Anda di halaman 1dari 6

Kelompok 12 :

 HARZONI ( 16311155 )

 ALDI RAMADHANI ( 16311307 )

BAB 9

MANAJEMEN KAS

A. Pengertian Kas

Kas merupakan salah satu bagian dari aktiva yang memiliki sifat paling lancer ( paling
likuid ) dan paling mudah berpindah tangan dalam suatu transaksi. Transaksi tersebut misalnya
untuk pembayaran gaji atau upah pekerja, membeli aktiva tetap, membayar hutang, membayar
dividen, dan transaksi lain yang diperlukan oleh perusahaan.

Kas yang dibutuhkan perusahaan baik digunakan untuk operasi transaksi sehari – hari (
dalam bentuk modal kerja ) maupun pembelian aktiva tetap memiliki sifat kontinyu dan tidak
kontinyu. Kebutuhan sifat yang sifatnya kontinyu atau terus –menerus seperti pembelian bahan –
bahan baku dan bahan pembantu, membayar upah dan gaji, membeli supplies kantor habis
pakai, dan sebagainya. Sebaliknya untuk sifat tidak kontinyu atau tidak rutin adalah sebagai
kebutuhan kas untuk pembelian aktiva tetap, pembayran ansuransi hutang, pembayaran dividen,
pembayaran pajak, dan sebagainya.

Adapun aliran kas masuk ( cash inflow ) atau termasuk pembelanjaan pasif merupakan
sumber – sumber dari man akas diperoleh. Seperti aliran kas keluar aliran kas masuk juga ada
sifatnya terus menerus ( rutin dan tidak terus menerus ( tidak rutin ). Aliran kas yang kontinyu
sebagian besa berasal dari penjualan produk perusahaan yang dijual secara tunai. Disamping itu
juga penerimaan piutang yang telah terjadwal sesuai dengan penjualan kredit yang telah
dilakukan.
Pada dasarnya, perusahaan aka membutuhkan atau menyimpan uang kas dengan tujuan
sebagai berikut :

1. Kebutuhan kas untuk transaksi.

2. Kebutuhan kas untuk berjaga – jaga.

3. Kebutuhan kas untuk berspekulasi.

B. Persediaan Kas Minimal

Telah dijelakan bahwa kas merupakan salah satu aktiva yang memilki likuiditas paling
tinggi. Likuiditas merupakan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban – kewajiban
yang harus dipenuhi atau kewajiban jangka pendek. Kewajiban perusahaan tersebut baik
kewajiban kepada pihak kreditur dalam jangka pendek maupun kewajiban terhadap biaya operasi
perusahaan sehari – hari demi kelangsungan produksi.

Likuiditas perusahaan secara umum dapat dilihat dari jumlah aktiva lancar yang tersedia.
Aktiva lancar sebagai modal kerja akan dibandingkan dengan jumlah hutang lancar sebagai
kewajiban finansial yang harus segera dipenuhi oleh perusahaan. Likuiditas juga bisa dilihat dari
kas yang tersedia dibandingkan dengan hutang lancar yang ada. Perbandingan kas lancar dengan
hutang lancar disebut rasio kas ( cash ratio ). Ratio kas yang tinggi menunjukan bahwa
kemampuan pembayran hutangnya juga tinggi.

Ketersedian kas dalam perusahaan merupakan hal yang mutlak. Setiap saat, perusahaan
harus memiliki persediaan kas yang minimal harus ada atau sering disebut persediaan basi (
safety cash ). Persediaan kas minimal ini bertujuan untuk menjaga agar kelangsungan operasi
perusahaan tetap terjaga dan dapat memenuhi kewajiban finansial apabila perusahaan sewaktu
waktu harus membayar. Kewajiban finansial ini bisa berupa hutang lancar maupun biaya – biaya
baik biaya tetap maupun biaya variable yang harus segera dibayar untuk kelangsungan operasi
perusahaan.
C. Model Manajemen Kas

Model manajemen kas yang terkenal adalah model yang dikemukakan oleh Wiliam
Baumol ( Weston dan Brigham, 1998 ). Pertama tama Baumol mencatat bahwa saldo kas yang
ada dalam perusahaan diperlukan sama dengan persedian barang.

