Anda di halaman 1dari 2

ANEMIA PADA PENYAKIT GINJAL KRONIK Abdurrahim R.Lubis, Julahir H.

Siregar Divisi Ginjal dan


Hipertensi Penyakit Dalam FK USU/RSHAM

Pendahuluan

Secara umum fungsi ginjal diketahui adalah sebagai alat untuk membersihkan tubuh dari bahan-bahan
sisa metabolisme baik yang dari hasil pencernaan maupun dari hasil metabolisme. Selain fungsi
tersebut diatas ginjal memiliki fungsi yang lebih banyak lagi untuk mempertahankan homeostasis
tubuh manusia, seperti: 1) Ekskresi produk sisa metabolic dan bahan kimia asing, 2) Pengaturan
Keseimbangan air dan elektrolit, 3) Pengaturan osmolalitas cairan tubuh dan konsentrasi elektrolit, 4)
Pengaturan tekanan arteri, 5) pengaturan keseimbangan asam-basa, 6) Pengaturan Produksi Eritrosit,
7) Sekresi, metabolism, dan ekskresi hormone, 8) Glukoneogenesis.1 Pada penyakit ginjal kronik,
terjadi kerusakan pada jaringan ginjal sehingga lama kelamaan fungsi diatas mulai terganggu. Penyakit
ginjal kronik secara garis besar adalah suatu proses patofisiologis dengan etiologi yang beragam,
mengakibatkan penurunan fugsi ginjal yang progresif, dan pada umumnya berakhir dengan gagal
ginjal.2

Anemia terjadi pada 80-90% pasien penyakit ginjal kronik. Anemia pada penyakit ginjal kronik
terutama disebabkan oleh defisiensi eritropoietin, hal lain yang dapat berperan dalam terjadinya
anemia pada pasien gagal ginjal kronik adalah defisiensi Fe, kehilangan darah, masa hidup eritrosit
yang memendek, defisiensi asam folat, serta proses inflamasi akut dan kronik.2 World Health
Organization (WHO) mendefinisikan anemia dengan komsentrasi hemoglobin < 13,0 gr/dl pada laki-
laki dan wanita postmenopause dan < 12,0 gr/dl pada wanita lainnya. The European Best Practice
Guidelines untuk penatalaksanaan anemia pada pasien-pasien penyakit ginjal kronik mengatakan
bahwa batas bawah hemoglobin normal adalah 11,5 gr/dl pada wanita dan 13,5 gr/dl pada laki-laki ≤
70 tahun dan 12,0 gr/dl pada laki-laki > 70 tahun. The National Kidney Foundation’s Kidney Dialysis
Outcomes Quality Initiative (K/DOQI) merekomendasikan anemia pada pasien penyakit ginjal kronik
jika kadar hemoglobin < 11,0 gr/dl (hematocrit < 33%) pada wanita premonopause dan pasien
prepubertas, dan < 37%) pada laki-laki dewasa dan wanita postmeopause. Sedangkan menurut
Pernefri 2011, dikatakan anemia pada penyakit ginjal jika Hb ≤ 10 gr/dl dan Ht ≤ 30%.2,3

Klinisi harus memikirkan keadaan anemia jika tingkat Laju Filtrasi Glomerulus (LFG) pasien menurun
ke 60 ml/menit/1,73 m2 atau lebih rendah. Saat LGF mengalami penurunan tigkat sedang seperti ini,
akan labih timbul komplikasi seperti hiperfosfatemia, hipokalsemia, hiperparatiroid, hipertensi,
hiperhomosistinemia, dan termasuk juga anemia.3

Etiologi

Anemia pada penyakit ginjal kronik adalah jenis anemia normositik normokrom, yang khas selalu
terjadi pada sindrom uremia. Bisanya hematokrit menurun hingga 20-30% sesuai derajat azotemia.
Komplikasi ini biasa ditemukan pada penyakit ginjal kronik stadium 4, tapi kadang juga ditemukan
sejak awal stadium 3. Tabel 1.2,4
Penyebab utama anemia pada pasien dengan penyakit ginjal kronik adalah kurangnya produksi
eritropoietin (EPO) karena penyakit ginjalnya. Faktor tambahan termasuk kekurangan zat besi,
peradangan akut dan kronik dengan gangguan penggunaan zat besi (anemia penyakit kronik),
hiperparatiroid berat dengan konsekuensi fibrosis sumsum tulang, Universitas Sumatera Utara 3
pendeknya masa hidup eritrosit akibat kondisi uremia. Selain itu kondisi komorbiditas seperti
hemoglobinopati dapat memperburuk anemia. Untuk lebih lengkapnya, perhatikan Tabel 2. 2,4,5