Anda di halaman 1dari 19

1.

HIV
a. Pengertian
HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah Virus yang melemahkan
sistem kekebalan tubuh manusia. AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndroms)
adalah sekumpulan gejala yang timbul akibat melemahnya sistem kekebalan
tubuh karena terinfeksi HIV (Kemenkes RI, 2018). Human immunodeficiency
virus adalah virus RNA yang termasuk family retroviridae dan genus lentivirus
yang menyebabkan penurunan imunitas tubuh pejamu. Untuk mengadakan
replikasi (perbanyakan) HIV perlu mengubah ribonucleic acid (RNA) menjadi
deoxyribonucleid acid (DNA) di dalam sel pejamu. Human immunodeficiency
virus terdapat dalam cairan tubuh ODHA dan seseorang dapat terinfeksi HIV bila
kontak dengan cairan tersebut. Meskipun virus terdapat dalam saliva, air mata,
cairan serebrospinal dan urin tetapi cairan tersebut tidak terbukti berisiko
menularkan infeksi karena kadar virus HIV sangat rendah (Kemenkes RI, 2012).

b. Penyebab
Transmisi horizontal HIV terjadi melalui kontak seksual yang intim atau
pajanan parenteral dengan darah atau cairan tubuh lain yang mengandung HIV.
Transmisi perinatal (vertikal) terjadi ketika ibu hamil yang terinfeksi HIV
meneruskan infeksi kepada bayinya. Transmisi HIV yang paling lazim di seluruh
dunia adalah melalui hubungan seksual. Infeksi menular seksual laninnya
(terutama yang menyebabkan ulkus genital) akan meningkatkan risiko penularan
HIV. Virus ini ditransmisikan melalui hubungan seksual, darah, produk yang
terkontaminasi darah, dan transmisi dari ibu ke bayi baik intrapartum, perinatal,
atau ASI. Pada intrapartum, fetus dapat terinfeksi secara hematogen karena
sirkulasi uteroplasenta melalui membran amnion, terutama apabila membran
mengalami inflamasi atau infeksi. Pada periode perinatal, infeksi vertikal lebih
banyak terjadi. Semakin lama dan besar jumlah kontak neonatus dengan darah ibu
dan sekresi servikovaginal, risiko transmisi vertikal juga bertambah besar.
Prematuritas dan berat badan lahir rendah pada neonatus juga meningkatkan risiko
infeksi dalam persalinan karena menipisnya barier pertahanan dari kulit dan
sistem imun. Pasca persalinan, transmisi vertikal dapat terjadi karena bayi
mendapat ASI dari ibu yang menderita HIV (Ruslie dan Darmadi, 2012).
c. Patofisiologi
Penularan HIV ke Bayi dan Anak, bisa dari ibu ke anak, penularan melalui
darah, penularan melalui hubungan seksual (pelecehan seksual pada anak).
Penularan dari ibu ke anak terjadi karena wanita yang menderita HIV/AIDS
sebagian besar (85%) berusia subur (15-44 tahun), sehingga terdapat risiko
penularan infeksi yang bisa terjadi saat kehamilan (in uteri). Penularan juga terjadi
selama proses persalinan melalui transfusi fetomaternal atau kontak antara kulit
atau membran mucosa bayi dengan darah atau sekresi maternal saat melahirkan,
semakin lama proses kelahiran, semakin besar pula risiko penularan, sehingga
lama persalinan bisa dicegah dengan operasi sectio caecaria. Transmisi lain juga
terjadi selama periode postpartum melalui ASI, risiko bayi tertular melaui ASI
dari ibu yang positif sekitar 10% (Nurs dan Kurniawan, 2013 dalam Huriati,
2014). Tahap-tahap terjadinya HIV/AIDS (Setipoputro, 2016):
1) Attachment
Pada tahap ini glycoprotein GP120 & GP41 HIV berikatan dengan reseptor
CD4 dan chemokine coreceptors 5 (CCR5) yaitu fusi HIV dengan membran
sel T.
2) Uncoating
Isi HIV (2 RNA virus dan3 enzimvirus: reverse transcriptase, integrase, dan
protease) masuk ke sel T.
3) DNA synthesis
HIV merubah materi genetiknya dari RNA menjadi DNA dengan reverse
transcriptase.
