Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN

TRANSPORT AIR DAN TRANSPIRASI PADA TUMBUHAN

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Fisiologi Hewan dan Manusia


Yang Diampu Oleh Prof.Dra. Herawati Susilo, M.Sc., Ph.D.dan
Rahmi Masita, S.Si., M.Sc.

Disusun Oleh:
Kelompok 3/Pendidikan Biologi/Offering A

Alfian Ramahana (170341615101)


Alfia Nur Anisa (170341615060)
Bela Mulia W. (170341615024)
Fadilah Eka W. (170341615061)
Fikri Syahir R. (170341615037)
Mileni Umi R. (170341615023)

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN BIOLOGI
OKTOBER 2018
A. DASAR TEORI

Proses penyerapan air dan mineral dari dalam tanah dilakukan oleh
bulu-bulu akar dan berlangsung secara difusi dan osmosis. Proses
penyerepan air oleh akar tumbuhan harus terjadi setiap saat, hal itu di
lakukan agar tumbuhan dapat selalu menjaga tekanan osmotik selnya agar
lebih tinggi dibandingkan dengan tekanan osmotik air tanah. Sistem
pengangkutan pada tumbuhan dibedakan menjadi dua macam yaitu
pengangkutan ekstravasikuler dan pengangkutan intravasikuler.
Pengangkutan ekstravasikuler merupakan pengangkutan air dan mineral
yang berlangsung di luar berkas pengangkutan. Pengangkutan itu
berlangsung dengan dua cara: yaitu secara apoplas (berlangsung melalui
ruang-ruang antar sel) dan simplas (berlangsung melalui sitoplasma
dengan bantuan plamodesmata). Pada perpindahan dari korteks ke
endodermis dan endodermis menuju ke perisikel yang berlangsung secara
transport aktif. Sedangkan pengangkutan intravasikuler pengankutan zat
melalui berkas pengangkut yaitu oleh xilem disebut transportasi.
(Firmansyah, dkk., 2007).
Selain itu penyerapan air juga disebabkan oleh sifat selektif
permeabel pada membran sel tumbuhan, yakni kemampuan dinding atau
selaput sel untuk menyelesaikan cairan yang hendak masuk ke dalam sel.
Pengambulan garam-garam-garam mineral oleh akar disebabkan oleh
proses transport aktif., karena proses pengangkutan ini memerlukan energi
(Herlina, 2008).Keadaan yang demikian dapat dijelaskan bahwa kondisi
lingkungan dalam jangka waktu yang relatif lama dapat mempengaruhi
jumlah stomata terkait dengan proses transpirasi. Intensitas cahaya tinggi
pada waktu siang hari akan meningkatkan suhu daun tanaman
(Anggarwulan et al, 2008).
Peningkatan suhu yang berlebihan dapat mengganggu proses
metabolisme tanaman dan dalam waktu lama dapat menyebabkan daun
terbakar. Dalam adaptasinya tanaman akan meningkatkan jumlah stomata
agar proses transpirasi menjadi optimal. Transpirasi berfungsi untuk
menjaga stabilitas suhu daun, menjaga turgiditas sel tumbuhan agar tetap
pada kondisi optimal dan mempercepat laju pengangkutan unsur hara
melalui pembuluh xilem (Lakitan, 2004).
Kehilangan uap air dari bagian tumbuhan dinamakan transpirasi.
Transpirasi kebanyakan terjadi saat stomata membuka. Beberapa faktor
lingkungan dapat mempengaruhi laju transpirasi. Cahaya menyebabkan
peningkatan laju transpirasi, memicu terbukanya stomata dan
meningkatkan suhu daun. Transpirasi memberi beberapa keuntungan
yaitu, berperan mengatur pergerakan air dalam tubuh tanaman dan
menyuplai mineral yang dibutuhkan tanaman. Air yang dipakai dalam
transpirasi sebenarnya berasal dari dalam tanah. Air tersebut tidak berupa
air murni tentunya tetapi juga memiliki kandungan ion terlarut. Mineral
terlarut yang bercampur air tadi lalu ditranspor melalui xilem melewati
tubuh tanaman termasuk daun. Air akhirnya keluar melalui transpirasi
tetapi mineral-mineral yang terbawa bersama air tadi tetap tinggal di tubuh
tanaman tersebut (Berg, 2008).
Transpirasi terjadi melalui evaporasi. Evaporasi adalah proses
mendinginkan air. Selama transpirasi terjadi air menguap menjadi uap air
melalui lubang pada dinding sel mesofil, epidermal dan sel penjaga dan
kemudian berdifusi keluar dari daun. Uap air tersebut membawa panas
dari tubuh tumbuhan ke lingkungan, dan mencegah tumbuhan tersebut
mengalami panas yang berlebihan (Nobel, 2009). Banyak cara untuk
mengukur laju transpirasi tanaman antara lain, dengan metode
penimbangan, dengan alat transpirofotometer, dan dengan menggunakan
kertas kobalt klorid.
B. TUJUAN
1. Mengetahui jaringan yang berperan dalam penyerapan air
2. Mengukur kecepatan dengan metode penimbangan langsung tiap luas daun
3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan transpirasi

