Anda di halaman 1dari 28

1

BAB 1

PENDAHULUAN

Sebagian bayi baru lahir mempunyai keterbatasan adaptasi terhadap

lingkungan ekstrauterin. Keterbatasan tersebut dapat dapat diakibatkan oleh faktor

imaturitas, kelainan bawaan atau kondisi yang terjadi sebelum persalinan,

mislanya gawat janin, ketuban pecah sebelum waktunya, ibu infeksi, ibu DM, ibu

preeklamsia,dan lainnya.

Resusitasi yang idlakukan setelah bayi lahir adalah salah satu upaya untuk

kmengatasi keterbatasan tersebut. Target utama resusitasi adalah menghadapi

keterbatasan system kardiopulmonal dengan tujuan membantu paru terbuka dan

menjaganya senantiasa terbuka. Dengan terbukanya alveoli paru pernapasan bayi

menjadi lebih baik, sirkulasi jantung ke paru dan sebaliknya menjadi lebih lancar.

Pada bayi telah melewati periode resusitasi dengan sempurna, tidak selalu dapat

menjamin pada kehidupan pascaresusitasi selanjutnya fungsi paru dan jantung

senantiasa terjamin berfungsi baik serta bebas dari permasalahan. Sebagian besar

bayi menunjukan kemampuan adaptasi yang stabil tanpa bantuan dan sebagian

masih memerlukan bantuan atau timbul permasalahan lain.

Menurut World Health Organization (WHO) asfiksia perinatal merupakan

masalah yang menyebabkan tingginya tingkat morbiditas dan mortalitas pada

neonatus, diperkirakan insidensinya sekitar 4-9 juta kasus dari 130 juta kelahiran.

Satu juta diantaranya meninggal, satu juta lainnya mengalami palsi serebral,

epilepsi, retardasi mental dan defek sensoris. Sekitar 50% dari seluruh kelahiran
2

di dunia terjadi di rumah, seringkali tanpa bantuan tenaga kesehatan profesional.

Padahal resusitasi neonatus dan perawatan pasca resusitasi oleh dokter dan tenaga

kesehatan profesional sangat diperlukan untuk menentukan prognosis dari bayi.

Intervensi dini dan pencegahan komplikasi merupakan prinsip dasar di resusitasi

dan stabilisasi neonatus.

Bayi yang membutuhkan resusitasi saat lahir memiliki risiko untuk

mengalami perburukan kembali walaupun telah tercapai tanda vital yang normal.

Ketika ventilasi dan sirkulasi yang adekuat telah tercapai, bayi harus dipantau atau

ditransfer ke tempat yang dapat dilakukan monitoring penuh dan dapat dilakukan

tindakan antisipasi, untuk mendapatkan pencegahan hipotermia, monitoring yang

ketat dan pemeliharaan fungsi sistemik dan serebral. Selama transportasi,

neonatus yang sakit kritis tersebut sangat rentan terkena rangsang yang berbahaya,

seperti suara, goncangan, dan ketidakstabilan temperatur, dimana semua hal

tersebut dapat menambah ketidakstabilan neonatus yang sedang berusaha

mempertahankan homeostasis tubuhnya.

Faktor-faktor yang menentukan morbiditas dan mortalitas diantaranya

asidosis, karbondioksida, tekanan darah, glukosa, dan suhu. Selama proses

tranportasi neonatus, seluruh faktor tersebut sedapatnya harus dijaga dalam batas

normal agar dapat meminimalisasi efek samping. Hingga saat ini, mengingat

keterbatasan sumber daya manusia dan peralatan, maka proses transportasi

neonatus masih merupakan tantangan. Pada referat ini akan dibahas mengenai

langkah stabilisasi neonatus pasca resusitasi lahir.


3

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

STABLE merupakan tindakan stabilisasi pasca resusitasi pada neonatus

yang bertujuan agar dapat merujuk bayi yang stabil serta meminimalkan

kemungkinan efek samping yang berakibat buruk. STABLE yakni terdiri dari

Sugar-Temperature-Airway-Blood Presure-Laboratory Works-Emotional

Support.

2.2 Langkah-langkah Stabilisasi pasca Resusitasi

Penanganan pasca resusitasi pada neonatus yang mengalami asfiksia

perinatal sangat kompleks dan membutuhkan monitoring yang ketat dan

tindakan antisipasi yang cepat, karena bayi berisiko mengalami disfungsi

multiorgan dan perubahan dalam kemampuan mempertahankan homeostasis

fisiologis. Deteksi dan intervensi dini terhadap gangguan fungsi organ sangat

mempengaruhi keluaran dan harus dilakukan di ruang perawatan intensif

untuk mendapatkan perawatan dukungan, monitoring, dan evaluasi diagnostik

yang lebih lanjut.

