Anda di halaman 1dari 12

Unit Belajar 2 : Treatment of Discoloration teeth

Judul : GIGI PATAH

Seorang laki-laki berusia 30 tahun datang dengan keluhan gigi depan yang berwarna
kehitaman. Dari anamnesis diketahui pasien pernah jatuh dari motor 1 tahun yang lalu dan giginya
terbentur aspal hingga patah. Gusi pada regio gigi tersebut pernah bengkak dan sakit tetapi saat ini
tidak terasa sakit. Pemeriksaan IO menunjukkan gigi 11 fraktur pada 1/3 insisal, vitalitas negatif,
dengan diskolorisasi intrinsik. Hasil pemeriksaan radiografi menunjukkan akar utuh dengan gambaran
radiolusen batas difus diameter 1 mm pada bagian apikal. Pasien ingin giginya dirawat agar terlihat
natural.

STEP 1

1. Diskolorisasi intrinsik
 disebabkan oleh obat tetrasiklin yang dikonsumsi ibu hamil, mengakibatkan gigi bayi
kuning keabuabuan
 Pewarnaan berasal dari dalam(enamel, dentin), tidak dapat menggunakan scalling,
polishing saja,bisa veneer, bleaching, mahkota jaket
 Warna gigi dari dalam, trauma dilanjutkan proses bleeding dalam pulpa
 Biasanya krn gigi nekrosis, pendarahan
 Kemerahan diikutin kecoklatan lama2 kehitaman pada daerah pulpa

STEP 2

1. Apa saja klasifikasi dari fraktur


2. Apa maksud dari gambaran radiografi pada skenario
3. Apakah diagnosa kasus pada skenario
4. apa saja klasifikasi dari diskolorisasi
5. Bagaimana indeks dari diskolorisasi
6. Bagaimana mekanisme dari diskolorisasi gigi
7. Apa saja perawatan yang mungkin dilakukan pada kasus diskenario serta indikasi dan
kontraindikasi
8. Apa perawatan yang dilakukan pada skenario
9. Jelaskan klasifikasi dari bleaching
10. Apa saja bahan-bahan bleaching
11. Bagaimana pandangan islam mengenai bleaching

STEP 3

1. Apa saja klasifikasi dari fraktur


MENURUT ELLIS
1) Fraktur gigi mencapai email
2) Fraktur gigi mencapai dentin, belum mengenai pulpa, bila terdapat rangsangan udara
nyeri
3) Fraktur gigi mencapai dentin, sudah mengenai pulpa, rangsangan udara nyeri,
kemerahan
4) Nekrosis pulpa
5) Avulsi biasanya krn trauma
6) Fraktur gigi mengenai akar
7) Terjadi perpindahan gigi
8) Terjadi perpindahan gigi disertai fraktur mahkota
9) Fraktur gigi desidui

KLASIFIKASI GROSSMAN DKK

1) sama spt ellis


2) sama spt ellis
3) sama spt ellis
4) karena fraktur akar
5) Giginya luksasi
6) Intrusi

2. Apa maksud dari gambaran radiografi pada skenario


Hasil pemeriksaan radiografi menunjukkan akar utuh dengan gambaran radiolusen batas
difus diameter 1 mm pada bagian apikal

Batas diffus terdapat kelainan pada membran periodontal


Diameter 1 mm  kehilangan lamina dura
Biasanya terjadi nekrosis pulpa

Trauma giginya intrusi  diffuse


Suspek abses periapikal

3. Apakah diagnosa kasus pada skenario pada fraktur


Fraktur ellis kelas iv

FRAKTUR CUSP

DIAGNOSIS

Subjektif

 Seringkali pasien mengeluhkan rasa sakit yang cepat dan tajam pada saat
pengunyahan atau saat adanya perubahan temperature, terutama dingin.
 Rasa sakit lebih jelas saat pelepasan pengunyahan (bukan pada penutupan tapi pada
pemisahan gigi setelah mengunyah).
 Rasa sakit tidak parah ataupun spontan dan hanya terjadi dengan adanya rangsang.
 Menariknya, gejala akan hilang setelah cusp akhirnya patah.

