Anda di halaman 1dari 22

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Spondilitis ankilosis (SA) merupakan penyakit inflamasi kronik, bersifat


sistemik, ditandai dengan kekakuan progresif, dan terutama menyerang sendi
tulang belakang (vertebra) dengan penyebab yang tidak diketahui. Penyakit ini
dapat melibatkan sendi-sendi perifer, sinovia, dan rawan sendi, serta terjadi
osifikasi tendon dan ligamen yang akan mengakibatkan fibrosis dan ankilosis
tulang. Terserangnya sendi sakroiliaka merupakan tanda khas penyakit ini.
Ankilosis vertebra biasanya terjadi pada stadium lanjut dan jarang terjadi pada
penderita yang gejalanya ringan. Nama lain SA adalah Marie Strumpell disease
atau Bechterew's disease1-2.

Penyakit ini termasuk jarang dan insidensnya sebanding dengan artritis


rematoid. Sekitar 20% donor darah dengan HLA-B27 menderita kelainan
sakroilitis. Manifestasi biasanya dimulai pada masa remaja dan jarang di atas 40
tahun, lebih banyak pada pria daripada wanita (5 : 1). Angka kekerapan bervariasi
antara 1,0--4,7%.3-7. Dalam referat ini, akan dibahas dari mulai definisi ankilosis
itu sendiri sanmpai dengan penanganan spondilitis ankilosis.

1.2 Tujuan Penulisan


Makalah ini bertujuan untuk menambah pengetahuan dan pemahaman
mengenai anatomi dan fisiologi tulang belakang, definisi, epidemiologi, etiologi,
patofisiologi,, diagnosis, penatalaksanaan, prognosis pada ankilosis spondilosis.
2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan fisiologi tulang belakang


Tulang punggung atau vertebra adalah tulang tak beraturan yang membentuk
punggung yang mudah digerakkan. Terdapat 33 tulang punggung pada manusia, 5
di antaranya bergabung membentuk bagian sacral, dan 4 tulang membentuk tulang
ekor (coccyx).
Tiga bagian di atasnya terdiri dari 24 tulang yang dibagi menjadi 7 tulang cervical
(leher), 12 tulang thorax (thoraks atau dada) dan, 5 tulang lumbal.

Struktur umum
Sebuah tulang punggung terdiri atas dua bagian yakni bagian anterior yang terdiri
dari badan tulang atau corpus vertebrae, dan bagian posterior yang terdiri dari
arcus vertebrae.
Arcus vertebrae dibentuk oleh dua "kaki" atau pediculus dan dua lamina, serta
didukung oleh penonjolan atau procesus yakni procesus articularis, procesus
transversus, dan procesus spinosus. Procesus tersebut membentuk lubang yang
disebut foramen vertebrale. Ketika tulang punggung disusun, foramen ini akan
membentuk saluran sebagai tempat sumsum tulang belakang atau medulla
3

spinalis. Di antara dua tulang punggung dapat ditemui celah yang disebut foramen
intervertebrale.

Tulang punggung cervical


Secara umum memiliki bentuk tulang yang kecil dengan spina atau procesus
spinosus (bagian seperti sayap pada belakang tulang) yang pendek, kecuali tulang
ke-2 dan 7 yang procesus spinosusnya pendek. Diberi nomor sesuai dengan
urutannya dari C1-C7 (C dari cervical), namun beberapa memiliki sebutan khusus
seperti C1 atau atlas, C2 atau aksis. Setiap mamalia memiliki 7 tulang punggung
leher, seberapapun panjang lehernya.

Tulang punggung thorax


Procesus spinosusnya akan berhubungan dengan tulang rusuk. Beberapa gerakan
memutar dapat terjadi. Bagian ini dikenal juga sebagai 'tulang punggung dorsal'
dalam konteks manusia. Bagian ini diberi nomor T1 hingga T12.
4

Lumbal
Bagian ini (L1-L5) merupakan bagian paling tegap konstruksinya dan
menanggung beban terberat dari yang lainnya. Bagian ini memungkinkan gerakan
fleksi dan ekstensi tubuh, dan beberapa gerakan rotasi dengan derajat yang kecil.

Sacral
Terdapat 5 tulang di bagian ini (S1-S5). Tulang-tulang bergabung dan tidak
memiliki celah atau diskus intervertebralis satu sama lainnya.

Coccygeal
Terdapat 3 hingga 5 tulang (Co1-Co5) yang saling bergabung dan tanpa celah.
Beberapa hewan memiliki tulang coccyx atau tulang ekor yang banyak, maka dari
itu disebut tulang punggung kaudal (kaudal berarti ekor).

