Anda di halaman 1dari 26

2.

1 PENGERTIAN REUMATIC HEART DISEASE

Penyakit jantung reumatik adalah penyakit yang ditandai dengan kerusakan pada katub
jantung akibat serangan karditis reumatik kut yang berulang kali.(kapita selekta edisi 3,2000)
Demam reumatik atau penyakit jantung reumatik adalah penyakit peradanga
sistemik akut atau kronik yang merupakan suatu reaksi autoimun oleh infeksi β Steptococcus
Hemolyticus Grup A yang mekanisme perjalanannya belum diketahui,dengan satu atau lebih
gejala mayor yaitu poliarthritis migrans akut,karditis,korea minor,nodul subkutan dan eritema
marginatum.
2.2 ETIOLOGI
Penyebab terjadinya penyakit reumatic heart diseases diperkirakan adalah reaksi
autoimun (kekebalan tubuh)yang disebabkan oleh demam reumatik.Infeksi infeksi β
Steptococcus Hemolyticus Grup A pada tenggorok yang selalu mendahului terjadinya demam
reumatik baik demam reumatik serangan pertama maupun demam reumatik serangan ulang.
Beberapa faktor predisposisi terjadinya penyakit jantung reumatic/reumatic heart
diseases:
1. Faktor individu

 Faktor genetik
Karena adanya antigen limfosit manusia(LHA)yang tinggi terhadam demam reumatic
menunjukkan hubungan dengan aloantigen sel β spesifik dikenal dengan antibodi monoklonal
dengan status reumatikus.
 Umur
Umur merupakan faktor predisposisi terpenting pada timbulnya demam reumatik penyakit ini
sering mengenai anak umur 5-15 tahun dengan puncak sekitar umur 8 tahun.Tidak biasa
ditemukan pada anak antara umur 3-5 tahun dan sangat jarang sebelum anak berumur 3 tahun
atau setelah umur 20 tahun.Distribusi umur ini dikatakan sesuai dengan insiden infeksi
steptococcus pada anak usia sekolah.
 Reaksi autoimun
Dari penelitian ditemukan adanya kesamaan antara polisakarida bagian dinding sel streptococcus
β hemolitikus grup A dengan glikoprotein dal3am katub.,ini sangat mendukung terjadinya
miokarditis dan valvulitis pada reumatic fever.
2. Faktor lingkungan

 Keadaan sosial ekonomi yang buruk


Mungkin ini merupakan faktor lingkungan yang terpenting sebagai predisposisi untuk
terjadinya demam rematik. Insidens demam reumatik di negara-negara yang sudah maju, jelas
menurun sebelum era antibiotik termasuk dalam keadaan sosial ekonomi yang buruk sanitasi
lingkungan yang buruk, rumah-rumah dengan penghuni padat, rendahnya pendidikan sehingga
pengertian untuk segera mengobati anak yang menderita sakit sangat kurang,pendapatan yang
rendah sehingga biaya untuk perawatan kesehatan kurang dan lain-lain. Semua hal ini
merupakan faktor-faktor yang memudahkan timbulnya demam reumatik.
 Cuaca
Perubahan cuaca yang mendadak sering mengakiibatkan insiden infeksi saluran nafas bagian atas
meningkat,sehingga insiden demam reumatic meningkat.
 Demam reumatik merupakan penyakit kosmopolit.Penyakit terbanyak didapatkan didaerah yang
beriklim sedang.

