Anda di halaman 1dari 32

9

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Keadaan Umum Lokasi Prakrek Kerja Magang


3.1.1 Sejarah Berdirinya Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan
Hias
Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Hias Depok merupakan

Unit Pelaksana Teknis (UPT) dari Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian

di bidang penelitian dan pengembangan perikanan yang berada dibawah

koordinasi Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan. BPPBIH pada

awalnya dibawah Departemen Pertanian, setelah terjadi reformasi antara

Departemen Kelautan dengan Departemen Perikanan dan Kelautan, kedua

departemen tersebut terpisah, maka BPPBIH dikoordinasikan di bawah

Kementrian Kelautan dan Perikanan.

Sejarah berdirinya BPPBIH Depok, Jawa Barat adalah sebagai berikut:

 Tahun 1957, berfungsi sebagai Pusat Percobaan dan Balai Penelitian

Perikanan Darat, dibawah Direktur Jendral Perikanan, Departemen Pertanian.

 Tahun 1963, berfungsi sebagai Lembaga Penelitian Perikanan Darat, dibawah

Perwakilan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen

Pertanian.

 Tahun 1975, berfungsi sebagai Pusat Percobaan dan Balai Penelitian dan

Pengembangan Perikanan Darat, dibawah Perwakilan Badan Penelitian dan

Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian.

 Tahun 1980, berfungsi sebagai Balai Penelitian Perikanan Darat, Perwakilan

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian.

 Tahun 1984, berfungsi sebagai Balai Penelitian Perikanan Air Tawar,

perwakilan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen

Pertanian.
10

 Tahun 1985, berfungsi sebagai Sub Balai Penelitian Perikanan Air Tawar.

 Tahun 1995, berfungsi sebagai Instalasi Penelitian Perikanan Air Tawar.

 Tahun 2002, berfungsi sebagai Instalasi Riset Penelitian Perikanan Air Tawar,

dibawah Balai Penelitian Perikanan Air Tawar Sukamandi.

 Tahun 2003, berfungsi sebagai Instalasi Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar,

dibawah Balai Penelitian Perikanan Air Tawar Bogor, yang khusus menangani

ikan hias air tawar.

 Tahun 2004, berfungsi sebgai Instalasi Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar,

dibawah Balai Penelitian Perikanan Air Tawar Bogor, yang menangani

komoditas ikan hias air tawar dan sudah berjalan seefektif mungkin

 Tahun 2005, berfungsi sebagai Loka Riset Budidaya Ikan Hias Air Tawar

Depok, Jawa Barat.

 Tahun 2009, berfungsi sebagai Balai Riset Budidaya Ikan Hias Depok, Jawa

Barat.

 Tahun 2012, berfungsi sebagai Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya

Ikan Hias Depok, Jawa Barat.

Kantor atau gedung utama Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya

Ikan Hias Depok adalah kantor untuk mengelola kegiatan – kegiatan yang

berlangsung. Kantor tersebut juga digunakan untuk memonitoring dan

mengevaluasi kegiatan – kegiatan yang dilakukan. Kantor utama BPPBIH dapat

dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Gedung Utama BPPBIH Depok


11

3.1.2 Letak Geografis dan Keadaan Sekitar Balai

BPPBIH Depok terletak pada 106048’52,84’’BT 6024’7,15’’LS RT 01 RW 02

Kelurahan Pancoran Mas, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat. BPPBIH terletak pada

dataran rendah yang memiliki suhu 26 - 300C dan memiliki curah hujan sedang.

Lokasi ini terletak 500 m dari jalan raya atau pasar dan ± 2 km dari Sungai

Cisadane. Adapun batas-batas wilayah BPPBIH Depok yaitu :

 Sebelah Utara berbatasan dengan Pasar Depok Lama

 Sebelah Selatan berbatasan dengan Jalan Lapangan Koni

 Sebelah Timur berbatasan dengan Sungai Cisadane

 Sebelah Barat berbatasan dengan Jalan Cagar Alam

BPPBIH Depok didirikan diarea seluas 1,97 Ha, sekitar 40% dari luas areal

digunakan sebagai lokasi bangunan. Kawasan yang dibanguan pada areal tanah

ini terdiri dari bangunan seperti gedung perkantoran, hatchery (hanggar),

laboratorium kualitas air, laboratorium pakan alami, kolam tanah, kolam beton,

saluran irigasi, laboratorium nutrisi, dan gudang. Areal lainnya digunakan sebagai

lapangan olahraga, parkiran dan fasiltias lainnya. Letak bangunan tediri diatur

menurut keterkaitan fungsinya, misalnya bangunan yang berkaitan dengan usaha

pembenihan seperti tempat pemeliharaan induk, tempat pemeliharaan larva dan

tempat kultur pakan alami dibangun secara berkaitan. Hal ini bertujuan untuk

mempermudah dalam proses pembenihan.

Jarak BPPBIH Depok dari jalan raya sekitar 500 meter.Untuk mencapai

lokasi PKM dapat ditempuh dengan angkutan umum dan sepeda motor. Untuk

menuju stasiun terdekat juga dapat ditempuh dengan jalan kaki dari BPPBIH

Depok. Kondisi jalan menuju lokasi balai sudah cukup baik. Lokasi sekitar BPPBIH

juga padat penduduk, karena BPPBIH Depok berada di area perkotaan

bersebelahan dengan aliran sungai pesanggrahan dan juga stasiun kereta api.
12

3.1.3 Struktur Organisasi

BPPBIH Depok, Jawa Barat dipimpin oleh Kepala Balai yang secara

langsung membawahi beberapa koordinasi dan kelompok fungsional. Kepala Balai

bertanggung jawab untuk mengawasi pelaksanaan tugas masing-masing

bawahan dan apabila terjadi penyimpangan, Kepala Balai dapat mengambil

langkah-langkah yang diperlukan sesuai dengan peraturan perundangan yang

berlaku. Sub Tata Usaha mempunyai tugas memberikan pelayanan teknis dan

administrasi atau urusan Tata Usaha dalam lingkungan balai. Seksi Pelayanan

Teknis dan Informasi mempunyai tugas yaitu melakukan pelayanan teknis

kegiatan dalam penerapan teknis budidaya. Seksi ini mempunyai tugas melakukan

penyimpanan bahan standar teknik dan pengawasan pembenihan serta

pengelolaan jaringan informasi dan perpustakaan. Sedangkan Kelompok

Fungsional yang Seluruhnya dikepalai oleh Kepala Balai, terdiri dari peneliti-

peneliti yang bertugas melakukan berbagai kegiatan penelitian sesuai dengan

bidangnya masing-masing. Struktur organisasi pada BPPBIH terdapat pada

Gambar 3.

STRUKTUR ORGANISASI
BALAI PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN BUDIDAYA IKAN HIAS

KEPALA

Sub Bagian Tata


Usaha

Koor. Koor.
Kepegawaian Keuangan

Seksi Tata Seksi Pelayanan


Operasional Teknis

Koor. Koor. Koor. Koor. Sarana


Program Kerjasama Pelayanan Prasarana
Informasi
Gambar 3. Struktur Organisasi BPPBIH
13

3.2 Sarana dan Prasarana


3.2.1 Sarana

Sarana adalah perlengkapan yang digunakan dalam kegiatan dan suatu

usaha budidaya, berikut ini merupakan sarana yang terdepat di BPPBIH Depok.