Ligamen dan otot


Untuk memperkuat dan menunjang tugas tulang belakang dalam menyangga berat
badan, maka tulang belakang di perkuat oleh otot dan ligament, antara lain :
Ligament:
1. Ligament Intersegmental (menghubungkan seluruh panjang tulang belakang
dari ujung ke ujung):
a. Ligament Longitudinalis Anterior
b. Ligament Longitudinalis Posterior
c. Ligament praspinosum
5

2. Ligament Intrasegmental (Menghubungkan satu ruas tulang belakang ke ruas


yang berdekatan)
a. Ligamentum Intertransversum
b. Ligamentum flavum
c. Ligamentum Interspinosum
3. Ligamentum-ligamentum yang memperkuat hubungan di antara tulang
occipitalis dengan vertebra CI dengan C2, dan ligamentum sacroilliaca di antara
tulang sacrum dengan tulang pinggul

Otot-otot:
1. Otot-otot dinding perut
2. Otot-otot extensor tulang punggung
3. Otot gluteus maximus
4. Otot Flexor paha ( illopsoas )
5. Otot hamstrings

Tulang vertebrae terdiri dari 33 tulang: 7 buah tulang servikal, 12 buah


tulang torakal, 5 buah tulang lumbal, 5 buah tulang sacral. Tulang servikal, torakal
dan lumbal masih tetap dibedakan sampai usia berapapun, tetapi tulang sacral dan
koksigeus satu sama lain menyatu membentuk dua tulang yaitu tulang sakrum dan
koksigeus. Diskus intervertebrale merupakan penghubung antara dua korpus
vertebrae. Sistem otot ligamentum membentuk jajaran barisan (aligment) tulang
belakang dan memungkinkan mobilitas vertebrae.
Fungsi kolumna vertebralis adalah menopang tubuh manusia dalam posisi
tegak, yang secara mekanik sebenarnya melawan pengaruh gaya gravitasi agar
tubuh secara seimbang dan tetap tegak.
Vertebra servikal, torakal, lumbal bila diperhatikan satu dengan yang
lainnya ada perbedaan dalam ukuran dan bentuk, tetapi bila ditinjau lebih lanjut
tulang tersebut mempunyai bentuk yang sama. Korpus vertebrae merupakan
struktur yang terbesar karena mengingat fungsinya sebagai penyangga berat
badan. Prosesus transverses terletak pada ke dua sisi korpus vertebra, merupakan
6

tempat melekatnya otot-otot punggung. Sedikit ke arah atas dan bawah dari
prosesus transverses terdapat fasies artikularis vertebrae dengan vertebrae yang
lainnya. Arah permukaan facet joint mencegah/membatasi gerakan yang
berlawanan arah dengan permukaan facet joint.
Pada daerah lumbal facet letak pada bidang vertical sagital memungkinkan
gerakan fleksi dan ekstensi ke arah anterior dan posterior. Pada sikap lordosis
lumbalis (hiperekstensi lubal) kedua facet saling mendekat sehingga gerakan
kalateral, obique dan berputar terhambat, tetapi pada posisi sedikit fleksi kedepan
(lordosis dikurangi) kedua facet saling menjauh sehingga memungkinkan gerakan
ke lateral berputar.
Bagian lain dari vertebrae, adalah “lamina” dan “predikel” yang
membentuk arkus tulang vertebra, yang berfungsi melindungi foramen spinalis.
Prosesus spinosus merupakan bagian posterior dan vertebra yang bila diraba
terasa sebagai tonjolan, berfungsi tempat melekatnya otot-otot punggung.
Diantara dua buah buah tulang vertebrae terdapat diskusi intervertebralis yang
berfungsi sebagai bentalan atau “shock absorbers” bila vertebra bergerak Diskus
intervertebralis terdiri dari annulus fibrosus yaitu masa fibroelastik yang
membungkus nucleus pulposus, suatu cairan gel kolloid yang mengandung
mukopolisakarida. Fungsi mekanik diskus intervertebralis mirip dengan balon
yang diisi air yang diletakkan diantara ke dua telapak tangan. Bila suatu tekanan
kompresi yang merata bekerja pada vertebrae maka tekanan itu akan disalurkan
secara merata ke seluruh diskus intervertebralis. Bila suatu gaya bekerja pada satu
sisi yang lain, nucleus polposus akan melawan gaya tersebut secara lebih dominan
pada sudut sisi lain yang berlawanan. Keadaan ini terjadi pada berbagai macam
gerakan vertebra seperti fleksi, ekstensi, laterofleksi.
Ligamentum spinalis berjalan longitudinal sepanjang tulang vertebrae.
Ligamentum ini berfungsi membatasi gerak pada arah tertentu dan mencegah
robekan. Diskus intervebralis dikelilingi oleh ligamentum anterior dan
ligamnetum posterior. Ligamentum longitudinal anterior berjalan di bagian
anterior corpus vertebrae, besar dan kuat, berfungsi sebagai alat pelengkap
penguat antara vertebrae yang satu dengan yang lainnya. ligamentum longitudinal
7

