Anda di halaman 1dari 7

MAKALAH

PERLINDUNGAN DAN PENEGAKAN


HUKUM DALAM MASYARAKAT
UNTUK MENJAMIN KEADILAN DAN
KEDAMAIAN

D
I
S
U
S
U
N
OLEH :
NAMA : NURDIANA
KELAS : XII IPS 4

MAN 3 BONE
TAHUN AJARAN 2018/2019
A. PERLINDUNGAN PENEGAKAN HUKUM
Perlindungan Hukum bila dijelaskan harfiah dapat menimbulkan banyak persepsi. Perlindungan
biasa berarti perlindungan yang diberikan terhadap hukum agar tidak ditafsirkan berbeda dan
tidak dicederai oleh aparat penegak hukum dan juga biasa berarti perlindungan yang diberikan
oleh hukum terhadap sesuatu.

Perlindungan hukum juga dapat menimbulkan pernyataan yang kemudian


meragukan keberadaan hukum. Oleh karena itu hukum sejatinya harus memberikan
perlindungan terhadap semua pihak sesuai dengan status hukumnya karena setiap orang
memiliki kedudukan yang sama dihadapan hukum. Setiap aparat penegak hukum jelas wajib
menegakkan hukum dan dengan berfungsinya aturan hukum, maka secara tidak langsung
hukum akan memberikan perlindungan setiap hubungan hukum atau segala aspek dalam
kehidupan masyarakat yang diatur oleh hukum itu sendiri.

Perlindungan hukum merupakan gambaran dari bekerjanya fungsi hukum untuk mewujudkan
tujuan-tujuan hukum, yakni diadilan, kemanfaatan dan kepastian. Suatu perlindungan yang
diberikan kepada subyek hukum sesuai dengan aturan hukum, baik itu bersifat Preventif
(pencegah) maupun dalam bentuk yang bersifat Represif (pemaksaan), baik yang secara
tertulis maupun tidak tertulis dalam rangka menegakkan peraturan hukum.

Menurut Sjachram Basah, Perlindungan terhadap warga diberikan bila mana sikap tindak
administrasi Negara itu menimbulkan kerugian terhadapnya. Sedangkan perlindungan terhadap
administrasi Negara itu sendiri, dilakukan terhadap sikap tindaknya dengan baik dan benar
menurut hukum, baik tertulis maupun tidak tertulis. Dengan perkataan lain, melindungi
administrasi Negara dari melakukan perbuatan perbuatan menurut hukum. Dengan adanya UU
No. 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara,
Menurut Paulus E. Lotulung, sesungguhnya melindungi hak hak masyarakat, yang
menimbulkan kewajiban-kewajiban bagi perorangan.
Sesuai dengan perinsip yang terkandung dalam falsafah Negara dan bangsa kita, yaitu
Pancasila.
Menurut Hadjon, Perlindungan hukum bagi rakyat meliputi dua hal, yakni:
1. Pertama: Perlindungan hukum preventif, yakni bentuk perlindungan hukum dimana kepada
rakyat diberi kesempatan mengajukan keberatan atau pendapatnya sebelum pemerintah
mendapat bentuk yang definitif.
2.Kedua: Perlindungan hukum represif, yakni bentuk perlindungan hukum dimana lebuh
diajukan dalam penyelesainkan sengketa.

Secara konseptual, perlindungan hukum yang diberikan kepada rakyat Indonesia


merupakan implementasi atas prinsip pengakuan dan perlindungan terhadap harkat dan
martabat manusia yang bersumber pada pancasila dan prinsip Negara Hukum yang
berdasarkan Pancasila.

B. MACAM-MACAM PERLINDUNGAN HUKUM

Hakikat setiap orang berhak mendapatkan perlindungan hukum. Dari sekian banyak
perlindungan hukum, terdapat beberapa diantaranya yang cukup populer dan telah akrab di
telinga kita, seperti perlindungan hukum terhadap konsumen.