Objektif

 Tes yang paling mengindikasi adalah ‘menggigit’. Penggigitan dilakukan terhadap


lembar kapas aplikator ataupun rubber polishing wheel, atau instrument tes ‘gigit’
yang di desain khusus.
 Menggertakan gigi akan menimbulkan sakit.
 Pulpa umumnya vital.

Radiografik

Tes radiograf tidak berguna karena fraktur tidak terlihat secara radiograf.

PROGNOSIS

 Kesuksesan jangka panjang baik karena fraktur tidak dalam.


 Fraktur cusp kadang menjadi lebih dalam dibawah perlekatan gingiva; perawatan
pada kasus ini akan lebih menantang

Cracked Tooth (Gigi Retak)


DIAGNOSIS

Gigi retak menunjukan variasi hasil tes, penemuan radiograf, tanda dan gejala, berhantung
pada banyak factor. Variasi ini tidak dapat diprediksi seringkali membuat diagnosis dan
perawatan gigi retak menjadi rumit.

Subjektif

Gigi retak umumnya menunjukan ‘Sindrom Gigi Retak’. Sindrom ini terkarakteristik dengan
adanya rasa sakit yang akut saat pengunyahan (pelepasan tekanan) makanan keras dan tajam,
berlangsung cepat pada rangsang dingin. Pemeriksaan ini juga ditemukan pada Fraktur Cusp.
Namun, terdapat beberapa variasi gejala mulai dari sakit ringan hingga sakit parah yang
spontan dengan adanya pulpitis irreversible, nekrosis pulpa, ataupun periodontitis apical.
Bahkan bisa juga terdapat abses apical akut apabila pulpa telah nekrosis. Dapat juga terjadi
penyakit apical yang berhubungan dengan abses apical ( dengan ataupun tanpa
pembengkakan) atau penggenangan sinus tract. Dengan kata lain, apabila fraktur telah meluas
melibatkan pulpa, penyakit pulpa maupun periapikal yang parah akan muncul. Hal tersebut
menjelaskan variasi dari tanda dan gejala gigi retak.

Objektif

 Terdapat juga variasi hasil dari tes pulpa dan periapikal. Tes vital pulpa umumnya
positif tetapi juga dapat negative (pada nekrosis pulpa)
 Tes periapikal juga bervariasi, tapi apabila pulpa masih vital, rasa sakit tidak ada pada
saat tes perkusi atau palpasi.
 Perkusi langsung juga mendukung. Perkusi pada daerah retakan dapat menimbulkan
sakit. Perkusi dengan arah berlawabab biasanya asimtomatik. Rasa sakit ini berkaitan
dengan rangsangan dari propropreseptor ligament periodontal.

Radiografik

 Karena fraktur arah mesiodistal tidak dapat terlihat, radiograf digunakan untuk
melihat status pulpa-periapikal.
 Umumnya tidak ditemukan hasil signifikan, walaupun kadang terjadi beberapa hasil
yang berbeda.
 Kehilangan tulang proksimal (horizontal, vertical, furkal) berhubungan dengan
fraktur; meningkatnya kehilangan tulang meningkatkan keparahan dari keretakan.

PROGNOSIS

 Prognosis bergantung pada situasi. Fraktur dapat berlanjut tumbuh dengan


konsekuensi yang buruk, membutuhkan pencabutan ataupun perawatan lain.
 Keretakan juga dapat ditemukan pada gigi lain
 Pada umumnya, semakin lokasi fraktur mendekati tengah permukaan oklusal,
semakin buruk prognosis janhgka panjang; fraktur ini bertahan di tengah dan tumbuh
mendalam. Hasilnya adalah kerusakan besar pada gigi dan jaringan periodontal.
 Dengan kata lain, gigi retak dapat menyebabkan gigi patah atau menyebabkan
defekasi parah jaringan periodontal.

SPLIT TOOTH

DIAGNOSIS

 Gigi patah tidak memiliki tanda dan gejala yang membingungkan seperti gigi retak.
 Umumnya gigi patah lebih mudah untuk di kenali. Kerusakan pada periodontium
biasanya signifikan dan dapat dideteksi baik oleh pasien maupun dokter gigi.

Subjektif

 Umumnya, pasien merasakan sakit saat pengunyahan. Sakit lebih sedikit saat pusat
oklusal berkontak dibanding saat pengunyahan. A periodontal abscess may be present,
often resulting in mistaken diagnosis.

Radiografis
Penemuan pada radiograf bergantung pada status pulpa namun biasanya lebih menunjukan
kerusakan periodontium. Seringkali terdapat kehilangan horizontal tulang interproksimal
ataupun interradikular

PROGNOSIS

 Prognosis bervariasi. Beberapa perawatan sukses dan beberapa yang lain gagal.
 Apabila fraktur pada tengah hingga 1/3 servikal, terdapat kesempatan untuk
keberhasilan perawatan dan restorasi
 Apabila fraktur pada tengah hinggal 1/3 apikal, prognosis buruk. Dengan kedalaman
seperti ini, biasanya sudah terlalu banyak space pulpa yang terekspos ke
periodontium; perawatan saluran akar dengan restorasi pada space ini akan
menyebabkan defekasi periodontal yang besar.
 Prediksi kadang sulit dilakukan sebelum perawatan selesai jika lebih banyak tindakan
konservasi yang harus dilakukan, yaitu, jika patahan terletak pada daerah saluran akar
dan restorasi. Setelah PSA selesai dan patahan dihilangkan apabila fraktur sangat
besar dan gigi tidak dapat diselamatkan, pasien harus di informasikan sebelum
perawatan dimulai.

FRAKTUR AKAR VERTICAL


D IA G N O S IS

 Dapat terlihat seperti penyakit periodontal atau PSA yang gagal. Variasi ini membuat
diagnosi rumit.
 Menariknya, karena FAV sering disalahartikan sebagai penyakit periodontal atau PSA
yang gagal, dokter gigi sering merujuk penyakut ini ke periodontics ataupun

Subjektif

 Gejala yang tejadi minimal.


 Kadang FAV menyakitkan, FAV seringkali asimtomatik ataupun gejala dan tanda yang
ringan, tidak signifikan .
 Seringkali pergerakan terdeteksi, tetapi banyak gigi stabil. Gejala periradikular (sakit
pada tekanan atau pengunyahan) umum terjadi namun ringan.
 FAV mirip dengan lesi periodontal, periodontal abses umum terjadi. Pembengkakan
ini yang umumnya membawa pasien ke dokter gigi.

Objektif
 Tes perkusi dan palpasi kurang membantu.
 Pengamatan probing periodontal pattern lebih membantu.
 Secara signifikan, gigi dengan FAV memiliki probing pattern normal’.
 Most show significant probing depths with narrow or rectangular patterns, which are
more typical of endodontic-type lesions. These deep probing depths are not
necessarily evident on both the facial and lingual aspects.
 Secara keseluruhan probing pattern tidak mendiagnosis secara total namun mereka
membantu.

Radiografik

 Radiograf juga menunjukan pattern yang bervariasi.


 Tidak ada perubahan signifikan namun ditemukan , meluas dari apex melalui
permukaan lateral akar dan kadang termasuk resorpsi angular pada akar servikal.
 Namun pattern resorpsi FAV menyerupai dengan penyakit lain. Seperti sama dengan
PSA yang gagal, terdapat apical yang ’menggantung-jatuh’ juga pada FAV.
 Pada persentase yang kecil, terdapat separasi fraktur yang terlihat pada segmen akar
 VRF lebih mudah didiagnosis dengan tomografi computer dibanding dengan
radiograf konvensional.
 Jika terdapat garis radiolusen memisahkan filling (guttap-percha) dari dinding kanal
mendukung diagnosis. Namun radiolusen ini mungkin artifak radiografik, obturasi
yang tidak selesai, pattern tulang, dan struktur radiografik yang disalahartikan dengan
fraktur.
 Dengan begitu radiografik membantu namun tidak keseluruhan.

