Anda di halaman 1dari 10

HALAMAN 1 Mata Kuliah : KMB Nama : Elia Arya, Nurul Tingkat/Semester : Profesi PROGRAM PROFESI NERS

Apriliani, Yuni Mairina Ners / I


Disetujui
LAPORAN JUDUL
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN
Clinical Instructure Clinical Teacher

PENDAHULUAN DENGAN EFUSI PLEURA


………………………………………….. ………………………………..

PENGERTIAN EFUSI PLEURA


Efusi pleura adalah pengumpulan cairan dirongga pleura, biasanya merupakan dampak sekunder dari penyakit lain (misalnya Pneumonia,Infeksi Pulmonal, Sindrom
Nefrotik, penyakit jaringan ikat, tumor neoplastik, gagal jantung konggestif). Efusi dapat berupa cairan yang relatif jernih (transudat atau eksudat) atau dapat
berupa darah atau nanah. Cairan pleura terakumulasi karena ketidak seimbangan tekanan hidrostatik atau onkotik (transudat) atau akibat inflamasi oleh produk
bakteri atau tumor (eksudat) (Smeltzer, C.Susan. 2013). Efusi pleura adalah akumulasi jumlah cairan didalam rongga pleura dapat terjadi jika terdapat peningkatan
tekanan hidrostatik kapiler darah seperti pada gagal jantung atau jika terjadi penurunan tekanan osmotik cairan darah seperti pada hipoalbuminemia. Efusi juga
dapat terjadi jika tekanan didalam rongga pleura bertambaha negatif (turun) seperti pada atelektasis; semua kelainan ini menimbulkan efusi pleura transudatif
(Djojodibroto, R. Darmanto.2014). Efusi pleura adalah kelebihan cairan di rongga pleura, yang dihasilkan dari ketidakseimbangan antara produksi, penyerapan,
atau keduanya (Santes, Oscar & Maza, Jezuz.2018). Menurut Nasution , Morris & Widirahardjo (2018) efusi pleura adalah penimbunan cairan dalam rongga pleura,
akibat jenis cairan yang transudat, eksudat, atau darah yang berlebihan pada rongga pleura. Keadaan yang dapat disebabkan efusi pleura antara lain penyakit infeksi,
sistemik, keganasan, obatobatan, trauma, dan setelah tindakan operasi.Dengan berbagai keluhan utama penderita seperti sesak napas, batuk tidak produktif, dan
lainnya.1 Pada penderita efusi pleura keluhan semakin meningkat saat aktivitas, hal ini tergantung dari tingkatan lesinya

Arah aliran cairan pleura yaitu suatu kondisi dimana cairan pleura masuk ke dalam rongga pleura dari dinding dada (pleura parietalis) dan mengalir meninggalkan
rongga pleura menembus pleura viseralis untuk masuk ke dalam aliran limfe. Tekanan hidrostatik di kapiler sistemik (dinding dada) besarnya 30 cm 𝐻2 𝑂. Tekanan
negatif didalam rongga pleura adalah -5 cm 𝐻2 𝑂. Berarti perbedaan tekanan antara kapiler sistemik dan rongga pleura = 35 cm 𝐻2 𝑂, (30 cm dikurangi -5 cm 𝐻2 𝑂 =
35 cm𝐻2 𝑂). Tekanan osmotik koloid di kapiler sistemik (dinding dada) besarnya 34 cm𝐻2 𝑂. Tekanan osmotik koloid di rogga pleura adalah 8 cm 𝐻2 𝑂. Perbedaan
tekanan osmotik koloid antara kapiler sistemik dengan tekanan osmotik koloid di rongga pleura = 26 cm 𝐻2 𝑂. Cairan cenderung mengalir dari daerah bertekanan
osmotik (Djojodibroto, R. Darmanto.2014).
ETIOLOGI
Berdasarkan jenis cairan yang terbentuk, cairan pleura dibagi menjadi transudat, eksudat dan hemoragi (Muttaqin, 2008):
1. Transudat dapat disebabkan oleh kegagalan jantung kongestif (gagal jantung kiri) sindoroma nefrotik, asites (oleh karena sirosis hepatis), sindroma vena
kava sperior, tumor dan sindroma Meigs.
2. Eksudat disebabkan oleh infeksi, TB, pneumonia, tumor, infark paru, radiasi, dan penyakit kolagen.
3. Efusi hemoragi dapat disebabkan oleh adanya tumor, trauma, infark paru, tuberkulosis dan kanker paru.

