Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM LIMBAH

“Pengolahan Limbah secara Biologycal Aerob dengan Aerated


Fixed Film Biofilter (AF2B)”

OLEH :

KELOMPOK 4 KELAS 3C-D4

ALIFIA RIAN PRATIKA 1641420082

AMIRUZ ZAHIDIN 1641420045

DELFIRA YUDITH T 1641420007

M. YUSUF RAMADHANI 1641420053

ROSHANA LAILIA R 1641420063

BUNGA RAJHANA RAGIL g. 1641420079

D-IV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI


POLITEKNIK NEGERI MALANG
2018/2019
LAPORAN RESMI PENGELOLAHAN AIR LIMBAH

(BIOLOGYCAL AEROB)

I. Tujuan Praktikum
 Dapat memahami dan menjalankan proses pengolahan limbah dengan
metode Biological Aerob
 Dapat melakukan analisa Biological Oxygen Demand
 Dapatmelakukan analisa Chemical Oxygen Demand
 Dapat membandingkan hasil analisa antara COD dan BOD

II. Dasar Teori


Pengolahan air limbah secara biologi merupakan pengolahan air limbah dengan
memanfaatkan mikroorganisme. Mikroorganisme ini dimanfaatkan untuk
menguraikan bahan-bahan organic yang terkandung dalam air limbah menjadi
bahan yang lebih sederhana dan tidak berbahaya. Pemakaian mikroorganisme
disebabkan karena mikroorganisme memiliki enzim, enzim inilah yang berfungsi
untuk menguraikan bahan organic tersebut.Jenis mikroorganisme yang umum
dipergunakan dalam pengolahan air limbah adalah “BAKTERI”. ( Ketut S, 2012)
Kehidupan mikroorganisme sangat dipengaruhi oleh lingkungannya, sehingga
dalam pengolahan air limbah secara biologi harus memperhatikan lingkungan
mikroorganisme yaitu : derajat keasaman (pH), temperature, bahan makanan
(nutrient) dan kebutuhan oksigen. (Ketut S, 2012)
Berdasarkan kebutuhan oksigen, pengolahan air limbah secara biologi dapat
dibedakan menjadi 3 (tiga) proses yaitu :
a. Pengolahan air limbah secara biologi aerob, yaitu pengolahan air
limbah dengan mikroorganisme disertai dengan injeksi oksigen (udara)
kedalam proses. Pada proses ini jenis mikroorganisme yang dipergunakan
adalah mikroorganisme yang hidup dengan adanya Oksigen Oksigen yang
diinjeksikan dimanfaatkan oleh kehidupan mikroorganisme dan proses
oksidasi
b. Pengolahan air limbah secara biologi anaerob, yaitu pengolahan air
limbah dengan mikroorganisme Tanpa injeksi oksigen (udara) kedalam
proses. Pada proses ini jenis mikroorganisme yang dipergunakan adalah
mikroorganisme yang dapat hidup tanpa adanya Oksigen
1
c. Pengolahan air limbah secara biologi “Fakultatif”, yaitu pengolahan air
limbah dengan mikroorganisme Tanpa injeksi oksigen (udara) secara
langsung kedalam proses. Pada proses ini terdapat dua jenis
mikroorganisme yang dipergunakan yaitu mikroorganisme aerob dan
anaerob. Pada proses ini, umumnya pada bagian atas kolam (tangki) akan
bersifat aerob sedangkan pada bagian bawah kolam akan bersifat
anaerob.(Ketut S, 2012)
Umumnya bakteri merupakan mikroorganisme utama dalam proses
pengolahan biologi. Karakteristik mereka beragam dan kebutuhan lingkungan yang
sederhana membuat mereka dapat bertahan pada lingkungan air limbah. Perlu
diperhartikan bahwa mikroorganisme lain juga dapat ditemukan pada lingkungan
pengolahan air limbah namun peranannya dalam oksidasi materi organik relatif
kecil. Proses pengolahan biologi juga dapat dibagi berdasarkan media pertumbuhan
mikroorganismenya, yaitu :
a. Suspended growth atau pertumbuhan tersuspensi, mikroorganisme berada
dalam keadaan tersuspensi di air limbah seperti pada reaktor lumpur akif
atau kolam oksidasi.
b. Attached growth atau pertumbuhan terlekat, mikroorganisme tumbuh
terlekat pada media pendukung yang berada di dalam air limbah. Media
pendukung ini dapat berupa media pendukung yang bergerak (rotating
biological contactor, fluidized bed, rotortogue), diam (trickling filter,
baffled reactor), terendam (fluidized bed) maupuntidak terendam (trickling
filter).
c. Kombinasi dari suspended dan attached growth. Secara keseluruhan, tujuan
pengolahan limbah secara biologis pada limbah domestik ialah (1)
Mengubah (mengoksidasi) unsure terlarut dan partikel biodegradable ke
dalam bentuk akhir yang cocok (2) Menangkap dan menggabungkan
padatan tersuspensi dan padatan koloid yang sulit diendapkan pada lapisan
biofilm (3) Mengubah atau menghilngkan nutrien, seperti nitrogen dan
fosfor (4). Pada beberapa kasus, menghilangkan unsur dan senyawa trace
organik spesifik. (Metcalf & Eddy 2004)

