Anda di halaman 1dari 10

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1 Tabel Distribusi


Hasil percobaan proses penggerusan (grinding) pasir besi menggunakan ball mill
adalah sebagai berikut:
a. Waktu gerus 5 menit.
Tabel 1. Data grinding 5 menit.
No Range ukuran Berat Berat Ukuran Berat Berat Lolos
ayakan( Tertahan Tertahan Ayakan Tertahan Komulatif
mikron) (gram) (%) (Mikron) Komulatif
1 212 206.3 21.34726821 212 21.34726821 78.65273179
2 180 233.4 24.15149007 180 45.49875828 54.50124172
3 150 269.9 27.92839404 150 73.42715232 26.57284768
4 125 162.1 16.77359272 125 90.20074503 9.799254967
5 106 94.7 9.799254967 106 100 0
TOTAL 966.4 100

b. Waktu gerus 10 menit.


Tabel 2. Data grinding 10 menit.

No range ukuran berat berat tertahan ukuran berat berat lolos


ayakan (mikron) tertahan (%) ayakan tertahan komulatif
(gram) (Mikron) komulatif
1 212 284.3 30.93916639 212 30.93916639 69.06083361
2 180 141.4 15.38796387 180 46.32713026 53.67286974
3 150 271.2 29.51354881 150 75.84067907 24.15932093
4 125 156.6 17.04211557 125 92.88279465 7.117205354
5 106 65.4 7.117205354 106 100 0
TOTAL 918.9 100

17
4.1.2 Grafik (perbandingan ukuran ayakan dengan % kumulatif)

a. Untuk grinding dengan waktu 5 menit

GRAFIK GRINDING 5 MENIT


60

50
Berat lolos kumulatif

40

30

20

10

0
0 50 100 150 200 250
Ukuran ayakan

Gambar 4.1 Grafik distribusi ukuran hasil grinding untuk waktu 5 menit

b. Untuk waktu 10 menit

60
GRAFIK GRINDING 10 MENIT
50

40
Berat lolos kumulatif

30

20

10

0
0 50 100 150 200 250
Ukuran ayakan

Gambar 4.2 Grafik distribusi ukuran hasil grinding untuk waktu 10 menit

18
4.1 Pengolahan Data

Pengolahan data dari hasil % kumulatif per ayakan grinding ialah sebagai berikut:
a. 5 menit

-% Berat
Berat material
% Berat = Total material × 100%
Berat material 206,3
1. % Berat ayakan 1 = Total material
x 100% = 966,4 𝑥 100% = 21,34 %
Berat material 238,4
2. % Berat ayakan 2 = Total material
x 100% = 966,4
𝑥 100% = 24,15 %
Berat material 269,9
3. % Berat ayakan 3 = x 100% = 𝑥 100% = 27,92%
Total material 966,4
Berat material 162,1
4. % Berat ayakan 4 = Total material
x 100% = 966,4
𝑥 100% = 16,77 %
Berat material 94,7
5. % Berat ayakan 5 = Total material
x 100% = 966,4
𝑥 100% = 9,79 %

- % Berat Kumulatif
i

% kumulatif i = ∑ % berat
n=1

% kumulatif 1 = % berat ayakan 1


= 21,34 %
% kumulatif 2 = % berat ayakan tertahan 2 + %berat tertahan komulatif 1
= 24,15% + 21,34% = 45,49%
% kumulatif 3 = % berat ayakan tertahan 3 + %berat tertahan komulatif 2
= 27,92 % + 45,49% = 73,42%
% kumulatif 4 = % berat ayakan tertahan 4 + %berat tertahan komulatif 3
= 16,77 % + 73,42 % = 90,20%
% kumulatif 5 = % berat ayakan tertahan 5 + %berat tertahan komulatif 4
= 9,79 % + 90,20 % = 100 %
- % berat komulatiif lolos i = 100 % - % berat komulatif i
% berat komulatif lolos 1 = 100 % - %berat tertahan komulatif 1 = 78,65 %
% berat komulatif lolos 2 = %berat tertahan 3+ %berat tertahan 4 +%berat
tertahan 5 = 54,50%
% berat komulatif lolos 3 = %berat tertahan 4 +%berat tertahan 5 =26,57%
% berat komulatif lolos 4 = 100 % - %berat tertahan komulatif 4 = 9,79%
% berat komulatif lolos 5 = 0

19
b. 10 menit

-% Berat
Berat material
% Berat = Total material × 100%
Berat material 284,3
1. % Berat ayakan 1 = Total material
x 100% = 918,9 𝑥 100% = 30,93 %
Berat material 141,4
2. % Berat ayakan 2 = Total material
x 100% = 918,9
𝑥 100% = 15,38 %
Berat material 271,2
3. % Berat ayakan 3 = Total material
x 100% = 918,9
𝑥 100% = 29,51%
Berat material 156,6
2. % Berat ayakan = Total material
x 100% = 918,9
𝑥 100% = 17,04 %
Berat material 65,4
3. % Berat ayakan 5 = Total material
x 100% = 918,9
𝑥 100% = 7,11 %

