Anda di halaman 1dari 4

11.3 Kecenderungan Perdagangan Luar Negeri (Globalisasi?

)
Di muka telah disajikan kebaikan – kebaikan perdagangan bebas dunia, bahwa ia
bersifat menaikkan efisiensi usaha, akan meningkatkan skala usaha, memacu pertumbuhan
ekonomi, menarik masuknya modal dan tenaga ahli dari Negara maju, mendatangkan devisa,
menghilangkan distorsi harga, dan meningkatkan pemerataan dan kesejahteraan masyarakat
dunia. Pandangan akan keunggulan dari perdagangan bebas dunia demikian kuatnyasehingga
dunia sangat emndambakan adanya perdagangan bebas atau globalisasi. Sampai – sampai pada
akhir masa pemerintahan Suharto, diadakan rapat APEC di Bogor yang dihadiri oleh banyak
kepala Negara (diantaranya, Presiden Clinton dari Amerika Serikat, Perdana Menteri
Singapura, dan tokoh lainnya) pada waktu mana Presiden Suharto berpidato “suka atau tidak
suka, siap tidak siap……..kita semuanya harus menerima globalisasi, perdagangan bebas
dunia”. Juga dicanangkan bahwa perdagangan bebas ASEAN akan terjadi pada tahun 2010,
perdagangan bebas Asia akan terjadi tahun 2012, dan sebagainya.
Akankah terjadi perdagangan bebas demikian itu, kapan terjadinya untuk seluruh
dunia? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, marilah kita perhatikan hal – hal berikut:
1. Kita semuanya mengetahui dan juga diutarakan di seksi terdahulu (mengenai
kebijaksanaan promosi ekspor dan substitusi impor) bahwa setiap Negara telah dan
masih menerapkan berbagai hambatan perdagangan internasional, baik yang berupa
tariff maupun nontariff seperti kuota dan hambatan nontariff lainnya.
2. Perkembangan yang telah terjadi adalah bahwa hambatan tariff terus menerus
mengalami penurunan, yakni ketika diadakan negosiasi bilateral antar Negara maupun
negosiasi multilateral (banyak Negara – dunia); namun jenis dan jumlah hambatan
nontariff, yang sesungguhnya jauh lebih sulit untuk dilanggar makin banyak. Contoh
mengenai hambatan nontariff ini, misalnya, syarat kesehatan, syarat asal, syarat bahwa
produksi yang diperdagangkan tersebut adalah hand made (kerajinan), produksi yang
diperdagangkan adalah ramah lingkungan, bahwa Negara darimana ekspor tersebut
berasal harus tidak melanggar hak asasi manusia, dan sebagainya. Hambatan –
hambatan yang demikian ini sangat bervariasi dan sangat sulit kalau tidak dapat
dikatakan tidak mungkin unyuk dilanggar. Berbeda dengan hambtan tariff, asal tarifnya
sudah dibayar, maka perdagangan pasti bisa terjadi.
3. Pada negosiasi multilateral seperti yang terjadi di World Trade Organization di bawah
General Agreement on Tariff and Trade (GATT) biasanya pada agenda penurunan tariff
impor mengenai hasil industry dan perdagangan bebas mengenai modal dan jasa,
biasanya negosiasi lancer; terutama Negara maju lebih mudah menyetujuinya. Namun
begitu agenda sampai pada masalah sector pertanian, di mana Negara maju biasanya
sangat melindungi dan memberi subsidi para petani mereka, maka negosiasi berhenti.
Negara maju tidak bersedia membuka pasar dalam negerinya untuk produk hasil
pertanian dari Negara berkembang. Keadaaan yang demikian ini telah terjadi beberapa
kali, sehingga kemungkinan untuk membuka pasar hasil pertanian di Negara maju
tertutup atau kecil sekali.