Berdasarkan lokasi cairan yang terbentuk, efusi dibagi menjadi unilateral dan bilateral. Efusi unilateral tidak mempunya kaitan yang spesifik dengan penyakit
penyebabnya akan tetapi efusi bilateral ditemukan pada penyakit kegagalan jantung kongestif, sindrom nefrotik, asites, infark paru, lupus aritematosus sistemis,
tumor dan TB.

MANIFESTASI KLINIS
Beberapa gejala disebabkan oleh penyakit yang lebih dulu di terima. Pneumonia menyebabkan demam, menggigil, dan nyeri dada pleuritik. Efusi ganas dapat
menyebabkan dispnea dan batuk. Ukuran efusi, kecepatan pembetukan efusi, dan penyakit baru penyeba akan menentukan tingkat keparahan gejala.
a. Efusi besar : sesak nafas sampai gawat nafas akut
b. Efusi kecil sampai sedang : Dispnea mungkin tidak terjadi
c. Terdengar bunyi redup atau pekak saat dilakukan perkusi di atas area cairan, suara nafas minimal atau tidak ada, fremitus berkurang, dan trakea tergeser
menjauhi sisi yang terganggu (Smeltzer, C.Susan. 2013)

PENGKAJIAN DAN METODE DIAGNOSTIK


a. pemeriksaan fisik
b. pemeriksaan sinar X dada (dekubitus lateral).
c. Pemindaian CT dada
d. Torasentesis
e. Analisis Cairan Pleura (Kultur, kimiawi,sitologi)
f. biopsi pleura (Smeltzer, C.Susan. 2013)
PENATALAKSANAAN MEDIS
Sasaran terapi adalah untuk menentukan penyebab utamanya agar cairan tidak kembali terakumulasi dan meredakan ketidaknyamanan, dispnea, dan ganguan
pernapasan. Terapi khusus diarahkan pada penyebab utama
a. Torasentesis, dilakukan untuk mengeluarkan cairan, mengumpulkan spesimen untuk analisis dan mengatasi dispnea
b. Slang dada dan drainase sekat air diperlukan untuk tindakan drainase dan reekspansi paru
c. Pleurodesis kimia: pembentukan adhesi meningkat ketika obat-obatan dimasukkan ke dalam rongga pleura untuk menghilangkan rongga dan mencegah
akumulasi cairan lebih lanjut
d. Modalitas terapi yang lain mencakup pleurektomi bedah (insersi kateter kecil yang terhubung ke slang drainase) atau implantasi pintas pleuroperitoneal
(Smeltzer, C.Susan. 2013)

PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN
a. Implementasikan regimen nedis :persiapan dan posisikan pasien untuk menjalani torasentesis dan berikan dukungan selama prosedur
b. Pantau slang drainase dada dan sistem sekat air, catat jumlah drainase pada interval yang telah diprogramkan
c. Berikan asuhan keperawatan yang berhubungan dengan penyebab utama efusi pleura
d. Bantu pasien mengatasi nyeri. Bantu klien untuk mengambil posisi yang paling tidak menimbulkan nyeri. Brikan obat pereda nyeri sesuai program dan sesuai
kebutuhan agar pasien dapat terus membalik badan dan bergerak (ambulasi) secara sering
e. Jika pasien akan ditangani sebagai pasien rawat jalan dengan kateter pleura untuk drainase, berikan penjelasan kepada pasien dan keluarga mengenai
penatalaksanaan dan perawatan kateter dan sistem drainase (Smeltzer, C.Susan. 2013).

