Anda di halaman 1dari 19

Skip to content

jhumpyo joseph

 Beranda
 Perihal

ASUHAN KEPERAWATAN SYSTEMICS LUPUS ERYTHEMATOSUS (SLE)

18 Maret 2015 | jhumpyo joseph

ASUHAN KEPERAWATAN

SYSTEMICS LUPUS ERYTHEMATOSUS

(SLE)

ANDI JUMRIANI JOSEPH

913-312-910-105-024

STIK AVICENNA BUTTA TOA

BANTAENG

2015

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Systemic lupus erytematosus (SLE) atau lupus eritematosus sistemik (LES) adalah penyakit
radang atau inflamasi multisistem yang penyebabnya diduga karena adanya perubahan sistem
imun (Albar, 2003). SLE termasuk penyakit collagen-vascular yaitu suatu kelompok penyakit
yang melibatkan sistem muskuloskeletal, kulit, dan pembuluh darah yang mempunyai banyak
manifestasi klinik sehingga diperlukan pengobatan yang kompleks. Etiologi dari beberapa
penyakit collagen-vascular sering tidak diketahui tetapi sistem imun terlibat sebagai mediator
terjadinya penyakit tersebut (Delafuente, 2002).

Sistemik lupus eritematosus (SLE) merupakan salah satu penyakit autoimun yang disebabkan
oleh disregulasi sistim imunitas dan secara garis besar dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu endokrin-
metabolik, lingkungan dan genetik. Gangguan renal juga terdapat pada sekitar 52% penderita
SLE. Pada sebagian pasien, gangguan awal pada kulit dapat menjadi prekursor untuk terjadinya
gangguan yang bersifat lebih sistemik. Penderita dengan SLE membutuhkan pengobatan dan
perawatan yang tepat dan benar. Pengobatan pada penderita SLE ditujukan untuk mengatasi
gejala dan induksi remisi serta mempertahankan remisi selama mungkin pada perkembangan
penyakit. Karena manifestasi klinis yang sangat bervariasi maka pengobatan didasarkan pada
manifestasi yang muncul pada masing-masing individu. Obat-obat yang umum digunakan pada
terapi farmakologis penderita SLE yaitu NSAID (Non-Steroid Anti-Inflammatory Drugs), obat-
obat antimalaria, kortikosteroid, dan obat-obat antikanker (imunosupresan) selain itu terdapat
obat-obat yang lain seperti terapi hormon, imunoglobulin intravena, UV A-1 fototerapi,
monoklonal antibodi, dan transplantasi sumsum tulang yang masih menjadi penelitian para
ilmuwan. NSAID dapat digunakan untuk SLE ringan. Dosis yang digunakan harus memadai
untuk menimbulkan efek antiinflamasi. Aspirin dosis rendah dapat digunakan pada pasien
dengan sindrom antifosfolipid. Penggunaan NSAID dapat menyebabkan penurunan fungsi ginjal,
hal ini dapat memperparah terjadinya lupus nefritis

BAB II
PEMBAHASAN

1. Konsep Medis

Definisi

Penyakit lupus adalah penyakit sistem daya tahan, atau penyakit auto imun, artinya tubuh pasien
lupus membentuk antibodi yang salah arah, merusak organ tubuh sendiri, seperti ginjal, hati,
sendi, sel darah merah, leukosit, atau trombosit. Antibodi seharusnya ditujukan untuk melawan
bakteri ataupun virus yang masuk ke dalam tubuh.

Lupus adalah penyakit yang disebabkan sistem imun menyerang sel-sel jaringan organ tubuh
yang sehat. sistem imun yang terbentuk berlebihan. kelainan ini dikenal dengan autoimunitas.
pada kasus satu penyakit ini bisa membuat kulit seperti ruam merah yang rasanya terbakar (lupus
DLE). pada kasus lain ketika sistem imun yang berlebihan itu menyerang persendian dapat
menyebabkan kelumpuhan (lupus SLE).