Dengan adanya kenyataan ini rupanya masih jauh sekali untuk dapat terjadinya
perdagangan bebas dunia. Yang lebih mudah dan barangkali sudah terjadi adalah pasar bebas
Eropa, NAFTA (North America Free Trade Agreement) dan beberapa kelompok Negara atas
perjanjian dan persetujuan mereka.
11.4 Utang Luar Negeri

11.4.1 Krisis Utang pada Dekade 1980an


Pada proses pelaksanaan pembangunan ekonomi negara-negara berkembang,
akumulasi utang luar negeri merupakan satu gejala umum yang wajar, di mana tabungan dalam
negeri rendah, defisit neraca pembayaran sangat tinggi, dan impor modal juga sangat
dibutuhkan untuk menambah sumber daya domestik. Sebelum tahun 1970an, total utang
negara-negara berkembang relatif kecil, dan pada umumnya utang – utang tersebut merupakan
utang resmi yang bersumber dari pemerintah negara-negara asing serta lembaga – lembaga
keuangan internasional, seperti IMF, Bank Dunia, dan bank – bank pembangunan regional.
Sebagian besar pinjaman merupakan kredit bersyarat lunak (suku bunga yang rendah) dan
sengaja diarahkan untuk menopang pelaksanaan berbagai proyek pembangunan yang tidak saja
bermanfaat secara ekonomi tetapi juga secara sosial, serta untuk mengimpor barang – barang
modal. Namun demikian, pada akhir dekada 1970an sampai pada awal decade 1980-an bank –
bank komersial internasional, dengan memutar surplus dana OPEC berupa “petrol dolar” serta
menyalurkan berbagai pinjaman serbaguna kepada Negara – Negara berkembang untuk
menunjang penyelesaian deficit neraca pembayaran dan pengembangan sektor ekspor.
Meskipun pinjaman itu memang bermanfaat – yaitu dapat menicptakan sumber
daya yang diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pelaksanaan proses
pembangunan – pinjaman tersebut jelas juga ada biayanya. Sekitar tahun 2000an bagi banyak
Negara berkembang biaya tersebut telah jauh melebihi keuntungan atau manfaatnya. Biaya
terbesar dari menumpuknya utang luar negeri itu adalah meningkatnya beban pembayaran
angasuran utang, yang terdiri dari amortisasi (pembayaran utang pokok) dan pembayaran
bunga yang jika tidak segera dilunasi akan menumpuk; yang berdasarkan perjanjian diambil
dari pendapatan dan tabungan riil dalam negeri. Apabila utang – utang terus membesar atau
tingkat suku bunganya meningkat, maka dengan sendirinya pembayaran angsuran utang juga
meningkat. Padahal pembayaran angsuran utang tersebut harus dilakukan dengan
menggunakan devisa. Kewajiban membayar angsuran utang hanya dapat dilakukan dari
penghasilan ekspor, pengurangan impor, atau dengan menarik pinjaman baru dari luar negeri.
Dalam keadaan normal, kewajiban Negara untuk membayar angsuran utang itu bisa dipenuhi
dengan hasil pendapatan ekspor. Apabila besarnya pembayaran yang harus dilakukan dalam
melunasi hutang, atau apabila penerimaan ekpor mendadak berkurang, maka pemerintah
Negara – Negara berkembang yang bersangkutan akan mengalami kesulitan untuk membayar
angsuran utangnya. Ini merupakan pengalaman buruk yang dirasakan oleh sebagian besar
negara berkembang yang banyak memiliki utang luar negeri pada tahun 1999 sehingga
rasionya terhadap penghasilan ekspor sangat tinggi seperti Argentina (456), Brasil (399),
Burundi (1072), Etiopia (374), Guinea-Bissau (1.222), Madagaskar (304), Nikaragua (475),
Siera Leone (1234), Sudan (1717), dan Siria (377). (angka dalam kurung adalah rasio utang
terhadap ekspor yang dinyatakan dalam %). Negara – negara ini dihadapkan pada tuntutan
pelunasan utang luar negeri yang terlanjur tinggi, yang diperparah lagi dengan kenyataan
bahwa utang mereka berjangka pendek. Faktor lain yang memberatkan mereka adalah
mengalirnya modal – modal domestic ke luar negeri yang kita kenal sebagi pelarian mdoal.