4) Integration
DNA virus masuk ke nukleus sel T menggunakan integrase menyatu dengan
DNA sel T menyebabkan infeksi permanen.
5) Transcription
Jika sel T diaktivasi, DNA membentuk mRNA.
6) Translation
mRNA membuat protein dan enzim (polyprotein) yang diperlukan untuk
membentuk virus.
7) Cleavage
Enzimprotease HIV memotong rantai polyprotein menjadi protein tunggal
yang membentuk virus baru.
8) Budding
Protein dan RNA virus migrasi ke membran sel T sehingga keluar dari sel
dan memulai proses dari awal.

d. Manifestasi Klinis
Berikut ini adalah tanda dan gejala mayor dan minor untuk mendiagnosis
HIV berdasarkan klasifikasi WHO.
1) Gejala mayor:
a) Gagal tumbuh atau penurunan berat badan
b) Diare kronis
c) Demam memanjang tanpa sebab
d) Tuberkulosis
2) Gejala minor:
a) Limfadenopati generalisata
b) Kandidiasis oral
c) Batuk menetap
d) Distres pernapasan/pneumonia
e) Infeksi berulang
f) Infeksi kulit generalisata (Direktorat Jenderal PP & PL, 2012).
Diagnosis HIV dilaksanakan dengan merujuk pada pedoman nasional yang
berlaku di Indonesia yaitu dengan strategi III tes HIV yang menggunakan 3 jenis
tes yang berbeda dengan urutan tertentu sesuai yang direkomendasikan dalam
pedoman atau dengan pemeriksaan virus (metode PCR). Untuk anak berumur <
18 bulan, semua tes antibodi HIV yang positif harus dipastikan dengan tes
virologis sesegera mungkin (lihat bawah). Jika hal ini tidak tersedia, ulangi tes
antibodi pada umur 18 bulan. Tes virologis untuk RNA atau DNA yang spesifik
HIV merupakan metode yang paling dipercaya untuk mendiagnosis infeksi HIV
pada anak berumur < 18 bulan. Sampel darah harus dikirim ke laboratorium
khusus yang dapat melakukan tes ini (dirujuk ke RS daerah yang menjadi rujukan
untuk program perawatan, dukungan dan pengobatan HIV-PDP). Jika anak pernah
mendapatkan pencegahan dengan zidovudine (ZDV) selama atau sesudah
persalinan, tes virologis tidak dianjurkan sampai 4-8 minggu setelah lahir, karena
ZDV mempengaruhi tingkat kepercayaan tes. Satu tes virologis yang positif pada
4-8 minggu sudah cukup untuk membuat diagnosis infeksi pada bayi muda. Jika
bayi muda masih mendapat ASI dan tes virologis RNA negatif, perlu diulang 6
minggu setelah anak benar-benar disapih untuk memastikan bahwa anak tidak
terinfeksi HIV.
Bayi tertular HIV dari ibu bisa saja tampak normal secara klinis selama
periode neonatal. Penyakit penan da AIDS tersering yang ditemukan pada anak
adalah pneumonia yang disebabkan pneumocystis cranii, gejala umum yang
ditemukan pada bayi dengan infeksi HIV adalah gangguan tumbuh kembang,
kandidiasis oral, diare kronis, atau hepatosplenomegali (pembesaran pada hepar
dan lien). Karena antibodi ibu bisa dideteksi pada bayi sampai berumur 18 bulan.