SLE (Sistemisc lupus erythematosus) adalah penyakti radang multisistem yang sebabnya belum
diketahui, dengan perjalanan penyakit yang mungkin akut dan fulminan atau kronik remisi dan
eksaserbasi disertai oleh terdapatnya berbagai macam autoantibodi dalam tubuh.

SLE merupakan penyakit radang atau inflamasi multisistem yang disebabkan oleh banyak faktor
dan dikarakterisasi oleh adanya gangguan disregulasi sistem imun berupa peningkatan sistem
imun dan produksi autoantibodi yang berlebihan.

Terbentuknya autoantibodi terhadap DNA, berbagai macam ribonukleoprotein intraseluler, sel-


sel darah, dan fosfolipid dapat menyebabkan kerusakan jaringan melalui mekanisme pengaktivan
komplemen.

Sistemik lupus erythematosus adalah suatu penyakit kulit menahun yang ditandai dengan
peradangan dan pembetukan jaringan parut yang terjadi pada wajah, telinga, kulit kepala dan
kandung pada bagian tubuh lainnya. SLE adalah penyakit autoimun yang melibatkan berbagai
organ dengan manifestasi klinis bervariasi dari yang ringan sampai berat.
1. Etiologi
2. Faktor genetik

Mempunyai peranan yang sangat penting dalam kerentanan dan ekspresi penyakit SLE. Sekitar
10% – 20% pasien SLE mempunyai kerabat dekat (first degree relative) yang menderita SLE.
Angka kejadian SLE pada saudara kembar identik (24-69%) lebih tinggi daripada saudara
kembar non-identik (2-9%). Penelitian terakhir menunjukkan bahwa banyak gen yang berperan
antara lain haplotip MHC terutama HLA-DR2 dan HLA-DR3, komponen komplemen yang
berperan pada fase awal reaksi pengikatan komplemen yaitu C1q, C1r, C1s, C3, C4, dan C2,
serta gen-gen yang mengkode reseptor sel T, imunoglobulin, dan sitokin (Albar, 2003) . Faktor
genetik mempunyai peranan yang sangat penting dalam kerentanan dan ekspresi penyakit SLE.
Sekitar 10% – 20% pasien SLE mempunyai kerabat dekat (first degree relative) yang menderita
SLE. Angka kejadian SLE pada saudara kembar identik (24-69%) lebih tinggi daripada saudara
kembarn non-identik (2-9%).

1. Faktor lingkungan

 infeksi Risiko timbulnya SLE meningkat pada mereka yang lain pernah sakit herpes
zoster (shingles). Herpes zoster adalah penyakit yang disebabkan oleh virus varisela,
virus yang juga menjadi penyebab dari penyakit cacar air (variscela atau chiken pox).

 Antibiotik Hormon Kurang lebih dari 90% dari penderita SLE adalah wanita. Perbedaan
hormonal antara pria dan wanita mungkin menjadi latar belakang timbulnya lupus.

 Sinar ultraviolet
 Stres yang berlebihan
 Obat-obatan yang tertentu.
1. Klasifikasi

Ada 3 jenis penyakit Lupus yang dikenal yaitu:

1. Discoid Lupus yaitu yang juga dikenal sebagai Cutaneus Lupus, yaitu penyakit Lupus
yang menyerang kulit.
2. Systemics Lupus yaitu penyakit Lupus yang menyerang kebanyakan system di dalam
tubuh, seperti kulit, sendi, darah, paru-paru, ginjal, hati, otak, dan system saraf.
Selanjutnya kita singkat dengan SLE (Systemics Lupus Erythematosus).
3. Drug-Induced yaitu penyakit Lupus yang Eksaserbasi terjadi karena hormone estrogen
meningkat selama kehamilan. Jika terjadi SLE, maka eksaserbasi meningkat 50-60%.
Pada Tingkat.III eksaserbasi 50%, Tingkat.I & Tingkat.II eksaserbasi 15%, postpartum
20%. Pengaruh SLE terhadap kehamilan. Prognosis berdasarkan remisi sebelum hamil,
jika > 6 bulan eksaserbasi 25% dengan prognosis baik, jika < 6 bulan eksaserbasi 50%
dengan prognosis buruk. Abortus meningkat 2-3kali, PE/E, kelahiran prematur, lupus
neonatal.