2.3 PATOFISIOLOGI PENYAKIT REUMATIC HEART DISEASE

1. Demam reumatik yang mengakibatkan PJR terjadi akibat sensitasi dari antigen SGA setelah 1-4
minggu infeksi Streptococcus Grup A beta hemolitikus di faring. Terdapat dua mekanisme yang
diajukan sebagai pathogenesis dari demam reumatik :
2. Respons hiperimun yang bersifat autoimun maupun alergi
3. Efek langsung organisme streptococcus atau toksinnya.
Yang paling dapat diterima adalah mekanisme pertama yaitu dari sudut imunologi, dimana reaksi
autoimun terhadap infeksi streptococcus akan menyebabkan kerusakan jaringan atau manifestasi
demam reumatik, dengan cara :
1. Streptococcus grup A akan menyebabkan infeksi faring
2. Antigen Streptococcus akan menyebabkan pembentukan antibody pada pejamu yang hiperimun
3. Antibodi akan bereaksi dengan antigen streptococcus, dan dengan jaringan pejamu yang secara
antigenic sama seperti streptococcus
4. Autoantibodi tersebut bereaksi dengan jaringan pejamu sehingga mengakibatkan kerusakan
jaringan.
Kerusakan jaringan yang disebabkan tersebut berupa peradangan difus yang menyerang jaringan
ikat berbagai organ, terutama jantung, sendi dan kulit. Terserangnya jantung merupakan keadaan
yang sangat penting, karena kematian pada fase akut, yang sebagian besar karena gagal jantung,
dan kecacatan jantung, yang sebagian besar oleh adanya deformitas katup.
Keterlibatan jantung pada penyakit demam rematik dapat mengenai setiap komponen
jaringannya. Proses radang selama karditis akut paling sering terbatas pada endokardium dan
miokardium, namun pada pasien dengan miokaditis berat, pericardium dapat juga
terlibat. Peradangan di endokardium biasanya mengenai endotel katup, sekitar 50% kasus adalah
katup mitral, yang mengakibatkan pembengkakan daun katup dan erosi pinggir katup yang
ditunjukkan dengan adanya vegetasi seperti manik-manik (verruceae) di sepanjang pinggir daun
katup. Proses ini mengganggu penutupan katup yang efektif, mengakibatkan regurgitasi katup.
Jika tidak ada pembalikan proses dan penyembuhan, proses ini akhirnya akan menyebabkan
stenosis dan perubahan pengapuran yang kasar, yang terjadi beberapa tahun pasca serangan.
Peradangan di miokardium, terdapat pembentukan lesi nodular yang khas pada dinding
jantung berupa sel Aschoff yang terdiri dari infiltrat perivaskuler sel besar dengan inti polimorf
dan sitoplasma basofil tersusun dalam roset sekeliling pusat fibrinoid yang avaskular.
Peradangan Perikardium, adanya penumpukan cairan (eksudasi) di dalam rongga perikard yang
disebut sebagai efusi perikard. Dan hal ini mengganggu pengisian ventrikel sehingga volume
sekuncup berkurang.
Bila terjadi karditis seluruh lapisan jantung akan dikenai. Perikarditis paling sering terjadi
dan perikarditis fibrinosa kadang-kadang didapati. Pada keadaan fatal, keterlibatan miokard
menyebabkan pembesaran semua ruang jantung. Pada miokardium mula-mula didapati
fragmentasi serabut kolagen, infiltrasi limfosit, dan degenerasi fibrinoid dan diikuti didapatinya
nodul aschoff di miokard yang merupakan patognomonik DR.
2.7 PATHWAY
Streptococcaus hemoliticus b grup A
Melepaskan endotoksin

Demam reumatik

Faring dan tonsil


Faringitis dan tonsilitis

Tubuh mengeluarkan antibody berlebihan


Respon imunologis abnormal/autoimun
RHD
Jantung

Persendian

MK : Hipertermia
SSP
Kulit

Gerakan involunter, lemah otot/ chorea


Radang pd kulit & jaringan subkutan
Peradangan pd membran sinovial
Peradangan katup mitral

Polyartritis/
Arthralgia
↑ sel retikuloendotelial, plasma, limfosit
MK : Intoleransi
aktivitas
Bercak merah/eritema marginatum

Jaringan parut
Stenosis katup mitral
MK : Penurunan curah jantung
MK : Nyeri Akut
MK : Kerusakan integritas kulit

