Anda di halaman 1dari 53

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dasar perbankan syariah mengacu kepada ajaran agama Islam yang
bersumber pada al-Qur’an, al-Hadits/ as-Sunnah, dan Ijtihad. Ajaran agama Islam
yang bersumber pada wahyu Ilahi dan sunaturosul mengajarkan kepada umatnya
untuk berusaha mendapatkan kehidupan yang baik di dunia yang sekaligus
memperoleh kehidupan yang baik di akhirat. Hal ini berarti, bahwa dalam
mengerjakan kehidupan di dunia tidak dapat dilakukan dengan menghalalkan
segala cara, tapi harus dilakukan melalui gerakan amal saleh.
“Bank Syariah adalah bank yang kegiatan usahanya dilakukan berdasarkan
prinsip syariah. Sedangkan prinsip syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan
hukum Islam” (UU No. 21/2008 ttg Perbankan Syariah).
Bank Islam atau selanjutnya disebut dengan Bank Syariah, adalah bank
yang beroperasi dengan tidak mengandalkan pada bunga. Bank syariah juga dapat
diartikan sebagai lembaga keuangan/perbankan yang operasional dan produknya
dikembangkan berlandaskan Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW. Antonio dan
Perwataatmadja membedakan menjadi dua pengertian, yaitu Bank Islam dan Bank
yang beroperasi dengan prinsip syariah Islam. Bank Islam adalah bank yang
beroperasi dengan prinsip syariah Islam dan bank yang tata cara beroperasinya
mengacu kepada ketentuan-ketentuan Al-Qur’an dan Hadits. Bank yang
beroperasi sesuai dengan prinsip syariah Islam adalah bank yang dalam
beroperasinya mengikuti ketentuan-ketentuan syariah Islam, khususnya yang
menyangkut tata cara bermuamalat secara Islam.
Dalam keuangan syariah menekankan pentingnya keselarasan aktivitas
keuangan dengan norma dan tuntunan syariah. Aturan terpenting dalam kegiatan
keuangan syariah adalah pelarangan riba (memperanakan uang dan mengharapkan
hasil tanpa menanggung risiko). Ahli fiqh menilai ini sangat kental eksistensinya
dalam aktivitas keuangan konvensional.

1
Untuk itulah pada kesempatan kali ini kelompok kami akan coba mencari
tahu tentang Islam dan perbankan, sejarah perbankan syariah, fungsi perbankan
syariah, prinsip dasar perbankan syariah dan kasus perbankan syariah.
Kami mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kami cantumkan
dalam rumusan masalah dari kutipan-kutipan laman website di google, sumber
bacaan lain berupa artikel, majalah islam dan buku referensi terkait ekonomi islam
Semoga apa yang kami tuangkan dalam makalah ini dapat menambah
khazanah ilmu pengetahuan dan menambah wawasan pembaca makalah.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan islam dan perbankan?
2. Bagaimana sejarah masuknya bank syariah?
3. Apa yang dimaksud dengan bank syariah?
4. Apa saja fungsi dari bank syariah?
5. Apa saja perbedaan bank syariah dengan bank konvesional?
6. Apa saja prinsip dasar operasional bank syariah
7. Bagaimana manajemen dana bank syariah?
8. Contoh kasus perbankan syariah di Indonesia?

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah menambah pengetahuan
pembaca untuk.
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan islam dan perbankan.
2. Mengetahui bagaimana sejarah masuknya bank syariah.
3. Mengetahui maksud dari bank syariah
4. Mengetahui fungsi dari bank syariah
5. Mengetahui perbedaan bank syariah dengan bank konvesional
6. Mengetahui prinsip dasar operasional bank syariah
7. Mengetahui manajemen dana bank syariah
8. Mengetahui kasus perbankan syariah di Indonesia?

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Islam dan Perbankan


A. Makna Islam
Islam adalah kata bahasa Arab yang terambil dari kata salima yang
berarti selamat, damai, tunduk, pasrah dan berserah diri. Objek penyerah diri
ini adalah Pencipta seluruh alam semesta, yakni Allah Swt. Dengan
demikian, Islam berarti penyerahan diri kepada Allah Swt., Sebagaimana
tercantum dalam Alquran surat Ali Imran,1 yang artinya:
Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah adalah Islam…
Tegasnya, agama di sisi Allah ialah penyerahan diri yang
sesungguhnya kepada Allah. Jadi walaupun seseorang mengaku beragama
islam, kalau dia tidak menyerah yang sesungguhnya kepada Allah, belumlah
dia Islam, sebab dia belum menyerah/tunduk.2 Penyerahan diri inilah yang
akan membawa keselamatan dan kebahagiaan hidup bagi manusia.3
Selanjutnya, Islam memandang bahwa hidup manusia di dunia ini
hanyalah sebagian kecil dari perjalanan kehidupan manusia, karena setelah
kehidupan di dunia ini masih ada lagi kehidupan akhirat yang kekal abadi.
Namun demikian, nasib seseorang di akhirat nanti sangat bergantung pada
apa yang dikerjakannya di dunia, sebagaimana sabda Nabi Muhammad
Saw.al-dunya mazra’at al akhirat (dunia adalah ladang akhirat). Di sinilah
letaknya peranan Islam sebagai pedoman dan petunjuk hidup manusia di
dunia. Islam memberikan petunjuk mengenai bagaimana caranya menjalani

1
QS. Ali Imran (3) : 19. WIKAL ABDURRAHMAN
2
Hamka, studi Islam, (Jakarta: Penerbit Pustaka Panjimas, 1985), hlm. 5. WIKAL
ABDURRAHMAN
3
QS. Al-Baqarah (2): 112, …bahkan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah,
sedangkan ia berbuat kebaikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan dan tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.WIKAL
ABDURRAHMAN

3
kehidupan dengan benar agar manusia dapat mencapai kebahagiaan yang
didambakannya itu, baik di dunia maupun di akhirat.4
Konsekuensinya dari pandangan di atas adalah bahwa ajaran islam itu
tidak hanya terbatas pada masalah hubungan pribadi antara seorang individu
dengan penciptanya (hablum minallah), namun mencakup pula masalah
hubungan antarsesama manusia (hablum minannas), bahkan juga hubungan
antara manusia dengan makhluk lainnya termasuk dengan alam dan
lingkungan. Jadi, Islam adalah suatu cara hidup, way of life, yang
membimbing seluruh aspek kehidupan manusia.

B. Cakupan Islam

Agama Islam memiliki 3 aspek utama, yaitu aspek aqidah, aspek


syariah dan aspek akhlak.

Akidah disebut juga iman, sedangkan syariah adalah islam, dan akhlak
disebut juga ihsan. Aqidah menunjukkan kebenaran Islam, Syariah
menunjukkan keadilan Islam, dan Akhlak menunjukkan keindahan Islam.

I. Aspek Aqidah

Kata aqidah berasal dari kata bahasa Arab ‘aqad, yang berarti
ikatan. Menurut ahli bahasa, definisi aqidah adalah sesuatu yang
denganya diikatkan hati dan perasaan halus manusia atau yang
dijadikan agama oleh manusia dan dijadikannya pegangan.5 Jadi,
akidah ini bagaikan ikatan perjanjian yang kokoh yang tertanam jauh di
dalam lubuk hati sanubari manusia. Ia merupakan suatu bentuk
pengakuan/persaksian secara sadar mengenai keyakinan, keimanan, dan
kepercayaan, bahwa ada suatu Zat Yang Esa yang telah menciptakan
seluruh ala mini beserta isinya. Zat ini adalah Zat Yang Maha Kuasa,

4
QS. Al-Baqarah (2) : 201, “…Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di
akhirat dan periharalah kami dari siksa neraka.” WIKAL ABDURRAHMAN
5
Hamka, op.cit., hlm. 73 WIKAL ABDURRAHMAN

4
yang kepada-Nya bergantung segala sesuatu.6 Zat ini pulalah yang
memberi kehidupan di alam semesta, memeliharanya, dan kemudian
mematikannya. Dari Zat inilah semua yang ada berasal, kemudian
kepada zat ini pulalah semua yang ada ini akan kembali.7 Zat Yang
Maha Esa dan Mahakuasa ini adalah Allah Swt.

Selanjutnya, sebagai bentuk cinta kasih Zat Yang Esa ini kepada
manusia yang telah diciptakan-Nya, Dia kemudian menunjuk manusia-
manusia pilihan untuk membimbing kehidupan manusia agar tidak
tersesat. Manusia-manusia pilihan ini adalah para nabi8 dan rasul.9 Allah
Swt. mewahyukan bimbingan dan petunjuk hidup ini kepada para nabi
dan rasul lewat perantaraan malaikat. Bimbingan dan petunjuk dari
Allah ini kemudian dikumpulkan dan ditulis menjadi shuhuf dan kitab-
kitab. Kemudian, setelah petunjuk dan bimbingan itu disampaikan
kepada manusia, maka nanti akan diadakan perhitungan terhadap hasil
perbuatan manusia selama hidup di dunia. Perhitungan itu akan terjadi di
suatu kehidupan setelah kehidupan di dunia, yakni akhirat. Di akhirat
inilah manusia akan mempertanggungjawabkan semua perbuatannya.
Perbuatan baik akan diganjar dengan balasan baik, perbuatan buruk akan
diganjar dengan balasan yang setimpal.10 Keyakinan terhadap
pembalasan ini akan menjadi pembangkit yang terkuat untuk mengajak
manusia berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan.11

Namun demikian, menjalani kehidupan di dunia ini tidaklah selalu


mudah dan mulus. Di samping suka cita, kebahagiaan, kenikmatan,

6
QS. Al-Ikhlash (112): 1-4 WIKAL ABDURRAHMAN
7
QS. Al-Baqarah (2): 156 WIKAL ABDURRAHMAN
8
Nabi, kata bahasa Arab yang berarti pembawa berita. Berasal dari kata naba’a yang artinya
memberitakan. WIKAL ABDURRAHMAN
9
Rasul, kata bahasa Arab yang berarti utusan. Berasal dari kata rasala yang berarti mengutus.
WIKAL ABDURRAHMAN
10
QS. Al-Zalzalah (99): 7-8, “…barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat atompun, niscaya dia
akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat atompun,
niscaya dia akan melihat. WIKAL ABDURRAHMAN
11
Sayid Sabiq, Al-‘aqaaid Al-Islamiyyah, ter. Indonesia: Aqidah Islam: Pola Hidup Manusia
Beriman, (Bandung: CV. Diponegoro, 2001), cet. Ke-12, hlm. 19. WIKAL ABDURRAHMAN

5
kelapangan dan kedamaian, ada pula duka, rintangan, ujian,
permasalahan, kesengsaraan dan bahkan bencana yang akan menimpa.
Untuk dapat menghadapi semua ini, manusia memerlukan suatu bekal
mental yang memberikan kekuatan dan kesanggupan untuk
menanggulangi hal-hal di atas. Bekal ini adalah keyakinan kepada takdir.
Takdir (atau kadar) ialah suatu peraturan yang tertentu yang telah
dibuat oleh Allah Swt. untuk segala yang ada dalam alam semesta yang
maujud ini. Peraturan tersebut merupakan undang-undang umum atau
kepastian-kepastian yang diikatkan di dalamnya antara sebab dengan
musababnya, juga antara sebab dan akibatnya.12

Dengan keyakinan seperti ini, segala penghalang dan cobaan dunia


ini bagaimanapun dahsyatnya, akan dianggap kecil saja oleh orang
beriman, karena ia yakin bahwa segala sesuatunya ada dalam ketentuan
Allah.