1. Patofisiologi Lupus
2. Rasa nyeri dan kekakuan pada sendi yang kemudian diikuti dengan bengkak.
3. Nyeri otot.
4. Kelelahan luar biasa.
5. Bercak – bercak pada kulit terutama pada daerah sekitar hidung yang menyerupai bentuk
kupu – kupu.
6. Anemia atau masalah pada ginjal.
7. Nyeri pada dada pada saat bernafas dalam.
8. Penderita lebih sensitif terhadap sinar matahari atau cahaya terang.
9. Rambut rontok.
10. adanya antibodi antinuklear.

Selain itu, gejala atau tanda lainnya yang sering ditemukan antara lain penurunan

berat badan, demam, dan kelainan tulang seperti pada arthritis.


1. kelainan imunologik, yaitu ditemukan adanya sel SLE positif atau anti DNA positif

1. Penatalaksanaan Therapy

Penatalaksanaan terapi systematics lupus erythematosus

1. Penatalaksanaan Medis

Pengobatan

Sampai sekarang SLE memang belum di sembuhkan secara sempurna. Meskipun demikian,
pengobatan yang tepat dapat menekan gejala klinis dan komplikasi yang mungkin terjadi.
Program pengobatan yang tepat bersifat sngat individual tergantung gambaran klinis dan
perjalanan penyakitnya. Pada umumnya, penderita SLE yang tidak mengancam nyawa dan tidak
berhubung dengan kerusakan organ vital dapat di terapi secara konservatif.

Bila penyakit ini mengancam nyawa dan mengenai organ – organ vital, maka dipertimbangkan
pemberian terapi Agresif. Terapi konsevatif maupun agresif sama – sama menggunakan terapi
obat yang digunakan secara tunggal ataupun kombinasi. Terapi konservatif biasanya
menggunakan anti implamasi onstreoid (indometasin, prednisolon) dosis rendah dan anti malaria
(klorokuin).

Terapi Agresif menggunakan kortikosteroid dosis tinggi dan imunosupresif (Azatioprin,


siklofoshamid) selain itu, penderita SLE perlu di ingatkan untuk selalu menggunakan krim
pelindung sinar matahari, baju lengan panjang, topi atau payung bila akan bekerja dibawah sinar
matahari karena penderita sangat sensitif terhadap sinar matahari. Infeksi juga lebih mudah
terjadi pada penderita SLE sehinga penderita dianjurkan mendapat terapi pencegah dengan
antibiotika bila akan menjalani operasi gigi, saluran kencing atau tindakan bedah lainya. Salah
satu bagian dari pengobatan SLE yang tidak boleh terlupakan adalah memberikan penjelasan
kepada penderita mengenai penyakit yang dideritanya, sehingga penderita dapat bersikap positif
terhadap terapi yang akan dijalaninya.

