Anda di halaman 1dari 3

FORM A – KTI FK UNIMAL 2015

NAMA LENGKAP : Martin Agusta


TEMPAT, TANGGAL LAHIR : B.Lampung, 21 Agustus 1993

NPM : 12310281

UNIVERSITAS : MALAHAYATI

FAKULTAS : KEDOKTERAN

JURUSAN : KEDOKTERAN UMUM

SEMESTER : VII

IP SEMESTER LALU : 3,52

JUDUL YANG DIAJUKAN

Judul 1 :HUBUNGAN ANTARA SKOR IPSS DAN SKOR IIEF


PADA PASIEN BPH DENGAN GEJALA LUTS YANG
BEROBAT DI POLI BEDAH RSUD DR.H. ABDOEL
MOELOK PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2015
Judul 2 :FAKTOR PENYEBAB PRIA MENGALAMI
PENYIMPANGAN SEKSUAL (HOMOSEKSUAL) DI
KOTA JAKARTA TAHUN 2015

Bandar Lampung, 26 November 2015

Pemohon,

(Martin Agusta)
FORM A – KTI FK UNIMAL 2015

Judul 1: HUBUNGAN ANTARA SKOR IPSS DAN SKOR IIEF PADA PASIEN BPH
DENGAN GEJALA LUTS YANG BEROBAT DI POLI BEDAH RSUD DR.H.
ABDOEL MOELOK PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2015
ABSTRAK
Latar Belakang :
Lower urinary tract symptoms (LUTS) yang disebabkan oleh benign prostatic hyperplasia (BPH)
merupakan suatu kondisi yang sering terjadi pada pria usia lanjut. Selain gejala LUTS, pasien BPH sering
juga disertai dengan disfungsi ereksi (DE). Menurut data yang diperoleh dari 30 pasien BPH dengan gejala
LUTS dengan menggunakan International prostate symptoms score (IPSS) didapatkan 53,3% mengalami
gejala LUTS dengan derajat berat dan pasien BPH dengan gejala LUTS yang mengalami DE dengan
menggunakan skor international index of erectile function (IIEF) ditemukan fungsi ereksi (FE) sebanyak
26,7% dengan derajat ringan dan berat, fungsi orgasme (FO) sebanyak 40% dengan derajat berat, hubungan
seksual (HS) sebanyak 46,7% dengan derajat Ringan-sedang, kepuasan seksual (KS) sebanyak 33,3% dengan
derajat berat dan kepuasan menyeluruh (KM) sebanyak 43,3% dengan derajat ringan. Dengan melakukan
penelitian ini, peneliti ingin mengetahui hubungan antara skor IPSS dengan skor IIEF pada pasien BPH
dengan gejala LUTS di poli Bedah RSUD DR. H. ABDOEL MOELOK PROVINSI LAMPUNG.
Berdasarkan hasil uji kolerasi menggunakan spearman untuk mengetahui hubungan antara skor IPSS dengan
skor IIEF didapatkan FE (R:0,372), FO (R: 389), HS (R:0,129), KS (R: 0,351), KM (R: 0,84). Dari hasil
tersebut dapat dilihat adanya hubungan antara skor IPSS dan skor IIEF.

Pasien BPH (Benign Prostatic Hyperplasia) biasanya disertai dengan gejala LUTS (Lower Urinary
Tract Symptoms). LUTS adalah kumpulan gejala pada saluran kemih bagian bawah yangterdiri atas gejala
voiding, storagedan post miksi.Terdapat beberapa cara untuk menilai berat ringannya gejala LUTS salah
satunya dengan menggunakan skor IPSS (International Prostate Symptoms Score) yang direkomendasikan
oleh WHO (World Health Organization) dan diambil dari AUA (American Urological Association).

Pasien BPH (Benign Prostatic Hyperplasia) biasanya disertai dengan gejala LUTS (Lower Urinary
Tract Symptoms).LUTS adalah kumpulan gejala pada saluran kemih bagian bawah yangterdiri atas gejala
voiding, storagedan post miksi.Terdapat beberapa cara untuk menilai berat ringannya gejala LUTS salah
satunya dengan menggunakan skor IPSS (International Prostate Symptoms Score) yang direkomendasikan
oleh WHO (World Health Organization) dan diambil dari AUA (American Urological Association).