Prinsip umum dari penanganan pasca resusitasi neonatus diantaranya

melanjutkan dukungan kardiorespiratorik, koreksi hipoglikemia, asidosis

metabolik, abnormalitas elektrolit, serta penanganan hipotensi. Dalam

melaksanakan stabilisasi pasca resusitasi neonatus terdapat acuan dalam


4

melakukan pemeriksaan dan stabilisasi yaitu STABLE (Sugar, Temperatur,

Airway, Blood pressure, Laboratory, & Emotional Support) .

2.2.1 Sugar

Merupakan langkah untuk menstabilkan kadar gula darah neonatus.

Hipoglikemia adalah keadaan dimana kadar glukosa darah tidak dapat

mencukupi kebutuhan tubuh.

Pada bayi baru lahir sehat maupun yang sakit dapat mengalami

hipoglikemia pada hari-hari pertama kehidupan. Hipoglikemia terjadi

akibat ketidakseimbangan antara produksi gula darah dan

pemakaiannya. Pada bayi baru lahir hipoglikemia transien merupakan

kondisi yang sering terjadi yaitu 4 per 1.000 kelahiran bayi cukup

bulan dan 6 per 1.000 kelahiran bayi kurang bulan.

Kadar glukosa darah normal dipertahankan melalui proses

glikogenolisis dan glukoneogenesis dari berbagai sumber energy

nonkarbohidrat. Hipoglikemia bayi baru lahir dapat terjadi bila bayi

mengalami gangguan proses glikogenolisis maupun glukoneogenesis,

selain itu bila cadangan glikogen sudah terpakai atau kebutuhan

glukosa yang untuk metabolism tubuh.

 Adaptasi Glukosa pascanatal

Selama kehidupan janin, glukosa berdifusi pasif menembus

barier plasenta sehingga 70%-80% glukosa darah janin berasal

dari ibu. Berbeda halnya dengan insulin yang tidak dapat

menembus barier plasentas sehingga janin harus memproduksi


5

dan menyekresikan insulin sendiri. Saat setelah lahir, tali pusat

bayi dipisahkan dari plasenta, akibatnya aliran glukosa darah

ibu ke bayi berhenti, sedangkan laju sekresi insulin bayi masih

tetap. Ketidaksaeimbangan antara pasokan gula dari ibu dan

pemakaian gula melalui hormone insulin menyebabkan kadar

gula darah bayi baru lahir cenderung menurun dalam jam-jam

pertama kehidupan. Hipoglikemia transien dapat terjadi dalam

jam-jam pertama kehidupan bayi baru lahir karena proses

adaptasi yang lambat atau masih immature.

 Pengertian dan batasan hipoglikemia pada bayi baru lahir

Batasan kadar gula darah sebagai definisi hipoglikemia masih

controversial. Sebagian besar consensus menetapkan definisi

hipoglikemia bila kadar gula darah kurang dari 45 mg/dl.

 Bayi baru lahir dengan risiko tinggi hipoglikemia adalah bayi

dari ibu DM, Bayi dengan besar masa kehamilan, Bayi dengan

kecil masa kehamilan, bayi kurang bulan, bayi sakit atau

stress, bayi yang dipuasakan dan bayi dari ibu yang

mengkonsumsi obat-obatan tertentu yang mengganggu

metabolism glukosa.
6

Bayi risiko Hipoglikemia Gejala Hipoglikemia :

- Bayi dari ibu - Jitteri


DM - Tremor
- BMK/KMK - Kejang
- Sakit, stress - Letargi
- Bayi puasa - Apnea
- Pilisitemia

Periksa GD setelah lahir (usia 1 jam)


dan pantau setiap jam hingga stabil SEGERA PERIKSA GD
(kadar GD 45 mg/dl)

GD GD GD
<20-25 25-45 >45

1. Periksa GD 1. Periksa GD 1. segera minum


2. D10% 2ml/kgBB 2. Segera minum dalam 4 jam
(5menit) dalam 4 jam pascalahir
3. Lanjut IV 5 3. Tambah D10% 2. pantau skrining GD
mL/kgBB/jam IV jika minum bayi berisiko hingga
4. Skrining lain atau cak tidak ditoleransi pemberian ASI
GD 15-30 menit. Jika ATAU GD tetap ditoleransi baik
GD tetap <20-25 20-45 mg/dL
mg/dL, perlu D15% 4. Pantau GD
5. Tunda asupan periodik
enteral, mulai
asupan sering GD
normal, bayi stabil
dan dapat minum
6. Pantau GD secara
periodik

Bagan 1. Rekomendasi tatalaksana hipoglikemia menurut kadar gula daerah


7

2.2.2 Temperatur

Menjaga suhu tubuh yang normal merupakan kebutuhan priopritas

setiap bayi baru lahir. Suhu lingkungan yang baik adalah esensial

selamastabilisasi untuk menghindari kehilangan panas yang dapat

berakibat kematian.