PATOFISIOLOGI
Patofisiologi terjadinya efusi pleura bergantung pada keseimbangan antara cairan dan protein dalam rongga pleura. Dalam keadaan normal cairan pleura
dibentuk secara lambat sebagai filtrasi melalui pembuluh darah kapiler. Filtrasi ini terjadi karena perbedaan tekanan osmotic plasma dan jaringan interstisial
submesotelial, kemudian melalui sel mesotelial masuk kedalam rongga pleura. Selain itu cairan pleura dapat melalui pembuluh limfe sekitar pleura. Pada umumnya
efusi karena penyakit pleura hamper mirip plasma (eskudat), sedangkan yang timbul pada pleura normal merupakan ultrafiltrat plasma (transudat). Efusi yang
berhubungan dengan pleuritis disebabkan oleh peningkatan permeabilitas pleura parietalis sekunder (akibat samping )terhadap peradangan atau adanya neoplasma.
Proses penumpukan cairan dalam rongga pleura dapat disebabkan oleh peradangan. Bila proses radang oleh kuman piogenik akan terbentuk pus/nanah,
sehingga terjadi empiema/piotoraks. Bila proses ini mengenai pembuluh darah sekitar pleura dapat menyebabkan hemotoraks. Proses terjadinya pneumotoraks
karena pecahnya alveoli dekat pleura perietalis sehingga udara akan masuk kedalam rongga pleura. Proses ini sering disebabkan oleh trauma dada atau alveoli pada
daerah tersebut yang kurang elastis lagi seperti pada pasien emfisema paru.
Efusi cairan dapat berbentuk transudat, terjadinya karena penyakit lain bukan primer paru seperti gagal jantung kongestif, sirosis hati, sindrom nefrotik,
dialysis peritoneum, hipoalbuminemia oleh berbagai keadaan, perikarditis konstriktiva, keganasan , atelektasis paru dan pneumotoraks . Efusi eksudat terjadi bila
ada proses peradangan yang menyebabkan permeabilitas kapiler pembuluh darah pleura meningkat sehingga sel mesotelial berubah menjadi bulat atau kuboidal dan
terjadi pengeluaran cairan kedalam rongga pleura. Penyebab pleuritis eksudativa yang paling sering adalah karena mikobakterium tuberculosis dan dikenal sebagai
pleuritis eksudativa tuberkulosa. Sebab lain seperti parapneumonia, parasit(amuba, paragonimiosis, ekinokokus), jamur, pneumonia atipik(virus, mikoplasma, fever,
legionella), keganasan paru, proses imunologik seperti leuritis lupus, pleuritis rematoid, sarkoidosis, radang sebab lain seperti pancreatitis, asbestosis, pleuritis
uremia dan akibat radiasi.
Klien dengan pleura normal pun dapat terjadi efusi pleura ketika terjadi payah/gagal jantung kongestif. Saat jantung tidak dapat memompakan darahnya secara
maksimal keseluruh tubuh maka akan terjadi peningkatan tekanan hidrostatik pada kapiler yang selanjutnya timbul hipertensi kapiler sistemik dan cairan yang
berada dalam pleura, ditambah dengan adanya penurunan reabsorbsi cairan tadi oleh kelenjar limfe dipleura mengakibatkan pengumpulan cairan yang
abnormal/berlebihan. Hipoalbuminemia (misal pada klien nefrotik sindrom, malabsorbsi natau keadaan lain dengan asites dan edema anasarka) akan mengakibatkan
terjadinya peningkatan pembentukan cairan pleura dan reabsorsi yang berkurang. Hal tersebut dikarenakan adanya penurunan pada tekanan onkotik intravaskular
yang mengakibatkan cairan akan lebih mudah masuk kedalam rongga pleura. Luas efusi yang mengancam volume paru, sebagian akan bergantung pada kekakuan
relative paru dan dinding dada. Pada volume dalam batas pernafasan normal dinding dada cenderung recoil keluar sementara paru-paru cenderung untuk recoil
kedalam.
PATHWAY Gagal jantung kiri, Gagal ginjal, Gagal fungsi hati Karsinoma Mediastinum, Karsinoma paru
TB paru, Pneumonia

Peningkatan tekanan hidrostatik Peningkatan permeabilitas


Ateleksis, Inflamasi
dipembuluh darah kapiler

Tekanan osmotic koloid


Ketidakseimbangan jumlah produksi cairan dengan
menurun
absorbsi yang bisa dilakukan pleura viseralis
Tekanan negative
intrapleura Akumulasi/penimbunan cairan di kavum pleura

Peningkatan permeabilitas
kapiler Gangguan ventilasi (pengembangan paru tidak optimal), ganguan difusi, distribusi, dan transportasi oksigen

System pernapasan System saraf pusat System pencernaan System Muskilokeletal Respon Psikososial