Selain itu, terdapat juga perlindungan hukum yang diberikan kepada hak atas kekayaan
intelektual (HaKI). Pengaturan mengenai hak atas kekayaan intelektual tersebut telah
dituangkan dalam sejumlah UU No. 15 Tahun 2001 Tentang Merek, UU No. 14 Tahun 2001
Tentang Paten, UU No. 29 Tahun 2000 Tentang Perlindungan varietas tanaman dan masih
banyak lagi yang lainya.

Tersangka sebagai pihak yang telah melakukan perbuatan hukum juga memiliki hak atas
pelindungan hukum. Perlindungan hukum terhadap tersangka diberikan berkaitan dengan hak-
hak tersangka yang harus dipenuhi agar sesuai dengan produser pemeriksaan sebagaimana
diatur dalam peraturan perundang- undangan.

Secara umum perlindungan hukum diberikan kepada subjek hukum yang bersangkutan
bersinggungan dengan peristiwa hukum. Bentuk perlindungan hukum dapat bermacam-macam,
tergantung dari pihak yang berkepentingan. Sebagai contoh dalam hukum perdata ada lembaga
yang namanya gijzeling, lembaga ini berfungsi untuk menahan seseorang untuk tidak keluar
dari Negara tempat ia tinggal karena dikhawatirkan akan melarikan diri dari kasus yang
dihadapinya dan berpotensi merugikan pihak yang mengajukan gugatan.

Dalam ketentuan hukum pidana, bagi tersangka yang diancam hukum 5 tahun keatas wajib
didampingi oleh pengacara. Ini juga merupakan salah satu bentuk perlindungan hukum yang
diberikan Negara kepada tersangka.

Sebagai Negara hukum, maka segala sesuatunya di Indonesia harus berdasarkan hukum
(Asas Legalitas). Undang-undang adalah produk hukum yang berlaku bagi masyarakat atau
individu. Sebagai warga Negara, maka setiap orang memiliki hak dan kewajiban yang diatur
oleh undang-undang, polisi diberi wewenang untuk menilang sopir angkot berdasarkan pada
aturan hukum, semua masyarakat warga Negara Indonesia mendapat perlindungan hukum,
karena Negara kita adalah Negara hukum dan hukum yang berlaku dinegara kita melindungi
seganap warga Negara tanpa membeda-bedakannya, prinsipnya dimata hukum setiap orang
adalah sama, kalau ada barangkali itu hanya penyimpangan hukum yang biasanya disebabkan
oleh uang atau kepentingan kekuasaan, yang seharusnya tidak boleh dilakukan atau pun
dibiarkan terjadi di Indonesia sebagai Negara hukum.

C. PENEGAK HUKUM DI INDONESIA


1. Pengertian Penegak Hukum

Tahap pembuatan hukum masih harus disusul oleh pelaksanaanya secara konkrit dalam
kehidupan masyarakat sehari-hari. Inilah yang dimaksud penegakan hukum.
“Negara Indonesia adalah Negara hukum”, dalam UUD 1945 pasal 1 ayat 3 Amandemen
ketiga. Dalam penjelasan UUD 1945 mengenai sistem pemerintahan Negara disebutkan bahwa
“Negara Indonesia berdasarkan atas hukum (Rechtsstaat), tidak berdasarkan atas
kekuasaan belaka (Machtsstaat)”. Prinsip dasar yang dianut dalam hukum dasar tersebut
memberikan gambaran hukum menjadi landasan kehidupan masyarakat atau dengan kata lain
yang ingin ditegakkan dalam Negara ini adalah supremasi hukum bukan supremasi kekuasaan.

Penegakan hukum adalah proses dilakukanya upaya untuk tegaknya atau berfungsinya norma-
norma hukum secara nyata sebagai pedoman perilaku dalam lalu lintas atau hubungan hukum
dalam kehidupan masyarakat dan bernegara.