1. Penatalaksanaan keperawatan

Perawat menemukan pasien SLE pada berbagai area klinik karena sifat penyakit yang
homogeny. Hal ini meliputi area praktik keperawatan reumatologi, pengobatan umum,
dermatologi, ortopedik, dan neurologi. Pada setiap area asuhan pasien, terdapat tiga komponen
asuhan keperawatan yang utama.
1) Pemantauan aktivitas penyakit dilakukan dengan menggunakan instrument yang valid,
seperti hitung nyeri tekan dan bengkak sendi (Thompson & Kirwan, 1995) dan kuesioner
pengkajian kesehatan (Fries et al, 1980). Hal ini member indikasi yang berguna mengenai
pemburukan atau kekambuhan gejala.
2) Edukasi sangat penting pada semua penyakit jangka panjang. Pasien yang menyadari
hubungan antara stres dan serangan aktivitas penyakit akan mampu mengoptimalkan prospek
kesehatan mereka. Advice tentang keseimbangan antara aktivitas dan periode istirahat,
pentingnya latihan, dan mengetahui tanda peringatan serangan, seperti peningkatan keletihan,
nyeri, ruam, demam, sakit kepala, atau pusing, penting dalam membantu pasien mengembangkan
strategi koping dan menjamin masalah diperhatikan dengan baik.
3) Dukungan psikologis merupakan kebutuhan utama bagi pasien SLE. Perawat dapat memberi
dukungan dan dorongan serta, setelah pelatihan, dapat menggunakan ketrampilan konseling ahli.
Pemberdayaan pasien, keluarga, dan pemberi asuhan memungkinkan kepatuhan dan kendali
personal yang lebih baik terhadap gaya hidup dan penatalaksanaan regimen bagi mereka (Anisa
Tri U., 2012).

1. Penatalaksanaan diet

Restriksi diet ditentukan oleh terapi yang diberikan. Sebagian besar pasien memerlukan
kortikosteroid, dan saat itu diet yang diperbolehkan adalah yang mengandung cukup kalsium,
rendah lemak, dan rendah garam. Pasien disarankan berhati-hati dengan suplemen makanan dan
obat tradisional.
Pasien lupus sebaiknya tetap beraktivitas normal. Olah raga diperlukan untuk mempertahankan
densitas tulang dan berat badan normal. Tetapi tidak boleh berlebihan karena lelah dan stress
sering dihubungkan dengan kekambuhan. Pasien disarankan untuk menghindari sinar matahari,
bila terpaksa harus terpapar matahari harus menggunakan krim pelindung matahari (waterproof
sunblock) setiap 2 jam. Lampu fluorescence juga dapat meningkatkan timbulnya lesi kulit pada
pasien SLE.

1. Konsep Keperawatan
2. Pengkajian
3. Anamnesis riwayat kesehatan sekarang dan pemeriksaan fisik difokuskan pada gejala
sekarang dan gejala yang pernah dialami seperti keluhan mudah lelah, lemah, nyeri, kaku,
demam/panas, anoreksia dan efek gejala tersebut terhadap gaya hidup serta citra diri
pasien.
4. Kulit

Ruam eritematous, plak eritematous pada kulit kepala, muka atau leher.

1. Kardiovaskuler

Frictionrub perikardium yang menyertai miokarditis dan efusi pleura.


Lesi eritematous papuler dan purpura yang menjadi nekrosis menunjukkan gangguan vaskuler
terjadi di ujung jari tangan, siku, jari kaki dan permukaan ekstensor lengan bawah atau sisi
lateral tanga.

1. Sistem Muskuloskeletal

Pembengkakan sendi, nyeri tekan dan rasa nyeri ketika bergerak, rasa kaku pada pagi hari.

1. Sistem integument

Lesi akut pada kulit yang terdiri atas ruam berbentuk kupu-kupu yang melintang pangkal hidung
serta pipi.
Ulkus oral dapat mengenai mukosa pipi atau palatum durum.

1. Sistem pernafasan

Pleuritis atau efusi pleura.

1. Sistem vaskuler

Inflamasi pada arteriole terminalis yang menimbulkan lesi papuler, eritematous dan purpura di
ujung jari kaki, tangan, siku serta permukaan ekstensor lengan bawah atau sisi lateral tangan dan
berlanjut nekrosis.

1. Sistem Renal

Edema dan hematuria.

1. Sistem saraf

Sering terjadi depresi dan psikosis, juga serangan kejang-kejang, korea ataupun manifestasi SSP
lainnya.

