Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pengertian medis menyatakan trauma atau perlukaan adalah hilangnya diskontinuitas dari
jaringan. Dalam pengertian medikolegal, trauma adalah pengetahuan tentang alat atau benda
yang dapat menimbulkam gangguan kesehatan seseorang. Artinya orang yang sehat, tiba-tiba
terganggu kesehatannya akibat efek dari alat atau benda yang dapat menimbulkan
kecederaan.1
Trauma atau luka mekanik terjadi karena alat atau senjata dalam berbagai bentuk, alami
atau dibuat manusia. Senjata atau alat yang dibuat manusia seperti kampak, pisau, panah,
martil dan lain-lain. Secara garis besar, trauma mekanik dibagi menjadi dua yaitu trauma
tumpul dan trauma tajam. Trauma tumpul adalah sejenis kekerasan yang bersifat mekanik
yang disebabkan oleh benda tumpul. Benda tumpul yang dimaksudkan adalah benda-benda
yang tidak bermata tajam, mempunyai konsistensi yang keras atau kenyal, dan mempunyai
permukaan yang halus atau kasar.2
Penyebab trauma tumpul berhubungan dengan kecelakaan lalu lintas (70%), bunuh diri
(10%), jatuh (8%), pembunuhan (7%), dan lain-lain (5%). Insidens trauma dada sebesar 46%,
dan angka mortalitasnya sebesar 15,7% dengan trauma dada dan 12,8% tanpa trauma dada.2
Trauma tumpul dapat menyebabkan luka lecet, luka memar, luka robek dan patah tulang.
Akibat trauma tumpul terhadap organ dapat menyebabkan luka, robeknya pembuluha darah,
otot atau pun organ serta patah tulang.1,2

1.2 Manfaat
Manfaat penulisan makalah ini ditujukan untuk mempelajari kasus trauma tumpul yang
berlandaskan teori guna memahami bagaimana cara mengenali truma tumpul. Hal ini dapat
mengoptimilisasi kemampuan dalam mengenali gambaran trauma tumpul pada autopsi
medikolegal .

1.3. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Pendidikan Program
Studi Spesialisasi . Departemen Kedokteran Forensik dan Medikolegal Rumah Umum Pusat
Haji Adam Malik Medan dan meningkatkan pemahaman mahasiswa mengenai trauma
tumpul.
1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Pengertian trauma (injury) dari aspek medikolegal sering berbeda dengan pengertian
medis. Pengertian medis menyatakan trauma atau perlukaan adalah hilangnya diskontinuitas
dari jaringan. Dalam pengertian medikolegal trauma adalah pengetahuan tentang alat atau
benda yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan seseorang. Artiya orang yang sehat,
tiba-tiba terganggu kesehatannya akibat efek dari alat atau benda yang dapat menimbulkan
kecelderaan. Aplikasinya dalam pelayanan Kedokteran Forensik adalah untuk membuat
terang suatu tindak kekerasan yang terjadi pada seseorang.2
Trauma tumpul adalah sejenis kekerasan yang bersifat mekanik yang disebabkan oleh
benda tumpul. Adapun definisi dari benda tumpul itu sendiri adalah tidak bermata tajam,
konsistensi keras atau kenyal dan permukaan halus / kasar. Luka karena trauma tumpul dapat
berebentuk salah satu atau kombinasi dari luka memar, luka lecet, luka robek, patah tulang
atau luka tekan.1,2

2.2 Luka Akibat Trauma Tumpul


Trauma tumpul dapat terjadi karena 2 sebab yaitu alat atau senjata yang mengenai atau
melukai orang yang relatif tidak bergerak dan yang lain orang bergerak ke arah objek atau
alat yang tidak bergerak. Dalam bidang medikolegal kadang-kadang hal ini perlu dijelaskan,
walaupun terkadang sulit dipastikan.1,2
Sekilas nampak sama dalam hasil lukanya namun jika diperhatikan lebih lanjut terdapat
perbedaan hasil pada kedua mekanisme itu. Organ atau jaringan pada tubuh mempunyai
beberapa cara menahan kerusakan yang disebabkan objek atau alat, daya tahan tersebut
menimbulkan berbagai tipe luka.1,2
Jenis luka yang diakibatkan trauma tumpul antara lain :2
 Luka memar
 Luka lecet
 Luka robek
 Patah tulang

2
2.2.1 Luka Memar (kontusio)
Pada luka memar yang mengalami kerusakan adalah jaringan subkutan sehingga
pembuluh-pembuluh darah kapiler rusak dan pecah sehingga darah meresap ke jaringan
sekitarnya. Disini permukaan kulit tidak selalu mengalami kerusakan. Letak, bentuk dan luas
luka memar dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti besarnya kekerasan, jenis benda
penyebab, kondisi dan jenis jaringan, usia, jenis kelamin, corak dan warna kulit, kerapuhan
pembuluh darah, penyakit (hipertensi, penyakit kardiovaskuler, diathesis hemoragik).1,2
Umur luka memar secara kasar dapat diperkirakan melalui perubahan warnanya. Pada
saat timbul memar berwarna merah, kemudian berubah menjadi ungu atau hitam, setelah 4
sampai 5 hari akan berwarna hijau yang kemudian akan berubah menjadi kuning dalam 7 hari
sampai 10 hari dan akhirnya menghilang dalam 14 sampai 15 hari. Perubahan warna tersebut
dimulai dari tepi dan waktunya dapat bervariasi tergantung derajat dan berbagai faktor yang
mempengaruhinya.3
Dilihat sepintas lalu luka memar terlihat seperti lebam maya, tetapi jika di periksa
dengan seksama akan dapat dilihat perbedaan – perbedaanya, yaitu :4

Tabel 2.1. Perbedaan Memar dengan Lebam Mayat4

Gambar 2.1. Luka Memar

3
2.2.2. Luka Lecet (abrasi)
Luka lecet adalah suatu kerusakan yang mengenai lapisan atas dari epidermis akibat
kekerasan dengen benda yang mempunyai permukaan kasar, sehingga epidermis menjadi
tipis, sebagian atau seluruh lapisannya hilang.. Ciri – ciri luka lecet adalah :1,2
 Bentuk luka tak teratur
 Batas luka tidak teratur
 Tepi luka tidak rata
 Kadang – kadang di temukan sedikit perdarahan
 Permukaannya tertutup oleh krusta (serum yang telah mengering) dan timbul reaksi
radang berupa penimbunan sel-sel PMN, dan biasanya tidak meninggalkan jaringan
parut.
 Warna coklat kemerahan
 Pada pemeriksan mikroskopik terlihat adanya beberapa bagian yang masih di tutupi
epitel dan reaksi jaringan (inflamasi)
Arah luka dapat ditentukan dari penumpukan epidermis yang terseret pada satu posisi.
Bentuk luka lecet kadang–kadang dapat memberi petunjuk tentang benda penyebabnya;
seperti misalnnya kuku, ban mobil, tali atau ikat pinggang. Nilai medikolegal dari luka lecet
ini antara lain menunjukkan adanya kekerasan, bentuk alat yang digunakan, bekas cakaran,
bekas gigitan. Untuk kepentingan VeR walaupun kecil luka lecet harus diamati dan direkam
karena mempunyai nilai medikolegal.2
Berdasarkan mekanismenya, luka lecet dapat diklasifikasikan sebagai berikut :2,5
 Luka lecet gores (scratch), diakibatkan oleh benda runcing yang menggeser lapisan
permukaan kulit di depannya dan menyebabkan lapisan tersebut terangkat sehingga
dapat menunjukkan arah kekerasan yang terjadi.

4
Gambar 2.2 Luka Lecet Gores
 Luka lecet serut (graze) adalah variasi dari luka lecet gores yang daerah
persentuhannya dengan permukaan kulit lebih lebar. Arah kekerasan ditentukan
dengan melihat letak tumpukan epitel.

Gambar 2.3. Luka Lecet Serut


 Luka lecet tekan (impression, impact abrasion) disebabkan oleh penjejakan benda
tumpul pada kulit. Karena kulit adalah jaringan yang lentur, maka bentuk luka lecet
tekan belum tentu sama dengan bentuk permukaan benda tumpul tersebut tetapi
masih memungkinkan identifikasi benda penyebab yang mempunyai bentuk yang
khas misalnya kisi-kisi radiator mobil, jejas gigitan, dsb.

Gamabr 2.4. Luka Lecet Tekan


 Luka lecet geser (friction abrasion) disebabkan oleh tekanan linier pada kulit disertai
gerakan bergeser, misalnya pada kasus gantung atau jerat serta pada korban pecut.
Luka lecet geser yang terjadi semasa hidup mungkin sulit dibedakan dari luka lecet
geser yang terjadi segera pasca mati.
Luka lecet juga dapat terjadi sesudah orang meninggal dunia. Adapun perbedaan luka
lecet ante mortem dan post mortem adalah :4

5
Tabel 2.2 Perbedaan Luka Lecet Ante Mortem dan Post Mortem4
Perkiraan umur luka lecet dapat diperkirakan secara makroskopis maupun mikroskopis
yaitu pada hari ke 1 sampai dengan ke tiga berwarna coklat kemerahan karena eksudasi darah
dan cairan limfe. Dua atau tiga hari kemudian pelan-pelan bertambah suram dan lebih gelap.
Setelah 1 sampai 2 minggu mulai terjadi pembentukan epidermis baru. Dalam beberapa
minggu akan timbul penyembuhan luka lengkap.1,3

2.2.3. Luka Robek (laserasi)


Luka terbuka / robek adalah luka terbuka yang disebabkan karena persentuhan dengan
benda tumpul dengan kekuatan yang mampu merobek seluruh lapisan kulit dan jaringan di
bawahnya, yang ciri–cirinya sebagai berikut : 1,2,3
 Bentuk garis batas luka tidak teratur dan tepi luka tak rata
 Bila ditautkan tidak dapat rapat ( karena sebagaian jaringan hancur )
 Tebing luka tak rata serta terdapat jembatan jaringan
 Di sekitar garis batas luka di temukan memar
 Lokasi luka lebih mudah terjadi pada daerah yang dekat dengan tulang ( misalnya daerah
kepala, muaka atau ekstremitas ).
Pada luka robek seluruh tebal kulit mengalami kerusakan dan juga jaringan bawah kulit,
sehingga epidermis terkoyak, folikel rambut, kelenjar keringat dan kelenjar sebasea juga
mengalami kerusakan. Karena terjadinya luka disebabkan oleh robeknya jaringan maka
bentuk dari luka tersebut tidak menggambarkan bentuk dari benda penyebabnya. Jika benda
tumpul yang mempunyai permukaan bulat atau persegi dipukulkan pada kepala maka luka
robek yang terjadi tidak berbentuk bulat atau persegi.1
Proses penyembuham terlihat mulai dari penggumpalan darah di permukaan luka.
Pembentukan jaringan ikat dimulai dari dalam luka dan terakhir pembentukan jaringan kulit.

6
Dalam jaringan kulit baru tidak didapati kelenjar keringat dan lain-lain apendiks kulit.
Perkiraan umur luka tidak bisa ditentukan dengan tepat.2

Gambar 2.5. Luka Robek

2.2.4. Patah Tulang


Pada trauma tumpul yang kuat dapat terjadi patah tulang. Pada anak-anak dan orang
muda tulang masih lentur dan dapat menyerap tekanan yang kuat. Tekanan berat (misalnya
dilindas mobil) pada dada anak-anak dapat menghancurkan organ dalam tanpa patah tulang
iga. Pecahan tulang dapat menunjukkan arah trauma. Patah tulang dapat menimbulkan
perdarahan luar dan perdarahan dalam.2
Patah atau retaknya tulang pada kekerasan benda tumpul mudah dibedakan dengan patah
atau retaknya tulang pada kekerasan benda tajam atau senjata api. Apabila kepala dipukul
dengan benda tumpul, sering dijumpai patah tulang dimana bagian-bagian yang patah
tersebut tertekan ke dalam (fraktur kompresi). Pada kasus kecelakaan lalu lintas, seringkali
tubuh korban terlempar dan jatuh dengan kepala menyentuh jalan, maka lebih sering akan
dijumpai patah tulang dengan garis patah yang linier. Dengan demikian dapat dibedakan
berdasarkan kelainan yang terjadi pada tengkorak, yaitu apakah benda tumpul yang
menghampiri kepala, atau kepala yang mendekati benda tumpul. Pada dada biasanya
menyebabkan patah tulang costae, tulang sternum atau tulang scapula clavicula.2,3
Yang paling berbahaya adalah trauma tumpul pada tulang kepala, Karena dapat terjadi
perdarahan epidural, subdural, subaraknoid dan intraserebral. Patah tulang dapat
menimbulkan rasa nyeri dan gangguan fungsi. Rongga dalam tulang panjang banyak
mengandung sel-sel lemak, yang bilang patah dapat memasuki sirkulasi darah dan
menyebabkan emboli pulmonal dan atau emboli orak. Gejala emboli otak dapat muncul
sesudah 2-4 hari kemudian. Emboli paru-paru terlihat dari gejala gangguan pernafasan

7
(respiratory distress) sesudah 14-16 jam. Perdarahan ekstradural terjadi karena robeknya
arteri menigea media yang berada pada bagian dalam tempurung kepala.2

Gambar 2.6. Patah Tulang

2.3. Perbedaan Trauma Tumpul dan Trauma Tajam


Adapun perbedaan luka pada trauma tumpul dan trauma tajam adalah:3
No Dinilai Dari Trauma Tumpul Trauma Tajam
1 Bentuk Luka Tidak teratur Teratur
2 Tepi Luka Tidak rata Rata
3 Jembatan Jaringan Ada Tidak ada
4 Rambut Tidak ikut terpotong Ikut terpotong
5 Besar Luka Tidak teratur Beberapa garis / titik
6 Sekitar Luka Ada luka lecet atau memar Biasanya bersih
Tabel 2.3 Perbedaan Luka pada Trauma Tumpul dan Trauma Tajam

2.4. Akibat Trauma Tumpul pada Organ Tubuh4,5


 Trauma Tumpul pada Kepala
Organ Kepala terdiri dari kulit, tengkorak, selaput otak dan otak. Akibat trauma
tumpul pada kulit kepala dapat menyebabkan luka lecet, luka memar dan luka robek.
Sedangkan pada tengkorak dapat menyebabkan fraktur basis kranii dan fraktur
calvaria. Pada selaput otak, trauma tumpul dapat menyebabkan perdarahan epidural,
subdural dan subaraknoid. Pada otak, trauma tumpul dapat menyebabkan kontusio
serebri, laserasi serebri, edema serebri dan komosio serebri.