posterior berjalan di bagian posterior corpus vertebrae, yang juga turut


memebntuk permukaan anterior kanalis spinalis. Ligamentum tersebut melekat
sepanjang kolumna vertebralis, sampai di daerah lumbal yaitu setinggi L 1, secara
progresif mengecil, maka ketika mencapai L 5 – sacrum ligamentum tersebut
tinggal sebagian lebarnya, yang secara fungsional potensiil mengalami kerusakan.
Ligamentum yang mengecil ini secara fisiologis merupakan titik lemah dimana
gaya statistik bekerja dan dimana gerakan spinal yang terbesar terjadi, disitulah
mudah terjadi cidera kinetik.
Otot punggung bawah dikelompokkan sesuai dengan fungsi gerakannya.
Otot yang berfungsi mempertahankan posisi tubuh tetap tegak dan secara aktif
mengekstensikan vertebrae lumbalis adalah : M. quadraus lumborum, M.
sacrospinalis, M. intertransversarii dan M. interspinalis. Otot fleksor lumbalis
adalah muskulus abdominalis mencakup : M. obliqus eksternus abdominis, M.
internus abdominis, M. transversalis abdominis dan M. rectus abdominis, M.
psoas mayor dan M. psoas minor. Otot latero fleksi lumbalis adalah M. quadratus
lumborum, M. psoas mayor dan minor, kelompok M. abdominis dan M.
intertransversarii. Jadi dengan melihat fungsi otot di atas otot punggung di bawah
berfungsi menggerakkan punggung bawah dan membantu mempertahankan posisi
tubuh berdiri.

2.2 Definisi ankilosis spondilitis


Spondilitis ankilosis (SA) merupakan penyakit inflamasi kronik,
bersifat sistemik, ditandai dengan kekakuan progresif, dan terutama
menyerang sendi tulang belakang (vertebra) dengan penyebab yang tidak
diketahui. Penyakit ini dapat melibatkan sendi-sendi perifer, sinovia, dan
rawan sendi, serta terjadi osifikasi tendon dan ligamen yang akan
mengakibatkan fibrosis dan ankilosis tulang. Terserangnya sendi
sakroiliaka merupakan tanda khas penyakit ini. Ankilosis vertebra
biasanya terjadi pada stadium lanjut dan jarang terjadi pada penderita yang
gejalanya ringan. Nama lain SA adalah Marie Strumpell disease atau
Bechterew's disease
8

2.3 Etiologi

Patogenesis pada SA tidak begitu dipahami, tetapi SA merupakan


penyakit yang diperantari oleh sistem imun, dibuktikan dengan adnya
peningkatan IgA dan berhubungan erat dengan HLA B27.3 Secara
imunologi terdapat interaksi antara class I HLA molecule B27 dan Limfosit
T. Tumor necrosis factor (TNF-α) teridentifikasi sebagai pengatur sitokin.4

Kecenderungan terjadinya SA dipercayai sebagai penyakit yang


diturunkan secara genetik, dan mayoritas (hampir 90%) penderita SA lahir
dengan suatu gen yang disebut dengan HLA B27. Pada pemeriksaan darah
dapat ditemukan adanya HLA B27 gene marker yang dapat menjelaskan
adanya hubungan HLA B27 dengan SA. Adanya gen HLA B27 ini hanya
menunjukan adanya kecenderungan yang meningkat terhadap terjadinya
SA ini meskipun ada faktor lain yang mempengaruhi seperti lingkungan.
Akhir-akhir ini, dua gen lain telah teridentifikasi berhubungan dengan SA,
yaitu ARTS1 dan Il23R yang mempunyai peran dalam mempengaruhi
fungsi imunitas.4

