Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

CHEPALOPELVIC DISPROPORTION (CPD)

1. Definisi
Cephalopelvic Disproportion (CPD) adalah suatu bentuk
ketidaksesuaian antara ukuran kepala janin dengan panggul ibu (Reader,
1997).
Chepalopelvic Disproportion (CPD) adalah tidak ada kesesuaian
antara kepala janin dengan bentuk dan ukuran panggul. Disproporsi
sefalopelvik adalah keadaan yang menggambarkan ketidaksesuaian antara
kepala janin dan panggul ibu sehingga janin tidak dapat keluar melalui
vagina (Manuaba, 2000).

2. Etiologi
Faktor-faktor terjadinya CPD:
a. Faktor Ibu
1) Adanya kelainan panggul
2) Perubahan bentuk karena penyakit tulang belakang
3) Perubahan bentuk karena penyakit
4) Adanya kesempitan panggul
a) Kesempitan pada pintu atas panggul (PAP) dianggap sempit
kalau conjurgata vera kurang 10 cm atau diameter tranvera
kurang dari 12 cm biasanya terdapat pada kelainan panggul.
b) Kesempitan bidang tengah panggul
Dikatakan bahwa bidang tengah panggul sempit kalau; jumlah
diameter spina kurang dari 9 cm, kesempitan pintu bawah
perut. Dikatakan sempit kalau jarak antara tuberosis 15 cm
atau kurang, kalau pintu bawah panggul sempit biasanya
bidang tengah juga sempit. Kesempitan pintu bawah panggul
jarang memaksa.
b. Faktor Janin
1) Janin yang terlalu besar
2) Hidrocephalus
3) Kelainan letak janin

3. Tanda dan Gejala


a. Persalinan lebih lama dari yang normal
b. Janin belum masuk PAP pada usia kehamilan 39 minggu (primipara)
c. Tinggi badan kurang dari 145 cm
d. Ukuran distasia spinarum kurang dari 24-26 cm
e. Ukuran distasia kristarum kurang dari 28-30 cm
f. Ukuran konjugata eksterna diameter kurang dari 18-20 cm
g. Ukuran lingkar panggul kurang dari 80-90 cm
h. Pintu Atas Panggul
1) Ukuran konjugata vera / diameter antero posterior (diameter depan
– belakang) yaitu diameter antara promontorium dan tepi atas
symfisis kurang dari 11 cm.
2) Ukuran diameter melintang (transversa), yaitu jarak terlebar antara
ke-2 linea inominata kurang dari 13 cm.
3) Ukuran diameter oblik (miring) jarak antara artikulasio sakro iliaka
dengan tuberkulum pubicum sisi yang bersebelahan kurang dari 12
cm.
i. Bidang Tengah Panggul
1) Bidang luas panggul terbentuk dari titik tengah symfisis,
pertengahan acetabulum, dan ruas sacrum ke-2 dan ke-3. Diameter
antero-posterior kurang dari 12,75 cm, diameter transversanya
kurang dari 12,5 cm.
2) Bidang sempit panggul merupakan bidang yang berukuran kecil
terbentang dari tepi bawah symfisis, spina ischiadika kanan dan
kiri, dan 1-2 cm dari ujung bawah sacrum. Diameter antero-
posterior kurang dari 11,5 cm, diameter transversa kurang dari 10
cm.
j. Pintu Bawah Panggul
1) Diameter antero-posterior yaitu ukuran dari tepi bawah symfisis ke
ujung sacrum kurang dari 11,5 cm.
2) Diameter transversa jarak antara tuber ischiadikum kanan dan kiri
kurang dari 10,5 cm.
3) Diameter sagitalis posterior yaitu ukuran dari ujung sacrum ke
pertengahan ukuran transversa kurang dari 7,5 cm.