Maka tes ELISA dan western blot akan postif meskipun bayi tidak terinfeksi HIV
karena tes ini berdasarkan ada atau tidaknya antibodi pada HIV. Tes paling
spesifik untuk mengidentifikasi adalah PCR untuk DNA HIV. Kultur HIV yang
positif juga mennjukkan pasien terinfeksi HIV. Untuk pemeriksaan PCR, bayi
harus dilakukan pengambilan sampel darah untuk dilakukan tes PCR pada dua
waktu yang berlainan. DNA PCR pertama diambil saat berusia 1 bulankarena tes
ini kurang sensitif selama 1 bulan setelah lahir. CDC merekomendasikan
pemeriksaan DNA PCR setidaknya diulang pada saat bayi berusia 4 bulan. Jika
tes ini negatif, maka bayi tidak terinfeksi HIV sehingga tes PCR perlu diulang
setelah bayi disapih. Pada usia 18 bulan, pemeriksaan ELISA bisa dilakukan pada
bayi bila tidak tersedia sarana pemeriksaan yang lain. Anaak-anak berusia lebih
dari 18 bulan bisa didiagnosis dengan menggunakan kombinasi antara gejala
klinis dan pemeriksaan laboratorium. Anak denagn HIV sering mengalami infeksi
bakteri, gagal tumbuh atau wasting, limfadenopati menetap, keterlambatan
berkembang, sariawan pada mulut dan faring. Anak usia lebih dari 18 bulan bisa
didiagnosis dengan ELISA dan tes konfirmasi lain seperti pada dewasa. Terdapat
dua klasifikasi yang bisa digunakan untuk mendiagnosis bayi dan anak dengan
HIV yaitu menurut CDC dan WHO (Nurs dan Kurniawan, 2013).
e. Penanganan
Farmakologis
Prinsip pemberian ARV pada anak hampir sama dengan dewasa, tetapi
pemberian ARV pada anak memerlukan perhatian khusus tentang dosis dan
toksisitasnya. Pada bayi, sistem kekebalannya mulai dibentuk dan berkembang
selama beberapa tahun pertama. Efek obat pada bayi dan anak juga akan berbeda
dengan orang dewasa (Nurs dan Kurniawan, 2013 dalam Huriati, 2014). Setelah
dinyatakan terinfeksi HIV, dilakukan serangkaian layanan yang meliputi penilaian
stadium klinis, penilaian imunologis, dan penilaian virologi. Hal tersebut untuk
menentukan apakah pasien sudah memenuhi syarat untuk terapi antiretroviral,
menilai status supresi imun pasien, menentukan infeksi oportunistik yang pernah
dan sedang terjadi, dan menentukan paduan obat ARV yang sesuai (Direktotat
Jenderal PP & PL, 2011). Sebelum mendapat terapi ARV pasien harus
dipersiapkan secara matang dengan konseling kepatuhan karena terapi ARV akan
berlangsung seumur hidupnya. Untuk ODHA yanng akan memulai terapi ARV
dalam keadaan jumlah CD4 di bawah 200 sel/mm3 maka dianjurkan untuk
memberikan Kontrimoksasol (1x960 mg sebagai pencegahan IO) 2 minggu
sebelum terapi ARV. Hal ini dimaksudkan untuk mengkaji kepatuhan pasien
untuk minum obat, dan menyingkirkan kemungkinan efek samping tumpang
tindih antara Kotrimoksasol dan obat ARV, mengingat bahwa banyak obat ARV
mempunyai efek samping yang sama dengan efek samping kotrimoksasol
(Direktotat Jenderal PP & PL, 2011).
Non farmakologis
1. Nutrisi pada Anak dengan HIV/AIDS
Pemberian Nutrisi pada bayi dan anakdengan HIV/AIDS tidak berbeda
dengan anak yang sehat, hanya saja asupan kalori dan proteinnya perlu
ditingkatkan. Selain itu perlu juga diberikan multivitamin, dan antioksidan untuk
mempertahankan kekebalan tubuh dan menghambat replikasi virus HIV.
sebaiknya dipilih bahan makanan yang risiko alerginya rendah dan dimasak
dengan baik untuk mencegah infeksi oportunistik. Sayur dan buah-buahan juga
harus dicuci dengan baik dan sebaiknya dimasak sebelum diberikan kepada anak.
Pemberian (Nurs dan Kurniawan, 2013 dalam Huriati, 2014).
2. Dukungan sosial spiritual pada Anak dengan HIV/AIDS
Anak yang didiagnosis HIV juga mendatangkan trauma emosi yang
mendalam bagi keluarganya. Orang tua harus menghadapi masalah berat dalam
perawatan anak, pemberian kasih sayang, dan sebagainya sehingga dapat
mempengaruhi pertumbuhan mental anak. Orang tua memerlukan waktu untuk
mengatasi masalah emosi, syok, kesedihan, penolakan, perasaan berdosa, cemas,
marah, dan berbagai perasaan lain. Anak perlu diberikan dukungan terhadap
kehilangan dan perubahan mencakup: memberi dukungan dengan
memperbolehkan pasien dan keluarga untuk membicarakan hal-hal tertentu dan
mengungkapkan perasaan keluarga, membangkitkan harga diri anak serta
keluarganya dengan melihat keberhasilan hidupnya atau mengenang masa lalu
yang indah, menerima perasaan marah, sedih, atau emosi dan reaksi lainnya,
mengajarkan pada keluarga untuk mengambil hikmah, dapat mengendalikan diri
dan tidak menyalahkan diri atau orang lain (Nurs dan Kurniawan, 2013 dalam
Huriati, 2014).