GI tract
Kerja lambung ↑
HCL ↑
Mual, anoreksia
MK : Nutrisi kurang dari kebutuhan
Merangsang medulla oblongata
Kompensasi saraf simpatis
2.3 MANIFESTASI KLINIS PENYAKIT REUMATIC HEART DISEASE
Kriteria Minor :
1. Mempunyai riwayat menderita demam reumatik atau penyakit jantung reumatik
2. Artraliga atau nyeri sendi tanpa adanya tanda obyektif pada sendi; pasien kadang – kadang sulit
menggerakkan tungkainya
3. Demam tidak lebih dari 390 C
4. Leukositosis
5. Peningkatan laju endap darah (LED)
6. C-Reaktif Protein (CRP) positif
7. P-R interval memanjang
8. Peningkatan pulse/denyut jantung saat tidur
9. Peningkatan Anti Streptolisin O (ASTO)

Kriteria Mayor :
1. Artritis
Artritis adalah gejala major yang sering ditemukan pada DR akut (majeed H.A
1992). Sendi yang dikenai berpindah-pindah tanpa cacat yang biasanya adalah sendi besar seperti
lutut, pergelangan kaki, paha, lengan, panggul siku, dan bahu. Munculnya tiba-tiba dengan rasa
nyeri yang meningkat 12-24 jam yang diikuti dengan reaksi radang. Nyeri ini akan menghilang
secara perlahan-lahan.
Radang sendi ini jarang yang menetap lebih dari satu minggu sehingga terlihat sembuh
sempurna. Proses migrasi artritis ini membutuhkan waktu 3-6 minggu. Sendi-sendi kecil jari
tangan dan kaki juga dapat dikenai. Pengobatan dengan aspirin dapat merupakan diagnosis
terapetik pada atritis yang sangat bermanfaat. Bila tidak membaik dalam 24-72 jam, maka
diagnosis akan diragukan.
2. Karditis
Karditis merupakan manifestasi klinis yang penting dengan insidens 40-50%
(majeed HA 1992), atau berlanjut dengan gejala yang lebih berat yaitu gagal jantung. Karditis ini
bisa hanya mengenai endokardium saja. Endokarditis terdeteksi saat adanya bising jantung.
Katup mitrallah yang terbanyak dikenai dan dapat bersamaan dengan katup aorta. Adanya
regurgitasi mitral ditemukan dengan bising sistolik yang menjalar ke aksila, dan kadang-kadang
juga disertai bising mid-diastolik (bising carey cooms). Miokarditis dapat bersamaan dengan
endokarditis sehingga terdapat kardiomegali atau gagal jantung. Perikarditis tak akan berdiri
sendiri, biasanya parkarditis.
3. Chorea
Chorea ini didapatkan 10% dari DR (Strasser, 1978) yang dapat merupakan
manifestasi klinis sendiri atau bersamaan dengan karditis. Masa laten infeksi SGA dengan chorea
cukup lama yaitu 2-6 bulan atau lebih. Lebih sering dikenai pada perempuan pada umur 8-12
tahun. Dan gejala ini muncul selama 3-4 bulan. Gerakan-gerakan tanpa disadari akan ditemukan
pada wajah dan anggota-anggota gerak tubuh yang biasanya unilateral. Dan gerakan ini
menghilang saat tidur.
4. Eritema Marginatum
Eritema marginatum ini ditemukan kira-kira 5% dari pasien DR, dan berlangsung
berminggu-minggu dan berbulan, tidak nyeri dan tidak gatal.
5. Nodul Subkutanius
Besarnya kira-kira 0.5-2 cm, bundar, terbatas dan tidak nyeri tekan. Demam pada
DR tidak khas, dan jarang menjadi keluhan utama oleh pasien DR ini (strasser, 1981)

2.4 KOMPLIKASI

Gagal jantung dapat terjadi pada beberapa kasus,komplikasi lainnya termasuk aritmia
jantung,pankarditis dengan efusi yang luas, pneumonitis reumatik, emboli paru, infark dan
kelainan katub jantung.
2.5 PENATALAKSANAAN PENYAKIT REUMATIC HEART DISEASE