4. Patofisiologi
Tulang–tulang panggul terdiri dari os koksa, os sakrum, dan os
koksigis. Os koksa dapat dibagi menjadi os ilium, os iskium, dan os pubis.
Tulang–tulang ini satu dengan lainnya berhubungan. Di depan terdapat
hubungan antara kedua os pubis kanan dan kiri, disebut simfisis.
Dibelakang terdapat artikulasio sakro- iliaka yang menghubungkan os
sakrum dengan os ilium.
Pada wanita, di luar kehamilan artikulasi ini hanya memungkinkan
pergeseran sedikit, tetapi pada kehamilan dan waktu persalinan dapat
bergeser lebih jauh dan lebih longgar, misalnya ujung koksigis dapat
bergerak kebelakang sampai sejauh lebih kurang 2,5 cm. Hal ini dapat
dilakukan bila ujung os koksigis menonjol ke depan pada saat partus, dan
pada pengeluaran kepala janin dengan cunam ujung os koksigis itu dapat
ditekan ke belakang. Secara fungsional, panggul terdiri dari dua bagian
yaitu pelvis mayor dan pelvis minor.
Pelvis mayor adalah bagian pelvis yang terletak diatas linea
terminalis, disebut juga dengan false pelvis. Bagian yang terletak dibawah
linea terminalis disebut pelvis minor atau true pelvis. Pada ruang yang
dibentuk oleh pelvis mayor terdapat organ–organ abdominal selain itu
pelvis mayor merupakan tempat perlekatan otot–otot dan ligamen ke
dinding tubuh. Sedangkan pada ruang yang dibentuk oleh pelvis minor
terdapat bagian dari kolon, rektum, kandung kemih, dan pada wanita
terdapat uterus dan ovarium.
Selama kehamilan, serviks (leher rahim atau saluran tempat jalan
keluarnya bayi dari rahim menuju vagina) dalam kondisi tertutup dan
dipenuhi oleh lendir (mukus) untuk melindunginya dari infeksi. Pada tahap
pertama persalinan, kontraksi membuat serviks terbuka secara bertahap.
Serviks mulai melentur sehingga dapat terbuka dan melebar sampai 10 cm.
Tahap ini merupakan tahap yang paling panjang dari persalinan. Dapat
berlangsung selama beberapa jam bahkan hari sebelum menjalani
persalinan.
Fase di mana serviks mulai terbuka ini disebut dengan fase laten.
Pada fase laten, akan merasa kontraksi dan kadang juga tidak. Pada fase
ini sebaiknya makan dan minum untuk mempersiapkan energi yang akan
dipakai selama proses persalinan. Jika persalinan mulai pada malam hari,
sebaiknya tenang dan tetap rileks. Gunakan waktu untuk tidur jika bisa dan
jika persalinan baru dimulai saat siang hari, cobalah untuk tetap aktif.
Bergerak aktif akan membantu bayi turun ke bawah rahim dan juga
membantu serviks untuk melebar.
Pathway

CPD

Sectio Caesarea (SC)

Insisi Abdomen

Adaptasi Fisiologi Adaptasi Psikologi

Terputusnya Jalan masuk Fase take in Fase taking hold


kontinuitas jaringan orgnisme

MK: Nyeri MK: Resti Ketergantungan Kurang informasi


Infeksi tentang perawatan
bayi & cara
menyusui
Hb menurun Mobilitas
fisik menurun
Kurang
O2 dan nutrisi ke pengetahuan
sel berkurang Ggn
perawatan
diri
MK: Intoleransi
aktifitas

Sumber : (Manuaba, 2000).