Hipotermia merupakan kondisi yang dapat dicegah dan sangat

mempengaruhi morbiditas dan mortalitas, khususnya pada bayi

prematur. Maka, usaha untuk mempertahankan suhu normal bayi dan

pencegahan hipotermia selama stabilisasi sangatlah penting.

Termoregulasi adalah pengaturan suhu tubuh dan terjadi

keseimbanganantara kehilangan dan produksi panas tubuh. Tujuan

utamanya adalah mengendalikan suhu lingkungan agar tercipta suhu

tubuh bayi yang stabil dan optimal untuk metabolism, namun dengan

pemakaian energy tubuh yang minimal.

Setiap bayi baru lahir berisiko kehilangan panas. Suhu dapat turun

dengan cepat bila kehangatan tidak terjaga (>0,2-1 derajat

celcius/menit). Hal ini disebabkan oleh perbedaan suhu antara kondisi

intrauterin yang senantiasa terjaga hangat dan kondisi ekstrauterin

yang lebih dingin dan berubah-ubah akibat pengaruh luar.

Terdapat beberapa mekanisme secara fisiologi yang menyebabkan

kehilangan panas pada tubuh yaitu :


8

1. Konduksi

Konduksi adalah perpindahan panas yang terjadi sebagai

akibat perbedaan suhu antara kedua objek. Misalnya kontak antara

tubuh bayi dengan alas atau timbangan. Untuk mengurangi risiko

kehilangan panas secara konduksi dapat dilakukan dengan cara

menghangatkan alat-alat yang akan bersentuhan dengan bayi,

misalnya alas, stetoskop, handuk, dan tangan pemeriksa.

2. Konveksi

Konveksi adalah proses kehilangan panas melalui kontak

dengan aliran udara yang melalui permukaan tubuh bayi, misalnya

aliran udara dari jendela, pintu, kipas angin, AC. Untuk

mengurangi kehilangan panas secara konveksi dapat dilakukan

dengan cara menaikkan suhu ruangan menjadi 25-280C

(rekomendasi WHO), melapisi tubuh bayi prematur (berat <1500

gram) dengan plastik dari dagu hingga kaki, serta mentransfer bayi

dengan menggunakan incubator tertutup yang telah dihangatkan

terlebih dahulu.

3. Evaporasi

Evaporasi adalah proses kehilangan panas melalui

penguapan melalui permukaan kulit atau traktus respiratorius.

Standar internasional merekomendasikan untuk segera

mengeringkan bayi dengan handuk hangat setelah lahir untuk

mengurangi kehilangan panas secara evaporasi, lapisi permukaan


9

tubuh bayi prematur dengan plastik polietilen untuk mencegah

kehilangan panas secara evaporasi dan konveksi, hangatkan suhu

ruangan dan kurangi adanya turbulensi udara yang melewati bayi.

4. Radiasi

Radiasi adalah proses kehilangan panas antara dua benda

padat yang tidak bersentuhan. Proses kehilangan panas melalui

radiasi dapat dikurangi dengan cara mempertahankan kehangatan

suhu ruangan dan menjauhkan bayi dari jendela terbuka, atau

dengan meletakkan bayi di dalam inkubator.

Bayi mengalami hipotermi bila terjadi ketidakseimbangan

antara kehilangan produksi panas. Suhu normal pada bayi baru lahir

antara 36,5°𝐶 - 37,5°𝐶. Pembagian hipotermi menurut WHO adalah :

 Hipotermi ringan 36°𝐶 – 36,4°𝐶

 Hipotermi sedang 32°𝐶 – 35,9°𝐶

 Hipotermi berat < 32°𝐶

Terdapat 3 cara pemeriksaan suhu yaitu :

 Suhu rectal :

Suhu rectal lebih mencerminkan suhu tubuh yang sebenarnya

atau sesungguhnya tetapi cara ini sudah tidak direkomendasikan

untuk dilakukan secara rutin, kecuali pada bayi yang sedang

dilakukan terapi hipotermi karena monitoring suhu harus

dilakukan secara kontinu dan tepat.


10

 Suhu aksilar :

Cara pemeriksaan suhu yang paling umum dilakukan, namun

suhu yang terukur lebih rendah 0,5°𝐶 dibanding dengan suhu

rectal

 Suhu kulit :

Biasanya dilakukan pada bayi yang dirawat di incubator/infant

warmer. Metode ini mempunyai ketepatan yang kurang lebih

sama dengan suhu aksilar.