“Apa saja rahmat yang dianugerahkan Allah kepada manusia,


maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan rahmat
apa saja yang ditahan Allah maka tidak seorang pun yang
sanggup melepaskannya sesudah itu…”13

Dan bahwa,

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan pada dirimu


sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab sebelum kami
menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah
bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu
jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan
supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-

12
Ibid., hlm. 149. WIKAL ABDURRAHMAN
13
QS. Fathir (35) :2. WIKAL ABDURRAHMAN

6
Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang sombong
lagi membanggakan diri.”14

Semua pokok-pokok keyakinan yang telah dipaparkan di atas


dirangkum oleh Nabi Muhammad Saw. melalui salah 1 hadisnya tentang
rukun iman. Dalam hadis tersebut, Nabi Saw. menjelaskan bahwa
pokok-pokok keimanan (yakni rukun iman) itu adalah bahwa
“hendaklah engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-
Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan beriman pula kepada kadar
(takdir) yang baik ataupun yang buruk.15

Singkatnya, aspek akidah adalah aspek yang berhubungan dengan


masalah-masalah keimanan dan dasar-dasar agama (ushuluddin). Karena
itu, sering kali kata ‘aqidah dan iman digunakan secara bergantian.
Akidah memberikan visi dan makna bagi eksistensi kehidupan manusia
di bumi. Akidah inilah yang memberikan jawaban atas pertanyaan-
pertanyaan mengenai hakikat kehidupan, dari mana asal-muasalnya, apa
maknanya, apa yang harus dilakukan manusia dalam hidupnya, ke mana
hidup ini harus diarahkan, serta ke mana semuanya ini akan
menuju/berakhir. Karena itu, akidah adalah ruh bagi setiap orang, yang
apabila dipegang teguh akan memberikan kehidupan yang baik dan
menggembirakan bagi yang bersangkutan. Sebaliknya tanpa akidah,
hidup ini akan kehilangan maknanya dan karenanya akan matilah
semangat keruhanian dunia.16

14
QS. Al-Hadid, (57): 22-23. WIKAL ABDURRAHMAN
15
Hadis Riwayat Muslim. WIKAL ABDURRAHMAN
16
Sayid Sabiq, loc. Cit WIKAL ABDURRAHMAN

7
1. Mu’min, Kafir, Munafik, Musyrik, dan Murtad

Dalam kaitannya dengan penerimaan terhadap akidah Islam di


atas, maka manusia terbagi ke dalam 5 golongan, yakni sebagai
berikut.

a. Golongan Mu’mun, yakni golongan yang menerima dan


meyakini rukun iman yang 6, dengan tulus dan jujur.17 Orang
mu’min tidak saja menerima akidah ini dengan hatinya, tetapi
juga mengakuinya dengan lisannya, dan membuktikan
pengakuannya itu dengan tingkah lakunya18
b. Golongan Kafir, yakni golongan yang menolak rukun iman
di atas secara terang-terangan.19
c. Golongan Munafik, yakni golongan yang pada lahirnya
menyatakan menerima akidah Islam, namun sebenarnya hati
mereka menolak, tidak mempercayai akidah islam.20
d. Golongan Musyrik, yakni golongan yang memperserikatkan
Allah Swt. mereka ini membuat sembahan-sembahan atau
tandingan-tandingan lain di samping Allah. Jadi di samping
menyembah Allah, mereka juga menyembah tuhan (atau
tuhan-tuhan) yang lain.21
e. Golongan Murtad, yakni golongan yang dahulunya beriman
kemudian berbalik menjadi kafir.22

2. Kekekalan Akidah

Karena akidah adalah pokok-pokok keimanan, maka akidah


sifatnya kekal dan tidak mengalami perubahan, baik karena
perubahan zamanmaupun karena pergantian tempat. Sejak zaman

17
QS. Al-Baqarah (2) : 1-5. WIKAL ABDURRAHMAN
18
Al-Haidis WIKAL ABDURRAHMAN
19
QS. Al-Baqarah (2) : 6-7. WIKAL ABDURRAHMAN
20
QS. Al-Baqarah (2) : 8-10. WIKAL ABDURRAHMAN
21
QS. Al-Baqarah (2) : 165, dan QS. Yunus (10): 18. WIKAL ABDURRAHMAN
22
QS. Al-Baqarah (2) : 217, dan QS. An-Nisa (4): 137. WIKAL ABDURRAHMAN

8
Nabi Adam sampai sekarang, dan di ujung dunia mana pun,
persoalan akidah akan selalu tetap dan konstan, ini ditegaskan oleh
Allah Swt. dalam Alquran:

Dia telah mensyariatkan bagi kamu dalam agama apa yang


telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami
wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan
kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu: tegakkanlah agama dan
janganlah kamu berpecah-belah tentangnya…23

Dengan demikian, pokok-pokok keimanan yang diajarkan oleh


Adam a.s., sama persis dengan pokok-pokok keimanan yang
diajarkan oleh Nuh a.s., Ibrahim a.s., Musa a.s., Isa a.s,. dan
Muhammad Saw. Tidak ada perbedaan sedikitpun di antara mereka
semuanya. Semua nabi mengajarkan bahwa alam semesta ini adalah
milik dan ciptaan Allah, Tuhan Yang Maha Esa.

Oleh karena itu, hanya kepada Allah sajalah manusia


hendaknya menyembah dan memohon pertolongan. Semua nabi juga
mengajarkan bahwa manusia akan mempertanggungjawabkan
perbuatannya kelak di akhirat. Semua hal-hal ini tidak berubah dari
dulu, sekarang, dan sampai kapan pun. Jadi, tidak ada dan tidak akan
ada modifikasi atau modernisasi dalam urusan akidah.24

II. Aspek Syariah

Ajaran Islam tidaklah berhenti pada kepercayaan saja, setelah kita


mempercayai ke-6 rukun iman di atas, pertanyaan berikutnya adalah apa

23
QS. As-Syura (42) : 13 WIKAL ABDURRAHMAN
24
Kalaupun kita mendengar ada gerakan pembaharuan, seperti yang dipelopori oleh Ibn
Taymiyyah, Imam Abdul Wahhab, Syaikh Jamaluddin Al-Afghani, Syaikh Muhammad Abduh,
dan lain-lain, maka apa yang dilakukan oleh mereka ini sebenarnya adalah pemurnian akidah,
bukan menambah-nambah atau melakukan modifikasi. Jadi, yang dilakukan adalah justru
menghilangkan dan membersihkan penyimpangan-penyimpangan akidah yang telah terjadi, dan
kemudian mengembalikannya pada jalur yang benar seperti semula. WIKAL ABDURRAHMAN

9
yang selanjutnya harus dilakukan? Jalan manakah yang harus ditempuh?
Manakah yang benar dan manakah yang salah? Apa yang mesti
dikerjakan dan apa pula yang harus dihindari? Jawaban dari pertanyaan-
pertanyaan di atas diberikan oleh syariah.

Syariah adalah kata bahasa Arab yang secara harfiahnya berarti


jalan yang ditempuh atau garis yang mestinya dilalui. Secara
terminology, definisi syariah adalah peraturan-peraturan dan hukum
yang telah digariskan oleh Allah, atau telah digariskan pokok-pokoknya
dan dibebankan kepada kaum muslimin supaya mematuhinya, supaya
syariah ini diambil oleh orang Islam sebagai penghubung di antaranya
dengan Allah dan di antaranya dengan manusia.25 Jadi singkatnya,
syariah itu berisi peraturan dan hukum-hukum, yang menentukan garis
hidup yang harus dilalui oleh seorang muslim.

Menurut ajaran islam, syariat itu berasal dari Allah. Sebab itu maka
sumber syariat, sumber hokum dan sumber undang-undang datang dari
Allah sendiri, yang disampaikan kepada manusia dengan perantaraan
rasul dan termaktub di dalam kitab-kitab suci.26 Namun demikian, tidak
seperti akidah yang sifatnya konstan, syariah mengalami perkembangan
sesuai dengan kemajuan peradaban manusia. Karena itu, syariat yang
berlaku di zaman Nabi Nuh a.s., berbeda dengan syariat Nabi Musa a.s.,
dan berbeda pula dengan syariat Nabi Ibrahim a.s., Isa a.s., dan Nabi
Muhammad Saw.27 sebabnya ialah karena setiap umat tentu menghadapi
situasi dan kondisi yang khas dan unik, sesuai dengan keadaan mereka
sendiri, hal ikhwal jalan pikirannya serta perkembangan
keruhaniannya.28 Jadi penerapan syariat ini mengikuti evolusi peradaban
manusia, seiring dengan diutusnya rasul-rasul kepada umat-umat tertentu
dan pada zaman-zaman tertentu. Proses perkembangan syariat ini pada
25
Syaikh Mahmud Syalthut, Al-Islam, ‘Aqidah wal Syariah, cet. 1, 1959, hlm. 68.
26
Hamka, op. cit., hlm 3.
27
QS. Al-Maidah (5) : 48, Untuk masing-masing dari kamu semua itu Kami buatkan aturan dan
jalan (syariat, yang harus ditempuhnya).
28
Sayid Sabiq, op. cit., hlm. 18

10
akhirnya tuntas dengan diutusnya Nabi Muhammad Saw. yang
membawa syariat Islam. Dengan demikian, tidak ada lagi perkembangan
syariat sesudah Nabi Muhammad Saw, karena Islam sudah rampung,
tuntas dan sempurna.29

1. Syariah dan Perubahan

Namun demikian, fakta menunjukkan bahwa persoalan-


persoalan yang dihadapi manusia sepeninggal Nabi Muhammad
Saw. terus berkembang. Mucul persoalan baru yang dahulunya tidak
pernah terjadi di masa-masa nabi. Masyarakat berkembang dengan
dinamis dari waktu ke waktu, dan dari tempat ke tempat.
Kebudayaan, teknologi, peradaban, kondisi sosial kemasyarakatan,
ekonomi, dan lain-lain, semua mengalami perubahan.

Pertanyaannya adalah, mungkinkah semua perubahan itu di


akomodasi oleh syariat yang sudah rampung 14 abad yang lalu?
Tidakkah perubahan yang terjadi itu mengharuskan adanya
perubahan-perubahan pula dalam syariat?

Pertanyaan yang sepintas pelik itu sesungguhnya tidak terlalu


sulit untuk dijawab. Sesuai dengan definisi syariat di atas, kita tahu
bahwa syariat itu ada 2 bagian, yakni bagian ibadah yang mengatur
hubungan antara manusia dengan Allah (hablum minallah), dan
bagian muamalah30 yang mengatur hubungan antara sesame manusia
(hablum minannas). Bagian ibadah terangkum dalam Rukun Islam
yang 5 (syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji). Sedangkan bagian
muamalah mencakup semua aspek hidup manusia dalam interaksinya
dengan manusia lain, mulai dari masalah pernikahan,
perdagangan/ekonomi, sosial sampai politik.

29
QS. Al-Maidah (5) : 3, ...pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah
Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu …
30
Muamalah adalah kata bahasa Arab yang terambil dari akar kata ‘amila yang artinya kerja atau
aksi. Bentuk resiprokal dari kata ‘amila adalah muamalah. Jadi muamalah dapat diartikan sebagai
saling-aksi atau populernya transaksi. WIKAL ABDURRAHMAN

11
Pada bagian ibadah, umumnya tidak terjadi perubahan (evolusi)
apa pun. Kondisi hubungan kejiwaaan antara seorang hamba dengan
Allah tidak berbeda pada zaman nabi dengan zaman informasi kini.
Shalat, doa, puasa, zakat dan haji tetap dapat dilakukan tanpa perlu
menyesuaikannya dengan perkembangan zaman/tempat. Jadi, dalam
soal ibadat, pertanyaan di atas menjadi tidak relevan.

Namun bagaimana dengan masalah-masalah muamalah?


Bukankah masalah muamalah yang dihadapi oleh Rasulullah Saw.
sudah jauh berbeda dengan masalah muamalah di zaman modern?
Bukankah di masa nabi, misalnya, institusi bank belum muncul?
Lalu bagaimana caranya masalah perbankan ini diatur dalam Islam?

Di sinilah justru letaknuya fleksibilitas syariat Islam. Pada


umumnya, syariat Islam dalam bidang muamalah hanya memberikan
petunjuk-petunjuk dan prinsip-prinsip yang sifatnya umum dan
mendasar. Hal-hal yang rinci, detail, dan teknis tidak diatur, tetapi
diserahkan kepada manusia melalui proses ijtihad. Nabi bersabda,
“Antum a’lamu bi umuuri dunyakum” kalian lebih mengetahui
urusan dunia kalian. Dengan demikian, bidang muamalah ini akan
selalu berkembang sesuai dengan perubahan waktu dan tempat.

Dengan latar belakang di atas, para ulama telah merumuskan


suatu kaidah dasar dalam syariat, yang disebut dengan 2 hukum asal,
yakni hukum asal ibadat dan hukum asal muamalat. Hukum asal
ibadat menyatakan bahwa segala sesuatunya dilarang dikerjakan,
kecuali yang ada petunjuknya dalam Quran atau Sunnah. Karena itu,
masalah-masalah ibadat sudah diatur dengan rinci tata caranya,
sehingga tidak diperbolehkan lagi melakukan penambahan dan/atau
perubahan (bid’ah). Singkatnya, tidak ada kreativitas” dalam
masalah-masalah ibadah.