5. Pemeriksaan Fisik
a. Pada Perkiraan Kapasitas Panggul Sempit
Perkiraan panggul sempit dapat diperoleh dari pemeriksaan
umum dan anamnesa. Misalnya pada tuberculosis vertebra,
poliomyelitis, kifosis. Pada wanita dengan tinggi badan yang kurang
dari normal ada kemungkinan memiliki kapasitas panggul sempit,
namun bukan berarti seorang wanita dengan tinggi badan yang
normal tidak dapat memiliki panggul sempit. Dari anamnesa
persalinan terdahulu juga dapat diperkirakan kapasitas panggul.
Apabila pada persalinan terdahulu berjalan lancar dengan bayi berat
badan normal, kemungkinan panggul sempit adalah kecil.
b. Pengukuran panggul (pelvimetri)
Merupakan salah satu cara untuk memperoleh keterangan
tentang keadaan panggul. Melalui pelvimetri dalam dengan tangan
dapat diperoleh ukuran kasar pintu atas dan tengah panggul serta
memberi gambaran jelas pintu bawah panggul. Adapun pelvimetri
luar tidak memiliki banyak arti.
c. Pelvimetri radiologis
Dapat memberi gambaran yang jelas dan mempunyai tingkat
ketelitian yang tidak dapat dicapai secara klinis. Pemeriksaan ini
dapat memberikan pengukuran yang tepat dua diameter penting yang
tidak mungkin didapatkan dengan pemeriksaan klinis yaitu diameter
transversal pintu atas dan diameter antar spina iskhiadika. Tetapi
pemeriksaan ini memiliki bahaya pajanan radiasi terutama bagi janin
sehingga jarang dilakukan.
d. Pelvimetri dengan CT scan
Dapat mengurangi pajanan radiasi, tingkat keakurata lebih baik
dibandingkan radiologis, lebih mudah, namun biayanya mahal. Selain
itu juga dapat dilakukan pemeriksaan dengan MRI dengan
keuntungan antara lain tidak ada radiasi, pengukuran panggul akurat,
pencitraan janin yang lengkap. Pemeriksaan ini jarang dilakukan
karena biaya yang mahal. Dari pelvimetri dengan pencitraan dapat
ditentukan jenis panggul, ukuran pangul yang sebenarnya, luas
bidang panggul, kapasitas panggul, serta daya akomodasi yaitu
volume dari bayi yang terbesar yang masih dapat dilahirkan spontan.
Pada kehamilan yang aterm dengan presentasi kepala dapat dilakukan
pemeriksaan dengan metode Osborn dan metode Muller Munro Kerr.
Pada metode Osborn, satu tangan menekan kepala janin dari atas
kearah rongga panggul dan tangan yang lain diletakkan pada kepala
untuk menentukan apakah kepala menonjol di atas simfisis atau tidak.
Metode Muller Munro Kerr dilakukan dengan satu tangan
memegang kepala janin dan menekan ke arah rongga panggul, sedang
dua jari tangan yang lain masuk ke vagina untuk menentukan
seberapa jauh kepala mengikuti tekanan tersebut dan ibu jari yang
masuk ke vagina memeriksa dari luar hubungan antara kepala dan
simfisis.

6. Pemeriksaan Penunjang
Mengingat pada klien sectio caesaria sering terjadi perubahan volume
darah dari kadar pra operasi dan untuk mengevaluasi efek kehilangan
darah pada pembedahan, perlu dilakukan pemeriksaan hematologi.
Pemeriksaan hematologi yang diperlukan adalah hitung jumlah darah
lengkap, hemoglobin (Hb) dan hematokrit (Ht). Selain itu terdapat
pemeriksaan urinalisis: Kultur urine, darah, vaginal, dan lokhia. Terdapat
juga pemeriksaan tambahan berdasarkan kebutuhan individual.

7. Penatalaksanaan
Sectio Caesaria dan partus percobaan merupakan tindakan utama
untuk menangani persalinan pada chepalopelvic disproportion. Di samping
itu kadang-kadang ada indiksi untuk melakukan simfisiofomia dan
kraniotomia akan tetapi simfisiotomia jarang sekali dilakukan di
Indonesia, sedangkan kraniotomia hanya dikerjakan pada janin mati
(Wiknjosastro, 2007).
a. Sectio Caesaria
Sectio caesaria dapat dilakukan secara elektif atau primer, yaitu
sebelum persalinan mulai atau pada awal persalinan, dan secara
sekunder, yaitu sesudah persalinan berlangsung selama beberapa waktu.
1) Sectio caesaria elektif direncanakan lebih dahulu dan dilakukan
pada kehamilan cukup bulan karena kesempatan panggul yang
cukup berat, atau karena terdapat chepalopelvic disproportion yang
nyata.
2) Sectio sekunder dilakukan karena persalinan percobaan dianggap
gagal, atau karena timbul indikasi untuk menyelesaikan persalinan
selekas mungkin, sedang syarat-syarat untuk persalinan per
vaginam tidak atau belum terpenuhi.
b. Persalinan Percobaan
Berdasarkan pemeriksaan yang teliti pada hamil tua diadakan penilaian
tentang bentuk serta ukuran-ukuran panggul dalam semua bidang dan
hubungan antara kepala janin dan panggul, dan setelah dicapai
kesimpulan bahwa ada harapan bahwa persalinan dapat berlangsung
pervaginam dengan selamat, dapat diambil keputusan untuk
menyelenggarakan persalinan percobaan.
c. Simfisiotomi
Simfisiotomi adalah tindakan untuk memisahkan tulang panggul kiri
dan tulang panggul kanan pada simfisis supaya dengan demikian
rongga panggul menjadi lebih luas.
d. Kraniotomi
Pada persalinan yang dibicarakan berlarut-larut dan dengan janin sudah
meninggal, sebaiknya persalinan diselesaikan dengan kraniotomi.
(Wiknjosastro, 2007).
8. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri fisik.
b. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik.
c. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur insisi.
d. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan oksigen dan nutrisi sel
berkurang
e. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi

9. Nursing Care Planning (NCP)


No Diagnosa NOC (Nursing Outcome) NIC (Nursing
Keperawatan Intervention
Clasification)
1. Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan diharapkan nyeri 1. Lakukan pengkajian
berhubungan nyeri secara
teratasi
dengan agen komprehensif termasuk
injuri fisik. kriteria hasil lokasi, karakteristik,
durasi, frekuensi,
Indikator IR ER
kualitas, dan faktor
- Melaporkan adanya prespitasi.
2. Observasi reaksi non
nyeri verbal dari
- Luas bagian tubuh ketidaknyamanan
3. Bantu pasien dan
yang terpengaruh keluarga untuk mencari
- Frekuensi nyeri dan menemukan
dukungan
- Panjangnya episode 4. Control lingkungan
nyeri yang dapat
mempengaruhi nyeri
- Pernyataan nyeri seperti suhu ruangan,
- Ekspresi nyeri pencahayaan dan
kebisingan
- Posisi tubuh protektif 5. Kurangi faktor
- Kurangnya istirahat prespitasi nyeri
6. Kaji tipe dan sumber
- Ketegangan otot nyeri untuk menentukan
- Perubahan pada intervensi
7. Ajarkan tentang teknik
frekuensi nafas non-farmakologi napas
- Perubahan nadi dalam, relaksasi,
distraksi, kompres
- Perubahan tekanan hangat/dingin
darah 8. Tingkatkan istirahat
9. Berikan informasi
- Perubahan pupil tentang nyeri seperti
- Keringat berlebih penyebab nyeri
10. Kolaborasi pemberian
- Kehilangan selera analgetik
makan untuk mengurangi
nyeri sesuai indikasi
Keterangan : 11. Monitor vital sign
1. Kuat sebelum dan sesudah
pemberian analgetik
2. Berat pertama kali
3. Sedang
4. Ringan
- Tidak ada
2. Defisit perawatan Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan 1. Pastikan berat / durasi
diri berhubungan ketidaknyamanan
defisit perawatan diri tidak terjadi
dengan 2. Tentukan tipe-tipe
kelemahan fisik. Indikator IR ER anastesi
3. Ubah posisi klien setiap
- Makan 2 5 1-2 jam
- Berpakaian 3 5 4. Berikan bantuan sesuai
kebutuhan (perawatan
- Toileting 4 5 mulut, mandi, gosokan
- Mandi 4 5 punggung dan
perawatan perineal)
- Terawat 3 5 5. Berikan pilihan bila
- Kebersihan diri 3 5 mungkin (jadwal mandi,
jarak selama ambulasi)
- Oral hygiene 3 5 6. Kolaborasi pemberian
Keterangan : analgesik sesuai indikasi
1. Tidak mandiri
2. Dibantu orang dan alat
3. Dibantu orang
4. Dibantu alat
- Mandiri penuh
3. Resiko infeksi Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan 1. Pertahankan teknik
berhubungan aseptik
infeksi tidak terjadi
dengan prosedur 2. Batasi pengunjung bila
insisi. Indikator IR ER perlu
3. Cuci tangan sebelum
- Monitor faktor resiko dan sesudah tindakan
dari lingkungan keperawatan
4. Gunakan baju, sarung
- Menghindari paparan tangan sebagai alat
yang mengancam pelindung
5. Ganti letak IV perifer
kesehatan dan dressing sesuai
- Perubahan status dengan petunjuk umum
6. Gunakan kateter
kesehatan intermiten untuk
Keterangan : menurunkan infeksi
kandung kemih
1. Tidak pernah menunjukan 7. Tingkatkan intake
2. Jarang menunjukan nutrisi
8. Monitor tanda dan
3. Kadang-kadang menunjukan gejala infeksi sistemik