`bila hipotermi tidak teratasi dengan respon fisiologis bayi maka

erjadi peningkatan norepinefrin yang menyebabkan vasokontriksi

pembuluh darah sistemik sehingga terjadi gangguan oksigenasi dan

perfusi jaringan. Pada kondisi tertentu jaringan tubuh akan

melangsungkan proses metabolism tanpa melibatkan oksigen

(anaerob). Hasil akhir metabolism anaerob berupa asidosis dan

peningkatan asam laktat, serta bahan toksik lainnya yang dapat

mengakibatkan kerusakan sel otak dan dapat berakhir dengan

apoptosis/kematian sel. Dampak hipotermi akan lebih berat pada bayi

yang kurang bulan.

Bayi baru lahir yang beresiko tinggi mengalami hipotermia, antara

lain:

 Bayi kurang bulan

 Bayi berat lahir rendah

 Bayi kecil masa kehamilan


11

 Bayi dengan pasca rsusitasi berkepanjangan

 Bayi sakit berat, sepsis, atau penyakit lainnya

 Bayi dengan masalah jantung, neurologi dan endokrin

 Bayi dengan masalah bedah

Gejala klinis yang biasanya ditemui pada bayi sangat sulit

dideteksi secara klinis tetapi bisa dilihat dari beberapa gejala awal

yaitu kemampuan mengisap yang rendah atau menurun atau tidak

dapat menyusu, letargi atau menangis lemah, perubahan warna kulit

dari pucat dan sianosis menjadi kutis marmorata, takipnea dan

takikardi. Gejala lanut pada hipotermi adalah apnea, bradikardia,

sianosis, penurunan konsentrasi oksigen, hipoglikemia, asidosis

metabolik, distress pernapasan yang berat, hipotensi hingga syok.

Tatalaksana pada hipotermi yang terbaik adalah mencegah bayi

tidak menjadi hipotermia dengan melakukan penanganan

termoregulasi segera setelah lahir dan mempertahankan lingkungan

bayi pada lingkungan termo netral.

2.2.3 Airway

Sebagian besar masalah neonatus yang ditransfer dari NICU adalah

distres pernafasan. Pada keadaan tertentu, gagal nafas dapat dicegah

dengan memberikan dukungan respiratorik 8 sesuai dengan kebutuhan

bayi, misalnya pemberian oksigen melalui nasal kanul, ventilasi

tekanan positif, intubasi endotrakeal, sampai bantuan ventilator.


12

Dukungan ventilasi dan reoksigenasi adalah sangat penting.

Ventilasi dan reoksigenasi yang tidak optimal membuat tubuh akan

semakin hipoksemia, hipoksia, metabolism anaerob dan tingkat lanjut

dapat berakhir dengan kematian sel.

Evaluasi kondisi bayi sesering mungkin dan catat hasil observasi.

Pada beberapa keadaan membutuhkan penilaian ulang tiap beberapa

menit, sedangkan pada keadaan yang lebih ringan dapat dinilai ulang

tiap 1–3 jam. Hal yang harus dievaluasi dan dicatat:

1. Laju nafas

Nilai normal laju nafas neonatus adalah 40–60 kali/menit.

Laju nafas >60 kali/menit (takipnea) dapat disebabkan karena

berbagai hal, dapat berhubungan dengan kelainan di saluran

respiratorik atau dari tempat lain. Laju nafas <40 kali/menit

dapat menandakan bahwa bayi mulai kelelahan, atau sekunder

karena cedera otak (hipoksik iskemik-ensefalopati, edema otak

atau perdarahan intrakranial), obat-obatan (opioid), atau syok.

2. Usaha nafas

Selain takipnea, tanda distres pernafasan lain diantaranya:

a. Retraksi, dapat dilihat didaerah suprasternal, substernal,

interkostal, subkostal.

b. Grunting, pernafasan cuping hidung

c. Apnea, nafas megap-megap, atau periodic breathing.


13

3. Kebutuhan oksigen

Apabila bayi mengalami sianosis di udara ruangan dan distres

pernafasan ringan atau sedang, maka oksigen diberikan melalui

hidung. Pada keadaan bayi mengalami distres pernafasan berat,

dapat diberikan tindakan yang lebih agresif seperti Continous

Positive Airway Pressure (CPAP), atau intubasi endotrakeal.

4. Saturasi oksigen

Saturasi oksigen harus dipertahankan agar di atas 90%.

Saturasi oksigen normal atau yang cukup pada bayi baru lahir

adalah 88-92%.

Dalam menentukan derajat distres pernafasan, penting untuk

menilai laju pernafasan, usaha nafas, kebutuhan oksigen, saturasi

oksigen, dan beberapa pemeriksaan penunjang lainnya. Berikut

merupakan penilaian derajat distres pernafasan pada neonatus:

a. Ringan: nafas cepat tanpa membutuhkan oksigen tambahan, tanpa

atau terdapat tanda distres minimal.

b. Sedang: sianotik pada suhu kamar, terdapat tanda distres

pernafasan dan analisis gas darah yang abnormal.

c. Berat: sianosis sentral, berusaha kuat untuk bernafas, dan analisis

gas darah yang abnormal.

Progresivitas distres pernafasan dari ringan, sedang menjadi

berat dapat terjadi dengan cepat, oleh karena itu pemantauan yang
14

kontinyu dibutuhkan sehingga penyediaan bantuan nafas dapat

segera diberikan.

Bayi baru lahir yang berisiko kesulitan bernapas adalah :

 Bayi kurang bulan

 Bayi dengan aspirasi mekoneum

 Bayi yang dilahirkan secara Sectio Caesarea

 Bayi dari ibu yang polihidroamnion

 Bayi dengan problem sumbatan jalan napas

Gejala klinis problema pernapasan dibagi menjadi 2 prinsip utama

yaitu bayi sudah mengalami gagal napas dan bayi mengalami sesak

napas atau distress napas. Sangat penting membedakan keduanya

karena akan berbeda dalam penanganannya.

Tanda gagal napas seperti; apnea atau napas megap-megap.

Terkadang napas megap-megap disalahartikan sebagai distress

pernapasan sedangkan pada napas megap-megap sudah tidak terjadi

pertukaran gas yang adekuat.

Kesulitan bernapas atau distress napas dapat memberikan salah

satu atau kombinasi gejala-gejalan ini :

 Takipnea ( laju pernapasan >60 kali permenit )

 Kerja otot bantu napas meningkat ( retraksi )

 Napas cupping hidung

 Sianosis

 Merintih
15

Penilaian derajat gangguan napas pada bayi baru lahir dapat

dilakukan dengan menggunakan skor Downe (Downe score). Skor ini

yang dapat digunakan pada berbagai kondisi dan usia gestasi. Distres

napas adalah suatu manifestasi klinis yang disebabkan oleh berbagai

kelainan yang melibatkan paru maupun organ selain paru. Jika laju

napas > 60kali/menit disertai pCO2 yang tinggi maka penyebab

distres napas bisa berasal dari paru seperti sindrom gawat napas,

pneumonia, aspirasi, perdarahan paru, obstruksi jalan napas, serta

pneumotoraks, sedangkan jika pCO2 rendah maka distres napas

mungkin disebabkan oleh organ di luar paru.

Bayi dengan kesulitan bernapas yang harus dilakukan pertama

adalah stabilisasi yang sama halnya dalam langkah pada proses

resusitasi, yaitu meliputi menghangatkan, mengeringkan, memberi

stimulasi atau rangsangan taktil, reposisi bayi untuk membuka jalan

napas dan isap lendir jika diperlukan. Selanjutnya untuk penanganan

bayi dengan kesulitan bernapas dapat mengikuti langkah resusitasi

neonates.
16

Gambar 1. Algoritma Resusitasi Neonatus

Stabilisasi jalan napas perlu dilakukan untuk memertahankan jalan

napas tetap terbuka. Stabilisasi ini dilakukan dengan mengganjal bahu

dengan gulungan kain. Bayi juga dapat diposisikan telentang dengan

sedikit tengadah untuk agar posisi faring, laring dan trakea berada dalam

satu garis lurus. Posisi telentang merupakan posisi terbaik untuk


17

melakukan ventilasi dengan balon sungkup ataupun pemasangan pipa

endotrakeal.

2.2.4 Blood Pressure

Curah jantung yang mencukupi diperlukan untuk mempertahankan

sirkulasi. Cara yang terbaik untuk mempertahankan sirkulasi adalah

dengan memberikan cairan dan elektrolit yang adekuat. Pada bayi

sakit berat harus dipantau tanda-tanda syok. Syok adalah keadaan

dimana terjadi perfusi dan pengiriman oksigen ke organ vital yang

inadekuat atau suatu keadaan yang kompleks dari disfungsi sirkulasi

yang berakibat terganggunya suplai oksigen dan nutrien untuk

memenuhi kebutuhan jaringan. Kegagalan dalam mengenali dan

menangani syok dapat berakibat gagal organ multipel dan kematian

pada bayi, oleh karena itu penanganan syok harus dilakukan secara

agresif.

Kegagalan untuk segera mengenali dan mengatasi keadaan syok

(hipovolemik, kardiogenik, septik) dapat menyebabkan kegagalan

multi organ dan bahkan kematian pada bayi baru lahir, sehingga

pengobatan harus cepat dan agresif. Langkah pertama dalam

pengobatan syok adalah untuk mengidentifikasi sumbernya. Langkah

kedua adalah mengidentifikasi dan memperbaiki masalah yang terkait

atau yang mendasari yang dapat mengganggu.

Secara umum syok dibedakan menjadi 3 bentuk yaitu:


18

a. Syok hipovolemik adalah disfungsi sirkulasi yang disebabkan

oleh volume sirkulasi darah yang rendah. Penyebabnya dapat

berupa perdarahan maupun yang bukan perdarahan (misal

kebocoran kapiler, dehidrasi, hipotensi fungsional).

b. Syok kardiogenik adalah disfungsi sirkulasi yang disebabkan

oleh fungsi otot-otot jantung yang lemah (gagal jantung).

Kondisi ini dapat terjadi pada bayi dengan asfiksia, hipoksia

dan/ atau asidosis metabolik, infeksi, gangguan napas berat

(membutuhkan bantuan ventilasi), hipoglikemia berat,

kelainan metabolik dan/ atau gangguan elektrolit berat,

aritmia, dan penyakit jantung bawaan.

c. Syok septik adalah disfungsi sirkulasi yang disebabkan oleh

reaksi sistemik kompleks sebagai respons terhadap infeksi

berat. Syok septik sering memberikan respons yang kurang

baik terhadap resusitasi cairan sehingga bayi membutuhkan

obat inotropik atau vasopresor untuk mengatasi tekanan darah

yang rendah.

Bayi yang mengalami syok dapat memiliki tanda-tanda berikut ini:

 Usaha nafas

Takipnea, retraksi, pernafasan cuping hidung, grunting,

apnea, gasping.

 Nadi
19

Pada keadaan syok denyut nadi dapat melemah atau tidak

teraba.

 Perfusi perifer

Perfusi yang buruk akibat vasokonstriksi dan menurunnya

curah jantung memanjangnya waktu pengisian kapiler (>3

detik), mottling dan kulit teraba dingin. Tanda perfusi yang

adekuat diantaranya adalah waktu pengisian kapiler yang

cepat, warna tidak sianosis atau pucat, denyut nadi yang kuat,

output urin yang adekuat dan kesadaran yang baik.

 Warna Kulit

bayi tampak sianosis atau pucat. Oksigenasi dan saturasi

harus dievaluasi secara berkala. Pemeriksaan gas darah juga

dapat dilakukan untuk mengetahui adanya asidosis respiratorik

atau metabolik.

 Frekuensi jantung

Frekuensi jantung normal adalah 120-160 kali/menit,

namun dapat bervariasi sekitar 80- 200 kali/menit tergantung

dari aktivitas bayi. Pada keadaan syok, denyut jantung dapat

berupa bradikardia (180 kali/menit).

 Jantung

Evaluasi adanya murmur dan pembesaran jantung pada

rontgen dada.
20

 Tekanan darah

Tekanan darah saat syok dapat normal atau hipotensi.

Hipotensi merupakan tanda terakhir dari dekompensasi

jantung. Hal lain yang harus dievaluasi adalah tekanan nadi.

Nilai normal tekanan nadi pada bayi cukup bulan adalah 25-30

mmHg, sedangkan pada bayi kurang bulan nilai normalnya

adalah 15-25 mmHg. Tekanan nadi yang sempit menunjukkan

vasokonstriksi, gagal jantung atau curah jantung yang rendah.

Sedangkan tekanan nadi yang lebar dapat terjadi pada duktus

arteriosus persisten atau malformasi arterivena.

Tatalaksana syok diawali dengan identifikasi penyebab syok.

Tatalaksana syok secara umum bertujuan untuk mencapai kadar

normal pH, menurunkan pembentukan asam laktat dan

metabolisme anaerob, meningkatkan oksigenasi dan perfusi

jaringan, serta meningkatkan curah jantung. Perawatan suportif

harus segera diberikan dengan menjaga patensi jalan napas,

memberikan terapi oksigen, serta memasang akses intravascular.

Tatalaksana selanjutnya disesuaikan dengan masingmasing bentuk

syok yang terjadi.

Tatalaksana pada syok hipovolemik meliputi:

 Cairan kristaloid: larutan salin normal atau ringer laktat. – Jika

tidak terdapat kehilangan darah akut, cairan kristaloid

diberikan 10 mL/kg/kali secara intravena, intraoseus, atau


21

melalui kateter vena umbilical dalam waktu 15-30 menit

(pemberian dalam waktu singkat menyesuaikan dengan

kondisi bayi). Pemberian bolus pada bayi prematur sebaiknya

diberikan lebih dari 20 menit. Bolus dapat diberikan dua kali

atau lebih pada kasus syok berat.

 Jika terdapat kehilangan darah kronik, pemberian cairan

penambah volume tidak dapat diberikan secara cepat. Cairan

diberikan sebanyak 10 mL/kg/kali secara intravena, intraoseus,

atau melalui kateter vena umbilikal selama 30 menit-2 jam

(menyesuaikan dengan kondisi bayi).