2
1. Proses Aerob
Proses dimana menggunakan O2. Dibutuhkan aerasi sesuai dengan
kebutuhan yang diinginkan. Proses aerob biasanya menghasilkan
biomassa dalam jumlah besar (66%) dan menghasilkan air, gas, asam
organik (34%) (Sutapa DAI, 1999).
Reaksi yang terjadi :

2. Proses Anaerob

Reaksi : Zatorganik cell CH RSH energi 4


(Bambang T. Basuki, 2001)

Beberapa limbah Industri dengan kadar COD dan BOD tinggi lebih efektif
diolah dengan menggunakan proses anaerob. Pengolahan limbah anaerob adalah
sebuah metode biological untuk peruraian bahan organik atau anorganik tanpa
kehadiran oksigen.Produk akhir dari degradasi anaerob adalah gas, paling banyak
metana (CH4), karbondioksida (CO2), dan sebagian kecil hidrogen sulfide (H2S)
dan hydrogen (H2). Proses yang terlibat a dalah fermentasi asam dan fermentasi
metana. (Metcalf & Eddy, 2004).
Proses biologis dengan biakan tersuspensi adalah sistem pengolahan dengan
menggunakan aktifitas mikro-organisme untuk menguraikan senyawa polutan yang
ada dalam air dan mikro-organime yang digunakan dibiakkan secara tersuspesi di
dalam suatu reaktor. Beberapa contoh proses pengolahan dengan sistem ini antara
lain : proses lumpur aktif standar/konvesional (standard activated sludge), step
aeration, contact stabilization, extended aeration, oxidation ditch (kolam oksidasi
sistem parit) dan lainya.
Proses pengolahan air limbah secara biologis dengan lagoon atau kolam adalah
dengan menampung air limbah pada suatu kolam yang luas dengan waktu tinggal
yang cukup lama sehingga dengan aktifitas mikroorganisme yang tumbuh secara
alami, senyawa polutan yang ada dalam air akan terurai. Untuk mempercepat proses
penguraian senyawa polutan atau memperpendek waktu tinggal dapat juga