C. ALAT DAN BAHAN


ALAT
1) Beaker glass 250 ml
2) Timbangan
3) Botol 100 cc
4) Silet
5) Penggaris
6) Mikroskop
BAHAN
1) Tumbuhan Pacar Air
2) Pewarna merah untuk makanan
3) Vaselin
4) Akuades
5) Kertas
6) Plastik
7) Sterofoam
D. PROSEDUR KERJA
Transpirasi

Dipotong akar tanaman pada pangkal batang

Botol diisi dengan air sebanyak 100ml

Dimasukkan tanaman ke dalam botol berisi air

Tanaman dimasukkan ke dalam botol selama 30 menit

Diberi plastisin pada bagian leher botol untuk mencegah penguapan dan supaya
tanaman dalam posisi tegak

Botol berisi tanaman ditimbang

Botol berisi tanaman ditimbang dan dicatat beratnya

Botol diletakkan di dekat jendela

Pada saat menit ke 15 dan 30, botol ditimbang dan di catat beratnya

Semua daun pada batang dilepas

Semua daun ditimbang dan di catat hasilnya

Salah satu daun digambar pada kertas yang sudah diberi garis kotak-kotak

Daun yang sudah digambar kemudian dipotong menjadi persegi dengan ukuran
1x1cm

Daun yang sudah di potong persegi ditimbang dan dicatat hasilnya


E. HASIL DAN ANALISIS PENGAMATAN

1.1 HASIL PENGAMATAN

Tabel 1.1 Perhitungan Transport Air

Panjang batang yang Pengamatan


terwarnai (cm) (dari Diameter batang (cm) persebaran
pangkaal bawah) warna pada
No
irisan
Sebelum Setelah Sebelum Setelah
melintang
perlakuan perlakuan perlakuan perlakuan
batang
Warna
merah
menyebar
1. 0 cm 5,6 cm 0,9 cm 0,9 cm
pada
pembuluh
xilem

Tabel 1.2 Perhitungan Kecepatan Transpirasi

Metode penimbangan langsung Selisih Luas total


Setelah perlakuan (mg) berat daun yang
Sebelum
No tanaman melakukan
perlakuan
15 menit 30 menit (Δ) (mg) transpirasi
(mg)
(cm3)
1. 258,1 258,0 257,8 0,3 280
2. 262,3 262,1 261,8 0,5 900
*Nb: 1 = Tanaman ternaungi, 2 = Tanaman terkena cahaya

Luas total daun dihitung dengan rumus = a/b cm2

Keterangan:

a = berat seluruh pola daun


b = berat potongan kertas

1.2 ANALISIS DATA

Berdasarkan pengamatann transport air pada tanaman pacar air


(Impatiens balsamina) didapatkan pertambahan panjang batang tanaaman
yang terwarnai oleh pewarna yang diberikan. Sebelum batang tanaman
pacar air (Impatiens balsamina) dicelupkan kedalam pewarna mula-mula
batang yang terwarnai adalah sepanjang 0 cm sedangkan setelah
perendaman batang tanaman pacar air (Impatiens balsamina) selama 30
menit, didapatkan bagian batang yang terwarnai pewarna adalah sepanjang
5,6 cm terhitung dari pangkal batang bawah tanaman.
Pada pengamatan berikutnya yaitu pengukuran diameter batang
tanaman pacar air tidak didapati pertambahan diameter batang. Ukuran
sebelum dan sesudah perlakuan sama yaitu sebesar 0,9 cm. Untuk
pengamatan persebaran warna pada irisan melintang batang tanaman pacar
air, didapati bahwasannya persebaran warna menyebar pada pembuluh
xilem tanaman.
Pada percobaan kedua yaitu pengamatan tentang perhitungan
kecepatan transpirasi tanaman pacar air (Impatiens balsamina) dengan
metode penimbangan langsung dilakukan dua jenis percobaan yaitu
percobaan pada tanaman yang ternaungi dan tanaman yang terkena cahaya
matahari. Berat mula-mula pada percobaan tanaman yang ternaungi
didapatkan berat sebesar 258,1 mg. Setelah 15 menit perlakuan, didapati
penurunan berat tanaman yaitu menjadi 258,0 mg. Sedangkan pada 30 menit
perlakuan, didapati penurunan berat tanaman lagi yaitu menjadi 257,8 mg.
Berdasarkan rumus perhitungan, didapati luas daun yang melakukan
transpirasi pada tanaman yang ternaungi adalah sebesar 280 cm3.
Pada percobaan selanjutnya yaitu pengamatan kecepatan transpirasi
pada tempat yang terkena cahaya matahari berat mula-mula tanaman adalah
sebesar 262,3 mg. Setelah 15 menit pertama perlakuan, didapati penurunan
berat tanaman yaitu menjadi 262,1 mg. Sedangkan setelah 30 menit
perlakuan terjadi penurunan berat tanaman lagi yaitu menjadi 261, 8 mg.
Berdasarkan rumus perhitungan, didapati luas daun yang melakukan
transpirasi pada tanaman yang terkena cahaya matahari adalah sebesar 900
cm3.

F. PEMBAHASAN

Transportasi
Pada tumbuhan pacar air yang telah dicelupkan ke larutan warna
sedalam 30 cm, terjadi peningkatan panjang selama proses transportasi
dengan rentang waktu 30 menit setelah dicelupkan terjadi pemanjangan
warna merah batang yang semula 0 cm menjadi 5,6 cm. Hal tersebut
dikarenakan gerak kapilaritas tumbuhan serta daya hisap daun untuk
melakukan transpirasi. Peningkatan panjang warna merah pada batang
yang menandakan adanya transportasi pemindahan air dari lingkungan ke
sistem. Pemindahan zat warna tersebut terfasilitasi oleh berkas pempuluh
xylem yang berfungsi untuk mengangkut zat penting yang dibutuhkan oleh
tumbuhan dari akar menuju ke daun. Proses tersebut merupakan
pengangkutan intravasikuler pengankutan zat melalui berkas pengangkut
yaitu oleh xilem disebut transportasi. (Firmansyah, dkk., 2007). Dengan
adanya pengangkutan zat warna dari xylem membuat bertambahnya
panjang warna pada batang serta adanya zat warna merah yang menyebar
disekitar jaringan berkas pengangkut. Hal ini berkaitan dengan teori
Fitther dan Hay (1991) yang menyatakan bahwa kecepatan perjalanan zat-
zat terlarut melalui xilem dipengaruhi oleh kegiatan transpirasi, dan
perjalanan transportasi serta fotosintesis. Jaringan xilem dan floem yang
berada di batang pacar air tersebut bekerja (melakukan trasnportasi)
menyalurkan zat yang dibutuhkan dalam fotosintesis ke seluruh bagian
tumbuhan terutama daun.
Pada tumbuhan pacar air yang telah dicelupkan ke larutan warna
sedalam 30 cm, terjadi peningkatan panjang proses transportasi selama 30
menit setelah dicelupkan tidak terjadi pemanjangan diameter batang. Hal
ini dikarenakan dinding sel tumbuhan menjaga diameter batang agar tetap
pada tekanan dan bentuk yang stabil/kosntan. Jadi proes pengangkutan air
tidak mempengaruhi diameter batang daun.
Transpirasi