2. Asuhan Keperawatan
I. Pengkajian
A. Identitas pasien
Identitas Pasien meliputi nama, nama panggilan, umur/tanggal lahir, jenis
kelamin.
Identitas orang tua meliputi: nama ayah dan ibu, umur, agama, suku, bahasa,
pendidikan, pekerjaan, penghasilan, alamat.
B. Keluhan utama
Orangtua pasien mengeluhkan anaknya mengalami diare kronis, batuk- batuk
disertai sesak napas. Demam dan diare berkepanjangan, takhipnea, batuk, sesak
nafas dan hipoxia  keadaan yang gawat.
C. Riwayat penyakit sekarang
Pasien terus batuk – batuk sejak satu minggu yang lalu, kemudian dua hari
yang lalu mulai disertai sesak napas.klien juga terkena diare dengan frekuensi
BAB cukup tinggi.sejak semalam klien demam dan di perparah lagi klien tidak
mau menyusu, karena itu orang tua klien membawanya ke rumah sakit. Perawat
juga harus mengkaji mengenai upaya yang telah dilakukan dan terapi yang telah
diberikan sebelumnya.
D. Riwayat kesehatan dahulu
Meliputi riwayat pemberian tranfusi, orang tua yang terinfeksi HIV,
penyalahgunaan zat. Riwayat kehamilan dan persalinan: ibu selama hamil
terinfeksi HIV sebanyak 50% tertular untuk anaknya, penularan dapat terjadi pada
minggu ke 9 – 20 dari kehamilan, penularan pada proses melahirkan, terjadi
kontak darah ibu dan bayi, penularan setelah lahir dapat terjadi melalui air susu
ibu.
E. Riwayat perinatal
a) Prenatal Care
1) Keluhan selama hamil
2) Riwayat terkena sinar tidak ada
3) Kenaikan berat badan selama hamil
4) Imunisasi
b) Intra natal
1) Lama dan jenis persalinan
2) Komplikasi selama persalinan ataupun setelah persalinan (sedikit
perdarahan daerah vagina).
c) Post Natal
1) Kondisi Bayi : BB lahir.. kg, PB.. cm
2) Kondisi anak saat lahir: baik/tidak
3) Imunisasi.
4) Perkembangan anak dibanding saudara-saudara.
F. Riwayat kesehatan keluarga
Adakah anggota keluarga yang mengidap HIV : missal orang tua (ibu dan
bapak)
G. Pemeriksaan fisik
1) Status kesehatan umum
Keadaan umum, kesadaran, mengalami peningkatan suhu, mengalami gangguan
pertumbuhan yaitu penurunan BB, dan gangguan perkembangan ditemukan pada
anak akibat terjadi progresivitas penyakit atau muncul infeksi oportunistik di
sistem saraf pusat. Pada anak akan terdapat gangguan perilaku (seperti kehilangan
konsentrasi dan daya ingat)
2). Kepala
Tidak ada kerontokan rambut, warna hitam dan tidak ada peradangan, mata /
penglihatan:klera pucat dan nampak kelopak mata cekung, hidung: tidak ada
peradangan, tidak ada reaksi alergi, tidak ada polip, dan fungsi penciuman
normal, telinga, bentuk simetris kanan/kiri, tidak ada peradangan, tidak ada
perdarahan, mulut dan gigi: terjadi peradangan pada rongga mulut dan mukosa,
terjadi peradangan dan perdarahan pada gusi, tidak terjadi gangguan menelan,
bibir dan mukosa mulut klien nampak kering dan bibir pecah-pecah.
3). Leher
Inspeksi: Bentuk leher simetris, tidak ada benjolan pada leher, trakea simetris,
tidak ada tanda peningkatan tekanan vena jugularis, dan tidak ada pembesaran
pada kelenjar tiroid.