Dalam menegakkan hukum, ada tiga hal yang harus diperhatikan yaitu, kepastian hukum,
kemanfaatan dan keadilan. Oleh karena itu Subjipto Rahardjo mengatakan bahwa penegakan
hukum merupakan suatu usaha untuk mewijudkan ide-ide keadilan, kepastian hykum, dan
kemanfaatan social menjadi kenyataan. Proses perwujudan ide-ide itulah yang merupakan
hakikat dari penagakan hukum. Penegakan hukum harus berguna dan bermanfaat bagi
masyarakat, karena hukum diciptakan semata mata untuk kepentingan masyarakat. Sehungga
dengan adanya penegakan hukum diharapkan masyarakat dapat hidup aman, damai, adil, dan
sejahtera.

Penegakan hukum merupakan suatu usaha untuk mewujudkan ide-ide keadilan, kepastian
hukum dan kemanfaatan social menjadi kenyataan. Jadi penagakan hukum pada hakikatnya
adalah proses perwujudan ide-ide.

Penegakan hukum adalah proses dilakukannya upaya tegaknya atau berfungsinya norma-
norma hukum secara nyata sebagai pedoman pelaku dalam lalu lintas atau hubungan-
hubungan hukum dalam kehidupan masyarakat dan bernegara. Penegakan hukum dibedakan
menjadi dua yaitu:
a. Ditinjau dari sudut subjeknya
1.) Dalam arti luas, proses penegakan hukum melibatkan semua objek hukum dalam
setiap hubungan hukum. Siapa saja yang menjalankan aturan normatif atau malakukan sesuatu
atau tidak melakukan sesuatu dengan medasarkan diri pada norma aturan hukum yang berlaku,
berarti dia menjalankan hukum atau menegakkan aturan hukum.
2.) Dalam arti sempit, penegakan hukum hanya diartikan sebagai upaya aparatur
penegakan hukum tertentu untuk menjamin dan memastikan bahwa suatu aturan hukum
berjalan bagaimana seharusnya.
b. Ditinjau dari sudut objeknya, yaitu dari segi hukumnya:
1.) Dalam arti liuas, penegakan hukum yang mencakup pada nilai-nilai keadilan yang
didalamnya terkandung bunyi aturan formal maupun nilai-nilai keadilan yang ada dalam
masyarakat.
2.) Dalam arti sempit, penegakan hukum itu hanya menyakut penegakan peraturan yang
formal dan tertulis.
2. Aparat penegak hukum
Hukum dapat diciptakan bila masyarakat sadar kakan hukaum tanpa membuat kerugian
pada orang lain. Penegakan hukum di Indonesia tidak lepas dari peran para aparat penegak
hukum. Menurut Pasal 1 Bab 1 Kitab Undang-Undang ini adalah sebagai berikut:

1. Penyelidikan ialah pejabat polisi Negara Republik Indonesia atau pejabat Pegawai
Negeri Sipil tertentu yang diberikan wewenang khusus oleh Undang-Undang untuk
melekukan penyelidikan.
2. Jaksa adalah pejabat yang diberi wewenang oleh Undang-Undang untuk bertindak
sebagai penuntut umum serta melaksanakan putusan pengadilan yang telah
memperoleh hukum tetap.
3. Penuntut umum adalah jaksa yang diberi wewenang oleh Undang-Undang ini untuk
melakukan penuntutan dan melaksanakan ketetapan hakim.
4. Hakim yaitu pejabat peradilan Negara yang deberi kewewenangan oleh Undang-Undang
untuk mengadili.
5. Penasehat hukum ialah seseorang yang memenuhi syarat yagn ditentukan oleh
Undang-Undang Untuk memberikan bantuan hukum.

Aparatur penegak hukum mencakup pengertian mengenai institusi penegak hukum dan aparat
(Orangnya) penegak hukum. Dalam arti sempit, aparatur penegak hukum yang terlibat dalam
proses tegakanya hukum, dimulai dari saksi, polisi, penasehat hukum, jaksa, hakim, dan
petugas sipil pemasyarakatan.
Dalam proses bekerjanya aparatur penegak hukum, terdapat tiga elemen penting yang
mempengaruhi, yaitu:

1. Institusi penegak hukum beserta berbagai perangkatsarana prasarana pendukung dan


mekanisme kerja kelembagaan.
2. Budaya kerja yang terikat dengan aparatnya termasuk mengenai kesejahteraan
aparatnya.
3. Perangkat hukum yang mendukung baik kinerja kelembagaannya maupun yang
mengatur materi hukum yang dijadikan standar kerja, baik hukum materiilnya maupun
hukum acaranya.