11.4.2 Utang Luar Negeri Indonesia


Dalam kasus Indonesia, perkembangan utang luar negerinya menunjukan-seakan ada
korelasi positif antara peningkatan atau laju pertumbuhan PDB riil dan peningkatan jumlah
bantuan dan utang luar negeri atau antara peningkatan pendapatan rata – rata per kapita dan
peningkatan jumlah bantuan dan utang luar negeri. Pertumbuhan ekonomi Indonesia rata - rata
per tahun sejak akhir 1970 selalu positif dan tingkat pendapatan per kapita meningkat terus,
tetapi jumlah utang luar negeri Indonesia juga bertambah terus setiap tahun. Banyak Negara
sedang berkembang lainnya, yang juga mengalami pertumbuhan ekonomi yang tinggi selama
dekade 1970an hingga 1980an juga menunjukan fenomena yang sama. Posisi Utang Luar
Negeri Indonesia dan Beberapa Negara Asia Lainnya, 1980 dan 1988 (US$ miliar)
Utang Pemerintah dan Utang
Utang Swasta yang digaransi Swasta
Jumlah Kredit
Jangka Pem Tanpa
Utang LN. IMF
Panjang IBRD + Jaminan
Total
IDA Pem
1980 1988 1980 1988 1980 1988 1980 1988 1980 1998 1980 1988
Banglades 4,2 16,4 3,6 16,8 3,6 15,8 1,0 6,2 0 0 0,4 0,4
h
Kamboja - 2,2 + 2,1 - 2,1 0 0,2 - 0 0 0,1
Cina - 154,6 - 126,7 - 99,4 0 18,3 - 27,2 0 0
India 20,6 98,2 18,3 93,6 18,0 85,2 6,0 26,6 0,3 8,4 1,0 0,3
Indonesia 20, 150,9 18,2 121,7 15,0 67,0 1,6 11,4 3,2 54,8 0 9,1
Korsel 29,5 139,1 18,2 94,1 15,9 58,0 1,8 7,5 2,3 36,1 0,7 16,9
Malaysia 6,6 44,8 5,3 36,1 4,0 18,2 0,5 1,0 1,2 18,0 0 0
Myanmar 1,5 5,7 1,4 5,1 1,4 5,1 0,2 0,7 0 0 0,1 0
Pakistan 9,9 32,2 8,5 28,7 8,5 26,1 1,2 6,9 0,02 2,6 0,7 1,4
Filipina 17,4 47,8 8,8 39,1 6,4 26,2 1,0 4,5 2,5 10,9 1,1 1,6
Thailand 8,3 86,2 5,7 59,4 3,9 28,1 0,7 2,2 1,7 31,3 0,4 3,2
Vietnam - 22,4 - 19,8 - 19,8 0,002 0,9 - 0 0 0,4
Sumber; Bank Dunia, seperti pada Tambunan, hal.226.
Pada Tabel 11.8 dapat dilihat bahwa Indonesia termasuk Negara pengutang besar di
Asia bersama-sama dengan Cina dan Korea Selatan, yang pada tahun 1988 utang luar
negerinya mencapai di atas 100 miliar dolar AS. Selama periode 1980-1988 jumlah utang luar
negeri Indonesia naik terus dengan laju pertumbuhan rata – rata sekitar 11 persen per tahun.
Di antara negara – negara Asia yang terkena krisis keuangan pada tahun 1997/98, Korea
Selatan yang paling parah, dengan laju pertumbuhan utang luar negeri rata – rata 14,6 persen
selama periode 1988-1998. Sedangkan utang luar negeri Malaysia dan Filipina mengalami
peningkatan dengan laju yang lebih rendah, yakni masing – masing 99,2% dan 5,2% per tahun.
Utang luar negeri Indonesia terdiri dari utang jangka panjang pemerintah dan utang
jangka panjang swasta yang dijamin maupun tidak dijamin oleh pemerintah, utang jangka
pendek, dan kredit dari IMF. Proporsi pinjaman dari IMF di dalam total utang luar negeri
Indonesia mengalami peningkatan yang cukup besar sejak krisis ekonomi melanda Indonesia.
Akhir tahun 1998 pinjaman Indonesia dari badan keuangan dunia tersebut mencapai 9 miliar
dolar AS. Dapat dikatakan bahwa selama krisis, selain komponen – komponen utang luar
negeri lainnya, pada prinsipnya fasilitas kredit dari IMF hanya digunakan untuk membiayai