1 Pengobatan segera terhadap semua faringitis yang disebabkan oleh streptokokus beta-
hemolitikus group A melalui pemberian tablet oral penisilin V atau suntikan IM benzatin
penisilin G atau melalui pemberian eritromisin pada pasien yang hipersensitif terhadap
penisilin
2 Pemberian salisilat untuk meredakan demam serta rasa nyeri dan mengurangi pembengkakan
sendi
3 Pemberian kortikosteroid jika pasien menderita karditis atau jika pemberian salisilat tidak
berhasil meredakan rasa nyeri serta inflamasi
4 Tirah baring yang ketat selama sekitar lima minggu pada pasien karditis berat; tindakan ini
dilakukan untuk mengurangi kebutuhan jantung
5 Tirah baring, pembatasan natrium, pemberian inhibitor ACE, digoksin, dan diuretik untuk
mengatasi gagal jantung
6 Pembedahan korektif seperti komisurotomi (pemisahan daun katup mitral yang saling melekat
dan menjadi tebal), valvuloplasti (peniupan balon dalam katup), atau penggantian katup (dengan
katup buatan) untuk disfungsi katup mitral atau aorta yang berat dan menimbulkan gagal jantung
yang persisten
7 Pencegahan sekunder demam reumatik dengan suntikan IM benzatin penisilin G sebulan sekali
atau tablet oral penisilin V atau sulfadiazin setiap hari, yang dimulai sesudah fase akut mereda
(Biasanya pengobatan dilakukan selama sedikitnya lima tahun atau sampai pasien berusia 21
tahun atau salah satu diantaranya yang lebih lama)
8 Terapi profilaksis antibiotik ketika pasien menjalani perawatan gigi dan prosedur bedah atau
invasif lain untuk mencegah endokarditis.
2.6 Pencegahan
Jika kita lihat di atas bahwa penyakit jantung paru sangat mungkin terjadi dengan adanya
kejadian awal yaitu demam rematik (DR). Tentu saja pencegahan yang terbaik adalah bagaimana
upaya kita jangan sampai mengalami demam Rematik (terserang infeksi kuman streptokokus
beta hemolyticus). ada beberapa faktor yang dapat mendukung seseorang terserang kuman
tersebut,di antara faktor lingkungan seperti kondisi kehidupan yang jelek, kondisi tempat tinggal
berdesakan dan akses kesehatan yang kurang merupakan Determinan yang signifikan dalam
distribusi penyakit ini. Variasi cuaca juga mempunyai peranan yang besar dalam terjadinya
infeksi Streptokokus untuk terjadi DR.
Seseorang yang terinfeksi kuman Streptokokus beta hemolyticus dan mengalami demam
rematik harus di berikan terapi yang maksimal dengan Antibiotiknya.Hal ini menghindarkan
kemungkinan serangan kedua kalinya atau bahkan menyebabkan penyakit Jantung Rematik.
BAB 3
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 PENGKAJIAN
3.1.1 Anamnesa
1. Identitas Pasien
- Nama : Tidak berpengaruh
: Berpengaruh ( biasanya terjadi pada umur 5-15)
- Jenis kelamin : wanita lebih beresiko dari pada laki-laki
- Jenis pekerjaan : Tidak berpengaruh
:Lingkungan yang buruk, rumah-rumah dengan penghuni padat beresiko tinggi terkena RHD
: Orang berkulit hitam lebih beresiko dibandingkan orang berkulit putih (Amerika)
- Agama : Tidak berpengaruh
ikan : rendahnya pendidikan sehingga pengertian untuk segera mengobati anak yang menderita sakit
sangat kurang
2. Riwayat kesehatan:
 Keluhan Utama :
Klien mengeluh Sakit/nyeri pada persendian
 Riwayat Penyakit Sekarang :
Klien datang dengan Leukositosis, Artritis, Karditis, Eritema Marginatum, Nodul subkutan
 Riwayat Penyakit Dahulu :
Klien datang dengan riwayat gagal jantung, pankarditis (infeksi dan peradangan di seluruh
bagian jantung), pneumonitis reumatik (infeksi paru), emboli atau sumbatan pada paru, kelainan
katup jantung, dan infark (kematian sel jantung)
 Riwayat Penyakit Keluarga :
Ada kelurga yang pernah menderita demam reumatik, penyakit jantung rematik, atau penyakit
jantung lain