dan lokal
4. Sering menunjukan 9. Inspeksi kulit dan
membran mukosa
5. Selalu menunjukan
terhadap kemerahan,
panas, drainase
10. Monitor adanya luka
11. Dorong masukan cairan
12. Kolaborasi pemberian
antibiotik sesuai
indikasi
4. Intoleransi Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan 1. Tentukan penyebab
aktivitas
aktivitas klien meningkat toleransi aktivitas
berhubungan
dengan oksigen Kriteria Hasil : 2. Berikan periode istirahat
dan nutrisi sel
Indikator IR ER selama aktivitas
berkurang
- HR dalam rentang yang 3. Minimalkan kerja
diharapkan kardiovaskuler dengan
- RR dalam rentang yang memberikan posisi
diharapkan st ktivits semifowler
- Tekanan darah sistol dalam 4. Pastikan perubahan
rentang yang diharapkan posisi secara perlahan
- Tekanan darah distol HR 5. Tingkatkan aktivitas
dalam rentang yang diharapkan secara bertahap (duduk,
- EKG dalam batas norml jalan kaki)
- Warna kulit 6. Ajarkan klien
- Langkah berjalan bagaimana
- Kuat menaggunakan teknik
- Jarak berjalan mengontrol pernafasan
- Laporan ADL saat beraktivitas
- Kemampuan bicara saat latihan
Keterangan :
1. Keluhan ekstrem
2. Keluhan berat
3. Keluhan sedang
4. Keluhan ringan
5. Tidak ada keluhan
5 Kurang Setelah dilakukan tindakan perawatan diharapkan 1. Gunakan pendekatan
pengetahuan ansietas berkurang dengan kriteria hasil: yang menenangkan
berhubungan Indikator IR ER 2. Jelaskan semua
dengan kurang - Klien mampu prosedur dan apa yang
informasi mengidentifikasi dan dirasakan selama
mengungkapkan gejala prosedur
cemas. 3. Temani pasien untuk
- Mengidentifikasi, memberikan keamanan
mengungkapkan dan dan mengurangi takut
menunjukkan tehnik 4. Dengarkan dengan
untuk mengontol cemas. penuh perhatian
- Vital sign dalam batas 5. Instruksikan pasien
normal. menggunakan teknik
- Postur tubuh, ekspresi relaksasi
wajah, bahasa tubuh dan
tingkat aktivfitas
menunjukkan
berkurangnya
kecemasan.

Keterangan :

1. Keluhan ekstrim
2. Keluhan berat
3. Keluhan sedang
4. Keluhan ringan
5. Tidak ada keluhan
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Periodic paralisys. Available from http : //www.NINDS.com

Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta:EGC.

Guyton & hall. Kalium dalam cairan ekstraselular. EGC. 1997.

Mansjoer, A, dkk. 2007. Kapita Selekta Kedokteran, jilid 1, Edisi 3. Jakarta :


Media Aesculapius

Mesiano taufik. Periodik paralisis. Available from http : //www.ommy &


nenny.com

Nanda NIC- NOC. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa


Medis Edisi Revisi Jilid II. Jakarta: EGC.

Saraswati, sylvia .2009. Diet Sehat Untuk Penyakit Asam Urat Diabetes
Hipertensi dan Stroke. Yogyakarta : A Plus

Sujono, Sukarmin . 2008. Askep pada Pasien dengan Gangguan Eksokrin dan
Endokrin pada Pankreas. Yogyakarta : Graha Ilmu

Susanto, Rudy. 2007. Hipoglikemia Pada Bayi dan Anak. Semarang : Bagian
IKA FK Universitas Diponegoro. RS.Kariadi.. PKB Palembang.