2.4 Epidemiologi

Di Amerika Serikat, prevalensi spondilitis ankilosis sebesar 100-


200 per 100.000 penduduk, yang merupakan penyakit spondiloartitis
terbanyak. Namun, prevalensi spondilitis ankilosis di Jerman mencapai 1%
hingga 5% sedangkan di Prancis 0,49%.5

Spondilitis ankilosis biasanya mulai sejak dekade kedua hingga


ketiga kehidupan dengan median usia 23 tahun. Pada 5% pasien, gejala
timbul pada usia lebih dari 40 tahun. Usia yang rinci sulit ditentukan
karena diagnosis seringkali tidak dikenali selama bertahun-tahun.5
9

Prevalensi spondilitis ankilosis antara pria dan wanita berbanding


2:1 hingga 3:1. Spondilitis ankilosis pada wanita seringkali timbul lebih
ringan gejalanya.5

2.5 Patofisiologi

Proses patofisiologi yang terjadi pada spondilitis ankilosa ditandai


dengan adanya inflamasi dan terjadinya fusi. Hal tersebut dapat
diilustrasikan dalam gambar dibawah ini:

Gambar 1. Tulang Belakang Normal dan Tulang Belakang dengan


Spondilitis Ankilosa8

Sedangkan manifestasi terjadinya spondilitis ankilosa ditunjukkan dalam


skema sebagai berikut:
10

Gambar 2. Mekanisme Spondilitis ankilosis8

2.6 Gejala Klinis

Peradangan ringan sampai menengah biasanya bergantian dengan periode


tanpa gejala. Gejala yang paling sering ditemukan adalah nyeri punggung, yang
intensitasnya bervariasi dari satu episode ke episode lainnya dan bervariasi pada
setiap penderita. Nyeri sering memburuk di malam hari.

Kekakuan di pagi hari yang akan hilang jika penderita melakukan


aktivitas,juga sering ditemukan. Nyeri punggung dan kejang otot-ototnya
seringkali bisa berkurang jika penderita membungkukkan badannya ke depan.
Karena itu penderita sering mengambil posisi membungkuk, yang bisa
menyebabkan bungkuk menetap bila tidak diobati.

Pasien dengan ankylosing spondylitis


mempengaruhi tulang belakang leher
dan dada atas. Tulang punggung pasien
telah menyatu dalam posisi tertekuk.
11

Pada penderita lainnya, tulang belakang dengan jelas tampak lurus dan
kaku. Nyeri punggung bisa disertai dengan hilangnya nafsu makan, penurunan
berat badan, kelemahan dan anemia.

Jika sendi yang menghubungkan tulang iga dan tulang belakang meradang,
rasa nyeri akan membatasi kemampuan dada untuk mengembang dan untuk
menarik nafas dalam. Kadang-kadang nyeri dimulai di sendi yang besar, seperti
panggul, lutut dan bahu.

Sepertiga penderita mengalami serangan berulang dari peradangan mata


(iritisakut),yang biasanya tidak mengganggu penglihatan.

Pada penderita lainnya, peradangan bisa menyerang katup jantung. Jika


kerusakan tulang belakang menekan saraf atau urat saraf tulang belakang, bisa
timbul mati rasa, kelemahan atau nyeri di daerah yang dipersarafinya.

Sindroma kauda equina (Sindroma Ekor Kuda) merupakan komplikasi


yang jarang, berupa gejala yang timbul jika kolumna tulang belakang yang
meradang, menekan sejumlah saraf yang berjalan dibawah ujung urat saraf tulang
belakang.

Gejalanya berupa impotensi, inkontinensia uri di malamhari, sensasi yang


berkurang pada kandung kemih dan rektum dan hilangnya refleks mata kaki.

Manifestasi pada Tulang

Keluhan yang umum dan karakteristik awal penyakit ialah nyeri pinggang
dan sering menjalar ke paha. Nyeri biasanya menetap lebih dari 3 bulan, disertai
dengan kaku pinggang pada pagi hari, dan membaik dengan aktivitas fisik atau
bila dikompres air panas. Nyeri pinggang biasanya tumpul dan sukar ditentukan
lokasinya, dapat unilateral atau bilateral. Nyeri bilateral biasanya menetap,
beberapa bulan kemudian daerah pinggang bawah menjadi kaku dan nyeri. Nyeri
ini lebih terasa seperti nyeri bokong dan bertambah hebat bila batuk, bersin, atau
12

pinggang mendadak terpuntir. Inaktivitas lama akan menambah gejala nyeri dan
kaku.