defisit neraca pembayaran negara anggota yang masalahnya bersifat jangka pendek. Namun,
untuk pertama kalinya dalam sejarah lembaga keuangan dunia tersebut, yakni dalam kasus
Indonesia sejak krisis, IMF terlibat dalam pembiayaan satu negara yang mengalami defisit
keuangan yang sifatnya bukan lagi jangka pendek.
Pada tahun 1970, pada saat Indonesia baru memulai pembangunan ekonominya,
pinjaman IMF yang diterima berjumlah hampir 64 juta SDR (spesial drawing right = asset
berupa cadangan internasional yang diciptakan IMF tahun 1969 sebagai tambahan atau
pelengkap atas ketersediaan cadangan devisa yang sudah ada). Kurs SDR ditentukan setiap hari
oleh IMF. Kursnya ditentukan atas perkembangan sehari-hari empat mata uang kuat dunia,
yakni dolar AS, yen Jepang, Euro Eropa, dan poundsterling Inggris. Selama periode 1980an,
sempat beberapa kali bantuan IMF kepada Indonesia mengalami kenaikan, yakni tahun 1983
dan 1987. Pada saat krisis 1988, untuk pertama kalinya sejak Indonesia menjadi anggota IMF,
Indonesia mendapat pinjaman dalam jumlah yang sangat besar, yakni 4 miliar SDR lebih. Sejak
tahun fiscal 1997//98 hingga September 2000, tahapan pengucuran pinjaman IMF menunjukan
penurunan dari sekitar 5.000 juta dolar AS pada awal periode menjadi 300 juta dolar AS lebih
pada akhir periode tersebut.
Laporan Bank Indonesia tahun 2000 menunjukkan bahwa utang luar negeri Indonesia
sampai dengan Oktober 2000 tercatat sebesar US$ 140 miliar atau menurun 5,5 persen dari
posisi utang akhir tahun 1999 sebesar US$ 148,1 miliar. Penurunan tersebut bersumber dari
penurunan posisi utang swasta maupun pemerintah. Penurunan posisi utang swasta terjadi
karena adanya pelunasan utang, terutama dari swasta nonbank. Sementara itu, penurunan posisi
utang pemerintah adalah akibat dari pelunasan utang serta dampak dari melemahnya yen
terhadap dolar AS. Hal ini karena selain dalam valuta dolar AS, utang luar negeri pemerintah
dalam bentuk mata uang yen juga cukup banyak.
Tabel 11.9 Posisi Utang Luar Negeri Indonesia, 2005-2000 juta dolar AS.
2007
2005 2006
Maret Juni September Desember
Pemerintah 75.406 67.722 69.085 66.155 68.088 69.340
Swasta 48.601 50.983 51.127 52.073 53.641 53.909
a. Lembaga
6.371 6.560 6.992 6.900 6.948 7.465
Keuangan
Bank 4.042 4.544 4.963 4.935 4.837 5.351
Bukan Bank 2.329 2.017 2.029 1.965 2.111 2.114
b. Bukan
Lembaga 42.229 44.423 44.135 45.173 46.693 46.444
Keuangan
Surat – Surat
6.646 10.031 11.071 15.253 15.218 13.391
Berharga
- Pemerintah 4.666 8.087 9.105 13.233 13.147 11.269
- Bank 15 30 47 75 52 50
- Bukan
Lembaga 1.965 1.914 1.919 1.944 2.019 2.073
Keuangan
Total 130.652 128.736 131.283 133.482 136.947 136.640
Sumber: BI, LPI 2007, Tabel 7.12.

Untuk tahun 2005 sampai dengan Desember 2007, posisi utang luar negeri Indonesia
disajikan pada table Tabel 11.9. Dari table tersebut ternyata bahwa utang luar negeri Indonesia
tetap berada pada kisaran 150 miliar dolar pada tahun 1999, dan hanya turun secara sangat
marginal pada Desember 2007 pada posisi 136 miliar dolar AS.