12
Di lain pihak, hukum asal muamalat menyatakan bahwa
“segala sesuatunya dibolehkan, kecuali ada larangan dalam Quran
atau sunnah”. Jadi, sesungguhnya terdapat lapangan yang luassekali
dalam bidang muamalah. Yang perlu dilakukan hanyalah
mengidentifikasikan hal-hal yang dilarang (haram), kemudian
menghindarinya. Selain yang haram-haram tersebut, kita boleh
melakukan apa saja, menambah, menciptakan, mengembangkan, dan
lain-lain, harus ada “kreativitas” (baca: ijtihad) dalam bidang
muamalah. Kreativitas inilah yang kan terus-menerus
mengakomodasikan perubahan-perubahan dalam berbagai bidang
yang terjadi di masyarakat.

Namun deikian, “kreativitas” ini tidak dapat dilakukan secara


sembarangan oleh siapa saja. Diperlukan perangkat ilmu-ilmu
tertentu untuk dapat melakukan ijtihad. Karena itu, tugas ijtihad ini
dipegang oleh para ulama.

2. Syariat dan Fiqih

Telah kita ketahui di bagian atas bahwa syariat islam adalah


hukum-hukum dan peraturan yang dibebankan oleh Allah Swt.
kepada hamba-hambaNya. Syariat ini berisi perintah-perintah dan
larangan-larangan. Perintah dan larangan ini dalam bahasa teknis
ilmu fiqih disebut hukum taklifi. Ketika perintah dan larangan ini
disampaikan kepada manusia, maka timbul usaha untuk memahami
dan menafsirkan perintah dan larangan tersebut. Pemahaman dan
penafsiran ini dilakukan secara sistematis oleh para ulama dengan
menggunakan metode tertentu. Hasil dari usaha sistematis untuk
memahami dan menafsirkan perintah dan larangan Allah Swt. ini

13
dinamakan fiqih.31 Jadi singkatnya fiqih adalah tafsiran ulama atas
syariah.

Selanjutnya, karena syariah itu terbagi menjadi 2, yakni ibadah


dan muamalah, maka sebagai konsekuensi logis dari hal ini adalah
bahwa fiqih pun terbagi menjadi 2, yakni fiqih ibadah dan fiqih
muamalah. Jadi, fiqih ibadah adalah tafsiran ulama atas perintah dan
larangan dalam bidang ibadah, sedangkan fiqih muamalah adalah
tafsiran ulama atas perintah dan larangan dalam bidang muamalah.

3. Pembagian Hukum

Ketika para ulama berusaha untuk menafsirkan dan memahami


syariah yang berisi perintah dan larangan Allah itu, maka mereka
mendapati bahwa menurut kepastiannya, perintah dan larangan itu
(yakni hukum taklifi), dapat digolongkan menjadi 2, yakni yang
sifatnya pasti dan tidak pasti. Perintah yang pasti disebut wajib,
sedangkan larangan yang pasti disebut haram. Perintah yang tidak
pasti disebut mandub (sunnah), sedangkan larangan yang tidak pasti
disebut makruh.32 Di samping perintah dan larangan, Allah juga
memberika pilihan (takhyir), dan ini disebut mubah (yakni tidak
dilarang dan tidak diperintahkan). Jadi, secara umum, ada 5 hukum
syara’ yang dikenal dalam fiqih Islam, yakni wajib, sunnah, mubah,
makruh dan haram.33

Wajib/fardhu adalah suatu perintah yang harus dikerjakan, di


mana orang yang meninggalkannya berdosa, sedangkan yang

31
Fiqih berasal dari kata bahasa Arab fiqih yang berarti paham. WIKAL ABDURRAHMAN
32
Muhammad Abu Zahrah, Ushul Fiqih, (Jakarta: Pustaka Firdaus Jakarta, 1999), hlm. 30.
WIKAL ABDURRAHMAN
33
Pembagian tersebut adalah menurut jumhur (mayoritas) ulama, sedangkan menurut mazhab
Hanafi bukan taklifi terbagi 7, yaitu fardhu, wajib, mandub, makruh takhrim, makruh tanzih,
haram dan mubah. Lihat ibid. WIKAL ABDURRAHMAN

14
melaksanakannya mendapat pahala. Wajib itu dari segi
pelaksanaannya dibagi menjadi 2, yakni:

1. Wajib/fardhu ‘ain;
2. Wajib/fardhu kafa’i/kifayah.

Wajib ‘ain ialah suatu kewajiban yang harus dikerjakan oleh


setiap orang mukallaf. Bila yang bersangkutan tidak menjalankannya
maka ia berdosa. Contohnya adalah shalat fardhu, puasa dan lain-
lain. Sedangkan wajib kifayah ialah suatu kewajiban yang hanya
menuntut terwujudnya suatu pekerjaan dari sekelompok masyarakat,
sehingga jika pekerjaan tersebut telah dikerjakan oleh sebagian
masyarakat, maka bebaslah yang lain dari kewajiban itu tanpa
menanggung dosa. Contohnya, belajar ekonomi syariah. Bila tidak
ada seorang pun dalam suatu negeri yang mempelajari ekonomi
syariah, maka seluruh negeri itu berdosa. Namun bila telah ada
sekelompok orang di negeri tersebut yang mendalami ekonomi
syariah, kelompok yang lain gugur dari kewajibannya.

Mandub/sunnah ialah perbuatan yang dianjurkan oleh Allah


untuk dikerjakan, atau suatu perintah yang apabila dilaksanakan akan
diberi pahala (pujian), sedang jika ditinggalkan tidak berdosa (tidak
tercela).

Makruh adalah suatu larangan syara’ terhadap suatu perbuatan,


tetapi larangan tersebut tidak bersifat pasti, karena tidak ada dalil
yang menunjukkan atas haramnya perbuatan tersebut. Jika perbuatan
makruh ini ditinggalkan maka akan mendapatkan pahala, sedangkan
jika dilakukan tidak berdosa.

15
Haram ialah larangan Allah yang pasti terhadap suatu
perbuatan, yang jika dikerjakan berdosa, sedangkan jika ditinggalkan
mendapat pahala. Haram ini dobagi menjadi 2, yakni:

a. Haram li-dzatih;
b. Haram li-ghairih/’aridhi.

Haram li-dzatih adalah perbuatan yang diharamkan karena


bahayanya terdapat dalam zat perbuatannya sendiri, contohnya
minum khamr, makan bangkai, darah dan lain-lain. Sedangkan
haram li-ghairih adalah perbuatan yang diharamkan selain karena
zatnya.

Mubah ialah suatu hukum, dimana Allah memberikan


kebebasan kepada orang mukallaf untuk memilih antara mengerjakan
suatu perbuatan atau meninggalkannya.

III. Akhlak

Pembagian hukum yang lima seperti yang dijabarkan di atas


memberikan panduan bagi setiap Muslim untuk menentukan manakah
yang benar dan manakah yang salah, karena itu pulalah aspek syariah ini
sering dinamakan sebagai hukum islam. Namun demikian, di samping
masalah benar-salah masih ada masalah lain, yakni masalah baik-buruk,
indah-jelek. Kadang-kadang suatu yang benar belum tentu baik, dan
sebaliknya sesuatu yang sepintas baik belum tentu benar. Persoalan baik-
buruk ini menyangkut perilaku dan sikap hidup manusia, dan tidak
dibahas dalam bab syariah tetapi dibahas dalam bab akhlak (etika).

Akhlak (etika) sering juga disebut sebagai ihsan (berasal dari kata
Arab hasan, yang berarti baik). Definisi ihsan dinyatakan sendiri oleh
nabi dalam hadis berikut: “ihsan adalah engkau beribadat kepada
tuhanmu seolah-olah engkau melihat-Nya sendiri, kalaupun engkau

16
tidak melihat-Nya, maka ia melihatmu.”34 Dengan demikian, melalui
ihsan seseorang akan selalu merasa bahwa dirinya dilihat oleh Allah.
Karena Allah mengetahui sekecil apa pun perbuatan yang dilakukan
seseorang, walaupun dikerjakan di tempat tersembunyi, bahkan Allah
mengetahui segala pikiran dan lintasan-lintasan hati makhluknya.
Dengan kesadaran seperti ini maka orang mu’min akan selalu terdorong
untuk berperilaku baik, dan menjauhi perilaku buruk.

Karena itu wajarlah jika akhlak menjadi tujuan puncak dari


diutusnya nabi-nabi, dan menjadi tolak ukur kualitas keberagaman
seseorang. Ini dinyatakan sendiri oleh nabi dalam salah 1
hadisnya,”bahwasanya aku diutus Allah untuk menyempurnakan
keluhuran akhlak (budi pekerti).”35

Pentingnya akhlak dalam ajaran Islam digambarkan dalam dialog


antara nabi dengan seorang sahabat sebagai berikut.

“Ya Rasulullah! Fulanah terkenal rajin shalat dan puasa serta


banyak sedekahnya. Tetapi ia suka menyakiti tetangga dengan
perkataannya. Nabi Saw. bersabda, “Ia masuk neraka.” Kemudian
orang tersebut bertanya lagi: Ya Rasulullah, Fulanah terkenal
dengan sedikit shalat dan puasanya dan ia bersedekah sedikit
dengan sisa-sisa makanan. Namun tidak suka menyakiti
tetangganya. Nabi bersabda: ‘ia masuk sorga.’”36

Seperti halnya dengan syariat yang mengatur hablum minallah dan


hablum minannas, maka akhlak pun demikian. Akhlak memberikan
panduan bagaimana seseorang harus berperilaku terhadap Allah, dan
juga terhadap sesama makhluk.

34
Hadis Riwayat Muslim. WIKAL ABDURRAHMAN
35
Hadis Riwayat Ahmad. WIKAL ABDURRAHMAN
36
Hadis Riwayat. Ahmad. WIKAL ABDURRAHMAN

17
o Iman, Islam, Ihsan

Tiga aspek ajaran Islam yang sudah dijabarkan diatas


sebelumnya terkait 1 sama lain, tidak bisa dipisah-pisahkan.

Iman adalah fondasi bangunan keagamaan seseorang agar ia


dapat berperilaku (berakhlak) mulia. Kuat-lemahnya iman seseorang
dapat diukur dan diketahui dari perilaku akhlaknya. Karena iman
yang kuat mewujudkan akhlak yang baik dan mulia, sedangkan iman
yang lemah mewujudkan akhlak yang buruk.37 Di lain pihak,
bangunan keagamaan ini tidak dapat tegak tanpa tiang-tiang
penyangga, yakni Islam. Artinya, iman itu menuntut pengamalan.
Panduan pengalaman ini diberikan oleh syariat (Islam), yang bila
dilaksanakan dengan baik akan membuahkan akhlak yang baik pula.

C. Islam dan Perbankan Syariah

Sejauh ini kita telah membahas dengan ringkas xakupan-cakupan pokok


ajaran islam. Dari jabaran di atas, kita langsung dapat menyimpulkan bahwa
karena Islam adalah suatu pandangan/cara hidup yang mengatur semua sisi
kehidupan manusia, maka tidak ada 1 pun aspek kehidupan manusia yang
terlepas dari ajaran Islam, termasuk aspek ekonomi. Lalu bagaimanakah
dengan perbankan? Apakah Islam juga mengatur tentang lembaga keuangan
ini? Bukankah di zaman Nabi Muhammad Saw. dulu belum ada bank?

Dalam ushul fiqh, ada kaidah yang menyatakan bahwa ”maa laa
yatimm al-wajib illa bihi fa huwa wajib”, yakni sesuatu yang harus ada
untuk menyempurnakan yang wajib, maka ia wajib diadakan. Mencari
nafkah (yakni melakukan kegiatan ekonomi) adalah wajib. Dan karena pada
zaman modern ini kegiatan perekonomian tidak akan sempurna tanpa
adanya lembaga perbankan, lembaha perbankan ini pun wajib diadakan.

37
Muhammad Al-Gazali, khuluqul Muslim, Terj. Indonesia: Akhlak Seorang Muslim, (Semarang:
Penerbit Wicaksana, 1993), hlm. 17.

18
Dengan demikian, maka kaitan antara Islam dengan perbankan menjadi
jelas.

Di samping itu, seperti yang sudah kita singgung di bagian ats, kita
mengetahui bahwa karena maslah ekonomi/perbankan ini termasuk ke
dalam bab muamalah, maka Nabi Muhammad Saw. tentunya tidak
memberikan aturan-aturan yang rinci mengenai masalah ini. Bukankah nabi
sendiri menyatakan bahwa ”antum a’lamu bi umuri al-dunyakum”? (kalian
lebih mengetahui urusan dunia kalian). Alquran dan Sunnah hanya
memberikan prinsip-prinsi dan filosofi dasar, dan menegaskan larangan-
larangan yang harus dijauhi. Dengan demikian, yang harus dilakukan
hanyalah mengidentifikasi hal-hal yang dilarang oleh Islam. Selain itu,
semuanya diperbolehkan dan kita dapat melakukan inovasi dan kreativitas
sebanyak mungkin.

Berikutnya kita akan sedikit menengok sejarah perbankan syariah dan


bagaimana praktik perbankan syariah.

2.2 Sejarah Bank Syariah 38


Perbankan Syariah pertama kali muncul di Mesir tanpa meng gunakan
embel-embel Islam, karena adanya kekwatiran rezim yang berkuasa saat itu akan
melihatnya sebagai gerakan fundamentalis. bank simpanan yang berbasis profit
sharing (pembagian laba) di kota Mit Ghamr pada tahun 1963. Eksperimen ini
berlangsung hingga tahun 1967, dan saat itu sudah berdiri 9 bank dengan konsep
serupa di Mesir. Bank-bank ini, yang tidak memungut maupun menerima bunga,
sebagian besar berinvestasi pada usaha - usaha perdagangan masih di negara yang
sama, pada tahun 1971, Nasir Social bank didirikan dan mendeklarasikan diri
sebagai bank komersial bebas bunga. Walaupun dalam akta pendiriannya tidak
disebutkan rujukan kepada agama mau pun syariat Islam.

38
Yolanda Hidayat, “Sejarah Bank Syariah”, http://repository.uinsu.ac.id/473/7/BAB%20IV.pdf,
hlm 1-2.

19
Islamic Development Bank (IDB) kemudian berdiri pada tahun 1974
disponsori oleh negara-negara yang tergabung dalam organisasi konfe rensi Islam,
walaupun utamanya bank tersebut adalah bank antar pemerintah yang bertujuan
untuk menyediakan dana untuk proyek pembangunan di negara-negara
anggotanya.IDB menyediakan jasa pinja man berbasis fee dan profit sharing
untuk negara-negara tersebut dan secara eksplisit menyatakan diri berdasar pada
syariah Islam. Dibelahan negara lain pada kurun 1970-an, sejumlah bank berbasis
Islam kemudian muncul di Timur Tengah antara lain berdiri Dubai Islamic Bank
(1975), Faisal Islamic Bank of Sudan (1977), Faisal Islamic Bank of Egypt (1977)
serta Bahrain Islamic Bank (1979). Di Asia-Pasifik, Phillipine Amanah Bank
didirikan tahun 1973 berdasarkan dekrit Presiden, dan di Malaysia tahun 1983
berdiri Muslim Pilgrims Savings Corporation yang bertujuan membantu mereka
yang ingin menabung untuk menunaikan ibadah haji.

A. Sejarah Lahirnya Bank Syariah Pertama di Indonesia


Di Indonesia pelopor perbankan syariah adalah Bank Muamalat
Indonesia berdiri tahun 1991, bank ini diprakarsai oleh Majelis Ulama
Indonesia dan pemerintah serta dukungan dari Ikatan Cende kiawan Muslim
Indonesia dan beberapa pengusaha muslim. Pada saat pertama didirikan
terkumpul komitmen pembelian saham sebesar Rp 84 milliar dan pada tanggal
3 Nopember 1991 dalam acara silaturrahmi Presiden di Istana Bogor, dapat
dipenuhi dengan total komitmen modal disetor awal sebesar Rp
106.126.382.000. Dengan modal awal tersebut, pada tanggal 01 Mei 1992,
Bank Muamalat Indonesia mulai beroperasi, namun masih menggunakan UU
No. 7 tahun 1992, dimana pembahasan perbankan dengan sistem bagi hasil
diurai kan hanya sepintas lalu. Bank Muamalat Indonesia sampai September
1999, telah memiliki lebih 45 outlet yang tersebar di Jakarta, Bandung,
Semarang, Balikpapan dan Makasar. Bank ini sempat terimbas oleh krisis
moneter pada akhir tahun 90-an sehingga ekuitasnya hanya tersisa sepertiga
dari modal awal. Islamic Development Bank kemudian memberikan suntikan
dana kepada bank ini dan pada periode 1999-2002 akhirnya dapat bangkit dan

20
menghasilkan laba. Saat ini keberadaan Bank Syariah di Indonesia telah di
atur dalam Undang-Undang yaitu UU No. 10 tahun 1998 tentang Perubahan
UU No. 7 tahun 1992 tentang Perbankan.39

2.3 Pengertian Bank Syariah40


Bank syariah adalah bank yang melaksanakan kegiatan usaha berdasarkan
prinsip Syariah, yaitu aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara bank dan
pihak lain untuk penyimpanan dana dan atau pembiayaan kegiatan usaha, atau
kegiatan lainnya yang dinyatakan sesuai dengan Syariah. Bank Syariah, atau biasa
disebut Islamic Bank di negara lain, berbeda dengan bank konvensional pada
umumnya. Perbedaan utamanya terletak pada landasan operasi yang
digunakan.Kalau bank konvensional beroperasi berlandaskan bunga, bank syariah
beroperasi berlandaskan bagi hasil, ditambah dengan jual beli dan sewa.
Hal ini didasarkan pada keyakinan bahwa bunga mengandung unsur riba
yang dilarang oleh agama Islam. Menurut pandangan Islam, di dalam sistem
bunga terdapat unsur ketidakadilan karena pemilik dana mewajibkan peminjam
untuk membayar lebih dari pada yang dipinjam tanpa memperhatikan apakah
peminjam menghasilkan keuntungan atau mengalami kerugian. Sebaliknya,
sistem bagi hasil yang digunakan bank syariah merupakan sistem ketika peminjam
dan yang meminjamkan berbagi dalam risiko dan keuntungan dengan pembagian
sesuai kesepakatan. Dalam hal ini tidak ada pihak yang dirugikan oleh pihak lain.
Lebih jauh lagi, apabila dilihat dari perspektif ekonomi, bank syariah dapat
pula didefinisikan sebagaisebuah lembaga intermediasi yang mengalirkan
investasi publik secara optimal (dengan kewajiban zakat dan larangan riba) yang
bersifat produktif (dengan larangan judi), serta dijalankan sesuai nilai, etika,
moral, dan prinsip Islam.

39
Yolanda Hidayat, “Sejarah Bank Syariah”, http://repository.uinsu.ac.id/473/7/BAB%20IV.pdf,
hlm 1-2.
40
Yolanda Hidayat, Bank Syariah : Gambaran Umum, (Jakarta : Pusat Pendidikan dan Studi
Kebanksentralan (PPSK) BANK INDONESIA, 2005), Cet. 14, hlm. 4-13

21
2.4 Fungsi Bank Syariah
Bank syariah mempunyai dua peran utama, yaitu sebagai badan usaha
(tamwil) dan badan sosial (maal).Sebagai badan usaha, bank syariah mempunyai
beberapa fungsi, yaitu sebagai manajer investasi, investor, dan jasa pelayanan.
Sebagai manajer investasi, bank syariah melakukan penghimpunan dana dari para
investor/nasabahnya dengan prinsip wadi'ah yad dhamanah (titipan), mudharabah
(bagi hasil) atau ijarah (sewa). Sebagai investor, bank syariah melakukan
penyaluran dana melalui kegiatan investasi dengan prinsip bagi hasil, jual beli,
atau sewa. Sebagai penyedia jasa perbankan, bank syariah menyediakan jasa
keuangan, jasa nonkeuangan, dan jasa keagenan. Pelayanan jasa keuangan antara
lain dilakukan dengan prinsip wakalah (pemberian mandat), kafalah (bank
garansi), hiwalah (pengalihan utang), rahn (jaminan utang atau gadai), qardh
(pinjaman kebajikan untuk dana talangan), sharf (jual beli valuta asing), dan lain-
lain. Pelayanan jasa nonkeuangan dalam bentuk wadi'ah yad amanah (safe deposit
box) dan pelayanan jasa keagenan dengan prinsip mudharabah
muqayyadah.Sementara itu, sebagai badan sosial, bank syariah mempunyai fungsi
sebagai pengelola danasosial untuk penghimpunan dan penyaluran zakat, infak,
dan sadaqah (ZIS), serta penyaluran qardhul hasan (pinjaman kebajikan).41

Gambar 1. Fungsi Bank Syariah

41
Yolanda Hidayat, Bank Syariah : Gambaran Umum, (Jakarta : Pusat Pendidikan dan Studi
Kebanksentralan (PPSK) BANK INDONESIA, 2005), Cet. 14, hlm. 4-13

22
2.5 Perbedaan Bank Syariah dan Konvensional42

Tabel 1. Perbedaan Bank Konvensional dan Syariah

42
Yolanda Hidayat, Bank Syariah : Gambaran Umum, (Jakarta : Pusat Pendidikan dan Studi
Kebanksentralan (PPSK) BANK INDONESIA, 2005), Cet. 14, hlm. 12

23
A. Kedudukan Bank Syariah dalam Sistem Perbankan Nasional43
Kebijakan perbankan di Indonesia sejak tahun 1992 berdasarkan
ketentuan UU Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, yang kemudian
diperkuat dengan UU Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan atas UU
Nomor 7 Tahun 1992 tentang perbankan menganut sistem perbankan ganda
(dual banking system). “Dual banking system maksudnya adalah
terselenggarannya dua sistem perbankan (konvensional dan syariah secara
berdampingan) yang pelaksanaannya diatur dalam berbagai peraturan
perundang-undangan yang berlaku”.11 Pasal 2 UndangUndang Nomor 21
Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah (selanjutnya disebut UU Perbankan
Syariah), ditegaskan asas perbankan syariah.Perbankan Syariah dalam
melakukan kegiatan usahanya berasaskan Prinsip syariah, demokrasi
ekonomi, dan prinsip kehati-hatian.
Ketentuan dalam Pasal 2 Undang-Undang Perbankan syariah dapat
diketahui secara jelas, bahwa perbankan syariah dalam melakukan kegiatan
usaha diwajibkan berasaskan dan mengimplementasikan prinsip
syariah.Perbankan syariah adalah perbankan yang berdasarkan kepada
prinsip syariah. Mengenai pengertian prinsip syariah dikemukakan dalam
ketentuan Pasal 1 angka (13) Undang-Undang Perbankan Syariah, yang
mengartikan sebagai berikut:
Prinsip Syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam
antara Bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan atau pembiayaan
kegiatan usaha,atau kegiatan lainnya yangdinyatakan sesuai dengan syariah,
antara lain pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil (mudharabah),
pembiayaan berdasarkan prinsip penyertaan modal (musharakah), prinsip
jualbeli barang dengan memperoleh keuntungan (murabahah), atau
pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa murni tanpa pilihan
(ijarah), atau dengan adanya pilihan pemindahan kepemilikan atas barang
yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain (ijarah wa iqtina).

43
Yolanda Hidayat, Kedudukan Bank Syariah dalam Sistem Perbankan Nasional,(Surabaya :Jurnal
Ekonomi dan Perbankan Syariah, 2016), Vol. 3, hlm. 239-240

24
Berkenaan dengan pengertian prinsip syariah dalam perbankan syariah,
dalam penjelasan umum atas UU Perbankan Syariah antara lain
dikemukakan sebagai berikut: Sementara itu, untuk memberikan keyakinan
pada masyarakat yang masih meragukan kesyariahan operasional Perbankan
Syariah selama ini, diatur pula kegiatan usaha yang tidak bertentangan
dengan prinsip syariah meliputi kegiatan usaha yang tidak mengandung
unsur-unsur riba, maisir, gharar, haram, dan zalim.
Berdasarkan hal ini, maka mengandung arti, bahwa kegiatan usaha dan
produk perbankan yang berasaskan prinsip syariah tersebut, antara lain
adalah kegiatan usaha yang tidak mengandung unsur-unsur seperti yang
tersebut dalam Penjelasan atas Pasal 2 Undang-Undang Perbankan syariah,
yaitu:
1. riba, yaitu penambahan pendapatan secara tidak sah (batil) antara
lain dalam transaksi pertukaran barang sejenis yang tidak sama
kualitas, kuantitas, dan waktu penyerahan (fardhl), atau dalam
transaksi pinjam-meminjam yang mempersyaratkan Nasabah
Penerima fasilitas mengembalikan dana yang diterima melebihi
pokok pinjam karena berjalannya waktu (nasi'ah);
2. maisir, yaitu transaksi yang digantungkan kepada suatu keada yang
tidak pasti dan bersifat untung-untungan;
3. gharar, yaitu transaksi yang objeknya tidak jelas, tidak dimiliki, tidak
diketahui keberadaannya, atau tidak dapat diserahkan pada saat
transaksi dilakukan kecuali diatur lain dalam syariah;
4. haram, yaitu transaksi yang objeknya dilarang dalam syariah;
5. zalim, yaitu transaksi yang menimbulkan ketidakadilan bagi pihak
lainnya.