Keluhan nyeri dan kaku pinggang merupakan keluhan dari 75% kasus di
klinik. Nyeri tulang juksta-artikular dapat menjadi keluhan utama, misalnya
entesis yang dapat menyebabkan nyeri di sambungan kostosternal, prosesus
spinosus, krista iliaka, trokanter mayor, tuberositas tibia atau tumit. Keluhan lain
dapat berasal dari sendi kostovertebra dan manubriosternal yang menyebabkan
keluhan nyeri dada, sering disalahdiagnosiskan sebagai angina.

Manifestasi di Luar Tulang

Manifestasi di luar tulang terjadi pada mata, jantung, paru, dan sindroma
kauda ekuina. Manifestasi di luar tulang yang paling sering adalah uveitis anterior
akut, biasanya unilateral, dan ditemukan 25--30% pada penderita SA dengan
gejala nyeri, lakrimasi, fotofobia, dan penglihatan kabur. Manifestasi pada jantung
dapat berupa aorta insufisiensi, dilatasi pangkal aorta, jantung membesar, dan
gangguan konduksi. Pada paru dapat terjadi fibrosis, umumnya setelah 20 tahun
menderita SA, dengan lokasi pada bagian atas, biasanya bilateral, dan tampak
bercak-bercak linier pada pemeriksaan radiologis, menyerupai tuberculosis.

2.7 Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik spondilitis ankilosis dapat ditemukan:

Sikap/postur tubuh
Selama perjalanan penyakitnya, sikap tubuh yang normal
akan hilang. Lordosis lumbal yang menghilang umumnya
merupakan tanda awal. Apabila vertebra cervical terserang, maka
pergerakan leher akan terbatas serta menimbulkan rasa nyeri. Leher
penderita mengalami pergeseran ke depan dan hal ini dapat
dibuktikan dengan cara : penderita diminta berdiri tegak, apabila
13

terjadi pergeseran maka occiput tidak dapat menempel pada


dinding.

Mobilitas tulang belakang


Pertama kali yang diperiksa adalah apakah ada keterbatasan
gerak. Biasanya ditemukan adanya keterbatasan gerak pada tulang
vertebra lumbal, yang dapat dilihat dengan cara melakukan
gerakan fleksi badan ke depan, ke samping dan ekstensi.
Tes Schober atau modifikasinya, berguna untuk mendeteksi
keterbatasan gerak fleksi badan ke depan. Caranya : penderita
diminta untuk berdiri tegak, pada prosesus spinosus lumbal V
diberi tanda (titik), kemudian 10 cm lurus di atasnya diberi tanda
ke dua. Kemudian penderita diminta melakukan gerakan
membungkuk (lutut tidak boleh dibengkokkan). Pada orang normal
jarak kedua titik tersebut akan bertambah jauh; bila jarak kedua
titik tersebut tidak mencapai 15 cm, hal ini menandakan bahwa
mobilitas tulang vertebra lumbal telah menurun (pergerakan
vertebra lumbal mulai terbatas). Di samping itu fleksi lateral juga
akan menurun dan gerak putar pada tulang belakang akan
menimbulkan rasa sakit.

Ekspansi dada
Penurunan ekspansi dada dari yang ringan sampai sedang,
sering dijumpai pada kasus ankylosing spondylitis stadium dini dan
jangan dianggap sebagai stadium lanjut. Pada pengukuran ini perlu
dilihat bahwa nilai normalnya sangat bervariasi dan tergantung
pada umur dan jenis kelamin. Sebagai pedoman yang dipakai
adalah : ekspansi dada kurang dari 5 cm pada penderita muda
disertai dengan nyeri pinggang yang dimulai secara perlahan-lahan,
harus dicurigai mengarah ke adanya ankylosing spondylitis.
14

Pengukuran ekspansi dada ini diukur dari inspirasi maksimal


sesudah melakukan ekspirasi maksimal.

Enthesitis
Adanya enthesitis dapat dilihat dengan cara menekan pada
tempat-tempat tertentu antara lain : ischial tuberositas, troc-hanter
mayor, processus spinosus, costochondral dan manu-briosternal
junctions serta pada iliac fasciitis plantaris juga merupakan
manifestasi dari enthesitis.

Sacroilitis
Pada sacroiliitis penekanan sendi ini akan memberikan rasa
sakit, akan tetapi hal ini tidak spesifik karena pada awal penyakit
atau pada stadium lanjut sering kali tanda-tanda ini tidak
ditemukan. Pada stadium lanjut tidak ditemukan nyeri tekan pada
sendi sacroiliaca oleh karena telah terjadi fibrosis atau, bony
Ankylosis.