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN

SISTEMISC LUPUS ERYTHEMATOSUS (SLE)

KASUS

Seorang perempuan usia 35 tahun datang ke UGD dengan keluhan merasa tidak nyaman dengan
kulit memerah pada daerah pipi dan leher, awalnya kecil setelah 1 minggu bertambah besar,
demam, nyeri dan terasa kaku seluruh persendian terutama pada pagi hari dan kurang nafsu
makan. Pada pemeriksaan fisik diperoleh ruam pada pipi dengan terbatas tegas, peradangan pada
siku, lesi berskuama pada daerah leher, malaise. Tekanan darah 110/80 mmHg, pernapasan
20x/menit, nadi 90x/menit, suhu 38,50 C, HB 11 gr/dl, WBC 15.000/mm3.

PENGKAJIAN

Klien dengan SLE (Sistemisc Lupus Erythematosus)

1. Identitas
2. Nama : Nn. A
3. Umur : 35 Tahun
4. Jenis Kelamin : Perempuan

2. Keluhan Utama
3. Pipi dan Leher merah.
4.
5. Nyeri pada kulit yang memerah
6. Persendian terasa kaku

3. Riwayat kesehatan sekarang.

Klien datang ke UGD dengan keluhan merasa tidak nyaman dengan kulit memerah pada daerah
pipi dan leher, awalnya kecil setelah 1 minggu bertambah besar, demam nyeri dan terasa kaku
seluruh persendian utamanya pada pagi hari dan berkurang nafsu makan.

4. Pemeriksaan umum
5. Tekanan darah : 110/80 mmHg
6. Respirasi : 20X/menit
7. Nadi : 90X/menit
8. Suhu : 38,50 C
9. Hb : 11 gr/dl
10. WBC : 15.000/mm3

5. Pemeriksaan Fisik
6. Ruam pada pipi yang terbatas tegas
7. Peradangan pada siku
8. Lesi berskuama pada daerah leher
9. Malaise

6. Pemeriksaan Penunjang
7. Rontgen dada menunjukkan pleuritis atau perikarditis.
8. Pemeriksaan dada dengan bantuan stetoskop menunjukkan adanya gesekan pleura atau
jantung.
9. Analisa air kemih menunjukkan adanya darah atau protein lebih dari 0,5 mg/hari atau
+++.
10. Hitungan jenis darah menunjukkan adanya penurunan beberapa jenis sel darah.

Identitas

1. Nama : Nn. A
2. Umur : 35 Tahun
3. Jenis Kelamin : Perempuan

DATA SUBYEKTIF DATA OBYEKTIF


NO
· Klien mengatakan, nyeri dan

persendian terasa kaku, utamanya dipagi


1. · Peradangan pada siku.
hari.

· Ruam pada pipi dengan terbatas tegas.


· Klien merasa tidak nyaman dengan
2.
kulit memerah pada daerah pipi dan leher.
· Lesi berskuama pada daerah leher
Analisa Data

No. Data Etiologi Masalah


DS :

· Klien mengatakan, nyeri dan


persendian terasa kaku, Peradangan / inflamasi
1. utamanya dipagi hari. Sendi Intoleran Aktivitas
Artitis
DO :

– Peradangan pada siku.


DS :
Produksi anti body
· Klien merasa tidak
nyaman dengan kulit memerah Penyakit inflamasi multi

pada daerah pipi dan leher. organ

Integritasi jaringan: kulit


2. DO : Merusak kulit yang normal
dan membrane mukosa
Degenerasi lapisan basal
· Ruam pada pipi dengan Fibrosis, inviltrasi
terbatas tegas. perivaskuler sel mononukleus

· Lesi berskuama pada Lesi, Eritema dan Bula


daerah leher

DIAGNOSA KEPERAWATAN
NO TANGGAL DIAGNOSA KEPERAWATAN
Intoleran Aktivitas

DS :

· Klien mengatakan, nyeri dan persendian terasa kaku, utamanya


1. 10-10-2014
dipagi hari.

DO :

· Peradangan pada siku.


Integritasi jaringan: kulit dan membrane mukosa

DS :

· Klien merasa tidak nyaman dengan kulit memerah pada daerah


pipi dan leher.
2. 10-10-2014

DO :

· Ruam pada pipi dengan terbatas tegas.