Pa O2 menurun Penurunan suplai Sesak nafas


Penurunan suplai o2 ke otak
Metabolisme Meningkat
oksigen ke jaringan
PCO2 meningkat Tindakan invasif
Hipioksia serebral
Sesak nafas Kebutuhan energi meningkat peningkatan metabolism anaerob Koping tidak
efektif
Peningkatan produksi secret
Pola nafas tidak efektif Resiko gangguan Sesak nafas
Peningkatan
pefusi serebral produksi asam Kecemasan
Jalan nafas tidak efektif
Gangguan pemenuhan laktat
Pertukaran gas tidak nutrisi
efektif Kelemahan
fisik umum
Intoleransi
aktivitas

Sumber Referensi :
 Djojodibroto, R. Darmanto.(2014). Respirologi :respiratory medicine. Jakarta:EGC
 Nasution, Moris., & Widiraharjo. (2018). Perubahan Faal Paru pada Penderita Efusi Pleura setelah Tindakan Aspirasi Cairan Pleura. Majalah Kedokteran
Nusantara Volume 51. No 1. Maret 2018. 25 Juli 2018.
 Santes, Oscar., & Maza, Jesus. (2018). Diagnostic Approach Of The Patient With Pleural Effusion. Hosp Med Clin Manag, 14-6-2018. 28 Agustus 2018.
 Smeltzer, C.Susan. (2013). Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth Edisi 12. Jakarta:EGC
HALAMAN 6

MODEL KONSEP ASKEP MENURUT NANDA NIC NOC

PENGKAJIAN DIAGNOSA KEPERAWATAN PERENCANAAN EVALUASI


(NANDA) (NIC) (NOC)
DS: Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d Airway manajemen Status pernapasan : patensi
- Dispneu banyaknya scret mucus - Bebaskan jalan nafas dengan posisi jalan napas
DO: leher ekstensi jika memungkinkan. - Mempertahankan
- Penurunan suara nafas - Posisikan pasien untuk kepatenan jalan nafas
- Cyanosis memaksimalkan ventilasi dengan suara napas bersih
- Kelainan suara nafas (rales, wheezing) - Identifikasi pasien secara actual atau - Menunjukkan perilaku
- Kesulitan berbicara potensial untuk membebaskan jalan yang bertujuan untuk
- Batuk, tidak efekotif atau tidak ada nafas. meningkatkan bersihan
- Produksi sputum - Pasang ET jika memungkinkan jalan napas
- Gelisah - Lakukan terapi dada jika
- Perubahan frekuensi dan irama nafas memungkinkan
- Keluarkan lendir dengan suction
- Asukultasi suara nafas
- Lakukan suction melalui ETT
- Atur posisi untuk mengurangi
dyspnea
- Monitor respirasi dan status oksigen
jika memungkinkan
Airway Suction
- Tentukan kebutuhan suction melalui
oral atau tracheal Auskultasi suara
nafas sebelum dan sesudah suction
- Informasikan pada keluarga tentang
suction
- Masukan slang jalan afas melalui
hidung untuk memudahkan suction
- Bila menggunakan oksigen tinggi
(100% O2) gunakan ventilator atau
rescution manual.
- Gunakan peralatan steril, sekali pakai
untuk melakukan prosedur tracheal
suction.
- Monitor status O2 pasien dan status
hemodinamik sebelum, selama, san
sesudah suction.
- Suction oropharing setelah dilakukan
suction trachea.
- Bersihkan daerah atau area stoma
trachea setelah dilakukan suction
trachea.
- Hentikan tracheal suction dan berikan
O2 jika pasien bradicardia.
- Catat type dan jumlah sekresi dengan
segera
Sumber Pustaka :

Dosen Keperawatan Medikal-Bedah Indonesia. (2016). Rencana Asuhan Keperawatn Medikal-Bedah :Diagnosis NANDA-12015-2017 Intervensi NIC Hasil NOC.
Jakarta: EGC
HALAMAN 8