2.8 Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan pola gejala-gejalanya dan foto rontgen


dari tulang belakang dan sendi yang terkena, dimana bisa dilihat adanya erosi
pada persendian antara tulang belakang dan tulang panggul (sendi sakroiliaka)
dan pembentukan jembatan antara tulang belakang, yang menyebabkan kekakuan
pada tulang belakang. Laju endap darah cenderung meningkat. Pada 90%
penderita ditemukan gen spesifik HLA-B27.

Roma, 1961
Kriteria klinik

1. Nyeri pinggang dan kekakuan > 3 bulan, yang tidak reda dengan istirahat
2. Nyeri dan kekakuan pada regio thorax
15

3. Gerak terbatas pada vertebra lumbalis


4. Expansi dada terbatas
5. Riwayat atau adanya bukti dari iritis atau akibatnya

Kriteria Radiologik
Tampak adanya perubahan sacroiliac bilateral merupakan ciri SA
(ini harus disingkirkan OA bilateral dan sendi sacroiliac)

New York 1966


Kriteria klinik

1. Terbatasnya gerak dari vertebra lumbalis, dalam semua tiga bidang flexi.
anterior, flexi-lateral dan extensi
2. Nyeri pada sendi dorsolumbal atau pada vertebra lumbalis.
3. Terbatasnya expansi dada = 2,5cm, diukur pada ketinggian spatium
intercostale ke 4.
Kualitas (grading) radiologik: Normal = 0; suggestive = 1; minimal saroilitis = 2;
moderat sacroilitis = 3; Ankylosis = 4.

Diagnosis definitif ditegakkan berdasarkan:

1. Gambaran radiografi sakroiliitis bilateral derajat 3-4 ditambah 1 atau lebih


kriteria di atas, atau
2. Gambaran radiografi sakroiliitis unilateral derajat 3-4 atau sakroilitis
bilateral derajat 2 ditambah kriteria 1 atau kriteria 2+3.
Diagnosis kemungkman SA (probable) ditegakkan berdasarkan: Gambaran
radiografi sakroiliitis derajat 3-4, tanpa disertai kriteria tersebut di atas.
16

2.9 Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang pada spondilitis ankilosis meliputi:

1. Pemeriksaan Laboraturium

Tidak ada uji diagnostik yang patognomonik. Peninggian


laju endap darah ditemukan pada 75% kasus, tetapi hubungannya
dengan keaktifan penyakit kurang kuat. Serum C reactive protein
(CRP) lebih baik digunakan sebagai petanda keaktifan penyakit.
Kadang-kadang, ditemukan peninggian IgA. Faktor rematoid dan
ANA selalu negatif. Cairan sendi memberikan gambaran sama
pada inflamasi. Anemia normositik-normositer ringan ditemukan
pada 15% kasus. Pemeriksaan HLA B27 dapat digunakan sebagai
pembantu diagnosis.

2. Pemeriksaan Radiologi

Kelainan radiologis yang khas pada SA dapat dilihat pada


sendi aksial, terutama pada sendi sakroiliaka, diskovertebral,
apofisial, kostovertebral, dan kostotransversal. Perubahan pada
sendi S2 bersifat bilateral dan simetrik, dimulai dengan kaburnya
gambaran tulang subkonral, diikuti erosi yang memberi gambaran
mirip pinggir perangko pos. Kemudian, terjadi penyempitan celah
sendi akibat adanya jembatan interoseus dan osilikasi. Setelah
beberapa tahun, terjadi ankilosis yang komplit.

Beratnya proses sakroilitis terdiri dari 5 tingkatan


berdasarkan radiologis, yaitu tingkat 0 (normal), tingkat 1 (tepi
sendi menjadi kabur), tingkat 2 (tingkat 1 ditambah adanya
sclerosis periartikuler, jembatan sebagian tulang atau pseudo
17

widening, tingkat 3 (tingkat 2 ditambah adanya erosi dan jembatan


tulang), serta tingkat 4 (ankilosa yang lengkap).

Akan terlihat gambaran squaring (segi empat sama sisi)


pada kolumna vertebra dan osifikasi bertahap lapisan superfisial
anulus fibrosus yang akan mengakibatkan timbulnya jembatan di
antara badan vertebra yang disebut sindesmofit. Apabila jembatan
ini sampai pada vertebra servikal, akan membentuk bamboo spine.
Keterlibatan sendi panggul memperlihatkan adanya penyempitan
celah sendi yang konsentris, ketidakteraturan subkhondral, serta
formasi osteofit pada tepi luar permukaan sendi, baik pada
asetabulum maupun femoral. Akhirnya, terjadi ankilosis tulang
dan pada sendi bahu memperlihatkan penyempitan celah sendi
dengan erosi.

2.10 Penatalaksanaan
1. Medikamentosa

Pengobatan dengan Anti Inflamasi Non-Steroid (AINS) untuk


mengurangi nyeri, mengurangi inflamasi, dan memperbaiki kualitas hidup
pasien. Indometasin 75-150 mg perhari memegang rekor terbaik. Apabila
pasien tidak mampu mentolerir efek samping seperti gangguan lambung
atau gangguan SSP berupa sakit kepala dan pusing, maka AINS yang lain
dapat dicoba.

Pasien yang tidak responsif dengan indometasin atau AINS yang


baru lainnya dapat dicoba dengan fenilbutazon 100-300 mg per hari.
Tingginya insiden agranulositosis atau anemia aplastik akibat efek
samping obat ini dibandingkan dengan AINS yang lain perlu disampaikan
pada pasien dengan jumlah eritrosit dan leukosit harus selalu dimonitor.
18

Bila keluhan sangat mengganggu dalam kegiatan sehari-hari dapat


dipertimbangkan untuk dilakukan artroplasti atau koreksi deformitas
spinal. Tindakan ini sangat berguna untuk mengurangi keluhan akibat
deformitas tersebut.

2. Non-Medikamentosa

Fisioterapi

Tujuan utama fisioterapi pada SA adalah untuk memperbaiki


mobiltas dan kekuatan serta mencegah atau menurunkan terjadinya
abnormalitas kurva tulang belakang. Fisioterapi mempunyai peranan
terhadap manajemen SA namun tidak dapat menggantikan pengobatan
medikamentosa.

Prinsip pengobatan utama pada SA adalah dengan menghilangkan


nyeri, mengurangi inflamasi, latihan fisik untuk perbaikan kekuatan otot,
dan memelihara postur tubuh. Penderita dianjurkan tidur terlentang
menggunakan kasur yang agak keras dengan sebuah bantal tipis.
Menggunakan bantal yang tebal atau beberapa bantal sebaiknya dihindari.
Pada pagi hari, mandi air hangat, diikuti latihan fisik untuk penguatan
otot-otot belakang (sesuai dengan petunjuk dokter atau dokter fisioterapi).
Hal ini sebaiknya dilakukan di rumah secara teratur. Tidur tengkurap
selama beberapa menit dilakukan beberapa kali dalam sehari merupakan
tindakan yang bermanfaat dalam menjaga pergerakan ekstensi spinal.

Latihan fisik penting dilakukan karena penyakit ini cenderung


terjadi kelainan berupa fleksi spinal yang progresif. Oleh karena itu, otot-
otot ekstensor spinal harus diperkuat. Manuver lain yang perlu dilakukan
adalah bernapas dalam dan gerakan fleksi lumbal yang isometrik. Posisi
postur tubuh harus diperhatikan setiap saat. Kursi dengan sandaran yang
keras dianjurkan, tetapi diutamakan lebih banyak berjalan dari pada
duduk.
19

Berenang merupakan latihan fisik yang terbaik selama otot-otot


masih boleh menahan dalam keadaan ekstensi. Fusi spinal merupakan
komplikasi dari spondilitis. Karena itu, postur harus dipertahankan dan
menghindari terjadinya kontraktur dalam posisi fleksi dari bahu dan lutut.
Penderita dianjurkan setiap saat tegak, seolah-olah tumit, bokong, pundak,
bahu, dan belakang kepala selalu bersandar pada dinding.

3. Pembedahan

Pembedahan mungkin dibutuhkan dalam beberapa kasus SA.


Mekanisme yang menyebabkan terjadinya osifikasi ligamen dan sendi
sehingga terjadi fusi pada columna vertebrae belum dijelaskan secara rinci.
Sebagai dampak dari fusi columna vertebrae ini terjadi keterbatasan
dalam gerakan dan elatisitas. Munurunnya fleksibilitas dapat berakibat
akan terjadinya berbagai kelainan pada tulang belakang seperti fraktur dan
dislokasi, atlanto-axial dan atlanto-occipital subluxiation, deformitas
tulang belakang, stenosis tilang belakang, dan kelainan pinggul. Ketika
komplikasi ini terjadi. Tindakan pembedahan mungkin dapat dibutuhkan.