PROGNOSIS

Prognosis tidak ada harapan.

4. apa saja klasifikasi dari diskolorisasi


1) diskolorisasi intrinsik
suatu pewarnaan dari dalam dari dentin dan email, biasanya dari
kondisi genetik (enamel hipoplasia)
sistemik (djaundice)

2) diskolorisasi ekstrinsik
suatu pewarnaan yang ada di permukaan gigi, bersifat lokal, bisa dibersihkan
menggunakan bleaching maupum polishing
co makanan spt kopi, teh, tembakau, OH buruk
A. metalic
penggunaan bahan metal seperti amalgam
B. non metalic
penggunaan fluor yang berlebihan, bintik putih2 kekuningan
zat2 seperti teh, tembakau, kopi
traumatic injury

berdasarkan struktur
1) dentinogenesis imperfecta
proses perkembangan giginya, ukuran gigi normal tp gigi agak kekuningan, email lebih
mudah aus
2) fluorosis
intake dari flour yang berlebihan, erupsi gigi keputihan, porositas lebih mudah menyerap
stage yang paling parah severe, gigi opak putih sebagian menguning
3) usia
email menipis, dentin menebal menjadi kuning kecoklatan
4) penggunaan

BERDASARKAN BAHAN EKSTRINSIK DARI JARINGAN KERAS GIGI


1) phorphryia
giginya agak kemerahan
2) sickle cell anemia dan thalasemia
giginya kecoklatan atau keunguan
3) tetrasiklin
pada saat erupsi gigi kecoklatan
bergantug pada frekuensi, jenis obat, usia
4) alkaptouria
disebabkan karena adanya kelainan genetik resesif, menyebabkan ketidak seimbabfan antara
fenilalamin dan tiroksin, menyebabkan pengikatan dari asam homogenistik, gigi agak coklat
keabuan
5) perawatan endodontik
tergantung pada fragmen yang tertinggal dan semen2 yang digunakan pada slauran akar

etiologi
eksogen
dari bahan kimia
endogen
dari dalam giginya sendiri
5. Bagaimana indeks dari diskolorisasi

Berdasarkan warna
Klas Iwarna kuning muda
Klas IIKuning tua bisa menjadi orange/kemerahan
Klas IIIAbu2
Klas IVGelap

perhitungan
0 tidak terdapat permukaan perubahan warna
10,01%-25% permukaan tertutup diskolorisasi
226%-50%
356%-75%
476-100%

Sebelum dihitung gigi bebas dari plak dan karies, gigi dalam keadaan kering
6. Bagaimana mekanisme dari diskolorisasi gigi
Trauma pembuluh darah kapiler pecah pada kamar pulpaeritrosit lisis perdarahan
pulpa  darah menggenang di pulpa  menyebar ke tubulus dentin  proses hemolisis
mengeluarkan hemoglobin  mengeluarkan besi yang berikatan dengan hidrogen
sulfid(komponen bakteri)  menjadi ferisulfid  ke dentin  warna kehitaman dari
terang ke kehitaman

Saat nekrosis pulpa


Bleeding nekrosis pulpa jaringan2 mengalami kerusakan menghasilkan suatu produk
yang akan didistribusikan ke tubuli dentin yang menyebabkan berwarna coklat ke kehitaman

7. Apa saja perawatan yang mungkin dilakukan pada kasus diskenario serta indikasi dan
kontraindikasi gambar
1) Bleaching in office
Langsung dilakukan ke pasien menggunakan bahan carbamed peroksida, hidrogen
peroksida 30-35%
Ekstrinsik

Bahan merusak email


Tehnik
Walking bleach
Mnggunakan bahan hidrogen peroksida, tidak boleh menggunakan bahan dg konsentrasi
tinggi

Kombinasi keduanya
Inside maupun outside
Indikasi
Pada gigi yang mengalami diskolorisasi intrinsik
Pada gigi setelah dilakukas psa

Kontra
Setelah dilakukan perawatan psa tp masih ada pulpa/ struktur yang lain yg tersisa