Tempat pembenihan ikan manfish (P. scalare) berada di Hanggar 1. Gambar

Hanggar 1 dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Hanggar 1

A. Sistem Penyediaan Listrik

Sistem penyediaan listrik utama di BPPBIH Depok berasal dari Perusahaan

Listrik Negeri (PLN). Selain itu, juga terdapat tenaga listrik pengganti di BPPBIH

Depok yaitu berupa jenset dengan daya 220 Volt. Penyediaan listrik untuk kegiatan

pembenihan ikan manfish sangat berpengaruh besar. Gambar rumah listrik dan

jenset dapat dilihat pada Gambar 5.

(a) (b)
Gambar 5. (a) PLN; (b) Jenset Merk Elemax SH 6000
14

B.Sistem Penyediaan Air

Sistem penyediaan air di BPPBIH Depok dalam kegiatan pembenihan ikan

manfish (P. scalare) berasal dari air tanah yang disedot dengan pompa air

kemudian ditampung didalam bak tandon. Tandon yang digunakan yaitu

berukuran 5,86 x 5,86 x 0,97 m3 yang berjumlah 1 buah. Adapun debit air tandon

yaitu 200 ml/ detik. Air yang berasal dari tanah dilakukan proses pengendapan.

Fungsi air tandon yaitu untuk mendukung kebutuhan dalam kegiatan pembenihan

ikan manfish (P. scalare). Pompa dan tandon yang terdapat pada Hanggar 1 di

BPPBIH dapat dilihat pada Gambar 6.

(a) (b)
Gambar 6. (a) Pompa Merk Sanyo PDH 255F; (b) Tandon.

C. Sistem Aerasi

Sistem aerasi berfungsi sebagai sumber oksigen dalam akuarium. Sistem

aerasi yang digunakan dalam kegiatan pembenihan di Hanggar 1 di BPPBIH

Depok ini disuplai dengan menggunakan blower. Untuk sistem aerasi pada wadah

pembenihan ikan manfish (P. scalare) dipasang secara terpusat dengan sistem

paralel menggunakan blower dengan merk Hi-Blow HG-100 dengan daya 100-120

Volt. Blower ini mensuplai oksigen untuk beberapa akuarium yang terdapat di

Hanggar dengan menggunakan selang aerasi dan juga menggunakan pipa pvc

untuk menyalurkan pada masing-masing akuarium. Blower pada Hanggar 1 dapat

dilihat pada Gambar 7.


15

Gambar 7. Hi-Blow HG-100

D. Wadah Pembenihan

Dalam kegiatan pembenihan ikan manfish (P. scalare) menggunakan

wadah yang memiliki jenis dan spesifikasi yang beragam. Wadah yang digunakan

untuk kegiatan pembenihan terdiri dari tandon air, wadah pemeliharan induk,

wadah penetasan telur dan larva, wadah pemeliharaan benih, dan wadah kultur

pakan alami. Spesifikasi dan jumlah wadah yang digunakan pada kegiatan

pembenihan ikan red rainbow di BPPBIH Depok terdapat pada Gambar 8.

(a) (b)

(c) (d)

Gambar 8. (a) Wadah Pemeliharaan, Pemijahan dan Penetasan, (b) Wadah


Kultur Pakan Alami, (c) Substrat, (d) Tandon Air
16

4.2.2 Prasarana

Prasarana adalah sesuatu yang dapat menunjang atau mendukung

pelaksanaan kegiatan budidaya ikan. Berikut ini adalah prasarana yang terdapat

di BPPBIH Depok.

A. Jalan dan Transportasi

Keadaan jalan pada lokasi cukup baik, karena jalan menuju balai sudah di

aspal. Tetapi jalannya agak sempit jika dilalui oleh dua mobil yang saling

berpapasan. Jalan ini juga cukup ramai dilalui oleh pengendara motor karena jalan

ini merupakan salah satu jalan alternative menuju Stasiun Depok yang jaraknya

sekitar 700 meter dari balai. Transportasi untuk menuju lokasi menggunakan jalur

darat. Dapat menggunakan angkot, kereta dan ojek.

Hanggar 1 terletak di belakang kantor BPPBIH Depok, untuk menuju ke

Hanggar 1 harus melewati kantor terlebih dahulu karena absen untuk mahasiswa

pkl terletak di pos satpam kantor. Keadaan jalan menuju Hanggar 1 sudah cukup

baik berupa beton yang dapat diakses dengan jalan kaki, kendaraan bermotor atau

mobil. Keadaan jalan menuju Hanggar 1 dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9. Jalan Menuju Hanggar 1

B. Laboratorium

Laboratorium yang mendukung kegiatan pembenihan ikan manfish (P.

scalare) ini yaitu laboratorium pakan alami dan laboratorium kualitas air.

Laboratorium pakan alami ini menyediakan moina yang dibutuhkan untuk larva
17

dan benih ikan manfish (P. scalare). Sedangkan laboratorium kualitas air sebagai

tempat menganalisa kualitas air selama kegiatan pembenihan berlangsung.

Berikut merupakan Lab. Pakan alami dan Lab. Kualitas air yang dapat dilihat pada

Gambar 10.

(a) (b)
Gambar 10. (a) Lab. Pakan Alami, (b) Lab. Kualitas Air

3.3 Teknik Pembenihan Ikan Manfish (Pterophyllum scalare)

3.3.1 Induk

A. Pengadaan induk

Induk ikan manfish (P. scalare) yang digunakan untuk kegiatan pembenihan

ada yang berasal dari petani ikan hias dan juga berasal dari pembesaran benih

sendiri. Untuk pengadaan induk yang berasal dari pembesaran sendiri merupakan

langkah yang sangat efektif untuk mempertahankan stok induk ikan manfish (P.

scalare) agar selalu tersedia untuk kegiatan pembenihan. Harga untuk satu

pasang induk bervariasi bergantung pada jenis ikannya.

Induk ikan manfish (P. scalare) yang digunakan untuk kegiatan pembenihan

di Balai Penelitian dan Pengembangan Ikan Hias (BPPBIH) adalah ikan manfish

platinum (diamond) yang memiliki ciri tubuh berwarna putih polos yang menkilap,

lalu ada juga ikan manfish three colour (marble) yang memiliki tiga warna pada

tubuh nya yaitu hitam, puith dan kuning. Induk yang berasal dari petani ikan hias

biasanya dilakukan penyesuaian lingkungan terlebih dahulu. Induk yang berasal

dari petani ikan hias juga harus diketahui asal usulnya.


18

Menurut Bachtiar dan Tim (2004), jenis ikan manfish yang umumnya dikenal

oleh masyarakat ada 4 jenis, yaitu jenis diamond, imperial, marble dan black and

white. Jenis diamond, tubuh berwarna perak mengkilat. Untuk jenis imperial, warna

dasar tubuh berwarna perak dan dihiasi dengan 4 garis vertikal berwarna hitam.

Pada jenis marble, memiliki 3 warna pada tubuhnya yaitu warna putih, hitam dan

kuning. Sedangkan pada jenis black and withe, memiliki ciri tubuh yang berwarna

hitam dan putih.

Habitat manfish di alam adalah di lingkungan perairan yang dasamya

ditanami turnbuhan air dan hidup pada perairan yang tenang dan tidak banyak

arus. Ikan manfish membutuhkan kualitas air perairan dengan pH antara 6.5 —

7.5 dan suhu berkisar 20 – 25 oC untuk dapat hidup dan tumbuh dengan normal.

Selain itu kebutuhan O2 terlarut sebesar 5 ppm (Novrina, 2002).