Palpasi: tidak ada nyeri tekan.
4). Thorax/dada
Jantung
Inspeksi: ictus cordis tidak terlihat di ICS 5.
Palpasi: ictus cordis teraba pada ICS 5.
Perkusi: suara pekak. pekak pada ICS II-V, batas atas jantung ICS II midsternalis,
batas bawah ICS V, batas kiri ICS V midklavikula sinistra, batas kanan ICS IV
midsternalis dextra.
Auskultasi: bunyi jantung s1 s2 tunggal. S1 pada ICS 5 dan S2 pada ICS 2 sebelah
kanan sternum.
Paru
Inspeksi: pengembangan paru simetris, tidak ada otot bantu pernafasan. Bentuk
dada normal.
Palpasi: tidak ada nyeri tekan.
Perkusi: sonor.
Auskultasi: terdapat bunyi ronchi.
5). Abdomen
Inspeksi: tidak tampak ascites, bentuk simetris cekung, auskultasi: Bising usus
biasanya > 30 jika pasien diare, perkusi :Tympani di 4 regio perut, palpasi : Tidak
teraba massa abnormal.
6). Keadaan punggung
Nyeri otot, nyeri persendian, letih, gangguan gerak (ataksia).
7). Ekstremitas
Extremitas atas dan extremitas bawah tonus otot lemah akibat tidak ada energi
karena diare dan proses penyakit.
8). Genetalia dan anus
Alat genetali merah dan gatal, biasanya ditemukan adanya kutil, pada anus :
terdapat bintik dan meradang gatal.

II. Diagnosa Keperawatan


1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan penumpukan
sekret.
2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan membran alveolar-
kapiler.
3. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif.
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
ketidakmampuan mencerna makanan.
5. Hipertermi berhubungan dengan dehidrasi/proses penyakit.
6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai
dan kebutuhan oksigen.
III. Perencanaan Keperawatan
No. Diagnosa NOC NIC Rasional
Keperawatan
1. Ketidakefektifan Setelah dilakukan tindakan NIC: Manajemen jalan nafas
bersihan jalan nafas keperawatan selama 3 x 24 jam, a. Posisikan pasien untuk a. Memaksimalkan ventilasi
berhubungan dengan, diharapkan bersihan jalan nafas pasien memaksimalkan ventilasi pasien
peningkatan produksi efektif dengan kriteria hasil: b. Identifikasi kebutuhan aktual/ b. Melihat kemampuan pasien
sputum. 1. Frekuensi pernafasan (12- potensial pasien untuk untuk membuaka jalan nafas.
20x/menit) memasukan alat membuka c. Membantu pasien untuk
2. Irama pernafasan regular jalan nafas pengeluaran sekret.
3. Tidak menggunakan otot bantu c. Lakukan fisioterapi dada. d. Memaksimalkan pernafasan
pernafasan d. Motivasi pasien untuk e. Membantu mengeluarkan
4. Retraksi dada simetris bernafas pelan, dalam, dan dahak.
5. Vocal fremitus teraba batuk f. Melebarkan jalan nafas.
6. Batuk dan keluar sekret e. Instruksikan bagaimana agar g. Memfasilitasi pemberian
dapat melakukan batuk efektif oksigen
f. Kolaborasi dengan dokter h. Mengetahui kepatenan jalan
pemberian bronkidilator nafas
g. Monitor status pernafasan dan i. Membuka jalan nafas.
oksigenasi
h. Auskultasi suara nafas, catat
area yang ventilasinya turun
atau tidak ada dan adanya
suara tambahan
i. Posisikan untuk meringankan
sesak nafas
2. Gangguan pertukaran Setelah dilakukan tindakan NIC: Airway Management a. TB paru mengakibatkan efek
gas berhubungan keperawatan selama 3 x 24 jam, a. Kaji dispnea, takipnea, bunyi terhadap pernapasan bervariasi
dengan perubahan diharapkan pertukaran gas pasien napas, peningkatan upaya dari gejala ringan , dyspnea
membran alveolar tidak terganggu dengan kriteria hasil: pernapasan, ekspansi thorax berat dampai distres
kapiler, 1. Pasien tidak sianosis dan kelemahan pernapasan
ketidakseimbangan 2. Tidak mengalami gangguan b. Catat sianosis dan perubahan b. Akumulasi sekret dan
kesadaran warna kulit, termasuk
tekanan O2 dan CO2, berkurangnya jaringan paru
3. Saturasi oksigen dalam rentang membran mukosa dan kuku.
proses pertukaran gas yang sehat dapat menggangu
normal c. Tingkatkan tirah baring, batasi
yang terganggu. aktivitas dan bantu kebutuhan oksigenasi organ vital dan
perawatan diri sehari-hari jaringan tubuh.