Respons bayi (laju denyut jantung, perfusi, dan tekanan darah)

harus dinilai pada akhir pemberian bolus sehingga dapat

menentukan pemberian bolus selanjutnya.

Tatalaksana syok kardiogenik ditujukan untuk memperbaiki

keadaan dengan gangguan yang memengaruhi fungsi jantung

(hipoksia, hipoglikemia, hipotermia, hipotensi, asidosis, aritmia,

infeksi, serta gangguan keseimbangan elektrolit).

Tatalaksana syok septik adalah kombinasi tatalaksana syok

hipovolemik dan syok kardiogenik. Jumlah cairan yang diberikan

pada syok septik dapat lebih banyak akibat adanya kebocoran

cairan dari intravaskular ke ekstravaskular atau interstisial. Pada

syok kardiogenik maupun syok septik dapat diberikan terapi:


22

 Natrium bikarbonat 4,2% (0,5 mEq/mL), dengan dosis 2-4

mL/kg/ kali selama 30-60 menit secara intravena untuk

mengatasi asidosis metabolik berat (pH < 7,15 dan bayi

diventilasi dengan adekuat). Perlu diperhatikan dalam

pemberian yang terlalu cepat dan tanpa diencerkan dapat

menyebabkan perdarahan intraventrikular pada bayi

kurang bulan karena natrium bikarbonat merupakan cairan

sangat hipertonik.

 Dopamin hidroklorida, dengan dosis 5-20 mcg/kg/menit

diberikan secara kontinyu menggunakan pompa intravena

untuk meningkatkan kontraktilitas jantung dan tonus

vaskular.

2.2.5 Laboratory

Pemantauan elektrolit direkomendasikan pada neonatus yang

mengalami kejang atau usia >24 jam dan dalam keadaan tidak bugar.

Elektrolit yang harus diperiksa adalah kadar natrium, kalium dan

kalsium. Selain itu perlu dilakukan juga pemeriksaan tanda infeksi,

karena sistem imun neonatus masih imatur dan berisiko tinggi untuk

mengalami infeksi. Tanda klinis sepsis diantaranya distres pernafasan,

perfusi kulit yang abnormal, suhu yang tidak stabil, denyut jantung

dan tekanan darah yang abnormal, serta intolerasi terhadap minum.

Apabila dicurigai adanya sepsis berdasarkan klinis dan riwayat

maternal, harus dilakukan pemeriksaan kultur darah dan darah


23

lengkap bila memungkinkan. Pemberian antibiotik intravena tidak

boleh ditunda apabila pemeriksaan kultur darah tidak dapat dilakukan.

Pada bayi yang sakit berat atau pada saat sebelum transportasi,

antibiotik harus diberikan sampai kemungkinan infeksi sudah

tersingkirkan.

Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan:

1. Sebelum transportasi Pemeriksaan berikut (4-B) harus

dilakukan sebelum dilakukan transportasi:

 Blood culture (kultur darah)

 Blood count (pemeriksaan darah rutin)

 Blood gas (analisis gas darah)

 Blood glucose (kadar glukosa darah)

2. Setelah transportasi

Pemeriksaan laboratorium setelah transportasi tergantung

dari riwayat, faktor risiko, dan gejala klinis dari bayi.

Pemeriksaan yang dapat dilakukan diantaranya pemeriksaan C-

reactive protein (CRP), elektrolit (natrium, kalium, kalsium),

fungsi ginjal (ureum, kreatinin), fungsi hati (SGOT, SGPT,

bilirubin, pT, aPTT, fibrinogen, D-dimer).

2.2.6 Emotional Support

Keluarga dari bayi yang mengalami krisis biasanya akan

mengalami rasa bersalah, marah, tidak percaya, merasa gagal, tidak

berdaya, takut dan depresi. Orang tua dari bayi akan mengalami
24

beberapa tahapan emosional dalam menghadapi keadaan bayinya,

yaitu:

1. Terkejut. Pada masa ini pikiran orang tua dipenuhi dengan

berbagai pertanyaan, seperti bagaimana nasib bayi selanjutnya?

Bagaimana kehidupan mereka selanjutnya? Sehingga orang tua

akan sulit berpikir dengan jernih, dan perlu mendapatkan

penjelasan mengenai kondisi bayinya berulang kali.

2. Menyangkal. Pada masa ini orang tua tidak mempercayai

kenyataan yang terjadi. Orang tua cenderung mencari bukti-bukti

lain yang dapat membuktikan bahwa keadaan tersebut tidak benar.

3. Berkabung, sedih dan takut. Pada masa ini orang tua sudah mulai

menerima bahwa keadaan anaknya tidak seperti yang diharapkan,

mulai merasa sedih dengan beban yang harus mereka pikul, dan

takut bahwa bayi mereka akan meninggal atau menjadi tidak

normal.