Maximum Cash = C

Average Cash = C/2

Ending Cash =0

Weeks

 Baumol memberikan formula untuk menentukan jumlah kas yang optimal dengan konsef
EOQ sebagai berkut :

2 ( 𝐹 )( 𝑇 )
C=√ 𝑘

Keterangan : C = jumlah kas yang optimal

F = jumlah tetap untuk memperoleh pinjaman atau sekuritas.

T = jumlah kas untuk transaksi selama periode tertentu.

k = biaya kesempatan dari jas yang dimiliki. Biaya kesempatan merupakan

penghasilan yang seharusnya dapat diperleh dari kas yang menganggur.


Berikut ini contoh sehingga memberikan gambaran yang lebih jelas :

Suatu perusahaan mengeluarkan biaya tetap berupa bunga per tahun sebesar Rp. 150.000. jumlah
kebutuhan kas untuk kegiatan perusahaan per minggu sebesar Rp. 1.000.000. sehingga setahun
52 X Rp. 1.000.000 = Rp. 52.000.000,-. Besarnya investasi yang diharapkan sebesar 15% per
tahun. Sehingga jumlah kas yang diperlukan perusahaan adalah :

2 ( 𝐹 )( 𝑇 )
C=√ 𝑘

2 ( 150.000 )( 52.000.000 )
C=√
0,15

C = Rp. 10.198.039,-
Jadi kas optimal perusahaan tersebut adalah sebesar Rp. 10.198.039,-. Jumlah frekuensi transaksi
yang harus dilakukan sebanyak = Rp. 52.000.000 / Rp. 10.198.039,- = 5,09 kali atau sebanyak 5
kali. Sedangkan rata – rata saldo kas = Rp. 10.198.039 : 2 = Rp. 5.009.019,5 atau sebesar
Rp. 5.099.020,-.

 Rumus Model Miller dan Orr untuk menentukan jumlah saldo kas yang optimal adalah
sebagai berikut :

3 𝑇 𝛔²
Z =∛ 4𝑖

Keterangan : T = biaya tetap untuk melakukan transaksi


2 = varian dari aliran kas masuk bersih seagai penyebaran arus kas
i = tingkat bunga harian untuk investasi pada surat berharga (sekuritas)

nilai maksimal sebagai batas atas ( diberi notasi h ) adalah sebesar 3z. sedangkan rata – rata
saldo kas kurang lebih sebesar ( z + h ) / 3. adapun jumlah saldo kas sebagai batas minimal
besarnya adalah nol. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar berikut ini :
berikut ini contoh soal dari Model Miller dan Orr :
suatu perusahaan mengeluarkan biaya transaksi sebesar Rp. 5.000 setiap kali transaksi. Deviasi
standar aliran kas masuk sebesar Rp. 100.000. tingkat bunga per tahun sebesar 12%. Batas
minimal kas yang tersedia sebagai batas bawah sebesar nol rupiah. Satu tahun dihitung 360 hari.
Maka berapa jumlah persediaan yang diinginkan persuahaan.

3 𝑇 𝛔²
Z =∛ 4𝑖

3 ( 5.000 )( 100.000 )
Z=∛ 0,12
4 ( 360 )

Z = Rp. 482.745,-
Jadi jumlah kas yang diinginkan perusahaan sebesar Rp. 482.745,-. Nilai batas atas adalah 3z
yaitu = 3 (Rp. 482.745,- ) = Rp. 1.448.235,-.batas atas jumlah kas tersebut menunjakan batas
maksimum kas yang optimal di perusahaan. Ketika kas mencapai batas atas tersebut (Rp.
1.448.235,- ), maka perusahaan harus merubah sebagian kas tersebut sebesar Rp. 965.490 ( dari
Rp. 1.448.235 – Rp. 482. 745 ) menjadi surat berharga agar saldo kas kembali sebesar Rp.
482.475 sesuai dengan yang diinginkan perusahaan. Sedangkan kas mencapai batas minimal,
dalam hal ini nol rupiah, maka perusahaan harus menjual surat berharganya sebesar Rp. 482.475
agar saldo kas kembali ke jumlah Rp. 482.475 sesuai dengan yang diigninkan perusahaan.