25
2.6 Prinsip Dasar Operasional Bank Islam
A. Konsep Dasar Ekonomi Islam

Islam sebagai asebagai agama merupakan konsep yang mengatur


kehidupan manusia secara komprehensif dan universal baik dalam hubungan
dengan sang pencipta (habluminAllah) maupun dalam hubungan sesama
manusia (habluminannas). Ada tiga pilar pokok dalam ajaran islam yaitu:

1. Akidah, yaitu komponen ajaran islam yang mengatur tentang


keyakinan atas keberadaan dan kekuasaan Allah sehingga harus
menjadi keimanan seseorang muslim manakala melakukan berbagai
aktivitas di muka bumi semata-mata untuk mendapatkan keridhaan
Allah sebagai khalifah yang mendapatkan amanah dari Allah.
2. Syariah, yaitu komponen ajaran islam yang mengatur tentang
kehidupan seseorang muslim baik dalam bidang ibadah
(habluminAllah) maupun dalam bidang muamalah (hablumninannas)
yang merupakan aktualisasi dari akidah yang menjadi keyakinannya.
3. Akhlak, landasan perilakukan dan keperibadian yang akan
mencirikan dirinya sebagai seorang muslim yang taat berdasarkan
syariah dan akidah yang menjadi pedoman hidupnya sehingga
disebut memiliki akhlaqul karimah sebagaimana hadis nabi yang
menyatakan “ tidaklah sekiranya aku di utus untuk menjadikan
akhlaqul karimah.” Cukup banyak tuntunan islam yang mengatur
tentang kehidupan ekonomi umat yang antaralain secara garis besar
adalah:
a. Islam menempatkan fungsi uang semata-mata sebagai alat
tukar dan bukan sebagai komoditi, sehingga tiak layak untuk
diperdagang kan apalagi mengandung unsur ketidak pastian
atau spekulasi (gharar) sehingga yang ada adalah bukan harga
uang apalagi dikait kan dengan beralunya waktu, tetapi nilai
uang untuk menukarkan dengan barang.

26
b. Riba dalam segala bentuknya dilarang, nahkan dalam ayat al-
qur’an tentang pelanggaran riba yang terakhir yaitu firman
Allah dalam surah Al-baqarah (2) ayat 278-279.
c. Larangan riba juga terdapat dalam ajaran kristen baik
perjanjian lama maupun perjanjian baru yang pada intinya
menghendaki pemberian pinjaman kepada orang lain tanpa
meminta bunga sebagai imbalan.
d. Meskipun masih ada sementara pendapat khususnya di
indonesia yang masih meragukan apakah bunga bank
termasuk riba atau bukan, maka sesungguhnya telah menjadi
kesepakatan ulama, ahli fiqih dan fraktisi dan perbankan
syariah dikalangan dunia islam yang menyatakan bahwa
bunga bank adalah riba dan riba di haramkan
e. Tidak memperkenankan berbagai bentuk kegiatan yang
mengandung unsur stekulasi dan perjudian termasuk
didalamnya aktifitas ekonomi yang diyakini akan
mendatangkan kerugian bagi masyarakat.
f. Harta harus berputar (diniagakan) sehingga tidak boleh hanya
berpusat pada segelintir orang dan Allah sangat tidak
menyukai orang yang menumbun harta sehingga tidak
produktif dan oleh karenanya bagi mereka yang mempunyai
harta yang tidak produktif akan dikenakan zakat yang lebih
besar dibading jika di produktif kan.
g. Bekerja dan atau mencari nafkah adalah ibadahdan wajib
dilakukan sehingga tidak seorang pun tanpa bekerja yang
berarti siap menghadapi resiko dapat memperoleh
keuntungan atau manfaat ( bandingkan dengan perolehan
bunga bank dari deposito yang bersifat tetap dan hampir
tanpa resiko).

27
h. Dalam bebagai bidangkehidupan termasuk dalam kegiatan
ekonomi harus dilakukan secara transparan dan adil atas
dasar suka sama suka tanpa paksaan dari pihak manapun.
i. Adanya kewajiban untuk melakukan pencatatan atas setiap
transaksi khususnya yang tidak besifat tunai dan adanya
transaksi yangbisa dipercaya (simatri dengan profesi
akuntansi dan notaris).
j. Zakat sebagi instrumen untuk pemenuhan kewajiban
penyisihan harta yang merupakan hak orang lain yang
memenuhi syarat untuk menerima, demikian juga anjuran
yang kuat untuk mengeluarkan infak dan sedekah sebagai
manifestasi dari pentingnya pemerataan kekayaan dan
memerangi kemiskinan.

B. Prinsip Ekonomi Islam

Sistem keuangan dan perbankan islam adalah merupakan bagian dari


konsep yang lebih luas tentang ekonomi islam yang tujuannya, sebagimana
dianjurkan oleh para ulama adalah memperkenalkan sistem nilai dan etika
islam kedalam lingkungan ekonomi. Karena dasar etika ini maka keuangan
dan perbankan islam kebanyakan muslim adalah bukan sekedar sistem
transaksi komersial. Persepsi islam dalam transaksi finansial itu dipandang
oleh banyak kalangan mulis sebagai kewajiban agamis.

Prinsip-prinsip ekonomi islam secara garis besar dijelaskan sebagai


berikut

1. Dalam ekonomi islam, perbankan jenis sumber daya dipandang


sebagi pemberian atau amanah Allah kepada manusia. Manusia harus
memanfaatkannya seefisien dan seoftimal mungkin dalam produksi

28
guna memenuhi kesejahteraan secara bersama di dunia yaitu untuk
diri sendiri dan untuk orang lain.
2. Islam mengakui kepemilikan pribadi dalam batas-batas tertentu,
termasuk kepemilikan alat produksi dan faktor produksi. Pertama,
kepemilikan individu dibatasi oleh kepentingan masyarakat, kedua,
islam menolak setiap pendapatan yang diperoleh secara tidak sah,
apalagi usaha menghancurkan masyarakat.
3. Kekuatan penggerak utama ekonomi islam adalah kerjasama.
Seorang muslim apakah dia sebagai pembeli,penjual,penerima upah,
pembuatan keuntungan dan sebaginya, harus berpegang kepada
tuntunan allah.
4. Pemilikan kekayaan pribadi harus berperan sebagai kapital produktif
yang akan mningkatkan besaran produk nasional dan meningkatkan
kesejahteraan masyarakat, sebagaimana dalam surah Al-hadid (7)
ayat 7. Hak milik pada hakikatnya pada Allah. Manusia
menafkahkan hartanya itu harus lah menurut hukum-hukum yang
telah disyariatkan Allah. Karena itu tidaklahboleh kikir dan boros.
5. Islam menjamin kepemilikan masyarakat dan penggunaannya
direncanakan untuk kepentingan orang banyak. Prinsip ini didasari
sunah rasulullah yang menyatakan bahwa, “masyarakat punya hak
yang sama atas air,padang rumput, dan api.”(Al-hadis). Sunah
rasulullah tersebut menghendaki semua industri ekstratif yang ada
hubungannya dengan produksi air, bahan tambang, bahkan bahan
makanan harus dikelola oleh negara. Demikian pula berbagai macam
bahan bakar dalam negri dan industri tidak boleh dukuasai oleh
individu.
6. Orang muslim harus takut kepada Allah di hari akhirat, seperti dalam
surah Al-baqarah (2) ayat 281. Oleh karena itu islam mencela
keuntungan yang berlebihan, perdagangan yang tidak jujur,
perlakuan yang tidak adil dan semua bentuk diskriminasi dan
penindasan.

29
7. Seorang musim yang kekayaannya melebihi tingkat tertentu (nisab)
diwajibkan membayar zakat. Zakat merupakan alat distribusi
sebagian kekayaan orang kaya (sebagai saksi atas penguasaan harta
tersebut), yang ditujukan untuk orang miskin dan orang-orang yang
membutuhkan.
8. Islam melarang setiap pembayaran bunga (riba) atas berbagai bentuk
pinjaman, apakah pinjaman itu berasal dari teman, perusahaan
perorangan, pemerintah ataupun institusi lainnya. Al-qur’an secara
bertahap namun jelas dan tegas memperingatkan kita tentang bunga.
Riba ada dua macam yaitu : riba nasiah dan fadhl. Riba nasiah adalah
pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan.
Riba fadhl adalah penukaran suatu barang dengan barang yang
sejenis tetapi lebih banyak jumlahnya karena orang yang
menukarkan mensyaratkan demikian.

C. Prinsip Bank Islam

Islam memandang bahwa bumi dan segala isinyamerupakan amanah


dari Allah kepada manusia sebagai khalifah dimuka bumi ini, untuk
dipergunakan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan ummat manusia. Dalam
petunjuk ini Allah berikan sgala sesuatu yang dibutuhkan manusia baik
aqidah, akhlak dan syariah.

Dua komponen yang pertama aqidah dan akhlak sifatnya konstan dan
tidak mengalami perubahan dengan berbedanya waktu dan tempat. Dan
kompunen yang terakhir “syariah” senantiasa berubah sesuai kebutuhan dan
taraf peradaban ummat, dimana seorang rasul di utus.

Melihat kenyataan ini syariah islam sebagai suatu syariat yang dibawa
oleh Rasul terakhir mempunyai keunikan tersendiri, ia bukan saja
comprehensive tetapi juga universal. Comprehensive berarti merangkum

30
seluruh aspek kehidupan baik ritual (ibadah) maupun sosial (muamalah).
Universal bermakna ia dapat diterapkan dalam setiap waktu dan tempat
sampai akhir nanti.

D. Prinsip Dasar Operasional Bank Islam


1. Prinsip Utama

Islam mengajarkan segala sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi


manusia. Oleh karena itu islam disebut agama fitrah atau yang sesuai
dengan sifat dasar manusia.

a. Prinsip Al-ta’awun, Merupakan prinsip untuk saling membantu


dan bekerja sama antara anggota masyarakat dalam berbuat
kebaikan. Surah Al-maidah (5) ayat 2
b. Prinsip Menghindar Al-ikhtinaz, Seperti membiarkan uang
menganggur dan tidak berputar dalam transaksi yang bermanfaat
bagi masyarakat umum. Dalam perbankan islam dilarang keras
untuk melakukan transaksi apabila terdapat hal-hal sebagai berikut:
a. Gharar, Adanya unsur ketidakpastian atau tipu muslihat dalam
transaksi.
b. Maysir, Yaitu unsur judi yang transaksinya bersifat spekulatif
yang dapat menimbulkan kerugian satu pihak dan keuntungan
bagi pihak lain
c. Riba, Transaksi menggunakan sistem bunga.

Sejak dekade tahun 70-an umat islam diberbagai negaratelah berusaha


untuk mendirikan bank-bank islam . tujuan dari pendirian bank-bank islam
pada umumnya adalah untuk mempromosikan dan mengembangkan aplikasi
dari prinsip-prinsip syariah islam dan tradisinya ke dalam transaksi keuangan
dan perbankan dan bisnis lain yang terkait.