3
dilakukam proses aerasi. Salah satu contoh proses pengolahan air limbah dengan
cara ini adalah kolam aerasi atau kolam stabilisasi (stabilization pond). Proses
dengan sistem lagoon tersebut kadang-kadang dikategorikan sebagai proses
biologis dengan biakan tersuspensi. (Nusa Idaman, 2000)
 Indikasi Pencemaran Air
Indikasi pencemaran air dapat kita ketahui baik secara visual maupun
pengujian. Indikasi pencemaran air yang dapat diamati maupun diuji meliputi :
1. Perubahan pH (tingkat keasaman / konsentrasi ion hidrogen) air normal
yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan memiliki pH netral dengan kisaran
nilai 6.5 – 7.5. Air limbah laboratorium yang belum terolah dan memiliki pH diluar
nilai pH netral, akan mengubah pH air sungai dan dapat mengganggu kehidupan
organisme didalamnya. Hal ini akan semakin parah jika daya dukung lingkungan
rendah serta langsung meresap ke dalam air tanah. Limbah dengan pH asam /
rendah bersifat korosif terhadap logam.
2. Perubahan warna, bau dan rasa air normal dan air bersih tidak akan
berwarna, sehingga tampak bening / jernih. Bila kondisi air warnanya berubah maka
hal tersebut merupakan salah satu indikasi bahwa air telah tercemar.Timbulnya bau
pada air lingkungan merupakan indikasi kuat bahwa air telah tercemar.Air yang bau
dapat berasal dari limbag atau dari hasil degradasi oleh mikroba. Mikroba yang
hidup dalam air akan mengubah organik menjadi bahan yang mudah menguap dan
berbau sehingga mengubah rasa.
3. Timbulnya endapan, koloid dan bahan terlarut Endapan, koloid dan bahan
terlarut berasal dari adanya limbah yang berbentuk padat. Limbah yang berbentuk
padat, bila tidak larut sempurna akan mengendap didasar sungai, dan yang larut
sebagian akan menjadi koloid dan akan menghalangibahan-bahan organik yang
sulit diukur melalui uji BOD karena sulit didegradasi melalui reaksi biokimia,
namun dapat diukur menjadi uji COD.
Adapun komponen pencemaran air pada umumnya terdiri dari bahan
buangan padat, bahan buangan organik dan bahan buangan anorganik.Limbah
anorganik adalah limbah yang tidak dapat diuraikan oleh organisme detrivor atau
diuraikan tetapi dalam jangka waktu yang lama. Bahan yang diuraikan berasal dari
sumber daya alam yang tidak dapat diperbaruhi, seperti mineral, minyak bumi dan
berasal dari proses industri, seperti botol, plastik, dan kaleng. Limbah organik dapat
dimanfaatkan baik secara langsung (contohnya untuk makanan ternak) maupun
secara tidak langsung melalui proses daur ulang (contohnya pengomposan dan
4
biogas). Limbah anorganik yang dapat di daur ulang, antara lain adalah plastik,
logam, dan kaca. Namun, limbah yang dapat didaur ulang tersebut harus diolah
terlebih dahulu dengan cara sanitary landfill, pembakaran (incineration), atau
penghancuran (pulverisation).(Endang Widjajanti, UNY).
Menurut D.Dewanti (2002) menyebutkan bahwa proses pengolahan limbah
biologis ini secara konvesional kecuali pemisahan actived sludge dengan effluent
yang dilakukan dengan membrane filtrasi sebagai pengganti sedimentasi,
Mikroorganisme yang digunakan pada tangki aerobic merupakan bakteri dan
protozoa. Bakteri sebagai mikroorganisme yang paling dominan dengan ukuran
micron. Sedangkan protozoa sebagai indicator biologis kondisi lumpur aktif dengan
sistem aerobic. Menghasilkan kesimpulan yakni Removal COD dipengaruhi oleh
MLSS dari 2000 – 5000 mg/L. konsentrasi DO > 2 mg/L. sedangkan removal
ammonia dan nitrat dipengaruhi oleh kondisi anoxic, Pada penelitian diketahui
bahwa penurunan COD dari awal umpan 3600 mg/L menjadi 432,4 mg/L dan 1800
mg/L menjadi 376 mg/L pada tangki aerobic. Dan dengan menggunakan membrane
dapat diturunkan lagi menjadi menjadi 473,281 dan 180 mg/L. (D. Dewanti, 2002).
Menurut Martia & Shofi (2000) menyebutkan bahwa penelitian yang
bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi degra simba yang ditambahkan
terhadap COD limbah dan waktu terhadap kecepatan peruraian terhadap bahan
organic. Variable tetapnya pH = 7, laju alir 0,5 ml/detik dan mikroorganisme degra
simba, untuk metodologinya hampir sama dengan pengolahan biologi secara
umum. Adapun hasilnya yakni Semakin lama waktu operasi maka semakin banyak
penurunan konsentrasi COD, Semakin besar konsentrasi degra simba yang
digunakan untuk mengolah limbah maka semakin besar pula penurunan konsentrasi
COD. (Martia S & Shofiyatul, 2000).