3.Pemeriksaan fisik
A. TTV
TD :110/70 mmHg
N :80x/menit
RR :20x/menit
Suhu: 38,70C
B. Pemeriksaan Fisik Head to Toe
a. Kepala : ada gerakan yang tidak disadari pada wajah, bentuk kepala normal
b. Mata : ada gerakan yang tidak disadari
c. Hidung : terdapat napas cuping hidung
d. Kulit : Turgor kulit kembali setelah 3 detik
e. Paru :
Inspeksi : terdapat edema, ptekie
Palpasi : vocal fremitus tidak sama
Perkusi : redup
Auskultasi : terdapat pericardial friction rub, ronki, krekels
f. Jantung :
Inspeksi : iktus kordis tampak
Palpasi : dapat terjadi kardiomegali
Perkusi : redup
Auskultasi : terdapat murmur, gallop
g. Abdomen :
Inspeksi : perut simetris
Palpasi : kadang-kadang dapat terjadi hepatomegali
Perkusi : tympani
Auskultasi : bising usus normal
h. Genetalia : tidak ada kelainan
i. Ekstermitas : pada inspeksi sendi terlihat bengkak dan merah, ada gerakan yang yang tidak
disadari, pada palpasi teraba hangat dan terjadi kelemahan otot

C. Pola Fungsional Gordon

a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan


Klien mengalami penurunan dalam pemeliharaan kesehatan, dan bergantung pada orang lain
b. Pola nutrisi dan metabolik
Klien tidak nafsu makan, dan terjadi peningkatan suhu tubuh
c. Pola aktivitas dan latihan
Klien mengalami penurunan aktivitas dikarenan sesak dan nyeri
d. Pola istirahat dan tidur
Klien mengalami kesulitan untuk tidur
e. Pola eliminasi
Pola eliminasi terganggu akibat penurunan asupan nutrisi
f. Pola persepsi sensori dan kognitif
Klien mengalami perubahan kemampuan dalam indera peraba
g. Pola mekanisme koping
Klien mengalami gangguan dalam mekanisme koping, yaitu ditandai dengan klien nampak
cemas, ketakutan
h. Pola konsep diri
Terjadi perubahan dalam gambaran diri
i. Pola hubungan
Terjadi perubahan peran, isolasi
j. Pola reproduksi
Pada bayi dan anak belum terjadi pematangan reproduksi
k. Pola kepercayaan
Penurunan kegiatan beribadah

4.Pemeriksaan Diagnostik
a) Pemeriksan laboratorium
Dari pemeriksaan laboratorium darah didapatkan peningkatan ASTO, peningkatan laju endapan
darah (LED) terjadi leukositosis,dan terjadi penurunan hemoglobin
b) Radiologi
Pada pemeriksaan foto thoraks terjadi pembesaran pada jantung
c) Pemeriksaan Ecocardiogram
Menunjukkan pembesaran pada jantung dan terdapat lesi
d) Pemeriksaan Elektrokardiogram
Menunjukkan interval P-R memanjang
e) Psikologi
Meliputi perasaan pasien terhadap penyakitnya, bagaimana cara mengatasinya serta
bagaimana perilaku pasien terhadap tindakan yang dilakukan terhadap dirinya, kecemasan
terhadap penyakit.