· Lesi berskuama pada daerah leher

INTERVENSI

PERENCANAAN
NO Diagnosa Keperawatan TUJUAN DAN
INTERVENSI RASIONAL
KRITERIA HASIL
Setelah diberikan asuuhan
keperawatan selama 3×24
jam, pasien dapat
melakukan aktivitas yang
1. Untuk m
dapat di intoleran karena
adanya ADL
kehilangan energy
1. Kaji respon pasien
2.
terhadap aktivitas
Ketidakmampuan ADL
mengembangkan
2. Kaji pasien untuk kegiatan sehari
Kriteria Hasil :
aktivitas prioritas secara sempurna

Intoleran Aktivitas · Mengidentifikasi


3. Ajarkan teknik 3. Untuk men
faktor-faktor yang
DS : penyimpanan energi seperti sesuatu sebanyak
menurunkan toleran
duduk disaat mencuci dengan mem
aktivitas
· Klien mengatakan, nyeri piring, mendapat bantuan pengeluaran ener
1. dan persendian terasa kaku, · Memperlihatkan dari orang lain
utamanya dipagi hari. 4. Untuk men
kemajuan (khususnya
4. Libatkan keluarga dukungan pad
tingkat yang lebih tinggi
DO : dalam rencana keperawatan pasien dan
dari mobilitas yang
mengerti tentang
· Peradangan pada siku. mungkin)
5. Ajarkan teknik
dan komplikasi.
medikasi & yoga
· Memperlihatkan
5. Untk m
penurunan tanda-tanda
6. Anjurkan pasien untuk
stress
hipoksia pada
istirahat teratur dan sesuai
peningkatan aktivitas
dengan yang dibutuhkan 6. Untuk
(nadi, tekanan darah,
membalikkan e
pernafasan)
keletihan

· Melaporkan
penurunan gejala-gejala
intoleran aktivitas
Mandiri :
1. Untuk mer
intervensi yang te
1. Kaji kulit setiap hari.
Catat warna, turgor,
2. Mempe
sirkulasi, dan sensasi.
Setelah diberikan asuhan kebersihan kare
Gambarkan lesi dan amati
keperawatan selama 3×24 yang kering dapa
perubahan
jam, gangguan integritas barier infeksi. Pe

kulit membaik dengan 2. kulit kering seb


Pertahankan /
menggaruk m
Integritasi jaringan: kulit dan Ruam pada beberapa instruksikan higine kulit.
bagian tubuh, muka Misal: resiko trauma
membrane mukosa membasuh,
(kupu-kupu), rambut kemudian mengeringkannya Masase men
DS : rontok, daerah ulkus dengan hati – hatidan sirkulasi ku

diujung jari, keluhan dari melakukan masase dengan meningkatkn ken


· Klien merasa tidak
urtikaria dan fotosensitif. lotion atau krim
nyaman dengan kulit memerah 3. Meningkat
pada daerah pipi dan leher. Kriteria hasil : darah kejarin
2. 3. Secara teratur ubah
meningkatkan
posisi, ganti seprai sesuai
DO : 1. Kriteria hasil : kesembuhan
kebutuhan
· Ruam pada pipi dengan · Menunjukkan 4. Friksi
4. Pertahankan sprei
terbatas tegas. tingkah laku untuk disebabkan oleh
bersih, kering, dan tidak
mencegah kerusakan berkerut dan ba
· Lesi berskuama pada berkerut
kulit/meningkatkan menyebabkan
daerah leher
kesembuhan 5. Tutupi luka tekan yang potensial terhada
terbuka dengan pembalut
· Menunjukkan 5. Dapat m
yang steril
kemajuan pada kontaminasi
luka/penyembuhan lesi. meningkatkan
penyembuhan

1. Mengi
Kolaborasi :
bakteri patogen
1. Dapatkan kultur dari perawatan yang s
lesi kulit terbuka
2. Digunak
2. Berikan obat – obatan perawatan lesi ku
topikal atau sistemik sesuai
3. Melindu
indikasi
ulserasi dari ko
3. Lindungi lesi / ulkus & men
dengan balutan basa atau penyembuhan
salep antibiotik sesuai
petunjuk

IMPLEMENTASI

NO
TANGGAL WAKTU IMPLEMENTASI
DX
Mengkaji Intoleran Aktivitas
11-10-2014
1.
Respon : klien mengatakan mampu beraktivitas sehari-hari sesuai kebutuhan
90.00
sesuaikan dengan kondisi klien.
11-10-2014 Integritasi jaringan: kulit dan membrane mukosa
2.
10.00 Respon : klien mengatakan bahwa perubahan terhadap daerah luka sudah mem

EVALUASI

TANGGAL &
NO DX EVALUASI
WAKTU
S : Klien mengatakan, nyeri dan persendian terasa kaku, utamanya
11-10-2014 dipagi
1.
13.30 hari.
O :Peradangan pada siku.

A: Pasien dapat melakukan aktivitas dalam memenuhi kegiatan


sehari hari tanpa bantuan dari perawat atau orang lain

P: pertahankan/lanjutkan intervensi
S : Klien merasa tidak nyaman dengan kulit memerah pada daerah
pipi

dan leher.

11-10-2014 O : -Ruam pada pipi dengan terbatas tegas.


2.
13.30 -Lesi berskuama pada daerah leher

A: integritas kulit klien kembali normal (elastic, bersih dan lembab)


dan kerusakan integritas kulit bisa diminimaliskan

P: pertahankan intervensi

BAB IV

PENUTUP

1. Kesimpulan

Dari penjelasan yang kami sampaikan dalam tugas ini, maka dapat disimpulkan bahwa SLE
(Sistemik Lupus Eritematosus) merupakan penyakit multifaktorial yang melibatkan interaksi
kompleks antar faktor genetik, dan faktor lingkungan, yang semuanya dianggap ikut memainkan
peran untuk menimbulkan aktivitasi hebat sel B, sehingga menghasilkan pembuatan berbagai
autoantibody polispesifik.
Selain itu, pada banyak penderita SLE gambaran klinisnya membingungkan. Sehingga sering
terjadi keterlambatan diagnosis penyakit LES.

1. Saran
Sebaiknya apabila ada salah satu anggota keluarga atau saudara kita terkena penyakit SLE dan
sedang menjalani pengobatan, lebih baik jangan dihentikan. Karena, apabila dihentikan maka
penyakit akan muncul kembali dan kumat lagi. Prognosisnya bertambah baik akhir-akhir ini,
kira-kira 70% penderita akan hidup 10 tahun setelah timbulnya penyakit ini. Apabila didiagnosis
lebih awal dan pengenalan terhadap bentuk penyakit ini ketika masih ringan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Buku Diagnosa Keperawatan Nanda, NIC, NOC.


2. Doengoes, Marilyn C, Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk perencanaan dan
pendokumentasian perawatan pasien, Edisi 3 Jakarta: EGC,
3. Suzanne C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8.
Volume 3.Jakarta:EGC.
4. Ruth F. Craven, EdD, RN, Fundamentals Of Nursing, Edisi II, Lippincot, Philadelphia,
5. Wim de Jong, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, Cetakan I, EGC, Jakarta,

Iklan

Bagikan ini:

 Twitter
 Facebook
 Google

Terkait

SISTEM IMUNOLOGIdalam "Tak Berkategori"

ASKEP HERNIAdalam "Tak Berkategori"

MOTIVASI UNTUK MENCAPAI KEBERHASILANdalam "Tak Berkategori"

Navigasi pos
< SISTEM IMUNOLOGI
ASKEP HERNIA >

Tinggalkan Balasan

Follow me on Twitter @jhuemzt

Twit Saya
Blog di WordPress.com.

 Ikuti