 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengolahan Secara Biologi

Berbagai faktor yang perlu diperhatikan dalam pengolahan air limbah secara
biologi diantaranya :

a. Kualitas air limbah yang akan diolah meliputi : derajat keasaman (pH),
temperatur, konsentrasi bahan organik yang dinyatakan dalam besaran
chemical oxygen demand (COD) dan biological oxygen demand (BOD),
dan konsentrasi logam berat.

5
b. Laju alir air limbah, laju alir air limbah berpengaruh terhadap waktu tinggal
(waktu proses) didalam tangki aerasi, semakin besar laju alir, waktu tinggal
semakin kecil dan ini akan berdampak pada hasil pengolahan air limbah.

c. Konsentrasi mikroorganisme didalam tangki aerasi, konsentrasi


mikroorganisme berpengaruh terhadap hasil pengolahan air limbah, jika
konsentrasi mikroorganisme terlalu kecil maka hasil pengolahan tidak
maksimal, dan jika terlalu besar mikroorganisme bekerja tidak maksimal
dan hasil pengolahan juga tidak maksimal. Pada umum dipergunakan
perbandingan antara jumlah makanan (F) sebagai nutrient terhadap jumlah
mikroorganisme yaitu (F/M) ratio yang besarnya berkisar 0,8 – 1,0. Artinya
jika COD air limbah sebesar 5000 mg/L, maka konsentrasi mikroorganisme
dalam tangki aerasi kurang lebih 5000 mg/L.

d. Injeksi udara, besarnya udara yang diinjeksikan berpengaruh terhadap


kelarutan oksigen dalam tangki aerasi, kelarutan oksigen berpengaruh
terhadap hasil pengolahan air limbah. Jika oksigen terlarut sangat kecil,
maka hasil pengolahan tidak maksimal. Kelarutan oksigen dalam air limbah
diharapkan maksimal sehingga hasil pengolahan air limbah maksimal.
Berdasarkan data kelarutan oksigen yang baik sekitar 2 mg/L.

e. Distribusi Udara, Injeksi udara kedalam air limbah dimaksudkan untuk


membantu kebutuhan oksigen mikroorganisme dan proses oksidasi.
Distribusi udara yang tidak merata dapat mempengaruhi hasil pengolahan
air limbah, diharapkan udara terdistribusi secara merata agar hasil
pengolahan air limbah maksimal.

f. Laju alir (recycle) mikroorganisme, besarnya laju alir recycle


mikroorganimse berpengaruh terhadap waktu tinggal dan konsentrasi
mikroorganisme pada tangki aerasi. Laju alir recycle harus dilakukan
pengendalian agar konsentrasi mikroorganisme pada tangki aerasi tidak
berlebih maupun berkurang dan waktu tinggal terpenuhi sehingga hasil
pengolahan air limbah maksimal.