B. Seleksi Induk

Sebelum dilakukannya pemijahan, induk ikan manfish (P. scalare) akan

dipisah terlebih dahulu melalui proses seleksi induk. Tujuan dilakukannya seleksi

induk adalah untuk mengetahui induk ikan yang siap untuk memijah. Induk yang

baik untuk dipijahkan adalah yang tidak cacat, berumur > 7 bulan, dengan panjang

total minimal untuk jantan adalah 7 cm dan untuk betina adalah 5 cm. Ciri – ciri

ikan manfish yang sehat adalah tidak cacat dan bergerak aktif.

Perbedaan induk jantan dan betina pada ikan manfish secara morfologi

dapat dilihat pada tabel 2.

Tabel 2. Perbedaan induk jantan dan betina


No Induk jantan Induk betina

1 Ukuran Tubuh lebih besar Ukuran Tubuh lebih kecil

2 Terdapat tonjolan dibagian kepala Bagian kepala rata

3 Perut tidak membuncit Perut membuncit


19

Menurut Bachtiar dan Tim (2004), Induk manfish yang baik adalah yang

tidak cacat dan berumur 8 – 12 bulan dengan panjang tubuh sekitar 8 cm.

Perbedaan antara induk manfish jantan dan betina adalah pada bagian kepala,

jantan akan lebih besar dari betina karena adanya tonjolan pada kepala. Jika dilihat

dari depan induk jantan memiliki perut yang langsing sedangkan perut induk

betinanya membuncit.

Induk yang telah siap memijah baik jantan maupun betina, pada bagian

kelaminnya akan menonjol dan semakin lama akan semakin memebesar hingga

proses pemijahan ikan berlangsung. Pada jantan bentuk tonjolan akan tumpul

sedangkan pada betina akan meruncing. Selain dengan melihat dengan

morfologinya, pemilihan induk ikan manfish (P. scalare) bisa juga dilakukan

dengan melihat tingkah lakunya. Ikan manfish (P. scalare) yang sudah siap

memijah akan memisahkan diri dari kelompoknya ketika dipelihara dalam jumlah

yang banyak dalam satu wadah pemeliharaan.Perbedaan induk jantan dan betina

dapat dilihat pada Gambar 11.

Hal ini sesuai dengan pernyataan Lingga dan Susanto (2001), yang

menyatakan bahwa selain dengan melihat bentuk morfologisnya, pemilihan induk

juga dapat dilakukan dengan melihat tingkah laku dari ikan manfish tersebut. Ikan

manfish akan mencari pasangannya sendiri ketika sudah siap memijah. Induk

tersebut akan menjadi agresif selama masa pemijahan.

(a) (b)
Gambar 11. (a) jantan, (b) betina
20

C. Pemeliharaan Induk

Pemeliharaan induk yang dialakukan meliputi kegiatan persiapan wadah

pemeliharaan, pemberian pakan dan pergantian air.

 Persiapan wadah

Akuarium yang digunakan ukuran 80 x 40 x 30 cm. Akuarium yang

digunakan untuk pemeliharaan induk juga merupakan akuarium yang akan

dijadikan wadah pemijahan. Sebelum digunakan, akuarium dibersihkan terlebih

dahulu dengan menggosok dan mengeringkan akuarium. Setelah selesai, air

dimasukan ke dalam akuarium hingga penuh dan diendapkan selama 1 hari.

Kemudian, sipon kotoran yang ada didasar akuarium hingga air mencapai

ketinggian 20 cm.

 Pemberian Pakan

Pakan yang diberikan pada induk ikan manfish (P. scalare) adalah pakan

alami berupa cacing darah (Chironomous sp.) Pakan ini merupakan pakan yang

baik bagi induk ikan manfish (P. scalare) karena dapat mempercepat kematangan

gonad. Namun terkadang induk ikan manfish (P. scalare) juga diberi pakan cacing

sutera (Tubifex). Pakan ini diberikan dua kali sehari yaitu pagi dan sore hari secara

adlibitum. Pakan berupa cacing darah (Chironomous sp.) diperoleh dari penjual

pakan sedangkan cacing sutera (Tubifex) didapatkan dari petani di kawasan

sekitar balai dengan harga Rp 10.000 per kaleng. Pakan induk dapat dilihat pada

Gambar 12.

Menurut Lesmana dan Dermawan (2001) cacing sutera dan jentik nyamuk

merupakan pakan dengan nilai nutrisi yang baik dengan kandungan protein yang

tinggi. Cacing sutera mengandung protein sebesar 57 %, lemak sebesar 13,30 %

dan karbohidrat sebesar 2.04%. Kandungan gizi jentik nyamuk berupa protein

sebesar 67,80 0/0. lemak sebesar 14,60 % dan karbohidrat sebesar 12,20 %.
21

(a) (b)
Gambar 12. (a) Chironomous sp., (b)Tubifex sp.

 Pengelolaan kualitas air

Pengelolaan kualitas air dilakukan untuk menjaga kualitas air akuarium agar

tetap baik dan bebas dari bahan toksik. Kegiatan dalam pengelolaan kualitas air

meliputi penyiponan, penggantian air, dan pengecekan kualitas air.

 Penyiponan

Penyiponan bertujuan untuk membuang kotoran ikan dan sisa pakan yang

berada di dasar akuarium untuk menjaga kualitas air tetap baik. Penambahan air

baru sesuai dengan volume air kotor yang terbuang. Frekuensi penyiponan yaitu

satu kali setiap hari yang dilakukan pada pagi hari pukul 09.00 WIB.

 Pergantian Air

Pergantian air total dilakukan setiap satu minggu sekali. Pembersihan

akuarium menggunakan spons agar lumut dan kotoran yang menempel di

akuarium hilang. Selain akuarium, selang aerasi dan substrat penempelan telur

juga dibersihkan. Pengisian air menggunakan air yang telah diendapkan terlebih

dahulu dan kemudian diaerasi untuk menjaga kadar oksigen dalam air.

 Pengecekan kualitas air

Untuk mengontrol kualitas air pada media pemeliharaan induk dilakukan

pengecekan kualitas air. Parameter yang diukur adalah suhu, oksigen terlarut

(DO), pH, ammonia (NH3) dan Nitrit (NO2). Pengukuran parameter kualitas air ini

dilakukan di laboratorium kualitas air BPPBIH. Data hasil pengukuran kualitas air
22

pada akuarium induk adalah sebagai berikut: suhu 26.8 – 27.2 oC, pH 6.5 – 7.0,

DO 5.54 – 5.85 mg/l, ammonia 0.032 – 0.053 mg/l dan nitrit 0.100 - 0.377 mg/l.

Air sebagai media hidup ikan harus selalu dijaga kualitasnya agar sesuai

dengan batas optimumnya. Menurut Susanto (2000), air yang cocok untuk induk

manfish yang akan melakukan pemijahan adalah air yang memenuhi kriteria

seperti suhu air berkisar 25 - 27 oC, Keasaman (pH) air 6.8 - 7, Kandungan oksigen

minimum 3 ppm, Kandungan karbondioksida maksimum 15 ppm dan kondisi air

harus jernih dan tidak tercemar.

3.3.2 Pemijahan

Pemijahan ikan manfish (P. scalare) dilakukan secara alami. Setiap induk

ikan manfish (P. scalare) yang telah diseleksi dan matang gonad akan dipijahkan

di akuarium pemeliharaannya yang hanya bisa diisi dengan sepasang indukan.