- % Berat Kumulatif
i

% kumulatif i = ∑ % berat
n=1

% kumulatif 1 = % berat ayakan 1


= 30,93 %
% kumulatif 2 = % berat ayakan tertahan 2 + %berat tertahan komulatif 1
= 15,38 % + 30,93% = 46,32%
% kumulatif 3 = % berat ayakan tertahan 3 + %berat tertahan komulatif 2
= 29,51 % + 46,32% = 75,84%
% kumulatif 4 = % berat ayakan tertahan 4 + %berat tertahan komulatif 3
= 17,04 % + 75,84 % = 92,88%
% kumulatif 5 = % berat ayakan tertahan 5 + %berat tertahan komulatif 4
= 7,11 % + 92,88 % = 100 %
- % berat komulatiif lolos i = 100 % - % berat komulatif i
% berat komulatif lolos 1 = 100 % - %berat tertahan komulatif 1 = 69,06 %
% berat komulatif lolos 2 = %berat tertahan 3+ %berat tertahan 4 +%berat
tertahan 5 = 53,67%
% berat komulatif lolos 3 = %berat tertahan 4 +%berat tertahan 5 =21,15%
% berat komulatif lolos 4 = 100 % - %berat tertahan komulatif 4 = 7,11%
% berat komulatif lolos 5 = 0

20
4.3 Pembahasa

Pada praktikum ini dilakukan hanya satu percobaan yaitu penggerusan material
menggunakan ball mill. Dari hasil data yang diperoleh dapat dilihat bahwa sebagian
besar produk hasil penggerusan masih tertahan pada ayakan pertama. Dimana
banyaknya material yang tidak lolos pada ayakan pertama berkisar 384.3–413.4 gram
dari 1000 gram material yang digunakan pada setiap waktu yang berbeda. Pada proses
pengayakan terakhir jumlah produk yang lolos pada ayakan berukuran 106 m hanya
sekitar 3,2, 6,4, dan 11,2 gram dengan masing-masing waktu yang dibutuhkan yaitu 5,
dan 10 menit. Dari hasil ini dapat dilihat bahwa semakin lama waktu yang dibutuhkan
dalam proses penggerusan maka banyaknya material yang lolos pada proses
pengayakan semakin banyak pula karena material-material tersebut menjadi lebih halus
dari sebelumnya.
Pada grafik juga terlihat bahwa terjadi peningkatan berat disetiap adanya
penambahan waktu ketika proses penggerusan. Hal tersebut terjadi pada setiap ayakan
dengan ukuran yang berbeda-beda seperti pada grafik 1-2. Sehingga dapat disimpulkan
banyak partikel atau produk yang lolos melalui ayakan bergantung pada lamanya waktu
yang diberikan ketika proses penggerusan berlangsung. Sieving atau penyaringan
merupakan salah satu metode pemisahan partikel sesuai dengan ukuran yang
dikehendaki. Metode ini dimaksudkan untuk memisahkan fraksi-fraksi tertentu sesuai
dengan keperluan dari suatu material yang baru mengalami grinding. Ukuran yang lolos
melalui saringan biasanya disebut sebagai undersize dan partikel yang tertahan disebut
oversize. Alat ayakan yang digunakan pada praktikum kali ini ialah sieve shaker. Kegiatan
pertama yang dilakukan pada percobaan kali ini ialah mengambil sampel batuan hasil
grinding lalu dilakukan proses sieving selama 5 menit dan 10 menit. Ukuran ayakan yang
digunakan pada praktikum kali ini ialah 212, 180, 150, 125, 106, 90, dan 75 mikron. Jika
di konversi ke satuan mesh maka ukuran ayakan menjadi 65, 80, 100, 115, 150, 170,
dan 200 mesh.
Pada proses penggerusan pasir besi praktikum sieving ini didapatkan berat
dalam gram, berat komulatif tertahan dalam %, dan juga berat lolos komulatif dalam
%. Berat yang didapatkan pada ayakan selama 5 menit yaitu berturut-turut 284,3 gram,
141,4 gram, 271,2 gram, 156,6 gram, 65,4 gram, 37,8 gram, 13,9 gram, dan 9,5 gram
sedangkan berat komulatif tertahan terdalam % yang didapatkan yaitu 29,00%,
43,43%, 71,10%, 87,08%, 93,75%, 97,61%, 99,03%, 100% dan didapatkan pula berat