6
III. Alat dan Bahan

a. Alat :
No. Nama Alat Jumlah

1. Bak AF2B 1 buah

2. Bak plastic 10 reaktor 1 buah

3. Bak Penampung air limbah 50 liter 1 buah

4. Selang plastic Secukupnya

5. Pompa air 1 buah

6. Kompresor dan diffuser Masing-masing 1

7. Seperangkat alat destilasi Seperangkat

8. Erlenmeyer asa 3 buah

9. Pipet ukur 25 ml dan 10 ml Masing-masing 1

10. Labu ukur 100 ml 1 buah

11. Ball pipet 1 buah

12. Kaca arloji 1 buah

13. Batu didih secukupnya

14. Botol winkler secukupnya

15. Labu ukur 1000 ml 1 buah

b. Bahan :
No. Keterangan Jumlah

1. Air limbah 2 liter

2. Aquades Secukupnya

3. Isolat bakteri Secukupnya

7
4. Nuterisi Secukupnya

5. HgSO4 0.4 gram

6. Larutan K2Cr2O7 10 ml

7. Ag2SO4 didalam H2SO4 pekat 30 ml

8. Indikator ferroin secukupnya

9. Larutan ferroamonium sulfat secukupnya


(FAS)
10. Mangan Sulfat 2 ml

11. Alka iodida 2 ml

12. H2SO4 2 ml

13. Tio Sulfat 0.025 N

14. Kanji 2 ml

8
IV. Skema Kerja

 Skema kerja Reaktor AF2B

Masukkan air limbah (jenis air limbah sesuai saran


pembimbing) ke dalam bak penampung sebanyak 25 liter, ambil
sampel sebanyak 100 ml dan lakukan pengukuran kadar BOD5

f. Masukkan pompa air ke dalam bak penampung dan


hubungkan pompa dengan aliran listrik sehingga pompa
dapat mengalirkan air limbah ke dalam reaktor AF2B

e. Ukur flowrate influent air limbah dengan cara


menampung air limbah yang dipompa ke dalam gelas
ukur dan catat waktu yang dibutuhkan selama t detik
(sesuai saran pembimbing)

d. Masukkan aliran air limbah ke dalam reaktor AF2B dan


catat sebagai waktu awal bidegradasi (to)

c. Amati proses biodegradasi dalam reaktor AF2B selama 2


– 3 jam sebagai waktu tinggal atau lama biodegradasi
bahan organik (sesuai saran pembimbing)

a. Ambil sampel air limbah dari keluaran/efluent reaktor


AF2B sebanyak 100 ml dan lakukan analisa kadar
BOD5, COD dan kekeruhan air limbah sesuai prosedur
analisa BOD5 dan COD
b. Hentikan percobaan dengan cara mematikan pompa air
limbah

9
 Skema Analisa COD

2,5 ml Sampel
Labu Ukur 100 ml
Aquadest

25 ml hasil
pengenceran

10 ml K2Cr2O7 Erlenmeyer 250 ml 30 ml AgSO4 dalam H2SO4

Larutan Campuran

Refflux selama 2 jam

(NH4)2Fe(SO4)2.6H2O Titrasi

Hasil Titrasi

10
 Skema Analisa COD

V. Data Pengamatan

Volume air limbah : 2 Liter ; Pengenceran : 4000 kali


Sampel COD BOD Blangko

Vol. FAS (ml) Vol. Thiosulfat (ml) Vol. Thiosulfat (ml)

OT0 OT5 OT0 OT5

Influent 11.8 8.7 4.8 8.1 2.7

Effluent 11.9 10.2 5.8

11
VI. Pembahasan

Dari percobaan yang telah di laksanakan dengan judul “Pengelolahan Air


Limbah dengan Menggunakan Metode Biologycal Aerob”. Bahan air limbah yang
digunakan ialah air limbah dari Laboratorium. Tujuan dari percobaan ini yaitu
mampu menjalankan peralatan percobaan pengolahan air limbah dengan metode
biological aerob dengan aman dan benar,mampu mellakukan analisa Chemical
Oxygen Demand maupun Biology Oxygen Demand , serta mampu membandingkan
hasil dari analisa antara COD dengan BOD.