Sebelum proses pemijahan disiapkan terlebih dahulu substrat penempelan telur

berupa pipa paralon PVC diameter 20 cm yang telah dibagi dua. Pipa paralon

tersebut dicuci dengan air bersih kemudian direndam pada air yang telah ditetesi

PK (Kalium Permanganat) untuk menghilangkan bibit penyakit yang menempel di

pipa paralon tersebut lalu dibilas kembali dengan air bersih kemudian dijemur

selama 3 – 4 jam. Setelah itu pipa tersebut dimasukkan kedalam akuarium dan

ditempatkan di sisi pojok dengan posisi tegak.

Induk yang memijah dapat dilihat dari alat kelaminnya yang menonjol dan

kemerahan serta perut induk betina yang semakin besar. Pasangan induk akan

terlihat berenang berdampingan saat melakukan pemijahan. Induk ikan manfish

(P. scalare) akan bersama - sama membersihkan substrat penempelan telurnya

dengan menggunakan mulutnya. selama proses pemijahan pasangan induk ini

akan berada di dekat substrat penempelan telur hingga induk betina mengeluarkan

dan meletakkan telurnya pada pipa paralon secara perlahan dan beraturan

kemudian telur pada pipa paralon terebut dibuah oleh induk jantan. Induk jantan
23

akan mendekati telur-telur tersebut kemudian menyemprotkan spermanya hingga

seluruh telur terbuahi. Proses pemijahan ini pada umumya terjadi pada malam hari

ketika suasana tenang dan sepi. Menurut Utami (1992), Telur ikan manfish ini

bersifat adhesif seperti ikan mas. Sifat adhesif ini disebabkan oleh adanya lapisan

glukoprotein.

Setelah proses pemijahan berakhir, induk ikan manfish (P. scalare) akan

menjaga telurnya. Induk akan memakan kembali telurnya jika merasa ada

gangguan disekitarnya. Untuk mencegah hal tersebut sebaiknya telur dan induk

diletakkan pada akuarium yang terpisah. Induk ikan manfish (P. scalare) dapat

memijah kembali 1 minggu setelah melakukan pemijahan bergantung pada pakan

yang diberikan dan kondisi dari induk tersebut. Menurut Utami (1992), setelah

pemijahan selesai, induk akan memperhatikan telur – telunya dengan baik. Induk

akan mengibaskan siripnya untuk membersihkan area sekitar telur serta

membersihkan kotoran yang melekat pada substrat dengan mulutnya. Apabila ada

gangguan yang membuat induk ikan manfish yang sedang menjaga telurnya

stress, kemungkinan besar induk akan mulai memakan telur – telurnya kembali.

(a) (b)
Gambar 13. (a) penempelan dan pembuahan telur; (b) Telur hasil pemijahan

3.3.3 Penanganan telur

Ada 3 cara yang biasa dilakukan dalam perawatan telur pasca mijahnya ikan

manfish (P. scalare), yaitu yang pertama adalah telur dipindah kedalam akuarium
24

baru dan cara yang kedua adalah dengan memindahkan induknya ke akuarium

baru. Masing – masing cara memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan cara

yang pertama adalah kondisi air masih bagus sehingga kualitas air untuk

penetasan telur lebih baik, sedangkan kelemahannya kemungkinan telur tidak

menetas tinggi karena lingkungan yang baru. Untuk cara yang kedua,

kelebihannya adalah tingkat penetasannya cukup tinggi sedangkan kelemahannya

adalah kondisi air yang digunakan mengandung sisa – sisa kotoran induk ikan

sehingga telur akan terserang jamur lebih tinggi. Untuk cara yang ketiga adalah

dengan membiarkan induk merawat telurnya hingga menjadi larva. tetapi cara ini

jarang digunakan karena membutuhkan ruang pemijahan yang sangat kondusif

mulai dari pemijahan hingga perawatan larva.

Adapun cara yang digunakan untuk perawatan telur setelah induk memijah

selama praktek adalah dengan memindahkan induk ke akuarium yang baru. Untuk

mencegah timbulnya jamur pada telur maka sebaiknya ditambahkan Methyline

Blue pada air media penetasan dengan dosis 1 ppm. Selain itu untuk menjaga

stabilitas ketersediaan oksigen selama masa penetasan maka dipasang aerasi

pada akuanum tersebut. Menurut Djarijah (2001), perawatan telur dalam akuarium

dilakukan dengan mempertahankan konsentrasi oksigen terlarut sekitar 5 - 6 ppm.

Aquarium harus dilengkapi dengan blower atau aerator. Untuk mencegah penyakit

yang menyerang telur dapat menggunakan larutan Methyline Blue sebanyak 1

ppm dengan ditambahkan garam 0,5 gr/l.

Gambar 14. Pemberian Methyline Blue (MB)


25

Jumlah telur yang dapat dihasilkan oleh satu induk ikan manfish (P. scalare)

dalam satu kali pemijahan berkisar 700 – 1500 butir. Untuk perhitungan jumlah

telur yang dilakukan selama praktek adalah dengan menghitung secara langsung.

Adapun langkah perhitungan telur ikan manfish (P.scalare) secara langsung, yaitu

dengan mengambil substrat yang sudah ditempeli telur, substrat diletakan dalam

wadah baskom atau ember. Kemudian telur dilepaskan dari substrat dengan

menggunakan bulu ayam. Digunakannya bulu ayam karena strukturnya yang

lembut sehingga telur tidak akan pecah. Setelah telur terlepas dari substrat, telur

mulai dihitung dengan cara menyiponnya satu persatu. Selanjutnya dapat

diketahui jumlah telurnnya. Jumlah telur ikan manfish (P. scalare) dalam satu kali

memijah mampu mencapai 1.140 butir dengan berat induk betina 14,77 gr.

Sedangkan menurut Utami (1992), Jumlah telur yang diovulasikan induk betina

berkisar antara 1152 - 1602 butir untuk berat induk betina rata-rata 23,403 gr.

Waktu yang dibutuhkan telur-telur ini untuk menetas adalah sekitar 48 jam

(± 2 hari). Pada saat itu larva masih menempel pada substrat. Larva tersebut akan

berenang bebas setelah hari ke 3 - 4 setelah penetasan telur. Hasil pengamatan

ini berbeda dengan hasil penelitian Utami (1992), yang menyatakan bahwa Telur

ikan manfish menetas dalam waktu 59 jam 25 menit setelah pembuahan pada

suhu 25,5 - 27 oC, Derajat penetasan (hatching rate) telur ikan manfish (P. scalare)

berbeda-beda tergantung dari kualitas induk dan kualitas telur. Ada beberapa

penyebab telur ikan manfish tidak menetas, antara lain karena telur tidak terbuahi,

adanya jamur pada telur dan kualitas telur itu sendiri.

Telur yang tidak terbuahi atau telah mati dapat dikenali dengan ciri berwama

putih susu dan terdapat jamur di sekitamya. Menurut pernyataan Bachtiar dan Tim

(2004), perawatan telur dan larva dilakukan oleh induknya, baik jantan maupun

betina. Karenanya manfish disebut juga sebagai angel fish karena mampu

menjaga anaknya. Telur akan menetas dengan baik jika tidak terkena serangan
26

oleh jamur. Oleh karena itu, sebaiknya dilakukan pencegahan dengan

menambahkan MGO (malachite green oxalate) atau MB (methylene blue).