3. Faktor yang mempengaruhi penegakan hukum


Menurut soerjono Soekanto factor-factor yang mempengaruhi penegakan hukum
sebagai berikut:
A. Faktor hukumnya sendiri
Semakin baik suatu peraturan hukum akan semakin baik memungkinkan
penegakannya. Sebaliknya, semakin tidak baik peraturan hukum akan semakin sukarlah
menegakkanya. Secara umum, peraturan hukum yang baik adalah aturan yang berlaku secara
yuridis, sosiologis, dan filosofis.

1. Secara Yuridis, Setiap peratutan hukum yang berlaku haruslah bersumber pada peraturan
yang lebih tinggi tingkatannya. Ini bahwa setiap peraturan hukum yang berlaku tidak boleh
bertentangan dengan peraturan hukum yang lebih tinggi derajatnya. Misalnya, Undang-
undang di Indonesia dibentuk oleh Presiden dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat.
2. Secara Sosiologis, Bila peraturan hukum itu diakui atau diterima oleh masyarakat kepada
siapa peraturan hukum tersebut ditijukan/diberlakukan menurut “The Recognition Theory”.
Teori ini bertolak belakang dengan “Machttheorie”, Power Theory. Yang menyatakan,
bahwa peraturan hukum mempunyai kelakuan sosiologis, apabila dipaksakan berlakunya
oleh penguasa, diterima ataupun ditolak warga masyarakat.
3. Secara Filosofis, Apabila peraturan tersebut sesuai dengan cita cita hukum sebagai nilai
yang positif yang tertinggi. Dalam Negara Indonesia, cita-cita hukum sebagai nilai positif
yang tertinggi dalam masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD
19945.
B. Faktor Penegak Hukum
Secara sosiologi setiap penegak hukum tersebut mempunyai kedudukan atau
peranan. Kedudukan social merupakan posisi tertentu dalam struktur masyarakat yang isinys
adalah hak dan kewajiban.
Penegakan hukum dalam mengambil keputusan diperlukan penilaian pribadi
yang memegang peranan karena:

1. Tidak ada perundingan undang undang yang sedemikian lengkap, sehingga dapat
mengatur perilaku manusia.
2. Adanya hambatan untuk menyelesaikan perundangan dengan perkembangan
masyarakat sehingga menimbulkan ketidakpastian.
3. Kurangnya biaya untuk menerapkan biaya perundang-undangan.
4. Adanya kasus individual yang memerlukan penanganan khusus.

C. Faktor Sarana atau Fasilitas


Sarana atau fasilitas antara lain mencakup tenaga manusia yang berpendidikan dan terampil,
organisasi yang baik, peralatan yang memadai, keuangan yang cukup dan seterusnya. Kalau
hal itu tudak dipenuhi maka mustahil penegak hukum akan mencapai tujuannya.
Misalnya, membuktikan apakah suatu tanda tangan palsu atau tidak, kepolisian didaerah tidak
dapat mengetahui secara pasti karena tidak mempunyai alat untuk memeriksanya, sehingga
terpaksa dikirim ke Jakarta.
D. Faktor Masyarakat
Semakin tinggi kesadaran hukum masyarakat maka akan semakin memungkinkan penegakan
hukum yang baik. Sebaliknya, semakin rendah tingkat kesadaran hukum masyarakat, maka
akan semakin sukar untuk melaksanakan penegak hukum yang baik.
Kesadaran hukum merupakan suatu pandangan yang hidupdalam masyarakat
tentang apa hukumi itu. Pandangan itu berkembang dan dipengaruhi oleh factor agama,
ekonomi, politik dan sebaainya. Pandangan itu selalu berubah, oleh karena itu hukum pun
selalu berubah.
Maka diperlukan upaya dari kesadaran hukum, yakni:
1). Pengetahuan Hukum 3). Sikap Terhadap Norma-norma
2). Pemahaman Hukum 4). Perilaku Hukum