Tujuan Penelitian :
Mengetahui hubungan antara skor ipss dan skor iief pada pasien bph dengan gejala luts.

Metode Penelitian :
Penelitian ini merupakan penelitian cross-sectional dengan memberikan kuesioner pada pasien BPH
dengan gejala LUTS yang datang berobat di poli Bedah RSUD DR. H. ABDOEL MOELOK PROVINSI LAMPUNG.

Kata Kunci : IPSS, IIEF, LUTS, BPH


FORM A – KTI FK UNIMAL 2015

Judul 2: FAKTOR PENYEBAB PRIA MENGALAMI PENYIMPANGAN SEKSUAL


(HOMOSEKSUAL) DI KOTA JAKARTA TAHUN 2015
ABSTRAK

Latar Belakang :
Penyimpangan perilaku seks itu sendiri dapat dikelompokan menjadi 5 kelompok, kelompok itu antara
lain: homoseksual, Sadomasokisme, Ekshibisionisme, Voyeurisme, Fetishisme . dari 5 kelompok penyimpangan
seksual masalah terbanyak sampai tahun 2014 adalah penyimpangan seksual berupa homoseksual.

Menurut Mutadin (2002), pengertian seksual secara umum adalah sesuatu yang berkaitan dengan alat
kelamin atau hal-hal yang berhubungan dengan perkara-perkara hubungan intim antara laki-laki dengan
perempuan. Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan
lawan jenis maupun sesama jenis. Bentuk-bentuk tingkah laku ini dapat beraneka ragam, mulai dari perasaan
tertarik hingga tingkah laku berkencan, bercumbu dan bersenggama. Untuk hal ini remaja termasuk hal yang
biasa dilakukan, cenderung menjadi perilaku seks bebas.

Perilaku menyimpang adalah menyimpang terhadap aturan orang tua dan terhadap tata krama, atau
norma yang dilanggar. Perilaku seks menyimpang merupakan aktivitas seksual yang dilakukan tanpa adanya
hubungan pernikahan (Sarwono, 2008). Penyimpangan seksual adalah aktivitas seksual yang dilakukan
seseorang untuk mendapatkan kenikmatan seksual atau kepuasaan seksual dengan tidak sewajarnya.
Biasanya, cara yang digunakan oleh orang tersebut adalah menggunakan obyek seks yang tidak wajar atau
tidak normal. Penyebab terjadinya kelainan ini bersifat psikologis atau kejiwaan, seperti pengalaman
sewaktu kecil, dari lingkungan pergaulan, dan faktor genetik.

Homoseksual merupakan kelainan seksual berupa disorientasi pasangan seksualnya. Disebut gay bila
penderitanya laki-laki dan lesbi untuk penderita perempuan. Hal yang memprihatinkan kaitannya dengan
homoseksual dengan peningkatan risiko AIDS. Pernyataan ini dipertegas dalam jurnal kedokteran Amerika
(JAMA tahun 2000), kaum homoseksual yang "mencari" pasangannya melalui internet, terpapar risiko
penyakit menular seksual (termasuk AIDS) lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak.

Penyebab atau faktor homoseksual yang terjadi ada beberapa hal (Feldmen). Beberapa pendekatan
biologi menyatakan bahwa faktor genetik atau hormone mempengaruhi perkembangan homoseksualitas.
Psikoanalis lain menyatakan bahwa kondisi atau pengaruh ibu yang dominan dan terlalu melindungi
sedangkan ayah cenderung pasif (Breber dalam Feldmen, 2000). Penyebab lain dari homoseksualitas
seseorang yaitu karena faktor belajar (Master dan Johnston dalam Feldmen). Orientasi seksual seseorang
dipelajari sebagai akibat adanya reward dan punishment yang diterima.

Tujuan Penelitian :
1. Mengetahu faktor faktor apa saja yang menjadi penyebab penyimpangan seksual.
2. Mengetahui Dampak penyimpangan seksual sebagai bahan edukasi dini .

Metode Penelitian :
Penelitian dengan menggunakan metode potong silang atau “Cross sectional” Dalam penelitian ini, variable
yang digunakan adalah variable tunggal. Variable tunggal penelitian ini adalah penyimpangan perilaku seks
pada pria dewasa muda.

Kata Kunci : faktor penyebab ,pria, penyimpangan seksual, Medan.