesia,2015). Data dari dinas provinsi jawa tengah
2008 di Indonesi terdapat kanker paru sebanyak 1278 (4.72%) kasus. Berdasarkan
studi pendahuluan yang di lakukan di RS Islam Surakarta. Pada tahun 2013 pasien
kanker paru sebesar 115 pasien rawat inap, Tahun 2014 sebesar 374 pasien rawat
inap, pada tahun 2015 sampai dengan Juni 2015 sebesar 148 pasien rawat inap.
Rata-rata usia pasien penderita kanker paru 40-65 tahun dan mayoritas pasien
berjenis kelamin laki-laki.

Pada tahun 2002 di RSU.H.Adam Malik Medan, penelitian Siagian P


melaporkan dari 38 kasus keganasan yang di temukan berdasarkan foto thoraks,
ada 24 kasus tumor terdapat di sentral (63,2%) dan sebanyak 14 kasus tumor di
perifer (36,8%) Dari 24 kasus tumor yang terdapat disentral, sebanyak 36.8%
adalah karsinoma sel skuamous dan sebanyak 21.1% adalah adenokarsinoma. Dari
14 kasus tumor yang terdapat di perifer, sebanyak 10.5% adalah karsinoma sel
skuamous dan sebanyak 36,3% adalah adenokarsinoma.

Pada Januari 2007-2010 terdata ada 210 pasien yang didiagnosis kanker paru
secara defenitif (sitologi/histopatologi) yang dirawat di RA3 RSUP H.Adam Malik
Medan.
Penelitian terbaru tahun 2011 oleh Kasuma dilaporkan bahwa dari 100 penderita
kanker paru yang telah dilakukan bronkoskopi di Instalasi Diagnostik Terpadu (IDT)
RSUP H.Adam Malik Medan, berdasarkan sitologi bronkus, adenokarsinoma
menempati urutan pertama sebanyak 45%, yang kedua adalah karsinoma sel
skuamous sebanyak 33%.

1.2 Rumusan Masalah


Rumusan permasalahan dalam pembuatan asuhan ini adalah “ “Bagaimanakah
Asuhan Keperawatan Pada Tn.R Dengan Ca paru di ruang RA4
RSUP.H.Adam Malik Medan.
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Mampu menerapkan asuhankeperawatan pada pasien Tn.R dengan Ca Paru
di RSUP H Adam Malik Medan.
1.3.2 Tujuan Khusus
a. Mampu melaksanakan pengkajian pada pasien Tn.R dengan Ca paru di
RSUP.H.Adam Malik Medan.
b. Mampu merumuskan diagnose keperawatan pada pasien Tn.R dengan
Ca paru di RSUP.H.Adam Malik Medan
c. Mampu menyusun intervensi keperawatan pada Tn.R dengan Ca Paru
di RSUP.H.Adam Malik Medan.
d. Mampu melakukan implementasi keperawatan pada Tn.R dengan Ca
Paru di RSUP.H.Adam Malik Medan.
e. Mampu melakukan evaluasi keperawatan pada Tn.R dengan Ca Paru di
RSUP.H.Adam Malik Medan
1.4 Manfaat Penulisan
1.4.1 Bagi Ilmu Pengetahuan
a. Menambah keragaman ilmu pengetahuan bagi dunia keperawatan
dalam merawat pasien dengan Ca Paru.
b. Menambah keilmuan baru yang dapat dijadikan pedoman untuk ilmu
selanjutya terutama berkaitan dengan pasien tersebut.
1.4.2 Bagi Mahasiswa
a. Meningkatkan pengetahuan mahasiswa dalam hal memberi asuhan
keperawatan pada pasien dengan Ca Paru
b. Menambah ketrampilan mahasiswa dalam menerapkan asuhan
keperawatan pada pasien dengan Ca Paru.
1.4.3 Bagi Lahan Praktek
a. Meningkatkan mutu pelayanan, baik secara kualitas maupun kuantitas
terutama pada pasien dengan Ca Paru.
b. Sebagai tambahan informasi untuk meningkatkan dan menerapkan
asuhan keperawatan sesuai standar serta memberi perubahan positif
bagi tenaga kesehatan khususnya dalam memberikan asuhan
keperawatan pada pasien dengan Ca Paru.
1.4.4 Bagi Institusi Pendidikan
a. Sebagai sumber kepustakaan bagi mahasiswa
b. Sebagai wacana ilmu keperawatan pada pasien dengan Ca Paru.
BAB 2
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Tinjauan teoritis medik