sesuai keadaan pasien c. Menurunkan konsumsi oksigen
d. Pertahankan posisi semi selama periode penurunan
fowler sesuai indikasi pernafasan dan dapat
e. Kolaborasi pemeriksaan AGD menurunkan beratnya gejala.
f. Kolaborasi pemberian oksigen d. Posisi semi fowler untuk
sesuai kebutuhan tambahan memaksimalkan ekspansi paru
e. Penurunan kadar O2 (PaO2)
dan atau saturasi
f. Terapi oksigen dapat
mengoreksi hipoksemia yang
terjadi akibat penurunan.
3. Kekurangan volume Setelah dilakukan tindakan Manajemen cairan: a. mengecek jika terjadi tanda-
cairan keperawatan selama 3x24 jam, a. Monitor status hidrasi tanda dehidrasi
kekurangan volume cairan pada pasien (membran mukosa lembab, b. mengetahui tanda-tanda vital
dapat teratasi, dengan kriteria hasil: denyut nadi adekuat, dan sebagai indikator utama jika
1. Mempertahankan urine output tekanan darah normal). terjadi ketidaknormalan pada
sesuai dengan usia dan berat badan b. Monitor TTV (pernafasan, sistem tubuh manusia.
· nadi, tekanan darah, suhu) c. mengetahui indikator
2. Tekanan darah, nadi, suhu tubuh c. Monitor hasil laboratorium terjadinya ketidaknormalan
dalam batas normal yang relevan dengan retensi dalam tubuh manusia
3. Tidak ada tanda tanda dehidrasi, cairan (peningkatan BUN, memalui sample darah.
Elastisitas turgor kulit baik, penurunan hematokrit). d. mencegah terjadinya
membran mukosa lembab, tidak ada d. Berikan terapi IV. dehidrasi.
rasa haus yang berlebihan e. Tingkatkan asupan oral e. menjaga keseimbangan
(memberikan sedotan, intake oral.
memberikan makanan favorit, f. menjaga keseimbangan
menggunakan cangkir obat intake oral.
kecil). g. menjaga keseimbangan
f. Dukung pasien dan keluarga cairan dan mencegah
untuk membantu dalam terjadinya syok.
memberikan makan dengan
baik.
g. Pemberian produk-produk
darah (trombosit dan plasma
yang baru).
4. Ketidakseimbangan Setelah dilakukan tindakan NIC: Manajemen Nutrisi a. Mengetahui kebutuhan status
nutrisi kurang dari keperawatan selama 3 x 24 jam, a. Tentukan status gizi pasien nutrisi pasien.
kebutuhan tubuh diharapkan nutrisi pasien seimbang dan kemampuan pasien untuk b. Membantu dalam melist
dengan kriteria hasil: memenuhi kebutuhan gizi makanan pasien sesuai indikasi
NOC: Status nutrisi : Asupan b. Tentukan apa yang menjadi dan mengetahui adanya alergi
Makanan dan Cairan preferensi makanan bagi atau kontraindikasi.
1. Asupan makanan secara oral pasien c. Menambah pengetahuan
adekuat c. Intruksikan pasien mengenai pasien mengenai gizi
2. Asupan cairan secara oral adekuat kebutuhan nutrisi (piramida seimbang.
3. Asupan cairan intravena adekuat makanan) d. Membantu dalam perhitungan
NOC: Status Nutrisi : Pengukuran d. Tentukan jumlah kalori dan kebutuhan statys nutrisi harian
Biokimia jenis nutrisi yang dibutuhkan pasien.