2.11 Prognosis

Prognosis dari SA sangat bervariasi dan susah diprediksi. Secara


umum, penderita lebih cenderung dengan pergerakan yang normal
daripada timbulnya restriksi berat. Keterlibatan ekstraspinal yang progresif
merupakan determinan penting dalam menentukan prognosis. Beberapa
survei epidemiologis menunjukkan bahwa apabila penyakitnya ringan,
berkurangnya pergerakan spinal yang ringan, dan berlangsung dalam 10
tahun pertama maka perkembangan penyakitnya tidak akan memberat.
Keterlibatan sendi-sendi perifer yang berat menunjukkan prognosis buruk.
Sebagian besar penderita dengan SA memperlihatkan keluhan serta
20

perlangsungan yang ringan dan dapat dikontrol sehingga dapat


menjalankan tugas dan kehidupan sosial dengan baik.

Secara umum, wanita lebih ringan dan jarang progresif serta lebih
banyak memperlihatkan keterlibatan sendi-sendi perifer. Sebaliknya,
bamboo spine lebih sering terlihat pada pria. Terdapat dua gambaran yang
secara langsung berpengaruh terhadap morbiditas, mortalitas, dan
prognosis. Keduanya dianggap sebagai akibat dari trauma, baik yang tidak
disadari maupun trauma berat. Awalnya, terjadi lesi destruksi pada salah
satu diskovertebra, biasa terjadi pada segmen spinal yang bisa dilokalisir,
dan ditandai dengan nyeri akut atau berkurangnya tinggi badan yang
mendadak. Skintigrafi dan tomografi tulang memperlihatkan kelainan,
baik elemen anterior maupun posterior. Imobilisasi yang tepat dan
diperpanjang dapat memberikan penyembuhan pada sebagian besar kasus.
21

BAB 3
KESIMPULAN

Spondilitis ankilosis (SA) merupakan penyakit inflamasi kronik, bersifat


sistemik, ditandai dengan kekakuan progresif, dan terutama menyerang sendi
tulang belakang (vertebra) dengan penyebab yang tidak diketahui. Penyakit ini
dapat melibatkan sendi-sendi perifer, sinovia, dan rawan sendi, serta terjadi
osifikasi tendon dan ligamen yang akan mengakibatkan fibrosis dan ankilosis
tulang.
Terserangnya sendi sakroiliaka merupakan tanda khas penyakit ini.
Ankilosis vertebra biasanya terjadi pada stadium lanjut dan jarang terjadi pada
penderita yang gejalanya ringan. Nama lain SA adalah Marie Strumpell disease
atau Bechterew's disease).

Gejala yang paling sering ditemukan adalah nyeri dan kaku pinggang ,
yang intensitasnya bervariasi dari satu episode ke episode lainnya dan bervariasi
pada setiap penderita. Keluhan yang umum dan karakteristik awal penyakit ialah
nyeri pinggang dan sering menjalar ke paha. Nyeri biasanya menetap lebih dari 3
bulan, nyeri pinggang biasanya tumpul dan sukar ditentukan lokasinya, dapat
unilateral atau bilateral. .

Pengobatan dengan Anti Inflamasi Non-Steroid (AINS) untuk mengurangi


nyeri, mengurangi inflamasi, dan memperbaiki kualitas hidup pasien ,sedangkan
fisioterapi pada SA adalah untuk memperbaiki mobiltas dan kekuatan serta
mencegah atau menurunkan terjadinya abnormalitas kurva tulang belakang.
Fisioterapi mempunyai peranan terhadap manajemen SA namun tidak dapat
menggantikan pengobatan medikamentosa.
22

DAFTAR PUSTAKA

1. Apley A Graham, Solomon Louis. Apley’s System of Orthopaedics and


Fractures. 6th ed. London: English Book Society/Butterworths, 41-43

2. Robert Bruce Salter, Text Book Of Disorders And Injuries Of The


Musculoskeletal System, 1983. p 201

3. Sjamsjulhidayat R., Jong W.D., Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2, EGC,
Jakarta, 2004, Hlm 913

4. http://www.medicinenet.com/ankylosing_spondylitis/article.htm
5. http://www.kesimpulan.com/2009/05/spondilitis-ankilosa-sa.html
6. http://medicafarma.blogspot.com/2009/04/spondilitis-ankilosa.html
7. http://emedicine.medscape.com/article/1263287-overview
8. http://www.thirdage.com/health-wellness/ankylosing-spondylitis-marie-
strumpell-disease