Pada percobaan yang dilakukan, air llimbah diambil 2 liter dan di encerkan
hingga 4000x, lalu mengukur kecepatan flowrate, kemudian melakukan analisa
COD dan BOD. Sebelum melakukan analisa air limbah yang belum masuk di proses
diambil sampelnya sebanyak 15 ml untuk masing masing analisa 2,5 ml untuk
analisa COD dan 12.5 untuk analisa BOD.

Untuk analisa COD prisip yang digunakan yaitu sebagian besar zat organic
melalui tes COD ini dioksidasikan oleh larutan K2Cr2O7 ndalam keadaan asam yang
mendidih,dengan rumus :

CaHbOc + Cr2O72- + H+ CO2 + H2O + Cr3+ (Reaksi 1)

Zat organis
( Warna Kuning ) ( Warna Hijau )

Selama reaksi yang berlangsung 2 jam ini, uap di refluks dengan alat kondensor
sederhana,agar zat organic yang bersifat volatile atau yang mudah menguap tidak
lenyap keluar.

Pada analisa COD juga ditambahkan larutan Ag2SO4 yang terdapat didalam
H2SO4 hal tersebut dilakukan karena Ag2SO4 sebagai katalisator yang bertujuan
untuk mempercepat reaksi. Lalu ada penambahan juga larutan HgSO4 atau merkuri
sulfat yang digunakan untuk menghilangkan gangguan klorida yang terdapat dalam
limbah buangan.

Untuk memastikan bahwa hamper semua zat organic habis teroksidasi maka
pastikan bahwa K2Cr2O7 masih harus tersisa sesudah di refluks sehingga masih
terdapat warna jingga kehijau-hijauan pada saat sesudah di refluks jika sebelum 2
12
jam sudah berubah warna menjadi hijau tandanya sudah tidak terkandung K2Cr2O7.
K2Cr2O7 yang tersisa digunakan untuk menentukan berapa oksigen yang telah
terpakai. Sisa dari K2Cr2O7 digunakan untuk menentukan berapa oksigen yang
diperlukan dengan cara mentitrasi dengan larutan Ferroamonium Sulfat (FAS) dan
dengan indikator Ferroin, dengan rumus :

6 Fe2+ + Cr2O72- + 14 H- 6 Fe3+ + 2Cr3+ + 7H2O

Dimana indikator ferroin disini digunakan untuk menetukan titik akhir titrasi
dari warna yang hijau kebiru-biruan menjadi warna coklat kemerahan. Sisa dari
K2Cr2O7 pada blangko adalah K2Cr2O7 awal,karena diharapkan blangko tidak
mengandung zat organic yang dapat dioksidasi oleh K2Cr2O7.

Prinsip pengukuran BOD pada dasarnya cukup sederhana, yaitu mengukur


kandungan oksigen terlarut awal (DOi) dari sampel segera setelah pengambilan
contoh, kemudian mengukur kandungan oksigen terlarut pada sampel yang telah
diinkubasi selama 5 hari pada kondisi gelap dan suhu tetap (20oC) yang sering
disebut dengan DO5. Selisih DOi dan DO5 (DOi – DO5) merupakan nilai BOD
yang dinyatakan dalam miligram oksigen per liter (mg/L). Pengukuran oksigen
dapat dilakukan secara analitik dengan cara titrasi (metode Winkler, iodometri) atau
dengan menggunakan alat yang disebut DO meter yang dilengkapi dengan probe
khusus. Jadi pada prinsipnya dalam kondisi gelap, agar tidak terjadi proses
fotosintesis yang menghasilkan oksigen, dan dalam suhu yang tetap
selamalimahari, diharapkan hanya terjadi proses dekomposisi oleh mikroorganime,
sehingga yang terjadi hanyalah penggunaan oksigen, dan oksigen tersisa ditera
sebagai DO5. Yang penting diperhatikan dalam hal ini adalah mengupayakan agar
masih ada oksigen tersisa pada pengamatan hari kelima sehingga DO5 tidak nol.
Bila DO5 nol maka nilai BOD tidak dapat ditentukan.

Pada prakteknya, pengukuran BOD memerlukan kecermatan tertentu


mengingat kondisi sampel atau perairan yang sangat bervariasi, sehingga
kemungkinan diperlukan penetralan pH, pengenceran, aerasi, atau penambahan
populasi bakteri. Pengenceran dan/atau aerasi diperlukan agar masih cukup tersisa
oksigen pada hari kelima. Secara rinci metode pengukuran BOD diuraikan dalam
APHA (1989), Umaly dan Cuvin, 1988; Metcalf & Eddy, 1991) atau referensi
mengenai analisis air lainnya.

13
Karena melibatkan mikroorganisme (bakteri) sebagai pengurai bahan organik,
maka analisis BOD memang cukup memerlukan waktu. Oksidasi biokimia adalah
proses yang lambat. Dalam waktu 20 hari, oksidasi bahan organik karbon mencapai
95 – 99 %, dan dalam waktu 5 hari sekitar 60 – 70 % bahan organik telah
terdekomposisi (Metcalf & Eddy, 1991).Limahari inkubasi adalah kesepakatan
umum dalam penentuan BOD. Bisa saja BOD ditentukan dengan menggunakan
waktu inkubasi yang berbeda, asalkan dengan menyebut- 4kanlama waktu tersebut
dalam nilai yang dilaporkan (misal BOD7, BOD10) agar tidak salah dalam
interpretasi atau memperbandingkan. Temperatur 20oC dalam inkubasi juga
merupakan temperatur standard. Temperatur 20oC adalah nilai rata-rata temperatur
sungai beraliran lambat di daerah beriklim sedang (Metcalf & Eddy, 1991) dimana
teori BOD ini berasal. Untuk daerah tropik sepertiIndonesia, bisa jadi temperatur
inkubasi ini tidaklah tepat. Temperatur perairan tropik umumnya berkisar antara 25
– 30oC, dengan temperatur inkubasi yang relatif lebih rendah bisa jadi aktivitas
bakteri pengurai juga lebih rendah dan tidak optimal sebagaimana yang diharapkan.
Ini adalah salah satu kelemahan lain BOD selain waktu penentuan yang lama
tersebut.

Analisa COD berbeda dengan analisa BOD dikarenakan analisa BOD


bergantung kepada Bakteri pengurainya sedangkan COD seluruh senyawa organic
dapat diuraikan. Sehingga hasil dari analisa COD lebih besar daripada hasil dari
analisa BOD. Pada percobaan yang telah dilakukan untuk analisa COD sudah lebih
besar daripada BOD baik influent maupun effluent.

Analisis COD berbeda dengan analisis BOD namun perbandingan antara angka
COD dengan angka BOD dapat ditetapkan. Nilai BOD selalu lebih kecil dari nilai
COD. Hal ini disebabkan karena BOD bergantung kepada bakteri pengurainya.
Misalnya dalam air terdapat senyawa kompleks dan senyawa sederhana. Umumnya,
bakteri bisa menguraikan senyawa organik yang sederhana saja, sehingga senyawa
organik yang kompleks belum teroksidasi sempurna. Berbeda dengan penetapan
COD, seluruh senyawa organik bisa diuraikan sehingga jumlahnya selalu lebih
besar dari BOD. Dalam tabel 1. Tercantum perbandingan angka tersebut untuk
beberapa jenis air.

14
Tabel 1. Perbandingan rata-rata angka BOD5/COD untuk beberapa jenis air

Jenis Air BOD5/COD


Air buangan domestik (penduduk) 0,40 – 0,60
Air buangan domestik setelah pengendapan primer 0,60
Air buangan domestik setelah pengolahan secara biologis 0,20
Air sungai 0,10
Ket: BOD5 adalah BOD pada hari kelima

Angka perbandingan yang lebih rendah dari seharusnya, misalnya untuk air
buangan penduduk (domestik) < 0,20, menunjukkan adanya zat-zat yang bersifat
racun bagi mikroorganisme.