31
Prinsip utama yang dianut oleh bank islam adalah:

1. Larangan riba (bunga) dalam berbagai bentuk transaksi


2. Menjalankan bisnis dan aktivitas perdagangan yang berbasis pada
memperoleh keuntungan yang sah menurut syariah
3. Memberikan zakat

2. Prinsip Operasional Bank Islam


1. Equity financing
A. Produk pembiayaan
Ada dua macam kontrak dalam kategori ini
a. Musyarakah (joint venture profit sharing), Melalui kontrak
ini, dua pihak atau lebih(termasuk bank dan lembaga
keuangan bersama nasabah) dapat mengumpulkan modal
mereka untuk membentuk sebuah perusahaan (syirkah al-
Inan) sebagai sebuah badan hukum (legal entity). Setiap
pihak memiliki bagian secara proporsional sesuai dengan
kontribusi modal mereka dan mempunyai hak pengawas
sesuai dengan proporsinya. Untuk pembagian keuntungan
setiap pihak secara proporsional sesuai dengan kontribusi
modal masing-masing atau ssuai dengan kesepakatan yang
telah ditentukan begitu juga dengan kerugiannya.
b. Mudharabah (trustee profit sharing), Dalam kontrak
mudharabah, hubungan kontrak bukan antara pemberi
modal melainkan antara penyedia dana (shabib al maal)
dengan entrepreneur (mudharib).
a) Debt financing
a. Prinsi jual-beli
1. Al-Murabahah, yaitu kontrak jual beli dimana barang
yang diperjual belikan tersebut diserahkan segera,

32
sedang harga atas barang tersebut dibayar dikemudian
hari secara sekaligus.
2. Al Bai’ Bitsamah Ajil, dimana barang yang diperjual
belikan tersebut diserahkan dengan segera sedang harga
atas barang dibayar dikemudian hari secara angsur.
3. Bai’ As-Salam yaitu kontrak dimana harga atas barang
yang diperjual belikan dibayar dengan segera,
sedangkan penyerahan atas barang tersebut dikemudian.
4. Bai’ Al-Istishna’ yaitu kontrak jual beli dimana harga
atas barang tersebut dibayar lebih dulu tetapi dapat
diangsur sesuai dengan jadwal dan syarat-syarat yang
disepakati bersama.
b. Prinsip sewa-beli, Adalah kontrak yang melibatkan suatu
barang (sebagai harga)dengan jasa atau manfaat atas barang
lainnya.penyewa dapat juga diberikan options untuk
membeli barang yang disewakan tersebut pada saat sewa
selesai.
b) Al-Qard Al-Hasan, Dalam rangka mewujudkan tanggung
jawab sosialnya, bank dapat memberikan fasilitasyang disebut
al-qard al-hasan, yaitu penyediaan pinjaman dana kepada
pihak-pihak yang patut mendapatkannyan. Secara syariah
peminjam hanya berkewajiban membayar kembali pokok
pinjamaannya.
c) produk penghimpun dana (funding)
1) Rekening koran (prinsip simpanan murni al wadi’ah
Jasa rekening dana dalam bentuk rekening koran diberikan
oleh bank islam dengan prinsip al-wadi’ah yad dhamanah,
dimana penerima simpanan bertanggung jawab penuh atas
segala kehilangan atau kerusakan yang terjadi pada aset
titipan tersebut. Bank menerima simpanan dari nasabah
yang memerlukan jasa penitipan dengan kebebasan mutlak

33
untuk menariknya kembali sewaktu-waktu,sehingga bank
memperoleh izin dari nasabah untuk menggunakannya
selama dana tersebut mengendap di bank
2) Rekening tabungan
Bank menerima simpanan dari nasabah yang memerlukan
jasa penitipan dana dengan tingkat keluluasaan tertentu
untuk menariknya kembali berikut kemungkinan
memperoleh keuntungan berdasarkan prinsip wadi’ah.
Bank memperoleh izin dari nasabah untuk menggunakan
dana tersebut selam mengendap.
3) Rekening investasi umum
Bank menerima simpanan simpanan dari nasabah yang
mencari kesempatan investasi dari dana mereka dalam
bentuk rekening investasi umum. Simpanan diperjanjikan
untuk jangka waktu tertentu.
4) Rekening investasi khusus
Bank dapat menerima simpanan dari pemerintah atau
nasabah koperasi dalam bentuk rekening simpanan khusus.
Rekening ini juga dioperasikan berdasar prinsip
mudarhabah,
d) Produk Jasa-jasa
1) Rahn , Akad menggadaikan barang dari satu pihak kepada
pihak lain, dengan uang sebagai gantinya.
2) Wakalah, Akad perwakilan antara dua pihak. Biasanya
untuk penerbitan atau penerusan pemerintah akan barang
dalam negri dari bank di luar negri.
3) Kafalah, Akad jaminan satu pihak kepada pihak lain.
Dalam lembaga keuangan akad ini terlihat dalam
penerbitan generasi bank.
4) Hawalah, Akad pemindahan utang / piutang suatu oihak
kepada pihak lainnya.

34
5) Ji’alah, Suatu kontrak dimana pihak pertama menjanjikan
imbalan tertentu kepada pihak kedua atas pelaksanaan suatu
tugas/ pelayanan yang dilakukan pada pihak kedua untuk
kepentingan pihak pertama.
6) Sharf , Transaksi pertukaran antara emas dan perak atau
pertukaran valuta asing, dimana mata uang asing
dipetukarkan dengan mata uang dosmetik atau dengan mata
uang lainnya. Bank islam sebagai lembaga keuangan dapat
menerapkan prinsip ini. Dengan catatan memenuhi syarat
berikut:
a. Harus tunai
b. Serah terima harus dilaksanakan dalam majelis kontrak
c. Bila dipertukarkan mata uang yang sama harus dalam
jumlah/kuantitas yang sama.

Prinsip-prinsip dasar bank islam secara globalnya sebagai berikut:

1. Islam mengatur semua transaksi ekonomi melalui nilai-nilai


Universal (attandzim) Mudah (alyusru) dan luas (assa’ah). Setiap
transaksi ekonomi harus didasarkan pasa asas kejujuran, keadilan
toleransi, dan suka sama suka baik dalam perdagangan, kerjasama,
ataupun semua aspek ekonomi. Indikasinya dapat dilihat dari
dibolehkannya sistem barter,baik melalui jual-beli, sewa-menyewa,
pegadaian, kerjasama dan lainnya.
2. Islam mengharamkan transaksi yang mengandung unsur
kezaliman, curan dan penipu. Apabila islam telah membolehkan
setiap transaksi ekonomi yang benar berdasarkan keadilan, dan
kejujuran serta bertujuan mencapai kemaslahatan umat, maka disisi
lain islm juga telah mengharamkan setiap treansaksi yang
mengandung unsur kezaliman, kecurangan dan penipuan seperti
monopoli untuk menguasai pasar, menentukan harga seenaknya,

35
jual beli gharar (spekulasi), manipulasi dalam jual beli, sumpah
bohong, mengurangi timbangan dan lainnya.

E. Prinsip Dasar Akuntansi Bank Islam


Laporan akuntansi bank islam terdiri dari:
1. Laporan posisi keuangan/neraca
a. Laporan laba/rugi
b. Laporan arus kas
c. Laporan perubahan modal
d. Laporan perubahan investasi tidak bebas/terbatas
e. Catatan sumber kas laporan keuangan
f. Laporan sumber dan penggunaan zakat
g. Laporan sumber dan penggunaan dana qard/qardul hasan

Beberapa hal yang menonjol dalam akuntansi bank islam:

2. Giro dan tabungan wadiah dicatat dan disajikan sebagai hutang dalam
neraca
3. Rekening investasimudharabah bebas/deposito dicatat/disajikan
sebagai rekening sendiri antara hutang dan modal(bukan hutang).
4. Rekening investasi tidak bebas dicatat teerpisah sebagai dalam bentuk
laporan perubahan posisi investasi tidak bebas
5. Piutang murabahah dicatat sebesar sisa harga jual yang belum tertagih
dikurangi dengan margin yang belum diterima.
6. Investasi mudharabah dan musyarakah disajikan sebesar sisa nilai
modal yang disertakan atau diinvestasikan
7. Aset yang disewakan dicatat sebesar harga perolehan dikurangi dengan
akumulasi penyusutan.
8. Pendapatan pada umumnya diakui secara cash basis, sedangkan beban
tetap secara accrual basis

36
9. Bagi hasil antar mudharib dan sahibul mal dilakukan atas profil loss
sharing atau revenue sharing sedangkan pendapatan bank yang berasal
dari investasi dana sendiri atau dari dana yang bukan berasal dari
rekening investasi sepenuhnya menjadi pendapatan bank.

F. Kebutuhan Operasional Bank Islam


1. Sumber daya manusia
Perbankkan islam dituntut untuk menyiapkan SDM yang memenuhi
syarat untuk menjalankan operasional bank islam.
Adapun hal yang harus dimiliki sebagai berikut:
a) Menguasai kemampuan ganda, yaitu operasional bank
konvensional dan operasional bank islam.
b) Mempunyai track record yang baik dan bersih (beriman dan
bertakwa).
c) Menempatkan SDM sesuai dengan job dan kapasitasnya.
2. Instrumen dan produk bank islam
Untuk menciptakan instrumen dan produk baru bank islam dan
mengembangkannya diperlukan kiat-kiat tertentu yaitu:
a) Meyakini bahwa investasi dan mencari keuntungan adalah
kewajiban bagian dari ibadah sosial
b) Melakukan penelitian dan kajian tentang bentuk-bentuk investasi
yang cocok, unggul dan punya niali strategis untuk bangsa
indonesia.
c) Mengembangkan dan menggunakan instrumen dan produk bank
islam yang ada secara serius dan komprehensif tanpa tanpa
menfokuskan kepada salah satu instrumen tertentu dan
meninggalkan yang lainnya
d) Memoditifikasi dan memperbaharui instrumen dan pruduk bank
yang sudah lama dengan yang sesuai dengan perkembangan
waktu, kompetitif dan unggul dipasar investasi global dan lokal.

37
3. Realitas perbankkan islam indonesia. Pelayanan sosial pada perbankan
islam diindonesia masih sangat terbatas, bahkan dibatasi oleh undang
undang. Dimana bank islam diindonesia tidak boleh melakukan
pelayanan sosial yang selama ini menjadi kewenangan lembaga-
lembaga sosial. Disamping itu istrumen dan produk bank islam masih
banyak mengandalkan sistem murabahah padahal bank islam itu
mempunyai banyak sistem investasi yang lebih unggul dan aman
seperti mudharabah,musyarakah dan lainnya.
4. Tantangan dan permasalahan perbankan islam, Adapun permasalahan
yang dihadapi bank islam sebagi berikut:
1. Terpaku pada pengembangan konsep tanpa memperhatikan
dinamika SDM nya
2. Terbatasnya fatwa MUI sebagai landasan operasional bank islam
3. Terbatasnya lembaga pendidikan yang menyiapkan SDM yang
memenuhi persyaratan khusus yang dibutuhkan serta pertumbuhan
bisnis islam lebih cepat dibandingkan kemampuan menyiapkan
SDM
4. Membatasi instrumen dan produk bank pada bentuk tertentu
sehingga bank-bank islam kesulitan dalam mengembangkannya.
5. Kurang sosialisai dan komunikasi
6. Kurang dukungan pemerintah dan masyarakat

G. Langkah-Langkah Membangun Bank Islam yang Mandiri, Unggul, dan


peluangnya.
1. Meningkatkan sosialisasi bank islam dan komunikasi antar bank islam
dan lembaga-lembaga keuangan islam
2. Mengembangkan dan menyempurnakan institusi institusi keuangan
islam (bank islam) yang telah ada
3. Memperbaiki dan mengkoreksi berbagai regulasi yang ada secara
berkesinambungan

38
4. Melakukan kerja sama dengan bank islam lainnya dan lembaga
keuangan islam, dalam dan luar negri untuk melakukan koordinasi
dalam rangka memperkuat ketahanan ekonomi islam
5. Meningkatkan pelayanan produk-produk bank islam yang selama ini
dianggap lamban dan kaku
6. Meningkatkan kualitas SDM yang memiliki kualifikasi dan wawasan
ekonomi islam yang memadai.

2.7 Manajemen Resiko di Bank Islam


A. Risiko Operasional Bank Islam44

Risiko operasional sangat terkait dengan kegiatan bisnis sehari-hari


bank. Ini lah resiko yang tertua yang dikenal oleh bisnis perbankan dan
bisnis apapun didunia, jauh dibanding lebih awal dibandingkan resiko
keuangan dan resiko non keuangan lainnya. Usia resiko ini mungkin sama
tuanya dengan usia industri perbankan. Sehingga jika digambarkan dalam
suatu siklus, risiko operasional-lah yang menjadi starting point menjadi
destination point dalam siklus resiko tersebut. Banyak penelitian sudah
membuktikan bahwa keberhasilan suatu manajemen bank mengelola risiko
operasional bisa memberi dampak positif terhadap naiknya kualitas dan
stsbilitas earning yang diperoleh bisnis tersebut.