1. Hematokrit dalam rentang normal untuk memenuhi persyaratan e. Melibatkan pasien untuk
2. Hemoglobin dalam rentang gizi. berpartisipasi dan menambah
normal e. Berikan pilihan makanan dan anfsu makan pasien
3. Gula darah dalam rentang normal bimbingan terhadap pilihan f. Menghindari risiko
4. Serum albumin dalam rentang makanan. pencemaran dan memberikan
normal f. Ciptakan lingkungan yang kenyamanan.
5. Serum kreatini dalam rentang bersih, berventilasi, santai dan
normal bebas dari bau menyengat.
6. Limfosit dalam rentang normal

5. Hipertermi Thermoregulasi (0800) NIC: Perawatan Demam (3740)


Perawatan Demam (3740) a. Untuk mengetahui kondisi klien
berhubungan dengan Hidrasi (0602)
Setelah dilakukan tindakan a. Pantau suhu dan tanda vital secara berkala
reaksi inflamasi keperawatan 2 x 24 jam, suhu tubuh yang lainnya b.Mengetahui sejauh mana
klien dapat kembali normal dengan b. Monitoring warna kulit dan tingkat peningkatan suhu dan
kriteria hasil: suhu gambaran secara fisiologis
1. Melaporkan kenyamanan suhu c. Monitoring intake-output pengaruh dari peningkatan suhu
2. Penurunan suhu kulit cairan terhadap kondisi klien
3. Perubahan warna kulit d. Dorong klien untuk c. Mengkaji kebutuhan cairan dan
4. Tidak mengalami sakit kepala peningkatan konsumsi cairan kehilangan cairan klien akibat
5. Tidak terdapat tanda gejala e. Pantau kondisi pasien untuk adanya peningkatan suhu
Dehidrasi menghindari komplikasi dari d.Membantu memenuhi
demam kebutuhan cairan tubuh yang
f. Kolaborasi dengan tim medis hilang akibat peningkatan
terkait pemberian obat evaporasi
antipiretik e. Meminimalkan risiko terjadinya
Pengaturan Suhu (3900) kejang demam berulang
a. Monitoring suhu setiap 2 jam f. Menurunkan suhu tubuh klien
b. Monitoring tanda vital lainnya: hingga ke batas normal.
TD, nadi, RR Pengaturan Suhu (3900)
c. Tingkatkan intake cairan dan a. Mengobservasi keadaan umum
nutrisi yang adekuat klien agar tidak terjadi kejang
d. Ajarkan kepada klien dan demam berulang
keluarga tentang bagaimana b. Memantau perubahan tanda
mengatasi demam di rumah vital lainnya bersamaan
e. Kolaborasi pemberian dengan meningkatnya suhu
antipiretik tubuh klien
c. Membantu memenuhi
kebutuhan cairan yang hilang
akibat peningkatan evaporasi
d. Membantu klien dan keluarga
untuk dapat melakukan
tindakan pencegahan
terjadinya kejang demam
berulang dan membantu klien
dan keluarga untuk melakukan
pertolongan pertama pada saat
klien mengalmai peningkatan
suhu tubuh
e. Menurunkan suhu tubuh klien
hingga ke batas normal
menggunakan obat.
6. Intoleransi NOC: NIC: Energy Management
aktivitas berhubungan 1. Self Care: ADL’s Energy Management a. Mengidentifikasi sejauh mana
dengan 2. Toleransi Aktifitas a. Observasi adanya pembatasan psien dapat melakukan
ketidakseimbangan 3. Konservasi Energi pasien dalam melakukan aktifitas yang ditolerir oleh
antara suplai dengan Setelah dilakukan tindakan aktifitas. tubuhnya
kebutuhan oksigen. keperawatan selama 3 x 24 jam pasien b. Kaji adanya faktor yang
dapat bertoleransi terhadap aktivitas menyebabkan kelelahan. b. Meminimalkan faktor pencetus
dengan c. Monitor nutrisi dan sumber agar tidak terjadi kelelahan
Kriteria Hasil: energi yang adekuat berlebih
a. Berpartisipasi dalam aktivitas fisik d. Monitor respon kardiovaskular c. Mengidentifikasi kecukupan
tanpa disertai peningkatan tekanan terhadap aktivitas (takikardia, energi yang dimiliki tubuh
darah, nadi, dan RR disritmia, sesak nafas, untuk melakukan aktifitas
b. Mampu melakukan aktifitas sehari- diaphoresis, pucat, perubahan d. Penurunan/ketidakmampuan
hari (ADLs) secara mandiri hemodinamik). miokardium untuk
c. Keseimbangan aktifitas dan e. Monitor pola tidur dan meningkatkan volume
istirahat lamanya tidur atau istirahat sekuncup selama aktivitas
pasien dapat menyebabkan
peningkatan segera frekuensi
Activity Therapy jantung dan kebutuhan oksigen
a. Kolaborasikan dengan tenaga juga peningkatan kelelahan
rehabilitasi dalam dan kelemahan.
