Anda di halaman 1dari 12

MENGGAGAS PENERBITAN SURAT TAGIHAN PAJAK (STP) DAN TINDAKAN PENAGIHAN

DENGAN TINGKAT PELUNASAN KEWAJIBAN PERPAJAKAN


WAJIB PAJAK ATAU PENANGGUNG PAJAK ORANG PRIBADI 1

Whedy Prasetyo
Universitas Jember
Jl. Kalimatan No.37 Tegalboto Kotak Pos 125 Jember 68121
Surel:whedy.p@gmail.com

Abstrak: Menggagas Penerbitan Surat Tagihan Pajak (STP) dan Tindakan


Penagihan Dengan Tingkat Pelunasan Kewajiban Perpajakan Wajib Pajak atau
Penanggung Pajak Orang Pribadi. Penelitian ini merupakan studi kasus
terhadap Wajib Pajak atau Penanggung Pajak Orang Pribadi pada kantor
Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Denpasar Timur yang bertujuan mengetahui
pelaksanaan penerbitan Surat Tagihan Pajak (STP), dan tindak lanjut STP berupa
penerbitan Surat Tegoran (ST) dan penyampaian Surat Paksa (SP) terhadap
tingkat kesadaran dan kepatuhan melunasi kewajiban perpajakannya. Metode
penelitian yang digunakan adalah studi deskriptif dengan 38 sampel. Teknik
pengumpulan data melalui komunikasi dan pengamatan secara langsung, serta
studi dokumentasi merupakan instrumen utama penelitian ini. Hasil analisis
menunjukkan STP menjamin kesadaran Wajib Pajak atau Penanggung Pajak
Orang Pribadi untuk segera memenuhi kewajiban sebelum jatuh tempo STP,
sehingga tidak dilanjutkan dengan ST dan SP yang dari tahun-tahun penelitian
mengalami penurunan dibandingkan penerbitan STP.
Abstract: Initiated Publication Of The Tax Claim Letter (TCL) and Billing
Action with Degree of Tax Compliance Payment of Tax Payer or Individual
Tax Charger. This Research is a case study on Tax Payer or Individual Tax
Charger on Tax Service Office (TSO) Pratama Denpasar Timur aimed to find out the
implementation of Tax Compliance Letter (TCL) publication, and the following action
of TCL through tax claim in the form of Letter of Warning (LoW) and Letter of
Compelling (LoC) related to awareness level and obedience in fulfilling their tax.
Reseach method used is descriptive study for 38 sample. Technical of data
gathering carried out through communication approach and direct observation, and
documentation study is main instrumen of this research. Analysis result be said
that TCL guarantee Tax Payer awareness or Individual Tax Charger in meeting their
charge stated on TCL, so that they will not receive LoW and LoC which tends to
decrease than TCL publication since the years of study.

Kata Kunci: Surat Tagihan Pajak, penagihan pajak, dan kewajiban perpajakan.

Peningkatan penerimaan pajak merupakan tantangan yang dihadapi dalam upaya


memelihara kebijakan fiskal yang berkelanjutan (sustainable fiscal policy), dan menciptakan
stimulus fiskal bagi bergeraknya kegiatan perekonomian masyarakat (fiscal stimulus). Dari
indikator tax ratio memberikan harapan dan sekaligus tantangan untuk menuju
kemadirian Indonesia dalam membiayai pembangunan dan partisipasi aktif masyarakat
berupa pajak (Lubis, 2007; Suryantara, 2009).
Pajak sebagai pendapatan negara tersebut membuat dari sisi internal Ditjen Pajak
melaksanakan insentif perpajakan melalui intensifikasi dan ekstensifikasi potensi pajak.
Langkah intensifikasi adalah dengan menetapkan penurunan tarif Pajak Penghasilan (PPh)
badan dan tarif sebanding (proporsional) dari 30% (persen) menjadi 28% (persen) pada
tahun 2009 dan selanjutnya 25% (persen) pada tahun 2010. Adapun tarif PPh Orang
Pribadi dari 35% (persen) menjadi 30% (persen) sejak tahun 2009. Kebijakan lain,
menaikkan batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) yaitu dari Rp. 15,84 juta pertahun
menjadi Rp. 36 juta pertahun. Langkah ekstensifikasi adalah mendorong penambahan
jumlah Wajib Pajak Orang Pribadi (WP OP) baru dengan berbagai program kemudahan dan

1 Dipresentasikan dalam Pertemuan Masyarakat Akuntansi Multiparadigma Nasional 4


(TEMAN 4) pada tanggal 15 April 2016 di Jakarta.

1
keuntungan mendapatkan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), dan obyek pajak baru
(Prasetyo, 2011).
Kepatuhan WP OP di bidang perpajakan ditunjang dengan peran aktif dan
pemahaman hak serta kewajiban berdasarkan peraturan perpajakan. Mengapa demikian?
Karena sejalan dengan sistem self assessment. Sistem ini menuntut peran aktif WP OP
dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. Namun dalam prakteknya menurut Burton
(2001; 2009:23) dinyatakan bahwa masih dijumpai adanya tunggakan pajak sebagai akibat
tidak dilunasinya utang pajak. Hal ini menurut Beliau terjadi karena 2 (dua) hal; (1) Wajib
pajak tidak puas terhadap hasil pemeriksaan fiskus, sedangkan ketetapan pajak telah
diterbitkan, akibatnya wajib pajak tidak mengindahkan ketetapan tersebut. Pemeriksaan
seperti ini menimbulkan permasalahan pula dalam penagihannya, dan (2) Akibat kondisi
ekonomi yang tidak mendukung usaha Wajib Pajak (WP), mereka lebih mementingkan
pembayaran lainnya dari pada melunasi utang pajak.
Kepatuhan WP membayar utang pajak merupakan posisi strategis peningkatan
penerimaan pajak (Lev, 2000; Guther dan Sansing, 2004; Lev dan Nissim, 2004). Kondisi ini
membuat upaya pengkajian faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan WP perlu
mendapat perhatian. Kepatuhan WP menjadi prioritas pelaksanaan self assessment, maka
diperlukan tindakan penagihan pajak yang konsisten dan berkesinambungan sebagai
wujud law enforcement (Sidik, 2004; Mutiah, Harwida dan Kurniawan, 2011). Perwujudan
law enforcement sebagaimana merujuk penjelasan pada Undang-Undang Penagihan Pajak
dengan Surat Paksa (UU PPSP) No. 19 Tahun 2000 merupakan sarana untuk
meningkatkan kepatuhan sekaligus menimbulkan aspek psikologis WP untuk disiplin, taat
dan tertib membayar pajak.
Berdasarkan kajian di atas maka penelitian ini membahas upaya hubungan
penerbitan Surat Tagihan Pajak (STP) dan tindakan penagihan dengan tingkat pelunasan
kewajiban perpajakan Wajib Pajak atau Penanggung Pajak Orang Pribadi (WP atau PP OP)
studi kasus WP atau PP OP di Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Denpasar Timur.
Hasil penelitian yang memberikan kontribusi bahwa melalui penerbitan STP, dapat
digunakan sebagai langkah yang efektif menstimulus kemauan WP atau PP OP melunasi
tunggakan pajaknya, sehingga kesadaran dan kepatuhannya dapat terwujud.
Perhatian utama penelitian ini adalah difokuskan pada tingkat pelunasan kewajiban
perpajakan yang didasarkan penerbitan SPT dan tindakan penagihan pajak berupa
penerbitan Surat Teguran (ST) dan penyampaian Surat Paksa (SP) dengan tingkat
pelunasan kewajiban perpajakan WP atau PP OP antara rentang tahun pajak 2011 sampai
2014. Penerbitan STP dalam penelitian ini disebabkan oleh 3 (tiga) hal, yaitu keterlambatan
di dalam menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa dan SPT Tahunan, kekurangan
pembayaran pajak yang disebabkan kesalahan WP atau PP OP di dalam menulis atau
menghitung jumlah pajak yang telah dilaporkan, dan kesalahan yang dilakukan oleh WP
atau PP OP dengan tidak membayar Pajak Penghasilan (PPh) dalam tahun berjalan dan
juga melaporkan jumlah PPh dalam tahun berjalan yang tidak sesuai, sehingga berakibat
jumlah PPh yang dibayar kurang dari yang seharusnya.
Pengertian antara Wajib Pajak dan Penanggung Pajak Orang Pribadi mempunyai
pengertian yang berbeda. Pengertian Wajib Pajak Orang Pribadi (WP OP) menurut Undang-
Undang No. 19 Tahun 1997 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Undang-Undang
No. 19 Tahun 2000 Tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa (PPSP) Pasal 1 sub (2),
menjelaskan bahwa Wajib Pajak adalah “orang pribadi yang menurut peraturan perundang-
undangan perpajakan ditentukan untuk melakukan kewajiban perpajakan, termasuk
pemungutan pajak untuk pemotong pajak tertentu” (sesuai juga dalam Pasal 1 sub (2)
Undang-undang No. 16 Tahun 2009 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
(KUP)). Sedangkan pengertian Penanggung Pajak Orang Pribadi (PP OP) menurut Undang-
Undang PPSP Pasal 1 sub (3), menjelaskan bahwa Penanggung Pajak adalah “orang pribadi
yang bertanggung jawab atas pembayaran pajak, termasuk wakil yang menjalankan hak
dan memenuhi kewajiban Wajib Pajak menurut peraturan perundang-undangan
perpajakan” (sesuai juga dalam Pasal 1 sub (28) Undang-Undang KUP).
Berdasarkan definisi tersebut menunjukkan pengertian PP OP lebih luas daripada
WP OP. WP OP adalah orang pribadi yang namanya tercantum dalam Surat Ketetapan
Pajak (SKP), sedang PP OP merupakan orang pribadi yang bertanggung jawab atas
pembayaran pajak, artinya yang bertanggung jawab atas kekurangan pelunasan pajak
tidak hanya WP yang bersangkutan saja namun dapat saja orang lain. Tegasnya selain yang

2
tercantum namanya pada SKP, dapat pula ditunjuk PP lainnya yang ditetapkan Undang-
Undang Perpajakan sebagai penanggung jawab pembayaran pajak (misal; istri, anaknya
yang sudah dewasa, atau keluarga lainnya). Pengertian PP ini harus dimengerti benar-
benar oleh petugas pajak, sehingga apabila Surat Tagihan Pajak (STP) yang telah dikirim
kepada WP dikembalikan dengan alasan WP yang bersangkutan tidak ada (pergi), maka
petugas pajak dapat memberikan penjelasan bahwa selain WP yang tersebut dalam SKP
masih ada orang lain yang juga harus bertanggung jawab terhadap pelunasan pembayaran
pajak tersebut.
Pengertian STP menurut Undang-Undang KUP Pasal 1 ayat 20 adalah surat untuk
melakukan tagihan pajak dan atau sanksi administrasi berupa bunga dan atau denda.
Kebijakan mengenai penagihan pajak ini sebagaimana termaktub dalam Peraturan Menteri
Keuangan Republik Indonesia Nomor 24/PMK.03/2008 tentang Tata Cara Pelaksanaan
Penagihan dengan Surat Paksa dan Pelaksanaan Penagihan Seketika dan Sekaligus, serta
Surat Edaran Direktorat Jenderal Pajak Nomor 03/PJ.04/2009 Tentang Kebijakan
Penagihan Pajak mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan Surat Ketetapan Pajak
(SKP), sehingga dalam penagihannya dapat juga dilakukan dengan Surat Paksa (SP).
Fungsi STP tersebut untuk mengkoreksi jumlah pajak yang terutang menurut SPT
WP, sarana mengenakan sanksi administrasi berupa bunga atau denda, dan alat untuk
menagih pajak. Lebih lanjut, berdasarkan fungsinya ini STP dikeluarkan apabila; PPh
dalam tahun berjalan tidak atau kurang bayar, hasil penelitian SPT terdapat kekurangan
pembayaran pajak sebagai akibat salah tulis dan atau salah hitung, dan WP dikenakan
sanksi administrasi berupa denda dan atau bunga.
Penerbitan STP merupakan dasar tindakan penagihan pajak. Tindakan penagihan
ini sebagai salah satu bagian dalam kerangka sistem pelaksanaan UU pajak. Tujuannya
adalah penerimaan pajak bisa tercapai dan berjalan dengan baik. Oleh karena itu, WP atau
PP OP wajib berperan aktif sesuai sistem self assesement yang dianut UU. Kondisi ideal
tersebut ternyata tidak sepenuhnya berjalan baik, artinya masih cukup banyak WP yang
selalu berusaha menghindari pajak (Burton, 2009; Rusydi, 2013).
Dasar hukum jadwal pelaksanaan penagihan pajak mendasarkan Undang-Undang
Penagihan Pajak dengan Surat Paksa (UU PPSP). Di samping itu, terdapat peraturan
pelaksanaan dalam Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor: SE-13/PJ.75/1998
tanggal 20 November 1998 tentang Jadwal Waktu Pelaksanaan Penagihan Pajak dan hingga
saat ini surat edaran tersebut masih sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam UU.
Jadwal waktu pelaksanaan penagihan aktif yang dilakukan oleh DJP ditentukan secara
berurutan sebagai berikut:
 Penerbitan Surat Teguran (ST) sebagai awal tindakan pelaksanaan penagihan pajak
dilakukan segera setelah tujuh hari sejak jatuh tempo pembayaran,
 Apabila jumlah utang pajak yang masih harus dibayar tidak dilunasi oleh penanggung
pajak setelah lewat waktu 21 hari sejak diterbitkan Surat Teguran, maka pejabat segera
menerbitkan Surat Paksa (SP),
 Apabila jumlah utang pajak yang masih harus dibayar tidak dilunasi oleh penanggung
pajak setelah lewat waktu dua kali 24 jam sejak Surat Paksa diberlakukan kepadanya,
maka pejabat segera menerbitkan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan (SPMP),
 Jika utang pajak dan biaya penagihan yang masih harus dibayar tidak dilunasi oleh
penanggung pajak setelah lewat waktu 14 hari sejak tanggal pelaksanaan penyitaan,
maka pejabat segera melakukan pengumuman lelang,
 Pejabat segera melakukan penjualan barang sitaan penanggung pajak melalui kantor
lelang apabila utang pajak dan biaya penagihan yang masih harus dibayar tidak dilunasi
oleh penangggung pajak setelah lewat waktu 14 hari sejak tanggal pengumuman lelang,
dan
 Terhadap penanggung pajak dapat dilakukan Penagihan Seketika dan Sekaligus, dan
kepada penanggung pajak yang bersangkutan dapat diterbitkan Surat Paksa tanpa
menunggu tenggang waktu 21 hari sejak Surat Teguran diterbitkan.
Kurniawan dan Pamungkas (2006:68) menjelaskan bahwa jangka waktu penagihan
pajak secara berurutan merupakan jangka waktu minimal, artinya pelaksanaan penagihan
dari satu tahapan ke tahapan lain baru dapat dilaksanakan, apabila telah mencapai waktu
minimal yang ditentukan atau paling cepat yang ditentukan dalam undang-undang
peraturan pelaksanaan sebagaimana tersebut sebelumnya. Ketentuan ini menurut Lubis

3
(2007) dinyatakan bahwa tahapan penagihan pajak dapat dilaksanakan sepanjang belum
daluwarsa.

METODE
Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan pendekatan kasus. Pendekatan ini
bertujuan untuk menyelidiki fenomena secara mendalam dalam konteks nyata sebuah
organisasi, dengan batas-batas antara fenomena dan konteks dengan tegas, dan dimana
multi sumber bukti dimanfaatkan, untuk mencapai pemecahan masalah yang diharapkan
(Sekaran dan Bougie, 2010:121). Oleh Karena itu, penelitian ini mengkaji hubungan
penerbitan Surat Tagihan Pajak (STP) dan tindakan penagihan yang berupa penerbitan
Surat Teguran (ST) dan penyampaian Surat Paksa (SP) kepada Wajib Pajak atau
Penanggung Pajak Orang Pribadi (WP atau PP OP) dengan tingkat pelunasan kewajiban
perpajakan.
Lebih lanjut, penelitian ini difokuskan pada penerbitan STP, ST, dan SP KPP
Pratama Denpasar Timur antara tahun pajak 2011 sampai 2014, dengan jangka waktu
penelitian sampai 31 Agustus 2015. Langkah-langkah yang dilakukan dalam analisis
penelitian ini:
 Mengumpulkan data penelitian berupa penerbitan STP sebelum dilaksanakannya
tindakan penagihan, yaitu ST dan SP antara tahun pajak 2011 sampai 2014 bagi WP
atau PP OP,
 Melakukan wawancara dengan pihak-pihak yang terkait mengenai proses penerbitan STP
dan tindakan penagihan yang dilakukan dalam upaya pelunasan hutang pajak dari WP
atau PP OP,
 Mengolah data yang diperoleh dengan menganalisis respon WP atau PP OP untuk
melunasi kewajiban perpajakannya, yaitu setelah diterbitkannya STP sebelum
dilaksanakannya tindakan penagihan berupa ST dan SP, dan
 Melakukan pembahasan terhadap hasil analisis data agar didapatkan simpulan yang
tepat terhadap respon masing-masing WP atau PP OP dalam menyikapi tahapan
penerbitan STP, ST dan SP.

Analisis Data
Analisis penelitian didasarkan pada fokus sampel 38 WP atau PP OP (nama tidak
disebutkan). Jumlah sampel 38 ditentukan menurut kriteria tertentu adalah menerima STP
secara berkesinambungan selama minimal 2 (dua) tahun antara tahun pajak 2011 sampai
2014 dan belum dilaksanakan Surat Perintah Melaksanakan Penyitaan (SPMP), data tahun
pajak 2011 dijadikan dasar melihat respon WP atau PP OP atas tunggakan, dan data tahun
pajak 2014 merupakan hasil evaluasi. Pelaksanaan penelitian ini sebagai berikut:
Langkah Pertama; jumlah lembar STP PPh Orang Pribadi yang telah dikeluarkan oleh KPP
Pratama Denpasar Timur dalam empat tahun pajak (2011, 2012, 2013, 2014) atas 38
sampel WP atau PP OP, yaitu tahun pajak 2011 sebanyak 38, tahun pajak 2012 sebanyak
34, tahun pajak 2013 sebanyak 4, dan tahun pajak 2014 sebanyak 2 (uraian lengkap
sesuai dengan Lampiran 1). Berdasarkan jumlah STP tersebut digunakan untuk
menjelaskan, bahwa sebagian besar dari fokus sampel WP atau PP OP yang digunakan
sebagai obyek penelitian menerima penerbitan STP dikarenakan 3 hal, yaitu; (1)
keterlambatan di dalam menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT) Masa dan SPT
Tahunan, sehingga WP atau PP OP dikenakan sanksi administrasi berupa denda atas
keterlambatan, (2) kekurangan pembayaran pajak yang diketahui dari hasil audit atau
penelitian kembali dari SPT yang dilaksanakan oleh Seksi Pengawasan dan Konsultasi
diakibatkan kesalahan WP atau PP OP dalam menulis atau menghitung jumlah pajak yang
dilaporkan oleh WP atau PP OP kepada KPP Pratama Denpasar Timur, (3) kesalahan yang
dilakukan oleh WP atau PP OP sendiri dengan tidak membayar Pajak Penghasilan (PPh)
dalam tahun berjalan, dan juga WP atau PP OP melaporkan jumlah PPh dalam tahun
berjalan tidak sesuai, sehingga berakibat jumlah PPh yang harus dibayar kurang.
Langkah Kedua; jumlah lembar Surat Teguran (ST) bagi 38 Wajib Pajak atau Penanggung
Pajak Orang Pribadi (WP atau PP OP) yang telah dikeluarkan sebagai tindak lanjut dari
penerbitan STP, dan tindakan awal pelaksanaan penagihan oleh KPP Pratama Denpasar
Timur dalam 4 (empat) tahun pajak (2011, 2012, 2013, 2014), yaitu tahun pajak 2011
sebanyak 32, tahun pajak 2012 sebanyak 26, tahun pajak 2013 sebanyak 3, dan tahun
pajak 2014 sebanyak 0 (uraian lengkap sesuai dengan Lampiran 2).

4
Berdasarkan kedua langkah penelitian di atas menunjukkan penerbitan Surat
Tagihan Pajak (STP) mengalami penurunan, bahkan di antara tahun pajak 2012-2013
penurunan mencapai 88,23% (persen). Dalam penelitian ini data pada tahun pajak 2014
digunakan sebagai bahan evaluasi dengan cara melihat penerbitan STP dari tahun-tahun
sebelumnya. Hasilnya menunjukkan penurunan jumlah penerbitan STP dari tahun ke
tahun, bahkan pada tahun pajak 2014 hanya ada 2 STP, maka tingkat respon WP atau PP
OP menunjukkan perkembangan yang baik.
Penurunan penerbitan ST pada tahun pajak 2012-2013 mencapai 88,46% (persen),
bahkan di tahun pajak 2014 tidak ada penerbitan ST. Penerbitan ST ini digunakan sebagai
dasar pelaksanaan tindakan penagihan selanjutnya berupa penyampaian Surat Paksa (SP)
setelah lewat 21 (dua puluh satu) hari sejak diterbitkannya ST.
Langkah Ketiga; jumlah lembar Surat Paksa (SP) WP atau PP OP yang telah dikeluarkan
sebagai tindak lanjut dari ST oleh KPP Pratama Denpasar Timur dalam empat tahun pajak
(2011, 2012, 2013, 2014), yaitu tahun pajak 2011 sebanyak 2, tahun pajak 2012 sebanyak
2, tahun pajak 2013 dan 2014 sebanyak 0 (uraian lengkap sesuai dengan Lampiran 3).
Penerbitan dan penyampaian SP dari tahun pajak 2011 sampai 2014 menunjukkan jumlah
yang kecil bila dibandingkan ST. Penurunan ini apabila diprosentasekan mencapai 93,02%
(persen), bahkan pada tahun pajak 2013 terdapat tiga orang WP atau PP OP yang
mendapatkan ST merespon dengan melunasi hutang pajaknya.
Berdasarkan data yang telah disajikan tersebut menunjukkan WP atau PP OP KPP
Pratama Denpasar Timur membutuhkan waktu lebih dari dua tahun untuk memahami
peraturan perpajakan, serta mempunyai kesadaran dan kepatuhan untuk melaksanakan
pelunasan kewajiban perpajakannya. Inilah dasar ilmiah penelitian ini untuk menentukan
tahun pajak 2014 dijadikan sebagai bahan evaluasi, karena untuk melihat kesadaran dan
kepatuhan WP atau PP OP dalam memenuhi pelunasan kewajiban perpajakan di KPP
Pratama Denpasar Timur membutuhkan analisis dari tahun-tahun sebelumnya (dalam
penelitian ini tahun pajak 2011 sampai tahun pajak 2014).

HASIL DAN PEMBAHASAN


Evaluasi penerbitan STP harus diperhatikan dari penerimaan SPT Masa dan
Tahunan Pajak Penghasilan (PPh) WP atau PP OP. Mengapa demikian? Karena SPT Masa
dan Tahunan merupakan dasar pemeriksaan Seksi Pengawasan dan Konsultasi KPP
Pratama Denpasar Timur untuk menerbitkan STP. Perbandingan penerimaan
menunjukkan sampai tahun pajak 2014 jumlah SPT Masa sebanyak 38.361 lembar dan
SPT Tahunan sebanyak 28.686 lembar. Berdasarkan jumlah SPT tersebut diketahui bahwa
tingkat kesadaran WP atau PP OP dalam melaporkan SPT terlihat baik, walaupun ada saja
WP atau PP OP yang lalai atau dengan sengaja tidak melaporkan SPT Masa dan Tahunan.
Perhatian data SPT ini untuk menerbitkan STP (sesuai Lampiran 1) menunjukkan
bahwa 38 WP atau PP OP. Jumlah ini merupakan obyek penelitian. Berdasarkan obyek
penelitian timbulnya penerbitan STP dikarenakan 3 (tiga) faktor adalah:
1. Keterlambatan atau tidak menyampaikan SPT Masa dan Tahunan
Kondisi ini dikarenakan WP atau PP OP mempunyai kesibukan di dalam
pekerjaannya, akibatnya WP atau PP OP tidak dapat melaporkan jumlah pajaknya secara
tepat waktu. Di samping itu, faktor diri pribadi WP atau PP OP mempunyai rasa malas
untuk mempelajari peraturan perpajakan dan kewajibannya membayar pajak, menunda
pembayaran, serta keengganan untuk mengambil sendiri formulir SPT ke KPP Pratama
Denpasar Timur menunggu adanya pengiriman SPT dari KPP.
Timbulnya permasalahan tersebut memerlukan tindakan penyuluhan kepada WP
atau PP OP antara lain melalui surat, telepon, radio, televisi, simulasi, lokakarya, pameran,
penataran, seminar, pengarahan, pendidikan dan pelatihan. Tindakan penyuluhan ini
selaras dengan hasil penelitian Siregar, Saryadi, dan Listyorini (2012), Yulianto (2009),
Handayani (2008), Witono (2008) serta Mustikasari (2007). Mereka menyatakan bahwa
penyuluhan bertujuan untuk mengurangi WP yang tidak memahami kewajiban
perpajakannya dan selalu mengingatkan adanya sanksi (law enforcement) keterlambatan
dengan harapan tidak melakukan keterlambatan penyampaian SPT berikutnya.
Keterlambatan ini membuat jumlah pajak yang harus ditanggung bertambah, yaitu pajak
terutang dan sanksi denda.

5
2. Kekurangan pembayaran pajak yang diketahui dari hasil audit atau penelitian kembali
SPT oleh Seksi Pengawasan dan Konsultasi yang diakibatkan kesalahan WP atau PP OP
di dalam menulis atau menghitung jumlah pajak yang telah dilaporkan
Seksi Pengawasan dan Konsultasi memproses SPT yang telah dilaporkan oleh WP
atau PP OP sebagai dasar penelitian dan pemeriksaan. Tindakan ini merupakan fungsi
kontrol pengisian SPT sebagai perwujudan dari self assessment system. Self assessment
memberikan kewenangan dan kepercayaan kepada WP atau PP OP untuk menghitung,
memperhitungkan dan melaporkan sendiri pajaknya. Sistem ini mengharapkan adanya
kesadaran dan peran aktif dalam pembayaran, artinya memberi konsekuensi kepada WP
atau PP OP untuk mengetahui tata cara perhitungan pajak dan segala sesuatu yang
berhubungan dengan pelunasan pajak, seperti kapan harus dibayar, kepada siapa pajak
harus dibayarkan dan sanksi apa yang dijatuhkan jika salah perhitungan, lupa, dan
melanggar ketetapan pajak.
Pelaksanaan sistem self assessment tersebut tidak akan berhasil apabila tidak
selaras dengan sikap keterbukaan dan kejujuran WP atau PP OP. Mengapa demikian?
Karena keterbukaan dan kejujuran menentukan kepatuhan dalam pembayaran pajak.
Hasilnya, kesadaran melaksanakan kewajiban perpajakannya (tax compliance) dengan
benar.
Kondisi tersebut merujuk pada kejadian yaitu WP atau PP OP sering tidak
menuliskan kewajiban pajak yang harus dilaporkan dan dibayar dengan jujur, sesuai
dengan penghasilan dan keadaan sebenarnya. Karena memang pada hakikatnya membayar
pajak merupakan hal yang tidak diminati. Padahal tindakan tersebut menimbulkan
kerugian bagi dirinya sendiri, sesuai yang tertuang pada Undang-Undang KUP Pasal 14
ayat (3) bahwa:
“Jumlah kekurangan pajak yang terutang dalam Surat Tagihan Pajak
ditambah dengan sanksi administrasi berupa bunga sebesar 2% (dua
persen) per bulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan,
dihitung sejak saat terutangnya masa pajak atau berakhirnya Masa
Pajak, bagian Tahun Pajak, atau Tahun Pajak sampai diterbitkannya
Surat Tagihan Pajak”.

Namun yang menjadi hasil penelitian ini adalah untuk menunjukkan terdapatnya
kesadaran untuk melaporkan jumlah pajak terutang namun belum sesuai atau kejujuran
masih rendah, sehingga perlunya dilaksanakan dan diterapkannya sanksi sebagai wujud
dari law enforcement. Sanksi ini untuk memberikan hukuman dan shock therapy dalam
setiap penyimpangan, juga dorongan untuk memahami undang-undang. Pemahaman
undang-undang ini mempengaruhi tingkat kepatuhan dan berbanding lurus dengan tingkat
pendidikan, sehingga diperlukan penyampaian yang mudah diterima melalui penyuluhan
secara lisan dan adanya informasi-informasi yang mudah didapatkan serta gratis (angket
dan brosur).
Semakin besar kontribusi WP atau PP OP terhadap kepatuhan di dalam memenuhi
kewajiban perpajakannya menciptakan kekritisan WP atau PP OP. Kekritisan disini
dipahami sebagai unsur pengorbanan tidak bisa begitu saja diabaikan bila dikaitkan
dengan kebijakan pengelolaan keuangan penerimaan pajak, oleh karena itu mengharapkan
transparansi kebijakan, artinya yang diketahui bukan sekedar akibat namun juga latar
belakang dan muatan kebijakan itu sendiri. Di samping itu perlu diperhatikan mutu
pelayanan KPP Pratama Denpasar Timur yaitu diharapkan berorientasi kepada WP atau PP
OP, karena merekalah pembayar pajak (tax payer). Dengan orientasi ini diharapkan lebih
mengefektifkan penerapan kewajiban perpajakan.
3. Kesalahan yang dilakukan oleh WP atau PP OP sendiri dengan tidak membayar dan
melaporkan jumlah PPh yang tidak sesuai dalam tahun berjalan, sehingga berakibat
jumlah pajak terutang kurang dari yang seharusnya
Persepsi untuk tidak membayar pajak atau membayar pajak melalui Surat
Pemberitahuan (SPT) yang tidak sesuai ini timbul pada diri WP atau PP OP. Mengapa
demikian? Karena kemungkinan terdapat peluang (loophole) yang terletak pada hukum dan
peraturan serta pelaksanaannya, sehingga menciptakan perasaan dalam diri WP atau PP
untuk tidak malu dan salah bila ketahuan belum membayar pajak, dan presepsi sendiri
berapa besar probability kesempatan menghindar kewajiban membayar pajak baik dengan
cara radikal atau smooth.

6
Untuk mencegah kondisi tersebut peranan sanksi hukum sangat menentukan.
Pedoman ini digunakan oleh KPP Pratama Denpasar Timur dalam gerakan penyampaian
SPT. Sejak diberlakukannya Undang-Undang No. 16 Tahun 2009 Tentang KUP, nampaknya
sanksi yang diterapkan tidak lagi bersifat alternatif akan tetapi telah bersifat kumulatif,
artinya berupa gabungan antara sanksi administrasi dan sanksi pidana. Pasal 38 dan Pasal
39 KUP menyebutkan dengan jelas adanya 2 (dua) macam sanksi yaitu; Pertama, karena
tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan (SPT), dan Kedua, karena menyampaikan SPT
tetapi isinya tidak benar atau tidak lengkap, atau melampirkan keterangan yang isinya
tidak benar di denda paling sedikit 1 (satu) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau
kurang di bayar dan paling banyak 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau
kurang di bayar, atau di pidana kurungan paling singkat 3 (tiga) bulan atau paling lama 1
(satu) tahun. Sedangkan kesalahan yang dilakukan secara sengaja, seperti pada Pasal 39
yaitu di pidana dengan pidana penjara paling singkat 6 (enam) bulan dan paling lama 6
(enam) tahun, denda paling sedikit 2 (dua) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau
kurang dibayar, serta paling banyak 4 (empat) kali jumlah pajak terutang yang tidak atau
kurang bayar.
Peraturan ini menjadikan KPP Pratama Denpasar Timur tidak ragu-ragu di dalam
menerapkan sanksi yang bersifat kumulatif tersebut terhadap WP atau PP OP yang
“bandel”. Namun demikian ketentuan sanksi dalam undang-undang sebenarnya hanya
merupakan pengawasan saja, dan tidak bermaksud memberikan ancaman. Kondisi ini
dapat digunakan sebagai strategi langkah mendatang, yaitu di samping memungut pajak
juga mempunyai tugas untuk membina dan mendidik mentalitas. Strategi untuk
memberikan kesadaran bahwa membayar pajak bukan satu keterpaksaan, sehingga
peranan penyuluhan dan pelayanan aparat pajak, mulai orang pribadi mendaftarkan diri
sampai melunasi tunggakan pajaknya harus menjadi suatu sistem yang menyeluruh
(holistik), dan cara memandang, tekanan suara, tata krama, kesopanan serta kecepatan
menanggapi keluhan menjadi prioritas utama. Mengapa sangat ditekankan? Karena cara ini
berdampak pada psikologis WP atau PP OP untuk membayar pajak sesuai dengan
ketentuan.

PEMBAHASAN
Evaluasi Hubungan Penerbitan STP dan Tindakan Penagihan Terhadap Kepatuhan
Tingkat Pelunasan Kewajiban Perpajakan Bagi WP atau PP OP Di KPP Pratama
Denpasar Timur
Pembahasan untuk mengetahui pengaruh penerbitan STP terhadap diri WP atau PP
OP di dalam kepatuhannya untuk memenuhi kewajiban perpajakannya, maka langkah
yang digunakan adalah berhubungan dengan tindakan penagihan. Mengapa demkian?
Karena apabila jumlah tagihan pajak yang telah ditentukan dalam tindasan STP tidak
dibayar pada hari pelunasan terakhir atau tanggal jatuh tempo pembayaran, maka
dilakukan tindakan penagihan (sesuai lembar kedua STP). Kondisi ini merupakan indikasi
WP atau PP OP belum patuh untuk memenuhi kewajiban perpajakannya, dan sebagai
tindak lanjut dilakukan tindakan penagihan mulai dari Surat Tegoran (ST) sampai
pelelangan. Namun, penelitian ini membatasi sampai penerbitan Surat Paksa (SP), karena
didasarkan jangka waktu antara timbulnya STP sampai penerbitan SP relatif lama (hampir
2 bulan), sehingga ada kesempatan WP atau PP OP untuk memenuhi kewajiban
perpajakannya, dan penyuluhan aparat pajak baik lisan dan tulis mengingatkan untuk
memenuhi kewajiban perpajakannya. Oleh karena itu penelitian ini difokuskan pada
penerbitan STP dan tindakan penagihan melalui surat ST dan SP dari tahun ke tahun
selama tahun pajak yang diteliti secara berkesinambungan minimal 2 (dua) tahun yaitu
dari tahun pajak 2011 sampai 2014, dan belum dilaksanakan Surat Perintah
Melaksanakan Penyitaan (SPMP).
Data pelaksanaan tindakan penagihan berupa ST dan SP sebagai tindak lanjut
penerbitan STP (Lampiran 1) menunjukkan bagaimana respon setiap WP atau PP OP
menanggapi STP sebelum jatuh tempo dan pelaksanaan tindakan penagihan. Kondisi ini
berhubungan dengan tingkat kepatuhan WP atau PP OP tersebut dalam memenuhi
kewajiban perpajakannya. Penurunan jumlah STP, ST dan SP merupakan indikator
kesadaran dan kepatuhan. Indikator yang dalam penelitian ini memberikan hasil baik
sampai pada akhir tahun pajak penelitian. Namun, jika dianalisis lebih lanjut hanya ada 2
WP atau PP OP dari 38 sampel yang sadar dan patuh untuk merespon langsung penerbitan

7
STP dengan melunasi tunggakannya sebelum tanggal jatuh temponya, sehingga tidak perlu
dilaksanakan tindakan penagihan berupa penerbitan ST dan penyampaian SP, atau setara
dengan 5,26% (persen). Kondisi ini menunjukkan indikasi bahwa WP atau PP OP tersebut
sadar akan kewajibannya, sedangkan 36 lainnya ditindak lanjuti dengan penerbitan ST dan
SP.
Lebih lanjut berdasarkan hasil tahun-tahun penelitian menunjukkan kesadaran WP
atau PP OP dan tindak lanjut tindakan penagihan mempunyai peranan efektif mewujudkan
kepatuhan membayar pajak, sekaligus pula pengaruh positif atau negatif penerbitan STP
dengan pelaksanaan tindakan penagihan. Pembuktian ini didasarkan dengan melakukan
perbandingan antara selisih (baik penurunan dan atau peningkatan) jumlah STP dengan
jumlah ST dan SP. Hasil perbandingan ini adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Selisih Dari Total STP dan ST, SP
Jenis 2011 2012 Selisih
Total STP 38 34 (4)
Total ST, SP 34 28 (6)
2012 2013 Selisih
Total STP 34 4 (30)
Total ST, SP 28 3 (25)
2013 2014 Selisih
Total STP 4 2 (2)
Total ST, SP 3 0 (3)
Keterangan:
Untuk mencari selisih tindakan penagihan (ST dan SP) adalah membandingkan antara
jumlah setiap tahun yang digunakan penelitian (total surat berasal dari Lampiran 1
Pelaksanaan Penerbitan STP PPh Orang Pribadi dan Tindak Lanjut Penerbitan STP PPh
Orang Pribadi).

Tabel 1 di atas menunjukkan hubungan STP terhadap tingkat pelunasan kewajiban


perpajakan, artinya penurunan penerbitan STP berpengaruh pula terhadap tindakan
penagihan berupa penerbitan ST dan penyampaian SP. Kondisi ini membuktikan bahwa
pelaksanaan penerbitan STP menumbuhkan kesadaran WP atau PP OP segera melunasi
jumlah pajak terutang sebelum tanggal jatuh tempo pembayaran menurut tindasan STP,
sehingga tidak dilanjutkan dengan tindakan penagihan. Selanjutnya, tindak lanjut STP
yaitu penerbitan ST dan penyampaian SP dari tahun-tahun penelitian mengalami
penurunan (bahkan tahun pajak 2014 sebesar 0 (nol)) dibandingkan dengan penerbitan
STP, hal ini menunjukkan bahwa pelaksanaan tindakan penagihan sangat sedikit
dibandingkan jumlah penerbitan STP. Kondisi ini menunjukkan kesadaran WP atau PP OP
di KPP Pratama Denpasar Timur untuk segera melunasi kewajiban perpajakannya setelah
dikeluarkan STP terbukti, dan pengaruh tindak lanjut dari ST dan SP lebih meningkatkan
kesadaran untuk memenuhi kewajiban perpajakannya.
Lebih lanjut, berdasarkan data selisih tersebut dapat diketahui pula rata-rata
peningkatannya. Rata-rata yang dihitung dengan menggunakan formula sebagaimana
dinyatakan Barrow (2002:129) adalah:
X
X=
n

Keterangan:
X : Rata-rata selisih
X : Jumlah selisih surat dari tahun ke tahun
n : Jumlah tahun penelitian
1. Rata-rata selisih jumlah Surat Tagihan Pajak (STP)
X
X=
n
36
=
4

X=9
2. Rata-rata selisih jumlah Surat Tegoran (ST) dan Surat Paksa (SP)

8
X
X=
n
34
=
4

X = 8,5
Hasil perhitungan menunjukkan perbandingan antara jumlah penerbitan STP yang
lebih besar jumlahnya dibandingkan dengan jumlah ST dan SP. Kondisi ini membuktikan
bahwa tingkat kesadaran pelunasan kewajiban perpajakan WP atau PP OP di KPP Pratama
Denpasar Timur terhadap penerbitan STP berpengaruh di dalam hubungannya dengan
tingkat pelunasan kewajiban perpajakannya, sehingga tindakan penagihan berupa
penerbitan ST dan penyampaian SP jumlahnya sedikit.
Penerbitan STP sampai ditindak lanjuti dengan ST dan SP menimbulkan pula
dampak pada WP atau PP OP dan petugas pajak (fiskus) yang bersangkutan. Dampak bagi
WP atau PP OP adalah sebagai berikut:
1. Dampak Positif
Penerbitan STP ini membuat sadar, karena kalau tidak berdampak jumlah pajak
terutang bertambah dan akan dilakukan tindakan penagihan, sehingga kewajiban
bertambah
2. Dampak Negatif
Penerbitan STP ini memperlihatkan kesadaran yang rendah terhadap pentingnya
pelunasan kewajiban perpajakan, dan kurang atau tidak memahami peraturan perundang-
undangan perpajakan yang berlaku sehingga tidak mengetahui apa yang seharusnya
menjadi hak dan kewajibannya.
Selanjutnya bagi petugas pajak juga menimbulkan dampak positif dan negatif
adalah:
1. Dampak Positif
Penerbitan STP, ST dan penyampaian SP dapat mengetahui keadaan WP atau PP OP
sebenarnya. Pengetahuan ini menjadi dasar pedoman mengapa sampai timbulnya STP, ST
dan SP tersebut.
2. Dampak Negatif
Dengan semakin meningkatnya jumlah STP, ST dan SP ini berkorelasi terhadap
semakin berat tugas dalam rangka (upaya) mewujudkan kesadaran dan kepatuhan kepada
WP atau PP OP.
Pengaruh positif dan negatif penerbitan STP, ST dan SP bagi WP atau PP OP dan
petugas pajak tersebut memberikan masukan bahwa peran aktif WP atau PP OP dalam
melaksanakan self assessment dan efektifitas petugas pajak memberikan penyuluhan,
pelayanan serta penegakan hukum sangat diharapkan. Apabila kondisi ini tercapai maka
untuk mewujudkan WP atau PP OP suatu Keluarga yang Sadar Pajak (KADARJAK) dengan
dukungan penuh petugas pajak dapat terwujud.

SIMPULAN
Simpulan Umum
Penerbitan STP berfungsi sebagai surat untuk melakukan tagihan pajak dan atau
sanksi administrasi berupa bunga dan atau denda. Penerbitan ini merujuk pada Pasal 14
ayat (1) huruf a, b dan c UU KUP, bahwa jumlah PPh dalam tahun berjalan tidak atau
kurang dibayar yang didasarkan hasil penelitian SPT terdapat kekurangan pembayaran
pajak sebagai akibat salah tulis dan atau salah hitung, maka WP atau PP OP dikenakan
sanksi administrasi berupa denda dan atau bunga.
Penerbitan STP tersebut mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan Surat
Ketetapan Pajak (SKP) di dalam unsur tindakan penagihan pajaknya (Pasal 14 ayat (2) UU
KUP). Kekuatan hukum ini mampu memberikan kepastian, kesederhanaan, dan dapat
memperjelas tentang kewajiban dan hak, serta dapat mendorong peningkatan kesadaran
dan kepatuhan WP atau PP OP dalam memenuhi kewajiban perpajakannya. Kewajiban ini
harus dibayar atau dilaporkan pada setiap bulan dan tahun melalui instrumen SPT, dan
pembayarannya melalui instrumen Surat Setoran Pajak (SSP). Penyampaian SPT dan SSP
ini mempunyai batas waktu.
Selanjutnya penerbitan STP merupakan langkah awal tindakan penagihan, artinya
apabila STP tersebut belum dibayar maka tindakan penagihan dapat dilakukan. Tindakan
penagihan dimulai dari penerbitan Surat Tegoran (ST) sampai tindakan pelelangan. Dengan

9
dilaksanakan tindakan penagihan tersebut secara langsung menunjukkan kurangnya
kesadaran dan kedisiplinan di dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya (tax
compliance), serta berakibat jumlah pajak terutang WP atau PP OP bertambah.
Simpulan Kasus
Penerbitan STP oleh Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Denpasar Timur
disebabkan oleh 3 (tiga) hal adalah:
1. Keterlambatan di dalam menyampaikan SPT Masa dan Tahunan,
2. Kekurangan pembayaran pajak yang diketahui dari hasil audit atau penelitian kembali
SPT oleh Seksi Pengawasan dan Konsultasi yang diakibatkan kesalahan WP atau PP OP
di dalam menulis atau menghitung jumlah pajak dilaporkan.
3. Kesalahan yang dilakukan oleh WP atau PP OP sendiri dengan tidak membayar dan
melaporkan jumlah PPh yang tidak sesuai dalam tahun berjalan, sehingga berakibat
jumlah pajak terutang kurang dari yang seharusnya.
Penerbitan STP dan kegiatan penagihan (sesuai lembar kedua STP) tersebut
menunjukkan indikasi WP atau PP OP belum patuh untuk memenuhi kewajiban
perpajakannya. Hasil penelitian ini menunjukkan jumlah penerbitan STP dan tindakan
penagihan yang berkurang dari tahun penelitian. Kondisi ini memberikan bukti bahwa
tingkat kesadaran WP atau PP OP pada KPP Pratama Denpasar Timur terhadap penerbitan
STP berpengaruh terhadap tingkat pelunasan kewajiban perpajakannya, dan tindakan
penagihan berupa penerbitan ST dan penyampaian SP lebih meningkatkan kesadarannya.

DAFTAR RUJUKAN
Barrow, M. 2002. Statistic For Economics Accounting And Business Studies. Fourth Edition.
Addison Wesley Longman Publishing. New York.
Burton, R. 2009. Kajian Aktual Perpajakan. Penerbit Salemba Empat. Jakarta.
Burton, R. 2001. “Memahami Masalah Penagihan Pajak”. Jurnal Perpajakan Indonesia, Vol.
1, No. 1, Agustus, hlm 73-85.
Fitriandi, P., Y. Aryanto, dan A.P. Priyono. 2010. Kompilasi Undang-Undang Perpajakan
Terlengkap Susunan Satu Naskah Per 31 Januari 2010. Penerbit Salemba Empat.
Jakarta.
Guenther, D.A., dan R.C. Sansing. 2004. “The Valuation Relevance of Reversing Deferred
Tax Liabilities”. The Accounting Review, Vol. 79, No. 2, hlm 437-451.
Handayani, D. 2008. “Analisis Hubungan Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi
dengan Penerimaan Pajak Pada Kantor Pelayanan Pajak Pekanbaru Senapelan”.
Jurnal Akuntansi Keuangan dan Bisnis, Vol. 1, No. 1, hlm 1-13.
Kurniawan, P., dan B. Pamungkas. 2006. Penagihan Pajak di Indonesia. Penerbit Bayu
Media. Malang.
Lee, C. 2000. “The Impact of Taxing Unemployment Insurance Benefits on Unemployment
Duration and Post-Unemployment Earning”. International Tax and Public Finance, 7,
hlm 521-546.
Lev, B., dan D. Nissim. 2004. “Taxable Income, Future Earnings, and Equity Values”. The
Accounting Review, Vol. 79, No. 4, hlm 1039-1074.
Lubis, I. 2007. Kesadaran Self Assessment Menuju Good Corporate Government. Majalah
Berita Pajak, No.1587:15 Mei.
Mustikasari, E. 2007. “Kajian Empiris Tentang Kepatuhan Wajib Pajak Badan Di
Perusahaan Industri Pengolahan Di Surabaya”. Makalah dalam Simposium Nasional
Akuntansi X, Universitas Hasanudin Makassar.
Mutiah, M., G.A. Harwida dan F.A. Kurniawan. 2011. “Interpretasi Pajak Dan Implikasinya
Menurut Perspektif Wajib Pajak Usaha Mikro, Kecil Dan Menengah”. Jurnal
Akuntansi Multiparadigma, Vol. 2, No. 3, hlm 418-429.
Prasetyo, W. 2011. “Pemeriksaan Pajak dan Peranannya pada Kepatuhan Wajib Pajak dan
Petugas Pajak”. Jurnal Ekonomi Akuntansi dan Manajemen, Vol. X, No. 2, hlm 21-34.
Rusydi, M.K. 2013. “Pengaruh Ukuran Perusahaan terhadap Aggressive Tax Avoidance Di
Indonesia”. Jurnal Akuntansi Multiparadigma, Vol. 4, No. 2, hlm 323-329.
Sekaran, U., dan R. Bougie. 2010. Research Methods for Business A Skill Building Approach.
Fifth Edition. John Willey & Sons Ltd. Chichester.
Sidik, M. 2004. Indonesian’s Imbalance Decentralization and Its Future Direction For A
Greater Taxing Power To Sub-National Government. Paper.

10
Siregar, Y.A., S. Saryadi, dan S. Listyorini. 2012. “Pengaruh Pelayanan Fiskus dan
Pengetahuan Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak (Studi Empiris Terhadap
Wajib Pajak di Semarang Tengah)”. Jurnal Ilmu Administrasi Bisnis, Vol. 1, No. 1,
hlm 1-9.
Suryantara, I.M. 2009. Aspek dan Potensi Perpajakan. Makalah. Kanwil Direktorat Jenderal
Pajak (DJP) Bali.
Witono, B. 2008. “Peranan Pengetahuan Pajak Pada Kepatuhan Wajib Pajak”. Jurnal
Akuntansi dan Keuangan, Vol. 7, No. 2, hlm 196-208.
Yulianto, J. 2009. “Pengaruh Implementasi Kebijakan Self Assessment terhadap Kepatuhan
Wajib Pajak Orang Pribadi di Propinsi Lampung”. Jurnal Ilmu Administrasi Negara,
Vol. 9, No. 1, hlm 1-11.

Lampiran 1:
Pelaksanaan Penerbitan STP PPh Orang Pribadi dan Tindak Lanjut Penerbitan STP PPh
Orang Pribadi
Nama Tahun Pajak Beserta Jumlah Tunggakan Pajak
WP
2011 2012 2013 2014
1. A Rp. 100.000,- Rp. 100.000,-
2. B Rp. 210.912,- Rp. 163.860,-
3. C Rp. 100.000,- Rp. 100.000,-
4. D Rp. 204.696,- Rp. 204.160,-
5. E Rp. 251.740,- Rp. 308.400,-
6. F Rp 152.500,- Rp. 50.500,-
7. G Rp. 188.304,- Rp. 201.810,-
8. H Rp. 197.040,- Rp. 100.000,-
9. I Rp. 257.250,- Rp. 100.000,-
10. J Rp. 165.600,- Rp. 100.000,-
11. K Rp. 150.000,- Rp. 100.000,-
12. L Rp. 149.062,- Rp. 100.892,-
13.M Rp. 154.620,- Rp. 100.000,-
14. N Rp. 235.800,- Rp. 100.000,-
15. O Rp. 56.160,- Rp. 100.000,-
16. P Rp. 166.500,- Rp. 100.000,-
17. Q Rp. 158.250,- Rp. 100.000,- Rp. 100.000,-
18. R Rp. 150.000,- Rp. 100.000,-
19. S Rp 169.080,- Rp. 300.000,-
20. T Rp. 100.000,- Rp. 100.000,-
21. U Rp. 272.616,- Rp. 279.690,-
22. V Rp. 173.420,- Rp. 100.000,- Rp. 100.000,-
23. W Rp. 156.048,- Rp. 100.000,
24. X Rp. 344.984,- Rp. 350.764,-
25. Y Rp. 478.400,- Rp. 506.352,-
26. Z Rp. 172.260,- Rp. 100.000,-
27. AA Rp. 100.000,- Rp. 150.000,-
28. BB Rp. 161.160,- Rp. 100.000,-
29. CC Rp. 100.000,- Rp. 253.000,
30. DD Rp. 304.110,- Rp. 100.000,-
31. EE Rp. 192.780,- Rp. 51.000,-
32. FF Rp. 171.840,- Rp. 151.680,-
33. GG Rp. 215.520,- Rp. 156.570,-
34. HH Rp. 231.000,- Rp. 100.000,-
35. II Rp. 178.320,- Rp. 301.200,-
36. JJ Rp. 178.826,- Rp. 159.000,-
37. KK Rp. 156.600,- Rp. 156.600,-
38. LL Rp. 100.000,- Rp. 100.000,-
Keterangan:

11
 Ditindaklanjuti dengan penerbitan Surat Tegoran
 Ditindaklanjuti dengan penyampaian Surat Paksa
Sumber: Dari Buku Pengawasan Penagihan PPh Orang Pribadi dan Sistem Informasi
Perpajakan Modifikasi (SIPMOD) Tahun Pajak 2011 sampai dengan Tahun Pajak 2014 yang
ada pada Seksi Penagihan dan Seksi Pelayanan KPP Pratama Denpasar Timur.

Lampiran 2:
Jumlah Penerbitan Surat Tegoran (ST)
Tindakan Penagihan (Per Tahun Pajak)
Jenis kegiatan
2011 2012 2013 2014
Pelaksanaan Pelaksanaan Pelaksanaan Pelaksanaan
1. Jumlah WP
yang mempunyai 38 34 4 2
tunggakan pajak
2. Penerbitan ST 32 26 3 0

Prosentase (2 : 1) 84,21% 76,47% 75% 0%


Sumber: Berdasarkan Lampiran 1: Pelaksanaan Penerbitan STP PPh Orang Pribadi

Lampiran 3:
Jumlah Penyampaian Surat Paksa
Tindakan Penagihan (Per Tahun Pajak )
Jenis kegiatan
2011 2012 2013 2014
Pelaksanaan Pelaksanaan Pelaksanaan Pelaksanaan
1. Jumlah WP yang
mempunyai 38 34 4 2
tunggakan pajak
2. Penerbitan ST 32 26 3 0

3. Penyampaian SP 2 2 0 0

Prosentase (3 : 2) 6,25% 7,69% 0% 0%


Sumber: Berdasarkan Lampiran 1: Pelaksanaan Penerbitan STP PPh Orang Pribadi

12