Perhitungan yang dilakukan untuk mengetahui derajat penetasan (hatching

rate) menggunakan rumus yang digunakan oleh Mukti et,al (2001) dalam Simbolon

(2016) adalah sebagai berikut:

∑ 𝑇𝑀
𝐻𝑅 = X 100 %
∑𝑇𝑇

Keterangan:
HR = Derajat Penetasan
∑TM = Jumlah Telur Menetas
∑TT = Jumlah Total Telur

Berdasarkan hasil perhitungan menggunakan rumus tersebut didapatkan

nilai HR, jumlah telur 1.140 butir dan telur yang mati sebanyak 96 butir, sehingga

jumlah telur yang menetas sebanyak 1.054 butir. Dari data tersebut didapatkan

hasil hatching rate (HR) sebesar 93.03 %.

3.3.4 Perawatan larva

A. Pemeliharaan larva

Wadah yang digunakan untuk pemeliharaan larva ikan manfish (P.scalare)

adalah akuarium yang sama dengan yang digunakan untuk penetasan. Pipa

paralon sebagai substrat peletakan telur diambil dari akuarium 3 hari setelah larva

menetas, tepatnya saat seluruh larva sudah berenang bebas. Akuarium larva

dilengkapi dengan aerasi untuk memenuhi kebutuhan oksigen larva.

Menurut Lawrence (2013), pemisahan induk dengan telurnya biasanya

dilakukan oleh petani ikan hias. Larva akan menetas pada hari ke 2 sampai ke 3,

dan larva tersebut akan berenang bebas pada hari ke 7 untuk mulai mencari

makan. Aerasi yang diberikan harus dikecilkan untuk memudahkan larva dalam

memakan pakan yang diberikan.


27

B. Pemberian pakan

Larva ikan manfish (P.scalare) pada usia 0 - 7 hari yang baru menetas

masih menempel di pipa paralon dan belum diberi pakan karena memiliki kuning

telur. Pakan diberikan setelah usia 6 hari sebelum seluruh kuning telur habis.

Pakan yang diberikan selama pemeliharaan tersebut berupa pakan alami dengan

ukuran yang sesuai dengan bukaan mulut larva memiliki kandungan protein yang

tinggi untuk dapat pertumbuhan larva. Sedangkan menurut Utami (1992), larva

ikan manfish mulai mengambil makanan dari luar dan berenang ketika berumur 4

hari (suhu 26 - 28 oC). Kuning telur dan butiran minyak habis ketika larva berumur

9 hari dan larva mencapai bentuk definitif pada umur 24 hari.

Laju penyerapan kuning telur larva ikan manfish (P. scalare) dapat dilihat

pada Gambar 15.

0.80 7.0
Volume Kuning Telur (mm3)

Panjang Total Larva (cm)


0.70 6.0
0.60 5.0
0.50 4.0
0.40
0.30 3.0
0.20 2.0
0.10 1.0
- -
0 24 48 72 96 120 144 168 192 216 240
Jam Setelah Menetas
Volume Kuning Telur Panjang Total Larva
Pemberian Pakan Awal Ikan mati

Gambar 15. Grafik Laju Penyerapan Kuning Telur Ikan Manfish

Dari grafik diatas dapat diketahui bahwa seiring berkurangnya volume

kuning telur dalam tubuh larva maka semakin panjang ukuran larva tersebut.

Kuning telur habis pada jam ke 168 ( hari ke 8). Pakan awal diberikan sebelum

kuning telur habis seluruhnya yaitu pada jam ke 144 (hari ke 6) dengan total

panjang tubuh adalah cm. Walaupun kuning telur dalam tubuh larva sudah habis

seluruhnya, namun larva masih dapat bertahan hingga jam ke 240 (hari ke 10).

Data perhitungan grafik tersebut beserta pengamatan volume kuning telur dapat
28

dilihat pada lampiran 2. Data tersebut dihitung melalui rumus Volume kuning telur

Hemming dan Buddlington (1988) dalam Mariska et.al.,(2013), yaitu:

V= 0,1667 π LH2

Keterangan:
V = volume kuning telur (mm3)
L = diameter kuning telur memanjang (mm)
H = diameter kuning telur memendek (mm)

Pakan alami yang diberikan pada larva ikan manfish (P. scalare) adalah

adalah naupli artemia (Artemia sp.), kutu air (Moina sp.) dan cacing sutera

(Tubifex). Frekuensi pemberian pakan untuk larva ikan manfish ( P. scalare)

adalah 2 kali sehari yaitu pada pagi hari setelah selesai disipon (pukul 09.00) dan

sore hari (pukul 15.00). Pakan berupa cacing sutera (Tubifex) didapat dari petani

ikan di sekitar wilayah BPPBIH Depok sedangkan pakan berupa Artemia sp. dan

Moina sp. didapat dari proses pengulturan. Manajemen pakan yang dilakukan

pada ikan manfish di BPPBIH Depok adalah dengan memberikan pakan berupa

artemia pada umur 6 hari hingga 10 hari, lalu dilanjutkan dengan pemberian moina

pada umur 10 hari hingga 20 hari, dan diberikan cacing sutera (tubifex sp.) pada

umur 18 hari hingga seterusnya hingga mencapai ukuran benih siap untuk

dipanen. Manajemen pakan pada ikan manfish yang dilakukan di BPPBIH Depok,

Jawa Barat dapat dilihat pada lampiran 3.

C. Kualitas air

Kualitas air pada akuarium pemeliharaan larva harus dijaga sehingga larva

dapat tumbuh secara optimal. Upaya untuk menjaga ketersediaan oksigen terlarut

dilakukan dengan penambahan aerasi pada akuarium. Lumut dan sisa pakan yang

mengendap di dasar akuarium dibersihkan dengan menyipon menggunakan

selang berdiameter 0.5 cm. Hal ini harus dilakukan dengan sengat hati-hati agar

larva tidak ikut tersipon. Data kualitas air pada akuarium pemeliharaan larva yaitu:
29

suhu 26.6 – 26.8 oC, pH 6.5 – 7.0, DO 5,68 – 5,76 mg/l, ammonia 0,020 – 0,038

mg/l, nitrit 0.011 – 0.053 mg/l.

Nilai kualitas air diatas dalam kondisi yang cukup baik. Sesuai dengan

pernyataan Budiardi (2005), yang menyatakan bahwanilai kulaitas air seperti suhu

umumnya 25 – 32 oC dengan nilai optimal 30 oC, untuk nilai DO berkisar antara

5,49 – 6,86 ppm, derajat keasaman (pH) yang cocok adalah 6,35 – 7,73 dan

amoniak berkisar antara 0,0017 – 0,0649 ppm. Dengan demikian, kualitas air

pemeliharaan larva dalam kondisi yang baik.

D. Kultur Pakan Alami

 Moina sp.

Dalam kultur moina pada Lab. Kultur Pakan Alami biasanya yang harus

dilakukan pertama-tama yaitu mempersiapkan wadah kultur dengan cara mencuci

dan menyikat wadah kultur. Wadah kultur yang digunakan disini berbahan dasar

beton yang berukuran 4 x 5 x 1 m3. Kolam disikat hingga bersih menggunakan

sabun hingga sisa-sisa pakan alami yang terdapat dalam kolam tidak tertinggal

dalam kolam. Setelah itu dibilas dengan menggunakan air bersih hingga sisa –

sisa dari sabun tersebut menghilang. Kemudian kolam dikeringkan dengan cara

dijemur dibawah sinar matahari selama 24 jam. Hal ini bertujuan untuk

menghilangkan bakteri maupun parasit yang terdapat dalam kolam yang dapat

menghambat proses kultur pakan alami.