MODEL KONSEP ASKEP MENURUT NANDA NIC NOC

PENGKAJIAN DIAGNOSA KEPERAWATAN PERENCANAAN EVALUASI


(NANDA) (NIC) (NOC)
DS: Gangguan pertukaran gas Airway Manajemen Status pernapasan :pertukaran
- sakit kepala ketika bangun berhubungan dengan perubahan - Bebaskan jalan nafas gas
- Dyspnoe membran kapiler - alveolar - Dorong bernafas dalam lama dan - Mendemonstrasikan
- Gangguan penglihatan tahan batuk peningkatan ventilasi dan
DO: - Atur kelembaban udara yang sesuai oksigenasi jaringan yang
- Penurunan CO2 - Atur posisi untuk mengurangi dispneu adekuat dengan GDA berada
- Takikardi - Monitor frekuensi nafas b/d dalam kisaran normal klien
- Hiperkapnia penyesuaian oksigen dan terbebas dari gejala
- Keletihan Monitor Respirasi distres pernapasan
- Iritabilitas - Monitor kecepatan,irama, kedalaman - Berpartisipasi dalam
- Hypoxia dan upaya bernafas regimen terapi sesuai tingkat
- kebingungan - Catat pergerakan dada, lihat kemampuan individu dan
- sianosis kesimetrisan dada, menggunakan alat situasi ang dialami
- warna kulit abnormal (pucat, bantu dan retraksi otot intercosta
kehitaman) - Monitoring pernafasan hidung,
- Hipoksemia adanya ngorok
- hiperkarbia - Monitor pola nafas, bradipneu,
- AGD abnormal takipneu, hiperventilasi, resirasi
- pH arteri abnormal kusmaul dll
- frekuensi dan kedalaman nafas - Palpasi kesamaan ekspansi paru
abnormal - Perkusi dada anterior dan posterior
dari kedua paru
- Monitor kelelahan otot diafragma
- Auskultasi suara nafas, catat area
penurunan dan atau ketidakadanya
ventilasi dan bunyi nafas
- Monitor kegelisahan, cemas dan
marah
- Catat karakteristik batuk dan lamanya
- Monitor sekresi pernafasan
- Monitor dispneu dan kejadian
perkembangan dan perburukan
- Lakukan perawatan terapi nebulasi
bila perlu
- Tempatkan pasien kesamping untuk
mencegah aspirasi Manajemen asam
Basa
- Kirim pemeriksaan laborat
keseimbangan asam basa ( missal
AGD,urin dan tingkatan serum)
- Monitor AGD selama PH rendah
- Posisikan pasien untuk perfusi
ventilasi yang optimum
- Pertahankan kebersihan jalan udara
(suction dan terapi dada)
- Monitor pola respiorasi
- Monitor kerja pernafsan (kecepatan
pernafasan
Sumber Pustaka :

Dosen Keperawatan Medikal-Bedah Indonesia. (2016). Rencana Asuhan Keperawatn Medikal-Bedah :Diagnosis NANDA-12015-2017 Intervensi NIC Hasil NOC.
Jakarta: EGC
HALAMAN 10

MODEL KONSEP ASKEP MENURUT NANDA NIC NOC

PENGKAJIAN DIAGNOSA KEPERAWATAN PERENCANAAN EVALUASI


(NANDA) (NIC) (NOC)
DS: Intoleransi aktifitas berhubungan Toleransi aktivitas Toleransi aktivitas:
- Melaporkan secara verbal adanya dengan ketidak seimbangan antara - Tentukan penyebab intoleransi Melaporkan dan
kelelahan atau kelemahan. suplai oksigen dengan kebutuhan aktivitas & tentukan apakah penyebab mendemonstrasikan peningkatan
- Adanya dyspneu atau dari fisik, psikis/motivasi toleransi aktivitas tanpa adanya
ketidaknyamanan saat beraktivitas. - Kaji kesesuaian aktivitas&istirahat dispnea dan keletihan yang
DO : klien sehari-hari berlebihan dengan tanda vital
- Respon abnormal dari tekanan darah - ↑ aktivitas secara bertahap, biarkan berada dalam kisaran yang dapat
atau nadi terhadap aktifitas klien berpartisipasi dapat perubahan diterima klien
posisi, berpindah&perawatan diri
- Pastikan klien mengubah posisi
secara bertahap
- Monitor gejala intoleransi aktivitas
- Ketika membantu klien berdiri,
observasi gejala intoleransi spt mual,
pucat, pusing, gangguan
kesadaran&tanda vital
- Lakukan latihan ROM jika klien tidak
dapat menoleransi aktivitas

Sumber Pustaka :

Dosen Keperawatan Medikal-Bedah Indonesia. (2016). Rencana Asuhan Keperawatn Medikal-Bedah :Diagnosis NANDA-12015-2017 Intervensi NIC Hasil NOC.
Jakarta: EGC