1. Pentingnya Kesadaran Atas Adanya Risiko

Kesadarn terhadap risiko operasional bisa dimulai dengan melihat


potensi faktor pentunya. Faktor ini bisa berasal dari suatu yang terlihat
sepele sehingga suatu yang memang terlihat hubungan listrik dekat
dengan daerah basah dan kemudian menyebabkan kebakaran. Risiko
operasional juga bisa terjadi slah ketik jumlah tabungan atau pembiayaan
yang bisa disetujui atau jumlah pembayaran cicilan debitur.atau, bisa

44
Imam Wahyudi, dkk, manajemen risiko bank islam, (Jakarta: Penerbit Salemba Empat, 2013),
hlm. 131 YULI HIKMA

39
juga muncul karena tidak dipatuhinya tahapan persetujuan kredit (kasus
ini juga yang menyeret direktur salah satu bank dipelat merah tanah air
hingga ke hotel prodeo). Masih terbatasnya sumber daya insani yang
belum terlalu mumpuni secara kualitas maupun kuantitas, dukungan
sistem informasi dan teknologi serta core banking system yang belum
memadai dapat menjaadi pemicu terjadinya risiko operasional. Apalagi
semua ini tidak bisa dijiplak dan diadopsi begitu saja dari apa yang ada
dan telah digunakan pada perbankan konvesional. Tantangan-tantangan
seperti inilah yang sekiranya bisa meningkatkan risiko operasional yang
dihadapi oleh bank islam.

2. Defenisi Dan Cakupan Risiko Operasional Bank Islam

Cakupan risiko operasional sedemikian luasnya. Ia bisa menjadi


awal dan akhir suatu siklus risiko. Untuk itu berbagai pihak telah
mencoba merumuskan apa definisi risiko opeasional dan apa saja
cakupan yang terkandung di dalamnya. Sementara itu, IFSB
mendifinisikan risiko operasional yang dihadapi bank islam lebih dari
sekedar risiko manusia, risiko sistem dan proses internal, serta risiko
karna kejadian eksternal. Namun, juga mencakup risiko kepatuhan atas
ketentuan syariah dan risiko fidusia. Selainnya berpendapat bahwa bank
islam juga dihadapkan pada risiko operasional yang diakibatkan oleh
faktor legal serta reputasi. Masing-masing ini akan menjelaskan pada
bagian berikut ini.

a. Risiko Manusia

jika seorang karyawan mengerjakan pekerjaan sesuia dengan


yang diamanahkan, sekaligus ia telah beperan besar dalam
mengelola risiko operasonal terkait pekerjaannyan sebaliknya,
kelalaian atau kesalahan disengaja yang dilakukan karyawan terkait
pekerjaannya bisa mengarah pada kerugian akibat terjadinya risiko
operasional. Secara umum, risiko operasional akibat faktor manusia

40
bisa terjadi karena dua hal: faktor kesalahan ( human error) dan
faktor pelanggaran ( human fraud). Kesalahan manusia bisa
diakibatkan karena kelalaian, kesalahan pengambilan keputusan
maupun kebingungan karyawan dalam melakukan kegiatan
operasional.

b. Risiko Teknologi

Di era informasi ini, dukungan teknologi mutlak diperlukan


untuk melakukan percepatan operasional, memenuhi kebutuhan
nasabah, serta memenuhi kebutuhan internal bank terhadap
knowledge management. Minimnya infestasi teknologi pada bank
islam menimbulkan akibat yang cukup miris. Masyarakat cenderung
memiliki perspektif bahwa teknologi bank islam masih terbelakang,
kalah jauh dibandingkan bank konvesional.

c. Risiko kepatuhan

Risiko ini bisa disebabkan karena ketidak patuhan bank islam


terhadap aturan yang berlaku, aturan syariah atau maupun regulasi
yang berlaku dimana bank islam beroperasi. Selain aturan formal
tersebut, bank islam juga perlu mematuhi aturan tidak tertulis, seperti
norma yang biasa berlaku pada masyarakat, selama aturan tersebut
tidak bertentangan dengan prinsip syariah islam.

d. Risiko Fidusia

Risiko fidusia terkait dengan bank islam sebagai intermediator


yang salah satu perannya adalah menyalurkan dana berbasis akad
bagi hasil, seperti mudharabah dan musyarakah. Isiko ini timbul pada
saat bank islam gagal memenuhi perjanjian yang telah disepakati
sebelumnya dengan nasabah, karena ketidakpatuhan terhadap syariah
maupun ada kelola dana nasabah. Salah satu hal yang bisa
menunjukan terjadinya risiko ini adalah pergerakan pendapatan atau

41
laba yang sangat fluktuatif atau pemenuhan rasio kecukupan modal
naik turun. Akibatnya bank islam akan mengalami kesulitan dalam
memenuhi fungsi intermediasinya, khususnya pada nasabah deposan.
Bank akan sulit memenuhi kebutuhan penarikan dana giro dan
tabungan wadi’ah atau memberi bagi hasil yang menarik kepada
nasabah tabungan dan deposito mudharabah.

e. Risiko Legal

Risiko legal bisa terjadi saat bank islam atau karyawannya


melakukan tindakan melanggar hukum dan mengakibatkan atau
harus melakukan sejumlah kewajiban sebagai sanksi atas tidak
pelanggaran tersebut. Atau ketika bank islam terlibat kasus hukum
akibat salah menginterprestasikan hukum dan regulasi.

f. Risiko Reputasia

Risiko yang juga dikenal sebagai “ headline risk” atau mungkin


dimasa kini bisa diibaratkan sebagai “twitter risk” ini biasanya tidak
hanya berpotensi menimbulkan kerugian pada bank yang
bersangkutan, namun industri bank secara umum.

3. Indentifikasi Faktor Penentu Risiko Operasional

Dalam mengidentifikasi faktor risiko operasional pada bank islam,


adanya bila kita memahami telebih dahulu bagaimana risiko operasional
diklasifikasikan. Secara umum, risiko operasional bisa dibagi ke dalam
dua kelompok, yaitu risiko operasional berdasarkan faktor penyebab
terjadinya dan berdasarkan frekuensi serta dampak terjadinya.
Berdasarkan penyebab terjadinya, risiko opeasional dapat disebabkan
oleh faktor internal dan eksternal. Contoh dari faktor internal ini adalah
kesalahan atau pelanggaran yang dilakukan oleh karyawan, manipulasi
laporan keuangan, pelanggaran aspek legal secara disengaja, kesalahan
dalam sistem IT, inovasi produk yang tidak tepat, dan ketidakpatuhan

42
terhadap syaiah. Risiko jenis ini biasanya lebih dapat diterka probalitas
terjadinya.

4. Pengukuran Risiko Operasional Bank Islam

Proses identifikasi risiko operasional dipersepsikan sebagai suatu


yang memakan waktu lama dan cenderung membingungkan jika tidak
dilakukan secara matang,maka pengukuran risiko akan sulik dilakukan.
Potensi kerugian bisa diakibatkan oleh resiko operasional menjadi sulit
untuk dihitung, maka penyisihn modal yang harus disiapkan bank untuk
meredang rugi tersebut menjadi sulit ditentukan. Ada tiga kelompok
akibat risiko operasional, yakni kerugian yang perlu dibayarkan kepada
pihak ekstarnal, kerugian penurunan aset bank akibat dampak risiko,
serta kerugian untuk mengembalikan keadaan seperri sebelum saat
resiko terjadi. Perhitungan risiko oprasional bisa diukur dengan
mengklafikasikan risiko oprasional yang bisa diekspektasikan dan yang
tidak bisa diekpektasikan. kerugian yang bisa diekpektasikan pada
umumnya sudah diantisipasi manjemen dengan memasukakannya pada
pricing yang akan dkenakan pada klien.

5. Membangun Sistem Manajemen Risiko Oprasional

Untuk itu bank islam perlu memiliki kerangka kerja khususnya


terkait manajemen risiko oprasional, setidaknya ada delapan aspek yang
harus diperhatikan dalam menyusun kerangka kerja ini yaitu:
penyusunan kebijakan manajemen risiko oprasional, pengdentifikasian
risiko oprasional penyususan skema proses bisnis, penentuan
perhitungan risiko oprasional yang tepat digunakan, penentuan kebijakan
mitigasi risiko oprasional, penentuan bagaimana melaporkan dan
menyajkan manajemen risiko oprasional tersebut pada pihak yang
memerlukannya.

43
B. Risiko Kepatuhan Syariah45
1. Syariah Bank Islam Saat Ini

Diantara isu yang diangkat adalah kemiripan produk bank islam


dengan bank konvesional, independensi, integritas dan kecakapan dewan
bank syariah. Di tengah pesatnya perkembangan bank islam dan makin
beratnya tantangan kompetisi di industri perbankan, menyebabkan isu
kepatuhan syariah menjadi sangat penting untuk diangkat dan di
pertanyakan. Secara filosofis dan ideologis, perbankan islam di dirikan
atas dasar prinsip syariah, bertujuan meniadakan segala bentuk
kdhalima, terutama transaksi ribawi, dan melopori berdirinya sistem
ekonomi berasaskan keadilan.

2. Pinsip Dasar Keuangan Dan Ekonomi Islam

Sistem keuangan bertugas memastikan bahwa aliran dan alokasi


dana antar setiap pelaku ekonomi berjalan dengan efektif dan efisien.
Sistem keungan konvensional berbasis ribawi (sistem bunga) sering kali
gagal dalam menjalankan tugasnya secara efektif dan efisien. Dalam
sistem keuangan islam, kondisi ini tidak akan terjadi. Setiap pelaku
ekonomi, surplus maupun defisit memiliki kedudukan yang sama.

3. Syariah Sebagai Prinsip Dan Ruh Dalam Berbisnis


 Makna Islam dan Kosekuensinya

Isalam secara bahasa bermakna ketundukan, ketataan,


kepatuhan, dan penyerahan diri seorang hamba kepda sang pencipta,
yaitu allah Azza wa Jalla. Hal tersebut berdasarkan firman allah
ta’ala kepada Nabi ibrahim alaihis salam, artinya: ‘’Ingatlah ketika
tuhannya berfirman kepadanya: ‘’Tunduk patuhlah!’’ Ibrahim
menjawab: ‘’Aku tunduk patuh kepada tuhan semesta alam’’.

45
Imam Wahyudi, dkk, manajemen risiko bank islam, (Jakarta: Penerbit Salemba Empat, 2013),
hlm. 143 YULI HIKMA

44
Konsekuensi logis dari makna islam tersebut adalah sikap
penerimaan mutlak atas segala penerima segala ketetapan allah
Ta’ala. Tidak ada rasa enggan dan berat hati dalam menerima segala
ketetapan allah Ta’ala, sebagaimana firmannya dalam surat an nisa
ayat 65 yang artinya: ‘’Maka demi tuhanmu, mereka ( pada
hakikatnya) tidak beriman hingga mereka mereka menjadikan kamu
hakim terhadap perkara yang mereka perselisikan, kemudian mereka
tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan
yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.’’
Bentuk kongret dari penyerahan diri kepada allah Ta’ala adalah
segera mungkin menjalankan segala yang diperintahkannya dan
menjauhi segala yang dilarang.

 Makna dan Tujuan Syariah Islam

Secara istilah, syari’ah berarti peraturan, undang undang dan


hukum, serta jalan yang jelas dan terang. Allah Ta’ala sebagai
pencipta manusia tentu lebih mngetahui apa- apa yang
mendatangkan maslahat (kebaikan) dan mudorat (keburukan) bagi
manusia. Allah Ta’ala mengutus para rasul daan menurunkan kitab
suci untuk memberikan panduan kehidupan bagi manusia untuk
kebaikan manusia sendiri, bukan untuk mengekang dan
menyesarangkan manusia.