2) Perawatan endodontik psa


Setelah itu dilakukan veneer
Psa  bleaching

Perawatan mahkota
Secara restorative
3) Porcelain
Gigi yang memputuhkan kekuatan, pembuatan lebih cepat, warna stabil
4) Veneer
Ditambahkan bahan selapis tipis
Indikasi
Mengoreksi diskolorisasi
Menutupi email yang cacat
Menutupi bentuk gigi peg shaped

Kontraindikasi
5) Kebiasaan bruxism
Non restorative
Bleaching
Gigi vital maupun non menggunakan bahan kimia

Veneer
Struktur gigi yang rusak, atau diastem

Pasak non metal

Indikasi dan Kontraindikasi Teknik Bleaching Pada Gigi Vital


1. Indikasi
Bleaching ekstra koronal biasa dilakukan terhadap gigi vital yang mengalami perubahan
warna (baik kongenital maupun perkembangan). Pemutihan pada gigi vital dapat
dilakukan pada keadaan :
- pewarnaan tetrasiklin yang ringan pada gigi yang saluran akarnya telah menutup
sempurna
- fluorosis ringan
- gigi dengan saluran akar yang telah menutup sempurna dengan tujuan fungsi
estetis
- Dapat pula digunakan pada saat sebelum prosedur restorasi gigi

2. Kontraindikasi
Gigi vital yang tidak dapat dilakukan pemutihan adalah gigi vital dengan kondisi :
- Ruang pulpa besar dimana mengakibatkan gigi sensitif
- Saluran akar yang masih terbuka
- Adanya pengikisan email
- Restorasi yang luas
- Alergi peroksida (Goldstein, 1998)
- Gigi yang mengalami karies yang tidak direstorasi
- Restorasi yang rusak
- Sensitivitas gigi yang sudah dirasakan sebelumnya

Bleaching intrakoronal
Indikasi :
 Gigi yang telah dilakukan perawatan endodonti
Kontraindikasi:
 Ada karies atau restorasi yang besar
 Gigi dengan pengisian saluran akar yang tidak sempurna

Bleaching ekstrakoronal
Indikasi:
 Dilakukan pada gigi yang masih vital
 Pewarnaan yang terjadi di sebabkan oleh tetrasiklin atau plak
[ CITATION Ras02 \l 1057 ]
Daftar Pustaka

Meizarini, A., & Rianti, D. (2005). Bahan Pemutih gigi dengan seritifikat ISO. Majalah
kedokteran gigi, 73-76.
Tarigan, R. (2002). Perawatan Pulpa Gigi (Endodonti). Jakarta: EGC.

Indikasi veneer porselen


2,4,6
1. Untuk mengoreksi diastema
2. Memperbaiki diskolorisasi gigi yang mengalami perubahan warn a karena
fluorosis, tetrasiklin
3. Menutupi cacat pada email
4. Mengoreksi bentuk gigi sepertipeg-shaped
5. Memperbaiki kerusakan strukturgigi, seperti gigi yang mengalami fraktur.
Selain itu, veneer dibuat deng an tujuan untuk menambah cera h warna gigi dan
memperbaiki penampilan. Bila pasien menginginkan suatu perawatan kosmetik
yang konservatif dan menyetujui dilakukan preparasi
Kontra indikasi
1.Penderita dengan kebiasaan b ruxism atau aktivitas fungsion al yang
menyebabkan chipping
2.Gigi dengan email yang tidak memadai untuk retensi yang cukup.
3.Fraktur gigi yang parah
4.Celah interdental yang besar (diastema yang besar)
5.Gigi dengan mahkota yang pendek
6. Gigi dengan restorasi yang besar dan dalam
5
7.Bila gigi yan g mengalami pewarnaan yang ber at , dalam hal ini gigi harus di
bleaching dahulu, kemudian dilakukan venering