Kolam yang telah dikeringkan selanjutnya diisi air 50 - 60% dari ketinggian

kolam. Setelah diisi air kemudian ditambahkan pupuk. Pupuk yang digunakan yaitu

pupuk kotoran ayam yang sebelumnya ditimbang dan diletakkan pada jarring yang

berfungsi untuk menyaring pupuk tersebut sehingga kolam kultur moina tidak

kotor. Dosis yang digunakan yaitu 1 kg/m3.

Setelah dilakukan pemupukan, inokulan moina ditambahkan pada kolam.

Pemanenan dilakukan setelah 7-12 hari setelah penambahan inokulan pada


30

kolam. Pemanenan dilakukan ketika dibutuhkan untuk pakan larva atau sebagai

inokulan baru. Pemanenan dilakukan secara parsial dengan cara menyerok

dengan menggunakan saringan dengan mata saring kecil kemudian moina

diletakkan didalam wadah untuk diberikan kepada larva.

Menurut Wijayanti (2010), Moina sp. sebagai pakan benih memiliki

keunggulan antara lain ukuran Moina sp. sangat cocok untuk ukuran bukaan mulut

benih ikan, sifat Moina sp. yang selalu bergerak aktif akan menarik benih untuk

memangsa Moina sp., dan Moina sp. memiliki kandungan gizi yang terdiri dari

protein 37,38%, lemak 13,29%, serat kasar 0,00%, abu 11,00% dan kadar air

sebesar 99,60%. Kandungan gizi tersebut cukup berpotensi dalam menunjang

pertumbuhan ikan hingga tahap benih.

 Artemia sp.

Penetasan kista artemia dilakukan di dalam Hanggar 1 BPPBIH Depok,

Jawa Barat. Penetasan dilakukan di wadah toples dengan volume 20 liter dengan

volume air yang digunakan untuk penetasan kista artemia adalah 10 liter. Langkah

pertama adalah memasukan air tawar kedalam toples sebanyak 10 liter kemudian

tambahkan garam dengan dosis 25 gr/liter. Selanjutnya masukkan kista artemia

kedalam toples dengan dosis 3 gr/liter. Berikan aerasi kuat dalam wadah

penetasan kista artemia. Setelah 24 jam, kista akan menetas dan menjadi naupli.

Selanjutnya aerasi diangkat dari wadah penetasan kemudian diendapkan selama

10 menit. Naupli yang telah mengendap dipanen dengan cara disipon dan

ditampung pada toples baru.

Penetasan kista artemia adalah suatu proses inkubasi kista artemia di

media penetasan (air laut ataupun air laut buatan) sampai menetas. Menurut

Gusrina (2008) menyatakan bahwa media untuk proses penetasan kista artemia

adalah menggunakan media asal kista tersebut di ambil yaitu berupa air asin atau

air laut. Penetasan ini terdiri dari beberapa tahapan yaitu proses penyerapan air,
31

pemecahan dinding kista oleh embrio, embrio terlihat jelas masih diselimuti

membran, lalu menetas dimana nauplius berenang bebas yang membutuhkan

waktu sekitar 18-24 jam.

D. Pemanenan dan Pemasaran

 Teknik pemanenan

Benih yang telah berumur sekitar satu bulan yang sudah berukuran minimal

1 cm dapat dilakukan proses pemanenan. Benih yang dipanen dapat dihitung

nilai kelangsungan hidup atau Survival Rate (SR) dengan menggunakan rumus

yang dikemukakan oleh Zonneveld et, al dalam Simbolon (2016) seperti di bawah

ini:

Nt
SR  100%
No
Keterangan:
SR = Tingkat kelangsungan hidup
Nt = Jumlah populasi akhir
No = Jumlah populasi awal

Dengan menggunakan rumus tersebut dapat diketahui nilai SR pada

pemeliharaan larva hingga menjadi benih. Pada masa pemeliharaan larva, jumlah

larva sebanyak 1.054 ekor dan ketika di panen saat menjadi benih menjadi 534

ekor. Dengan demikian dapat diketauhui nilai SR yang didapat adalah sebesar

50,66 %

Pemanenan benih dilakukan sesuai permintaan pasar. Untuk ikan yang

akan dibawa dalam jarak yang relatif dekat tidak ada periakuan khusus. Namun

untuk ikan yang akan dibawa dalam jarak yang cukup jauh, yakni lebih dari 8 km,

sebaiknya dilakukan pemberokan atau pemuasaan terlebih dahulu pada ikan.

Pemuasaan ini dilakukan selama satu hari sebelum ikan dipanen. Hal ini bertujuan

agar ikan tidak mengeluarkan feses saat dibawa dalam jarak jauh. Apabila ikan

mengeluarkan feses maka nilai ammonia dalam kantong plastik sebagai wadah
32

pengepakan akan meningkat dan dapat menyebabkan keracunan pada ikan yang

telah dipanen tersebut. Proses pemanenan terdiri atas 3 kegiatan yaitu proses

persiapan permaenan, proses pernanenan dan proses packing atau pengepakan.

Kegiatan persiapan pemanenan dilakukan dengan menyiapkan alat-alat

yang dibutuhkan dalam proses pemanenan, yakni berupa ember, seser, aerasi

dan kain halus. Ember berfungsi sebagai wadah air untuk menampung ikan

sementara. Seser untuk menangkap benih ikan manfish di dalam akuarium dan

aerasi sebagai penyuplai oksigen di dalam ember serta kain halus berfungsi untuk

memudahkan proses penyortiran ukuran.

Proses pemanenan itu sendiri dilakukan dengan cara menggiring benih ke

bagian tepi akuarium mengunakan seser kemudian benih ikan tersebut diambil

dan dipindahkan ke wadah sementara yaitu ember yang sebelumnya telah terisi

air dan diberi penutup berupa kain halus untuk membatasi pergerakan ikan serta

diberi aerasi. Sebelum dipacking, benih disortir terlebih dahulu. Ukuran panen

benih ikan manfish terbagi menjadi 3, yaitu S (Small), M (Medium) dan L (Large).

Ukuran S adalah 1 – 3 cm, M adalah 3 – 5 cm dan L adalah 5 – 7 cm. Pemanenan

benih sebaiknya pada pagi atau sore hari ketika suhu tidak tertalu tinggi karena

tingginya suhu dapat menyebakan ikan menjadi stress.

 Teknik Packing

Proses selanjutnya adalah proses packing atau pengepakan. Packing atau

pengepakan adalah tahap ketika benih ikan manfish yang telah dipanen

dimasukan ke dalam suatu wadah yaitu kantong plastik untuk kemudian dapat

didistribusikan. Sistem pengepakan yang diterapkan adalah sistem basah yaitu

pengepakan dengan menggunakan media air. Kantong plastik yang digunakan

untuk pengepakan adalah kantong plastik PVC berukuran 60 x 40 cm 2 dengan

ketebalan 0,06 mm. Kantong plastik tersebut diisi dengan air sebanyak 40%

kemudian ikan dimasukan dan diberi udara sebanyak 60% agar ketersediaan
33

oksigen saat ikan didistribusikan masih tetap terjaga. Udara tersebut diambil dari

tabung oksigen. Oksigen dalam kantong plastik dapt bertahan selama 8 - 10 jam.