 Kedudukan Harta dalam Islam

Memang benar bahwa harta adalah urusan duniawi. Harta pada


asalnya berhukum mubah. Namun, terlena terhadap harta dan
melupakan akhirat akan melanggar larangan allah ta’ala. Allah
berfirman dalam surat yunus ayat 7-8, artinya: Sesunggunya orang
prang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan
dengan kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa
tentram dengan kehidupan itu dan orang orang yang melalaikan ayat

45
kami, mereka itu tempatnya dineraka, disebabkan apa yang mereka
jalankan. Meskipun harta bukanlah tujuan utama setiap muslim,
harta merupakan salah satu pendukung kehidupan manusia di muka
bimi ini. Betapa bayaknya konfik kezaliman, pembunuhan, perang
saudara, dan ketidakadilan terjadi kaena masalah harta. Termasuk di
antaranya adalah berbagai keburukan yang ada dalam sistem
keuangan konvesional di sebabkan karena masalah harta, yaitu:
berpindahnya harta dengan cara yang batil, tidak halalnya cara cara
yang digunakan untuk memperoleh harta, alokasi harta (dana) yang
tidak efektif dan efisien, dan lain sebagainya.

 Muamalah sebagai Sarana Perpindahan Harta

Kepemilikan harta oleh individu diperolehkan dalam syariat


islam asalkan diperoleh dengan cara yang halal dan sesuai syriat.
Manusia dapat memperoleh dapat memperoleh harta melalui
berbagai aktivitas mua’malah, yakni interaksi antarmanusia. Manusia
diberikan lapangan seluas luasnya untuk melakukan interaksi
mua’malah selama tidak ada dalil yaang melarangnya.

4. Berbagai Larangan Dalam Muamalah


 Riba

Riba secara bahasa az-ziyadatu/tambahan dan fadhlu/


kelebihan. Secra istilah, riba adalah tambahn khusus yang dimiliki
salah satu dari dua pihak yang terlibat tanpa ada imbalan tertentu.
Terdpat tiga makna dalam defenisi tersebut:

1. Tambahan kuantitas dalam penjualan aset yang tidak


diperolehkan adanya perbedaan kuantitas.
2. Tambahan waktu penyerahan barang atas jual beli aset yang
mengharuskan serah terima lansung.

46
3. Tambahan pembayaran utang yang harus dibayar akibat
tertundanya waktu pembayaran

 Maysir (judi)

Secara bahasa gimar maysir adalah setiap aktivitas yang


mengandung ‘’taruhan’’, di mana yang menang akan mengambil
seluruh taruhan dan yang kalah akan kehilngan taruhannya.
Setidaknya ada tiga unsur suatu transaksi dikategorikan sebagai
maysir. Pertama ada pihak yang bertaruh. Pihak yang betaruh
sekaligus menjadi peserta dari sistem taruhan tersebut. Kedua,
adanya sesuatu yang dipertaruhkan. Ketiga, siapa yang menang
(yang akan memperoleh taruhannya) ditentukan melalui undian atau
permainan.

 Gharar (Ketidakjelasan)

Secara bahasa, gharar bermakna ‘’khatar’’, yakni mengandung


bahaya atau bermakna kaidah yakni menipu.gharar adalah segala
bentuk transaksi yang terkandung didalamnya unsur jahalah (ketidak
jelasan) atau taruhan/ judi. Rasullah secara tegas dan jelas melarang
setiap bentuk gharar.

 Tadlis (Penipuan)

Gharar terjadi secara alamiah. Tidak ada rekayasa dari pihak


pihak bertransaksi untuk menyembunyikan informasi, terkait cacat
barang, kualitas dan kuantitas barang. Ketidaksempurnaan informasi
yang menyebabkan ketidakjelasan (gharar) terjadi secara alami.
Ketika salah satu pihak merekayasa atau menyengaja
menyembunyikan informasi, maka disebut dengan dadlis (penipuan).

 Melakukan Kezaliman dan Pemaksaan

47
Segala bentuk kedhaliman terlarang dalam islam. Kedhaliman
bisa kepada allah ta’ala, seperti buat sirik, bermaksiat, tidak
menjalankan perintahnya, dan tidak menjauhi larangannya.

5. Mengapa Bank Islam Harus Patuh Pada Syariah Islam Dalam


Menjalankan Bisnisnya

Syariat islam diturunkannya untuk terciptanyan kemaslahatan bagi


umat manusia. Ketika umat islam ditinggalkan, yang terjadi adalah
maraknya kemudaratan. Kezaliman dan ketidakadilan ada dimana mana.
Bak islam, institusi perbankan yang melabelkan namanya dengan islam,
sudah seharusnya tunduk dan patuh terhadap segala ketentuan syariat
islam yang mengatur berbagai transaksi mu’amalah. Dengan ketundukan
dan kepatuhan secara mutlak terhadap syariat islam, maka kemaslahatan
dan sistem keuangan pasti dan akan terujud. Sesungguhnya, masyarakat
indonesia yang mayoritas muslim sangat menantikan hadirnya institusi
perbankan yang benar benar berlandaskan syariat islam. Masyarakat
konvesionel.

6. Kepatuhan Syariah Harus Melekat Pada Berbagai Level Kebijakan


Dan Proses Manajemen Bank Islam

Islam merupakan aturan yang menyeluruh dan terintegrasi.


Meskipun secara khusus suatu perkara itu termasuk dalam bagian
mu’amalah, namun secara umum hal tersebut mencakup juga masalah
akidah, ibadah,akhlak, dan lain sebagainya. Misalnya dalam jual beli,
keyakinan atas kehalalan jual beli dan keharaman riba merupakan
masalah akidah. Jual beli merupakan urusan ibadah ketika diniatkan
untuk mencari nafkah dari rezeki allah yang halal dan baik menghindari
yang haram karn allah.

7. Urgensi Dsn-Mui Dan Keberdaan Dps Di Bank Islam


a. DPS dan Interaksi dengan SDN-MUI

48
Bank islam harus menjadikan syariat islam sebagaai landasan
kegiatan operasional perbankan islam. Bank islam wajib untuk
tunduk terhadap semua ketentuan syariat islam yang terkait
muamalah. Oleh karna itu, diperlukan adanya satu komponen
tambahan dalam tata kelola bank yang berfungsi memastikan bahwa
setiap aktivitas bak islam, terutama aktivitas keuangan, telah
menjalankan syariat islam secara penuh dan konsisten. Menurut UU
No. 21 Tahun 2008 tentang perbankan syariah, setiap bank islam di
indonesia, bank umum syariah (BUS) maupun unit usaha syariah
(UUS),wajib membentuk dewan pengawas syariah (DPS) yang
bertugas untuk memberikan nasihat serta saran kepada direksi serta
mengawasi kegiatan bank agar tidak melenceng dari prinsip syariah.

b. DSN-MUI pada Sitem Perbankan Islam di Indonesia

Dalam menetapkan fatwa, SDN-MUI minimal satu bulan sekali


mengadakan rapat pleno. Bisa saja masalah yang dibawa kesidang
pleno berasal dari permintaan pihak eksternal, dan diskusi berbagai
perkara yang hangat dibicarakan masyarakat. Proses internal ini
biasanya di lakukan melalui rapat internal setiap minggu.

c. Urgensi DPS sebagai Jembatan Regulasi dan Fatwa

Salah satu cara yang dapat digunakan untuk menyelesaikan


permasalahan di atas adalah dengan mengoptimalkan peran DPS
sebagai pihak yang lansung bersentuhan dengan aktivitas yang islam
yang menjadi tanggung jawabnya. Oleh karna itu, DPS harus diisi
oleh orang orang yang memiliki kopentensi syariah, keuangan, dan
perbankan yang kuat sehingga proses uji kelayakan setiap produk
perbankan bisa berjalan dengan ketat. Meskipun fatwa yang
ditetapkan oleh DSN-MUI masih bersipat umum, DPS dapat
menggunakan pemgetahuan dan kompentensi yang dimilikinya

49
untuk menilai kelayakan produk perbankan islam dengan skema
akaad yang rumit.

8. Dps dan Audit Kepatuhan Syariah Sebagai Sebuah Kerangka Syariah

Dalam menjalankan tugasnya, DPS dapat bersipat aktif atau


responsif. DPS seharusnya secara aktaif melakukan supervisi,
mengumpulkan data, melakukan koreksi terhadap berbagai temuan
ketidakpatuhan syariah pada subuah bank islam. DPS bersipatresponsif
dan berkontribusi aktif ketika bank islam, dimana ia berada, hendak
mengeluarkan produk baru atau masuk ke kini bisnis baru sehingga
membutukan pedoman operasional yang baru.

9. Proses Identifikasi Risiko Kepatuhan Syariah


a. Definisi dan Cakupan Risiko Kepatuhan Syariah

Dengan demikian proses identifikasi resiko kepatuhan syariah


pada bank islam dapat dilakukan dengan cara:

1. Me-review kesesuaian aktivitas bisnis yang tercermin dalam


akad/kontrak dengan tujuan syariah.
2. Mengidentifikasi adanya pelanggaran prinsip prinsip syariah
pada keseluruhan aktivitas bisnis perbankan islam.
3. Memeriksa kelengkapan pemenuhan rukun dan syarat pada
setiap akad/ kontrak yang dibuat oleh bank islam.
b. AAOIFI dalam Audit Kepatuhan Syariah Bank Islam

Dalam menjalankan tugasnya, DPS dapat bersipat aktif atau


responsif. DPS seharusnya secara aktif melakukan supervisi,
mengumpulkan data, mengnalisis, dan melakukan koreksi terhadap
berbagai temuan ketidakpatuhan syariah pada sebuah bank islam.

c. Berbagai Pendepatan Audit Syariah

50
Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, resiko kepatuhan
institusi perbankan islam setidaknya mencakup dua hal, yaitu aspek
legal dan syariah. Agar mendapatkan hasil yang komprehensif,
proses audit syariah dapat melakukan dengan mengombinasikan
beberapa pendekatan, yaitu pendekatan halal-haram, pendekatan
atad, pendekatan dokumen legal, pendekatan magashidul al-sharia,
dan pendekatan laporan keuangan. Dalam pandua risiko ketidak
patuhan syariah. Hal tersebut disebabkan oleh sulitnya pengukur dan
memperoleh data terkait pelanggaran kepatuhan syariah. Karena
resiko ketidakpatuhan prinsip syariah merupakan bagian dari risiko
operasional bank islam, IFSB hanya menetapkan cadangan modal
untuk risiko operasional secara keseluruhan saja.

2.8 Masalah Bank Syariah


Terdapat 7 masalah yang menjadi tantangan oleh perbankan syariah:
1. Kurangnya sinergi antara OJK dan pemerintah dalam
membangun industry keuangan syariah
2. Modal perbankan syariah
3. Biaya dana perbankan syariah yang mahal
4. Produk bank syariah yang tidak variatif dan belum dapat
diakses masyarakat
5. Kualitas SDM di perbankan syariah yang kurang memadai
6. Pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang perbankan
syariah yang masih kurang
7. Pengawasan perbankan syariah yang masih harus ditingkatkan

51
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Bank Syariah adalah bank yang kegiatan usahanya dilakukan berdasarkan
prinsip syariah. Sedangkan prinsip syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan
hukum Islam” (UU No. 21/2008 ttg Perbankan Syariah).
Bank Islam atau selanjutnya disebut dengan Bank Syariah, adalah bank
yang beroperasi dengan tidak mengandalkan pada bunga. Bank syariah juga dapat
diartikan sebagai lembaga keuangan/perbankan yang operasional dan produknya
dikembangkan berlandaskan Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW
Dalam keuangan syariah menekankan pentingnya keselarasan aktivitas
keuangan dengan norma dan tuntunan syariah. Aturan terpenting dalam kegiatan
keuangan syariah adalah pelarangan riba (memperanakan uang dan mengharapkan
hasil tanpa menanggung risiko). Ahli fiqh menilai ini sangat kental eksistensinya
dalam aktivitas keuangan konvensional.

3.2 Saran
Tentunya, makalah ini jauh dari kesempurnaan karena akan ditemukan
banyak kelemahan atau bahkan kekeliruan, baik dalam kepenulisan ataupun
penyajian. Oleh karena itu, penulis berharap adanya masukan dari para pembaca
sehingga kedepan mampu lebih baik dalam penyelesaiannya

52
DAFTAR PUSTAKA

Adiwarman, A. Karim, 2014, Bank Islam: Analisis Fiqih dan Keuangan, Jakarta :
PT. Raja Grafindo Persada

Wahyudi, Imam dkk, 2013, Manajemen Risiko Bank Islam, Jakarta :Salemba
Empat
http://repository.uinsu.ac.id/473/7/BAB%20IV.pdf

Bank Syariah : Gambaran Umum, (Jakarta : Pusat Pendidikan dan Studi


Kebanksentralan (PPSK) BANK INDONESIA, 2005),

53