4. Marah dan merasa bersalah. Pada tahap selanjutnya orang tua akan

merasa marah karena bayi mereka sakit, marah mengapa hal

tersebut terjadi pada mereka. Jadi pada tahap ini, karena mereka

tidak bisa marah kepada bayinya, mereka cenderung akan marah

kepada orang-orang yang ada di sekitarnya.

5. Tahap ekuilibrium dan terorganisir

Pada masa ini orang tua mulai mengerti mengenai kondisi bayinya

dan mulai berinteraksi dengannya.


25

Tahapan-tahapan tersebut penting untuk diketahui agar dapat

lebih mengerti mengenai kondisi mereka dan dapat memberikan

dukungan emosi, serta menawarkan bantuan untuk membantu

keluarga melewati masa kritisnya. Keluarga sedapat mungkin

memperoleh informasi secara kontinyu mengenai perkembangan

keadaan anaknya. Kontak sedini mungkin antara orang tua dengan

anaknya sangatlah penting.

Dukungan emosi yang diberikan kepada keluarga dapat diberikan

sebelum, pada saat bahkan sesudah bayi ditransfer ke tempat yang

lebih intensif. Setelah bayi dilakukan resusitasi dan akan ditransfer ke

tempat yang lebih intensif, orang tua bayi harus diperbolehkan untuk

melihat dan menyentuh bayi mereka dahulu. Apabila tidak

memungkinkan, maka sebelum dipindahkan, bayi disinggahkan

terlebih dahulu ke kamar ibu untuk mempertemukan mereka secara

singkat. Sebaiknya keluarga diperbolehkan untuk memotret atau

merekam bayi. Hal ini dapat membantu menenangkan ibu yang akan

berpisah dengan bayinya.

Pada saat akan ditransfer, orang tua harus mendapatkan

penjelasan kembali mengenai kondisi anak mereka. Penjelasan harus

singkat dan mudah dimengerti agar orang tua dapat mengerti. Orang

tua juga harus diberikan kesempatan untuk bertanya apabila terdapat

hal yang tidak dimengerti. Penjelasan mengenai kondisi anak pertama

kali harus diberikan kepada orang tua bayi, tidak diperkenankan untuk
26

memberitahukan mengenai kondisi anak kepada orang lain, tanpa

seijin orang tua. Setelah bayi ditransfer ke ruang intensif, orang tua

tetap harus mendapatkan dukungan. Salah satunya adalah dengan cara

membiarkan orang tua menengok bayinya serta membiarkan mereka

mengetahui dan memantau terus kondisi bayinya.


27

BAB 3

KESIMPULAN

Penanganan pasca resusitasi lahir yang adekuat sangat penting untuk

dilakukan karena deteksi dan intervensi dini terhadap gangguan fungsi organ yang

diakibatkan oleh proses asfiksia akan sangat mempengaruhi keluaran dan harus

dilakukan di ruang perawatan intensif agar dapat dilakukan monitoring yang ketat

dan evaluasi diagnostik lebih lanjut. Prinsip umum dari penanganan pasca

resusitasi neonatus diantaranya adalah pemantauan gula darah (sugar), suhu

(temperature), jalan nafas (airway), tekanan darah (blood pressure), pemeriksaan

laboratorium (laboratories) dan dukungan emosional kepada keluarga (emotional

support).
28

DAFTAR PUSTAKA

1. Stabilisasi Bayi baru lahir pasca resusitasi dilayanan tingkat pertama; edisi

pertama; Jakarta; 2016.

2. Perlman JM. Wyllie J, Kattwinkle J, Atkins DL, Chameides L, Goldsmith

JP, et al. Neonatal Resuscitation: 2010 International Consensus on

Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care

Science With Treatment Recommendations. Pediatrics. 2010.

3. The International Liaison Comitee on Resuscitation (ILCOR) Consensus

on Science With Treatment Recommendation for Pediatric and Neonatal

Patients: Neonatal Resuscitation. Pediatrics. 2006.

4. American Heart Association, American Academy of Pediatrics. American

Heart Association (AHA) Guidelines For Cardiopulmonary Resucitation

and Emergency Cardiovascular Care (ECC) of Pediatric and Neonatal

Patients: Neonatal Rescucitation Guideline. Pediatrics. 2006.

5. Mears M, Chalmers S. Neonatal pre-transport stabilisation-caring for

infants the STABLE way. Infant. 2005.

6. Karlsen KA. The S.T.A.B.L.E program. Pre-transport/ Post-resuscitation

Stabilization Care of Sick Infants. Guidelines for Neonatal Healthcare

Provider. 2006.Utah: S.T.A.B.L.E Inc

7. Spenser. Emotional support. Diunduh tanggal 20 Juli 2011. Tersedia dari :

http://www.spensershope.org/EducationalBrochures/EmotionalSupportpdf