8
 Trauma Tumpul pada Leher
Trauma tumpul pada leher dapat berakibat patah tulang leher, robeknyanya pembuluh
darah, otot, esophagus, trakea ataupun laring. Selain itu trauma tumpul pada leher
dapat juga menyebabkan kerusakan saraf.
 Trauma Tumpul pada Dada
Trauma tumpul pada dada dapat menyebabkan patahnya os. Costae, sternum, scapula
dan klavikula. Hal ini dapat menyebabkan robeknya jantung, paru dan pericardium.
 Trauma Tumpul pada Perut
Trauma tumpul pada perut dapat berakibat patahnya os. Pubis, os sacrum,
sympholisis, luxatio sendi sacroiliaca. Sedangkan pada organ perut dapat berakibat
robeknya organ hepar, lien, ginjal, pancreas, adrenal, lambung, usus dan kandung
kemih.
 Trauma Tumpul pada Vetebra
Trauma tumpul pada vertebra dapat menyebabkan fraktur dan atau dislokasi os.
Vertebra. Hal ini dapat disebabkan trauma langsung dan trauma tidak langsung karena
tarikan atau tekukan.
 Trauma Tumpul pada Anggota Gerak
Trauma tumpul pada anggota gerak dapat menyebabkan patah tulang, dislokasi sensi,
kerusakan saraf dan robeknya otot dan pembuluh darah.

9
BAB III
KESIMPULAN

Pengertian medis menyatakan trauma atau perlukaan adalah hilangnya diskontinuitas dari
jaringan. Dalam pengertian medikolegal, trauma adalah pengetahuan tentang alat atau benda
yang dapat menimbulkam gangguan kesehatan seseorang. Artinya orang yang sehat, tiba-tiba
terganggu kesehatannya akibat efek dari alat atau benda yang dapat menimbulkan
kecederaan. Trauma tumpul adalah sejenis kekerasan yang bersifat mekanik yang disebabkan
oleh benda tumpul. Adapun definisi dari benda tumpul itu sendiri adalah tidak bermata tajam,
konsistensi keras atau kenyal dan permukaan halus / kasar. Luka karena trauma tumpul dapat
berebentuk salah satu atau kombinasi dari luka memar, luka lecet, luka robek, patah tulang
atau luka tekan.
Trauma tumpul dapat terjadi karena 2 sebab yaitu alat atau senjata yang mengenai atau
melukai orang yang relatif tidak bergerak dan yang lain orang bergerak ke arah objek atau
alat yang tidak bergerak. Dalam bidang medikolegal kadang-kadang hal ini perlu dijelaskan,
walaupun terkadang sulit dipastikan. Sekilas nampak sama dalam hasil lukanya namun jika
diperhatikan lebih lanjut terdapat perbedaan hasil pada kedua mekanisme itu. Organ atau
jaringan pada tubuh mempunyai beberapa cara menahan kerusakan yang disebabkan objek
atau alat, daya tahan tersebut menimbulkan berbagai tipe luka.
Beberapa tipe luka trauma tumpul adalah luka lecet, luka memar, luka robek dan patah
tulang. Akibat trauma tumpul terhadap organ dapat menyebabkan luka, robeknya pembuluha
darah, otot atau pun organ serta patah tulang.

10
DAFTAR PUSTAKA

1. Windy, dkk. Traumatologi. 2006. Avalaible From :


http://traumatologie2.webs.com/traumatologi.htm [Accesed May 11, 2012]
2. Amir, A. Rangkaian Ilmu Kedokteran Forensik Edisi Kedua : Trauma Mekanik.
Medan : Percetakan Ramadhan. 2005 : 72-79.
3. Sebaztian, L.R.S. Traumatologi. 2011. Available From :
http://www.scribd.com/doc/64056154/TRAUMATOLOGI [ Accesed May 11, 2012]
4. Sharma, R.K. Concise Textbook of Forensic Medicine and Toxicology Third Edition:
Injuries by Mechanical Violence. New Delhi :Global Education Consultant. 2011 :
76-80.
5. Shepherd, R. Simpson’s Forensic Medicine 12th Edition : The Examination of
Wounds and Regional Injury. London : Arnold. 2003 : 59-78.

11