Anda di halaman 1dari 5

Learning Objective

Blok 19
Skenario 3

DISUSUN OLEH :
Wira Amaz Gahari
N 101 14 011

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TADULAKO
2017
Learning Objective
1. Prinsip Diagnosis dan Penatalaksanaan
2. Komplikasi
3. Prognosis
4. Jenis-jenis tuli dan penjelasannya

Jawab

1. Diagnosis otitis media supuratif kronik (OMSK) dibuat berdasarkan gejala klinik dan
pemeriksaan THT terutama pemeriksaan otoskopi. Pemeriksaan penala merupakan
pemeriksaan sederhana untuk mengetahui adanya gangguan pendengaran. Untuk
mengetahui jenis dan derajat gangguan pendengaran dapat dilakukan pemeriksaan
audiometri nada murni, audiometri tutur (speech audiometry) dan pemeriksaan BERA
(brainstem evoked response audiometry) bagi pasien / anak yang tidak kooperatif dengan
pemeriksaan audiometri nada murni. Pemeriksaan penunjang lain berupa foto rontgen
mastoid serta kultur dan uji resistensi kuman dari sekret telinga. (Soepardi, et al, 2012)

Terapi OMSK tidak jarang memerlukan waktu lama, serta harus berulang-ulang. Sekret
yang keluar tidak cepat kering atau selalu kambuh lagi. Prinsip terapi OMSK tipe aman
ialah konservatif atau dengan medikamentosa. Bila secret yang keluar terus menerus, maka
diberikan obat pencuci telinga, berupa larutan H2O2 3% selama 3-5 hari. Setelah sekret
berkurang, dapat diberikan obat tetes telinga yang mengandung antiobiotik dan
kortikosteroid. Secara oral dapat diberikan antibiotik golongan ampisilin, atau eritromisin
(bila pasien alergi ampisilin), sebelum hasil tes resistensi diterima. Pada infeksi yang
dicurigai karena penyebabnya telah resisten terhadap ampisilin dapat diberikan ampisilin
asam klavulanat (Rosenfeld RM, 2016).

Dapat juga dilakukan non medikamentosa seperti pembedahan, yaitu mastoidektomi


sederhana, mastoidektomi radikal & dengan modifikasi, miringoplasti, timpanoplasti, dan
timpanoplasti dengan pendekatan ganda (combined approach tympanoplasty) (Soepardi, et
al, 2012)
2. Komplikasi

 Gangguan dalam berbicara atau perkembangan berbahasa. Kondisi ini dapat terjadi jika anak
Anda sering mengalami infeksi telinga dan memengaruhi indera pendengaran mereka saat masih
kecil.
 Labirintitis. Labirin adalah struktur halus yang berada jauh di dalam telinga. Terkadang, infeksi
bisa menyebar hingga ke area ini. Kondisi ini dikenal dengan istilah labirintitis. Gejala dari
labirintitis dapat berupa pusing, vertigo, kehilangan pendengaran, dan kehilangan keseimbangan.
Gejala ini akan hilang dalam beberapa minggu, tapi mungkin Anda akan diberikan resep obat-
obatan untuk meredakan gejala ini.
 Lubang pada gendang telinga. Dalam kondisi tertentu, tekanan atau kerusakan yang terjadi di
telinga tengah dapat merobek gendang telinga. Walau kondisi ini dapat pulih dalam waktu 72
jam dengan sendirinya, terdapat beberapa kasus parah yang mengharuskan penderitanya
menjalani operasi untuk memulihkannya.
 Mastoiditis. Mastoid adalah tulang yang berada di belakang telinga. Jika infeksi yang terjadi
menyebar hingga ke area ini, maka dikenal dengan istilah mastoiditis. Gejala dari mastoiditis
adalah demam, sakit kepala, kehilangan indera pendengaran, serta pembengkakan, merah, dan
rasa sakit pada bagian belakang telinga. Kondisi ini bisa ditangani dengan antibiotik yang
diberikan lewat pembuluh darah atau dengan operasi.
 Kolesteatoma. Kolesteatoma adalah kumpulan sel-sel kulit abnormal di dalam telinga. Kondisi
ini bisa muncul akibat infeksi telinga tengah yang sering kambuh atau yang bersifat kronis. Jika
dibiarkan, kolesteatoma bisa merusak struktur telinga dan mengganggu fungsi pendengaran.
Gejala dari kolesteatoma adalah kehilangan pendengaran, kelumpuhan pada setengah bagian
wajah, pusing, dan tinnitus atau telinga berdesir. Operasi pengangkatan kolesteatoma akan
diperlukan pada kebanyakan kasus ini.
 Meningitis. Apabila infeksi yang terjadi menyebar hingga ke selaput pelindung otak dan saraf
tulang belakang, maka akan muncul kondisi yang disebut meningitis. Komplikasi otitis media
jenis ini cukup jarang terjadi. Gejala akibat meningitis adalah sakit kepala parah, demam, mual,
leher kaku, jantung berdetak cepat dan sensitif terhadap cahaya. Segera temui dokter jika Anda
mencurigai terjadi meningitis.
 Abses otak. Abses otak adalah pembengkakan yang berisi nanah dan muncul di dalam otak. Ini
adalah komplikasi otitis media yang jarang terjadi. Gejalanya berupa sakit kepala parah,
kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh, demam, kebingungan, dan kejang-kejang. Ini adalah
kondisi darurat yang membutuhkan penanganan di rumah sakit. Pengobatan biasanya dilakukan
melalui pemberian antibiotik dan operasi untuk mengeluarkan nanah yang ada di dalam otak.
 Kelumpuhan wajah. Saraf wajah adalah kelompok saraf yang melewati tempurung kepala dan
digunakan untuk mengontrol ekspresi wajah. Pembengkakan yang terjadi akibat infeksi telinga
tengah bisa menekan saraf-saraf wajah, meski kondisi ini sangat jarang sekali terjadi. Akibat
tekanan tersebut, penderita tidak bisa menggerakkan sebagian atau seluruh bagian wajah mereka.
Kondisi ini akan pulih kembali jika infeksi yang terjadi sudah diobati.

Komplikasi lainnya, dapat dilihat melalui penyebarannya yang didapatkan, seperti penyebaran
melalui hematogen, melalui erosi tulang, melalui jalur yang sudah ada, adapun klasifikasinya
sebagai berikut :
A. Komplikasi di telinga tengah :
1. Perforasi membrane timpani persisten
2. Erosi tulang pendengaran
3. Paralisis nervus fasialis

B. Komplikasi di telinga dalam :


1. Fistula labirin
2. Labirinitis supuratif
3. Tuli saraf (sensorineural)
C. Komplikasi ekstradural :
1. Abses ekstradural
2. Trombosis sinus lateralis
3. Petrositis
D. Komplikasi ke susunan saraf pusat :
1. Meningitis
2. Abses otak
3. Hidrosefalus otitis
(Soepardi, et al, 2012)

3. Prognosis

Prognosis dari otitis media supuratif kronik tipe maligna, dapat dilihat dari komplikasi dan
derajat kesakitannya, melihat bahwa tipe maligna lebih mengutamakan prinsip penatalaksanaan
ke pembedahan, lambatnya penanganan dari otitis media supuratif kronik tipe maligna dapat
menyebabkan prognosis yang buruk ke pasien. (Soepardi, et al, 2012)
4. Jenis-jenis tuli dan penjelasannya

Jenis- jenis tuli :

Tuli Konduksi (telinga luar – tengah)


Tuli Sensorineural (telinga dalam)

A. Gangguan Pendengaran/Tuli Konduktif :

Terjadi jika kehilangan pendengaran dikarenakan kegagalan mekanikal,sebagai contoh : tidak


berfungsinya tulang-tulang pendengaran. Jenis ini dikenal dengan gangguan pendengaran/tuli
konduktif. Pada kasus tuli konduktif hanya bersifat sementara dan dapat disembuhkan dengan
pengobatan yang benar atau dengan operasi.

B. Gangguan Pendengaran/Tuli Sensorineural :

Kerusakan yang terjadi pada telinga dalam disebut gangguan pendengaran atau tuli sensorineural.

Hilangnya sel-sel rambut di dalam koklea dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Untuk
orang-orang yang mengalami gangguan pendengaran sensorineural ringan sampai sedang dapat
dibantu dengan menggunakan alat Bantu dengar. Pada gangguan pendengaran sensorineural berat
sampai sangat berat dapat dibantu dengan Implan Koklea.

C. Gangguan Pendengaran/Tuli Campur :

Tuli campur disebabkan oleh kerusakan pada bagian luar, tengah dan atau telinga dalam.

Biasanya, gelombang suara tidak dikonduksi secara efisien ke telinga dalam, dan sampai di telinga
dalam getaran-getaran tersebut tidak dapat di kirim ke otak.

Oleh sebab itu, tuli campur merupakan kombinasi dari tuli konduktif dan sensorineural.
Implan koklea merupakan solusi yang mungkin bagi orang dengan gangguan pendengaran/tuli
campur.

(Rosenfeld RM, 2016)