E. Faktor Kebudayaan
Kebudayaan pada dasarnya mencakup nilai-nilai yang mendasari hukum yang
berlaku, nilai mana yang merupakan konsepdi yang abstrak mengenai apa yang dianggap baik
dan apa yang dianggap buruk. Maka, kebuayaan Indonesia merpakan dasar adat hukum yang
berlaku. Disamping itu berlaku pula hukum tertulis, yang dibentuk oleh golongan tertentu dalam
masyarakat yang mempunyai kekuasaan dan wewenang untuk itu.
Mengenai berlakunya hukum undang-undang tersebut, terdapat beberapa asas yang tujuannya
adalah agar Undang-undang tersebut mempunyai dampak positif. Asas-asas tersebut antara
lain:
1). Undang-undang tidak berlaku surut,
2). Undang-undang yang dibuat oleh penguasa yang lebih tinggi,
3). Mempunyai kedudukan yang lebih tinggi,
4). Unfang-undang yang bersifat khusus menyampingkan undang-undang yang berlaku umum,
apabila pembuatnya sama,
5). Undang undang yang berlaku belakangan, membatalkan undang-undang yang berlaku
terdahulu.
D. PENEGAKAN HUKUM
Hukum sebagai sub sistem dalam sosial sebenarnya menjabarkan bagaimana kenyataan selalu
tidak sesuai dengan harapan dan cita-cita bangsa. “Dass sain sering tidak sama dengan Dass
sollen”. Untuk mengatasi permasalahan itu maka perlu dilakukan pembaharuan di 3 komponen
hukum berikut:
1. Struktur hukum,
2. Substansi hukum,
3. Kultur hukum.
Dimana ketiganya harus beriringan untuk perbaikan hukum di Indonesia. Struktur harus kuat,
kredibel, akuntabel dan kapabel. Substansi harus selaras dengan rasa keadilan masyarakat
sedang budaya hukum harus mendukung tegaknya hukum jika salah satunya timpang.
1 .Membenahi Struktur Hukum(Orang sebagai penegak hukum)
Struktur hukum di Indonesia terdiri atas kepolisian, kejaksaan, hakim, dan pengacara beserta
perangkat infranstrukturnya(penjara, IT penyadapan, dll). Para aparat penegak hukum mulai
kepolisian, kejaksaan, dan kehakiman harus memiliki integritas dan kapasitas dlam
memutuskan perkara berdasarkan peraturan yang sudah ada bukan atas dasar pesanan
belakang. Begitu pula aparat penegak hukum ( kepolisian, kejaksaan dan kehakiman) yang
merupakan salah satu bagian dari struktur hukum harus bebas dari intervensi dari manapun
dalam menjalankan tugasnya.
Salah satu kelemahan struktur hukum di indnesia adalah aparat penegak hukum masih menjadi
subordinas dari kekuasaan presiden. Salah satu contoh kepolisian yang ada dibawah
subordinas presiden sehingga dalam melakukan penyidikan dan penyelidikan banyak ditengarai
hanya menjadi kepanjangan tangan presiden. Lebih ironi lagi, UUD 1945 dalam paasal 14 UUD
1945 menyebutkan presiden dapat memberi grasi, rehabilitasi, amnesti dan abolisi. Ini
menunjukkan penegakkan hukum masih banyak bergantung kepada kemauan penguasa.
Solusi:
1. Struktur hukum yang terdiri dari kepolisian, kejaksaan, kehakiman, pengacara beserta
infranstrukturnya harus diperbaiki dengan mekanisme pengawasan yang dilakukan oleh
civil society.
2. Akuntabilitas Rekrutmen Kepolisian, kejaksaan, kehakiman
3. Mendahulukan kapasitas dan kualitas dalam rekrutmen kepolisian, kejaksaan dan
kehakiman sebagai penentu nasib seseorang yang akan jadi tersangka
4. Memperketat kewenang presiden dalam memberikan abolisi, amnesti sehingga tidak
terkesan hukum dikalahkan oleh kemampuan politik
5. Khusus dalam hal tindak pidana korupsi perlu diberlakukan asas hakim pasif dan
tersangka yang harus aktif dalam membuktikan bahwa dirinya tidak
bersalah(Pembuktian Terbalik)
2. Substansi Hukum (Materi Muatan dalam Perundang-undangan)
Tidak kalah pentingnya dalam memperbaiki hukum di Indonesia sebagai negara civil law
(Negara Formalistis) yang menganut asas legalitas harus memiliki materi muatan yang ada
dalam Perundang-undangan harus mengatur ketentuan-ketentuan yang mencerminkan karakter
dan budaya bangsa. Nilai-nilai religious dan moralitas sebagai karakter bangsa harus menjadi
spirit dalam pembuatan peraturan Perundang-undangan. Bukan justru nilai luar yang pada
hakekatnya bertentangan dengan nilai-nilai kebangsaan kita yang masuk dalam
materi perundang-undangan. Sudah banyak dalam UU yang materi muatannya justru
bertentangan dengan nilai-nilai keIndonesiaan.
Aparat penegak hukum hanya sebagai pelaksana dari UU. Sehingga dalam perumusan
substansi hukum, DPR bersama presiden memiliki peran yang strategis untuk membuat
perundang-undangan yang lebih berpihak kepada kepentingan umum (Vaitelligh Handellengin).
Dalam Negara civil law seperti Indonesia “aparat penegak hukum tanpa peraturan yang lebih
maka akan memangsa, sebaliknya maka peraturan baik tanpa aparat penegak hukum yang
baik akan sia-sia” dengan kata lain kedua unsur ini harus baik untuk penegakan hukum
kedepan.
SOAL