3.2 CONTOH ANALISIS DATA


NO WAKTU DATA ETIOLOGI MASALAH TTD
1 DS:Klien mengatakan jantung berdebar Adanya gangguan Penurunan curah jantung
–debar pada penutupan
DO:Takikardi,hipotensi,pucat,bunyi katup mitral
jantung melemah.
Pemeriksaan LAB:
 Peningkatan ASTO(>200 lu/dl)
 Perubahan EKG pada gelombang P-R
memanjang(>0,2 second)
 Pada Echokardiogram menunjukkan
adanya pembesaran pada jantung
dikarenakan gagalnya penutupan katup
mitral
2 DS :Klien mengeluh panas(suhu badannya Peradangan pada Hipertermia
tinggi) membran sinovial
DO: dan katup jantung
a.Peningkatan suhu tubuh,takikardi
TD :120/90 mmHg
N :70x/menit
RR :24x/menit
Suhu: 38,70C
b. Pemeriksaan darah menunjukkan
terjadi leukositosis,dan terjadi penurunan
hemoglobin 9(11-13gram/dl)
Hapusan tenggorokan disebabkan
streptococcus hemolitikus b grup A.
3 DS: Klien mengeluh cepat lelah saat Ketidakseimbangan Intoleransi aktifitas
aktifitas,sesak nafas suplai oksigen
DO:Klien tampak lemas dan pucat
4 DS:Klien mengeluh mual dan Peningkatan asam Ketidakseimbangan
muntah,nafsu makan menurun,lemas lambung akibat nutrisi kurang dari
DO:Lemah,lesu,pucat. Berat badan kompensasi saraf kebutuhan
menurun. simpatik
A: Berat Badan menurun(dari 35 kg ke
33kg)
B: : Hb menurun 9 (11-13 gram/dl)
C: Mukosa bibir kering dan turgor kulit
menurun(kembali setelah 2 second)
D: Nafsu makan pasien menurunt ( ½
porsi)
3.3 DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Penurunan curah jantung b.d adanya ganggua pada penutupan katup mitral.
2. Hipertermia b.d peradangan pada membran sinovial dan katup jantung.
3. Intoleransi aktifitas b.d ketidakseimbangan suplay oksigen
4. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d peningkatan asam lambung akibat
kompensasi saraf simpatik

3.4 INTERVENSI

TANGGAL DX TUJUAN INTERVENSI RASIONAL


12-12-2014 1 Setelah dilakukan tindakan O: 1. Memonitoring
keperawatan selama 2x24jam Observasi TTV klien secara perubahan sirkulasi
diharapkan penurunan curah teratur sedini mungkin dan
jantung dapat diminimalkan N: takikardi –disritmia
KH: Observasi perubahan warna kompensasi mening
K: kulit terhadap sianosis curah jantung
Klien mampu mengidentifikasi E: 2. Pucat menunjukkan
penyebab dari penurunan curah Jelaskan kepada klien penurunan perfusi
jantung(dada berdebar-debar) tentang TTV terhadap tidak adek
A: C: curah jantung.S
Klien mengatakan dadanya Kolaborasi dengan tenaga terjadi sebagai akibat
sudah tidak berdebar lagi kesehatan lainnya untuk obstruksi aliran dara
P: pemberian oksigen dan ventrikel
Klien dapat melakukan pemberian digitalis 3. Istirahat m
pencegahan secara mandiri jika diperlukan
curah jantung abnormal kembali memperbaiki e
P:Setelah dilakukan tindakan kontraksi jantung
keperawatan diharapkan Curah menurunkan konsum
jantung kembali normal dan kerja berlebihan
4. Stres emosi mengh
Dengan TTV : vasokonstriksi
TD: 120/90 mmHg meningkatkan TD
RR: 20x/menit meningkatkan kerja ja
Nadi : 80x/menit Dan Meningkatkan
Suhu : 37 ºC oksigen untuk
miokard dan me
hipoksia
12-12-2014 2 Setelah dilakukan tindakan O: 1. Mengetahui deraja
keperawatan 1x24 jam Observasi suhu tubuh klien tubuh untuk dil
diharapka hiperetmia teratasi N: intervensi selanjutnya
dengan 1. Berikan kompres hangat
2. Membantu memberik
KH: pada lipatan tubuh dan fasodilatasi pembulu
K: terdapat banyak pembulu sehingga pengeluaran
Klien dapat menjelaskan darah besar seperti aksila terjadi secara evapora
penyebab dari hipertermi dan perut 3. Mencegah ter
A: 2. Menganjurkan klien minum peradangan
Klien mengatakan bersedia 2 liter/hari jika hipermetabolisme
untuk diberikan kompres hangat memungkinkan 4. Mengurangi
P: 3. Menganjurkan klien untuk peradangan se
Klien mampu menurunkan suhu tira baring(bed rest) peningkatan suhu
tubuh secara mandiri E: terjadi secara step
P: Memberikan HE kepada hemolitikus
Suhu tubuh kembali normal klien tentang penyakitnya
Suhu normal(26-37oC), C:
Nadi normal(80x/menit), Kolaborasi dengan tenaga
Leukosit normal(4.300- kesehatan lain untuk
11.400per mm3darah) pemberian antipiretik dan
anti radang
12-12-2014 3 Setelah dilakukan tindakan O:  Mengetahui seberapa
keperawatan selama 1x24jam Observasi kebutuhan klien membutuhkan o
diharapkan dapat 
mengatasi oksigen klien dan turgor Agar klien tidak men
ketidakseimbangan suplay kulit sesak nafas saat
oksigen dengan N: oksigen dalam tu
KH: Memberikan terapi oksigen menurun
K: 
saat klien mengalami sesak Agar klien
Klien dapat mengidentifikasi nafas menyelesaikan m
penyebab dari intoleransi E: dengan sederhana
aktivitas dan ketidakseimbangan Memberikan HE kepada penyakit yang diderita
suplay oksigen klien tentang penyakitnya
A: dan bagaimana cara
Klien mengatakan badannya mengatasinya secara
sudah tidak lemas dan bersedia sederhana
diberikan terapi oksigen jika C:
klien mengalami sesak Kolaborasi dengan tenaga
P kesehatan lain untuk
Klien dapat melakukan memberikan oksigen kepada
aktivitas secara mandiri dan klien
bertahap
P:
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan klien tidak
mengalami sesak