21
lolos komulatif yaitu berturut-turut 70,99%, 56,56%, 28,89%, 12,91%, 6,24%, 2,38%,
0,96% dan 0%. Pada ayakan selama 10 menit berat yang didapatkan pada ayakan
selama 5 menit yaitu berturut-turut 278,3 gram, 152,2 gram, 267,4 gram, 164,4 gram,
58,4 gram, 36,7 gram, 13,3 gram, 8,3 gram sedangkan berat komulatif tertahan
terdalam % yang didapatkan yaitu 28,42%, 43,96%, 71,27%, 88,08%, 94,04%,
97,79%, 99,15% dan didapatkan berat lolos kumalatif yaitu berturut-turut 71,57%,
56,03%, 28,72%, 11,91%, 5,95%, 2,20%, 0,84% dan 0%.
Hasil sieving pada saringan terakhir untuk setiap pengayakan berturut-turut yaitu 94,7
gram dan 65,4 gram. Nilai ini akan semakin tinggi tergantung lamanya penggerusan,
namun dari hasil praktikum tersebut menunjukan perbedaan yang cukup signifikan untuk
setiap pengayakan. Pada ayakan selama 5 menit dan 10 menit menunjukkan perbedaan
yang cukup signifikan, hal ini terjadi karena gaya yang diberikan terhadap ayakan tidak
stabil sehingga material di dalam ayakan tidak tersebar secara merata yang
mengakibatkan banyak perbedaan yang terlihat. Material yang seharusnya lolos pada
ayakan berukuran paling besar masih tertahan di ayakan tersebut karena gaya yang
bekerja pada ayakan tidak stabil yang mengakibatkan ukuran material tidak tersebar
secara merata di ayakan. Hal yang sama juga terjadi ayakan-ayakan yang berada
dibawahnya, sehingga hasilnya kurang baik. Perbandingan jumlah bola baja juga sangat
mempengaruhi hasil penggerusan, semakin banyak bola baja yang digunakan pada saat
penggerusan akan menghasilkan produk yang semakin halus.

22
BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan dari praktikum Pengolahan Bahan Galian, yaitu sebagai berikut:


1. Pengecilan ukuran pada penggerusan, grinding tergantung pada seberapa besar
peluang dari partikel bijih untuk dapat digerus. Penggerusan terjadi karena
adanya beberapa gaya yang bekerja pada partikel bijih tersebut. Gaya-gaya yang
bekerja pada operasi penggerusan adalah impact, compression, attrition, dan
shear. Gaya-gaya ini akan mengubah bentuk partikel bijih sampai melampaui
batas kekuatan yang dimilikinya dan kemudian menyebabkan partikel bijih
menjadi remuk.
2. Prinsip kerja dari alat ball mill ialah dengan memanfaatkan gerakan bola ke
bawah pada bagian atas shell yang bertujuan untuk mengurangi ukuran material
tersebut. Secara umum, cara kerja dari alat ini ialah dengan menggelindingkan
bola penghancur atau bola baja di dalam mesin dimana pada mesin tersebut
terdapat wadah dalam bentuk tabung dengan dua bagian tempat menyimpan
material dalam bentuk horizontal. Mesin ini bekerja dengan dua roda yang ada
di kedua sisinya. Bahan atau material akan dihancurkan secara spiral dan akan
disimpan pada wadah penyimpanan pertama, didalam wadah itu, terdapat ripple
scaleboard serta steel ball yang berbeda berdasarkan keinginan mekanik mesin
ini. Disaat ball mill berputar maka pada bagian badan barel akan terputar dan
mesin mulai bekerja untuk menghancurkannya sehingga material yang
dimasukkan kedalam mesin ini akan ditumbuk berkali-kali oleh putaran mesin
yang keras oleh bola-bola pada mesin tersebut dan disanalah material
dihancurkan hingga menjadi lebih halus.
3. Hubungan antara waktu penggerusan pada ball mill terhadap produk
penggerusan yang dihasilkan adalah semakin lama waktu penggerusan maka
produk yang dihasilkan akan semakin halus.

23
5.2 Saran

Pada kegiatan praktikum ini, praktikan ingin memberikan beberapa saran agar
kegiatan praktikum berikutnya menjadi semakin baik dan teratur.
1. Saran untuk Dosen
Saran untuk dosen mata kuliah Pengolahan Bahan Galian yaitu agar kiranya tetap
menjaga kinerja.
2. Saran untuk Asisten
Saran untuk asisten kegiatan praktikum Mata Kuliah Pengolahan Bahan Galian
ialah asisten terus mendampingi praktikan selama proses praktikum berlangsung.

24
DAFTAR PUSTAKA

David. J. Spottiswood, Errot.G.Kelly. 1982. Introduction to Mineral Processing. John


Willey and Sons, inc: Canada.

Gilchrist, J.D. 1989. Extraction Metallurgy. Robert Maxwell House, inc: Newyork.

Kuzvart, M. 1984. Industrial Minerals and Rocks. Development in Economic Geology 18.
Elsevier: Amsterdam.

Priyor, E.J. 1965. Mineral Processing. Elsevier: Amsterdam.

Sudarsono, Arief. 1989. Pengolahan Bahan Galian Umum. Jurusan Teknik Pertambangan
Fakultas Teknologi Mineral Institut Teknologi Bandung: Bandung.

Wills, B., A. 1988. Mineral Processing Technology. Pergamon Press, Oxford.

25
26