1. Menurut Hadjon, Perlindungan hukum bagi rakyat meliputi dua hal, sebutkan 2 hal tersebut!
2. Dalam menegakkan hukum, ada tiga hal yang harus diperhatikan, apsajakah tiga hal
tersebut!
3. Ditinjau dari sudut subjeknya. Apa yang dimaksud dengan penegak hukum Dalam arti
sempit.?
4. Dalam proses bekerjanya aparatur penegak hukum, terdapat tiga elemen penting yang
mempengaruhi, sebutkan salah satu elemen tersebut!
5. Menurut soerjono Soekanto apasajakah factor-factor yang mempengaruhi penegakan
hukum

JAWABAN

1. Menurut Hadjon, Perlindungan hukum bagi rakyat meliputi dua hal, yakni: Pertama:
Perlindungan hukum preventif, yakni bentuk perlindungan hukum dimana kepada rakyat
diberi kesempatan mengajukan keberatan atau pendapatnya sebelum pemerintah
mendapat bentuk yang definitif.Kedua: Perlindungan hukum represif, yakni bentuk
perlindungan hukum dimana lebuh diajukan dalam penyelesainkan sengketa
2. Dalam menegakkan hukum, ada tiga hal yang harus diperhatikan yaitu, kepastian hukum,
kemanfaatan dan keadilan
3. Dalam arti sempit, penegakan hukum hanya diartikan sebagai upaya aparatur penegakan
hukum tertentu untuk menjamin dan memastikan bahwa suatu aturan hukum berjalan
bagaimana seharusnya
4. Dalam proses bekerjanya aparatur penegak hukum, terdapat tiga elemen penting yang
mempengaruhi, yaitu: Institusi penegak hukum beserta berbagai perangkatsarana
prasarana pendukung dan mekanisme kerja kelembagaan.
5. Menurut soerjono Soekanto factor-factor yang mempengaruhi penegakan hukum sebagai
berikut:
• Faktor hukumnya sendiri
• Faktor penegak hukum
• Faktor sarana atau fasilitas
• Faktor masyarakat
• Faktor kebudayaan

NILAI PARAF GURU