Tidak semua zat-zat organik dalam air buangan maupun air permukaan dapat
dioksidasi melalui tes COD atau BOD. Tabel 2 dibawah ini merupakan jenis zat-
zat organik atau anorganik yang tidak atau dapat dioksidasikan oleh tes COD dan
BOD.

Tabel 2. Jenis zat-zat yang tidak atau dapat dioksidasi melalui tes COD dan
BOD
Jenis zat organik / anorganik Dapat dioksidasi melalui tes
COD BOD
Zat organik yang biodegradable a
X X
(protein, gula, dan sebagainya)
Selulosa dan sebagainya X -
N organik yang biodegradable
X X
(protein dan sebagainya)
N organik yang non-biodegradable,
X -
NO2-, Fe2+, S2-, dan Mn2+

NH4+ bebas (nitrifikasi) - Xb


Hidrokarbon aromatik dan rantai Xc -
Keterangan :
 Biodegradable = dapat diuraikan
 Mulai setelah 4 hari, dan dapat dicegah dengan pembubuhan inhibitor.
 Dapat dioksidasikan karena adanya katalisator Ag2SO4

15
Adanya oksigen terlarut di dalam air yang berasal dari udara dan dari prosen
fotosintesa tumbuhan air, sangat penting untuk menunjang kehidupan organisme
air. Kemampuan air untuk membersihkan pencemaran secara alamiah banyak
tergantung pada kecukupan kadar oksigen terlarut. Oksigen terlarut (Dissolved
Oxygen) adalah jumlah miligram oksigen terlarut dalam air yang dinyatakan
dengan mg O2/L.

Oksigen dalam sampel akan mengoksidasi MnSO4 yang ditambahkan ke


dalam larutan dalam keadaan basa sehingga terjadi endapan MnO2. Dengan
penambahan asam sulfat pekat dan alkali iodida-azida, maka akan dibebaskan iod
yang ekivalen dengan oksigen terlarut. Iod yang dibebaskan tersebut kemudian
dianalisis dengan metode titrasi iodometri yaitu dengan menggunakan larutan
standar tiosulfat dan indikator kanji dengan titik akhir tak berwarna.

Kekurangan Uji Oksigen terlarut adalah proses pengamatan pada saat


penambahan MnSO4 dan alkali iodida azida yang menghasilkan warna endapan
coklat atau putih. Ketika penambahan H2SO4 pekat ke dalam larutan, maka endapan
tersebut akan larut. Apabila terbentuk endapan coklat, maka larutan akan berwarna
coklat dan apabila terbentuk endapan putih maka larutan akan tidak berwarna,
sehingga proses pengamatan pada saat titrasi akan menjadi sulit.

Pada praktikum hasil analisa BOD dan COD didapatkan hasil delta BOD
adalah 0.02 mgO2/L dan delta COD 91,422 mgO2/L.

16
VII. Kesimpulan

 Nilai BOD < Nilai COD, sehingga faktor penguraian limbah bergantung
dari jenis mikroorganisme pengurai.
 Analisa COD dan BOD untuk menentukan berapa besar jumlah oksigen
yang ada di dalam air limbah.
 Pada BOD, sampel yang akan diuji harus diencerkan sehingga ketelitian
untuk analisa 02 terlarut dapat dihitung dengan cermat.

Daftar Pustaka
Wastewater Engineering 4th Edition: Treatment & Reuse, Metcalf & Eddy, Inc.,

Widiyanto, Angga. Verifikasi Metode COD secara ASTM D-1252, Photometri


SQ 118 dan EPA 410.3, Salinitas berdasarkan Standard Method 16th
Edition dan Horiba U-10, dan DO secara yodometri dengan metode SNI 06-
6989.14-2004.

17