Pada tumbuahan pacar air yang terkena angin dan terkena cahaya
matahari di dekat candela selisih berat tenaman lebih besar daripada
tumbuhan pacar air yang ternaungi (Kontrol). Hal ini dikarenakan air yang
menguap ke udara dipengaruhi oleh aktifitas angin dan intensitasitas
cahaya. Penguapan air tersebut disebabkan oleh aktivitas stomata. Stomata
yang terletak pada daun tepatnya di epidermis yang memungkinkan
adanya pertukaran gas antara udara luar dengan mesofil (Salisbury dan
Ross,1992). Air akan menguap melalui dinding epidermis dan mesofil
yang berada di dekat stomata. Angina dan intensitas cahaya
memperngaruhi aktifitas menutup dan terbukanya stomata. Intensitas
cahaya menyebabkan peningkatan laju transpirasi, memicu terbukanya
stomata dan meningkatkan intensitas penguapan daun.
Ketika intensitas cahaya tinggi maka suhu di sekitar permukaan
daun ikut meningkat sehingga mengakibatkan terbukanya stomata yang
berakibat pada tingginya penguapan. Sementara faktor angin memicu
menurunnya laju transpirasi, kelembaban permukaan daun menurun dan
suhu permukaan ikut menurun sehingga membuat menutupnya stomata
yang berakibat menurunnya intensitas penguapan. Hal tersebut
membuktikan bahwa semakin besar intensitas cahaya laju transpirasi akan
naik, sebaliknya semakin besar intensitas angin laju transpirasi akan
semakin turun. Laju transpirasi juga memperuhi luas total daun, karena
ketika proses penguapan terjadi permukaan daun akan mengalami
pemuaian yang maksimal untuk menunjang penguapan air yang optimal.
Fungsi dari penguapan yang optimal adalah menjaga suhu dalam tubuh
tumbuhan agar tetap stabil. Uap air akan membawa panas dari tubuh
tumbuhan ke lingkungan, dan mencegah tumbuhan tersebut mengalami
panas yang berlebihan. Selain itu fungi dari penguapan adalah
menyeimbangkan kadar air dalam tubuh tumbuhan.
G. KESIMPULAN

1. Jaringan yang berperan dalam transpor air pada tumbuhan adalah jaringan
pengangkut. Xilem dan floem sangat berperan bagi transpor air dari dalam
tanah dan kemudian menyebarkannya ke seluruh bagian tumbuhan.
2. Pengukuran dengan metode penimbangan langsung tiap daun dapat
dilakukan dengan rumus

Perhitungan luas permukaan daun = a/b cm2

3. Kegiatan transpirasi dipengaruhi oleh banyak faktor, baik faktor dalam


maupun faktor luar, yang termasuk sebagai faktor dalam yaitu besar
kecilnya daun, tebal tipisnya daun, berlapiskan lilin/tidaknya permukaan
daun, dan bentuk serta lokasi stomata. Faktor-faktor luar yang
mempengaruhi transpirasi yaitu, sinar matahari, temperatur, kelembapan
udara, angin, dan keadaan air di dalam tanah.
DAFTAR RUJUKAN

Anggarwulan, Endang et al. 2008. Karakter Fisiologi Kimpul (Xanthosoma


Sagittifolium (L.) Schott) Pada Variasi Naungan Dan Ketersediaan
Air. Biodiversitas, 9 (4). 264-258.

Berg JM, Tymoczko JL, Stryer L. 2008. Biochemistry 7th edition. New York: W. H.
Freeman.

Firmansyah, R. , Mawardi, A. dan , Riandi, M. U. 2007. Mudah dan Aktif Belajar


Biologi. Bandung: PT Setia Purna Inves.

Fitther, A dan R. Hay, 1991. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Yogyakarta:


UGM Press
Herlina, Rose. 2008. Intisari IPA (Biologi) SMP. Jakarta: PT Kawan Pustaka.

Lakitan, B. 1993. Dasar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Nobel, B. dan Ross, C. 2009. Fisiologi Tumbuhan jilid 2. Bandung: ITB

Salisbury,Frank B.alih bahasa Dr. Diah R Lukman dan Sumariono.1992. Fisiologi


Tumbuhan jilid 1. Bandung: ITB.
LAMPIRAN

1. Transport Air
NO. Keterangan
Perlakuan

1 Pengukuran
diameter
sebelum proses
perendaman
dengan larutan
warna merah
selama 30
menit

2 Pengukuran
diameter
sebelum proses
perendaman
dengan larutan
warna merah
selama 30
menit
3 Perendaman
dengan larutan
warna merah
selama 30
menit untuk
mengetahui
jaringan yang
berperan dan
kecepatan
transportasi air
dan

4 Pengamatan
mikroskopik
irisan
melintang
batang tanaman
pacar air yang
sudah direndam
dengan larutan
merah

2.Transpirasi
NO. Perlakuan Keterangan

1 Penimbangan
berat
botol+air+
tanaman
sesudah
perlakuan pada
tanaman
kontrol

Penimbangan
berat
botol+air+
tanaman setelah
perlakuan pada
tanaman
perlakuan

3 Penimbangan
keseluruhan
daun pada
tanaman
kontrol