merencanakan program terapi e. Mengidentifikasi kecukupan
yang tepat. energi yang dihasilkan dengan
b. Bantu pasien untuk beristirahat untuk melakukan
mengidentifikasi aktivitas yang aktifitas
mampu dilakukan
c. Bantu untuk mengidentifikasi Activity Therapy
aktivitas yang disukai a. Peningkatan bertahap pada
d. Bantu pasien untuk membuat aktivitas dengan menghindari
jadwal latihan diwaktu luang kerja jantung/konsumsi
oksigen berlebihan. Penguatan
dan perbaikan fungsi jantung
dibawah stress, bila fungsi
jantung tidak dapat membaik
kembali.
b. Mengidentifikasi kemampuan
pasien dalam melakukan
aktifitas yang ditolerir oleh
tubuhnya
c. Mengidentifikasi minat pasien
dalam melakukan aktifitas
yang akan digunakan sebagai
terapi
d. Membantu pasien untuk
melkaukan kegiatan latihan
perbaikan aktifitas secara
kontinyu.
DAFTAR PUSTAKA

Aquilino, Mary Lober, Et al. 2008. Nursing Outcomes Classification. Fifth


Edition. United State of America: Mosby Elsevier.
Bulechek, G.M. Butcher, H.K., Dochterman, J.M., Wagner, C.M. 2013. Nursing
Intervention Classification Edisi Bahasa Indonesia. Yogyakarta:
Macomedia.
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. 2012.
Petunjuk Teknis Tata Laksana Klinis KO Infeksi TB-HIV. Jakarta:
Kementerian Kesehatan RI.
Dochterman, Janne McCloskey dan Bulcchek, Gloria M. 2008. Nursing
Interventions Clarifications. Fifth Edition.united State of America: Mosby
Elsevier
Herdman, T.H dan Kamitsuru, S. 2015. Diagnosis Keperawata Definisi dan
Klasifikasi 205-2017 Edisi 10. Jakarta: EGC
Huriati. 2014. HIV/AIDS pada anak. Sulesana. 9(2): 126-131 [Diakses pada 23
Juni 2018]
Kemenkes RI. 2018. Stop HIV.
http://www.kemkes.go.id/development/site/depkes/pdf.php?id=1-
17042500008. [Diakses pada 23 Juni 2018]
Kemenkes, 2014. Estimasi dan Proyeksi HIV/AIDS di Indonesia tahun 2011-
2016. http://siha.depkes.go.id [Diakses pada 23 Juni 2018]
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2016. Program pengendalian HIV
AIDS dan PIMS di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama: Petunjuk Teknis.
http://siha.depkes.go.id/portal/files_upload/4__Pedoman_Fasyankes_Primer
_ok.pdf. [ Diakses pada 23 Juni 2018].
Moorhead, S., Johnson, M., Maas, M.L., Swanson, E. 2013. Nursing Outcomes
Classification Pengukuran Outcomes Kesehatan Edisi Bahasa Indonesia.
Yogyakarta: Macomedia.
Nursalam, N. 2011. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Terinfeksi HIV/AIDS.
Jakarta: Salemba Medika.
Price, S &Wilson, L. M. 2006. Pathofysiology clinical concepts of disease
processes. (6th Ed.). St. Louis: Mosby
Ruslie, R. H. dan Dramadi. 2012. Diagnosis dan tatalaksana infeksi HIV pada
neonatus. Majalah kedokteran Andalas 1(36): 11-22. [Diakses pada 23 Juni
2018]
Setioputro, B. 2016. HIV & AIDS. Materi Kuliah: Keperawatan Medikal.
Fakultas Keperawatan Universitas Jember: Jember