8. Apa perawatan yang dilakukan pada skenario, prosedur beserta pertimbangan


9. Efek samping perawatan
1) Macam-macam efek samping bahan bleaching hidrogen peroksida
35% , antara lain adalah :
a) Resorpsi eksternal
Bahan bleaching mampu merangsang terjadinya resorpsi akar di
daerah serviks gigi.
b) Fraktur korona
Meningkatnya kerapuhan korona akibat aplikasi panas dan
kandungan zat kimia dari bahan bleaching.
c) Terbakar karena zat kimia
Karena kandungan hidrogen peroksida bersifat tajam dapat
mengakibatkan gingiva terluka dan mengelupas (Walton dan
Torabinejad, 2008). Menurut Sjamsuhidayat dan Jong (2012) luka
akibat zat kimia biasanya adalah berupa luka bakar
Luka Bakar Akibat Zat Kimia
Luka bakar kimia adalah luka yang ditimbulkan oleh efek iritasi zat
kimia. Kerusakan yang terjadi sebanding dengan kadar dan jumlah iritan
yang mengenai tubuh, cara dan lamanya kontak, serta sifat dan cara kerja
dari kimia tersebut. Luka bakar karena zat kimia berbeda dengan luka
bakar akibat (panas) termal. Derajat luka ditentukan olehkonsenterasi atau
kandungan agent yang ada pada zat kimia tersebut (Sjamsuhidayat dan
Jong, 2012)
10. Jelaskan klasifikasi dari bleaching
Bleching intrinsik (kata lain)
ekstrinsik
11. Apa saja bahan-bahan bleaching kelebihan kekurangan
Hidrogen perokside sangat mempengaruhi pewarnaan intrinsik,kekurangan mengalami
demineralisasi yang banyak carbamide biasanya ditambahin dg flouride sama potasium nitrat
Untuk mengurangi sensitivitas untuk gigi

1.1 Bahan-bahan Bleaching


Bahan pemutih gigi dapat berperan sebagai oksidator atau reduktor, kebanyakan
preparat yang tersedia adalah oksidator. Macam-macam bahan-bahan pemutih gigi
adalah
sebagai berikut (Grossman, 1998; Walton & Torabinejab, 1996) :
1. Hidrogen peroksida
Hidrogen peroksida merupakan oksidator kuat dan tersedia dalam berbagai
konsentrasi, yang paling umum di pakai adalah konsentrasi 30-35 %. Contoh larutan
hidrogen peroksida adalah superoxol, perhidrol. Cairan ini merupakan cairan bening
tidak berwarna dan tidak berbau.
2. Pirozon
Pirozon adalah larutan hidrogen peroksida 25 % dalam eter 75 %. Larutan ini
bersifat kaustik, mudah menguap juga baunya merangsang menyebabkan rasa mual
pada pasien.
3. Natrium perborat
Natrium perborat dapat diperoleh dalam bentuk bubuk. Bahan yang masih baru
mengandung kira-kira 95 % perborat dalam 9,9 % oksigen. Bahan ini bersifat alkali,
lebih mudah dikontrol dan lebih aman daripada cairan hidrogen pekat.
4. Karbamid peroksida
Karbamid peroksida dikenal sebagai urea hidrogen peroksida, dapat diperoleh
dalam berbagai konsentrasi antara 3-15 %. Umumnya preparat ini mempunyai pH 5-
6,5 % dan mengandung kira-kira 10 % karbamid peroksida, biasanya mengandung
gliserin atau propilen glikol, natrium stannat, asam fosfat atau asam sitrat dan aroma.
5. Larutan Mc. Innes
Larutan ini terdiri atas 5 bagian asam klorida 36 %, 5 bagian hidrogen peroksida
30 % dan 1 bagian eter, biasanya digunakan untuk menghilangkan noda pada kasus
fluorosis.
6. Natrium peroksiborat monohidrat
Contoh bahan ini adalah amosan, yang melepaskan oksigen lebih banyak
daripada natrium perborat, diindikasikan untuk pemutihan gigi secara internal.
12. Bagaimana pandangan islam mengenai bleaching ditambahkan dalil maupun hadis

Diperbolehkan untuk estetik bukan kosmetik

Stage, Obat selain tetrasiklin yang menyebabkan diskolorisasi