Kepadatan ikan dalam satu kantong plastik berkisar antara 150 ekor untuk ukuran

S, 100 ekor untuk ukuran M, 50 ekor untuk ukuran L, untuk indukan biasanya

dipisahkan antara induk jantan dengan betinanya. Penyortiran dan Pengepakan

benih ikan manfish dapat dilihat pada Gambar 15.

Menurut Sandy (2010), jumlah kepadatan ikan dalam satu kantong plastik

packing berbeda – beda bergantung pada ukuran dan lama perjalanan. Semakin

besar ukuran ikan yang dipacking maka semakin sedikit jumlah kepadatan

ikannya. Untuk ikan manfish berukuran 2 gr dapat dipacking dengan kepadatan 20

ekor/ liter. Untuk ikan manfish berukuran 1,5 gr dapat dipacking dengan kepadatan

30 ekor/liter. Kepadatan ikan dalam satu kantung plastik packing dapat

memengaruhi tingkat kelulushidupan ikan selama pengiriman ikan berlangsung.

(a) (b)
Gambar 16. (a) Penyortiran; (b) Packing

 Teknik Pemasaran

Menurut Simatupang (2013), manajemen pemasaran mencakup kegiatan

untuk mendistribusikan hasil produksi ke tangan konsumen. Kegiabn tersebut

seperti menentukan kelompok masyarakat yang menjadi sasaran pemasaran.

melihat ada tidaknya persaingan dan menentukan strategi pemasarm yang harus

dijalankan. Aspek pasar meliputi permintaan akan komoditas perikanan yang akan

diusahakan dan sistem pemasaran.


34

Pemasaran merupakan distribusi produk dari tangan produsen ke tangan

konsumen. Pada proses pemasaran ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan,

yaitu produk, harga dan distribunya. Sistem penetapan harga didasarkan pada

harga petani ikan hias pada umumnya. Sehingga benih ikan akan lebih mudah

untuk dipasarkan. Pemasaran ikan manfish dapat dilakukan pada pengepul dan

dpaat dijual langsung ke konsumen. Harga ikan akan lebih mahal bila dijual

langsung ke konsumen dibanding ke pengepul (tengkulak).

Tabel 4. Harga benih ikan manfish (P. scalare)


Umaidi,(2013)
Umur Harga
No Ukuran Harga
(bulan) (Rp/ekor)
(Rp/ekor)
1 S 1 250 250

2 M 1–3 750 700

3 L 3–5 1.500 1.500

3.3.5 Pengendalian Hama dan Penyakit Pada Ikan Manfish (P. scalare)

A. Pencegahan Hama dan Penyakit

 Internal

aaaaaPencegahan hama dan penyakit secara internal dapat dilakukan dengan

memberikan stimulant untuk meningkatkan daya tahan tubuh agar tidak mudah

terserang penyakit. Menurut Bratawidjaja (2006) dalam Puspasari (2010),

imunostimulasi merupakan cara untuk memperbaiki fungsi sistem imun dengan

menggunakan bahan yang merangsang sistem tersebut. Sedangkan

imunostimulan adalah suatu bahan yang dapat meningkatkan resistensi

(kekebalan) organisme terhadap infeksi patogen dengan meningkatkan

mekanisme respon imun non spesifik.

Salah satu bahan untuk imunostimulan adalah dengan ekstrak rumput laut.

Menurut Puspasari (2010), sala satu jenis rumput laut untuk meningkatkan
35

imunostimulan adalah jenis Gracilaria verrucosa. Ekstrak Gracilaria verrucosa

cukup efektif digunakan sebagai bahan imunostimulan untuk meningkatan sistem

imun pada ikan. Dosis yang paling baik dari hasil penelitian ini adalah 1,0 g/kg

pakan.

 Eksternal

Pencegahan hama dan penyakit secara eksternal, dapat dilakukan dengan

cara melakukan sterilisasi perlengkapan yang akan digunakan dan membersihkan

wadah pemeliharaan serta memelihara kebersihan lingkungan budidaya. Menurut

Situnggang (2002), pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan cara mekanis,

biologis dan kimia. Secara mekanis, dapat memanfaatkan system resirkulasi dan

filter. Secara boilogis dapat menggunakan organisme lain seperti bakteri pengurai

dan tanaman air. Sedangkan secara kimia, dapat dilkukan dengan pemberian

larutan Kalium Permanganat dan Methylene Blue.

B. Pengobatan Hama dan Penyakit Pada Ikan Manfish (P. scalare)

Penyakit yang sering menyerang ikan manfish (P. scalare) adalah jamur

Saprolegnia sp. dan Ichtyoptirius mutifilis. Saprolegnia sp. merupakan jamur renik

yang dapat menyerang semua jenis ikan dalam berbagai ukuran. Ikan manfish

yang memiliki kondisi lemah, terluka, ataupun stres mudah terserang jamur.

Serangannya lebih bersifat sekunder yang muncul dan menginfeksi ikan-ikan yang

sebelumya telah terserang penyakit. Permukaan kulitnya akan terlihat dihiasi deh

benang-benang yang halus.

Untuk menghindari adanya serangan jamur, air media pemeliharaan dapat

ditambahkan MB (Methyline Blue) dengan dosis 1 ppm. Untuk pencegahan

penyakit dengan menggunakan obat organik dapat dilakukan dengan perendaman

daun ketapang sebanyak 10 lembar/akuariumnya selama 3 hari. Sedangkan untuk

pengobatan terhadap ikan yang terserang penyakit dengan perendaman

menggunakan OTC (Oxytetracyclin) dengan dosis 0.3 mg/l.


36

Menurut Ashry (2007), Pengobatan ikan yang terserang penyakit dapat

dilakukan dengan menggunakan ekstrak daun ketapang. Dosis untuk ekstrak daun

ketapang adalah 60 gr/l. sedangkan menurut Cahyono (2000), pengobatan

penyakit pada ikan dapat dilakukan dengan pemberian antiobiotik. Seperti

malachite green, formalin dan oxytetracyclin. Dosis pengobatan dengan

menggunakan oxytetracyclin adalah 2 – 5 ppm.

Ichtyoptirius multifilis merupakan parasit berupa protozoa yang banyak

menyerang ikan hias air tawar. Penyakit ini dapat dilihat dari bintik putih yang

nampak pada kulit ikan yang diserang, oleh karena itu penyakit ini dikenal dengan

nama bintik putih atau white spot. Penyakit ini dapat diobati dengan pemberian

acriflavine 0.01 mg/l dan garam 0.5 g/l. Menurut Prakosa et, al (2013) Pengobatan

kimia dapat menggunakan acriflavin, oksitetrasiklin, treflan dan metil biru. Dosis

pengobataan dengan menggunakan acriflavine adalaha 5 ppm.

3.4 Analisa usaha

Analisa usaha pada Praktik Kerja Magang ini didasarkan pada kegiatan

yang dilakukan di BPPBIH Depok, Jawa Barat pada tanggal 11 Juli 2016 sampai

19 Agustus 2016. Proses tersebut diasumsikan menjadi siklus satu tahun sehingga

dalam satu tahun terdapat 12 kali siklus. 1 siklus diasumsikan selama 1 bulan.

Jumlah induk yang digunakan sebanyak 20 pasang. Fekunditas 1 induk sebanyak

1. 140 butir. HR 93 % sehingga telur yang menetas sebanyak 1.054 butir. SR 50,66

% sehingga benih yang dipanen dalam 1 siklus adalah 533 ekor. Dengan harga

benih manfish ukuran S adalah Rp. 250,-

3.4.1 Biaya investasi

Biaya investasi adalah biaya yang dikeluarkan pada saat mulainya produksi.

Pada laporan ini terdapat gambaran terkait biaya investasi Balai Penelitian dan

Pengembangan Budidaya Ikan Hias terhadap rencana pengembangan kapasitas

produksi ikan hias manfish. Rincian biaya investasi yang dilakukan dalarn
37

pengernbangan produksi ini meliputi akuarium pemeliharaan induk, akuarium

pembenihan larva, blower, pompa air dan pipa, selang sifon, selang aerasi, induk

ikan manfish, pipa paralon, rak akuarium, seser kecil, dan seser besar. Investasi

yang dikeluartan untuk usaha pemebenihan ikan manfish ini adalah sebesar Rp.

8.466.000,00. Rincian biaya investasi pembenihan ikan manfish selengkapnya

dapat dilihat pada lampiran 3.

3.4.2 Biaya tetap

Biaya tetap adalah biaya yang dikeluarkan pada setiap periode dan

jumlahnya tidak berubah-ubah baik pada saat produksi berjalan maupun tidak.

Biaya tetap yang dikeluarkan oleh Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya

Ikan Hias untuk perencanaan produksi ikan manfish meliputi biaya penyusutan,

biaya tenaga dan perawatan investasi. Total biaya tetap yang dikeluarkan untuk

ikan manfish adalah Rp. 13.074.950,-. Rincian biaya tetap seengkapnya dapat

dilihat pada lampiran 3.

3.4.3 Biaya tidak tetap

Biaya tidak tetap adalah biaya yang dikeluarkan per siklus yang

diperhitungkan dalam pelaksanaan kegiatan pembenihan yang sifatnya dapat

berubah – ubah bergantung pada perubahan biaya sarana yang digunakan. Total

biaya tidak dikeluarkan adalah Rp. 1.710.000,-. Rincian biaya tidak tetap

selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 3.

3.4.4 Biaya total

Biaya total dalah biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan produksi

pembenihan meliputi seluruh pengeluaran yang harus dikeluarkan dalam satu

tahun produksi yang terdiri dari biaya tetap dan biaya tidak tetap. Biaya produksi

yang dikeluarkan untuk usaha ini adalah sebesar Rp. 14.784.950,-. Perhitungan

biaya total dapat dilihat pada lampiran 3.


38

3.4.5 Penerimaan

Penerimaan adalah hasil yang diperoleh dari kegiatan produksi. Jumlah

penerimaan akan mengalami perubahan seiring dengan jumlah produksi dan

harga jual. Total peneriman dalam satu siklus adaiah sebesar Rp. 2.665.000,-

sedangkan penerimaan dalam setahun pada usaha pembenihan ikan manfish

adalah sebesar Rp. 31.980.000,-. Rincian biaya dan perhitungan dapat dilihat

pada lampiran 3.

3.4.6 Keuntungan

Keuntungan adalah selisih antara penerimaan yang diperoleh selama 1

tahun dengan biaya yang dikeluarkan selama 1 tahun. Adapun keuntungan yang

diperoleh dari usaha pembenihan ikan manfish ini adalah sebesar Rp.

17.950.050,- per tahun. Keuntungan yang didapat merupakan keberhasilan suatu

kegiatan yang dilakukan. Perhitungan keuntungan dapat dilihat pada lampiran 3.

3.4.7 R/C ratio

Merupakan perbandingan pendapatan dengan biaya. Suatu usaha

dinyatakan layak bila R/C ratio lebih besar dari 1. Sernakin tinggi nilai RIC ratio

tingkat keuntungan akan semakin tinggi. Nilai R/C ratio untuk usaha pembenihan

ikan manfis di BPPBIH Depok adalah 2,16. Hasil tersebut menunjukkan bahwa

usaha yang dilakukan layak untuk dijalankan. Perhitungan R/C ratio dapat dilihät

pada Lampiran 3. Menurut Lukito dan Surip (2007) Rumus untuk menghitung R/C

ratio adalah sebagai berikut.

𝑃𝑒𝑛𝑒𝑟𝑖𝑚𝑎𝑎𝑛 1 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛
𝑅/𝐶 =
𝐵𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 + 𝑏𝑖𝑎𝑦𝑎 𝑣𝑎𝑟𝑖𝑎𝑏𝑒𝑙

3.4.8 break event point (BEP)

BEP (titik impas) adalah jumlah penerimaan pada saat modal usaha yang

dikeluarkan terbayar. BEP sales adalah jumlah uang yang dihasilkan untuk

mencapai titik impas. Nilai BEP sales pada usaha pembenihan ikan manfish di
39

BPPBIH Depok ini adalah sebesar Rp 13.813.574,5,-. Berdasarkan hasil tersebut

dapat disimpulkan bahwa usaha pembenihan ikan manfish akan mencapai titik

impas pada saat memperoleh penerimaan sebesar Rp 13.813.574,5,-/tahun.

Perhitungan BEP dapat dilihat pada Lampiran 3. Menurut Lukito dan Surip (2007),

rumus BEP sales adalah sebagai berikut:

Biaya tetap
𝐵𝐸𝑃 𝑠𝑎𝑙𝑒𝑠 =
Biaya variabel
(1-(
Penjualan )

3.4.8 Payback periode (PP)

Payback periode berfungsi untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan untuk

mengembalikan biaya investasi yang telah dikeluarkan pada suatu usaha.

Berdasarkan hasil payback periode, biaya investasi yang telah dikeluarkan akan

kembali dalam jangka waktu 0,45 tahun atau 5 bulan 14 hari. Perhitungan payback

period dapat dilihat pada Lampiran 3. Menurut Lukito dan Surip (2007), Rumus

perhitungan payback periode adalah sebagai berikut:

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐼𝑛𝑣𝑒𝑠𝑡𝑎𝑠𝑖
𝑃𝑃 = x 1 tahun
𝐾𝑒𝑢𝑛𝑡𝑢𝑛𝑔𝑎𝑛

3.5 Permasalahan dan Pengembangan

3.5.1 Permasalahan

 Teknis

Permasalahan teknis yang terjadi dalam teknik pembenihan ikan manfish

(P. scalare) adalah ketersediaan pupuk kandang sebagai media kultur kutu air

yang merupakan pakan pakan alami yang baik untuk pemeliharaan larva ikan

manfish masih kurang dikarenakan kebutuhannya tidak tetap, serta tidak

kondusifnya ruangan pembenihan ikan dikarenakan banyaknya kegiatan yang


40

berlangsung di Hangar 1 membuat pemijahan beberapa ikan berlangsung lama

bahkan ada yang tidak memijah.

 Non teknis

Permaslahan non teknis yang terjadi dalam teknik pembenihan iakn manfish

(P. sclaare) adalah tingkat stress ikan yang muncul akibat musim yan gterjadi

selama PKM adalah musim pancaroba, dimana kondis perairan yang sedang

dingin tiba – tiba dapat menjadi hangat. Serta stok cacing sutera di alam yang tidak

dapat ditentukan akibat musim pancaroba tersebut.

3.5.2 Pengembangan

aaaaaPengembangan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan produktifitas

ikan manfish di BPPBIH Depok, Jawa Barat adalah dengan melakukan

penambahan jumlah induk baik dari petani maupun dengan membesarkannya

sendiri. Serta membentuk kelompok pembudidaya cacing sutera disekitar BPPBIH

Depok, Jawa Barat agar stok yang dibutuhkan selalu tersedia tanpa bergantung

oleh stok di alam.