12-12-2014 4 Setelah dilakukan tindakan O:  Untuk men


keperawatan selama 5x24 jam Observasi kebutuhan nutrisi kebutuhan nutrisi klie
diharapkan keseimbangan klien  Untuk memenuhi keb
kebutuhan nutrisi terpenuhi N: nutrisi klien dapat terp
dengan 
Memberikan makanan yang Untuk men
KH: kaya akan zat-zat yang pengetahuan klien
K: dibutuhkan oleh tubuh pemenuhan suplay nu
Klien mampu menjelaskan E:
tentang ketidakseimbangan Memberikan HE kepada
nutrisi yang dialami klien untuk dapat
A: mempertahankan kebutuhan
Klien mengatakan sudah tidak nutrisi yang dibutuhkan oleh
mual dan muntah lagi tubuhnya
P: C:
Klien dapat menghabiskan porsi Kolaborasi dengan tenaga
makannya kesehatan(Ahli Gizi)
A: Berat Badan naik(dari 33 kg
ke 34kg)
B: : Hb normal 12(11-13 gram/dl)
C: Mukosa bibir lembab dan
turgor kulit normal(kembali
kurang dari 2 second)
D: Nafsu makan klien
meningkat ( 1-2porsi)

3.5 IMPLEMENTASI

TANGGAL/JA NO. IMPLEMENTASI RESPON.PX TTD


M DX
12-12-2014 1  mengobservasi TTV klien DS : Klien mengatakan
07:30 jantung tidak berdebar-
debar
DO : TD: 120/85
mmHg
RR: 20x/menit
Nadi : 80x/menit
Suhu : 38,5 ºC
1 ,3  Menganalisa turgor kulit klien Ds: -
DO: Turgor Kulit klien
kembali dalam waktu 2
detik
1,2,3,4 Mengkaji tingkat pemahaman klien tentang
penyakitnya DS: klien mengataka sudah
mengerti tentang penyakit
yang diderita
DO: -

4 DS : -

 Memberi makan klien DO:


A: Berat Badan naik 35
Kg
B: : Hb normal 12 (11-13
gram/dl)
C: Mukosa bibir lembab
dan turgor kulit
normal(kembali kurang
dari 2 second)
D: Nafsu makan klien
meningkat ( 1-2porsi)

DS: -
1,3 DO: Klien Tenang dan
10:00 nyaman

 Memberikan terapi Oksigen dan obat digitalis


DS: -
2 DO: TTV:
TD: 120/80 mmHg
 mengobservasi Suhu klien RR: 18x/menit
Nadi : 85x/menit
Suhu : 3,5 ºC