2.1.1 Defenisi

Kanker paru adalah adalah tumor yang berasal dari saluran napas atau
epitel bronkus yang ditandai dengan pertumbuhan sel yang tidak normal tidak
terbatas dan merusak sel-sel jaringan yang normal.Kanker paru merupakan
penyebab utama keganasan di dunia dan mencapai hingga 13% dari semua
diagnosis kanker.selain itu kanker paru juga menyebabkan 1/3 dari seluruh
kematian akibat kanker pada laki-laki (KemenkesRI 2016:1).

Kanker paru (karsinoma bronkogenik) merupakan tumor ganas paru-paru


primer dari saluran nafas (Hood Alsagaff,kanker paru dan terapi paliatif,hal
64).Paru-paru merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari
gelembung-gelembung (gelembung hawa=alveoli). Paru-paru terletak pada
rongga dada, datarannya menghadap ketengah rongga dada/cavum
mediastinum depan terletak jantung. Paru-paru dibungkus oleh selaput yang
bernama pleura.

Pleura dibagi menjadi 2 :

1. Pleura visceral (selaput dada pembngkus) yaitu selaput paru yang


langsung membungkus selaput paru-paru.
2. Pleura visceral yaitu selaput yang melapisi rongga dada sebelah luar.
Antara kedua pleura ini terdapat rongga (cavum) yang disebut cavum
plura.
Paru-paru dibagi menjadi dua buah yaitu kiri dan kanan.

 Paru-paru kanan terdiri dari 3 lobus :

1. Sebelah atas disebut lobus posterior, terdiri dari 3 segmen


2. Sebelah tengah disebut lobus medialis, terdiri dari 2 segmen
3. Sebelah bawah disebut lobus inferior, terdiri dari 5 segmen

 Paru-paru kiri terdiri dari 2 lobus :


1. Sebelah atas disebut lobus superior,terdiri dari 4 segmen
2. Sebelah bawah disebut lobus posterior,terdiri dari 4 segmen

 Paru-paru dibagi menjadi 3 bagian yaitu :

a. Chylus, yaitu bagian untuk masuk dan keluarnya arteridan vena


pulmonalis,tempat masuknya bronkus, tempat masukny kelenjar dan
saluran limpa.
b. Apex, yaitu bagian yang tertinggi dari paru-paru
c. Basis yaitu bagian yang terbawah dari paru-paru
Paru-paru kanan kedudukannya lebih gemuk dan lebih pendek sehingga paru-
paru kiri lebih kecil dan kurus karena sisi medianya terdesak oleh jantung.

2.1.2. Etiologi
Etiologi dari kanker paru masih belum diketahui, tetapi ada tiga faktor yang
tampaknya bertanggung jawab dalam terjadinya peningkatan insiden
penyakit ini: merokok, bahan industri, dan polusi udara.

 Klasifikasi :

Klasifikasi kanker paru (WHO) :

1. Karsinoma Epidermoid (Skuamosa)


2. Adenokarsinoma
3. Smeel cell/ oat cell
4. Large cell Karsinoma

2.1.3 Patofisiologi
Faktor predisposisi

Lesi central Ca paru-paru Lesi


perifer
 Obstruksi (sumbatan) Kompresi
 ulcerasi (luka) dan
Compliance Supresi infiltrasi
paru bag distal Terdiagnosa
Oesefagus
oleh medis Menembus
Hipoksemia
Disfagia cavum
Pengisian Akumulasi pleura
Anorexia
kapiler sekret
Ggn
Hipoksia Kurangnya
Nutrisi
pengetahuan
Clubing Dispneu
akan penyakit Efusi
finger
yang diderita pleura
Inefektif
Inefektif bersihan
Pola Nafas jalan
nafas
Timbulnya Ggn Rasa
Dispneu ansietas Nyaman

GGN PERTUKARAN (kecemasan) nyeri

GAS

INTOLERANSI

AKTIVITAS
GGN POLA TIDUR

2.1.4 Manifestasi Klinis


Secara umum dapat dibagi menjadi :
a. Gangguan pada saluran nafas menimbulkan gejala batuk, dipsnea ringan,
dan stredor lokal.
b. Nyeri
c. Anoreksia, lelah dan berkurangnya berat badan
d. Gejala penyebaran intratoraks atau ekstratoraks
e. Penyebaran lokal tumor ke struktur mediastinim
f. Disfagia
2.1.5 Komplikasi

Komplikasi pada penyakit kanker paru meliputi :

1. Hiperkalsemia : Peningkatan kadar kalsium dalam darah


2. Efusi Pleura : Adanya cairan dalam rongga dada
3. Pneumonia : Adanya udara / gas dalam rongga dada
4. Metastese Otak : Penyebaran kanker pada cel-cel otak
5. Kompresi Medula Spinalis : Penekanan pada medula spinalis

2.1.5 Pemeriksaan Diagnostik


1. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan laboratorium ditujukan untuk :
a. Menilai seberapa jauh kerusakan yang ditimbulkan oleh kanker paru.
Kerusakan pada paru dapat dinilai dengan pemeriksaan faal paru atau
pemeriksaan analisis gas.
b. Menilai seberapa jauh kerusakan yang ditimbulkan oleh kanker paru
pada organ-organ lainnya.

c. Menilai seberapa jauh kerusakan yang ditimbulkan oleh kanker paru


pada jaringan tubuh baik oleh karena tumor primernya maupun oleh
karena metastasis.

2. Radiologi
Pemeriksaan radiologi adalah pemeriksaan yang paling utama
dipergunakan untuk mendiagnosa kanker paru. Kanker paru memiliki
gambaran radiologi yang bervariasi. Pemeriksaan ini dilakukan untuk
menentukan keganasan tumor dengan melihat ukuran tumor, kelenjar
getah bening, dan metastasis ke organ lain.
Pemeriksaan radiologi dapat dilakukan dengan metode tomografi
komputer. Pada pemeriksaan tomografi komputer dapat dilihat hubungan
kanker paru dengan dinding toraks, bronkus, dan pembuluh darah secara
jelas. Keuntungan tomografi komputer tidak hanya memperlihatkan
bronkus, tetapi juga struktur di sekitar lesi serta invasi tumor ke dinding
toraks. Tomografi komputer juga mempunyai resolusi yang lebih tinggi,
dapat mendeteksi lesi kecil dan tumor yang tersembunyi oleh struktur
normal yang berdekatan.

3. Sitologi
Sitologi merupakan metode pemeriksaan kanker paru yang
mempunyai nilai diagnostik yang tinggi dengan komplikasi yang rendah.
Pemeriksaan dilakukan dengan mempelajari sel pada jaringan.
Pemeriksaan sitologi dapat menunjukkan gambaran perubahan sel, baik
pada stadium prakanker maupun kanker. Selain itu dapat juga
menunjukkan proses dan sebab peradangan.
Pemeriksaan sputum adalah salah satu teknik pemeriksaan yang
dipakai untuk mendapatkan bahan sitologik. Pemeriksaan sputum adalah
pemeriksaan yang paling sederhana dan murah untuk mendeteksi kanker
paru stadium preinvasif maupun invasif. Pemeriksaan ini akan memberi
hasil yang baik terutama untuk kanker paru yang letaknya sentral.
Pemeriksaan ini juga sering digunakan untuk skrining terhadap kanker
paru pada golongan risiko tinggi.

4. Bronkoskopi
Setiap pasien yang dicurigai menderita tumor bronkus merupakan
indikasi untuk bronkoskopi. Dengan menggunakan bronkoskop fiber
optik, perubahan mikroskopik mukosa bronkus dapat dilihat berupa nodul
atau gumpalan daging. Bronkoskopi akan lebih mudah dilakukan pada
tumor yang letaknya di sentral. Tumor yang letaknya di perifer sulit
dicapai oleh ujung bronkoskop.
5. Biopsi Transtorakal
Biopsi aspirasi jarum halus transtorakal banyak digunakan untuk
mendiagnosis tumor pada paru terutama yang terletak di perifer. Dalam hal
ini diperlukan peranan radiologi untuk menentukan ukuran dan letak, juga
menuntun jarum mencapai massa tumor. Penentuan letak tumor bertujuan
untuk memilih titik insersi jarum di dinding kulit toraks yang berdekatan
dengan tumor.
6. Torakoskopi
Torakoskopi adalah cara lain untuk mendapatkan bahan guna
pemeriksaan histopatologik untuk kanker paru. Torakoskopi adalah
pemeriksaan dengan alat torakoskop yang ditusukkan dari kulit dada ke
dalam rongga dada untuk melihat dan mengambil sebahagian jaringan
paru yang tampak.
Pengambilan jaringan dapat juga dilakukan secara langsung ke
dalam paru dengan menusukkan jarum yang lebih panjang dari jarum
suntik biasa kemudian dilakukan pengisapan jaringan tumor yang ada.

2.1.6 Penatalaksanaan
1. Pembedahan
Pembedahan pada kanker paru bertujuan untuk mengangkat tumor
secara total berikut kelenjar getah bening disekitarnya. Hal ini biasanya
dilakukan pada kanker paru yang tumbuh terbatas pada paru yaitu stadium
I (T1 N0 M0 atau T2 N0 M0), kecuali pada kanker paru jenis SCLC. Luas
reseksi atau pembedahan tergantung pada luasnya pertumbuhan tumor di
paru. Pembedahan dapat juga dilakukan pada stadium lanjut, akan tetapi
lebih bersifat paliatif. Pembedahan paliatif mereduksi tumor agar
radioterapi dan kemoterapi lebih efektif, dengan demikian kualitas hidup
penderita kanker paru dapat menjadi lebih baik.
Pembedahan untuk mengobati kanker paru dapat dilakukan dengan
cara :
a. Wedge Resection, yaitu melakukan pengangkatan bagian paru
yang berisi tumor, bersamaan dengan margin jaringan normal.
b. Lobectomy, yaitu pengangkatan keseluruhan lobus dari satu
paru.
c. Pneumonectomy, yaitu pengangkatan paru secara keseluruhan.
Hal ini dilakukan jika diperlukan dan jika pasien memang
sanggup bernafas dengan satu paru.

2. Radioterapi
Radioterapi dapat digunakan untuk tujuan pengobatan pada kanker
paru dengan tumor yang tumbuh terbatas pada paru. Radioterapi dapat
dilakukan pada NCLC stadium awal atau karena kondisi tertentu tidak
dapat dilakukan pembedahan, misalnya tumor terletak pada bronkus utama
sehingga teknik pembedahan sulit dilakukan dan keadaan umum pasien
tidak mendukung untuk dilakukan pembedahan.
Terapi radiasi dilakukan dengan menggunakan sinar X untuk
membunuh sel kanker. Pada beberapa kasus, radiasi diberikan dari luar
tubuh (eksternal). Tetapi ada juga radiasi yang diberikan secara internal
dengan cara meletakkan senyawa radioaktif di dalam jarum, dengan
menggunakan kateter dimasukkan ke dalam atau dekat paru-paru. Terapi
radiasi banyak dipergunakan sebagai kombinasi dengan pembedahan atau
kemoterapi.
3. Kemoterapi
Kemoterapi pada kanker paru merupakan terapi yang paling umum
diberikan pada SCLC atau pada kanker paru stadium lanjut yang telah
bermetastasis ke luar paru seperti otak, ginjal, dan hati. Kemoterapi dapat
digunakan untuk memperkecil sel kanker, memperlambat pertumbuhan,
dan mencegah penyebaran sel kanker ke organ lain. Kadang-kadang
kemoterapi diberikan sebagai kombinasi pada terapi pembedahan atau
radioterapi. Penatalaksanaan ini menggunakan obat-obatan (sitostatika)
untuk membunuh sel kanker. Kombinasi pengobatan ini biasanya
diberikan dalam satu seri pengobatan, dalam periode yang memakan
waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan agar kondisi tubuh
penderita dapat pulih (ASCO, 2010).
2.2 Tinjauan toeritis Keperawatan
2.2.1 Pengkajian
1. Data Subjektif:
Anamnesis
Anamnesis yang lengkap serta pemeriksaan fisik merupakan kunci untuk
diagnosis tepat. Keluhan dan gejala klinis permulaan merupakan tanda awal
penyakit kanker paru. Batuk disertai dahak yang banyak dan kadang-kadang
bercampur darah, sesak nafas dengan suara pernafasan nyaring (wheezing),
nyeri dada, lemah, berat badan menurun, dan anoreksia merupakan keadaan
yang mendukung. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan pada pasien
tersangka kanker paru adalah faktor usia, jenis kelamin, keniasaan merokok,
dan terpapar zat karsinogen yang dapat menyebabkan nodul soliter paru.

2. Data Objektif
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan ini dilakukan untuk menemukan kelainan-kelainan berupa
perubahan bentuk dinding toraks dan trakea, pembesaran kelenjar getah
bening dan tanda-tanda obstruksi parsial, infiltrat dan pleuritis dengan cairan
pleura.
2.2.2 Diagnosa Keperawatan
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d peningkatan jumlah secret paru.
2. Pola nafas tidak efektif b/d hiperventilasi.
3. Gangguan pertukaran gas b/d hipoventilasi.
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan : keterbatasan kognitif,
interpretasi terhadap informasi yang salah, kurangnya keinginan untuk
mencari informasi, tidak mengetahui sumber-sumber informasi.
5. Ansietas b/d perubahan status kesehatan.
2.2.3 Intervensi Keperawatan

PERENCANAAN KEPERAWATAN
NO DIAGNOSA TUJUAN & KRITERIA INTERVENSI (NIC)
HASIL (NOC)
1. Bersihan jalan NOC: NIC:
nafas tidak efektif Airway suction
- Respiratory status:
b/d peningkatan 1. Auskultasi suara
ventilation
jumlah secret paru - Respiratory status: airway nafas sebelum dan

patency sesudah suctioning


- Aspiration control 2. Informasikan pada
klien dan keluarga
tentang suctioning
Setelah dilakukan tindakan
3. Minta klien nafas
keperawatan 3x24 jam
dalam sebelum
diharapkan mampu
suction dilakukan
mempertahankan kebersihan 4. Berikan O2 dengan
jalan nafas dengan kriteria : menggunakan nasal
a. Mendemonstrasikan batuk untuk memfasilitasi
efektif dan suara nafas suction nasotrakeal
5. Anjurkan pasien
yang bersih, tidak ada
untuk istirahat dan
sianosis dan dyspneu
napas dalam setelah
(mampu mengeluarkan
kateter dikeluarkan
sputum, mampu bernapas
dari nasatrakeal
dengan mudah)
6. Ajarkan keluarga
b. Menunjukkan jalan nafas
bagaimana cara
yang paten (frekuensi
melakukan suction
pernafasan rentang 7. Hentikan suction
normal, tidak ada suara dan berikan oksigen
nafas abnormal) apabila pasien
c. Saturasi O2 dalam batas menunjukan
normal bradikardi,
peningkatan saturasi
O2,dll.
Airway management
1. Posisikan pasien
untuk
memaksimalkan
ventilsi
2. Identifikasi pasien
perlunya
pemasangan alat
jalan nafas buatan
3. Lakukan fisioterpi
dada jika perlu
4. Keluarkan sekret
dengan batuk atau
suction
5. Auskultasi suara
nafas, catat adanya
suara tambahan

2. Pola nafas tidak NOC: NIC:


efektif b/d Terapi oksigen
 Respiratory Status :
hiperventilasi 1. Bersihkan mulut,
Ventilation
hidung, dan seckret
 Vital Sign Status
trakea
2. Pertahankan jalan
Setelah dilakukan tindakan napas yang paten
keperawatan 3x24 jam 3. Monitor aliran

diharapkan mampu oksigen


4. Pertahankan posisi
mempertahankan kebersihan
klien
jalan nafas dengan kriteria : 5. Monitor TD, nadi,
a. Mendemonstrasikan batuk dan RR
efektif dan suara nafas
yang bersih, tidak ada
sianosis dan dyspneu
(mampu mengeluarkan
sputum, mampu bernapas
dengan mudah)
b. Menunjukkan jalan nafas
yang paten (frekuensi
pernafasan rentang
normal, tidak ada suara
nafas abnormal)
c. Tanda-tanda vital dalam
rentang normal

3. Gangguan NOC: NIC:


1. Posisikan pasien
pertukaran gas b/d  Respiratory Status : Gas
untuk
hipoventilasi Exchange
memaksimalkan
 Keseimbangan asam Basa,
ventilasi
Elektrolit 2. Pasang mayo bila
perlu
Setelah dilakukan tindakan 3. Lakukan fisioterapi
keperawatan selama 3x24 jam, dada jika perlu
4. Keluarkan sekret
diharapkan gangguan
dengan batuk atau
pertukaran pasien teratasi
suction
dengan kriteria hasil: 5. Auskultasi suara
a. Mendemonstrasikan nafas, catat adanya
peningkatan ventilasi dan suara tambahan
oksigenasi yang adekuat 6. Berikan bronkodilator
b. Memelihara kebersihan 7. Barikan pelembab
paru paru dan bebas dari udara
8. Atur intake untuk
tanda tanda distress
pernafasan cairan
c. Mendemonstrasikan
mengoptimalkan
batuk efektif dan suara
keseimbangan.
nafas yang bersih, tidak
9. Monitor respirasi dan
ada sianosis dan dyspneu
status O2
(mampu mengeluarkan 10. Catat pergerakan
sputum, mampu bernafas dada,amati
dengan mudah, tidak ada kesimetrisan,
pursed lips) penggunaan otot
d. Tanda tanda vital dalam
tambahan, retraksi
rentang normal
otot supraclavicular
e. AGD dalam batas
normal dan ntercostal
f. Status neurologis dalam 11. Monitor suara nafas,
batas normal seperti dengkur
12. Monitor pola nafas :
bradipena, takipenia,
kussmaul,
hiperventilasi, cheyne
stokes, biot
13. Auskultasi suara
nafas, catat area
penurunan / tidak
adanya ventilasi dan
suara tambahan
14. Monitor TTV, AGD,
elektrolit dan ststus
mental
15. Observasi sianosis
khususnya membrane
mukosa
16. Jelaskan pada pasien
dan keluarga tentang
persiapan tindakan
dan tujuan
penggunaan alat
tambahan (O2,
Suction, Inhalasi)
17. Auskultasi bunyi
jantung, jumlah,
irama dan denyut
jantung
4 Kurang NOC: NIC:
1. Kaji tingkat
Pengetahuan  Kowledge : disease
pengetahuan pasien
berhubungan Process
dan keluarga
dengan :  Kowledge : health 2. Jelaskan patofisiologi
keterbatasan Behavior dari penyakit dan
kognitif,
bagaimana hal ini
interpretasi Setelah dilakukan tindakan berhubungan dengan
terhadap keperawatan selama 3x24 jam, anatomi dan fisiologi,
informasi yang pasien menunjukkan dengan cara yang
salah, pengetahuan tentang proses tepat.
kurangnya penyakit dengan kriteria hasil: 3. Gambarkan tanda dan
keinginan untuk a. Pasien dan keluarga gejala yang biasa
mencari informasi, menyatakan pemahaman muncul pada
tidak tentang penyakit, kondisi, penyakit, dengan cara
mengetahui prognosis dan program yang tepat
4. Gambarkan proses
sumber-sumber pengobatan
b. Pasien dan keluarga penyakit, dengan cara
informasi.
mampu melaksanakan yang tepat
5. Identifikasi
prosedur yang dijelaskan
kemungkinan
secara benar
c. Pasien dan keluarga penyebab, dengan
mampu menjelaskan cara yang tepat
6. Sediakan informasi
kembali apa yang
pada pasien tentang
dijelaskan perawat/tim
kondisi, dengan cara
kesehatan lainnya
yang tepat
7. Sediakan bagi
keluarga informasi
tentang kemajuan
pasien dengan cara
yang tepat
8. Diskusikan pilihan
terapi atau
penanganan
9. Dukung pasien untuk
mengeksplorasi atau
mendapatkan second
opinion dengan cara
yang tepat atau
diindikasikan
10. Eksplorasi
kemungkinan sumber
atau dukungan,
dengan cara yang
tepat

5 Ansietas NOC : NIC :


berhubungan  Kontrol kecemasan Anxiety Reduction
dengan  Koping (penurunan kecemasan)
perubahan status 1. Gunakan pendekatan
kesehatan Setelah dilakukan asuhan yang menenangkan
selama 3x24 jam, klien 2. Nyatakan dengan jelas
kecemasan teratasi dgn kriteria harapan terhadap
hasil: pelaku pasien
1. Klien mampu 3. Jelaskan semua
mengidentifikasi dan prosedur dan apa yang
mengungkapkan gejala dirasakan selama
cemas prosedur
2. Mengidentifikasi, 4. Temani pasien untuk
mengungkapkan dan memberikan
menunjukkan tehnik untuk keamanan dan
mengurangi takut
mengontol cemas 5. Berikan informasi
3. Vital sign dalam batas faktual mengenai
normal diagnosis, tindakan
4. Postur tubuh, ekspresi prognosis
wajah, bahasa tubuh dan 6. Libatkan keluarga
tingkat aktivitas untuk mendampingi
menunjukkan klien
berkurangnya kecemasan 7. Instruksikan pada
pasien untuk
menggunakan tehnik
relaksasi
8. Dengarkan dengan
penuh perhatian
9. Identifikasi tingkat
kecemasan
10. Bantu pasien
mengenal situasi yang
menimbulkan
kecemasan
11. Dorong pasien untuk
mengungkapkan
perasaan, ketakutan,
persepsi
12. Kelola pemberian obat
anti cemas
Daftar Pustaka

Carpenito, Lynda Juall. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. EGC.
Jakarta.

Doenges, M. G. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3 EGC. Jakarta.

NANDA International. 2012. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi


2012-2014. Jakarta: EGC.
Herman.2013.Daftar Diagnosa Keperawatan NandaNOC.http:// hermankampus.
blogspot.com/2013/04/daftar-diagnosa-keperawatan-nanda-noc.html.
diakses tanggal 5 September 2014.
Ikhsanuddin. 2013. Keperawatan. http://repository.usu .ac.id/bitstream /12345
6789/3583/1/keperawatan-ikhsanuddin2.pdf