DS:-
DO: Klien melakukan
2 sesuai anjuran

 Melakukan kompres hangat dan menganjurkan klien DS: -


air putih 2 liter/hari DO:Klien melakukan
sesuai anjuran
2
12:00  Memberikan obat anti piretik dan anti radang sesuai
dengann indikasi DS:Klien mengatakan
kenyang
DO: porsi makan klien
4  Memberikan asupan nutrisi ( makan siang) habis
13.30

DS:-
DO: Klien tampak rilexs
 Mengajarkan tehnik relaksasi dan distraksi seperti
nafas dalam dan mendengarkan musik yang disukai
3
3.6 EVALUASI

HARI/TANGGAL NO.DX EVALUASI T


JAM
Rabu, 12-12-2012 1 S:
08.00 WIB Klien mengatakan jantung tidak berdebar-debar
O:
Tidak pucat,bunyi jantung normal
A:
Masalah teratasi
P:
Melanjutkan intervensi
Rabu, 12-12-2012 2 S:
12.00 WIB Klien mengatakan suhu badan tidak panas.
O:
Suhu tubuh normal,
TD : 120/90 mmHg
N :80x/menit
RR :20x/menit
Suhu : 370C
A:
Masalah teratasi Sebagian
P:
Melanjutkan intervensi

Rabu, 12-12-2012 3 S:
16.00 WIB Klien mengatakan tidak cepat lelah saat aktivitas,tidak sesak nafas
O:
Tidak pucat tidak lemas.
A:
Masala teratasi sebagian
P:
Melanjutkan intervensi
Rabu, 12-12-2012 4 S:
20.00 WIB Klien mengatakan tidak mual tidak muntah nafsu makan meningkat
O:
Tidak pucat tidak lemas tidak lesu
A: Berat Badan naik 35 Kg
B: Hb normal 12 (11-13 gram/dl)
C: Mukosa bibir lembab dan turgor
D : Nafsu makan klien meningkat ( 1-2porsi)
A:
Masalah teratasi Sebagian
P:
Melanjutkan intervensi
BAB 4
PENUTUP

2.6 Kesimpulan
Penyakit jantung reumatik adalah penyakit yang ditandai dengan kerusakan pada katub
jantung akibat serangan karditis reumatik kut yang berulang kali.(kapita selekta edisi 3,2000)
Penyebab terjadinya penyakit reumatic heart diseases diperkirakan adalah reaksi
autoimun (kekebalan tubuh)yang disebabkan oleh demam reumatik.Infeksi infeksi β
Steptococcus Hemolyticus Grup A pada tenggorok yang selalu mendahului terjadinya demam
reumatik baik demam reumatik serangan pertama maupun demam reumatik serangan ulang.
Beberapa faktor predisposisi terjadinya penyakit jantung reumatic/reumatic heart
diseases:
1. Faktor individu

 Faktor genetik
 Umur
 Reaksi autoimun
2. Faktor lingkungan
 Keadaan sosial ekonomi yang buruk
 Cuaca
 Demam reumatik

2.7 Saran
Semoga dengan adanya Makalah ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan seputar
REUMATIC HEART DISEASES (RHD) dan dapat juga bermanfaat bagi Mahasiswa STIKES
Muhammadiyah Lamongan dan khususnya bagi kelompok 7

Daftar Pustaka

Heni,dkk, (2001),Buku Ajar keperawatan Kardiovasculer Edisi 1, Harapan Kita, Jakarta


Suddarth, brunner, ( 2002). Buku Ajar keperawatan Medikal Bedah VOl 2 Edisi 8, EGC,
Jakarta.
Carpenito, Lynda juall, ( 2001),BUku Saku diagnosa keperawatan EDisi 8, EGC,
Jakarta
Price, a. s. (2007). patofisiologi konsep klinis proses-proses penyakit. jakarta: buku
kedokteran EKG .
Price, S. A. (2006). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit,E/6, Vol 1.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC